0

PENYAKIT MIKROBIAL DAN PARASITER : Bovine Viral Diarrhea

TUGAS TERSTRUKTUR

PENYAKIT MIKROBIAL DAN PARASITER II

 

BOVINE VIRAL DIARRHEA

 

 

 

Disusun Oleh

PRIMA SANTI

0911310056

PDH-A-2009

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2011

Bovine diare virus virus (BVDV) adalah permasalahan pada sapi-sapi ternak yang menenyebabkan infertilitas, aborsi, diare, penyakit pernapasan, melemahnya sistem kekebalan tubuh, yang meningkatkan kerentanan terhadap penyakit (imunosupresi) lain, dan banyak lagi.

 

  1. A.    Etiologi

Bovine diare virus virus (BVDV) adalah anggota pestivirus genus. Ada empat spesies dalam genus pestivirus. spesies ini yang BVDV-1, BVDV-2, border disease virus pada domba dan virus classical swine fever. Infeksi BVDV diklasifikasikan menjadi tiga sindrom klinis: akut (transien), infeksi janin infeksi dan infeksi persisten (gambar 1).

  1. B.     Gejala Klinis

Beberapa gejala klinis dibedakan berdasarkan infeksinya sebagai berikut :

1)      Infeksi akut (transien) hanya berlangsung dari beberapa hari sampai beberapa minggu tetapi dapat mengakibatkan demam, diare, penyakit pernapasan, masalah reproduksi, dan banyak lagi tergantung pada usia dan status kekebalan tubuh hewan yang terinfeksi, serta strain BVDV yang menginfeksi. Beberapa hewan tidak menunjukkan tanda-tanda klinis dari infeksi BVDV (penyakit subklinis), tetapi member efek imunosupresif sehingga virus melemahkan sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan rentan terhadap penyakit lain. Sebagian besar hewan pulih dalam beberapa minggu, tetapi beberapa hewan akan mati.

2)      Infeksi Janin. Sebagian besar infeksi akut pada sapi BVDV dan Heifers bersifat subklinis, tetapi jika sapi bunting,  janinnya dapat menjadi terinfeksi, sehingga dalam berbagai konsekuensi. Infeksi janin dapat terjadi setiap saat janin terkena BVDV, tapi hasilnya bervariasi tergantung pada strain virus dan usia kebuntingan. Aborsi dapat terjadi selama kebuntingan, namun lahir cacat dan infeksi persisten terjadi selama spesifik periode kehamilan (gambar 2):

  • Infeksi selama musim kawin bisa mengakibatkan infertilitas atau kematian embrio dini.
  • Infeksi pada paruh pertama kehamilan dapat mengakibatkan aborsi atau infeksi persisten pedet.
  • Infeksi pada paruh kedua kehamilan bisa mengakibatkan aborsi, cacat lahir, bayi lahir mati, atau lemah sapi, tetapi tidak menyebabkan infeksi persisten pedet.

3)      Infeksi persisten (PI) pedet terjadi ketika janin terkena BVDV selama paruh pertama kebuntingan (Gambar 3). Pada masa tersebut sistem kekebalan janin belum cukup berkembang untuk merespon infeksi BVDV. Janin kemungkinan aborsi tetapi jika janin bertahan kemungkinan akan berkembang menjadi pedet PI. Beberapa pedet PI tumbuh buruk sementara yang lain mungkin terlihat sehat dan tumbuh sangat baik, sehingga tidak mungkin mendeteksi hewan PI secara visual. Sebagian besar hewan PI mati pada umur 2 tahun, tetapi beberapa akan bertahan beberapa tahun dan carier BVDV sepanjang  hidup dan

menjadi ancaman bagi kesehatan ternak.

 

  1. C.    Transmisi

BVDV tidak dapat bertahan sangat panjang (kurang dari 3 minggu) hidup di lingkungan, transmisi secara langsung antara hewan yang paling umum. Hewan dengan infeksi akut biasanya merupakan sumber transmisi BVDV, tetapi hewan PI menularkan jutaan virus setiap hari sehingga merupakan sumber konstan eksposur BVDV dalam kelompok karena melalui air liur, lendir, air mata, susu, kotoran, urin, dan setiap sekresi tubuh lainnya (gambar 4).

Manusia tidak rentan terhadap BVDV namun infeksi menyebabkan imunosupresi yang dapat meningkatkan kerentanan dari hewan yang terinfeksi dengan virus lain dan bakteri mungkin mempengaruhi kesehatan manusia misalnya virus bovine rhinotracheitis virus, bovine respiratory syncytial virus, rotavirus, coronavirus, bovine popular stomatitis virus, E. coli, and Salmonella spp.

 

  1. D.    Patogenesis

Virus masuk ke dalam tubuh melalui leleran tubuh kemudian masuk ke dalam saluran limfatik kemudian menyebabkan viremia yang berlangsung 15-60 hari setelah infeksi. Virus bersifat imunosupresif menyebabkan penurunan limfosit T. Pada hewan bunting dapat menembus plasenta dan janin menjadi serum pada umur tujuh bulan, tapi bila terjadi pada kebuntingan awal dapat terjadi toleransi imunogenik jadi pedet lahir dengan status serum negative. Dan akibat imunosupresif virus penderita terkena infeksi sekunder.

 

  1. E.     Diagnosis

Diagnosa dilakukan dengan melihat gejala klinis, pemeriksaan serologis, mengisolasi virus dan melakukan tes antibody fluorencese, imunohistokimia, dan Polymerase Chain Reaction (PCR) bisa digunakan untuk mengidentifikasi infeksi janin dan PI. Isolat dapat diambil dari swab hidung, serum, atau jaringan. Tes “Ear notch” membantu mengidentifikasi BVD namun masih hanya dapat digunakan untuk mengidentifikasi PI.

Gambar 5 dan 6. Pengambilan sampel telinga untuk dipersiapkan untuk pengujian laboratorium.

  1. F.     Pengobatan

Penyakit ini tidak ada obatnya karena disebabkan oleh virus, pencegahan dan pengendalian merupakan hal penting yang harus dilakukan.

 

  1. G.    Pengendalian

Pengendalian BVDV saat ini harus menggabungkan kombinasi dari biosekuriti, pengujian dan pemusnahan hewan PI (diagnostic surveilans) serta vaksinasi. Khusus protokol control BVDV akan berbeda dari satu peternakan sapi dan yang lain bergantung pada tujuan dan riwayat kesehatan populasi pada setiap kandang, faktor risiko paparan BVDV, dll. Berbagai pilihan dapat dilakukan untuk manajemen BVD sekali ketika infeksi dalam suatu kelompok ternak telah ditetapkan yaitu :

1)      Vaksinasi dari sapi penderita. Hewan yang sebelumnya telah divaksin dilakukan booster vaksin tunggal setiap tahunnya.

2)      Tindakan pencegahan melalui biosekuriti agar tidak terbawa virus ke peternakan oleh pembawa (carrier).

3)      Uji yang dapat dilakukan adalah dengan pemeriksaan darah pada saat semua kelahiran anak sapi sekitar 3 bulan pada saat terlihatnya hewan pertama yang sakit dari BVD. Dan kita arus melanjutkan pengujian terhadap semua anak sapi sampai 9 bulan setelah terlihatnya hewan terakhir yang sakit pada peternakan oleh virus BVD. .

4)      Cegah kontaminasi pupuk kandang terhadap bulu, makanan dan air.

5)      Tempat tinggal bayi sapi dibuat sendiri-sendiri.

6)      Pengujian hewan baru untuk infeksi persisten.

7)      Ternak/ sapi yang baru lahir diberi mengkonsumsi kolostrum secara maksimum.

8)      Kurangi stress pada sapi yang bisa disebabkan oleh penyakit-penyakit lain, kekurangan nutrisi, ketidaknyamanan tempat tinggalnya dan kualitas air yang jelek.

 

  1. H.    Pencegahan

1)      Melakukan program vaksinasi BVD pada setiap ternak baru yang masuk ataupun yang baru lahir.

2)      Tidak menjual sapi dari peternakan. Tidak ada peraturan yang melarang pemilik untuk menjual sapi selama masa perjangkitan dari BVD. Untuk mencegah penyebaran dari BVD ke peternakan lainnya, kita merekomendasikan bahwa tidak ada sapi yang akan dijual selama pemusnahan dari sapi tersebut dan sedikitnya 3 minggu setelah hewan yang terakhir terlihat terjangkiti.

3)      Memberikan informasi kepada calon pembeli terhadap perjangkitan BVD ini. Jika pemilik akan menjual sapi, atau sapi yang sedang bunting selama perjangkitan, maka berilah penjelasan kepada pembeli untuk memeriksakan sapi tersebut jika anak-anak sapi tadi terlahir untuk melihat jika mereka menjadi carrier terhadap BVD. Jika anak sapi tersebut carrier, maka haruslah dimusnahkan.

4)      Pengguguran setelah perjangkitan BVD. Pemilik yang telah mengalami perjangkitan dari BVD diharapkan dapat melakukan pengguguran beberapa minggu setelah hewan yang terakhir terlihat sakit. Virus BVD dapat menyebabkan aborsi dari membunuh fetus ketika masa kebuntingan sapi yang terinfeksi. Janin tidak dikeluarkan seketika itu setelah ia mati. Pengeluaran itu akan membutuhkan beberapa minggu sebelum pengguguran terjadi.

5)      Hewan diisolasi jika ada gejala-gejala dari BVD dan juga hewan lain yang kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi tadi.

6)      Sanitasi apa yang dapat digunakan untuk mengatasi BVD. Virus BVD dapat dibunuh oleh desinfektan. Membersihkan secara rutin dan desinfeksi akan membunuh virus BVD. Sanitasi dapat dikombinasikan dengan cara “all-in, all-out” untuk membasmi BVD di kandang. Ada beberapa virus yang terbawa ke dalam peternakan oleh sapi-sapi, sapi yang carier ataupun sapi yang sudah terinfeksi.

7)      Mencegah penyebaran dari hewan yang terinfeksi. Hanya membawa masuk hewan-hewan dari peternakan yang tidak terinefksi BVD.

8)      Hanya membawa hewan dari peternakan yang punya program vaksinasi yang efektif.

9)      Menghindari pembelian hewan-hewan dari kandang –kandang penjualan.

10)  Isolasi hewan sakit. Pengisolasian hewan baru selama ± 30 hari sebelum diijinkan untuk kontak dengan ternak di dalam peternakan.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonimous. -. Bovine Viral Diarrhea: Is Your Herd Protected? www.usjersey.com/reference/bvd_pi.pdf

Aphis. 2007. Bovine Viral Diarrhea Virus. Veterinary Services Centers for Epidemiology and Animal Health. United States Department of Agriculture http://www.aphis.usda.gov/animal_health/emergingissues/downloads/bvdinfosheet.pdf

Gerald L. Stokka, Robin Falkner, Pat Bierman, Jeremy Van Boening. 2000. Bovine Virus Diarrhea. Kansas State University Agricultural Experiment Station and Cooperative Extension Service http://www.ksre.ksu.edu/library/lvstk2/mf2435.pdf

Jeremy Powell. 2010. Livestock Health Series Bovine Virus Diarrhea (BVD).University of Arkansas, United States Department of Agriculture, and County Governments Cooperating. http://www.uaex.edu/Other_Areas/publications/PDF/FSA-3093.pdf

Rodning, Soren P. and  M. Daniel Givens. 2010. Bovine Viral  Diarrhea Virus. Web Only, Jan 2010, ANR-1367. Alabama Cooperative Extension System.