Archive

Archive for May, 2012

Tugas 5 : Consumer Behaviour

May 29th, 2012
Comments Off on Tugas 5 : Consumer Behaviour

Tugas 5

 

Nama : Cerlienia Juwita

Nim : 0910220069

Kelas : BB

Mata  Kuliah : Perilaku Konsumen

Dosen : Pak Nanang Suryadi

ARTIKEL :

I. Pengaruh kelompok acuan terhadap minat beli konsumen

Didalam suatu proses pemasaran produk, pasti ada pengaruh dari berbagai macam faktor, misalnya saja kelompok acuan. Kelompok acuan sendiri memiliki arti seorang individu atau sekelompok orang yang secara nyata mempengaruhi perilaku seseorang. Dari sudut pandang pemasar, kelompok acuan adalah kelompok yang di anggap sebagai kerangka acuan bagi para individu dalam pengambilan keputusan pembelian. Kelompok acuan digunakan oleh seseorang sebagai dasar untuk perbandingan atau sebuah referensi dalam membentuk respon afektif, kognitif, dan perilaku. Sehingga dapat memberikan standar (norma atau nilai) yang dapat menjadi perspektif penentu mengenai bagaimana seseorang berfikir atau berperilaku. Dalam perspektif pemasaran, kelompok acuan adalah kelompok yang berfungsi sebegai referensi bagi seseorang dalam mengambil keputusan pembelian dan konsumsi .

Menurut  Kotler, Philip and Armstrong, Gary, 2004 proses keputusan pembelian konsumen melalui lima tahap  pada setiap pembelian, yaitu :

1.  Pengenalan kebutuhan

Proses membeli dimulai dengan pengenalan kebutuhan, dimana pembeli mengenali adanya masalah atau kebutuhan. Pembeli merasakan perbedaan antara keadaan nyata dan keadaan yang diinginkan.

2.  Pencarian Informasi

Konsumen dapat mencari informasi dari beberapa sumber. Sumber ini termasuk:

a.  Sumber pribadi: keluarga, teman, tetangga, dan kenalan.

b.  Sumber komersial: iklan, wiraniaga, agen, kemasan, dan pajangan.

c.  Sumber publik: media massa dan organisasi penilai konsumen.

d.  Sumber pengalaman: penanganan, pemeriksaan, dan menggunakan produk.

3.  Evaluasi alternatif

Suatu tahap ketika konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi merek alternatif dalam perangkat pilihan.

4.  Keputusan membeli

Suatu tahap dimana konsumen benar-benar membeli produk.

5.  Perilaku pasca pembelian

Tugas pemasar tidak berakhir ketika produk telah dibeli oleh konsumen. Setelah membeli produk, konsumen akan mengalami tingkat kepuasan atau ketidakpuasan. Tugas pemasar tidak berakhir saat produk dibeli, melainkan berlanjut hingga periode paca pembelian. Pemasar harus memantau kepuasan pasca pembelian, tindakan pasca pembelian, dan pemakaian atau pembuangan pasca pembelian.

Kelompok acuan memberikan standar (norma atau nilai) yang dapat menjadi perspektif penentu mengenai bagaimana seseorang berfikir atau berperilaku. Adapun definisi dari kelompok rujukan atau referensi adalah setiap orang atau kelompok yang dianggap sebagai dasar pembandingan bagi seseorang dalam membentuk nilai dan sikap umum / khusus atau pedoman khusus bagi perilaku.

Tiga macam pengaruh kelompok acuan:

1. Pengaruh Normatif

Ketika seorang individu memenuhi harapan kelompok untuk mendapatkan hadiah langsung atau menghindari hukuman

2. Pengaruh Ekspresi Nilai

Ketika seorang individu kelompok menggunakan norma dan nilai-nilai dianggap sebagai panduan bagi sikap mereka sendiri atau nilai-nilai

3. Pengaruh Informasi

Perilaku dan pendapat kelompok referensi digunakan sebagai berguna potongan informasi yang berpotensi

Terdapat lima jenis kelompok acuan dan karakteristiknya (Peter, J. Paul and Olson, Jerry C., 2005: Hawkins, Del I., 2004:)

Jenis Kelompok Acuan Perbedaan dan Karakteristik
Formal / Informal Kelompok acuan formal memiliki struktur yang dirinci dengan jelas (contoh: kelompok kerja di kantor / tim per divisi); sedangkan kelompok acuan informal tidak dirinci secara jelas (contoh: kelompok persahabatan / teman kuliah)
Primary / secondary Kelompok acuan primary melibatkan seringnya interaksi langsung dan tatap muka (contoh : keluarga atau sanak saudara); sedangkan kelompok acuan secondary, interaksi dan tatap mukanya tidak terlalu sering (contoh : tetangga di apartemen)
Membership Seseorang menjadi anggota formal dari suatu kelompok acuan (contoh : kelompok pecinta alam)
Aspirational Seorang bercita-cita untuk bergabung atau menandingi kelompok acuan aspirational
Dissociative Seseorang berupaya menghindari kelompok acuandissosiative

Para pemasar tertarik pada kemampuan kelompok rujukan untuk mengubah sikap dan perilaku konsumen dengan mendorong timbulnya kesesuaian. Untuk dapat mempunyai pengaruh tersebut, kelompok rujukan harus melakukan hal-hal berikut ini :

  • Memberitahukan  atau mengusahakan agar orang menyadari adanya suatu produk / merk khusus
  • Memberikan  kesempatan pada individu untuk membandingkan pemikirannya sendiri dengan sikap dan perilaku kelompok
  • Mempengaruhi  individu untuk mengambil sikap dan perilaku yang sesuai dengan norma-norma kelompok
  • Membenarkan  keputusan untuk memakai produk-produk yang sama dengan kelompok

Daya tarik kelompok rujukan dalam pemasaran melalui :

  • Daya  tarik selebriti
  • Daya  tarik tenaga ahli
  • Daya  tarik orang biasa
  • Daya  tarik juru bicara eksekutif dan karyawan
  • Daya  tarik kelompok rujukan lain

KELUARGA

Keluarga merupakan dua orang atau lebih yang dikaitkan oleh hubungan darah, perkawinan, atau pengadopsian yang tinggal bersama-sama atau terpisah. Keluarga adalah lingkungan mikro yaitu lingkungan yang paling dekat dengan konsumen. Keluarga menjadi daya tarik bagi pemasar karena keluarga memiliki pengaruh yang besar kepada konsumen. Anggota keluarga akan saling mempengaruhi dalam pengambilan keputusan pembelian produk dan jasa.

Peranan anggota keluarga dalam pengambilan keputusan pembelian antara lain : (Sumarwan, 2002)

  • Sebagai initiator, anggota keluarga yang memiliki ide atau gagasan untuk membeli atau mengkonsumsi suatu produk
  • Sebagai  influencer, para anggota keluarga yang memberikan pengaruh pada anggota keluarga lain untuk mengambil keputusan dalam pembelian atau tidak membeli suatu produk
  • Sebagai  gate keeper, para anggota keluarga yang mengontrol arus informasi
  • Sebagai  decision , anggota keluaga yang menentukan membeli atau tidak suatu produk
  • Sebagai  buyer, anggota keluarga yang dengan nyata melakukan pembelian
  • Sebagai  preparer, anggota yang mengubah produk mentah menjadi bentuk yang bisa dikonsumsi
  • Sebagai  user, anggota keluarga yang menggunakan produk tersebut
  • Sebagai  maintancer, anggota keluarga yang merawat atau memperbaiki produk
  • sebagai organizer, anggota keluarga yang mengatur apakah produk tersebut bisa dimulai dipakai atau dibuang atau dihentikan

Jumlah anggota keluarga akan menentukan jumlah dan pola konsumsi suatu barang dan jasa. Anggota keluarga akan saling mempengaruhi dalam keputusan pembelian dan konsumsi suatu produk. Namun kadang juga akan muncul konflik hingga batas-batas tertentu.

Konflik keputusan (desicion conflict) muncul ketika anggota keluarga tidak menyepakati beberapa aspek keputusan pembelian. Perbedaan dalam tujuan akhir sering menciptakan konflik besar karena banyaknya alternatif pilihan yang sangat berbeda (Peter dan Olson, 2000)

Untuk dapat mempunyai pengaruh tersebut, kelompok rujukan harus melakukan hal – hal berikut ini :

  • Memberitahukan  atau  mengusahakan agar orang menyadari adanya suatu produk / merk khusus
  • Memberikan  kesempatan pada individu untuk membandingkan pemikirannya sendiri dengan sikap dan perilaku kelompok
  • Mempengaruhi  individu untuk mengambil sikap dan perilaku yang sesuai dengan norma-norma kelompok
  • Membenarkan  keputusan untuk memakai produk-produk yang sama dengan kelompok

Untuk mendorong timbulnya conformity maka kelompok referensi harus melakukan hal-hal sebagai berikut :

  1. Memberitahukan atau mengusahakan agar orang menyadari adanya sesuatu produk menarik atau merek yang khusus.
  2. Memberikan kesempatan kepada individu untuk membandingkan pemikirannya sendiri dengan sikap dan perilaku kelompok
  3. Mempengaruhi individu untuk mengambil sikap dan perilaku yang sesuai dengan norma-norma kelompok.
  4. Membenarkan keputusan untuk memakai produk-produk yang sama dengan kelompok.

 

Sumber: http://www.google.co.id/search?hl=id&source=hp&q=pengaruh+pribadi+dan+kelompok+acuan+sebagai+strategi+pemasaran&aq=f&aqi=&aql=&oq=&gs_rfai

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://uob-community.ballarat.edu.au/~jharman/JM602/JM602_Lecture15_2007.ppt

Book : Psychology & Marketing (1986-1998); Mar 1997; 14, 2; ABI/INFORM Research pg. 121

Jurnal Proquest : A study on the influence of purchase intentions on repurchase decisions: the moderating effects of reference groups and perceived risks.

Long-Yi Lin and Yeun-Wen Chen

Rorlen. (2007). Peran kelompok acuan dan keluarga terhadap proses keputusan untuk membeli. Jurnal vol : 3 No. 2

II. Memetakan Kelas Sosial di Indonesia Untuk Target Pasar

Di Indonesia terdapat banyak variasi pemetaan kelas social antara orang yang satu dengan orang yang lain dalam masyarakat Indonesia. variasi pembagian kelas sosial di dalam masyarakat tersebut berdasarkan tolak ukur atau variabel yang digunakan dalam melakukan stratifikasi kelas sosial. Masing-masing kelas sosial yang telah terbentuk memiliki karakteristik yang dicerminkan oleh para anggota yang menduduki suatu kelas sosial tertentu. Kelas sosial merupakan tempat untuk berbagi nilai, gaya hidup, minat, dan perilaku yang kemudian membedakan perilaku konsumsi seseorang dari berbagai kelas sosial tersebut.Tetapi secara umum pemetaan kelas social di Indonesia terbagi menjadi tiga yaitu :

Kelas Atas :

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Majalah MARKETING tahun 2005 di beberapa kota besar, dapat diketahui pembagian secara psikografis kelompok konsumen kelas atas. Ada empat kelompok konsumen kelas, yaitu : achiever, show off, trendy, dan traditional.

  1. Kelompok achiever adalah kelompok yang ambisius, sangat memperlihatkan masa depan, selalu optimis, dan cenderung mandiri. Mereka kebanyakan pria yang belum menikah. Dalam memilih produk premium, kelompok ini cenderung lebih rasional dan melihat kegunaannya dalam jangka panjang. Untuk kelompok mengengah-atas, segmen ini cenderung paling sedikit, hanya selitar 19-20%.
  2. Kelompok show off lebih emosional dibanding kelompok pertama, dan memiliki pengeluaran belanja yang paling besar dibandingkan segmen lain. Kelompok ini membeli produk premium karena gengsi atau kemewahan, dan senang dengan produk-produk luar negeri. orang-orang dalam kelompok ini mudah dipengaruhi oleh iklan atau rumor. Pendidikan relatif lebih rendah dibandingkan segmen lainnya. Kelompok ini diperkirakan ada sekitar 23% dari populasi.
  3. Kelompok ketiga adalah trendy yang memilih produk premium karena ada hal baru yang bisa diperoleh dari produk tersebut. Kelompok ini mirip dengan show off, namun yang ditonjolkan lebih kepada barang-barang yang sedang ngetren. Termasuk dalam kelompok ini adalah orang-orang yang technology gadget. Kelompok ini mewakili jumlah terbesar dengan persentase sekitar 31%. Pengeluaran rata-rata lebih tinggi dari segmen show off, namun lebih tinggi dari segmen achiever.
  4. Kelompok terakhir adalah segmen traditional atau konvensional. Segmen ini umumnya didominasi orang yang sudah menikah, dengan usia relatif lebih tinggi dibandingkan segmen lain. Kelompok ini tidak mau terlihat sebagai orang kaya sekalipun sudah sangat mapan, dan mewakili sekitar 26% dari total kelompok kelas atas.

Kelas Menengah :

Menurut Yuswohady (dipublikasi di majalah SWA edisi 08/XXVIII/12-25 April 2012), ada 8 wajah karakter segmen kelas menengah Indonesia, yang resume singkatnya bisa disimak dibawah ini :

  1. The Aspirator. Wajah kelas menengah ini mewakili karakter idealis, memiliki tujuan, serta menjadi influencer terhadap komunitasnya. Kalangan ini umumnya hadir dari kalangan profesional mapan yang sangat melek terhadap informasi, serta peduli terhadap kondisi sosial, budaya, ekonomi dan politik. Merek-merek seperti The Bodyshop, Periplus, TV One, Polygon merupakan contoh merek yang diadopsi oleh tipe ini.
  2. The Performer. Kalangan ini diwakili kalangan profesional serta entrepreneur yang terus berusaha mengekar karier (self-achievement). Relatif tidak mudah puas, bermotivasi tinggi dan cenderung risk-taker. Seringkali melihat peluang sebagai tantangan yang harus dilakoni. Merek-merek seperti C-1000, Smart FM, Metro TV, Telkom Speedy merupakan contoh merek yang diadopsi oleh layer kelas menengah ini.
  3. The Expert. Tipe ini diwakili orang yang selalu berupaya menjadi ahli di bidangnya. Memiliki sifat kekeluargaan yang tinggi. Serta menjunjung tinggi norma-norma sosial dan kekeluargaan (traditional values). Merek-merek yang mewakili layer ini seperti Produk unit Link, Garuda Indonesia, Toyota Camri, Tabloid Otomotif.
  4. The Climber. Karakter tipe ini sangat economic-oriented. Risk taker dalam karier, serta menilai penghargaan dalam karier itu merupakan hal penting. Umumnya segmen ini terdiri dari karyawan level menengah/supervisor. Layer ini biasanya menggunakan merek-merek seperti Lion Air, Toyota Avanza, majalah Femina, Adira Finance, Majalah Info Franchise, dll.
  5. Trend Setter. Konsumen menengah ini berkarakter sedikit jarang bersosialisasi, jarang meng-up-date informasi, tetapi kemampuan finansialnya lumayan tinggi. Keinginan untuk dikagumi teman sebaya (peers) cukup tinggi. Tipe kalangan ini banyak dihuni tipe pekerja yang baru pertama kali “merasakan” bekerja (first Jobber) atau mahasiswa/pelajar yang berasal dari golongan menengah ke atas. Starbucks, iPad/iPhone, Mizone, Majalah Kosmopolitan, Honda Jazz merupakan contoh merek yang diadopsi kelompok ini.
  6. The Follower. Tipe ini perilakunya sangat digerakkan oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Ekspresi diri diejawantahkan dalam barang-barang bersifat life-style. Kalangan ini banyak diwakili mahasiswa dan anak-anak SMA. Merek-merek seperti 7 Eleven, Honda Scoopy, Majalah Hai, Samsung Galaxi Tab adalah merek-merek yang akrab di kalangan ini.
  7. The Settler. Kelompok ini mapan secara ekonomi dan finansial, karena umumnya kelompok ini berasal dari kelompok pedangang yang sukses. Tetapi dalam pengelolaannya cenderung bersikap konservatif. Kelompok ini biasa terkoneksi dengan merek seperti Dji Sam Soe, Hotel Santika, produk-produk Bank Syariah, Tabloid Nova.
  8. The Flower. Tipe ini bisa dikenali dengan kurangnya mengikuti perkembangan teknologi. Menjalani kehidupan mengalir seperti apa adanya. Menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual serta menjadikan keluarga menjadi dunianya. Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Ibu Rumah Tangga mendominasi kelompok menengah tipe ini.

Kelas Bawah :

(Untuk kelas bawah belum ditemukan referensi)

Berdasarkan kriteria ekonomi :

Lapisan pertama : kaum elit desa yang memiliki cadangan pangan dan pengembangan usaha

Lapisan kedua      : terdiri dari orang yang memiliki cadangan pangan saja

Lapisan ketiga      : orang yang tidak memiliki cadangan pangan dan cadangan usaha dan mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan konsumsi perutnya agar tetap hidup

Masyarakat dari kelas sosial yang sama akan berbagi banyak nilai dan minat yang akan dicerminkan dalam perilaku konsumsi. Nilai dan minat yang dianut oleh para anggota dari berbagai kelas sosial memunculkan perbedaan perilaku konsumsi di antara berbagai kelas sosial. Konsumsi sebagai alat dengan tujuan untuk membedakan kelas dan culture of living (termasuk gaya hidup) merupakan suatu arena perjuangan yang signifikan antara satu kelas sosial dengan kelas sosial lain. Apa yang dikonsumsi seseorang, akan menunjukkan dari kelas sosial mana orang itu berasal, menjadi legitimasi keberadaan hingga dapat menjadi bagian dari kelas sosial tersebut. Kecenderungan perbedaan perilaku konsumen yang berbeda di antara berbagai kelas sosial dapat dilihat berbagai pemilihan pakaian, mode, belanja; penggunaan waktu luang, pengeluaran, simpanan, dan kartu kredit; serta media komunikasi.

Ada juga pemetaan dengan :

Kelas sosial ternyata mempunyai pengaruh kuat pada pemilihan jenis mobil, pakaian, perabot rumah tangga, properti, dan rumah. Pemasar menggunakan variabel kelas sosial sebagai segmentasi pasar mereka.

Pendidikan konsumen biasanya menentukan pendapatan dan kelas sosial seseorang. Pendidikan juga menentukan tingkat intelektualitas seseorang, pada gilirannnya intelektualitas ini akan menentukan pilihan barang-barang, merek, jenis hiburan, dan sebagainya. Produk yang dibeli biasanya erat hubungannya dengan penghasilan yang dimiliki rumah tangga orang tersebut.

James Duessenberry menemukan hubungan antara penghasilan, kelas sosial, dan konsumsi. Temuan ini kemudian dikenal dengan Relative Income Hypothesis artinya pilihan konsumsi seseorang bersifat relatif terhadap penghasilan dan kelas sosialnya dalam masyarakat.

Lloyd Warner membagi pasar ke dalan enam kelas sosial, yaitu : (karakteristik Indonesia)

  • Kelas A+ (atas-atas) pengeluaran perbulan > Rp 8.000.000,-
  • Kelas A (atas-bawah)……………………………………   Rp 6.000.000,- sampai Rp 8.000.000,-
  • Kelas B+ (menengah-atas)…………………………..   Rp 4.000.000,- sampai Rp 6.000.000,-
  • Kelas B (menengah-bawah)………………………..   Rp 700.000,- sampai Rp 4.000.000,-
  • Kelas C+ (bawah-atas)…………………………………    Rp 300.000,- sampai Rp 700.000,-
  • Kelas C (bawah-bawah)……………………………… < Rp 300.000,-

Kombinasi antara income dan kelas dalam kelompok pekerjaan dapat juga dibagi dalam segmen sebagai berikut :

A       = Upper Class

B       = Higher Professional

C1     = Lower Professional

C2     = Skilled Non Professional

D       = Manual Worker, Unskilled Labour

E        = Pensioner, Low Waged, Unemployed

Referensi :

Ngesthi Nirmala Dewi, Indarini dan Dudi Anandya. 2007. Perilaku
Konsumen Dalam Kategori Kelas Sosial Di Surabaya: Pengambilan Keputusan Keluarga

Book : Psychology & Marketing (1986-1998); Dec 1996; 13, 18; ABI/INFORM Research pg.803

Referensi buku : Rhenald Kasali, 2005. Membidik Pasar Indonesia, segmentasi, targeting,positioning, Gramedia, Jakarta.(hal. 118-366) dan Philip Kotler Manajemen Pemasaran.2002. Prenhallindo, Jakarta.(hal.291-316)

 

III. Perbedaan  Budaya Indonesia Dulu dan Sekarang, Serta Pandangan Saya Sebagai Orang Indonesia

Perbedaan budaya umumnya memang selalu ada baik antar Negara, antar individu, antar kelompok maupun antara saat ini dengan saat lampau dan masa depan, perbedaan ini dikarenakan setiap budaya akan selalu berkembang dan berubah- ubah sebab budaya memiliki sifat yang dinamis.

Kebudayaan itu ibarat sebuah lensa dimana seperti hal nya saat kita menggunakan lensa, untuk meneropong sesuatu kita harus memilih suatu objek tertentu yang akan dilihat secara fokus. Beberapa orang awam mengartikan kebudayaan merupakan sebuah seni. Padahal sebenarnya kebudayaan itu bukan hanya sekedar seni. Kebudayaan melebihi seni itu sendiri karena kebudayaan meliputi sebuah jaringan kerja dalam kehidupan antar manusia.

Berikut ini adalah definisi dan pengertian kebudayaan menurut beberapa ahli:
# EDWARD T. HALL

Kebudayaan adalah komunikasi dan komunikasi adalah kebudayaan
#IRIS VARNER & LINDA BEAMER

Kebudayaan adalah sebagai pandangan yang koheren tentang sesuatu yang dipelajari, yang dibagi, atau yang dipertukarkan oleh sekelompok orang
# LARRY A. SAMOVAR & RICHARD E. PORTER

Kebudayaan dapat berarti simpanan akumulatif dari pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, pilihan waktu, peranan, relasi ruang, konsep yang luas, dan objek material atau kepemilikan yang dimiliki dan dipertahankan oleh sekelompok orang atau suatu generasi.
# GUDKUNTS & KIM

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan yang dipertukarkan oleh sejumlah orang dalam sebuah kelompok yang besar
# LEVO – HENRIKSSON

Kebudayaan meliputi semua aspek kehidupan kita setiap hari, terutama pandangan hidup – apapun bentuknya – baik itu mitos maupun sistem nilai dalam masyarakat

# ROOS

Kebudayaan merupakan sistem gaya hidup dan merupakan faktor utama bagi pembentukan gaya hidup

# RENE CHAR

Kebudayaan adalah warisan kita yang diturunkan tanpa surat wasiat
# IGNAS KLEDEN

Kebudayaan adalah nasib dan baru kemudian kita menanggungnya sebagai tugas
# C.A VAN PEURSEN

Kebudayaan merupakan gejala manusiawi dari kegiatan berfikir (mitos, ideologi, dan ilmu), komunikasi (sistem masyarakat), kerja (ilmu alam dan teknologi), dan kegiatan-kegiatan lain yang lebih sederhana

# GEERTZ

Kebudayaan adalah yang mengitari kita, yang menyerbu setiap aspek kehidupan. Budaya serentak konkret dan tersebar, dalam dan dangkal
# KARL MARX

Kebudayaan adalah teori anti kebudayaan

# SELO SOEMARDJAN & SOELAIMAN SOEMARDI

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide yang ada dalam pikiran manusia dalam pengalaman sehari hari yang sifatnya abstrak

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Kesatuan budaya lokal yang dimiliki Indonesia merupakan budaya bangsa yang mewakili identitas negara Indonesia. Untuk itu, budaya lokal harus tetap dijaga serta diwarisi dengan baik agar budaya bangsa tetap kokoh.

1)      Kurangnya kesadaran masyarakat

Kesadaran masyarakat untuk menjaga budaya lokal sekarang ini masih terbilang minim. Masyarakat lebih memilih budaya asing yang lebih praktis dan sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini bukan berarti budaya lokal tidak sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi banyak budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Budaya lokal juga dapat di sesuaikan dengan perkembangan zaman, asalkan masih tidak meningalkan cirri khas dari budaya tersebut.

2)      Minimnya komunikasi budaya

Kemampuan untuk berkomunikasi sangat penting agar tidak terjadi salah pahaman tentang budaya yang dianut. Minimnya komunikasi budaya ini sering menimbulkan perselisihan antarsuku yang akan berdampak turunnya ketahanan budaya bangsa.

3)      Kurangnya pembelajaran budaya

Pembelajaran tentang budaya, harus ditanamkan sejak dini. Namun sekarang ini banyak yang sudah tidak menganggap penting mempelajari budaya lokal. Padahal melalui pembelajaran budaya, kita dapat mengetahui pentingnya budaya lokal dalam membangun budaya bangsa serta bagaiman cara mengadaptasi budaya lokal di tengan perkembangan zaman.

4)      Indonesia dipandang dunia Internasional karena kekuatan budayanya

Apabila budaya lokal dapat di jaga dengan baik, Indonesia akan di pandang sebagai negara yang dapat mempertahankan identitasnya di mata Internasioanal.

4. Kuatnya budaya bangsa, memperkokoh rasa persatuan

Usaha masyarakat dalam mempertahankan budaya lokal agar dapat memperkokoh budaya bangsa, juga dapat memperkokoh persatuan. Karena adanya saling menghormati antara budaya lokal sehingga dapat bersatu menjadi budaya bangsa yang kokoh.

5. Kemajuan pariwisata

Budaya lokal Indonesia sering kali menarik perhatian para turis mancanegara. Ini dapat dijadikan objek wisata yang akan menghasilkan devisa bagi negara. Akan tetapi hal ini juga harus diwaspadai karena banyaknya aksi pembajakan budaya yang mungkin terjadi.

6. Multikuturalisme

Dalam artikelnya, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning, Riau, Dr Junaidi SS MHum, mengatakan bahwa multikulturalisme meberikan peluang bagi kebangkitan etnik dan kudaya lokal Indonesia. Dua pilar yang mendukung pemahaman ini adalah pendidikan budaya dan komunikasi antar budaya.

7. Perubahan lingkungan alam dan fisik

Perubahan lingkungan alam dan fisik menjadi tantangan tersendiri bagi suatu negara untuk mempertahankan budaya lokalnya. Karena seiring perubahan lingkungan alam dan fisik, pola piker serta pola hidup masyakrkat juga ikt berubah

8. Kemajuan Teknologi

Meskipun dipandang banyak memberikan banyak manfaat, kemajuan teknologi ternyata menjadi salah satu factor yang menyebabkan ditinggalkannya budaya lokal. Misalnya, sistem sasi (sistem asli masyarakat dalam mengelola sumber daya kelautan/daratan) dikawasan Maluku dan Irian Jaya. Sistem sasi mengatur tata cara sertamusim penangkapan iakn di wilayah adatnya, namun hal ini mulai tidak di lupakan oleh masyarakatnya.

9. Masuknya Budaya Asing

Masuknya budaya asing menjadi tantangan tersendiri agar budaya lokal tetap terjaga. Dalam hal ini, peran budaya lokal diperlukan sebagai penyeimbang di tengah perkembangan zaman.

Perubahan budaya yang terjadi di dalam masyarakat tradisional, yakni perubahan dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat yang lebih terbuka, dari nilai-nilai yang bersifat homogen menuju pluralisme nilai dan norma social merupakan salh satu dampak dari adanya globalisasi. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan sarana transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh. Misalnya saja khusus dalam bidang hiburan massa atau hiburan yang bersifat masal, makna globalisasi itu sudah sedemikian terasa. Sekarang ini setiap hari kita bisa menyimak tayangan film di tv yang bermuara dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea, dll melalui stasiun televisi di tanah air. Belum lagi siaran tv internasional yang bisa ditangkap melalui parabola yang kini makin banyak dimiliki masyarakat Indonesia. Sementara itu, kesenian-kesenian populer lain yang tersaji melalui kaset, vcd, dan dvd yang berasal dari manca negara pun makin marak kehadirannya di tengah-tengah kita. Fakta yang demikian memberikan bukti tentang betapa negara-negara penguasa teknologi mutakhir telah berhasil memegang kendali dalam globalisasi budaya khususnya di negara ke tiga. Peristiwa transkultural seperti itu mau tidak mau akan berpengaruh terhadap keberadaan kesenian kita. Padahal kesenian tradisional kita merupakan bagian dari khasanah kebudayaan nasional yang perlu dijaga kelestariannya.

Di saat yang lain dengan teknologi informasi yang semakin canggih seperti saat ini, kita disuguhi oleh banyak alternatif tawaran hiburan dan informasi yang lebih beragam, yang mungkin lebih menarik jika dibandingkan dengan kesenian tradisional kita. Dengan parabola masyarakat bisa menyaksikan berbagai tayangan hiburan yang bersifat mendunia yang berasal dari berbagai belahan bumi. Kondisi yang demikian mau tidak mau membuat semakin tersisihnya kesenian tradisional Indonesia dari kehidupan masyarakat Indonesia yang sarat akan pemaknaan dalam masyarakat Indonesia. Misalnya saja bentuk-bentuk ekspresi kesenian etnis Indonesia, baik yang rakyat maupun istana, selalu berkaitan erat dengan perilaku ritual masyarakat pertanian. Dengan datangnya perubahan sosial yang hadir sebagai akibat proses industrialisasi dan sistem ekonomi pasar, dan globalisasi informasi, maka kesenian kita pun mulai bergeser ke arah kesenian yang berdimensi komersial.

Kesenian-kesenian yang bersifat ritual mulai tersingkir dan kehilangan fungsinya. Sekalipun demikian, bukan berarti semua kesenian tradisional kita lenyap begitu saja. Ada berbagai kesenian yang masih menunjukkan eksistensinya, bahkan secara kreatif terus berkembang tanpa harus tertindas proses modernisasi. Pesatnya laju teknologi informasi atau teknologi komunikasi telah menjadi sarana difusi budaya yang ampuh, sekaligus juga alternatif pilihan hiburan yang lebih beragam bagi masyarakat luas. Akibatnya masyarakat tidak tertarik lagi menikmati berbagai seni pertunjukan tradisional yang sebelumnya akrab dengan kehidupan mereka. Misalnya saja kesenian tradisional wayang orang Bharata, yang terdapat di Gedung Wayang Orang Bharata Jakarta kini tampak sepi seolah-olah tak ada pengunjungnya. Hal ini sangat disayangkan mengingat wayang merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Indonesia yang sarat dan kaya akan pesan-pesan moral, dan merupakan salah satu agen penanaman nilai-nilai moral yang baik.

Kita sebagai orang Indonesia yang berbudi luhur pasti tahu dengan budaya yang akan dibahas ini, tapi belakangan kita bisa melihat, merasakan (bahkan mungkin mengalami) sudah mulai berkurang. Berikut ini contoh kebudayaan sehari-hari yang dahulu biasa kita lakukan, namun sekarang sudah mulai berkurang penerapannya :

1. Cium tangan pada orang tua

Biasanya dibilang “salim“, bila di masa yang dulu hal ini merupakan kewajiban anak kepada orang tua disaat ingin pergi ke sekolah atau berpamitan ke tempat lain. Sebenarnya, hal ini sangat penting, selain menanamkan rasa cinta kita dengan orang tua, cium tangan itu sebagai tanda hormat dan terima kasih kita pada orang tua kita.

2. Penggunaan tangan kanan

Bila di luar negeri, saya rasa tidak masalah dengan penggunaan tangan baik kanan ataupun kiri, tapi hal ini bukanlah budaya kita. Budaya kita mengajarkan untuk berjabat tangan, memberikan barang, ataupun makan menggunakan tangan kanan. (kecuali memang di anugerahi kebiasaan kidal sejak lahir)

3. Musyawarah

Satu lagi budaya yang sudah jarang ditemukan, khususnya di kota-kota besar semisal Jakarta. Kebanyakan penduduk di kota besar hanya mementingkan egonya masing-masing, pamer inilah itulah, mau jadi pemimpin kelompok ini itu dan bahkan suka main hakim sendiri. Tapi, coba kita melihat desa-desa yang masih menggunakan budaya ini mereka hidup tentram dan saling percaya, tidak ada yang namanya saling sikut dan menjatuhkan, semua perbedaan di usahakan secara musyawarah dan mufakat. Jadi, sebaiknya Anda yang ‘masih’ merasa muda harus melestarikan budaya ini demi keberlangsungan negara Indonesia yang tentram dan cinta damai.

4. Gotong royong

“Itu bukan urusan gue!“, “emang gue pikiran“, Whats up bro? Ada apa dengan kalian? Ayolah ! Kita sebagai generasi muda mulai menimbulkan lagi rasa simpati dengan membantu seksama, karena dengan kebiasaan seperti inilah bangsa kita bisa merdeka saat masa penjajahan, tidak ada perasaan curiga, dan dulu persatuan kita begitu kuat.

Referensi :

Poerwanto, “Hari Kebudayaan Dan Lingkungan dalam perspektif Antropologi”., Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 2006 dan Widagdho, Djoko, “ILMU BUDAYA DASAR”, Bumi Aksara, Jakarta: 2004, serta buku Transformasi Budaya Untuk Masa Depan karangan Mochtar Lubis.

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/132057601/PERUBAHAN%20PERILAKU%20MASY.pdf

http://www.infodiknas.com/%E2%80%9Csopan-santun%E2%80%9D-sebuah-budaya-yang-terlupakan/

http://aliefsyahru.blogspot.com/2012/03/pengertian-kebudayaan.html

http://dzuriyatunthoyibh.blogspot.com/2012/03/pengertian-kebudayaan.html

 

Consumer Behaviour , ,