PATOLOGI SISTEMIK DAN NEKROPSI : Kijang [at] Sengkaling

Pemeriksaan Fisik

  • Sex : betina
  • Umur : ± 2,5-3 tahun
  • Gejala klinis : terlihat pruritus di telinga, mata, leher, sela kaki depan belakang,
  • Kronologi kematian : tadi pagi ambruk, mau diinfus, mati
  • Riwayat penyakit : abortus 3 minggu yang lalu
  • Nekropsi diketahui kondisi organ hati dan paru-paru dalam kondisi baik namun lien terlihat ada abnormalitas. Pada bagian pericardium terdapat banyak airnya, terdapat jejunum terdapat gas, ginjal kiri bengkak, ginjal kanan baik, ada tumor yang menempel pada aorta.

Proses Nekropsi :

Diagnosa Klinik

Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa kijang mengalami pruritis pada, mata, leher dan sela kaki depan belakang. Pruritus tersebut menunjukkan bahwa ada infeksi jamur atau scabies. Ketika imunitas rendah jamur, bakteri maupun virus mudah menginfeksi hewan (Retro, 2011). Adanya infeksi tersebut menunjukkan adanya keadaan imunitas kijang dalam keadaan rendah. Kijang juga diketahui mengalami abortus tiga minggu sebelum kematian. selain kondisi tubuh yang terus menurun, kejadian tersebut juga dapat ditersebut juga dapat disebabkan adanya infeksi pada sistem reproduksi.

Kemudian dilakukan nekropsi dan memeriksa organ. Hati dalam kondisi baik begitu juga paru-paru sehingga penyebab kematiannya bukan pada hati maupun sistem respirasi. Organ limpa terlihat tidak normal sehinga dilakukan isolasi. Limfa yang tampak abnormal dapat menunjukkan adanya gangguan pada peredaran darah. limfa secara normal berfungsi merombak sel darah merah (Perdhana, 2012).

Ketika dilakukan nekropsi pada rongga torak didapati bahwa terdapat banyak cairan pada pericardium, hal tersebut terjadi karena terjadi odema pada paru-paru atau adanya cairan ekstra sel yang keluar akibat dari jantung terlalu kuat sehingga tempat sebelum penyumbatan memiliki tekanan tinggi sehingga jantung bengkak. Pembengkakan yang terjadi mengakibatkan cairan ekstra sel keluar berupa gel kenyal berwarna putih yang kemudian naik dan kemungkinan besar menyebabkan sumbatan pada katup jantung dan menyebabkan gagal jantung. Hal tersebut dinyatakan berdasarkan gejala klinis dari penjaga kandang bahwa kijang pada pagi hari masih beraktivitas namun kemudian diketahui mati.

Kemudian dilanjutkan dengan membuka bagian abdomen. Ketika jejunum dibuka tidak ada sisa makanan hanya ada gas. Tumpukan gas tersebut menyebabkan kijang kembung sehingga tidak makan. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya pakan pada bagian rumen yang tidak dicerna. Sedangkan ketika bagian sekum dibuka tidak terlihat keabnormalan.

Pada bagian dorsal dekat bagian ginjal ditemukan adanya benjolan berupa tumor yang menempel pada aorta (pembuluh dararh besar) dibelakang uterus. Kemudian dilakukan pemotongan, darah deras keluar dari aorta tersebut. Ketika dilanjutkan pada nekropsi ginjal diketahui bahwa ginjal bagian kiri mengalami pembengkakan sedangkan bagian kanan tidak.

Berdasarkan hasil nekropsi tersebut dapat disimpulkan bahwa kematian kijang tersebut dikarena gagal jantung. Hal tersebut terjadi karena tumor menyebabkan sumbatan pada aorta sehingga kerja jantung meningkat karena curah cardiak menurun sehingga jantung melakukan kompensasi dengan meningkatkan frekuensi memompa. Kenaikan kerja jantung menyebaban jantung bengkak. Semakin lama jantung yang bengkak tiudak dapat mengkompensasi sehingga kijang mengalami penurunan imunitas sehingga penyakit mudah masuk. Hal tersebut terlihat adabnya jamur yang hidup pada kijang.

Ketika tumor diinsisi terlihat bentukan reticulum fetus, kemungkinan besar tumor tersebut merupakan fetus yang terrlempar keluar dari tubafallopi ketika akan menuju uterus karena gerak peristaltik tubaffalopi. Kemudian fetus menempel pada aorta yang merupakan pembuluh darah yang membawa nutrisi dan oksigen. Fetus terus tumbuh membesar dan menekan aorta sehingga proses sirkulasi dari dan menuju terganggu. Secara langsung sumbatan tersebut akan menurunkan suplai nutrisi ke uterus. Ketika fetus dalam uterus kekurangan nutrisi, maka fetus akan mati dan diaborsikan.