Research Diary : Isolation of serum

Before and after we collected our rat induced blood. Our blood incubation for 3 hours, after which we took the serum that appears on the surface of blood clots. To get a good serum, the serum we centrifuge for 15 minutes at a speed of 3000 rpm. Serum obtained ready to do the next test.

DSC03323

Research Diary : The Day Induction

On the day of induction of thyroglobulin in mice, before we took the blood, weigh and measure the body temperature. In some literature mice with autoimmune thyroiditis will experience a decrease in Graves’ Disease and Hashimoto increase in Thyroidtis. While the rise in body temperature occurs when there is a reaction caused by the induction of immunity.

catsaa

Research Diary : Isolated Thyroglobulin

Ready isolated thyroid. Thyroid then weighed and then crushed with a mortar and a few cold solution of cell membrane destruction. Then take part after the centrifuged supernatant, then added absolute ethanol in order to precipitate the protein. After waiting overnight did we obtain the protein thyroglobulin.

DSC03108

Research Diary : Collecting Thyroid Capra hircus

The first procedure we had to do to make animal models of autoimmune thyroiditis are looking thyroid from goats. We get it from the slaughter iwan in Karangploso. Thyroid we obtained then we enter the PBS solution Asida then stored in the freezer. Having considered then we are ready to isolate the protein from the thyroid to obtain thyroglobulin.

DSC02979

My Research Team

This month i start my research, i have big team, with broken heart girl, with unfocus boy, with extraordinary girl, with garrulous supervision and other different character people. But they are my new family. Laughing, eating, thinking, working and  reaching dreams together in joy and soorow.

cats

ILMU SATWA LIAR DAN AKUATIK : SISTEM REPRODUKSI UDANG

ILMU SATWA LIAR DAN AKUATIK

SISTEM REPRODUKSI UDANG

Disusun oleh

   Wakhidatus Inrya

        0911310027


PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2011

 

 

A. MORFOLOGI DAN KLASIFIKASI

Udang adalah binatang yang hidup di perairan, khususnya sungai, laut, atau danau. Udang dapat ditemukan di hampir semua genangan air yang berukuran besar baik air tawar, air payau, maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan. Adapun klasifikasi ilmiah udang adalah sebagai berikut :

Kingdom         : Animalia

Filum               : Arthropoda

Subfilum         : Crustacea

Class                : Malacostraca

Ordo                : Decapoda

Subordo          : Pleocyemata

Subfamily        : Alpheoidea, atyoidea, bresilioidea, campylonotoidea, crangonoidea,

                          galatheacaridoidea.

Badan udang  terdiri ruas-ruas yang ditutup dengan kulit keras, tak elastis dan terdiri dari zat chitin. Badan udang galah terdiri dari tiga bagian yaitu bagian kepala dada (Cephalothiorax), badan (abdomen) dan ekor (uropoda). Bagian cephalothorax dibungkus oleh kulit keras yang disebut carapace. Pada bagaian depan terdapat tonjolan  yang bergerigi disebut rostrum. Secara taksonomi rostrum mempunyai fungsi sebagai penunjuk jenis (species).

Udang memiliki ekor berotot panjang, mempunyai jepit pada appendiknya. Ukuran jepit bervariasi antar spesies. Beberapa udang memiliki cakar, memiliki karapas yang langsing dan halus. Mata berada di batang mobile setiap sisi di atas antena panjang. Tubuh berakhir dengan sebuah kipas ekor terdiri dari telson datar dan sepasang uropods.

Udang merupakan satwa akuatik yang bersifat hermaprodit protandri, artinya hewan yang di dalam tubunhya mempunyai gonad yang mengadakan proses diferensiasi dari fase jantan ke fase betina. Di saat masih muda, gonadnya mempunyai daerah ovarium dan daerah testes, tetapi jaringan testes mengisi sebagian besar gonad pada bagian lateroventral ( testes lebih berkembang). Setelah jaringan testes berkembang, testes akan berfungsi dan mengeluarkan sperma, setelah itu akan terjadi masa transisi dimana jaringan ovarium akan membesar dan testesnya akan mengkerut. Hewan akuatik lainnya yang memiliki sifat hermaprodit protandri adalah Lates carcariver, Sparus auratus, Sargus anularis, Pagellus centrodontus, dan Pagellus mormyrus (Ghufran et all, 2010).

B. REPRODUKSI UDANG

Alat reproduksi  udang jantan terdiri dari organ internal yaitu sepasang vas deferen dan sepasang terminal ampula, dan organ eksternal yaitu petasma yang terletak pada kaki jalan yang ke-5 dan sepasang appendik maskulina yang terletak pada kaki renang ke-2 yang merupakan  cabang ke-3 dari kaki renang. Fungsi alat kelamin eksternal udang jantan adalah untuk menyalurkan sperma dan meletakkan spermatophora pada alat kelamin betina (thelikum), sehingga telur yang akan keluar dari saluran telur (oviduct) ke tempat pengeraman akan dibuahi oleh sperma dari thelikum tadi.  Petasma ini merupakan modifikasi bagian endopodit pasangan kaki renang pertama (Agus, 1993). Udang betina alat reproduksinya terdiri dari organ internal yaitu sepasang ovarium dan sepasang saluran telur dan organ eksternal yaitu thelikum yang terletak  diantara kaki jalan ke-3.  Pada bagian dalam thelikum terdapat spermatheca yang berfungsi untuk menyimpan spermatophora setelah terjadi kopulasi (Agus, 1993).

Udang biasa kawin di daerah lepas pantai yang dangkal. Proses kawin udang meliputi pemindahan spermatophore dari udang jantan ke udang betina. Peneluran bertempat pada daerah lepas pantai yang  lebih dalam. Telur-telur dikeluarkan dan difertilisasi secara eksternal di dalam air. Seekor udang  betina mampu menghasilkan setengah sampai satu juta telur setiap bertelur. Dalam waktu 13-14 jam, telur kecil tersebut berkembang menjadi larva berukuran mikroskopik yang disebut nauplii/ nauplius (Perry, 2008). Tahap nauplii tersebut memakan kuning telur yang tersimpan dalam tubuhnya lalu mengalami metamorfosis menjadi zoea. Tahap kedua ini memakan alga dan setelah beberapa hari bermetamorfosis lagi menjadi mysis. Mysis mulai terlihat seperti udang kecil dan memakan alga dan zooplankton. Setelah 3 sampai 4 hari, mysis mengalami metamorfosis menjadi  postlarva. Tahap  postlarva adalah tahap saat udang sudah mulai memiliki karakteristik udang dewasa. Keseluruhan proses dari tahap nauplii sampai postlarva membutuhkan waktu sekitar 12 hari. Di habitat alaminya,  postlarva  akan migrasi menuju estuarin yang kaya nutrisi dan bersalinitas rendah. Mereka tumbuh di sana  dan akan kembali ke laut terbuka saat dewasa. Udang dewasa adalah hewan bentik yang hidup di dasar laut (Anonim 2, 2008).

Sistem reproduksi  udang betina terdiri dari sepasang ovarium, oviduk, lubang genital, dan thelycum. Oogonia diproduksi secara mitosis dari epitelium germinal selama kehidupan reproduktif dari udang betina. Oogonia mengalami meiosis, berdiferensiasi menjadi oosit, dan menjadi dikelilingi oleh sel-sel folikel. Oosit yang dihasilkan akan menyerap material kuning telur (yolk) dari darah induk melalui sel-sel folikel (Wyban et al., 1991).

Organ reproduksi utama dari udang jantan adalah testes, vasa derefensia, petasma, dan apendiks maskulina. Sperma udang memiliki nukleus yang tidak terkondensasi dan bersifat nonmotil karena tidak memiliki flagela. Selama perjalanan melalui vas deferens, sperma yang berdiferensiasi dikumpulkan dalam cairan fluid dan melingkupinya dalam sebuah  chitinous spermatophore (Wyban  et al., 1991). Menurut Dunham (1978) dalam Yano, et al (1988), bahwa adanya perilaku kawin pada krustasea disebabkan adanya feromon. Udang jantan hanya akan kawin dengan udang betina yang memiliki ovarium yang sudah matang.  Kontak antena yang dilakukan oleh udang jantan pada udang betina dimaksudkan untuk pengenalan reseptor seksual pada udang (Burkenroad, 1974, Atema et al., 1979, Berg and Sandfer, 1984 dalam Yano, et al., 1988). Proses kawin alami pada kebanyakan udang biasanya terjadi pada waktu malam hari (Berry, 1970, McKoy, 1979 dalam Yano, 1988).

Betina mencapai kematangan gonad pada berat tubuh 20 gram, tetapi fekunditas yang baik dicapai pada ukuran 50 gram ke atas atau panjang tubuhnya 18,1-229 mm. Sedangkan induk jantan kematangan gonadnya tidak dapat diketahui secara visual,  namun berdasar beberapa hasil penelitian menunjukkan  bahwa udang dengan panjang 155 dapat melakukan perkawinan , Berdasarkan literature, Uno (1969) membagi perkembangan gonad udang menjadi  4  stadia, yaitu:

Stadia I   : Garis ovarium kelihatan berwarna hijau kehitaman, kemudian volumenya bertambah besar.  Pada akhir stadia I, garis ini sudah sangat jelas dan terlihat membentuk segi 6 dengan sudut yang menghadap ke arah rostrum, runcing memanjang pada bagian dorsal cephalothorax.

Stadia II  : Warna dan bentuk ovarium semakin jelas dan tebal. Pada akhir stadia II ini warna ovarium tampak kuning dan bentuknya semakin lebar ke arah belakang rostrum.

Stadia III : Warna ovarium berubah menjadi kuning tua dan volumenya berkembang ke arah samping cephalothorax. Pada akhir stadia II ini warana ovarium berubah menjadi orange dan organ eksternalnya yaitu thelikum dan spermatheca (kantong penyimpan spermatophora) semakin berkembang sebagai tanda udang telah siap kawin.

Stadia IV  : Setelah semua telur terovulasi maka warna dan bentuk gonad dapat dibedakan dari stadia 3 yaitu warnanya semakin hijau pucat dan volumenya semakin mengecil dengan ditandai adanya garis putus-putus. Tanda ini dalam 2 hari akan hilang.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim , 2008.  Shrimp Farm. Diperoleh dari : http://en.wikipedia.org/wiki/Shrimp _farm

Agus Murtidjo, B, 1993. Budidaya Udang galah sistem monokultur. Penerbit Kanisius.

Hadie , W dan Supriyatna, 1984. Pengembangan udang galah dalam hatchery dan budidaya. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

M. Ghufran H. Kordi K. & Andi Tamsil.2010. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis Secara Buatan. LILY PUBLISHER. Yogyakarta

Perry,Harriet M. 2008. Marine Resources and History of the Gulf Coast. Diperoleh dari :  http://www.dmr.state.ms.us/dmr.css

Uno , Y and Soo Kl, 1969. Larval development of M. Rosenbergii (de Man) in the Laboratory. Journal of Tokyo University of Fisheries (55); 2;179.

Wyban, James A., Sweeney, James. 1991.  Intensive Shrimp Production Technology. The Oceanic Institute. Hawaii

Yano, I. RA Kanna, RN Oyama.1988. Mating Behavior in the Penaeid Shrimp Penaeus vannamei. Marine Biology. 97:171-175

Yano, I. B. Tsukimura, J.N.1988.  Induced ovarian maturation of Penaeus vannamei by implantation of lobster ganglion. Journal of the World Aquaculture Society. 19(4): 204- 209.

MEDICAL TERMINOLOGI : Pangan Asal Hewan

PANGAN ASAL HEWAN (PAH) YANG AMAN,SEHAT,UTUH,HALAL

(ASUH)

Disusun oleh

Dwi Ayu                     091131000

Faizal Agung               091131000

Galuh Chandra            091131000

Mardiana Sartono       0911310013

Wakhidatus Inrya       0911310027

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2009

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Di era perdagangan bebas posisi komoditas peternakan Indonesia akan semakin sulit dan memprihatinkan. Berbagai negara maju di dunia sudah mulai melakukan berbagai cara untuk menghambat ekspor Indonesia, bukan hanya dengan tarif atau proteksi melainkan melalui hambatan teknis dan isu lingkungan. Cara-cara ini dapat mengakibatkan lemahnya  daya saing produk peternakan Indonesia dan hal ini merupakan tantangan bagi

Indonesia sebagai implikasi perdagangan bebas yang benar-benar perlu mendapatkan perhatian. Untuk menghadapi tantangan dimasa mendatang, maka Indonesia harus mampu menghasilkan pangan asal hewan yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH). Keamanan pangan (food safety) merupakan persyaratan utama yang  menjadi semakin penting tidak saja untuk kesehatan penduduk Indonesia akan tetapi juga untuk seluruh konsumen yang mengkonsumsinya. Kejadian yang muncul belakangan ini menunjukkan bahwa keamanan pangan mendapat perhatian yang semakin serius di dunia seperti kasus penyakit Sapi Gila (Mad Cow Disease), Foot and Mouth Disease, Flu Burung (Avian Influenza), kontaminan akibat mikroba menimbulkan kasus keracunan makanan dan kasus residu obat hewan pada ikan sehingga ekspor udang Indonesia ditolak serta adanya pemalsuan pada produk hewan dengan bahan pengawet dan pewarna (formalin, borak, nitrat, dll). Tuntutan konsumen dalam hal keamanan pangan akan semakin tinggi seiring dengan pemerataan pendidikan bagi masyarakat dan meningkatnya  pendapatan. Aspek keamanan dari suatu produk bukan hanya berarti tidak mengandung bibit penyakit yang dapat menular kepada manusia, akan tetapi juga tidak mengandung residu yang dapat membahayakan kesehatan manusia

 1.2 Dasar Hukum

  1. Undang – Undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Pokok Peternakan dan

            Kesehatan Hewan

  1. Undang – Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan

           dan Tumbuhan

  1. Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan
    1. Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Bab III

            Pasal 4)

  1. Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 1983 tentang Kesehatan

            Masyarakat Veteriner

1.3 Rumusan Masalah

         1. Apa ASUH dan bagaimana penerapannya ?

2. Apakah peran dokter hewan dalam pelaksanaan pengawasan produk pangan asal

             hewan yang  aman, utuh, sehat, dan halal ?

1.4    Tujuan

  1. Untuk mengetahui ppoduk pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh, dan halal
  2. Untuk menetahui peran dokter hewan dalam pengawasan peredaran produk pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh, dan halal

 BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Pangan Asal Hewan Yang Aman, Sehat, Utuh, Halal

Sudah menjadi tugas seorang dokter hewan untuk mengawasi proses pengolahan produk makanan asal hewan dari peternakan hingga ke meja makan, atau yang biasa kita kenal save from farm to table. Pangan asal hewan yang akan dikonsumsi oleh masyarakat harus aman dan layak karena  setiap orang berhak untuk memperoleh pangan yang cukup bergizi & aman dikonsumsi (Deklarasi FAO/WHO (1992) pada International Conference on Nutrition). Pangan harus aman (safe) & layak (suitable for human consumption) (Code of Hygienic Practice, Codex Alimentarius Commission). Seperti halnya yang dijelaskan pada undang – undang bahwa setiap orang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan kegiatan atau proses produksi, penyimpanan, pengangkutan, dan atau peredaran pangan wajib:  memenuhi persyaratan sanitasi, keamanan, dan atau keselamatan manusia …  (UU No 7 Tahun 1996 tentang Pangan, Bab II Pasal 7 ayat a). Hak konsumen adalah hak atas kenyamanan, keamanan & keselamatan dlm mengkonsumsi barang dan atau jasa (UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Bab III Pasal 4).

Bahan pangan yang akan dikonsumsi oleh masyarakat harus berprinsip ASUH. Adapun yang dimaksud dengan ASUH adalah :

  1. Aman yaitu tidak mengandung bahaya-bahaya biologis, kimiawi dan fisik atau bahan-bahan yang dapat mengganggu kesehatan manusia .
  2. Sehat yaitu mengandung bahan-bahan yang dapat menyehatkan manusia (baik untuk kesehatan).
  3. Utuh yaitu tidak dikurangi atau dicampur dengan bahan lain.
  4. Halal yaitu sesuai dengan syariat agama Islam.

2.2 Keamanan Pangan Asal Hewan

Adapun beberapa definisi mengenai keamanan pangan, diantaranya adalah jaminan bahwa pangan tidak akan menyebabkan bahaya bagi konsumen saat disiapkan dan atau dikonsumsi sesuai dengan tujuan penggunaannya  (Codex Alimentarius 1997), serta kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia (UU no. 7/1996 tentang Pangan). Selain itu, demi memenuhi kecukupan gizi bagi masyarakat diperlukan beberapa produk tambahan. Sesuai dengan perkembangan jaman, produk-produk tersebut diproduksi dengan proses bioteknologi.

Dan sesuai dengan perkembangan teknologi, bahan pangan dapat diproduksi dengan proses bioteknologi  masih harus berprinsip pada ASUH pula terutama pada produk yang berasal dari hewani. Dengan demikian kelayakan dan keamanan bahan pangan untuk masyarakat dapat terjamin. Dan dapat diingat pula bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat akan bertambah.

Pangan asal hewan adalah media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme karena mengadung zat gizi tinggi, pH mendekati 7.0, aktivitas air >0.80 . Pangan asal hewan dikategorikan pangan mudah rusak (perishable food) & pangan berpotensi mengandung bahaya (potentially hazardous food/PHF) maka dari itu perlu penanganan yang higienis & baik.  Hal ini dikarenakan 75% penyakit-penyakit baru yang menyerang manusia dalam 20 tahun terakhir disebabkan oleh patogen yang berasal dari hewan atau produk hewan (WHO 2005). Bahaya-bahaya (hazards) yang mungkin terdapat dalam pangan:

M Bahaya biologis:  bakteri, kapang, kamir, riketsia, virus, cacing, protozoa, prion

M Bahaya kimia:  residu antibiotik, residu hormon, cemaran logam berat, pestisida, toksin alami, mikotoksin, cemaran lain

M Bahaya fisik:  kerikil kecil, serpihan kaca, serpihan kayu, besi.

2.3 Masalah Pangan Asal Hewan

Masalah pangan asal hewan di Indonesia banyak sekali. Mulai dari cemaran mikroorganisme dan mikotoksin,  mengandung residu maupun formalin pada daging sapi maupun ayam, bahkan permainan curang para pedangang untuk menyuntikan air pada daging atau yang biasa disebut dengan glonggongan untuk keuntungan semata.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah sudah melaksanakan  melaksanakan PMSR (program monitoring dan surveilans residu)  oleh BPMPP, BPPV dan Lab Kesmavet. Tetapi masih banyak kendala yang ditemui diantaranya praktek higiene dan sanitasi yang masih kurang, tidak ada pengawasan dan pemeriksaan yang konsisten (pemeriksaan hewan dan daging di RPH), penegakan hukum yang lemah, belum adanya SISTEM  khususnya KESMAVET.

2.4 Higiene Sanitasi

Sanitasi adalah menciptakan segala sesuatu yang higienis dan kondisi yang menyehatkan, sedangkan higiene adalah seluruh tindakan untuk mencegah atau mengurangi kejadian terhadap kesehatan. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa sanitasi dilakukan terhadap lingkungan sekitar pangan, dan hygiene dilakukan terhadap pangan dan personal (yang berhubungan langsung dengan bahan makanan tersebut). Kedua perlakuan ini mutlak diperlukan untuk menjaga kebersihan dan kehigienisan suatu produk pangan asal hewan.

2.5 Good Hygienic Practice

Good Hygienic Practice / GHP (all practices regarding the conditions and measures necessary to ensure the safety and suitability of food at all stages of the food chain ) adalah seluruh praktek yang berkaitan dengan kondisi dan tindakan yang dibutuhkan untuk menjamin keamanan dan kelayakan pangan pada seluruh tahapan dalam rantai pangan (Codex Alimentarius Commission 2005). Tujuan GHP/GMP adalah  menghasilkan pangan yang aman (safe) dan layak (suitable) untuk dikonsumsi yang dirujuk dari peraturan-perundangan (pemerintah atau perusahaan), SNI, Code of Hygienic Practice (Codex Alimentarius Commission), atau hasil penelitian.  GHP/GMP dijabarkan lebih lanjut dalam Standard Operating Procedures (SOP).  Penerapan GHP pada penyediaan pangan asal hewan bersifat penting pada penerapan konsep safe from farm to table atau konsep aman dari peternakan sampai dikonsumsi.

BAB III

KESIMPULAN

 

  1.  Bahan pangan yang beredar di masyarakat harus memenuhi prinsip ASUH yaitu Asli, Sehat, Utuh dan Halal. Pangan asal hewan dikategorikan sebagai pangan mudah rusak dan PHF, sehingga perlu penerapan sistem jaminan keamanan & kualitas pangan, dengan konsep safe from farm to table .
  1. Peran dokter hewan dalam peredaran produk pangan asal hewan ini adalah sebagai pengontrol dan pengawas penyebaran produk pangan asal hewan. Sehingga masyarakat memiliki pengetahuan untuk berwaspada terhadap  bahan pangan yang berasal dari hewani yang akan dikonsumsi

EMBRIOLOGI : Tugas

EMBRIOLOGI

FERTILISASI PADA CACING TANAH

(Lumbricus terrestris)

 

Makalah Ini Disusun Sebagai Tugas Akhir Semester I

Pendididikan Dokter Hewan Program Studi Kedokteran Hewan

Disusun oleh

Rendy Ocky               0911310024

Samha Solikhatin      0911310025

Viki Agita                   0911310026

Wakhidatus Inrya     0911310027

PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2009

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Cacing tanah bermanfaat sebagai bahan obat, pakan ternak, bahan kosmetik, makanan manusia, dan vermicomposting. Ada Beberap jenis dari Cacing tanah diantaranya seperti Lumbricus rubellus, Eisenia foetida, Pheretima sp. Secara biologis cacing tanah berstruktur silindris, simetri bilateral, bersegmen, hermafrodit, serta bertelur (Muh. Ilyas. 2009). Cacing tanah merupakan hewan invertebrata atau hewan tak bertulang belakang (Kuncung, A. 2008).

Adapun klasifikasi dari cacing tanah adalah sebagai berikut :

Nama Latin            : Lumbricus sp 

Phylu                      : Annelida

Sub phylum            : –

Ordo                       :  Opisthopora

Family                    : Lumbricidae

Genus                     :  –

Spesies                   :  Lumbricus terrestris

Genus                     : Oligochaeta

Nama Daerah         :  Earthworm Cacing tanah

Perkembangbiakan hewan Invertebrata dibagi menjadi dua, yaitu Generatif (kawin) dan Vegetatif (tak kawin). Perkembangbiakan secara generatif adalah perkembangbiakan dengan cirri penyatuan gamet, yaitu sperma dan ovum atau yang dikenal dengan sebutan pembuahan (fertilisasi). Fertilisasi adalah pembuahan, bersatunya ovum dan sperma. (Virda, 2008). Perkembangbiakan generatif pada hewan meliputi perkembangbiakan dengan konjungsi dan pleburan dua sel gamet. Konjugasi yaitu perkembangbiakan secara kawin pada organisma yang belum jelas alat kelaminnya, contohnya Spirogyra. Sedangkan peleburan dua sel gamet, dapat terjadi pada hewan yang telah memiliki alat kelamin tertentu, sebagai contoh pada cacing tanah terjadi perkawinan silang antara dua cacing yang kawin.  Cacing tanah tergolong hewan hermafrodit yang memiliki alat kelamin jantan dan berin pada satu tubuh. Selain cacing tanah yang tergolong hermafrodit antara lain cacing pita,  siput darat dan bekicot (Mustang, 2009)
Salah satu hal yang paling menakjubkan tentang cacing adalah bahwa mereka dapat hidup selama bertahun-tahun selama kondisi iklim dan benar.  Tubuh cacing secara kasar terdiri dari sembilan puluh persen air. Selain itu, ketika cacing mati, tubuh mereka hanya menjadi bagian dari kompos di dalam tanah dan di seluruh kehidupan dan kematian mereka, mereka sedang membantu tanah dengan banyak cara (Gift, A. 2009).

1.2  Rumusan Masalah

  1. Bagaimana Sistem Reproduksi Cacing Tanah ?
  2. Bagaimana Proses Fertilisasi Pada Cacing Tanah ?

1.3  Tujuan

  1. Untuk mengetahui sistem reproduksi cacing tanah secara umum.
  2. Untuk mengetahui bagaimana cacing tanah menghasilkan keturunannya

1.4  Manfaat

Bagi masyarakat :

Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai cacing tanah dalam bereproduksi.

Bagi Mahasiswa :

Memahami bagaimana cacing tanah menghasilkan keturunannya serta bagaimana mereka bereproduksi.

Bagi Peneliti

Memberikan alternatif bahan penelitian mengenai cacing tanah.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Fertilisasi Cacing Tanah

       Sebagian besar invertebrata melakukan reproduksi secara seksual. Reproduksi seksual dicirikan dengan penyatuan gamet (fertilisasi), yaitu sperma dan ovum. Fertilisasi pada invertebrata sering dijumpai pada cacing tanah yang bersifat hermafrodit (satu individu menghasilkan sperma dan ovum). Meskipun hermafrodit, cacing tanah tidak dapat melakukan fertilisasi sendiri, melainkan dengan pasangan cacing tanah lainnya (Adi kuncung, 2008). Bagi hewan hermafrodit, pembuahan tetap harus terjadi dengan dua individu yang berbeda. Ambil contoh pada cacing tanah, pembuahan sendiri susah terjadi, karena lubang pelepasan sperma berjauhan dengan lubang pelepasan sel telur (Warso, 2009).

Reproduksi cacing tanah  didahului dengan kopulasi. Dua cacing tanah berlekatan dengan saling tebalik.  Kepala cacing tanah A, ada di sebelah belakang cacing tanah B. mereka saling berdekatan dengan dibantu oleh lender yang dikeluarakan oleh klitelum. Sementara terjadi kopulasi, cacing A mengeluarkan dan memasukan spermatozoa ke dalam kantung penyimpanan spermatozoa (reseptakel seminal) dari cacing B demikian sebaliknya cacing B. setelah kawin cacing berpisah. Lalu masing – masing mengeluarkan lender berbentuk gelang yang disebut kokon. Kokon ini juga berasal dari klitelum. Kemudian galang lender akan bergerak kedepan (kearah kepala). Saat gelang lender melawati lubang pelepasan sel telur dan lubang yang berasal dari kantung penyimpan sperma (reseptakel seminal = spermatozoanya dari cacing lain), maka sel telur dan spermatozoa berada dalam gelang lender tadi. Pembuahan terjadi di dalam gelang lender, seterusnya telur yang sudah di buahi tersebut lepas dari tubuh cacing (Onled, 2009).

Cacing tanah harus kawin untuk mereproduksi, meskipun salah satu cacing tanah mengandung baik laki-laki dan perempuan organ reproduksi.  Telur terbentuk dalam tabung lendir yang tergelincir di atas kepala cacing dan bentuk  kepompong atau kapsul yang incubates mereka.  Telur berkembang menjadi cacing-cacing kecil di kepompong dan merangkak keluar melalui salah satu ujungnya ketika mereka siap untuk muncul.  Kepompong bervariasi dalam ukuran dan bentuk dan sekitar 1 / 25 atau 1 / 3 inch panjang.  Beberapa cacing jatuh tempo cepat matang tiga sampai empat bulan setelah menetas dan akan memulai siklus berkembang biak mereka.  Telur diletakkan di atas tanah pada interval satu bulan, dengan  setiap telur kapsul berisi 5-15 bayi cacing. (Elliott, j .2003)

                                     Gb. 1 Proses Fertilisasi pada Cacing

Di Kanada perkawinan berlangsung hampir sepanjang musim panas, tetapi di daerah yang lebih selatan dari wilayah cacing paling sering melakukan perkawinan adalah awal musim semi dan akhir musim gugur.  Walaupun cacing tanah memiliki keduanya perempuan dan laki-laki organ seks, mereka masih perlu pasangan untuk bereproduksi. Tidak berbeda ras manusia, cacing pergi tentang menemukan pasangan sembarangan. Mereka seperti hanya tersandung ke pasangan mereka, dengan mengandalkan pada kepekaan ekstrem mereka, ingat cacing tidak dapat melihat atau mendengar, dari tanah mendeteksi getaran. Mereka benar-benar merasakan tanah bergetar atau rumput bergerak ketika cacing lain bergerak melalui itu. Ketika cacing mengenal calon pasangan adalah dekat ia akan mulai mencari di daerah dengan ujung tubuhnya sampai ia berlari ke cacing lain. Ketika mereka menyentuh slide di samping satu sama lain dan berguling di sisi mereka-satu menghadap kiri kanan yang lain. ( Elliot, 2003)

Setiap cacing memiliki empat sepasang setae, ini seperti bulu pada sikat rambut dan dapat diperpanjang keluar atau ditarik kembali ke dalam tubuh cacing. Set ketiga setae digunakan dalam proses perkawinan. Mereka digunakan untuk memegang cacing tanah bersama-sama ketika kawin. Setae ini benar-benar menembus tubuh pasangan selama perkawinan bertindak. Begitu mereka berada di posisi, sperma dari setiap cacing lolos ke yang lain dan dikumpulkan dan disimpan dalam karung khusus. Proses berlangsung 2 hingga 3 jam. Terpisah pada cacing tanah dan kembali ke terowongan. ( Elliot, 2003)

Pada bagian kedua dari proses reproduksi, berlendir khusus zat yang dihasilkan oleh clitellum (beberapa menyebut ini seks band) membentuk lumpur di sekitar tabung cacing tanah. Lalu ia merangkak mundur ke dalam terowongan dan slip depan tabung lendir dari tubuhnya. Seperti halnya, itu melewati laki-laki dan perempuan bukaan, telur (dari orangtua) dan sperma (dari pasangan) dilepaskan dari tubuh. Pembuahan terjadi di luar tubuh, tetapi dalam perlindungan lendir tabung. Begitu bebas dalam tanah, tabung lender mongering, menyusut dan membentuk sebuah pelindung yang mencakup lebih dari telur, Pada pase ini biasa disebut kepompong. ( Gift, 2009)

Gb. 2 Daur hidup cacing tanah

Kepompong didepositkan cacing jauh di dalam terowongan di bawah garis embun beku. cacing tanah biasanya menetas dalam waktu 30 hingga 60 hari, tetapi beberapa kokon dapat tetap di dalam tanah selama bertahun-tahun sebelum keturunan muncul. Telur akan tetap berada dalam kokon hampir selamanya. Bahkan, cacing tidak dapat melepaskan diri dari kepompong. Mereka harus dibebaskan dari luar. Mereka hanya akan menetas jika dan ketika kondisi tepat untuk kelangsungan hidup mereka. Jika tidak ada cukup tanah bakteri (jenis yang baik) cacing tidak akan dirilis. Bakteri itu sendiri meluruh bagian luar dari kepompong membiarkannya melepaskan cacing. (Gift, 2009)

Setelah mereka menetas dibutuhkan dua hingga empat tahun, untuk mencapai kematangan seksual. Ketika cacing dewasa mereka bisa kawin dengan cacing tanah lain yang mereka temui. Cacing dikatakan siap melakukan fertilisasi ketika sebuah cacing adalah  apabila sekitar empat sampai enam minggu cacing akan mulai membentuk band putih di sekeliling kepala, yang disebut clitellum. Di sinilah tempat kedua organ reproduksi itu berada. (Elliot, 2003)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

  1. Sistem reproduksi pada cacing tanah adalah generatif, Walaupun cacing merupakan hewan hemaprodit yang artinya memiliki dua jenis alat kelamin yang berbeda dalam satu individu (Testis dan Ovum), akan tetapi pematangan sel kelamin/gamet dari kedua jenis alat kelamin itu berbeda waktunya. Waktu pematangan sel sperma pada testis berbeda dengan waktu pematangan sel telur/ovum pada ovarium. Waktu pematangan sel gamet ini tidak pernah terjadi secara bersamaan dalam satu individu.
    Jadi, walaupun salah satu alat kelamin cacing telah siap melakukan proses pembuahan, alat kelamin yang lainnya masih dalam proses pematangan sel gamet yang artinya belum siap melakukan pembuahan. Hal inilah yang menyebabkan cacing tidak dapat melakukan pembuahan sendiri. Diperlukan minimal dua individu untuk melakukan reproduksi dan pembuahan pada cacing.
  2. Proses fertilisasi dimulai ketika bagian clitellium mengeluarkan lendir à kopulasi antar dua cacing (saling berdekatan)àmasing – masing mengeluarkan lender berbentuk gelang yang disebut kokon à galang lender akan bergerak kedepan (kearah kepala) à gelang lender melawati lubang pelepasan sel telur dan lubang yang berasal dari kantung penyimpan sperma (reseptakel seminal = spermatozoanya dari cacing lain) à sel telur dan spermatozoa berada dalam gelang lender à Pembuahan terjadi di dalam gelang lender à telur yang sudah di buahi tersebut lepas dari tubuh cacing à tabung lender mongering, menyusutà membentuk sebuah pelindung yang mencakup lebih dari telurà kepompong

DAFTAR PUSTAKA

Elliott, J. 2003. worm reproduction. http://www.newton.dep.anl.gov/askasci/zoo00/zoo00508.htm. Diakses tanggal  14 Desember 2009. Pukul 15.39.

Gift, A. 2009.Worm-life-cycle. http://www.worm-farming.com/worm-life-cycle.html. Diakses tanggal  14 Desember 2009. Pukul 15.08.

Kuncung, A. 2008.Sistem Reproduksi Invertebrata. http://gurungeblog.wordpress.com/2008/10/31/sistem-reproduksi-invertebrata/. Diakses tanggal  14 Desember 2009. Pukul 14.47.

Muh. Ilyas. 2009. Efek Kombinasi Tiga Species Cacing Tanah Terhadap Dekomposisi Sampah Organik. http://images.ilyas1306.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SAiORAoKCDIAAFV-5rA1/KOLOKIUM-YAS.ppt?nmid=91789893. Diakses tanggal  14 Desember 2009. Pukul 14.35.

Mustang, 2009. Reproduksi. http://www.forumsains.com/biologi-smu/reproduksi/?wap2. Diakses tanggal  14 Desember 2009. Pukul 16.45.

Onled, 2009.Perkembangbiakan Hewan.   http://0n13d.wordpress.com/2009/02/16/perkembangbiakan-hewan/. Diakses tanggal  14 Desember 2009. Pukul 14.50.

Virda, 2008. Reproduksi Invertebrata atau Avertebrata.  virdayan.blogspot.com/2008_12_01_archive.html. Diakses tanggal  14 Desember 2009. Pukul 16.54.

Warso, 2009.  Cara Menghasilkan Keturunan. http://dhi.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=11381. Diakses tanggal  14 Desember 2009. Pukul 16.07.

Win, 2009. Cacing Tanah Lumbricus rubellus. http://tmo-sumberagung.blogspot.com/2009/03/cacing-tanah-lumbricus-rubellus.html. Diakses tanggal  14 Desember 2009. Pukul 16.40.

Zannr, 2009.  Earthworms-and-Reproduction. http://hubpages.com/hub/Earthworms-and-Reproduction. Diakses tanggal  14 Desember 2009. Pukul 15.37.

EMBRIOLOGI : Resume “Perubahan Spermatogenesis pada Pria dengan Epididimis Testis Suhu Tinggi”

Jurnal Embriologi

Perubahan Spermatogensis pada Pria dengan Epididimis Testis Suhu Tinggi

 

Dirangkum sebagai ujian tengah semester tahun ajaran 2009-2010 Program Studi Kedoktetan Hewan Universitas Brawijaya


Oleh

Wakhidatus Inrya Muhammada

0911310027

 

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2009

Perubahan Spermatogenesis pada Pria dengan Epididimis Testis Suhu Tinggi

 

  1. I.                   PENDAHULUAN

Sperma diproduksi oleh sel yang sangat kompleks dan proses diferensiasi yang dikenal sebagai spermatogenesis. Okupasi yang terkena suhu tinggi mempengaruhi fungís testis yang menyebabkan sebagian atau seluruh penangkapan spermatogenik. Pencelup, kaki, pekerja ttanur tinggi dan laki-laki dengan varikokel dikenal untuk mengembangkan hipertermia testis yang menyebabkan oligoasthenoteratozoospermia (OAT) dan azoospermia. Analisis air mani subur dari 125 laki-laki (dan 25 kontrol subur mengikuti pedoman WHO, 1999 menunjukkan azoospermia pada 109 pria dan oligozoospermia di 16 laki-laki. Dua puluh azoospermic dan 14 oligozoospermic pria itu testiculoepididymal tinggi suhu kerja baik karena terkena suhu tinggi atau Varikokel. Semua 14 oligozoospermic pria menunjukkan persentase yang sangat tinggi dari sperma dengan morfologi abnormal, gangguan motilitas dan mereka diklasifikasikan sebagai kelompok OAT. Pengamatan dilakukan dalam studi ini menegaskan kembali bahwa suhu intratesticular tinggi menyebabkan sebagian atau spermatogenik lengkap penangkapan dan dapat mengakibatkan peningkatan produksi morfologi Penangkapan spermatogenik lengkap dapat mengakibatkan peningkatan produksi morfologi abnormal dengan gangguan motilitas sperma. Hal ini berhubungan dengan  invers fungsi sperma dan temperatur tinggi memiliki implikasi dalam kedokteran klinis patologis baik dalam pemahaman maupun untuk tindakan terapeutik.

  1. II.                METODE

Seratus dua puluh lima subur laki-laki yang didiagnosis sebagai subur di Klinik Urologi dari All India Institute of Medical Sciences, New Delhi. Pasangan dikatakan tidak subur jika istri tidak dapat concieve setelah 1 tahun hubungan seksual tanpa perlindungan reguler.Laki-laki yang subur, maka istri hamil dalam 1 tahun pernikahan adalah kontrol (kelompok kontrol).. Informasi tercatat dari pasien dan kontrol tentang pekerjaan mereka, jenis pekerjaan yang dilakukan, masa kohabitasi, setiap penyakit baru-baru ini, obat-obatan diambil, paparan iradiasi, konsumsi alkohol, merokok, kebiasaan makan, penggunaan narkoba dan sejarah keluarga dalam model berpenampilan. Citogenetik dan analisis molekuler dilakukan sesuai dengan pedoman yang ditentukan oleh Simoni et all (1999). Rincian umum dilakukan pemeriksaan fisik untuk setiap pasien. Tingkat FSH dan LH dinilai untuk setiap pasien untuk menentukan kerusakan testis dan untuk mengkonfirmasi bahwa penyebab  infertilitas adalah sekretori.

III.        HASIL DAN PEMBAHASAN

Dua sampel air mani dikumpulkan pada interval 1 bulan dari setiap pasien. Sampel air mani dicairkan pada suhu kamar dan mani volume, pH, jumlah sperma, motilitas dan morfologi dianalisis dalam waktu satu jam dari koleksi menggunakan pedoman WHO, 1999. Untuk menilai pergerakan sperma lapangan mikroskop diperiksa dan motilitas spermatozoa dari masing-masing telah diklasifikasikan sebagai berikut A (yang cepat motilitas progresif linier), B (lambat atau lesu linier atau non linier motilitas), C (tidak progresif motilitas)dan selainnya D (immotale). Untuk mempelajari morfologi sperma setetes air mani itu dioleskan pada kaca bersih, kemudian mencampurkan  bagian yang sama dari etanol dan eter. Bernoda slide dianalisis di bawah x100 imersi minyak yang bertujuan untuk menilai morfologi kelainan kepala sperma, badan dan ekor. Sebanyak 100 sperma per sampel discan untuk menghitung dan mengklasifikasikan sperma dengan morfologi abnormal seperti kecil, pin, berbentuk besar, tapered, dua dan tiga kepala; melebar atau bengkok badan, lehernya dan digulung atau pendek ekor tebal. hasil dan deviasi standar dihitung dengan menggunakan metode statistik standar dan uji sperma untuk mempelajari arti dari dua sampel dengan asumsi varian yang tidak setara.

  1. IV.             KESIMPULAN

Analisis air mani dilakukan di 125 subur laki-laki dan 25 kontrol. Usia rata-rata pasien adalah 28,3 tahun (17-53years) dan durasi rata-rata perkawinan 6 tahun (1-30 tahun).. Dari 125 laki-laki tidak subur, 109 laki-laki tidak memiliki sperma dalam ejakulasi dan diklasifikasikan sebagai azoospermic. Enam belas laki-laki memiliki total jumlah sperma kurang dari 20 juta sperma dan diklasifikasikan sebagai oligozoospermic. Dalam dua dari 16 total oligozoospermic laki-laki berarti jumlah sperma adalah 6.25 juta dengan lebih dari 75% dari sperma menunjukkan morfologi normal. Sperma berbentuk oval ini kepala dengan topi acrosomal mencakup lebih dari sepertiga dari permukaan kepala. Bagian leher/ badanberbentuk silinder dan lebarnya kurang dari sepertiga lebar kepala. Ekor panjang, ramping dan lurus. Sekitar 20% sperma menunjukkan morfologi abnormal. Sisa 14 oligozoospermic laki-laki ditemukan memiliki persentase yang sangat tinggi dari morfologi abnormal sperma dengan gangguan motilitas gambar karakteristik. Kasus yang dianalisis secara rinci dan hasil dibandingkan dengan kelompok kontrol (tabel 1) Semen volume dan pH dalam kelompok OAT sedikit lebih rendah daripada kelompok kontrol, yang tidak signifikan (p> 0.05). Total rata-rata jumlah sperma dalam kelompok OAT 3,9 juta yang secara signifikan (p <0,05) lebih rendah daripada kelompok kontrol. Persentase rata-rata sperma dengan kelainan morfologi (gambar1) seperti ekor melingkar tebal, berbentuk kepala, tapered kepala, kepala ganda dan leher / badan membesar secara signifikan lebih tinggi pada kelompok OAT dibandingkan dengan kelompok kontrol (p <0,05). Rata-rata persentase motilitas sperma dengan tingkat C dan D secara bermakna lebih tinggi pada kelompok OAT daripada di kelompok kontrol (p <0,05) dan motilitas grade A secara signifikan lebih rendah daripada kelompok kontrol (p <0,05). Rata-rata persentase sperma dengan motilitas grade B lebih rendah daripada kelompok kontrol yang tidak signifikan (p> 0.05). Kadar FSH dan LH (17,07 + 1,8 miu / ml dan 24 ± 1 miu / ml) lebih tinggi secara bermakna (p <0,05) di kelompok OAT jantan dibandingkan dengan kelompok kontrol (3,54 ± 0,29 miu / ml dan 6,4 ± 0,1 miu / ml).

EMBRIOLOGI : Sistem Digesti

Semua zat yang berasal dari tumbuhan dan hewan terdiri dari komponen kompleks yang tak dapat digunakan begitu saja, karena itu memerlukan pemecahan agar menjadi komponen yang lebih sederhana. Fungsi utama digesti adalah memecah molekul kompleks dan molekul besar dalam makanan sehingga molekul itu dapat diserap dan digunakan tubuh. Penguraian komponen kompleks menjadi komponen sederhana disebut hidrolisis (Tillman,. At al, 1984).

Sistem digesti pada ternak dibagi menjadi dua macam yaitu monogastrik dan poligastrik. Monogastrik memiliki saluran pencernaan meliputi mulut, oesophagus, stomach, small intestinum, large intestinum, rektum dan anus. Sedangkan pada poligastrik perut dibagi menjadi empat yaitu rumen, reticulum, omasum, dan abomasum, sehingga urutan saluran pencernannya menjadi mulut, oesophagus, rumen, reticulum, omasum, abomasum, small intestinum, large intestinum, rektum dan anus (Swenson,1997).

Sistem saluran pencernaan terdiri atas saluran yang dilapisi oleh membran mukosa yang berhubungan dengan kulit luar, pada mulut dan anus. Empat lapisan yang menyusun dinding saluran pencernaan dari luar ke dalam adalah epitel squamous (di dalam bagian glandular dari perut serta kolon sederhana), lamina propria (termasuk mukosa dan sub mukosa muskularis), otot-otot (seran lintang esophagus, otot halus, pada bagian selainnya esofagus yang umumnya bagian dalam sirkuler juga bagian luar longitudinal), arah kaudal terhadap diafragma serta yang menutupi sebagian besar saluran pencernaan (suatu penutup serosa bagian luar yang disebut peritonium viseral) (Frandson,1992).

Langkah-langkah dalam sistem digesti meliputi, mekanis, biologis dan enzimatis. Sistem mekanis dilakukan dengan prehension, reinsalivasi, dan remastikasi serta redeglutisi. Didalam rumen terdapat mikroflora rumen yang berfungsi untuk mencerna selulose dan hemisellulose menjadi VFH, CO2, CH4 dan energi panas. Fungsi lain dari organisme rumen adalah sebagai sumber energi, sumber asam amino, dan sintesis vitamin B. Sistem digesti juga dibantu oleh glandula saliva, pancreas dan hati merupakan kelenjar tambahan (Tillman,. At al, 1984).

Hewan non ruminansia (unggas) memiliki pencernaan monogastrik (perut tunggal) yang berkapasitas kecil. Makanan ditampung di dalam crop kemudian empedal/gizzard terjadi penggilingan sempurna hingga halus. Makanan yang tidak tercerna akan keluar bersama ekskreta, oleh karena itu sisa pencernaan pada unggas berbentuk cair (Girisenta, 1980).

Zat kimia dari hasil–hasil sekresi kelenjar pencernaan memiliki peranan penting dalam sistem pencernaan manusia dan hewan monogastrik lainnya. Pencernaan makanan berupa serat tidak terlalu berarti dalam spesies ini. Unggas tidak memerlukan peranan mikroorganisme secara maksimal, karena makanan berupa serat sedikit dikonsumsi. Saluran pencernaan unggas sangat berbeda dengan pencernaan pada mamalia. Perbedaan itu terletak didaerah mulut dan perut, unggas tidak memiliki gigi untuk mengunyah, namun memiliki lidah yang kaku untuk menelan makanannya. Perut unggas memiliki keistimewaan yaitu terjadi pencernaan mekanik dengan batu-batu kecil yang dimakan oleh unggas di gizzard (Swenson, 1997).

Saluran pencernaan ruminansia terdiri dari rongga mulut (oral), kerongkongan (oesophagus), proventrikulus (pars glandularis), yang terdiri dari rumen, retikulum, dan omasum; ventrikulus (pars muscularis) yakni abomasum, usus halus (intestinum tenue), usus besar (intestinum crassum), sekum (coecum), kolon, dan anus. Lambung sapi sangat besar, yakni ¾ dari isi rongga perut. Lambung mempunyai peranan penting untuk menyimpan makanan sementara yang akan dikunyah kembali (kedua kali). Selain itu, pada lambung juga terjadi pembusukan dan peragian (Arora, 2005).

Pada hewan lambung tunggal (kelinci) organ saluran pencernaanya terdiri dari mulut, faring, kerongkongan, lambung (gastrum), usus halus (intestineum tenue), yang terdiri dari doedenum, jejenum, ileum, usus besar (intestinum crasum), yang terdiri dari kolon, sekum, dan rektum kemudian berakhir pada anus. (Tillman,. At al, !984).

Daftar Pustaka

Arora, S. P. 2005. Pencernaan Mikrobia pada Ruminansia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Frandson, R.D. 1992 . Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi IV. Gadjah Mada University, Yogyakarta.

Girisenta, 1980. Kawan Beternak. Yayasan Kanisius, Yogyakarta.

Nawang, S. 1989. Zoologi . Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi antar Universitas Ilmu Hayat IPB. Bogor .

Swenson, M. J. 1997. Dukes Phisiology of Domestik Animals. Cornell USA University Press.

Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo, S. Lebdosoekojo.1984. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.