EPISTEMOLOGI ADMINISTRASI

Versi materi ini dalam bentuk power point dapat di download : EPISTEMOLOGI ADMINISTRASI by Celine Santoso (klik and download automatic)

Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menelaah asal mulanya pengetahuan. Pusat perhatian Epistemologi mempunyai tiga persoalan pokok, sebagai berikut.
1). Problem Asal (Origins Problem), yaitu tentang Apakah yang menjadi sumber-sumber pengetahuan; darimanakah pengetahuan itu datang dan bagaimanakah kita dapat mengetahuinya. Untuk menjawabnya ada 2 bentuk aliran. Aliran empirisme merupakan aliran yang mengandalkan pengalaman. Pengelihatan inderawi seseorang terhadap aktivitas kelompok dapat melahirkan kepengikutan individu atas aktivitas kelompok tanpa dilakukan pengkajian akal tentang benar tidaknya disebut sebagai common sense.

Common sense yang menjadi sumber pengetahuan, yakni : (a) Pendapat orang awam yang condong untuk bersifat kebiasaan, (b) pendapat yang samar-samar dan tidak jelas, (c) kepercayaan yang belum diuji (d) pendapat yang jarang disertai dengan penjelasan. Sedangkan aliran rasionalisme merupakan aliran yang mengandalkan pemikiran. Dalam pemikiran pun sering terjadi kesalahan, jika pemikiran itu : Cenderung menerima bukti-bukti dan kejadian-kejadian yang menguntungkan. Cenderung memandang diri kita sebagai pusat dunia, terpengaruh oleh kata-kata dan Sikap yang berpegangan pada partai, kepercayaan dan keyakinan.
2). Problem penampilan adalah problem yang berkaitan dengan karakter ilmu pengetahuan yang ingin diketahui sehingga pertanyaan yang harus dijawab adalah pertanyaan yang berkaitan dengan fakta yang sesungguhnya. karakter ilmu administrasi harus menyesuaikan tuntutan realitas kehidupan manusia dalam bekerjasama pada keteraturan yang diharapkan dan tuntutan realitas akan berawal dari fenomena- berkembang sebagai fenomena yang selalu memerlukan pengkajian.

3). Problem mencari suatu kebenaran mempertanyakan apakah pengetahuan itu valid. Dalam konteks empiris rasional melakukan penelitian atas gejala dan realitas yang terjadi dalam bekerjasama yang disebut organisasi dan manajemen. Dengan menghubungkan realitas tersebut akan dapat membentuk sejumlah variabel yang dapat berinteraksi atau berinteralasi satu dengan lainnya. Rangkaian variabel inilah kemudian dapat membentuk kategori dan rangkaian kategori yang melahirkan sejumlah asumsi yang dapat membantu penyusunan hipotesis sebagai calon dari suatu teori. Jika dilakukan pembuktian atas hipotesis yang terumuskan tersebut hasilnya adalah teori. Sedangkan konteks rasional-empiris melakukan pengujian atas nilai-nilai yang dikehendaki oleh teori administrasi dalam praktik-praktik penyelenggaraan administrasi. Ini dapat melahirkan dukungan atas teori yang sudah berlaku dan dapat pula memberikan penilaian atas realitas administrasi yang terjadi guna perbaikan atau penyempurnaannya. Ini pun dapat dilakukan dengan penerapan teori, konsepsi-konsepsi dalam realitas yang terklarifikasi sejumlah realitas sesuai kehendak-kehendak teori atau konsepsi-konsepsi yang dirumuskan.

Dengan demikian, pemenuhan atas pemecahan ketiga problem pengetahuan oleh administrasi menempatkan administrasi secara espitemologi adalah suatu ilmu, yaitu ilmu administrasi.