RSS Feed

TEORI ADMINISTRASI PUBLIK

February 21, 2013 by Celine Santoso

TEORI ADMINISTRASI PUBLIK

By Celine Santoso

teori ini bisa di download di  TAP

Schneider mengatakan bahwa teori adalah cara terpendek untuk mengatakan sesuatu yang penting. Dunia pengalaman dan pengamatan yang penuh chaos ,kesemrawutan, diabstraksikan menjadi pola-pola keteraturan dan keajegan-keajegan dengan cara memberikan ekspresi simbiolik dan hubungan logis. Sedangkan Grififths (1995:28) menyatakan bahwa : “ A theory is essentially a set of assumptions from which a set of empirical laws (principles) may be derived. A theory is not law. A theory itself can not be proved by direct exprementation.” Dengan rumus lain dikemukakan bahwa teori pada hakikatnya merupakan serangkaian asumsi, yang dari asumsi tersebut dapat diderivasikan serangkaian hokum-hukum empiric. Teori itu sendiri bukanlah hukum. Dan teori itu sendiri tak dapat dibuktikan melalui eksperimen langsung.

Dua definisi tentang teori tersebut mempunyai makna yang hamper sama walaupun didekati dengan cara pandang yang berbeda. Schneider melihat lahirnya teori dari hal-hal yang bersifat empiric, kemudian diciptakan atau dilahirkan suatu alat yang disebut teori. Sedangkan Griffiths melihat dari sisi yang abstrak. Sebenarnya lahirnya teori itu lebih tepat jika dipandang sebagai alur melingkar daripada alur linier, sehingga pendekatan apapun yang dipakai akan mengahasilkan keluaran yang sama. Pendekatan Griffith lebih bersifat deduktif, sedangkan pendekatan Schneider bersifat Induktif. Sejalan dengan hal tersebut Van dyke yang dikutip oleh Rahman Zainuddin (1990) dengan tegas menyatakan bahwa The World theory is full of ambiguity. Lebih lanjut dikatakan bahwa dilihat dari sudut makna teori mempunyai lebih dari satu pengertian misalnya pemikiran (thought), dugaan (conjectures) atau juga gagasan.

Apapun makna yang melekat atau dilekatkan pada teori oleh para penganjurnya, teori berfungsi sebagai alat untuk menyederhanakan gejala atau fenomena. Fenomena yang semrawut dapat dijelaskan, disederhanakan dan dipecahkan oleh teori. Dengan demikian maka teori itu sebenarnya dibangun berdasarkan fakta. Sebaliknya praktik administrasi harus juga didasarkan pada teori. Terjadilah hubungan simbiosis mutualistic yang baik. Karenanya maka sebenarnya pertentangan antara teori dan praktek tidaklah relevan lagi. Teori dibangun berdasarkan fakta dan praktik harus berdasarkan pada teori. Dilingkungan ilmu administrasi, teori administrasi berfungsi sebagai :

(1)   Pedoman untuk bertindak ;

(2)   Pedoman untuk mengumpulkan fakta ;

(3)   Pedoman untuk memperoleh pengalaman baru ;

(4)   Pedoman untuk menjelaskan sifat-sifat administrasi (Zauhar dan Indradi, 1983)

Arti pentingnya teori dikemukakan pula oleh Mufiz. Dia berpendapat bahwa ada 5 (lima) sebab kenapa teori administrasi public penting. Kelima sebab itu meliputi :

(1)   Teori administrasi public menyatakan sesuatu yang bermakna, yang dapat diterapkan pada situasi kehidupan yang nyata.

(2)   Teori administrasi dapat menyajikan suati perspektif.

(3)   Teori administrasi mengarang lahirnya cara-cara baru dalam hal-hal yang berbeda.

(4)   Teori administrasi yang telah ada dapat merupakan dasar untuk mengembangkan teori administrasi lainnya.

(5)   Teori administrasi membantu penggunaannya untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena yang dihadapinya (Mufiz, 1984 :50)

Demikianlah apabila kita menghadapi berbagai macam problema, apakah problema untuk dipecahkan secara praktis, problema pengumpulan fakta atau problema didalam mengembangkan pengetahuan administrasi, teori akan banyak berbicara. Kegunaan atau fungsi teori administrasi yang beraneka ragam itulah yang mengebabkan beranekaragamanya teori administrasi dan bervariasinya teori administrasi. Variasi ini muncul disamping sebab seperti dipaparkan di atas, disebabkan pula oleh perbedaan visi pencetusnya dan perbedaan kondisi yang dihadapi oleh administrasi itu sendiri.

 

TEORI DALAM ADMINISTRASI PUBLIK

Walaupun teori administrasi mempunyai banyak kegunaan, namun tidak sedikit yang meragukan kemanfaatannya. Sikap ragu inilah yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan terori administrasi public. Sikap ragu yang menyebabkan terhambatnya perkembangan teori adminitrasi public itu oleh Coladarci and getzel disebut sebagai ANTI THEORICAL BIAS, yang meliputi factor ;

(1)   Komitmen terhadap Faktualisme ;

(2)   Respek yang membabibuta terhadap otoritas para expert dan penguasa ;

(3)   Rasa takut terhadap teorisasi ;

(4)   Bahasa professional yang tidak memadai ;

(5)   Identifikasi emosional dengan pandangan pribadi ; dan

(6)   Kurang-mengertian terhadap teori (Zauhar dan Indradi , 1984)

Beberapa faktor diatas merupakan penyebab perkembangan teori adminitrasi tersendat-sendat. Administrasi hanya dipenuhi dengan berbagai macam teori pinjaman yang berasal dari disiplin ilmu yang lain. Oleh karena itu, Caiden menyatakan bahwa upaya untuk mencari paradigma (teori) ilmu administrasi public merupakan hal yang sia-sia. Selanjutnya dikatakan bahwa tidak ada teori administrasi public, tetapi banyak teori dalam administrasi public (Caiden, 1971). Ini berarti bahwa teori administrasi public yang betul-betul murni belumlah ada. Namun, didalam tubuh administrasi public terdapat bervariasi teori yang berasal dari disiplin lain, yang “kebetulan” dapat dan cocok untuk menjelaskan, mengeksplenasikan dan mengontrol fenomena administrasi Negara. Benarkah didalam administrasi public terdapat beragam teori yang berasal dari disiplin lain? Reser (1973) dalam salah satu karya besarnya menguraikan taori-teori disiplin lain yang kemudian dikembangkan dalam administrasi public, seperti teori birokrasi, teori manajemen ilmiah, teori Human Relations dan teori-teori keperilakuan.

Dengan penjelasan yang agak berbeda Tjokrowinoto (1993) mengelompokka teori administrasi public ke dalam teori structural-normatif, teori behavioral-environmental dan teori kebijakan. Teori normatif dengan kearifan konvesionalnya, lebih menekankan pada persoalan what should be dapat ditemui ; pada tulisan Willoughby (1927), Fayol (1930), taylor (1911) dan karya-karya lain yang terbit sampai dengan tahun 1937-an. Sedangkan teori berhavioral-environment yang lebih menekankan pada what is, apa adanya yang menghendaki administrasi public bebas nilai, tampak dalam karya Bernard (1938), Robert Dahl (1948), Waldo (1948), Riggs (1964) dan lain-lain. Teori-teori kebijakan yang lebih menekankan pada persoalan what is possible, tampak dalam karya Lerned dan Lassewel (1968) dan para pakar administrasi public yang lahir belakangan seperti Dunn, Dye, dan lain-lain. Untuk Indonesia, karya dari Mustopodidjaja, Effendi, Islamy, Wahab dan lain-lain dapat dikategorikan ke dalam studi kebijakan.

 

TEORI NETRALISASI, DINAS PUBLIK WILSON

Woodrow Wilson yang telah terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat (1913-1921) melihat gelagat yang kurang baik dibidang administrasi public baik dalam praktik maupun dalam perkembangan studi. Dia menolak faham Trikotomi. Legislatif-Eksekutif-Yudikatif dalam pemerintahan, dan menggantikannya dengan Dikotomi politik-administrasi. Tujuan utamanya agar badan-badan administrasi public tidak terkontaminasi oleh polusi politik, sehingga badan tersebut dapat memberikan pelayanan yang adil dan bertanggungjawab kepada  masyarakat. Untuk bisa berbuat netral itulah maka jalan yang harus ditempuh adalah mengadopsi teknik manajemen bisnis dalam mengelola organisasi public.

Keinginan Wilson untuk menetralkan dinas public tersebut dilandasi oleh berkembangnya spoils system atau jackosinian system yang merasuk ke hamper seluruh jajaran administrasi public , bahkan sudah menjangkiti dunia bisnis. Merebaknya gejala ini diawali pada tahun 1892 tatkala Andrew Jackson belong the spoils of victory. Jabatan-jabatan strategis dalam pemerintahan harus diberikan dan dipegang oleh mereka yang secara politis loyal kepada fihak yang menang dalam pemilu. Hal ini dimaksudkan agar pejabat yang baru diangkat tersebut dapat mewakili aspirasi fihak yang menang dalam pemilu (Shafritz et.al , 1981).

 

MAX WEBER DAN TEORI BIROKRASI

Kira-kira 100 tahun yang lalu, yakni sekitar tahun 1890-an, seorang sosiolog Jerman yang bernama max Weber mempopulerkan istilah birokrasi. Walaupun konsep birokrasi itu dipopulerkan oleh Weber dan setiap pembicaraan tentang birokrasi selalu dikaitkan dengan namanya, namun sebenarnya konsep aslinya bukan dari dia. Jauh hari sebelum weber mempopulerkan konsep tersebut, organisasi militer, gereja, pemerintah local dan lain-lain telah menerapkan struktur sebagaimana disarankan oleh weber. Bahkan organisasi bisnis telah pula menerapkan prinsip-prinsip birokrasi jauh sebelum weber mempopulerkan birokrasi. Walaupun demikian, weber tetap dianggap sebagai kreditor terbesar dalam mempopulerkan konsep birokrasi.

Usaha weber untuk mempopulerkan birokrasi dilator-belakangi oleh marajelanya era patrimony, dimana tidak ada hubungannya impersonal dalam organisasi. Semua keputusan organisasi diputuskan oleh patron sebagai pemilik organisasi. Saat itu belum ada system pengawasan yang dapat diandalkan. Dengan kata lain, organisasi pada saat itu dikelola berdasarkan manajemen pemilik.

Secara ringkas dapat diungkapkan bahwa teori birokrasi weber itu ditandai dengan ciri-ciri ; adanya peraturan tertulis, hirarki kewenangan yang jelas, pertanggungjawaban administrasor dan pelaksanaan organisasi yang didasarkan pada dokumen tertulis (Reser, 1973; 6-7).

Peraturan yang meliputi juga kebijaksanaan dan prosedur, dimaksudkan untuk mengurangi frekuensi kebijaksanaan atau penyimpangan. Setiap persoalan yang ada didalam organisasi hendaknya diselesaikan lewat kebijaksanaan.

Agar pelaksanaan peraturan dapat berjalan dengan lancer dan mulus maka perlu disusun hirarki kewenangan birkoratik yang bentuknya seperti pyramid yang terbalik. Semakin ke atas, semakin besar kewenangan yang dimiliki. Konsuekensinya adalah terjadinya konsentrasi kewenangan secara relative pada sedikit orang.

Walaupun administrator mempunyai kewenangan, namun tidaklah berarti dia bisa berbuat semau hatinya. Administrator bukanlah pemilik organisasi. Justru inilah yang ingin dihindari oleh weber. Administrator haruslah mengembangkan hubungan yang impersonal, yang tidak pandang bulu, yang harus dapat membedakan secara tegas kepentingan pribadi dan kepentingan organisasi.

Untuk mengindari agar administrator beserta anggotanya tidak bertindak diluar kewenangan yang telah digariskan, diperlukan adanya dokumen tertulis sebagai alat pengawasan.

Karena prinisp tersebut berlaku dalam setiap organisasi , mungkin model tersebut merupakan model yang paling rasional dan paling banyak dipakai dalam teori administrasi public. Namun janganlah sampai diartikan bahwa ia sebagai satu-satunya model ideal. Kunci utama model tersebut adalah depersonalisasi pekerjaaan apada setiap level organisasi, dan weber menamakan orang-orang dalam system birokrasi dengan Specialized Cog.

 

FEDERICK WINSLOW TAYLOR DAN SCIENTIFIC MANAGEMENT

Banyak nama yang dikaitkan dengan gerakan Scientific Management ini antara lain Henry Grantt, Frank, and Lillian Gilberth dan Harrington Emerson. Namun nama yang kondang dan menjadi “merek dagang” dari gerakan ini adalah Frederick W.Taylor. gara-gara nama ini yang kondang, gerakan ini lebih dikenal sebagai Taylorisme daripada gerakan manajemen ilmiah.

Tujuan gerakan ini ialah lebih “mengilmiahkan” gerakan gagasan rasional weber. Ide Weber untuk mencapai efisiensi organisasi yang tinggi hanya dapat direalisasi melalui studi yang ilmiah tentang gerak dan waktu. Seperti halnya dengan Weber, taylor pun mengemukakan beberapa prinsip. Prinsip tersebut adalah rancangan tugas, Seleksi dan pelatihan pegawai, Motivasi Pegawai dan pemisahan antara perencanaan dan pelaksanaan.

Kunci utama keberhasilan organisasi kata Taylor, adalah bawahan. Karena itulah maka pekerja atau bawahan merupkan focus perhatian dari Taylor. Atas dasar itu, maka teori Taylor disebut juga dengan shop level theory. Menurut Taylor, hanya ada satu jalan terbaik untuk melakukan suatu pekerjaan , yakni melalui studi gerak dan waktu.

Agar para pekerja dapat melaksanakan metode kerja yang baik dan dpaat menempuh one best way tersebut, haruslah dilakukan seleksi pekerja, sehingga diperoleh pekerja yang mumpuni dan memenuhi klasifikasi yang dituntut oleh suatu pekerjaan. Pekerja yang terseleksi inilah yang kemudian diberi pelatihan agar mempunyai kecakapan, sehingga mampu mengerjakan pekerjaan sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Setelah one best way ditetapkan dan pekerja telah dilatih untuk melaksanakan one best way tersebut, administrator harus menjaga agar para pekerja menyesuaikan diri dengan standar yang telah ditetapkan. Untuk mencapai hal itu digunakan ganjaran dan hukuman. Pekerja yang tidak dapat  menuanaikan pekerjaannya dengan baik diberi “motivation by negative incentive” seperti digeserdari pekerjaan semula, penundaan kenaikan pangkat, penundaan kenaikan gaji dan lain-lain. Sedangkan pekerja yang berprestasi baik diberi “motivation by positive incentive” seperti kenaikan gaji , kenaikan pangkat otomatis dan lain-lain.

Salah satu konsuekensi dari adanya one best way adalah keharusan diadakannya spesialisasi pekerjaan. Dalam hal ini harus dipisahkan secara tegas antara pekerjaan perencanaan dan pelaksanakan operasional.

Secara lebih rinci Taylor mengemukakan adanya 6 prinsip manajemen ilmiah yang meliputi : time study principle, diffential plece-rate system, separation of planning from perfomence principle, scientific method of work principle, managerial control principle and functional management principle.

Baik teori weber maupun teori Taylor menganggap manusia itu sebagai manusia rasional melulu. Sehingga cara-cara yang dipakai untuk menggerakannya memakai cara-cara yang rasional pula, tanpa mempertimbangkan aspek yang lain. Asumsinya yang terlalu simplistic yang menyatakan bahwa manusia itu matanya akan berubah menjadi hijau kalau melihat uang, ternyata tida sepenuhnya benar. Kekeliruan inilah yang kemudian direvisi dan dikoreksi oleh Mayo dan kawan-kawan.

 

TEORI ADMINISTRASI FAYOL

Jika taylor dianggap sebagai Bapak manajemen Ilmiah, maka Fayorl dianggap sebagai bapak Ilmu administrasi, atau ada yang menyebut sebagai father of modern operational management theory. Sedangkan teorinya dikenal sebagai administrative-management theory. Hal ini disebabkan fayol mengamati kajiannya pada administrator tingkat atas. Atas dasar ilmiah teori fayol disebut juga dengan top level theory.

Buah pemikiran Fayol tersebut dituangkan dalam karya besarnya yang berjudul administration industrialle et generate yang sayangnya buku tersebut tidak diterjemahkan menjadi General and industrial Administrative tetapi diterjemahan menjadi general and Industraial Management.

Sumbangan fayol dalam pengembangan ilmu administrasi adalah yang berkenaan dengan aktivitas organisasi, administrative operations dan prinsip-prinsip administrasi.

Aktivitas organisasi menurut fayol dapat dikelompokkan menjadi 6 aktivitas penting yang berkaitan erat satu sama lain. Aktivitas yang dimaksud adalah :

  1. Technical, yaitu semua kegiatan yang berkaitan dengan masalah produksi dan teknik ;
  2. Commercial, yaitu aktivitas yang berkaitan dengan bahan dan penjualan hasil.
  3. Security, yaitu kegiatan yang berkenaan dengan perlindungan keamanan para pegawai dan harta keyaan ;
  4. Financial, yaitu kegiatan organisasi dengan yang ada sangkut pautnya dengan pencarian dan penggunaan modal.
  5. Accounting, yang berkaitan dengan kegiatan mencatat dan membuat stok harga serta membuat neraca dan statistic ;
  6. Administrative operations atau administrative Functions yang dirinci lagi menjadi :
  • Planning
  • Organizing
  • Commanding
  • Coordinating
  • Controlling

Sedangkan prinsip-prinsip administrasi diklasifikasikan ke dalam 14 prinsip. Prinsip yang dimaksud adalah division of work, authority and responbility, discipline, unity of command, unity of directions, subordination of individual to general interest, remunerations, scalar chain, order, equity, stability of tenure, initiative, dan La esprit de corpus.

 

STUDI HAWRTHORNE DAN HUMAN RELATIONS

Penelitian dibidang “psikologi industry” yang akhirnya dinamakan gerakan Human Relations ini merupakan teori dalam administrasi yang memandang manusia bukan hanya sebagai pekerja belaka, tetapi memandang pekerja sebagai manusia yang utuh pula pengakuan, keamanan, hiburan dan lain-lain. Pekerja menginginkan diperlukan sebagai manusia yang utuh. Kebenaran dari pendapat ini dibuktikan dengan hasil penelitian hawthorne sebelum dan sesudah tahun 1930-an. Penelitian ini ingin mengetahui pengaruh sinar terhadap produk-produk pekerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tak ada pengaruh besar kecil-nya sinar terhadap produktivitas karyawan. Justru yang berpengaruh adalah perlakuan yang manusiawi dari atasan kepada bawahan.

 

TEORI-TEORI ILMU PERILAKU

Berbarengan dengan munculnya gerakan Human Relations tersebut, bertebaranlah beberapa teori administrasi dalam administrasi public yang terhimpun dalam teori ilmu perilaku. Disamping Mayo sendiri, para protagonist dalam teori ini antara lain adalah Abraham MosMaslow, Chris Argyis, Douglas McGregor, Waren Benis dan lain-lain. Dari merekalah akhirnya lahir beberapa teori perilaku dalam administrasi public dan bidang studi baru seperti Organizational Behavior dan Organization development.

 

TEORI BIROKRASI JAMES Q WILSON

Kelemahan teori birokrasi klasik yang kurang memperhatikan masalah organisasi, telah melahirkan teori birokrasi moden. Teori birokrasi klasik menganggap hal-hal yang berkenaan dengan organisasi diterima sebagai sesuatu yang benar adanya. Teori ini melihat organisasi dari perspektif structural yang kaku, penekanan yang kaku pada hirarki vertical dan prosedur kerja yang jelas.

Teori birokrasi modern yang dipelopori oleh Wilson (1989) menganggap masalah organisasi sebagai organisasi sebagai unsur utama dalam adminitrasi Publik. Namun berbeda dengan teori birokrasi klasik, teori birokrasi modern mencakup studi tentang keterkaitan antara bagaiman cara (instansi) birokrasi pemerintah diorganisasikan, dipimpin dan dikelola, dengan kinerja (instansi) birokrasi tersebut. Teori ini tak setuju dengan anggapan yang menyatakan bahwa perilaku birokrasi semata-mata rasional dan mementingkan diri sendiri serta semata-mata bersifat maksimalisasi (Dilulio et.al , 1991). Teori ini tampaknya seirama dengan pendekatan resource based management strategy  yang lebih mementingkan efisiensi dan produktivitas factor internal organisasi sesuai dengan tuntutan pasar, sehingga organisasi tersebut lebih unggul dalam persaingan.

Dari beberapa paparan contoh teori dalam administrasi public tersebut jelas bahwa teori administrasi public murni sangat langka. Teori-teori tersebut kebanyakan dipinjam dari disiplin ilmu yang lain yang memang betul-betul dapat dipakai dalam administrasi public. Selain teori tersebut, masih ada teori lain yang sering muncul dan dipakai serta dimanfaatkan oleh administrasi public, seperti teori system dengan black box-nya , teori pasar, teori public, teori interpretative, teori emergence, teori kritis, dan lain-lain.

 

CATUR RANGKA TEORI ADMINISTRASI PUBLIK

Banyak yang dipakai para sarjana administrasi public didalam mengadakan taksonomi. Ada yang berdasarkan asumsi yang dipakai, metodologi, tujuan dan lain-lain. Salah satu taksonomi yang berdasarkan tujuannya telah dibuat oleh Stephen K.Bailey. adapun tujuan teori administrasi public antara lain adalah menggambarkan pandangan-pandangan ilmu kemanusiaan, ilmu social dan ilmu perilaku, serta menerapkan pandangan tersebut di dalam menyempurnakan proses administrasi public. Apabila administrasi public ingin disempurnakan maka paling tidak ada 4 (empat) jenis teori administrasi public yang saling overlap dan saling berhubungan satu sama lain. Pernyataan bailey tersebut  dapat ditafsirkan bahwa peran teori administrasi public sebagai alat untuk mengerti atau memahami apa yang dilakukan oleh administrasi public, juga berperan sebagai pedoman untuk menyempurnakan praktik administrasi public atau hal-hal yang dilakukan oleh administrasi public. Dengan demikian ada 2 dimensi penting dari teori yaitu dimensi deskriptif dan dimensi perspektif. Dua dimensi tersebut dapat dibedakan, namun tidak dapat dipisahkan, karena keduanya saling berkait dan berhubungan. Sebagai contoh misalnya apabila seseorang telah dapat mendiskripsikan sebab-sebab perilaku administrasi, maka temuannya ini akan dapat digunakan sebagai bahan didalam melakukan reformasi administrasi. Suatu penyakit tidak dapat diobati, tanpa terlebih dahulu diketahui sebab-sebabnya. Teori deskriptif menyajikan sebabnya, sedangkan teori perspektif menyajikan obatnya. Karena keterkaitannya yang erat ini maka Bailey tidak memisahkan diantara keduanya. Sedangkan Morrow membedakan diantara keduanya. Morrow berpendapat bahwa deskriptif, teori perspektif, teori normative, teori asumtif, dan teori instrumental (Morrow,1975). Sedangkan Bailey membedakannya atas 4 jenis teori. Teori-teori yang dimaksud adalah :

  • Teori deskriptif-eksplanatif
  • Teori normative
  • Teori asumtif
  • Teori instrumental (Bailey dalam J.Uvegas)

Teori deskriptif berkenaan dengan soal apa dan mengapa, teori normative berkenaan dengan soal apa yang seharusnya dan apa yang baik, teori asumtif berkenaan dengan soal prakondisi dan kemungkinan-kemungkinan, sedangkan teori instrumental berkenanaan dengan soal bagaiaman dan kapan.

Karena keempat jenis teori tersebut saling berangkai, maka keeempat teori tersebut sering disebut dengan Catur Rangkai Teori Administrasi Publik.

 

TEORI DESKRIPTIF – EKSPLANATIF

Model deskriptif-eksplanatif merupakan model yang paling sulit dibangun di dalam administrasi public. Namun mau tidak mau teori ini harus dikembangkan, karena kita dapat mengembangkan sesuatu tanpa mengetahui apa yang akan dideskripsikan dan dieksplanasikan.

Teori deskriptif-eksplanatif merupakan teori yang menggambarkan realitas yang terjadi dalam tubuh administrasi public dan menjelaskan kenapa itu terjadi. Dengan demikian maka teori ini berkaitan dengan pertanyaan what and why. Akhir-akhir ini kecenderungan yang terjadi, apabila mendeskripsikan perilaku dan menjelaskan hubungan, adalah dengan model geometris. Namun disadari juga bahwa model geometris ini terlalu simplistic dan perlu dikembangkan. Dalam karyanya yang berjudul The managing Organiztion, gross menulis tentang hierarchi dan poliarchi pola kekuasaaan yang berganda dalam suatu iron cross seperti diperlihatkan pada bagan 6. bagan 6 Hierarchi dan Poliarchi Pola kekuasaan yang berganda dalam suatu iron cross

Iron cross dalam bagan 6 kalau diperhatikan memang terlalu simplistic, karena tak mampu menggambarkan secara geomertis piramida berganda dengan beberapa titik sentripentalnya. Dan sebagai gantinya, adalah iron cross yang merupakan hasil kompromi. Dalam gambar atau design tersebut  administrasi public dipandang sebagai pimpinan, sekaligus berfungsi pula sebagai makelar yang menjembatani kepentingan organisasi dan kepentiangan anggota. Kewenagannya dibatasi oleh piramida terbalik (diatas kewenanangannya besar dan semakin ke bawah semakin terbatas) dan dibatasi oleh “piramida lateral” (kebijaksanaan yang dikeluarkan) serta dibatasi oleh “sirkulasi angina” yang mem- by pass ruang geraknya. Kalau sudah demikian keadaannya, siapakah yang akan mengatakan bahwa model tersebut merupakan model yang akurat dan lengkap di dalam menggambarkan realitas administrasi public?

Atas dasar kekurangan dan kelebihan iron cross itulah maka teori deskriptif-eksplanatif membentuk model lain yang lebih canggih yaitu tipologi atau kategorisasi atau klasifikasi. Semua fenomena mempunyai karakteristik yang berbeda. Organisasi yang dipenuhi dengan pegawai yang mempunyai kecakapan tinggi akan berbeda dengan organisasi yang hanya memiliki sedikit atau tidak memiliki pegawai yang mumpuni, baik dalam perilaku maupun dalam system komunikasinya. Sebagai konsuekensinya maka problema yang dihadapi pun juga berbeda-beda.

Kalau administrasi public hanya mengandalkan pada model tipologi, sulit dibayangkan administrasi public akan berkembang. Sebab model tipologi ini pun sifatnya juga statis dan spasial. Oleh karena itu orang mulai beralih ke model teoritik yang sifatnya temporal yakni model analisis system.

Dari paparan tadi dapat disimpulkan bahwa teori administrasi public yang deskriptif-eksplanatif adalah berkaitan dengan pertanyaan apa dan mengapanya fenomena administrasi public. Adapun model teoritik yang termasuk ke dalam teori ini adalah model geometris, model tipologi dan model analisis system.

 

TEORI NORMATIF

Sesuai dengan namanya maka teori ini merupakan teori yang di dalamnya penuh dengan tuntutan normative. Apa yang seharusnya dan apa yang sebaiknya merupakan ciri utama dari teori ini. Karena sifatnya demikian maka dalam teori penuh dengan jargon-jargon ideal seperti efisiensi, aparatur yang bersih dan berwibawa, demokratis, responsiveness, rentang kendali yang menagable, dan pelayanan yang berorientasi pada public.

Dalam batas-batas tertentu jargon-jargon ini memang diperlukan, dalam kaitannya dengan penentuan standard performance administrasi public. Kita tidak bisa menentukan apakah didalam tubuh administrasi public adalah sudah terjadi kemanjuan atau tidak, selama ukuran-ukuran normative tentang kemajuan belum dirumuskan. Demiian juga kita tidak dapat menentukan apakah administrasi public yang dimiliki oleh suatu Negara itu efisien atau tidak, sepanjang ukuran memang efisiensi belum dirumuskan.

Demikian pula halnya kita tidak bisa menentukan apakah struktur organisasi suatu departemen perlu dirampingkan, dirasionalisasikan, atau bahkan di disfungsionalisasikan, akan sangat tergantung dari ada tidaknya ukuran tentang  ramping tidaknya suatu birokrasi. Dari ukuran-ukuran tentang sesuatu yang ideal itulah kita akan dapat menentukan apakah suatu dinas atau kanwil disuatu Dati 1 harus hapus atau tidak. Postulat-postulat normative dalam teori ini banyak ditemui misalnya dalam bidang etika administrasi public, administrasi kepegawaian, pembahuruan administrasi dan lain-lain. Dalam kajian bidang studi inilah banyak ditemui cita-cita ideal atau cita-cita utopis administrasi public.

TEORI ASUMTIF

Dua komponen administrasi public adalah manusia dan institusi. Oleh karena itu maka dalam praktik administrasi public 2 komponen ini harus mendapat perhatian utama. Sehingga asumsi tentang hakikat manusia harus diperhatikan dalam praktik administrasi public sehari-hari. Kesalahan tentang asumsi terhadap manusia dan institusi akan berakibat fatal terhadap praktik administrasi public. Memandang terlalu rendah manusia dan memandang  institusi terlalu patuh, mengakibatkan penyempuranaan administrasi public akan kedengaran lucu dan mustahil. Terlalu tinggi memandang manusia dan memandang terlalu patuh institusi akan menyebabkan frustasi dan kepahitan.

Berbagai teori asumtif yang kita kenal anatara lain adalah teori X dan teori Y, teori motivasi Taylor dan sebagainya. Taylor mempunyai asumsi bahwa manusia itu kalau melihat uang matanya akan berubah hijau, Teori X berasumsi bahwa manusia itu pada hakikatnya malas , dan teori Y berasumsi bahwa manusia itu pada hakikatnya rajin.

 

TEORI INSTRUMENTAL

Jika pada teori deskriptif berkenaan dengan apa dan kenapa, teori normative berkenaan dengan should dan good, teori normative berkenaan dengan prakondisi dan kemungkinan, maka teori instrumental berkenaan dengan pertanyaan bagaimana dan kapan. Teori ini merupakan pelaksanaan “maka” dari dalil “jika maka” . jika desentralisasi akan menaikkan unjuk kerja (performance), jika motivasi uang akan menaikkan produktivitas, jika ini dan itu akan begini begitu dan seterusnya maka teknik apa dan alat apa yang harus dipakai, serta kapan waktu yang tepat? Teori ini dengan demikian, banyak berkenaan dengan bagaimana caranya mengajarkan sesuatu, how to do it. Buku Dale Carnegie yang berjudul How to win Friends and influence People banyak berisi tentang petunjuk atau resep how to do it tersebut.

Dengan paparan diatas maka tujuan teori administrasi public adalah mengungkapkan realitas, mempostulatkan sifat baik, mencanggihkan asumsi tentang kapasitas manusia dan institusi serta mengembangkan instrument yang workable (dapat dipakai), menyempurnakan, meningkatkan baik alat maupun tujuan administrasi public yang demokratis.

Source : Zauhar, Soesilo. 1996.  Administrasi Publik. Malang : IKIP MALANG.

Note ini ditulis kembali oleh Celine Santoso, mungkin perbedaan hanya pada tanda baca/bagan.


No Comments »

No comments yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>