Archive

Posts Tagged ‘http://nanangsuryadi.lecture.ub.ac.id/’

Tugas 5 : Consumer Behaviour

May 29th, 2012
Comments Off on Tugas 5 : Consumer Behaviour

Tugas 5

 

Nama : Cerlienia Juwita

Nim : 0910220069

Kelas : BB

Mata  Kuliah : Perilaku Konsumen

Dosen : Pak Nanang Suryadi

ARTIKEL :

I. Pengaruh kelompok acuan terhadap minat beli konsumen

Didalam suatu proses pemasaran produk, pasti ada pengaruh dari berbagai macam faktor, misalnya saja kelompok acuan. Kelompok acuan sendiri memiliki arti seorang individu atau sekelompok orang yang secara nyata mempengaruhi perilaku seseorang. Dari sudut pandang pemasar, kelompok acuan adalah kelompok yang di anggap sebagai kerangka acuan bagi para individu dalam pengambilan keputusan pembelian. Kelompok acuan digunakan oleh seseorang sebagai dasar untuk perbandingan atau sebuah referensi dalam membentuk respon afektif, kognitif, dan perilaku. Sehingga dapat memberikan standar (norma atau nilai) yang dapat menjadi perspektif penentu mengenai bagaimana seseorang berfikir atau berperilaku. Dalam perspektif pemasaran, kelompok acuan adalah kelompok yang berfungsi sebegai referensi bagi seseorang dalam mengambil keputusan pembelian dan konsumsi .

Menurut  Kotler, Philip and Armstrong, Gary, 2004 proses keputusan pembelian konsumen melalui lima tahap  pada setiap pembelian, yaitu :

1.  Pengenalan kebutuhan

Proses membeli dimulai dengan pengenalan kebutuhan, dimana pembeli mengenali adanya masalah atau kebutuhan. Pembeli merasakan perbedaan antara keadaan nyata dan keadaan yang diinginkan.

2.  Pencarian Informasi

Konsumen dapat mencari informasi dari beberapa sumber. Sumber ini termasuk:

a.  Sumber pribadi: keluarga, teman, tetangga, dan kenalan.

b.  Sumber komersial: iklan, wiraniaga, agen, kemasan, dan pajangan.

c.  Sumber publik: media massa dan organisasi penilai konsumen.

d.  Sumber pengalaman: penanganan, pemeriksaan, dan menggunakan produk.

3.  Evaluasi alternatif

Suatu tahap ketika konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi merek alternatif dalam perangkat pilihan.

4.  Keputusan membeli

Suatu tahap dimana konsumen benar-benar membeli produk.

5.  Perilaku pasca pembelian

Tugas pemasar tidak berakhir ketika produk telah dibeli oleh konsumen. Setelah membeli produk, konsumen akan mengalami tingkat kepuasan atau ketidakpuasan. Tugas pemasar tidak berakhir saat produk dibeli, melainkan berlanjut hingga periode paca pembelian. Pemasar harus memantau kepuasan pasca pembelian, tindakan pasca pembelian, dan pemakaian atau pembuangan pasca pembelian.

Kelompok acuan memberikan standar (norma atau nilai) yang dapat menjadi perspektif penentu mengenai bagaimana seseorang berfikir atau berperilaku. Adapun definisi dari kelompok rujukan atau referensi adalah setiap orang atau kelompok yang dianggap sebagai dasar pembandingan bagi seseorang dalam membentuk nilai dan sikap umum / khusus atau pedoman khusus bagi perilaku.

Tiga macam pengaruh kelompok acuan:

1. Pengaruh Normatif

Ketika seorang individu memenuhi harapan kelompok untuk mendapatkan hadiah langsung atau menghindari hukuman

2. Pengaruh Ekspresi Nilai

Ketika seorang individu kelompok menggunakan norma dan nilai-nilai dianggap sebagai panduan bagi sikap mereka sendiri atau nilai-nilai

3. Pengaruh Informasi

Perilaku dan pendapat kelompok referensi digunakan sebagai berguna potongan informasi yang berpotensi

Terdapat lima jenis kelompok acuan dan karakteristiknya (Peter, J. Paul and Olson, Jerry C., 2005: Hawkins, Del I., 2004:)

Jenis Kelompok Acuan Perbedaan dan Karakteristik
Formal / Informal Kelompok acuan formal memiliki struktur yang dirinci dengan jelas (contoh: kelompok kerja di kantor / tim per divisi); sedangkan kelompok acuan informal tidak dirinci secara jelas (contoh: kelompok persahabatan / teman kuliah)
Primary / secondary Kelompok acuan primary melibatkan seringnya interaksi langsung dan tatap muka (contoh : keluarga atau sanak saudara); sedangkan kelompok acuan secondary, interaksi dan tatap mukanya tidak terlalu sering (contoh : tetangga di apartemen)
Membership Seseorang menjadi anggota formal dari suatu kelompok acuan (contoh : kelompok pecinta alam)
Aspirational Seorang bercita-cita untuk bergabung atau menandingi kelompok acuan aspirational
Dissociative Seseorang berupaya menghindari kelompok acuandissosiative

Para pemasar tertarik pada kemampuan kelompok rujukan untuk mengubah sikap dan perilaku konsumen dengan mendorong timbulnya kesesuaian. Untuk dapat mempunyai pengaruh tersebut, kelompok rujukan harus melakukan hal-hal berikut ini :

  • Memberitahukan  atau mengusahakan agar orang menyadari adanya suatu produk / merk khusus
  • Memberikan  kesempatan pada individu untuk membandingkan pemikirannya sendiri dengan sikap dan perilaku kelompok
  • Mempengaruhi  individu untuk mengambil sikap dan perilaku yang sesuai dengan norma-norma kelompok
  • Membenarkan  keputusan untuk memakai produk-produk yang sama dengan kelompok

Daya tarik kelompok rujukan dalam pemasaran melalui :

  • Daya  tarik selebriti
  • Daya  tarik tenaga ahli
  • Daya  tarik orang biasa
  • Daya  tarik juru bicara eksekutif dan karyawan
  • Daya  tarik kelompok rujukan lain

KELUARGA

Keluarga merupakan dua orang atau lebih yang dikaitkan oleh hubungan darah, perkawinan, atau pengadopsian yang tinggal bersama-sama atau terpisah. Keluarga adalah lingkungan mikro yaitu lingkungan yang paling dekat dengan konsumen. Keluarga menjadi daya tarik bagi pemasar karena keluarga memiliki pengaruh yang besar kepada konsumen. Anggota keluarga akan saling mempengaruhi dalam pengambilan keputusan pembelian produk dan jasa.

Peranan anggota keluarga dalam pengambilan keputusan pembelian antara lain : (Sumarwan, 2002)

  • Sebagai initiator, anggota keluarga yang memiliki ide atau gagasan untuk membeli atau mengkonsumsi suatu produk
  • Sebagai  influencer, para anggota keluarga yang memberikan pengaruh pada anggota keluarga lain untuk mengambil keputusan dalam pembelian atau tidak membeli suatu produk
  • Sebagai  gate keeper, para anggota keluarga yang mengontrol arus informasi
  • Sebagai  decision , anggota keluaga yang menentukan membeli atau tidak suatu produk
  • Sebagai  buyer, anggota keluarga yang dengan nyata melakukan pembelian
  • Sebagai  preparer, anggota yang mengubah produk mentah menjadi bentuk yang bisa dikonsumsi
  • Sebagai  user, anggota keluarga yang menggunakan produk tersebut
  • Sebagai  maintancer, anggota keluarga yang merawat atau memperbaiki produk
  • sebagai organizer, anggota keluarga yang mengatur apakah produk tersebut bisa dimulai dipakai atau dibuang atau dihentikan

Jumlah anggota keluarga akan menentukan jumlah dan pola konsumsi suatu barang dan jasa. Anggota keluarga akan saling mempengaruhi dalam keputusan pembelian dan konsumsi suatu produk. Namun kadang juga akan muncul konflik hingga batas-batas tertentu.

Konflik keputusan (desicion conflict) muncul ketika anggota keluarga tidak menyepakati beberapa aspek keputusan pembelian. Perbedaan dalam tujuan akhir sering menciptakan konflik besar karena banyaknya alternatif pilihan yang sangat berbeda (Peter dan Olson, 2000)

Untuk dapat mempunyai pengaruh tersebut, kelompok rujukan harus melakukan hal – hal berikut ini :

  • Memberitahukan  atau  mengusahakan agar orang menyadari adanya suatu produk / merk khusus
  • Memberikan  kesempatan pada individu untuk membandingkan pemikirannya sendiri dengan sikap dan perilaku kelompok
  • Mempengaruhi  individu untuk mengambil sikap dan perilaku yang sesuai dengan norma-norma kelompok
  • Membenarkan  keputusan untuk memakai produk-produk yang sama dengan kelompok

Untuk mendorong timbulnya conformity maka kelompok referensi harus melakukan hal-hal sebagai berikut :

  1. Memberitahukan atau mengusahakan agar orang menyadari adanya sesuatu produk menarik atau merek yang khusus.
  2. Memberikan kesempatan kepada individu untuk membandingkan pemikirannya sendiri dengan sikap dan perilaku kelompok
  3. Mempengaruhi individu untuk mengambil sikap dan perilaku yang sesuai dengan norma-norma kelompok.
  4. Membenarkan keputusan untuk memakai produk-produk yang sama dengan kelompok.

 

Sumber: http://www.google.co.id/search?hl=id&source=hp&q=pengaruh+pribadi+dan+kelompok+acuan+sebagai+strategi+pemasaran&aq=f&aqi=&aql=&oq=&gs_rfai

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://uob-community.ballarat.edu.au/~jharman/JM602/JM602_Lecture15_2007.ppt

Book : Psychology & Marketing (1986-1998); Mar 1997; 14, 2; ABI/INFORM Research pg. 121

Jurnal Proquest : A study on the influence of purchase intentions on repurchase decisions: the moderating effects of reference groups and perceived risks.

Long-Yi Lin and Yeun-Wen Chen

Rorlen. (2007). Peran kelompok acuan dan keluarga terhadap proses keputusan untuk membeli. Jurnal vol : 3 No. 2

II. Memetakan Kelas Sosial di Indonesia Untuk Target Pasar

Di Indonesia terdapat banyak variasi pemetaan kelas social antara orang yang satu dengan orang yang lain dalam masyarakat Indonesia. variasi pembagian kelas sosial di dalam masyarakat tersebut berdasarkan tolak ukur atau variabel yang digunakan dalam melakukan stratifikasi kelas sosial. Masing-masing kelas sosial yang telah terbentuk memiliki karakteristik yang dicerminkan oleh para anggota yang menduduki suatu kelas sosial tertentu. Kelas sosial merupakan tempat untuk berbagi nilai, gaya hidup, minat, dan perilaku yang kemudian membedakan perilaku konsumsi seseorang dari berbagai kelas sosial tersebut.Tetapi secara umum pemetaan kelas social di Indonesia terbagi menjadi tiga yaitu :

Kelas Atas :

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Majalah MARKETING tahun 2005 di beberapa kota besar, dapat diketahui pembagian secara psikografis kelompok konsumen kelas atas. Ada empat kelompok konsumen kelas, yaitu : achiever, show off, trendy, dan traditional.

  1. Kelompok achiever adalah kelompok yang ambisius, sangat memperlihatkan masa depan, selalu optimis, dan cenderung mandiri. Mereka kebanyakan pria yang belum menikah. Dalam memilih produk premium, kelompok ini cenderung lebih rasional dan melihat kegunaannya dalam jangka panjang. Untuk kelompok mengengah-atas, segmen ini cenderung paling sedikit, hanya selitar 19-20%.
  2. Kelompok show off lebih emosional dibanding kelompok pertama, dan memiliki pengeluaran belanja yang paling besar dibandingkan segmen lain. Kelompok ini membeli produk premium karena gengsi atau kemewahan, dan senang dengan produk-produk luar negeri. orang-orang dalam kelompok ini mudah dipengaruhi oleh iklan atau rumor. Pendidikan relatif lebih rendah dibandingkan segmen lainnya. Kelompok ini diperkirakan ada sekitar 23% dari populasi.
  3. Kelompok ketiga adalah trendy yang memilih produk premium karena ada hal baru yang bisa diperoleh dari produk tersebut. Kelompok ini mirip dengan show off, namun yang ditonjolkan lebih kepada barang-barang yang sedang ngetren. Termasuk dalam kelompok ini adalah orang-orang yang technology gadget. Kelompok ini mewakili jumlah terbesar dengan persentase sekitar 31%. Pengeluaran rata-rata lebih tinggi dari segmen show off, namun lebih tinggi dari segmen achiever.
  4. Kelompok terakhir adalah segmen traditional atau konvensional. Segmen ini umumnya didominasi orang yang sudah menikah, dengan usia relatif lebih tinggi dibandingkan segmen lain. Kelompok ini tidak mau terlihat sebagai orang kaya sekalipun sudah sangat mapan, dan mewakili sekitar 26% dari total kelompok kelas atas.

Kelas Menengah :

Menurut Yuswohady (dipublikasi di majalah SWA edisi 08/XXVIII/12-25 April 2012), ada 8 wajah karakter segmen kelas menengah Indonesia, yang resume singkatnya bisa disimak dibawah ini :

  1. The Aspirator. Wajah kelas menengah ini mewakili karakter idealis, memiliki tujuan, serta menjadi influencer terhadap komunitasnya. Kalangan ini umumnya hadir dari kalangan profesional mapan yang sangat melek terhadap informasi, serta peduli terhadap kondisi sosial, budaya, ekonomi dan politik. Merek-merek seperti The Bodyshop, Periplus, TV One, Polygon merupakan contoh merek yang diadopsi oleh tipe ini.
  2. The Performer. Kalangan ini diwakili kalangan profesional serta entrepreneur yang terus berusaha mengekar karier (self-achievement). Relatif tidak mudah puas, bermotivasi tinggi dan cenderung risk-taker. Seringkali melihat peluang sebagai tantangan yang harus dilakoni. Merek-merek seperti C-1000, Smart FM, Metro TV, Telkom Speedy merupakan contoh merek yang diadopsi oleh layer kelas menengah ini.
  3. The Expert. Tipe ini diwakili orang yang selalu berupaya menjadi ahli di bidangnya. Memiliki sifat kekeluargaan yang tinggi. Serta menjunjung tinggi norma-norma sosial dan kekeluargaan (traditional values). Merek-merek yang mewakili layer ini seperti Produk unit Link, Garuda Indonesia, Toyota Camri, Tabloid Otomotif.
  4. The Climber. Karakter tipe ini sangat economic-oriented. Risk taker dalam karier, serta menilai penghargaan dalam karier itu merupakan hal penting. Umumnya segmen ini terdiri dari karyawan level menengah/supervisor. Layer ini biasanya menggunakan merek-merek seperti Lion Air, Toyota Avanza, majalah Femina, Adira Finance, Majalah Info Franchise, dll.
  5. Trend Setter. Konsumen menengah ini berkarakter sedikit jarang bersosialisasi, jarang meng-up-date informasi, tetapi kemampuan finansialnya lumayan tinggi. Keinginan untuk dikagumi teman sebaya (peers) cukup tinggi. Tipe kalangan ini banyak dihuni tipe pekerja yang baru pertama kali “merasakan” bekerja (first Jobber) atau mahasiswa/pelajar yang berasal dari golongan menengah ke atas. Starbucks, iPad/iPhone, Mizone, Majalah Kosmopolitan, Honda Jazz merupakan contoh merek yang diadopsi kelompok ini.
  6. The Follower. Tipe ini perilakunya sangat digerakkan oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Ekspresi diri diejawantahkan dalam barang-barang bersifat life-style. Kalangan ini banyak diwakili mahasiswa dan anak-anak SMA. Merek-merek seperti 7 Eleven, Honda Scoopy, Majalah Hai, Samsung Galaxi Tab adalah merek-merek yang akrab di kalangan ini.
  7. The Settler. Kelompok ini mapan secara ekonomi dan finansial, karena umumnya kelompok ini berasal dari kelompok pedangang yang sukses. Tetapi dalam pengelolaannya cenderung bersikap konservatif. Kelompok ini biasa terkoneksi dengan merek seperti Dji Sam Soe, Hotel Santika, produk-produk Bank Syariah, Tabloid Nova.
  8. The Flower. Tipe ini bisa dikenali dengan kurangnya mengikuti perkembangan teknologi. Menjalani kehidupan mengalir seperti apa adanya. Menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual serta menjadikan keluarga menjadi dunianya. Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Ibu Rumah Tangga mendominasi kelompok menengah tipe ini.

Kelas Bawah :

(Untuk kelas bawah belum ditemukan referensi)

Berdasarkan kriteria ekonomi :

Lapisan pertama : kaum elit desa yang memiliki cadangan pangan dan pengembangan usaha

Lapisan kedua      : terdiri dari orang yang memiliki cadangan pangan saja

Lapisan ketiga      : orang yang tidak memiliki cadangan pangan dan cadangan usaha dan mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan konsumsi perutnya agar tetap hidup

Masyarakat dari kelas sosial yang sama akan berbagi banyak nilai dan minat yang akan dicerminkan dalam perilaku konsumsi. Nilai dan minat yang dianut oleh para anggota dari berbagai kelas sosial memunculkan perbedaan perilaku konsumsi di antara berbagai kelas sosial. Konsumsi sebagai alat dengan tujuan untuk membedakan kelas dan culture of living (termasuk gaya hidup) merupakan suatu arena perjuangan yang signifikan antara satu kelas sosial dengan kelas sosial lain. Apa yang dikonsumsi seseorang, akan menunjukkan dari kelas sosial mana orang itu berasal, menjadi legitimasi keberadaan hingga dapat menjadi bagian dari kelas sosial tersebut. Kecenderungan perbedaan perilaku konsumen yang berbeda di antara berbagai kelas sosial dapat dilihat berbagai pemilihan pakaian, mode, belanja; penggunaan waktu luang, pengeluaran, simpanan, dan kartu kredit; serta media komunikasi.

Ada juga pemetaan dengan :

Kelas sosial ternyata mempunyai pengaruh kuat pada pemilihan jenis mobil, pakaian, perabot rumah tangga, properti, dan rumah. Pemasar menggunakan variabel kelas sosial sebagai segmentasi pasar mereka.

Pendidikan konsumen biasanya menentukan pendapatan dan kelas sosial seseorang. Pendidikan juga menentukan tingkat intelektualitas seseorang, pada gilirannnya intelektualitas ini akan menentukan pilihan barang-barang, merek, jenis hiburan, dan sebagainya. Produk yang dibeli biasanya erat hubungannya dengan penghasilan yang dimiliki rumah tangga orang tersebut.

James Duessenberry menemukan hubungan antara penghasilan, kelas sosial, dan konsumsi. Temuan ini kemudian dikenal dengan Relative Income Hypothesis artinya pilihan konsumsi seseorang bersifat relatif terhadap penghasilan dan kelas sosialnya dalam masyarakat.

Lloyd Warner membagi pasar ke dalan enam kelas sosial, yaitu : (karakteristik Indonesia)

  • Kelas A+ (atas-atas) pengeluaran perbulan > Rp 8.000.000,-
  • Kelas A (atas-bawah)……………………………………   Rp 6.000.000,- sampai Rp 8.000.000,-
  • Kelas B+ (menengah-atas)…………………………..   Rp 4.000.000,- sampai Rp 6.000.000,-
  • Kelas B (menengah-bawah)………………………..   Rp 700.000,- sampai Rp 4.000.000,-
  • Kelas C+ (bawah-atas)…………………………………    Rp 300.000,- sampai Rp 700.000,-
  • Kelas C (bawah-bawah)……………………………… < Rp 300.000,-

Kombinasi antara income dan kelas dalam kelompok pekerjaan dapat juga dibagi dalam segmen sebagai berikut :

A       = Upper Class

B       = Higher Professional

C1     = Lower Professional

C2     = Skilled Non Professional

D       = Manual Worker, Unskilled Labour

E        = Pensioner, Low Waged, Unemployed

Referensi :

Ngesthi Nirmala Dewi, Indarini dan Dudi Anandya. 2007. Perilaku
Konsumen Dalam Kategori Kelas Sosial Di Surabaya: Pengambilan Keputusan Keluarga

Book : Psychology & Marketing (1986-1998); Dec 1996; 13, 18; ABI/INFORM Research pg.803

Referensi buku : Rhenald Kasali, 2005. Membidik Pasar Indonesia, segmentasi, targeting,positioning, Gramedia, Jakarta.(hal. 118-366) dan Philip Kotler Manajemen Pemasaran.2002. Prenhallindo, Jakarta.(hal.291-316)

 

III. Perbedaan  Budaya Indonesia Dulu dan Sekarang, Serta Pandangan Saya Sebagai Orang Indonesia

Perbedaan budaya umumnya memang selalu ada baik antar Negara, antar individu, antar kelompok maupun antara saat ini dengan saat lampau dan masa depan, perbedaan ini dikarenakan setiap budaya akan selalu berkembang dan berubah- ubah sebab budaya memiliki sifat yang dinamis.

Kebudayaan itu ibarat sebuah lensa dimana seperti hal nya saat kita menggunakan lensa, untuk meneropong sesuatu kita harus memilih suatu objek tertentu yang akan dilihat secara fokus. Beberapa orang awam mengartikan kebudayaan merupakan sebuah seni. Padahal sebenarnya kebudayaan itu bukan hanya sekedar seni. Kebudayaan melebihi seni itu sendiri karena kebudayaan meliputi sebuah jaringan kerja dalam kehidupan antar manusia.

Berikut ini adalah definisi dan pengertian kebudayaan menurut beberapa ahli:
# EDWARD T. HALL

Kebudayaan adalah komunikasi dan komunikasi adalah kebudayaan
#IRIS VARNER & LINDA BEAMER

Kebudayaan adalah sebagai pandangan yang koheren tentang sesuatu yang dipelajari, yang dibagi, atau yang dipertukarkan oleh sekelompok orang
# LARRY A. SAMOVAR & RICHARD E. PORTER

Kebudayaan dapat berarti simpanan akumulatif dari pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, pilihan waktu, peranan, relasi ruang, konsep yang luas, dan objek material atau kepemilikan yang dimiliki dan dipertahankan oleh sekelompok orang atau suatu generasi.
# GUDKUNTS & KIM

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan yang dipertukarkan oleh sejumlah orang dalam sebuah kelompok yang besar
# LEVO – HENRIKSSON

Kebudayaan meliputi semua aspek kehidupan kita setiap hari, terutama pandangan hidup – apapun bentuknya – baik itu mitos maupun sistem nilai dalam masyarakat

# ROOS

Kebudayaan merupakan sistem gaya hidup dan merupakan faktor utama bagi pembentukan gaya hidup

# RENE CHAR

Kebudayaan adalah warisan kita yang diturunkan tanpa surat wasiat
# IGNAS KLEDEN

Kebudayaan adalah nasib dan baru kemudian kita menanggungnya sebagai tugas
# C.A VAN PEURSEN

Kebudayaan merupakan gejala manusiawi dari kegiatan berfikir (mitos, ideologi, dan ilmu), komunikasi (sistem masyarakat), kerja (ilmu alam dan teknologi), dan kegiatan-kegiatan lain yang lebih sederhana

# GEERTZ

Kebudayaan adalah yang mengitari kita, yang menyerbu setiap aspek kehidupan. Budaya serentak konkret dan tersebar, dalam dan dangkal
# KARL MARX

Kebudayaan adalah teori anti kebudayaan

# SELO SOEMARDJAN & SOELAIMAN SOEMARDI

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide yang ada dalam pikiran manusia dalam pengalaman sehari hari yang sifatnya abstrak

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Kesatuan budaya lokal yang dimiliki Indonesia merupakan budaya bangsa yang mewakili identitas negara Indonesia. Untuk itu, budaya lokal harus tetap dijaga serta diwarisi dengan baik agar budaya bangsa tetap kokoh.

1)      Kurangnya kesadaran masyarakat

Kesadaran masyarakat untuk menjaga budaya lokal sekarang ini masih terbilang minim. Masyarakat lebih memilih budaya asing yang lebih praktis dan sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini bukan berarti budaya lokal tidak sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi banyak budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Budaya lokal juga dapat di sesuaikan dengan perkembangan zaman, asalkan masih tidak meningalkan cirri khas dari budaya tersebut.

2)      Minimnya komunikasi budaya

Kemampuan untuk berkomunikasi sangat penting agar tidak terjadi salah pahaman tentang budaya yang dianut. Minimnya komunikasi budaya ini sering menimbulkan perselisihan antarsuku yang akan berdampak turunnya ketahanan budaya bangsa.

3)      Kurangnya pembelajaran budaya

Pembelajaran tentang budaya, harus ditanamkan sejak dini. Namun sekarang ini banyak yang sudah tidak menganggap penting mempelajari budaya lokal. Padahal melalui pembelajaran budaya, kita dapat mengetahui pentingnya budaya lokal dalam membangun budaya bangsa serta bagaiman cara mengadaptasi budaya lokal di tengan perkembangan zaman.

4)      Indonesia dipandang dunia Internasional karena kekuatan budayanya

Apabila budaya lokal dapat di jaga dengan baik, Indonesia akan di pandang sebagai negara yang dapat mempertahankan identitasnya di mata Internasioanal.

4. Kuatnya budaya bangsa, memperkokoh rasa persatuan

Usaha masyarakat dalam mempertahankan budaya lokal agar dapat memperkokoh budaya bangsa, juga dapat memperkokoh persatuan. Karena adanya saling menghormati antara budaya lokal sehingga dapat bersatu menjadi budaya bangsa yang kokoh.

5. Kemajuan pariwisata

Budaya lokal Indonesia sering kali menarik perhatian para turis mancanegara. Ini dapat dijadikan objek wisata yang akan menghasilkan devisa bagi negara. Akan tetapi hal ini juga harus diwaspadai karena banyaknya aksi pembajakan budaya yang mungkin terjadi.

6. Multikuturalisme

Dalam artikelnya, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning, Riau, Dr Junaidi SS MHum, mengatakan bahwa multikulturalisme meberikan peluang bagi kebangkitan etnik dan kudaya lokal Indonesia. Dua pilar yang mendukung pemahaman ini adalah pendidikan budaya dan komunikasi antar budaya.

7. Perubahan lingkungan alam dan fisik

Perubahan lingkungan alam dan fisik menjadi tantangan tersendiri bagi suatu negara untuk mempertahankan budaya lokalnya. Karena seiring perubahan lingkungan alam dan fisik, pola piker serta pola hidup masyakrkat juga ikt berubah

8. Kemajuan Teknologi

Meskipun dipandang banyak memberikan banyak manfaat, kemajuan teknologi ternyata menjadi salah satu factor yang menyebabkan ditinggalkannya budaya lokal. Misalnya, sistem sasi (sistem asli masyarakat dalam mengelola sumber daya kelautan/daratan) dikawasan Maluku dan Irian Jaya. Sistem sasi mengatur tata cara sertamusim penangkapan iakn di wilayah adatnya, namun hal ini mulai tidak di lupakan oleh masyarakatnya.

9. Masuknya Budaya Asing

Masuknya budaya asing menjadi tantangan tersendiri agar budaya lokal tetap terjaga. Dalam hal ini, peran budaya lokal diperlukan sebagai penyeimbang di tengah perkembangan zaman.

Perubahan budaya yang terjadi di dalam masyarakat tradisional, yakni perubahan dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat yang lebih terbuka, dari nilai-nilai yang bersifat homogen menuju pluralisme nilai dan norma social merupakan salh satu dampak dari adanya globalisasi. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan sarana transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh. Misalnya saja khusus dalam bidang hiburan massa atau hiburan yang bersifat masal, makna globalisasi itu sudah sedemikian terasa. Sekarang ini setiap hari kita bisa menyimak tayangan film di tv yang bermuara dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea, dll melalui stasiun televisi di tanah air. Belum lagi siaran tv internasional yang bisa ditangkap melalui parabola yang kini makin banyak dimiliki masyarakat Indonesia. Sementara itu, kesenian-kesenian populer lain yang tersaji melalui kaset, vcd, dan dvd yang berasal dari manca negara pun makin marak kehadirannya di tengah-tengah kita. Fakta yang demikian memberikan bukti tentang betapa negara-negara penguasa teknologi mutakhir telah berhasil memegang kendali dalam globalisasi budaya khususnya di negara ke tiga. Peristiwa transkultural seperti itu mau tidak mau akan berpengaruh terhadap keberadaan kesenian kita. Padahal kesenian tradisional kita merupakan bagian dari khasanah kebudayaan nasional yang perlu dijaga kelestariannya.

Di saat yang lain dengan teknologi informasi yang semakin canggih seperti saat ini, kita disuguhi oleh banyak alternatif tawaran hiburan dan informasi yang lebih beragam, yang mungkin lebih menarik jika dibandingkan dengan kesenian tradisional kita. Dengan parabola masyarakat bisa menyaksikan berbagai tayangan hiburan yang bersifat mendunia yang berasal dari berbagai belahan bumi. Kondisi yang demikian mau tidak mau membuat semakin tersisihnya kesenian tradisional Indonesia dari kehidupan masyarakat Indonesia yang sarat akan pemaknaan dalam masyarakat Indonesia. Misalnya saja bentuk-bentuk ekspresi kesenian etnis Indonesia, baik yang rakyat maupun istana, selalu berkaitan erat dengan perilaku ritual masyarakat pertanian. Dengan datangnya perubahan sosial yang hadir sebagai akibat proses industrialisasi dan sistem ekonomi pasar, dan globalisasi informasi, maka kesenian kita pun mulai bergeser ke arah kesenian yang berdimensi komersial.

Kesenian-kesenian yang bersifat ritual mulai tersingkir dan kehilangan fungsinya. Sekalipun demikian, bukan berarti semua kesenian tradisional kita lenyap begitu saja. Ada berbagai kesenian yang masih menunjukkan eksistensinya, bahkan secara kreatif terus berkembang tanpa harus tertindas proses modernisasi. Pesatnya laju teknologi informasi atau teknologi komunikasi telah menjadi sarana difusi budaya yang ampuh, sekaligus juga alternatif pilihan hiburan yang lebih beragam bagi masyarakat luas. Akibatnya masyarakat tidak tertarik lagi menikmati berbagai seni pertunjukan tradisional yang sebelumnya akrab dengan kehidupan mereka. Misalnya saja kesenian tradisional wayang orang Bharata, yang terdapat di Gedung Wayang Orang Bharata Jakarta kini tampak sepi seolah-olah tak ada pengunjungnya. Hal ini sangat disayangkan mengingat wayang merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Indonesia yang sarat dan kaya akan pesan-pesan moral, dan merupakan salah satu agen penanaman nilai-nilai moral yang baik.

Kita sebagai orang Indonesia yang berbudi luhur pasti tahu dengan budaya yang akan dibahas ini, tapi belakangan kita bisa melihat, merasakan (bahkan mungkin mengalami) sudah mulai berkurang. Berikut ini contoh kebudayaan sehari-hari yang dahulu biasa kita lakukan, namun sekarang sudah mulai berkurang penerapannya :

1. Cium tangan pada orang tua

Biasanya dibilang “salim“, bila di masa yang dulu hal ini merupakan kewajiban anak kepada orang tua disaat ingin pergi ke sekolah atau berpamitan ke tempat lain. Sebenarnya, hal ini sangat penting, selain menanamkan rasa cinta kita dengan orang tua, cium tangan itu sebagai tanda hormat dan terima kasih kita pada orang tua kita.

2. Penggunaan tangan kanan

Bila di luar negeri, saya rasa tidak masalah dengan penggunaan tangan baik kanan ataupun kiri, tapi hal ini bukanlah budaya kita. Budaya kita mengajarkan untuk berjabat tangan, memberikan barang, ataupun makan menggunakan tangan kanan. (kecuali memang di anugerahi kebiasaan kidal sejak lahir)

3. Musyawarah

Satu lagi budaya yang sudah jarang ditemukan, khususnya di kota-kota besar semisal Jakarta. Kebanyakan penduduk di kota besar hanya mementingkan egonya masing-masing, pamer inilah itulah, mau jadi pemimpin kelompok ini itu dan bahkan suka main hakim sendiri. Tapi, coba kita melihat desa-desa yang masih menggunakan budaya ini mereka hidup tentram dan saling percaya, tidak ada yang namanya saling sikut dan menjatuhkan, semua perbedaan di usahakan secara musyawarah dan mufakat. Jadi, sebaiknya Anda yang ‘masih’ merasa muda harus melestarikan budaya ini demi keberlangsungan negara Indonesia yang tentram dan cinta damai.

4. Gotong royong

“Itu bukan urusan gue!“, “emang gue pikiran“, Whats up bro? Ada apa dengan kalian? Ayolah ! Kita sebagai generasi muda mulai menimbulkan lagi rasa simpati dengan membantu seksama, karena dengan kebiasaan seperti inilah bangsa kita bisa merdeka saat masa penjajahan, tidak ada perasaan curiga, dan dulu persatuan kita begitu kuat.

Referensi :

Poerwanto, “Hari Kebudayaan Dan Lingkungan dalam perspektif Antropologi”., Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 2006 dan Widagdho, Djoko, “ILMU BUDAYA DASAR”, Bumi Aksara, Jakarta: 2004, serta buku Transformasi Budaya Untuk Masa Depan karangan Mochtar Lubis.

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/132057601/PERUBAHAN%20PERILAKU%20MASY.pdf

http://www.infodiknas.com/%E2%80%9Csopan-santun%E2%80%9D-sebuah-budaya-yang-terlupakan/

http://aliefsyahru.blogspot.com/2012/03/pengertian-kebudayaan.html

http://dzuriyatunthoyibh.blogspot.com/2012/03/pengertian-kebudayaan.html

 

Consumer Behaviour , ,

Tugas 4 : Consumer Behaviour

March 27th, 2012
Comments Off on Tugas 4 : Consumer Behaviour

Tugas 4

Nama : Cerlienia Juwita

Nim : 0910220069

Kelas : BB

Mata  Kuliah : Perilaku Konsumen

Dosen : Pak Nanang Suryadi

1.     Beberapa Tipe Kepribadian Seseorang

Kepribadian adalah keseluruhan cara di mana seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa diukur yang ditunjukkan oleh seseorang.

Kepribadian manusia selalu menjadi tema yang menarik untuk dicari tahu. Ini dilakukan untuk mengetahui “seperti apa sesungguhnya kepribadian diri kita ini..”

Berikut adalah beberapa tipe kepribadian seseorang:

1. Perfeksionis
Tipe ini adalah tipe orang yang termotivasi oleh kebutuhan untuk hidup dengan benar, memperbaiki diri sendiri dan orang lain dan menghindari marah.

2. Setia
Tipe ini adalah tipe orang yang penuh pertimbangan, hati-hati, teliti dan akurat. Serius, tenang, stabil namun sensitif. Ramah, perhatian pada perasaan & kebutuhan orang lain, setia, kooperatif, pendengar yang baik. Punya kemampuan mengorganisasi, detail, teliti, sangat bertanggungjawab & bisa diandalkan.

3. Disiplin
Tipe ini adalah tipe orang yang praktis, realistis, berpegang pada fakta, dengan dorongan alamiah untuk bisnis dan mekanistis. Sangat sistematis, procedural dan terencana. Disiplin, on time dan pekerja keras. Konservatif dan cenderung kaku. Tidak tertarik pada subject yang tidak berguna baginya, tapi dapat menyesuaikan diri jika diperlukan. Senang mengorganisir sesuatu. Bisa menjadi administrator yang baik jika mereka ingat untuk memperhatikan perasaan dan perspektif orang lain.

4. Penolong
Tipe ini adalah tipe orang yang dimotivasi oleh kebutuhan untuk dicintai dan dihargai, mengekspresikan perasaan positif pada orang lain, dan menghindari kesan membutuhkan.

5. Bertanggungjawab
Tipe ini adalah tipe orang yang serius, tenang, stabil, damai, tekun teratur, menepati janji, dapat diandalkan & bertanggung jawab. Senang pada fakta, logis, obyektif, praktis & realistis. Menjadi pendengar yang baik, setia, hanya mau berbagi dengan orang dekat. Memegang aturan, standar & prosedur dengan teguh.

6. Meyakinkan
Tipe ini adalah tipe orang yang kreatif, imajinatif, peka, sensitive, loyal. Pada umumnya peduli pada apa kata orang atau apa yang orang lain inginkan dan cenderung melakukan sesuatu dengan memperhatikan perasaan orang lain. Pandai bergaul, meyakinkan, ramah, fun, populer, simpatik. Responsif pada kritik dan pujian. Menyukai variasi dan tantangan baru. Butuh apresiasi dan penerimaan.

7. Pengejar
Prestasi Tipe ini adalah tipe orang yang pengejar prestasi termotivasi oleh kebutuhan untuk menjadi orang yang produktif, meraih kesuksesan, dan terhindar dari kegagalan.

8. Idealis
Tipe ini adalah ipe orang yang sangat perhatian dan peka dengan perasaan orang lain. Penuh dengan antusiasme dan kesetiaan, tapi biasanya hanya untuk orang dekat. Peduli pada banyak hal. Cenderung mengambil terlalu banyak dan menyelesaikan sebagian dan cenderung idealis dan perfeksionis. Berpikir win-win solution, mempercayai dan mengoptimalkan orang lain.

9. Romantis
Tipe ini adalah tipe orang yang romantis termotivasi oleh kebutuhan untuk memahami perasaan diri sendiri serta dipahami orang lain, menemukan makna hidup, dan menghindari citra diri yang biasa-biasa saja.

10. Spontan
Tipe ini adalah tipe orang yang spontan, Aktif, Enerjik, Cekatan, Cepat, Sigap, Antusias, Fun dan penuh variasi. Komunikator, asertif, to the point, ceplas-ceplos, berkarisma, punya interpersonal skill yang baik. Baik dalam pemecahan masalah langsung di tempat. Mampu menghadapi masalah, konflik dan kritik. Tidak khawatir, menikmati apapun yang terjadi. Cenderung untuk menyukai sesuatu yang mekanistis, kegiatan bersama dan olahraga. Mudah beradaptasi, toleran, pada umumnya konservatif tentang nilai-nilai. Tidak suka penjelasan terlalu panjang. Paling baik dalam hal-hal nyata yang dapat dilakukan.

11. Pengamat
Tipe ini adalah tipe orang yang termotivasi oleh kebutuhan untuk mengetahui segala sesuatu dan alam semesta, merasa cukup dengan diri sendiri dan menjaga jarak, serta menghindari kesan bodoh atau tidak memiliki jawaban.

12. Murah Hati
Tipe ini adalah tipe orang yang outgoing, easygoing, mudah berteman, bersahabat, sangat sosial, ramah, hangat, & menyenangkan. Optimis, ceria, antusias, fun, menghibur, suka menjadi perhatian. Punya interpersonal skill yang baik, murah hati, mudah simpatik dan mengenali perasaan orang lain. Menghindari konflik dan menjaga keharmonisan suatu hubungan. Mengetahui apa yang terjadi di sekelilingnya dan ikut serta dalam kegiatan tersebut.

13. Pencemas
Tipe ini adalah tipe orang yang termotivasi oleh kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan, merasa diperhatikan, dan terhindar dari kesan pemberontak.

14. Optimis
Tipe ini adalah tipe orang yang ramah, hangat, enerjik, optimis, antusias, semangat tinggi, fun. Imaginatif, penuh ide, kreatif, inovatif. Mampu beradaptasi dengan beragam situasi dan perubahan. Pandai berkomunikasi, senang bersosialisasi & membawa suasana positif. Mudah membaca perasaan dan kebutuhan orang lain.

15. Petualang
Tipe ini adalah tipe orang yang termotivasi oleh kebutuhan untuk merasa bahagia serta merencanakan hal-hal menyenangkan, memberi sumbangsih pada dunia, dan terhindar dari derita dan dukacita.

16. Kreatif
Tipe ini adalah tipe orang yang gesit, kreatif, inovatif, cerdik, logis, baik dalam banyak hal. Banyak bicara dan punya kemampuan debat yang baik. Bisa berargumentasi untuk senang-senang saja tanpa merasa bersalah. Fleksibel. Punya banyak cara untuk memecahkan masalah dan tantangan. Kurang konsisten. Cenderung untuk melakukan hal baru yang menarik hati setelah melakukan sesuatu yang lain. Punya keinginan kuat untuk mengembangkan diri.

17. Pejuang
Tipe ini adalah tipe orang yang termotivasi oleh kebutuhan untuk dapat mengandalkan diri sendiri, kuat, memberi pengaruh pada dunia, dan terhindar dari kesan lemah.

18. Harmonis
Tipe ini adalah tipe orang yang hangat, banyak bicara, populer, dilahirkan untuk bekerjasama, suportif dan anggota kelompok yang aktif. Membutuhkan keseimbangan dan baik dalam menciptakan harmoni. Selalu melakukan sesuatu yang manis bagi orang lain. Kerja dengan baik dalam situasi yang mendukung dan memujinya. Santai, easy going, sederhana, tidak berfikir panjang. Teliti dan rajin merawat apa yang ia miliki.

19. Pendiam
Tipe ini adalah tipe orang yang dimotivasi oleh kebutuhan untuk menjaga kedamaian, menyatu dengan orang lain dan menghindari konflik.

20. Pragmatis
Tipe ini adalah tipe orang yang tenang, pendiam, cenderung kaku, dingin, hati-hati, penuh pertimbangan, logis, rasional, kritis, obyektif, mampu mengesampingkan perasaan. Mampu menghadapi perubahan mendadak dengan cepat dan tenang. Percaya diri, tegas dan mampu menghadapi perbedaan maupun kritik. Mampu menganalisa, mengorganisir, & mendelegasikan. Problem solver yang baik terutama untuk masalah teknis & keadaan mendadak.

21. Artistik
Tipe ini adalah tipe orang yang berpikiran simpel & praktis, fleksibel, sensitif, ramah, tidak menonjolkan diri, rendah hati pada kemampuannya. Menghindari konflik, tidak memaksakan pendapat atau nilai-nilainya pada orang lain. Biasanya tidak mau memimpin tetapi menjadi pengikut dan pelaksana yang setia. Seringkali santai menyelesaikan sesuatu, karena sangat menikmati apa yang terjadi saat ini. Menunjukkan perhatian lebih banyak melalui tindakan dibandingkan kata-kata.

22. Reflektif
Tipe ini adalah tipe orang yang perhatian, empati, sensitif & berkomitmen terhadap sebuah hubungan. Sukses karena ketekunan, originalitas dan keinginan kuat untuk melakukan apa saja yang diperlukan termasuk memberikan yg terbaik dalam pekerjaan. Idealis, perfeksionis, memegang teguh prinsip. Visioner, penuh ide, kreatif, suka merenung dan inspiring. Biasanya diikuti dan dihormati karena kejelasan visi serta dedikasi pada hal-hal baik.

23. Independen
Tipe ini adalah tipe orang yang visioner, punya perencanaan praktis, & biasanya memiliki ide-ide original serta dorongan kuat untuk mencapainya, mandiri dan percaya diri. Punya kemampuan analisa yang bagus serta menyederhanakan sesuatu yang rumit dan abstrak menjadi sesuatu yang praktis, mudah difahami & dipraktekkan. Skeptis, kritis, logis, menentukan (determinatif) dan kadang keras kepala. Punya keinginan untuk berkembang serta selalu ingin lebih maju dari orang lain. Kritik & konflik tidak menjadi masalah berarti.

24. Konseptual
Tipe ini adalah tipe orang yang sangat menghargai intelektualitas dan pengetahuan. Menikmati hal-hal teoritis dan ilmiah. Senang memecahkan masalah dengan logika dan analisa. Diam dan menahan diri. Lebih suka bekerja sendiri dan cenderung kritis, skeptis, mudah curiga dan pesimis. Tidak suka memimpin dan bisa menjadi pengikut yang tidak banyak menuntut dan cenderung memiliki minat yang jelas.

25. Pemimpin Alami
Tipe ini adalah tipe orang yang tegas, asertif, to the point, jujur terus terang, obyektif, kritis, & punya standard tinggi. Dominan, kuat kemauannya, perfeksionis dan kompetitif. Tangguh, disiplin, dan sangat menghargai komitmen. Cenderung menutupi perasaan dan menyembunyikan kelemahan. Berkarisma, komunikasi baik, mampu menggerakkan orang. Berbakat pemimpin.

2.     Beberapa Teori tentang Kepribadian

Macam-macam Teori Psikologi Kepribadian :

1. Piaget Tahapan Pengembangan Kognitif
Teori Jean Piaget tentang  perkembangan kognitif tetap salah satu yang paling sering dikutip dalam psikologi, meskipun menjadi subjek kritik yang cukup. Sementara banyak aspek teori tidak teruji oleh waktu, namun ide intinya tetap penting hari ini: anak-anak berpikir berbeda daripada orang dewasa. Pelajari lebih lanjut tentang teori Piaget terobosan dan kontribusi penting dibuat untuk pemahaman kita tentang pengembangan kepribadian.

2. Freud Tahapan Pembangunan Psikoseksual 
Selain menjadi salah satu terbaik tahu pemikir di bidang pengembangan kepribadian, Sigmund Freud tetap salah satu yang paling kontroversial. Pada tahap teori terkenal tentang perkembangan psikoseksual, Freud menyarankan bahwa kepribadian berkembang secara bertahap yang berkaitan dengan zona erotis tertentu. Kegagalan untuk berhasil menyelesaikan tahap ini, ia menyarankan, akan menyebabkan masalah kepribadian di masa dewasa.

3. Freud Struktural Model Kepribadian 
Konsep Freud tentang id, ego dan superego telah menjadi terkenal dalam budaya populer, meski kurangnya dukungan dan skeptisisme besar dari banyak peneliti. Menurut Freud, tiga unsur dari kepribadian-yang dikenal sebagai id, ego, dan superego-bekerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang kompleks.

4. Erikson Tahapan Pembangunan Psikososial 
Teori Erik Erikson tentang delapan tahap perkembangan manusia adalah salah satu teori terbaik yang dikenal dalam psikologi. Sementara teori didasarkan pada tahapan Freud tentang perkembangan psikoseksual, Erikson memilih untuk fokus pada pentingnya hubungan sosial pada pengembangan kepribadian. Teori ini juga melampaui masa kanak-kanak untuk melihat perkembangan di seluruh umur.

Seringkali kita mendengar uraian dari psikolog bahwa kepribadian seseorang terbentuk karena lingkungannya. Bila lingkungan kurang baik seorang anak yang tinggal sejak kecil hingga remaja bisa terpengaruh oleh lingkungan tersebut. Jika lingkungan alim, bisa jadi si anak akan jadi anak yang shaleh. Ini hanya sekedar gambaran bagaimana kepribadian tumbuh karena lingkungan dan proses pendewasaan seseorang. Akan tetapi, ada seorang Psikolog yang berbeda dari pandangan di atas. Dia adalah Taylor Hartman Ph.D., si penulis buku “The Color Code” yang cukup terkenal itu, setidaknya di dunia psikologi.
Menurut Taylor Hartman, kepribadian adalah bawaan sejak lahir. Setiap anak lahir dengan rangkaian sifat-sifat kepribadian yang unik. Tanyakanlah pada perempuan mana saja yang sudah melahirkan dua anak atau lebih, dan ia akan membenarkan kenyataan bahwa ketika masih berada dalam kandungan anak-anaknya menunjukkan tanda-tanda perbedaan dalam perilaku mereka.

Ada yang “menuntut” lebih banyak ruang gerak, menggigit tali plasenta, dan menolak menerima beraneka makanan yang dipilih ibu. Lainnya dia dengan tenang, senang tidak perlu membereskan tempat tidur atau memasak makanan dan berpikir,”Hei, mungkin aku bisa menumpang dua elas bulan dalam perut ibu ini!”  Setiap orang tahu bahwa tidak ada dua sidik jari yang sama. Bagaimana mungkin kita percaya bahwa kepribadian manusia kurang individual dari sidik jari?  Ada psikolog yang berteori bahwa kepribadian seorang anak belum terbentuk sepenuhnya sampai umur lima tahun. Lainnya melangkah lebih jauh, mereka berkata kepribadian berkembang perlahan-lahan melalui proses seumur hidup penemuan dan pendewasaan.

Dalam hal ini, Taylor Hartman ia tidak sependapat. “Saya kira ketika beberapa kolega saya menggunakan kata kepribadian, maksud mereka sebenarnya adalah “sejarah pribadi”.  “Saya percaya bahwa setiap kepribadian sudah lengkap saat pembuahan dan berada dalam jiwa setiap anak. Itu sudah hadir bersama dengan berbagai sifat yang diturunkan secara genetic, seperti warna rambut dan golongan darah, walaupun kepribadian itu sendiri tidak diwarisi dari orangtua seseorang. Juga tidak dibentuk oleh lingkungan. Ilmuwan belum menemukan semua factor yang menentukan komposisi kita sebelum lahir. Tetapi ini tidak perlu mencegah kita memakai apa yang sudah kita ketahui untuk memperbaiki diri kita dan hubungannya,” kata Hartman. Menurutnya, ” Kepribadian yang sudah ada di dalam kandungan, akan mendapat kesempatan tumbuh setelah lahir.

3.     Beberapa Artikel tentang Kepribadian itu berpengaruh atau tidak

Artikel 1 : Self Development And How To Be A Winner in Life dapat dilihat pada http://www.1888articles.com/self-development-and-how-to-be-a-winner-in-life-0126451.html

“Didalam artikel ini menunjukkan bahwa pengembangan diri dan kepribadian dapat menjadikan seseorang  sebagai pemenang dalam hidup. Hal ini menunjukkan bahwa kepribadian diri mempengaruhi  kehidupan seseorang.”

Artikel 2 : The Powers of a Positive Attitude dapat dilihat pada http://www.1888articles.com/the-powers-of-a-positive-attitude-0130086.html

“Didalam artikel ini menunjukkan bahwa kepribadian  yang positif dapat menjadi sebuah kekuatan bagi seseorang   dalam hidup. Hal ini menunjukkan bahwa kepribadian diri mempengaruhi  kekuatan dalam diri seseorang.”

 

Artikel 3 : Spiritual Growth and Development dapat dilihat pada http://www.1888articles.com/spiritual-growth-and-development-0138251.html

“Didalam artikel ini menunjukkan bahwa kepribadian  spiritual juga dapat mempengaruhi pertumbuhan seseorang  didalam hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa kepribadian diri mempengaruhi  pertumbuhan seseorang.”

 

Artikel 4 : Self Confidence Affirmations dapat dilihat pada http://www.1888articles.com/self-confidence-affirmations-0137964.html

“Didalam artikel ini menunjukkan bahwa kepercayaan diri merupakn kepribadian yang  dapat menjadikan seseorang  sebagai seseorang yang lebih maju dan tegas. Hal ini menunjukkan bahwa kepribadian diri mempengaruhi  kepercayaan diri  seseorang terhadap kehidupannya.”

 

Artikel 5 : The Problem Mentality Syndrome dapat dilihat pada http://www.1888articles.com/the-problem-mentality-syndrome-0148464.html

“Didalam artikel ini menunjukkan bahwa kepribadian dapat mempengaruhi mentalitas seseorang  dalam menghadapi masalah didalam hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa kepribadian diri mempengaruhi  mentalitas bertahan seseorang terhadap masalah yang terjadi dalam hidupnya.”

 

atau……

Jurnal 1 : Person perception and the evaluation of Aboriginal topical art: How to change stereotypes

Knud S. Larsen (Oregan State University) dapat dilihat pada 

http://www.sbp-journal.com/index.php/sbp/article/view/252

“berisikan tentang pengaruh kepribadian seseorang terhadap penilaian akan seni dan bagaimana cara mengubah stereotip seseorang”

Jurnal 2 : Gender differences in performance on the Stroop Test

Khader Baroun, PhD (Kuwait University, Kuwait), Bader Mohammed Alansari, PhD ( Kuwait University, Kuwait) dapat dilihat pada http://www.sbp-journal.com/index.php/sbp/article/view/1477

“berisikan tentang perbedaan gender mempengaruhi kepribadian dan tindakan serta kinerja seseorang”

Jurnal 3 : Confounding variables within “referral controls” for children with histories of sexual stimulation by adults: Implications for erroneous attributions from “childhood sexual abuse”

Michael A. Persinger, PhD (Laurentian University, Sudbury, Ontario, Canada) dapat dilihat pada http://www.sbp-journal.com/index.php/sbp/article/view/1736

“berisikan tentang penyimpangan yang dilakukan oleh orang dewasa dapat mempengaruhi pertumbuhan kepribadian seorang anak, dalam jurnal ini penyimpangan tersebut diidentifikasi sebagai pelecehan seksual yang dapat mempengaruhi kepribadiaan seorang anak dikemudian hari”

Jurnal 4 : Taiwan Chinese managers’ personality: is Confucian influence on the wane?

Amy Lai Yu Wonga*Graham H. Shawb & David K.C. Ngpages 1108-1123 dapat dilihat pada http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/09585191003783546

“berisikan tentang kepribadian para manajer China dalam konteks Taiwan,terbentuk oleh tradisi Cina, telah dimoderasi sebagai tanggapan terhadap pengalaman karir mereka, bagi mereka kepribadian dapat dimoderasimelalui reformasi ekonomi. Selain itu jurnal ini juga membahas tentang penilaian mereka tentang  seberapa jauh kepribadian mereka masih dibentuk oleh nilai-nilai Konfusianisme yang sudah sangat mempengaruhi tradisi Cina,dan seberapa jauh ia telah mengalami perubahan yang telah terjadi melalui modernisasi dan reformasi ekonomi.”

Jurnal 5 : Personality traits, affective commitment, documentation of knowledge, and knowledge sharing

Birgit RenzlbTodd MooradiancGeorg von Kroghd & Julia Muellerpages 296-310 dapat dilihat pada http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/09585192.2011.540156

“berisikan tentang sifat kepribadian yaitu Keramahan dan kesadaran, untuk berbagi pengetahuan melalui komitmen afektif dan dokumentasi pengetahuan mempengaruhi komitmen afektif individu untuk organisasi baik komitmen afektif dan kesadaran memprediksi dokumentasi pengetahuan dan komitmen afektif dan dokumentasi berbagi pengetahuan mempengaruhi pengetahuan. Hal ini membuktikan bahwa kepribadiaan seseorang berpengaruh terhadap perkembangan individu itu sendiri dan lingkungannya.”

Consumer Behaviour , ,

March 14th, 2012
Comments Off on

Tugas 2 Consumer Behaviour

Nama : Cerlienia Juwita

NIM : 0910220069

Kelas : BB

Dosen : Pak Nanang Suryadi

 

  1. Data dari BPS.GO.ID tentang Jawa Timur

No

Kabupaten/Kota

Jumlah Penduduk

Jumlah/Total

Laki-laki/Male

Perempuan/Female

1

KABUPATENPACITAN

264,112

276,769

540,881

2

KABUPATEN PONOROGO

427,592

427,689

855,281

3

KABUPATEN TRENGGALEK

335,153

339,258

674,411

4

KABUPATEN TULUNGAGUNG

482,811

507,347

990,158

5

KABUPATEN BLITAR

559,475

557,164

1,116,639

6

KABUPATEN KEDIRI

752,852

746,916

1,499,768

7

KABUPATEN MALANG

1,229,773

1,216,445

2,446,218

8

KABUPATEN LUMAJANG

491,521

514,937

1,006,458

9

KABUPATEN JEMBER

1,146,856

1,185,870

2,332,726

10

KABUPATEN BANYUWANGI

774,448

781,63

1,556,078

11

KABUPATEN BONDOWOSO

358,888

377,884

736,772

12

KABUPATEN SITUBONDO

315,912

331,707

647,619

13

KABUPATEN PROBOLINGGO

534,986

561,258

1,096,244

14

KABUPATEN PASURUAN

749,44

763,028

1,512,468

15

KABUPATEN SIDOARJO

975,681

965,816

1,941,497

16

KABUPATEN MOJOKERTO

512,334

513,109

1,025,443

17

KABUPATEN JOMBANG

598,28

604,127

1,202,407

18

KABUPATEN NGANJUK

505,687

511,343

1,017,030

19

KABUPATEN MADIUN

326,907

335,371

662,278

20

KABUPATEN MAGETAN

302,208

318,234

620,442

21

KABUPATEN NGAWI

398,567

419,198

817,765

22

KABUPATEN BOJONEGORO

598,365

611,608

1,209,973

23

KABUPATEN TUBAN

552,593

565,871

1,118,464

24

KABUPATEN LAMONGAN

572,838

606,221

1,179,059

25

KABUPATEN GRESIK

583,721

593,321

1,177,042

26

KABUPATEN BANGKALAN

433,206

473,555

906,761

27

KABUPATEN SAMPANG

427,896

449,876

877,772

28

KABUPATEN PAMEKASAN

386,951

408,967

795,918

29

KABUPATEN SUMENEP

495,896

546,416

1,042,312

30

KOTA KEDIRI

133,884

134,623

268,507

31

KOTA  BLITAR

65,441

66,527

131,968

32

KOTA MALANG

404,553

415,69

820,243

33

KOTA  PROBOLINGGO

106,915

110,147

217,062

34

KOTA  PASURUAN

92,37

93,892

186,262

35

KOTA  MOJOKERTO

59,127

61,069

120,196

36

KOTA  MADIUN

82,738

88,226

170,964

37

KOTA  SURABAYA

1,367,841

1,397,646

2,765,487

38

KOTA BATU

95,698

94,486

190,184

Jumlah/Total

18,503,516

18,973,241

37,476,757

 Sumber: http://www.bps.go.id/aboutus.php?sp=0&kota=35 

Hasil Sensus Penduduk 2010 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur pada bulan Mei 2010 yang lalu menunjukkan bahwa jumlah penduduk Jatim tahun 2010 mencapai 37.576.011 jiwa. Jumlah ini mencapai sekitar 15,78% dari total jumlah penduduk Indonesia 2010 yang mencapai 237,6 juta jiwa. Sementara laju pertumbuhan penduduk (LPP) Jatim 2010 mencapai 0,75%, naik dari tahun 2009 sebesar 0,52%. Terdapat sedikit perubahan dalam trend LPP Jawa timur selama lima tahun terakhir. Jika mulai tahun 2005 hingga 2009 laju pertumbuhan penduduk Jatim mengalami penurunan, maka menunjukkan adanya peningkatan LPP di tahun 2010.

Data BPS menunjukkan, pada tahun 2005 jumlah penduduk Jatim mencapai 36.481.800 jiwa dengan LPP sebesar 0,97%. Pada tahun 2007 naik menjadi 36.895.571 jiwa dengan LPP turun menjadi 0,56%. Di tahun 2008 dan 2009, jumlahnya mencapai 37.094.836 dan 37.286246 dengan laju pertumbuhannya sebesar 0,54% dan 0,52%. Di tahun 2010, LPP jatim naik menjadi 0,75% dengan jumlahnya yang mencapai 37.476.011 jiwa. Meski demikian, LPP kita masih dibawah 1% dan masih lebih rendah dari nasional yang mencapai 1,49%.

Sementara berdasarkan hasil Sensus Penduduk selama 1971 hingga 2010, LPP jatim mengalami penurunan, dari 1,63% di tahun 1971 menjadi 0,75% di tahun 2010. Sementara prosestase penduduk Jatim juga turun dari 21,43% menjadi 15,78 % terhadap total penduduk Indonesia.

Berdasarkan rasio jenis kelamin, pertambahan penduduk dengan jenis kelamin perempuan mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi, dari jumlah 17.572.726 jiwa di tahun 2000 menajdi 18.987.721 jiwa di tahun 2010. Sementara penduduk laki-laki dari 17.193.272 jiwa di 2000 menjadi 18.488.290 jiwa pada tahun 2010.

Usia Penduduk
         Median umur penduduk Provinsi Jawa Timur tahun 2010 adalah 31,03 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa penduduk Provinsi Jawa Timur termasuk kategori tua. Penduduk suatu wilayah dikategorikan penduduk muda bila median umur < 20, penduduk menengah jika median umur 20-30, dan penduduk tua jika median umur > 30 tahun.
Rasio ketergantungan penduduk Provinsi Jawa Timur adalah 46,33. Angka ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang usia produktif (15-64 tahun) terdapat sekitar 46 orang usia tidak produkif (0-14 dan 65+), yang menunjukkan banyaknya beban tanggungan penduduk suatu wilayah. Rasio ketergantungan di daerah perkotaan adalah 44,43 sementara di daerah perdesaan 48,10 .
Perkiraan rata-rata umur kawin pertama penduduk laki-laki sebesar 26,6 tahun dan perempuan 22,0 tahun (perhitungan Singulate Mean Age at Marriage/SMAM).
http://sp2010.bps.go.id/index.php/site?id=35&wilayah=Jawa-Timur


Jenis Kelamin Penduduk
Penduduk laki-laki Provinsi Jawa Timur sebanyak 18 503 516 jiwa dan perempuan sebanyak 18 973 241 jiwa. Seks Rasio adalah 98, berarti terdapat 98 laki-laki untuk setiap 100 perempuan.Seks Rasio menurut kabupaten/kota yang terendah adalah Kabupaten Sumenep sebesar 91 dan tertinggi adalah Kota Batu sebesar 101.Seks Rasio pada kelompok umur 0-4 sebesar 105, kelompok umur 5-9 sebesar 106, kelompok umur lima tahunan dari 10 sampai 64 berkisar antara 89 sampai dengan 107, dan dan kelompok umur 65-69 sebesar 85.
http://sp2010.bps.go.id/index.php/site?id=35&wilayah=Jawa-Timur

Pendapatan
§ Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur pada triwulan IV tahun 2011 mengalami kontraksi sebesar – 0,31 persen terhadap triwulan III tahun 2011 (q-to-q). Penurunan hanya terjadi di sektor pertanian sebesar 19,31 persen, sedangkan peningkatan terjadi pada hampir semua sektor dengan pertumbuhan tertinggi di sektor industri pengolahan sebesar 4,47 persen dan terendah di sektor pengangkutan dan komunikasi 1,81 persen.
§Bila dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2010 (y-on-y), PDRB Jawa Timur Triwulan IV-2011 tumbuh sebesar 7,11 persen. Semua sektor tumbuh positif dan yang tertinggi terjadi di sektor pengangkutan dan komunikasi 9,86 persen, diikuti sektor perdagangan, hotel & restoran sebesar 9,69 persen, sedangkan terendah di sektor pertanian sebesar 1,64 persen.
.§ Secara kumulatif (triwulan I s/d triwulan IV), pertumbuhan PDRB Jawa Timur hingga triwulan IV-2011 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010 (c-to-c) tumbuh 7,22 persen, dimana semua sektor mengalami pertumbuhan positif dan tertinggi di Sektor Pengangkutan dan Komunikasi sebesar 11,44 persen, sedangkan terendah di sektor pertanian sebesar 2,53 persen.
§ Besaran PDRB Jawa Timur atas dasar harga berlaku pada triwulan IV tahun 2011 sebesar Rp 229,76 triliun, sehingga kumulatif sampai dengan triwulan IV tahun 2011 mencapai Rp. 884,14 triliun. Dengan jumlah penduduk pertengahan tahun 2011 sebanyak 37.687.622 jiwa, PDRB per kapita Jawa Timur mencapai Rp. 23,46 juta, atau naik 12,95 persen dibanding PDRB perkapita tahun 2010 yang sebesar Rp. 20,77 juta
§  Struktur perekonomian Jawa Timur sampai dengan Triwulan IV-2011 masih didominasi Sektor Perdagangan, Hotel& Restoran dengan kontribusi sebesar 30,00 persen, diikuti sektor industri pengolahan 27,13 persen dan sektor pertanian 15,39 persen.

http://sp2010.bps.go.id/index.php/site?id=35&wilayah=Jawa-Timur

 

   2. SEGMENTASI PASAR Jawa Timur

          Segmentasi pasar yang dapat dibentuk dari data tersebut diatas adalah segmentasi berdasarkan segmentasi demografis kependudukan. Sebab data-data demografis lebih mudah di dapatkan daripada data-data lainnya. Dari data diatas dapat dibagi target pasar berdasarkan usia,  jenis kelamin, daerah kota atau desa, serta pendapatan di jawa timur berasal dari sektor industri, hotel, restoran, komunikasi, dan pertanian.

 

   3. Karakteristik masing-masing Segmen

Berdasarkan penduduk:

Jumlah penduduk dengan jumlah tertinggi adalah di Kabupaten Malang dengan angka 1,229,773 Laki-laki dan 1,216,445 Perempuan. Kabupaten Jember dengan angka 1,146,856 Laki-laki dan 1,185,870 Perempuan. Sedangkan penduduk dengan jumlah terendah adalah Kota Mojokerto dengan angka 59,127 Laki-laki dan 61,069 Perempuan.

Berdasarkan Wilayah

Dalam data BPS Jatim 2010, terdapat 29 Kabupaten dan 9 Kota yang terdata didalamnya.
Berdasarkan pendapatan:
• Industri : Berada di daerah Probolinggo,Pasuruan, Lawang, Rungkut dan daerah lain yang jauh dari pusat kota dan pemukiman penduduk.
• Hotel : Berada di daerah batu,bromo, kota malang dan daerah lain yang banyak tempat wisata dan pusat kota.
• Restoran : Berada di tempat-tempat ramai seperti daerah tempat kerja dan kantor, dan tempat-tempat rekreasi.
• Komunikasi : Berada pada pusat kota agar masyarakat dapat dengan mudah mendapat pelayanan.
• Pertanian : Berada di daerah pedesaan, sebab pertanian membutuhkan lahan yang luas untuk tumbuh kembang produknya.

    4. Artikel/ jurnal yang membahas tentang Segmentasi (ringkasan)

Manajemen PemasaranDefinisi Segmentasi Pasar
Swastha & Handoko (1997) mengartikan segmentasi pasar sebagai kegiatan membagi–bagi pasar/market yang bersifat heterogen kedalam satuan–satuan pasar yang bersifat homogen.
Sedangkan definisi yang diberikan oleh Pride & Ferrel (1995)mengatakan bahwa segmentasi pasar adalah suatu proses membagi pasar ke dalam segmen-segmen pelanggan potensial dengan kesamaan karakteristik yang menunjukkan adanya kesamaan perilaku pembeli.
Di lain pihak Pride & Ferrel (1995) mendefinisikan segmentasi pasarsebagai suatu proses pembagian pasar keseluruhan menjadi kelompok–kelompok pasar yang terdiri dari orang–orang yang secara relatif memiliki kebutuhan produk yang serupa.
Ada lagi pendapat Swastha & Handoko (1987) yang merumuskan segmentasi pasar adalah suatu tindakan membagi pasar menjadi segmen–segmen pasar tertentu yang dijadikan sasaran penjualan yang akan dicapai dengan marketing mix.
Menurut Kotler, Bowen dan Makens (2002, p.254) pasar terdiri dari pembeli dan pembeli berbeda-beda dalam berbagai hal yang bisa membeli dalam keinginan, sumber daya, lokasi, sikap membeli, dan kebiasaan membeli. Karena masing-masing memiliki kebutuhan dan keinginan yang unik, masing-masing pembeli merupakan pasar potensial tersendiri. Oleh sebab itu penjual idealnya mendisain program pemasarannya tersendiri bagi masing-masing pembeli. Segmentasi yang lengkap membutuhkan biaya yang tinggi, dan kebanyakan pelanggan tidak dapat membeli produk yang benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk itu, perusahaan mencari kelas-kelas pembeli yang lebih besar dengan kebutuhan produk atau tanggapan membeli yang berbeda-beda. Segmen pasar terdiri dari kelompok pelanggan yang memiliki seperangkat keinginan yang sama (Kotler, 2005, p.307.

Manfaat dan Kelemahan Segmentasi

Banyaknya perusahaan yang melakukan segmentasi pasar atas dasar pengelompokkan variabel tertentu. Dengan menggolongkan atau mensegmentasikan pasar seperti itu, dapat dikatakan bahwa secara umum perusahaan mempunyai motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat penjualan dan yang lebih penting lagi agar operasi perusahaan dalam jangka panjang dapat berkelanjutan dan kompetitif (Porter, 1991).
Manfaat yang lain dengan dilakukannya segmentasi pasar, antara lain:
1. Perusahaan akan dapat mendeteksi secara dini dan tepat mengenai kecenderungan-kecenderungan dalam pasar yang senantiasa berubah.
2. Dapat mendesign produk yang benar-benar sesuai dengan permintaan pasar.
3. Dapat menentukan kampanye dan periklanan yang paling efektif.
4. Dapat mengarahkan dana promosi yang tersedia melalui media yang tepat bagi segmen yang diperkirakan akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar.
5. Dapat digunakan untuk mengukur usaha promosi sesuai dengan masa atau periode-periode dimana reaksi pasar cukup besar.
Gitosudarmo (2000) menambahkan manfaat segmentasi pasar ini, sebagai berikut:
1. Dapat membedakan antara segmen yang satu dengan segmen lainnya.
2. Dapat digunakan untuk mengetahui sifat masing-masing segmen.
3. Dapat digunakan untuk mencari segmen mana yang potensinya paling besar.
4. Dapat digunakan untuk memilih segmen mana yang akan dijadikan pasar sasaran.
Sekalipun tindakan segmentasi memiliki sederetan keuntungan dan manfaat, namun juga mengandung sejumlah resiko yang sekaligus merupakan kelemahan-kelemahan dari tindakan segmentasi itu sendiri, antara lain:
1. Biaya produksi akan lebih tinggi, karena jangka waktu proses produksi lebih pendek.
2. Biaya penelitian/ riset pasar akan bertambah searah dengan banyaknya ragam dan macam segmen pasar yang ditetapkan.
3. Biaya promosi akan menjadi lebih tinggi, ketika sejumlah media tidak menyediakan diskon.
4. Kemungkinan akan menghadapi pesaing yang membidik segmen serupa.
Bahkan mungkin akan terjadi persaingan yang tidak sehat, misalnya kanibalisme sesama produsen untuk produk dan segmen yang sama.

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Melakukan Segmentasi

Pengusaha yang melakukan segmentasi pasar akan berusaha mengelompokkan konsumen kedalam beberapa segmen yang secara relatif memiliki sifat-sifat homogen dan kemudian memperlakukan masing-masing segmen dengan cara atau pelayanan yang berbeda.
Seberapa jauh pengelompokkan itu harus dilakukan, nampaknya banyak faktor yang terlebih dahulu perlu dicermati. Faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Variabel-Variabel Segmentasi
Sebagaimana diketahui bahwa konsumen memiliki berbagai dimensi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan segmentasi pasar. Penggunaan dasar segmentasi yang tepat dan berdaya guna akan lebih dapat menjamin keberhasilan suatu rencana strategis pemasaran. Salah satu dimensi yang dipandang memiliki peranan utama dalam menentukan segmentasi pasar adalah variabel-variabel yang terkandung dalam segmentasi itu sendiri, dan oleh sebab ituperlu dipelajari.
Dalam hubungan ini Kotler (1995) mengklasifikasikan jenis-jenis variabel segmentasi sebagai berikut:
1.Segmentasi Geografi
Segmentasi ini membagi pasar menjadi unit-unit geografi yang berbeda, seperti negara, propinsi, kabupaten, kota, wilayah, daerah atau kawasan. Jadi dengan segmentasi ini, pemasar memperoleh kepastian kemana atau dimana produk ini harus dipasarkan.
2. Segmentasi Demografi
Segmentasi ini memberikan gambaran bagi pemasar kepada siapa produk ini harus ditawarkan. Jawaban atas pertanyaan kepada siapa dapat berkonotasi pada umur, jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, siklus kehidupan keluarga seperti anak-anak, remaja, dewasa, kawin/ belum kawin, keluarga muda dengan satu anak, keluarga dengan dua anak, keluarga yang anak-anaknya sudah bekerja dan seterusnya. Dapat pula berkonotasi pada tingkat penghasilan, pendidikan, jenis pekerjaan, pengalaman, agama dan keturunan
misalnya: Jawa, Madura, Bali, Manado, Cina dan sebagainya.
3. Segmentasi Psikografi
Pada segmentasi ini pembeli dibagi menjadi kelompok-kelompok berdasarkan:
a. Status sosial, misalnya: pemimpin masyarakat, pendidik, golongan elite, golongan menengah, golongan rendah.
b. Gaya hidup misalnya: modern, tradisional, kuno, boros, hemat, mewah dan sebagainya.
c. Kepribadian, misalnya: penggemar, pecandu atau pemerhati suatu produk.
4. Segmentasi Tingkah Laku
Segmentasi tingkah laku mengelompokkan pembeli berdasarkan pada pengetahuan, sikap, penggunaan atau reaksi mereka terhadap suatu produk. Banyak pemasar yakin bahwa variabel tingkah laku merupakan awal paling baik untuk membentuk segmen pasar.
Segmentasi perilaku dapat diukur menggunakan indikator sebagai berikut (Armstrong, 1997):
1. Manfaat yang dicari
Salah satu bentuk segmentasi yang ampuh adalah mengelompokkan pembeli menurut manfaat berbeda yang mereka cari dari produk. Segmentasi manfaat menuntut ditemukannya manfaat utama yang dicari orang dalam kelas produk, jenis orang yang mencari setiap manfaat dan merek utama yang mempunyai setiap manfaat. Perusahaan dapat menggunakan segmentasi manfaat untuk memperjelas segmen manfaat yang mereka inginkan, karakteristiknya serta merek utama yang bersaing. Mereka juga dapat mencari manfaat baru dan meluncurkan merek yang memberikan manfaat tersebut.
2. Status Pengguna
Pasar dapat disegmentasikan menjadi kelompok bukan pengguna, mantan pengguna, pengguna potensial, pengguna pertama kali dan pengguna regular dari suatu produk. Pengguna potensial dan pengguna regular mungkin memerlukan imbauan pemasaran yang berbeda.
3. Tingkat Pemakaian
Pasar dapat juga disegmentasikan menjadi kelompok pengguna ringan, menengah dan berat. Jumlah pengguna berat sering kali hanya persentase kecil dari seluruh pasar, tetapi menghasilkan persentase yang tinggi dari total pembelian. Pengguna produk dibagi menjadi dua bagian sama banyak, sebagian pengguna ringan dan sebagian lagi pengguna berat menurut tingkat pembelian dari produk spesifik.
4. Status Loyalitas
Sebuah pasar dapat juga disegmentasikan berdasarkan loyalitas konsumen. Konsumen dapat loyal terhadap merek, toko dan perusahaan. Pembeli dapat dibagi menjadi beberapa kelompok menurut tingkat loyalitas mereka. Beberapa konsumen benar-benar loyal, mereka selalu membeli satu macam merek. Kelompok lain agak loyal,mereka loyal pada dua merek atau lebih dari satu produk atau menyukai satu merek tetapi kadang-kadang membeli merek lain. Pembeli lain tidak menunjukkan loyalitas pada merek apapun. Mereka mungkin ingin sesuatu yang baru setiap kali atau mereka membeli apapun yang diobral.

  5. Iklan dan Segmentasinya

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=lFVLbpvP5sE&feature=related[/youtube]

Menurut pendapat saya visualisasi iklan diatas sangatlah bagus dan menarik. Iklan ini menggambarkan seorang wanita yang sedang pindahan rumah. Wanita itu, kesulitan untuk mengangkat barang-barang pindahannya kerumah barunya karena saking banyaknya, dan setiap orang yang lewat didepannya tidak ada satu pun yang  membantunya, lalu tiba-tiba dia punya ide agar dapat membuat orang-orang tersebut membantunya yaitu dengan cara menyikat giginya dengan produk baru  pepsodent yaitu pepsodent white now yang dapat membuat gigi seketika menjadi putih dan bersih, lalu tidak segan lagi dia untuk tersenyum kepada orang-orang yang lewat disekitarnya agar mau membantunya mengangkat barang-barangnya, dan terbukti karena melihat senyum giginya yang putih semua orang tersebut membantunya.

Iklan tersebut ditujukan kepada para konsumen yang memiliki warna gigi  kurang cemerlang dan memberitahu alternative yang tepat bagaimana agar warna gigi konsumen dapat putih seketika saat akan menemui orang.

Menurut saya, dari segi positioning iklan pepsodent  ini, sudah tepat. Karena bagi saya iklan ini sangat menarik, unik dan lucu. Sehingga mudah di pahami dan di ingat oleh para calon penggunanya. Pepsodent berusaha memberikan produk perawatan gigi yang terbaik dan mudah terjangkau oleh calon pembeli. Tidak hanya itu, pada iklan-iklan pepsodent yang lainnya juga memberikan pesan moral yang ada dalam iklan-iklan promosinya dan selalu ditujukan pada segmen umur dan kebutuhan konsumen yang berbeda-beda.

 

Uncategorized , ,

March 6th, 2012
Comments Off on

 

Tugas

 

Mata Kuliah : Perilaku Konsumen

 

Nama                 : Cerlienia Juwita

Dosen              :  http://nanangsuryadi.lecture.ub.ac.id/

 

Kelas               : BB

 

Nim                     : 0910220069

 

 

 

 

 

  1. Evolusi Konsep Marketing :

 

  • Marketing : Konsep pemasaran berorientasikan terhadap pemenuhan keperluan dan kemahuan pengguna dengan efektif.
  • Selling : Konsep Penjualan berorientasikan terhadap penjualan produk melalui kaedah pemasaran yang lebih agresif.
  • Product : Konsep Produk adalah berasaskan kepada prinsip bahwa pengguna akan menghargai dan lebih mengutamakan produk yang menawarkan kualitas, prestasi dan ciri-ciri inovatif yang terbaik.
  • Production : Konsep Produksi adalah berasaskan kepercayaan bahwa pengguna lebih berminat membeli produk yang berharga murah serta mudah diperolehi.

 

  1. Marketing Mix

 

Konsep marketing mix merupakan salah satu konsep dalam pemasaran modern pada saat sekarang ini. Dimana konsep tersebut adalah salah satu kegiatan pemasaran yang sangat menentukan keberhasilan perusahaan dalam mengejar maksimum profit.

 

Kotler (1985 : 45-48) mengemukakan bahwa marketing mix dapat dibagi menjadi 4 P sebagai berikut :
1.  Product (Produk)
2 . Price (Harga)
3 . Place (distribusi/tempat)
4.  Promotion (promosi)
Keempat produk di atas merupakan penentu dalam  menganalisa pasar secara keseluruhan, selanjutnya penulis akan menguraikan keempat komponen di atas sebagai berikut :
1.  Product (produk)
Produk adalah sesuatu yang dapat ditawarkan pada suatu pasar guna mendapatkan perhatian untuk dimiliki, digunakan, dikonsumsi yang dapat memuaskan kebutuhan.
2.  Price (harga)
Harga merupakan alat untuk mengukur nilai suatu barang, harga bagi produsen merupakan penentu bagi permintaan pasar dan mempengaruhi posisi pesaing perusahaan dalam merebut konsumen.
3. Place (distribusi/tempat)
Produk yang telah dihasilkan oleh suatu perusahaan akan lebih berguna bagi kensumen/pembeli apabila produk tersebut tersedia pada tempat dan saat dimana saja dibutuhkan.

 

Dalam hal ini produsen mempunyai 3 alternatif yaitu:
a.Distribusi Insentif
Distribusi ini dapat digunakan oleh para produsen yang menjual komponen perusahaan yang berusaha menggunakan penyalur terutama pengecer sebanyak-banyaknya untuk mendekati para konsumen.

 

b. Distribusi Selektif
Perusahaan yang menggunakan distribusi ini berusaha memilih sejumlah pedagang besar atau pengecer, agen yang terbatas dalam suatu daerah.

 

c. Distribusi Ekslusif
Saluran ini dilakukan oleh perusahaan dan hanya menggunakan suatu pedagang besar atau pengecer dalam daerah tertentu.

 

4 Promotion (promosi)
Promosi adalah suatu usaha perusahaan atau individu memberikan informasi dan mempengaruhi serta menarik konsumen sicara lansung terhadap produk yang dihasilkan.
Promosi adalah cara yang efektif dalam merebut konsumen dipasaran.

 

  1. STP
    1. Segmentasi Pasar

 

Menurut Kotler (2006 : 281) adalah:

 

“Segmentasi pasar merupakan pembagian sebuah pasar kedalam kelompok-kelompok pembeli yang khas berdasarkan kebutuhan, karakteristik, atau prilaku yang memiliki kesamaan kebutuhan dan atau kesamaan karakter yang memiliki respon yang sama dalam membelanjakan uangnya”

 

Segmentation: Adalah upaya memetakan atau pasar dengan memilah-milahkan konsumen sesuai persamaan di antara mereka. Pemilahan ini bisa berdasarkan usia, tempat tinggal, penghasilan, gaya hidup, atau bagaimana cara mereka mengkonsumsi produk.

 

 

 

  1. Targeting

 

Merupakan ukuran dan pertumbuhan segmen, daya tarik segmen, serta sasaran dan sumber daya yang dimiliki perusahaan.

 

Targeting: Setelah memetakan pasar, tahap targeting seperti namanya adalah membidik kelompok konsumen mana yang akan kita sasar.

 

 

 

  1. Positioning

 

Positioning adalah apa yang kita inginkan ada di benak konsumen ketika mereka mendengar brand kita. Positioning ini berkaitan dengan persepsi. Persepsi ini harus bisa unik sehingga pelanggan bisa langsung membedakan antara brand kita dan brand pesaing kita.

 

Positioning:  Apabila target pasar sudah jelas, positioning adalah bagaimana kita menjelaskan posisi produk kepada konsumen. Apa beda produk kita dibandingkan kompetitor dan apa saja keunggulannya.

 

 

 

 

 

  1. Konsep Kepuasan, kesetiaan konsumen

 

Kepuasan dapat diartikan sebagai antara layanan atau hasil yang diterima itu paling tidak harus sama dengan harapan konsumen atau bahkan melebihinya.  Dalam era kompetisi bisnis yang ketat seperti sekarang, kepuasan pelanggan merupakan hal yang utama, pelanggan diibaratkan seorang raja yang harus dilayani namun hal ini bukan berarti menyerahkan segala-galanya kepada pelanggan.  Usaha memuaskan kebutuhan pelanggan harus dilakukan secara menguntungkan atau bersifat win-win situation yaitu keadaan dimana kedua belah pihak merasa menang dan tidak ada yang dirugikan.

 

Nilai pelanggan, kepuasan pelanggan dan retensi pelanggan.

 

  1. Nilai Pelanggan (customer delivered value) adalah selisih antara pelanggan total dengan biaya pelanggan total.
  2. Kepuasan pelanggan, perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi/kesannya terhadap kinerja (atau hasil) suatu produk dan harapannya
  3. Retensi pelanggan, tujuan menyeluruh dari nilai pelanggan tersedia secara berkelanjutan dan lebih efektif dari pada pesaing akan memberikan kepuasan pelanggan yang tinggi.

 

Menurut Kotler (2003 : 140) Hubungan antara kepuasan dan loyalitas adalah saat dimana konsumen mencapai tingkat kepuasan tertinggi yang menimbulkan ikatan emosi yang kuatdan komitmen jangka panjang dengan merek perusahaan.

 

Dalam mengukur kesetiaan, diperlukan beberapa attribut yaitu :

 

  1. Mengatakan hal yang positif tentang perusahaan kepada orang lain
  2. Merekomendasikan perusahaan kepada orang lain yang meminta saran
  3. Mempertimbangkan bahwa perusahaan merupakan pilihan pertama dalam melakukan pembelian jasa
  4. Melakukan lebih banyak bisnis atau pembelian dengan perusahaan beberapa tahun mendatang.

 

 

 

  1. Etika dan Tanggung Jawab Sosial

 

Etika (ethics) adalah kode prinsip dan nilai moral yang membangun perilaku seseorang atau sebuah kelompok yang berhubungan dengan benar dan salah.

 

Pengertian Tanggung Jawab Sosial (CSR)

 

àSuatu konsep bahwa organisasi,khususnya (namun bukan hanya) perusahaan adalah memiliki tanggung jawabterhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas, dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan.

 

 

 

  1. Pengaruh teknologi informasi terhadap konsumen

 

  • Konsumer menjadi lebih kuat
  • Konsumer mempunyai akses informasi yang lebih dari pada sebelumnya.
  • Pemasar harus menawarkan produk/jasa lebih baik dari sebelumnya.
  • Pertukaran antara konsumen dan pemasar meningkat secara interaktif dan instan.
  • Pemasar dapat memperoleh informasi tentang konsumer dengan lebih cepat dan mudah.
  • Dapat menjangkau wilayah yang sangat luas

 

  1. Perbedaan penelitian kuantitatif dan kualiatif

 

  • Penelitian Kualitatif

 

Merupakan penelitian yang menggunakan data yang berbentuk kalimat, kata atau gambar atau data yang bukan dalam bentuk skala rasio, tetapi dalam bentuk skala yang lebih rendah yaitu : skala ordinal dan atau skala nominal.

 

  • Penelitian Kuantitatif

 

Adalah penelitian yang lebih berdasarkan pada data yang dapat dihitung untuk menghasilkan suatu penaksiran. Isi rencana analisis data selalu didasarkan pada rencana penelitian yang telah dirumuskan dan data yang sudah siap diolah.

 

  1. Skala Pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif.

 

Macam-macam Skala Pengukuran :

 

  1. Skala Nominal : Skala nominal hanya bisa membedakan sesuatu yang bersifat kualitatif atau kategoris, misalnya jenis kelamin, agama, dan warna kulit.
  2. Skala Ordinal : Skala ordinal selain membedakan sesuatu juga menunjukkan tingkatan, misalnya pendidikan dan tingkat kepuasan pengguna.
  3. Skala Interval : Skala interval berupa angka kuantitatif namun tidak memiliki nilai nol mutlak sehingga titik nol dapat digeser sesuka orang yang mengukur, misalnya tahun dan suhu dalam Celcius.
  4. Skala Rasio : Skala rasio berupa angka kuantitatif yang memiliki nilai nol mutlak dan tidak dapat digeser sesukanya, misalnya adalah suhu dalam Kelvin, panjang, dan massa.

 

 

 

 

Uncategorized