Analisis Lanskap ” Proses Pembentukan Wilayah dan Geomorfologi di DAS Kali Lanjar, Desa Pujon Kidul Kecamatan Pujon”

February 26th, 2018

TUGAS

ANALISIS LANSKAP TERPADU

“Proses Pembentukan Wilayah dan Geomorfologi di DAS

Kali Lanjar, Desa Pujon Kidul Kecamatan Pujon”

 

Disusun Oleh :

Nama        : Clara Emanuela P.

Nim           : 155040201111120

Kelas         : D

Jurusan      : MSDL

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

  1. Geomorfologi di daerah project yaitu

Bentuk lahan yang terdapat di DAS DAS Kali Lanjar, Desa Pujon Kulon Kecamatan Pujon Kabupaten Malang meliputi perbukitan, pegunungan, dataran. Variasi bentuk lahan( landform) yang ada di DAS Kali Lanjar berpotensi terhadap perbedaan penggunaan lahan yang ada. Dimana pada lahan perbukitan dan pegunungan cocok untuk ditanami tanaman berkayu atau tanaman pohon untuk mengurangi berbagai degradasi lingkungan salah satunya yaitu erosi dan limpasan permukaan juga tanaman pohon dapat digunakan sebagai penyerap karbon diudara sedangkan pada daerah yang datar cocok untuk di tanami tanaman hortikultura (sayuran) namun saat ini banyak sekali lahan yang sudah mulai dialih fungsikan dimana pada lahan yang dulu lahan hutan diubah menjadi lahan tanaman monokultur sayur. Sehingga karna hal tersebut maka cadangan karbon banyak yang hilang karena pergantian vegetasi yang tentunya tanaman sayur memiliki kemampuan menyerap karbon yang lebih sedikit dibandingkan tanaman berkayu.

2. Proses pembentukan wilayah berdasarkan tenaga endogen

Proses Pembentukan Wilayah di DAS Kali Lanjar, Desa Pujon Kulon Kecamatan Pujon Kabupaten Malang terbentuk melalui tenaga endogen yaitu berupa tenaga vulkanik. Dimana landformvulkanik yaitu landform yang terbentuk akibat adanya aktivitas volkan/ gunung berapi (resen atau subresen). Dapat dikatakan terbentuk karena aktivitas tenaga endogen vulkanik dikarenakan lokasi project yaitu Das Kali Lanjar, Desa Pujon kulon kecamatan pujon kabupaten malang ini berada pada daerah gunung. Dan jika dilihat memalui peta geologi lokasi ini memiliki formasi geologi yaitu Qpbk yaitu batuan gunung api kawi-butak satuan ini termasuk dalam batuan gunung api kuarter tengah yang tersusun atas bahan breksi gunung berapi, tuf lava, anglomerat dan lahar,batuan gunung api ini diperkirakan diperkirakan berumur plistosen akhir bagian awal, tertindih oleh bagian gunung api kuarter yang lebih muda dan tuf malang. . Sehingga sifat-sifat tanah yang terdapat dilokasi project memiliki sifat yang sama dengan batuan dari Gunung Kawi-Butak. Dimana sifat-sifat ini dimungkinkan dapat terbawa akibat erupsi yang kemudian material dari dalamnya terbawa menutupi lahan di daerah tersebut.

 

 

 

 

Studi Kasus Bencana yang Terjadi di Malang dan Deskripsi Kondisi Landskap di Bojonegoro

February 13th, 2018

TUGAS
ANALISIS LANSKAP TERPADU
“Studi Kasus Bencana yang Terjadi di Malang
dan Deskripsi Kondisi Landskap di Bojonegoro”

Disusun Oleh :
Kelompok 3
1. Clara Emanuela P. (155040201111120)
2. Nugraha Alam (155040201111201)
3. Nadya Awaliah (155040201111216)
4. Siti Khodijah (155040201111225)
5. Muhamad Yuda P. (155040201111240)
6. David Billy J (155040201111245)
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
Negara Indonesia merupakan salah satu negara dengan gunung berapi terbanyak di dunia dengan 400 gunung berapi, terdapat sekitar 192 buah gunung berapi yang masih aktif dan sepanjang 700 km mulai dari Aceh sampai Nusa Tenggara dengan luas daerah yang terancam terkena dampak letusan sekitar 16.670 km2 (Zamroni, 2011). Penyebaran gunung berapi di Indonesia merata membentuk suatu sabuk gunung berapi. Peningkatan status 21 gunung berapi di Indonesia saat ini sedang dalam kondisi yang membahayakan. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 3 gunung dalam status siaga dan 22 gunung dalam status waspada. Gunung berapi di Indonesia paling banyak terletak di Pulau Jawa dengan jumlah 35 gunung berapi (Gambar 1).

Gambar 1. Peta persebaran gunung api di Indonesia
(Sumber: USGS, 2001 dalamVolcano Discovery, 2015)
Salah satu daerah di Pulau Jawa yang dikelilingi oleh gunung berapi adalah Malang. Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya dan terletak ±90 km dari Surabaya. Kota Malang berdiri sejak tanggal 1 April 1914. Luas wilayah Kota Malang ± 110,06 km2 dengan ketinggian 440-667m diatas permukaan laut. Kota Malang dikelilingi oleh tiga sungai besar, yaitu Sungai Brantas, Sungai Amprong dan Sungai Bango. Kota Malang juga dikelilingi oleh 4 gunung. Di utara terdapat Gunung Arjuno, di timur terdapat Gunung Semeru, di selatan terdapat Gunung Kelud dan di barat terdapat Gunung Kawi dan Gunung Panderman (BPS, 2014).
Banyaknya gunung berapi di Indonesia adalah karena Secara geologis, wilayah Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik aktif yaitu Lempeng Indo-Australia di bagian selatan, Lempeng Eurasia di bagian utara dan Lempeng Pasifik di bagian Timur. Ketiga lempengan tersebut bergerak dan saling bertumbukan sehingga Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng Eurasia dan menimbulkan gempa bumi, jalur gunung api, dan sesar atau patahan. Penunjaman (subduction) Lempeng IndoAustralia yang bergerak relatif ke utara dengan Lempeng Eurasia yang bergerak ke selatan menimbulkan jalur gempa bumi dan rangkaian gunung api aktif sepanjang Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara (ring of fire) sejajar dengan jalur penunjaman kedua lempeng. Di samping itu jalur gempa bumi juga terjadi sejajar dengan jalur penunjaman, maupun pada jalur patahan regional seperti Patahan Sumatera/Semangko. Indonesia merupakan bagian dari dua buah rangkaian pegunungan besar di dunia, yaitu rangkaian Pengunungan Mediteran dan rangkaian Pegunungan Sirkum Pasifik. Negara Indonesia terletak pada tiga daerah dangkalan, yaitu Dangkalan Sunda, Dangkalan Sahul dan Daerah Laut pertengahan Australia Asia. Letak geologis inilah yang menyebabkan wilayah Indonesia terutama pulau Jawa banyak dijumpai gunung berapi (Anggraeni, 2013).
Lempeng-lempeng litosfer ini menumpang di atas astenosfer. Lempeng tersebut bergerak relatif satu dengan yang lainnya di batas-batas lempeng, baik divergen (menjauh), konvergen (bertumbukan), ataupun transform (menyamping/bergeser). Divergen, bila lempeng-lempeng bergerak saling menjauh, sehingga membentuk celah, mengakibatkan material lelehan dari astenosfer terinjeksi naik ke atas, mendingin, lalu membentuk lantai samudra baru yang berupa pematang tengah samudra, seperti yang terjadi di Samudra Atlantik. Kecepatan lempeng yang saling menjauh ini bergerak antara 2-10 cm per tahun. Konvergen, bila lempeng bertemu yang menyebabkan salah satu lempeng menekuk melengkung masuk ke lempeng yang lain. Pada kesempatan inilah ada lempeng yang dihancurkan di dalam astenosfer, sehingga lempeng yang padat dan kaku itu menjadi lebur di dalam astenosfer yang sangat panas. Ini merupakan salah satu hukum keseimbangan, ada lempeng yang saling menjauh dengan menambah lebarnya samudra Atlantik, misalnya, maka harus ada bagian lain dari kelebihan itu yang harus dihancurkan. Bila dua lempeng benua dan lempengan samudra saling bertemu, saling menekan, mendorong, pada umumnya lempeng samudra akan menekuk ke dalam astenosfer, kemudian meleleh. Bahan lelehan terus ditekan kembali ke atas dengan kekuatan yang luar biasa, sehingga ada bagian yang mencapai permukaan, dan terbentuklah gunung api (Zakaria, 2004).
Selain itu, fenomena tektonik lempeng memberikan sumber kekayaan dan potensi alam yang dapat bermanfaat untuk kepentingan dan kemakmuran rakyat, mulai dari sumberdaya mineral, air, batubara, minyak bumi dan gas, sumber energi panas bumi, sampai pada potensi keindahan alam. Secara teoritis, masyarakat seharusnya menjauhi area sekitar gunung berapi, terutama yang masih aktif karena bahaya yang dapat ditimbulkannya sewaktu-waktu. Namun yang terjadi malah sebaliknya, banyak orang yang berdatangan dan bermukim disekitar area gunung berapi dikarenakan tanah di kawasan ini sangat subur dan cocok untuk digunakan sebagai area lahan pertanian yang produktif. Akibatnya adalah banyaknya bencana yang terjadi pada wilayah Malang yang lebih lanjutnya akan dibahas pada studi kasus dibawah ini.

Studi Kasus 1: Kerusakan Hutan Jadi Pemicu Banjir dan Longsor di Desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang.
A. Permasalahan
Bencana alam berupa banjir yang melanda Desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, pada Kamis (15/9/2016) sekitar pukul 21.00 WIB menyebabkan kerusakan pada beberapa rumah warga. Data kerusakan rumah yaitu satu rumah hanyut, satu rumah rusak parah, delapan rumah rusak sedang, dan 43 rumah rusak ringan. Sementara 64 keluarga masih mengungsi. Pantauan TNI dan Dinas terkait, kerusakan hutan di arena hulu Desa Pujiharjo yang memicu banjir bandang yang memporak-porandakan desa ini. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, Hafi Lutfi mengungkapkan, banjir tidak hanya merusak rumah penduduk. Banjir juga menghancurkan jalan dan jembatan. Lutfi juga membenarkan perihal kerusakan hutan tangkapan di hulu Kali Tundo. Di area hutan tersebut juga terlihat longsor selebar satu meter, dengan panjang hingga dua kilometer. Selain itu ada area yang seharusnya ditanami pohon-pohon umur panjang, namun diganti tanaman musiman. Akibatnya kemampuan menangkap air hujan menurun dan memicu banjir hingga tanah longsor (Yohanes, 2016).


Gambar 2. Banjir di Desa Pujiharjo
(Sumber: Suryamalang.com)
Banjir yang terjadi tersebut bukanlah yang terjadi untuk pertama kalinya, sebelumnya juga pernah terjadi banjir bandang dan longsor melanda Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Rabu (20/7/2016). Akibatnya yang ditimbulkan berupa rusaknya ratusan rumah dan sejumlah fasilitas umum.

Banjir tersebut juga diakibatkan oleh curah hujan yang cukup tinggi yang menimpa dua desa yaitu Desa Pujiharjo dan Purwodadi. Akibat banjir bandang dan longsor tersebut, 106 rumah di Desa Pujiharjo rusak. Terdiri dari sembilan rumah rusak berat, 13 rumah rusak sebagian dan 84 rumah rusak ringan. Sedangkan di Desa Purwodadi hanya ada lima rumah yang rusak. Total 111 rumah rumah mengalami kerusakan. Tidak ada korban jiwa dalam banjir bandang dan longsor tersebut. Hanya saja, warga yang terdampak diungsikan ke rumah kerabatnya. Sejumlah fasilitas umum juga mengalami kerusakan akibat banjir dan longsor tersebut. Di antaranya jalan desa sepanjang 400 meter dan tanggul sepanjang 600 meter di Desa Pujiharjo. Selain itu, kerusakan juga terjadi pada plengsengan di empat lokasi, tiga titik saluran irigasi dan jembatan penghunung antar dusun di Desa Purwodadi. Total kerugian diperkirakan mencapai Rp 940 juta.
B. Analisis Permasalahan
Tanah longsor merupakan salah satu bentuk hasil gerakan massa (mass movement) di sepanjang bidang luncurnya (bidang longsornya) kritis. Gerakan massa adalah perpindahan massa batuan, regolit dan tanah dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah karena pengaruh gaya gravitasi (Tim Bejis Project, 2005). Kejadian bahaya longsor (gerakan massa tanah) sering terjadi di daerah-daerah lereng curam / terjal. Terbentuknya tanah longsor adalah akibat perpindahan material pembentuk lereng seperti batuan, bahan rombakan, tanah yang bergerak dari lereng bagian atas meluncur ke bawah. Secara prinsip tanah longsor terjadi jika gaya pendorong pada lereng bagian atas lebih besar dari pada gaya penahan. Gaya pendorong dipengaruhi oleh intensitas hujan yang tinggi, keterjalan lereng, beban serta adanya lapisan kedap air, ketebalan solum tanah, dan berat jenis tanah. Pada hal gaya penahan tersebut umumnya dipengaruhi oleh ketahanan geser tanah, kerapatan dan kekuatan akar tanaman serta kekuatan batuan (Sidle dan Dhakal, 2003). Faktor-faktor penyebab longsor tersebut juga menjadi faktor penyebab terjadinya longsor dan banjir pada kecamatan Tirtoyudo.
Kecamatan Tirtoyudo adalah salah satu dari 33 kecamatan di Kabupaten Malang yang mempunyai karaterikstik tersendiri yang jarang dimiliki oleh kecamatan lain. Kecamatan Tirtoyudo memanjang dari arah selatan ke utara dari ujung selatan daerah pantai terletak di sebelah tenggara Kota Malang dengan jarak kurang lebih 48 km dengan batas-batas wilayah adalah pada sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Wajak, timur berbatasan dengan Kecamatan Ampelgading, selatan berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia, dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Dampit dan Sumbermanjing Wetan. Secara topografi kecamatan Tirtoyudo berada pada kawasan pesisir pantai dan Kawasan dengan kontur perbukitan yang terjal dengan kelerengan mencapai > 40%. Berdasarkan posisi geografis, fisiografis, demografis, dan geologis wilayah kecamatan Tirtoyudo tergolong rawan bencana alam berupa banjir, longsor, gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung api karena selain berada di dekat samudra Indonesia, Tirtoyudo sangat dekat dengan gunung Semeru, kurang lebih 15 km dari kaki semeru dan yang paling khas adalah muntahan abu dari aktivitas gunung semeru yang akan diterima oleh penduduk hampir setiap hari (RPJMD Kab. Malang, 2016).

Gambar 3. Kecamatan Tirtoyudo (Sumber: Google Citra Satelit)
Dilihat dari analisis landskap kelerengan menjadi salah satu faktor penting penyebab terjadinya banjir yang berakibat longsor pada kecamatan Tirtoyudo, selain itu informasi yang bersumber dari berita yang didapat bahwa penyebabnya adalah kerusakan hutan pada lereng atas. Didukung dengan pernyataan Paimin dkk., (2009) yang mengatakan bahwa Tanah longsor (landslide) adalah bentuk erosi (pemindahan massa tanah) yang pengangkutan atau pemindahan tanahnya terjadi pada suatu saat secara tiba-tiba dalam volume yang besar (sekaligus). Tanah longsor terjadi jika dipenuhi 3 (tiga) keadaan, yaitu: (1) lereng cukup curam, (2) terdapat bidang peluncur yang kedap air dibawah permukaan tanah, dan (3) terdapat cukup air dalam tanah di atas lapisan kedap (bidang luncur) sehingga tanah jenuh air. Dapat dikatakan bahwa penyebab bencana alam yang terjadi merupakan akibat dari bukan hanya hutan yang gundul namun juga faktor geomorfologi wilayah dari Kecamatan Tirtoyudo seperti kelerengan. Verstappen (1983) menyebutkan bahwa geomorfologi dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang bentuklahan (landform) yang membentuk permukaan bumi, baik diatas maupun di bawah permukaan laut, genesis dan perkembangannya yang akan datang, sejalan dengan konteks lingkungannya. Berdasarkan definisi bentuklahan tersebut dapat diketahui bahwa bentuklahan adalah konfigurasi permukaan bumi yang mempunyai relief khas, karena pengaruh kuat dari struktur kulit bumi dan bekerjanya proses alam pada batuan penyusunnya di dalam ruang dan waktu tertentu. Cooke dan Doornkamp (1994), menjelaskan konstribusi geomorfologi terhadap penilaian kejadian gerakan massa, bahwa ada beberapa faktor yang perlu diketahui untuk menilai kejadian gerakan massa/longsor tanah, yaitu: lereng, drainase, batuan dasar, tanah, bekas-bekas longsor sebelumnya, iklim dan pengaruh aktivitas manusia. Mengacu pada berbagai konsep tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan erat antara kondisi geomorfologi suatu wilayah dengan karakteristik kejadian longsor tanah, karena faktor-faktor penyusun bentuk lahan juga akan berpengaruh terhadap karakteristik longsor tanah (Priyono, 2014).
C. Teknik Pengendalian Bencana Banjir dan Longsor
Mengatasi permasalahan banjir dan longsor pada Kecamatan Tirtoyudo perlu diketahui bahwa proses tanah longsor bisa dipilah dalam tiga tingkatan yakni: (1) Massa tanah sebagian terbesar telah meluncur ke bawah (longsor), (2) massa tanah bergeser sehingga menimbulkan rekahan/retak (rayapan), dan (3) massa tanah belum bergerak tetapi memiliki potensi longsor tinggi (potensial longsor). Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada daerah longsor maupun rawan longsor adalah sebagai berikut:
1. Slope reshaping lereng terjal yang merupakan pembentukan lereng lahan menjadi lebih landai pada daerah yang potensial longsor.
2. Penguatan lereng terjal dengan bronjong kawat pada kaki lereng.
3. Penutupan rekahan/retakan tanah dengan segera karena pada musim penghujan rekahan bisa diisi oleh air hujan yang masuk ke dalam tanah sehingga menjenuhi tanah di atas lapisan kedap.
4. Bangunan rumah dari konstruksi kayu (semi permanen) lebih tahan terhadap retakan tanah dibanding dengan bangunan pasangan batu/bata pada lahan yang masih akan bergerak.
Teknik pengendalian tanah longsor metode vegetatif harus dipilahkan antara bagian kaki, bagian tengah, dan bagian atas lereng. Stabilisasi tanah diutamakan pada kaki lereng, baik dengan tanaman (vegetatif) maupun bangunan. Persyaratan vegetasi untuk pengendalian tanah longsor antara lain: jenis tanaman memiliki sifat perakaran dalam (mencapai batuan), perakaran rapat dan mengikat agregat tanah, dan bobot biomassanya ringan. Pada lahan yang rawan longsor, kerapatan tanaman beda antara bagian kaki lereng (paling rapat = standar kerapatan tanaman), tengah (agak jarang = ½ standar) dan atas (jarang = ¼ standar). Kerapatan yang jarang diisi dengan tanaman rumput dan atau tanaman penutup tanah (cover crop) dengan drainase baik, seperti pola agroforestry. Pada bagian tengah dan atas lereng diupayakan perbaikan sistim drainase (internal dan eksternal) yang baik sehingga air yang masuk ke dalam tanah tidak terlalu besar, agar tingkat kejenuhan air pada tanah yang berada di atas lapisan kedap (bidang gelincir) bisa dikurangi bebannya. Upaya pengendalian tanah longsor metode teknik sipil antara lain berupa pengurugan/penutupan rekahan, reshaping lereng, bronjong kawat, perbaikan drainase, baik drainase permukaan seperti saluran pembuangan air (waterway) maupun drainase bawah tanah. Untuk mengurangi aliran air (drainase) bawah tanah dilakukan dengan cara mengalirkan air secara horizontal melalui terowongan air seperti paritan (trench) dan sulingan (pipa perforasi) (Paimin, dkk., 2009).
Pendekatan pengendalian tanah longsor berbeda dengan pengendalian erosi permukaan, bahkan bertolak belakang. Pada pengendalian tanah longsor diupayakan agar air tidak terlalu banyak masuk ke dalam tanah yang bisa menjenuhi ruang antara lapisan kedap air dan lapisan tanah, sedangkan pada pengendalian erosi permukaan air hujan diupayakan masuk ke dalam tanah sebanyak mungkin sehingga energi pengikisan dan pengangkutan partikel tanah oleh limpasan permukaan dapat diminimalkan. Dengan demikian tindakan mitigasi tanah longsor harus lebih hati-hati apabila pada tempat yang sama juga mengalami degradasi akibat erosi permukaan (rill and inter rill erosion). Pengendalian erosi permukaan mengupayakan agar air hujan dimasukkan ke dalam tanah sebanyak mungkin, sebaliknya pengendalian tanah longsor dilakukan dengan memperkecil air hujan yang masuk ke dalam tanah sehingga tidak menjenuhi lapisan tanah yang berada di atas batuan kedap air (Karnawati, 2005).
Sedangkan untuk pengendalian banjir Teknik pengendalian banjir harus dilakukan secara komprehensip pada daerah yang rawan terkena banjir dan daerah pemasok air banjir. Prinsip dasar pengendalian daerah kebanjiran secara teknis dilakukan dengan meningkatkan dimensi palung sungai sehingga aliran air yang lewat tidak melimpah keluar dari palung sungai. Manajemen yang bisa dilakukan adalah dengan membuat tanggul sungai yang memadai serta membuat waduk atau tandon air untuk mengurangi banjir puncak. Untuk memenuhi kapasitas tampung palung sungai, upaya lain yang bisa dilakukan seperti menambah saluran pembuangan air dengan saluran sudetan (banjir kanal atau floodway). Disamping itu, pengetatan larangan penggunaan lahan di bantaran sungai untuk bangunan, apalagi di badan sungai juga diperlukan, serta larangan pembuangan sampah ke sungai atau saluran drainase.
Sedangkan teknik pengendalian banjir di daerah tangkapan air bertumpu pada prinsip penurunan koefisien limpasan melalui teknik konservasi tanah dan air, yakni : (1) upaya meningkatkan resapan air hujan yang masuk ke dalam tanah, (2) dan mengendalikan limpasan air permukaan pada pola aliran yang aman. Bentuk teknik yang diaplikasikan dapat berupa teknik sipil, vegetatif, kimiawi, maupun kombinasi dari ketiganya, sesuai dengan jenis penggunaan lahan dan karakteristik tapak (site) setempat. Semua upaya tersebut sangat terkait dengan kemampuan tanah/lahan dalam mengendalikan air hujan untuk bisa masuk ke dalam bumi, termasuk vegetasi/hutan yang ada di atasnya. Jenis tanaman hutan yang sama dimana yang satu tumbuh di atas lapisan tanah tebal dan satunya lagi di atas lapisan tanah tipis, akan memiliki dampak yang berbeda dalam mengendalikan limpasan air permukaan atau banjir (Hardiyatmo, 2006).

Studi Kasus II: Sedimentasi pada Waduk Sutami Karangkates Kabupaten Malang, Jawa Timur
A. Permasalahan
Sedimen (sediment transport) yang terbawa oleh aliran sungai dalam kaitannya dengan debit sungai, yang mempunyai arti penting dalam pengembangan sumberdaya air. Laju sedimentasi di waduk Sutami, Karangkates Kabupaten Malang mengkhawatirkan. Sedimentasi meningkat sejak pembabatan hutan pada 1998, dampaknya longsoran tanah memenuhi waduk.
Waduk dibangun sejak 1972, direncanakan umur waduk sampai 100 tahun. Jika laju sedimentasi tak dihambat umur waduk semakin pendek. Sedangkan waduk selain digunakan menampung air untuk kebutuhan irigasi juga sebagai pembangkit listrik tenaga air. Untuk itu, sebuah kapal keruk dikerahkan untuk mengangkat sedimen di dasar waduk. Namun, antara laju sedimentasi dengan pengerukan tak sebanding.


Gambar 4. Waduk Sutami
Untuk itu, PJT 1 menggiatkan penghijauan di kawasan hulu sungai Brantas. Selama setahun ditanam sebanyak 1,8 juta bibit bekerjasama dengan kelompok tani setempat. Tujuannya, untuk mengendalikan sedimentasi serta melestarikan sumber mata air di aliran Brantas.”Tanaman dicek rutin,”, Upaya penghijauan mulai menampakkan hasil. Sejak lima tahun terakhir laju sedimentasi sekitar empat milimeter per tahun. Laju sedimentasi dapat dibendung separuh dari kondisi awal.
Selain itu, sedimentasi dikendalikan melalui waduk Sengguruh Kabupaten Malang. Sehingga, sedimen yang mengalir ke waduk Sutami berkurang. Sampah yang mengalir ke waduk Sengguruh Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang setiap hari mencapai 30 meter kubik per hari. Bahkan saat musim hujan meningkat menjadi 200 meter kubik per hari.”Konservasi lahan hutan secara besar-besaran untuk keperluan industrialisasi,” kata Direktur Eksekutif Walhi Jawa Timur Ony Mahardika. Hutan konservasi berfungsi menyimpan cadangan air. Sedangkan lahan hutan di kawasan hulu Brantas Kota Batu Jawa Timur berubah menjadi lahan pertanian sayuran. Dampaknya, sumber air mati yang menyebabkan debit sungai Brantas anjlok.Total luas hutan di Batu mencapai 11 ribu hektare. Terdiri dari 4 ribu hektare hutan konservasi, 5 ribu hektare hutan industri dan 3 ribu hektare hutan rakyat. Sebanyak 5 ribu an hektare hutan berubah menjadi lahan pertanian (Widianto, 2013).


Gambar 5. Sedimentasi Waduk Sutami
Perusahaan Umum Jasa Tirta 1 (PJT1) terus berupaya menghambat laju sedimentasi di waduk Sutami, Karangkates, Kabupaten Malang.Satu upaya yang dilakukan PJT1, yaitu, dengan cara melakukan pengerukan sidementasi di waduk. Direktur Pengelolaan PJT 1, Syamsul Bachri, mengatakan, saat ini, laju sedimentasi di waduk Sutami, mencapai 4 milimeter per tahun. Tingkat sedimentasi itu sudah menurun 50 persen dari sebelumnya. “Sekarang, tingkat sedimentasi di waduk Sutami sudah sesuai rencana, yakni 4 milimeter per tahun. Kami terus berupaya menekannya,” kata Syamsul. Dikatakannya, PJT 1 menyiapkan satu unit kapal keruk yang dipinjam dari Blitar di lokasi waduk. Alat tersebut untuk mengeruk sedimentasi di dasar waduk. “Kami juga gencar melakukan penghijauan di sekitar hulu sungai Brantas. Setiap tahun, kami menanam 1,8 juta bibit pohon di lokasi,” ajarnya. Menurutnya, sedimentasi di waduk Sutami terjadi 1998 lalu. Ketika itu terjadi pembalakan hutan di sekitar hulu sungai Brantas. Akibatnya, terjadi tanah longsor di lokasi waduk. Longsoran tanah tersebut memenuhi waduk. “Fungsi waduk Sutami sampai 100 tahun. Jika laju sedimentasi tak dihambat umur waduk bisa semakin pendek, tingkat sedimentasi di Waduk juga dikendalikan melalui waduk Sengguruh, Kepanjen, Kabupaten Malang.
Sampah yang mengalir ke waduk Sengguruh mencapai 30 meter kubik per hari. Bahkan saat musim hujan meningkat menjadi 200 meter kubik per hari. Dengan begitu sampah yang masuk di waduk Sutami berkurang,. Berdasarkan data dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), mencatat sumber air di hulu Brantas, terus mengalami penyusutan. Pada 2005 ditemukan sebanyak 215 sumber mata air di hulu Brantas. Namun, angka itu menurun menjadi 111 sumber mata air pada 2010. Pada 2012 angka itu terus menurun menjadi 13 sumber mata air.
B. Analisis Permasalahan
Waduk merupakan tempat menampungnya air untuk mengalirkan pasokan air dalam kebutuhan irigasi dan penampungan air ketika musim kemarau, juga kebutuhan air lainnya. Dalam hal ini waduk ditampung melalui aliran air yang mengalir dari sumber mata air hingga ditampung pada daerah khususnya lahan pertanian.
Sedimentasi adalah proses pengendapan material yang ditransportasi oleh air, es, angin pada suatu cekungan. Sedimentasi mengakibatkan hambatan aliran pada air dan menurut Kimwaga. et al (2007) bahwa permasalahan yang berkaitan dengan sedimentasi adalah mengenai kualitas air yang mengangkut bahan negatf seperti logam berat, pestisida dan yang lain sebagainya.
Kasus yang terkait dengan hal ini adalah sedimentasi pada waduk diakibatkan oleh adanya longsor yang terjadi sehingga dampak dari longsor tersebut menyebabkan pengendapan yang menghambat aliran air untuk pertanian khususnya. Sesuai dengan pernyataan dari Kuwandari. et al (2012) yaitu bahwa sedimentasi yang terjadi secara tidak langsung maupun secara langsung berdampak terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat. Dari segi pertanian adanya sedimentasi akan berpengaruh pada faktor alam seperti topografi, kesuburan tanah dan aktivitas manusia (Jun Du, 2011). Selain permasalahan menganai terhambatnya aliran air yang mengalir pada lahan pertanian sedimentasi juga berdampak pada kesuburan tanah yang ada dan membentuk gejala kerusakan lahan secara topografi.
C. Teknik Pengendalian Sedimentasi
Menurut Fauzi Bachtiar (2006), beberapa cara untuk menanggulangi bahaya sedimen antara lain:
1. Mengurangi terjadinya erosi permukaan
Usaha yang dilakukan dalam penanggulangan erosi adalah usaha penghijauan lahan (reboisasi), pembuatan penghalang sedimen dari vegetasi, pembuatan pagar hidup dan gebalan rumput, mencegah terjadinya kebakaran hutan, yang dapat merusak kesuburan tanah dan hilangnya humus-humus di permukaan tanah, mencegah adanya peladangan yang berpindah-pindah, yang dapat merusak hutan, mencegah adanya penebangan pohon secara liar dan tidak boleh terjadinya tebang habis pada DAS, yang dapat menyebabkan rusakan hutan, hilangnya humus dan akan menyebabkan terjadinya kepadatan permukaan tanah.
2. Pengendalian Angkutan Sedimen
Angkutan sedimen sangat berpengaruh terhadap perubahan morfologi sungai, pada prinsipnya pengendalian angkutan sedimen adalah mengusahakan agar sedimen dapat terbawa aliran sampai ketempat tertentu yang tidak merugikan. Dalam rangka pengendalian angkutan sedimen dialur-alur sungai mungkin dengan cara membuat bangunan-bangunan seperti Bottom control structure untuk mengatur kemiringan dasar sungai sedemikian rupa sehingga aliran masih mampu membawa sedimen tanpa mengikis alur sungai, pembuatan dam penahan sedimen, pembuatan ground sill, pembuatan sabo dam, pembuatan kantong-kantong lumpur dan sebagainya.
3. Pengendalian Sedimentasi
Pengendalian sedimentasi pada alur sungai dimaksudkan untuk mengusahakan terjadinya pengendapan pada tempat-tempat yang dikehendaki. Usaha yang dilakukan di alur sungai lalah dengan membuat fasilitas bangunan seperti dam pengendali sedimen di alur anak sungai di daerah hulu, kantong lumpur di waduk (reservoir), penyediaan tempat-tempat khusus di tepi sungai untuk pengendapan sedimen pada saat tertentu aliran sungai membawa muatan sedimen banyak, penambangan bahan galian golongan C, pengerukan pada muara sungai

Bentuk Lahan dan Geomorfologi Kabupaten Bojonegoro
A. Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Bojonegoro
Kabupaten Bojonegoro adalah salah satu kabupaten yang berada di Jawa Timur yang memiliki luas wilayah sejumlah 2.307,06 km². Luas Wilayah Kabupaten Bojonegoro terbagi dalam : 28 Kecamatan 11 Kelurahan dan 419 Desa. Kabupaten Bojonegoro terletak pada posisi 112º25’ – 112º09’ Bujur Timur dan 6º59’ – 7º37’ Lintang Selatan. Dari wilayah seluas 2.307,06 km² , sebanyak 40,15 persen merupakan hutan negara, sedangkan yang digunakan untuk sawah tercatat sekitar 32,58 persen. Topografi Kabupaten Bojonegoro menunjukkan bahwa di sepanjang daerah aliran sungai Bengawan Solo merupakan daerah dataran rendah, sedangkan di bagian Selatan merupakan dataran tinggi disepanjang kawasan Gunung Pandan, Kramat dan Gajah. Sebagai daerah yang beriklim tropis, Kabupaten Bojonegoro hanya mengenal dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan.
Batas wilayah administrasi Pemerintahan Kabupaten Bojonegoro di sebelah selatan yaitu berbatasan dengan Kabupaten Madiun, Nganjuk dan Ngawi, disebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Lamongan. Sedangkan Kabupaten Tuban merupakan kabupaten tetangga yang berbatasan dari sisi utara dan sebelah barat berhadapan langsung dengan Propinsi Jawa Tengah tepatnya dengan Kabupaten Ngawi dan Blora.
Tipe iklim di wilayah Kabupaten Bojonegoro adalah beriklim tropis, dengan suhu rata-rata 27,8 C suhu udara berkisar antara 24,2 C – 31,4 C dan hanya mengenal dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan, curah hujan baik langsung maupun tak langsung akan mempengaruhi jenis dan pola tanam serta pola identitas penggunaan tanah dan tersedianya air pengairan.
Bengawan Solo mengalir dari selatan, menjadi batas alam dari Provinsi Jawa Tengah, kemudian mengalir ke arah timur, di sepanjang wilayah utara Kabupaten Bojonegoro. Bagian utara merupakan Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo yang cukup subur dengan pertanian yang ekstensif. Kawasan pertanian umumnya ditanami padi pada musim penghujan, dan tembakau pada musim kemarau. Bagian selatan adalah pegunungan kapur, bagian dari rangkaian Pegunungan Kendeng. Bagian barat laut (berbatasan dengan Jawa Tengah) adalah bagian dari rangkaian Pegunungan Kapur Utara.


Gambar 6. Kawasan Wilayah Bojonegoro
B. Proses Geomorfologi Kabupaten Bojonegoro
Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur, memiliki enam sataun geomorfologi, yaitu Satuan Punggungan Sinklin, Satuan Dataran Lipatan Terdenudasi, Satuan Perbukitan Lipatan, Satuan Perbukitan Patahan, Satuan Danau, dan Satuan Aluvial.


Gambar 7. Bukit Bojonegoro dengan Satuan Pegunungan Sinklin
Sejarah geologi Kabupaten Bojonegoro dimulai pada Kala Miosen Akhir dengan diendapkannya satuan napal sampai pada Pliosen Awal di lingkungan batial atasneritik luar. Regresi yang terus terjadi di daerah tesebut menghasilkan pengendapan berturut-turut dan selaras batugamping dan batupasir-batulempung.


Gambar 8. Bentukan batial atasneritik

Sementara itu di utara, pada Plestosen diendapkan satuan batulempung pada lingkungan litoral. Lalu, tektonik Plio-Plestosen (rezim kompresi utara-selatan) menyebabkan daerah penelitian teranjakkan dan terlipatkan secara intensif sehingga menjadikannya lingkungan darat. Sesar anjakan ini yang menyebabkan posisi satuan batuan Zona Kendeng (secara penampang) berposisi di atas satuan batulempung (Zona Randublatung).


Gambar 9. Batuan Zona Kendeng (secara penampang) berposisi
di atas satuan batulempung (Zona Randublatung).
Proses tektonik kompresi yang terus berjalan, memberikan efek terbentuknya beberapa sesar sobekan (tear fault) yang memotong sesar-sesar dan lipatan-lipatan yang sudah terbentuk sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Fauzi Bachtiar. 2006. Kajian Pengendalian Sedimentasi Waduk Panglima Besar Soedirman Dengan Teknologi Sabo. Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Badan Pusat Statistik. 2014. Kabupaten Malang dalam Angka. Malang: Badan Pusat Stastistik Kabupaten Malang.
Bappeda Provinsi Jatim. 2013. Kabupaten Bojonegoro. Jawa Timur: Bappeda.
Hardiyatmo, H. C. 2006. Penanganan Tanah Longsor dan Erosi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Hasyim, Irianto dan Syaiful. 2016. Geologi Daerah Papringan dan Sekitarnya Kecamatan Tamayang Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. Bogor : Universitas Pakuan.
Jun, Du. et al.(2011). Impacts of socio-economic factors on sediment yield in the Upper Yangtze River. Journal of Geograpical Sciences, 21 (2). 359-371
Karnawati, D. 2005. Bencana Alam Gerakan Massa Tanah di Indonesia dan Upaya Penanggulangannya. Yogyakarta: Jur. Geologi Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada.
Kimwaga, R.J. et al (2007). Modelling the impact of land use changes on sediment loading into lake victoria using swat model: a case of simiyu catchment tanzania. The Open Enveronmental Engineering Journal, 5 (1). 66-76.
Kuwandari, Septian Agusning. et al. (2012). Mobilitas sosial nelayan pasca sedimentasi daerah aliran sungai (DAS). Jurnal Sosiologi Pedesaan, 6 (3).
Paimin, Sukresno, dan I. B. Pramono. 2009. Teknik Mitigasi Banjir dan Tanah Longsor. Bogor: Tropenbos International Indonesia Programme.
Priyono. 2014. Hubungan Klasifikasi Longsor, Klasifikasi Tanah Rawan Longsor dan Klasifikasi Tanah Pertanian Rawan Longsor. J. GEMA. Vol. 27 (49): 1602 – 1617.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Malang. 2016. http://sipd.bangda.kemendagri.go.id/ Diakses pada 10 Februari 2018.
Sidle R.C., and Dhakal, A.S. 2003. Recent Advances in The Spatial and Temporal Modeling of Shallow Landslies. http://www.mssanZ.org.au/MOD SIM03/Volumeˍ02/A11/08ˍsidle.pdf
Tim Bejis Project. 2005. Identifikasi Potensi Longsor dan Upaya Mencegah Bahaya Longsor. Laporan Bejis Project Ausaid. Proyek Kerjasama Universitas Brawijaya – Bappedal Prov.Jatim-Pemkab Malang-Australian Manage Contractor.
Widianto, E. 2013. Sedimentasi pada Waduk Sutami Karangkates Kabupaten Malang, Jawa Timur. https://nasional.tempo.co/read/514272/laju-sedimentasi-meningkat-ancam-waduk-sutami. Diakses pada 10 Februari 2018.
Yohanes, D. 2016. Surya Malang: Kerusakan Hutan Jadi Pemicu Banjir dan Longsor di Desa Pujiharjo Kabupaten Malang. http://suryamalang.tribunnews.com/2016/09/19/kerusakan-hutan-jadi-pemicu-banjir-di-desa-pujiharjo-kabupaten-malang. Diakses pada 10 Februari 2018.
Zakaria, Z., 2004, Kebencanaan Geologi dan Hubungannya dengan Aktivitas Tektonik di Jawa Timur. J. Alami, Vol. 9(2): 60-67.