Pentingnya Pengetahuan Mengenai Pendidikan Seks (Sex Education) Usia Remaja

I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang

Sekolah merupakan lembaga formal yang berfungsi membantu khususnya orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. sekolah merupakan sarana untuk mendidik anak untuk mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta moral yang baik. Hal yang menjadi perbincangan hangat ialah pendidikan karakter untuk menunjang siswa menjadi sosok yang sopan dan bermoral. Beberapa kejadian muncul dari kalangan terpelajar seperti perkelahian, perusakan fasilitas publik dan banyaknya pergaulan bebas di kalangan pelajar. Tentunya hal ini mengakibatkan semakin banyak anak muda yang kehilangan identitas, dikarenakan ikut terbawa arus dan terbawa emosi dalam suasana penuh aroma permusuhan. Kaum terpelajar yang mampu mengukur diri dan merumuskan identitas membangun masa depan mengalami degradasi dalam karakter pribadinya.

Salah satu bentuk kenakalan remaja yang marak saat ini adalah pergaulan bebas (seks bebas). Bagi seorang anak dan remaja yang sedang bertumbuh dan berkembang serta mempunyai rasa ingin tahu yang sangat tinggi, menutup-nutupi masalah seks dan melarang membicarakannya justru akan semakin membuatnya menjadi semakin penasaran. Ia akan mencari informasi tentang hal ini dari sumber manapun yang bisa dia dapatkan. Seringkali informasi yang dierima merupakan informasi yang salah dan tidak tepat. Seringkali pula seorang anak atau seorang remaja menjadi tertarik untuk mencoba dan melakukan hubungan seks yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya seks bebas. Hal ini tentu sangat merugikan karena akan menimbulkan banyak dampak negatif dan permasalahan yang tidak dinginkan seperti meningkatnya kasus-kasus penyakit kelamin dan HIV, rusaknya hubungan keluarga, menjamurnya prostitusi, dan berkembangnya penyakit-penyakit masyarakat lainnya yang terkait dengan hal ini.
Untuk mengatasi masalah-masalah ini diperlukan adanya peran serta pakar pendidik atau guru dan kedua orang tua. Pemahaman dan penyuluhan tentang seks harus dilandaskan pada ilmu pengetahuan dan nilai agama, sehingga seorang remaja akan mendapatkan informasi yang benar dan tepat dengan berlandaskan pada nilai-nilai agama dan keimanan yang kuat sehingga seorang remaja dapat terhindar dari hal-hal yang negatif dan tercela terkait dengan masalah seks.

II. Isi

Remaja identik dengan segudang potensi dan sekaligus segudang masalah. Jika potensi mereka dikembangkan secara optimal, mereka bisa berhasil menjadi apa saja. Sebaliknya, jika potensinya dibiarkan tanpa arah, maka mereka dapat terjebak dalam berbagai jenis kenakalan, seperti seks bebas (free sex), kecanduan obat-obatan, kriminalitas dan lain-lain. Bahkan, terkadang orangtua ikut larut stress lantaran anaknya yang sedang menghadapi usia-usia transisi (remaja). Selama menapaki tahapan ini, remaja memang akan didominasi dengan masalah-masalah seks. Mereka pun akan sangat memperhatikan masalah seks. Sebagian besar remaja mengonsumsi bacaan seputar seks. Selain itu mereka akan semakin bertambah ketika mereka berhadapan dengan rangsangan seks seperti gambar-gambar porno, blue film, dan rangsangan yang lain. Bahkan untuk sekarang ini semakin variatif saja respon remaja tentang seks.
Sebagian remaja berkesan bahwa seks itu menyenangkan, tidak ada rasa sakit, sangat membahagiakan, sehingga tidak ada hal yang harus ditakutkan untuk dicoba. Yang mereka pikirkan seks adalah seputar perilaku seks semata yang disertai dengan birahi, bahkan ada remaja yang beranggapan bahwa gaul atau tidaknya seorang remaja dinilai dari pengalaman seks mereka, sehingga ada sebuah opini seperti bahwa “seks adalah sesuatu yang menarik untuk dicoba”.
Secara organisme, usia remaja adalah proses perkembangan menuju kematangan biologis maupun psikis. Banyak gejolak yang dirasakan kaum remaja disaat memasuki jenjang usia seperti ini. Semua orang pasti mengalaminya, walaupun kadar pengalaman itu berbeda-beda. Menjadi remaja harus berani menerima perubahan-perubanan fisik dan psikis. Hal ini jika tidak ada pengetahuan dan pemahaman yang jelas tentang perubahan struktur tubuh maupun pola pikir kaum remaja, maka akibatnya sering timbul penyalahgunaan karena memang ketidaktahuannya.
Ada banyak dampak negatif dari seks bebas (free sex) khususnya pada remaja antara lain:
1. Bahaya Fisik
Bahaya fisik yang dapat terjadi adalah terkena penyakit kelamin (Penyakit Menular Sexual/ PMS) dan HIV/AIDS serta bahaya kehamilan dini yang tak dikehendaki.
PMS adalah penyakit yang dapat ditularkan dari seseorang kepada orang lain melalui hubungan seksual. Seseorang berisiko tinggi terkena PMS bila melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan baik melalui vagina, oral maupun anal. Bila tidak diobati dengan benar, penyakit ini dapat berakibat serius bagi kesehatan reproduksi, seperti terjadinya kemandulan, kebutaan pada bayi yang baru lahir bahkan kematian.
2. Bahaya perilaku dan kejiwaan
Seks bebas akan menyebabkan terjadinya penyakit kelainan seksual berupa keinginan untuk selalu melakukan hubungan seks. Penderita selalu menyibukkan waktunya dengan berbagai khayalan-khayalan seksual, berpelukan, dan lain-lain. Penderita menjadi pemalas, sulit berkonsentrasi, sering lupa, badan menjadi kurus dan kejiwaan menjadi tidak stabil. Yang ada dipikirannya hanyalah seks dan seks serta keinginan untuk melampiaskan nafsu seksualnya. Akibatnya bila tidak mendapat teman untuk sex bebas, ia akan pergi ke tempat pelacuran (prostitusi) dan menjadi pemerkosa. Lebih ironis lagi bila ia tak menemukan orang dewasa sebagai korbannya, ia tak segan-segan memerkosa anak-anak dibawah umur bahkan nenek yang sudah uzur.

3. Bahaya sosial
Seks bebas juag akan menyebabkan seseorang tidak lagi berpikir untuk membentuk keluarga, mempunyai anak, apalagi memikul sebuah tanggung jawab. Mereka hanya menginginkan hidup di atas kebebasan semu. Lebih parah lagi seorang wanita yang melakukan sex bebas pada akhirnya akan terjerumus ke dalam lembah pelacuran dan prostitusi.
4. Bahaya keagamaan dan akhirat
Para pemuda yang terperosok kedalam lumpur kehanyutan sex bebas dan kemerosotan akhlak akan ditimpa 4 macam hal tercela yang diisyaratkan dan disebutkan tanda-tandanya oleh Rasulullah SAW, sebagaimana yang tercantum dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani. Rasulullah SAW bersabda : ”Jauhilah zina karena ia mengakibatkan 4 macam hal; menghilangkan wibawa di wajah, menghalangi rezeki, dimurkai Allah dan menyebabkan kekelan dalam neraka” (HR. Ath-Thabrani). Seorang pezina ketika ia melakukan zina akan terlepas dari keimanan dan ke Islaman, sebagaimana hadist Rasulullah SAW: ” Tidak ada seorang pezina ketika melakukan zina sedangkan saat itu ia beriman….” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sementara itu, masyarakat Indonesia sendiri terutama orangtua masih menganggap memberi pendidikan seks bagi anaknya sering dipandang “tabu”. Padahal, tugas ini sangat penting demi “keselamatan” masa depan anak-anaknya. Kini banyak wanita hamil di luar nikah yang menyebabkan bayi lahir tanpa ayah. Selain orangtua harus selalu memonitoring anaknya, pendidikan seks secara Islami juga seharusnya ditanamkan sejak dini. Inilah sebabnya orang tua harus “mengerti” tentang perkembangan psikologis remaja. Persoalan ini kini menjadi tantangan terbesar bagi orangtua ketika memiliki anak menginjak remaja.
Untuk mengatasi masalah seks dikalangan remaja memang membutuhkan kesabaran, pengalaman, dan kondisi yang tepat. Sebagai orangtua, harus mengerti kapan ia harus berlaku lunak dan lemah lembut, juga kapan ia harus bersikap tegas dan didisiplin. Tidak bisa orangtua hanya bersikap kasar terus-terusan atau sebaliknya. Jadi, orangtua harus sering-sering menjalin komunikasi secara dialogis. Proses dialogis yang santun dengan sentuhan agama akan menambah harmonisasi antara orangtua dan remaja. Keberhasilan anak sangat tergantung kepiawiaan mendidik orang tua.
Selain kedua orang tua yang memberi pengajaran melalui agama, pendidikan seks juga perlu diajarkan di sekolah yang menjadi tanggung jawab para guru. Pendidikan seks dini bagi remaja bertujuan untuk mengenalkan remaja pada fungsi organ seks, sehingga mereka bisa paham dan bertanggung jawab terhadap apa yang mereka miliki serta mereka akan mendapatkan panduan menghindari penyimpangan dalam perilaku seksual mereka sejak dini.
Membiarkan situasi remaja yang terjebak dalam pergaulan bebas berkaitan dengan seksualitas, sama saja dengan membiarkan bangsa ini menjadi semakin tidak berkualitas. Pendidikan seks di sekolah memerlukan pedoman atau kurikulum dan harus diberikan oleh guru yang telah dipersiapkan. Hal penting yang perlu diketahui, menurut Prof. Wimpie, ialah bahwa pendidikan seks bukanlah pendidikan biologi, bukan juga pendidikan agama atau budi pekerti. Pendidikan seks dapat diberikan dalam bentuk pelajaran, bahan bacaan, diskusi kelompok, konseling pribadi, maupun pertemuan dengan anak dan orangtua.
Guru yang diharapkan dapat memberikan pendidikan seks di sekolah harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Memiliki kepribadian yang matang.
2. Memiliki cukup pengetahuan tentang seksualitas, khususnya yang berkaitan dengan materi pendidikan seks.
3. Tidak menyampaikan informasi tentang seks yang tidak ilmiah, seperti yang didasarkan kepada mitos, perasaan, anggapan pribadi, atau pengalaman pribadi.
4. Tidak mengalami hambatan sosiokultur ketika harus berbicara tentang seksualitas.
5. Dapat berkomunikasi dengan baik tanpa menimbulkan kesan seksualitas adalah sesuatu yang tidak layak dibicarakan, apalagi dianggap cabul.
Secara umum, untuk dapat mengatasi masalah dunia remaja dapat dilakukan dengan beberapa langkah. Pertama, mengembangkan potensi remaja dan mengarahkannya menjadi lebih optimal melalui kegiatan dan pemantauan secara terus menerus. Kedua, mengajarkan kedisiplinan, ketekunan, kemandirian, dan tanggungjawab dalam menjalankan berbagai hal. Ketiga, menanamkan nilai-nilai akhlak al-karimah sejak dini, serta memberikan keteladanan yang utuh dan mampu menginspirasi dan memberdayakan mereka. Keempat, membangun komunikasi yang efektif antara orangtua dan anak, sesama dilingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, dan kelima, mengenalkan pendidikan seks yang benar dan Islami kepada anak.

III. Penutup
Kesimpulannya adalah ada dua faktor mengapa pendidikan seks penting bagi remaja. Faktor pertama adalah di mana anak-anak tumbuh menjadi remaja, mereka belum paham dengan pendidikan seks, sebab orang tua masih menganggap bahwa membicarakan mengenai seks adahal hal yang tabu. Sehingga dari ketidaktahuan tersebut para remaja merasa tidak bertanggung jawab dengan seks atau kesehatan anatomi reproduksinya. Faktor kedua, dari ketidaktahuan remaja tentang seks, tanpa kita sadari banyak hal lain ditawarkan melalui media-media yang menyajikan hal-hal yang bersifat pornografi, antara lain, VCD, majalah, internet, bahkan tayangan televisi pun saat ini sudah mengarah kepada hal yang seperti itu. Dampak dari ketidaktahuan remaja tentang pendidikan seks ini adalah banyak hal-hal negatif terjadi, seperti tingginya hubungan seks di luar nikah, kehamilan yang tidak diinginkan, penularan virus HIV dan sebagainya.
Diperlukan adanya pemahaman dan penerangan tentang sex secara benar dan tepat yang dilandasi oleh nilai-nilai agama, budaya dan etika yang ada di masyarakat, sehingga seorang remaja dapat terhindar dari hal-hal yang negatif dan tercela terkait dengan masalah seks.
Dengan pendidikan diharapkan remaja dapat menjaga organ-organ reproduksi pada tubuh mereka dan orang lain tidak boleh menyentuh organ reproduksinya khususnya bagi remaja putri. Organ reproduksi remaja adalah hak remaja dan menjadi tanggung jawab remaja itu sendiri untuk melindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>