DIAGNOSA KLINIK : Urolithiasis

TUGAS TERSTRUKTUR

MATA KULIAH DIAGNOSA KLINIK

HASIL JAGA KLINIK 4 DESEMBER 2012

 KASUS UROLITHIASIS PADA KUCING

 Disusun Oleh

Pascara Fajar L.                         0911310054

Prima Santi                                 0911310056

Putrika Suryandari                    0911310057

PDH-A-2009

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1    Latar Belakang

Kucing dan anjing merupakan hewan yang paling populer menjadi pilihan masyarakat untuk dijadikan hewan hewan kesayangan (pet animal). Menurut laporan survei, ada sekitar 78.200.000 anjing dan sekitar 86,4 juta kucing peliharaan di Amerika Serikat pada tahun 2009-2010. Tren ini juga dialami di Indonesia dan selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Kedekatan psikologi pemilik dengan hewan kesayangan sebagai salah satu  anggota keluarga menuntut pemilik untuk memperhatikan keadaan fisik, makanan maupun kesehatan tubuh hewan kesayangannya.

Kesehatan hewan kesayangan menjadi sangat penting selain faktor kedekatan psikologi untuk tidak membiarkan anggota keluarganya sakit juga berpotensi menularkan penyakit terhadap pemiliknya. Untuk menjaga kesehatan hewan kesayangannya pemilik mempercayakan  kepada dokter hewan. Sehingga sebagai calon dokter hewan harus memiliki skill dalam menangani hewan kesayangan. Oleh karena itu kami melakukan praktek magang di Klinik PKH UB pada tanggal 4 Desember 2012 untuk memberikan wawasan terhadap profesi dokter hewan klinik (pet animal).

1.2    Tujuan

  1. Untuk mengetahui metode penerimaan pasien
  2. Untuk mengetahui metode pemeriksaan fisik dan anamessa pasien
  3. Untuk mengetahui metode diagnosa dan terapi penyakit pasien

1.3    Manfaat

Agar mahasiswa calon dokter hewan dapat memiliki skill dalam menerima pasien, dapat melakukan pemeriksaan fisik dan anamessa terhadap pasien serta mampu mendiagnosa dan terapi penyakit pasien.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Etiologi

Urolitiasis dapat didefinisikan sebagai keadaan dimana terdapat mineralisasi makroskopik, urolit, didalam sistem urinari (Waltham Centre for Pet Nutrition 1999). Urolithiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya batu (urolith) atau kristal-kristal pada saluran air kencing (tractus urinarius).  Urolit memiliki ukuran yang bermacam-macam, mulai dari partikel seperti pasir sampai berukuran lebih besar yang terlihat bila dilakukan radiografi. Urolit ini merupakan perwujudan polycrystalline yang terdiri dari satu atau lebih mineral. Urolit atau disebut juga bladder stone merupakan batu yang terbentuk akibat supersaturasi di urin dengan kandungan mineral-mineral tertentu.

Kejadian terbentuknya urolit pada vesica urinaria biasa terjadi pada hewan, terutama pada hewan domestik seperti anjing dan kucing. Urolit ini terbentuk di dalam vesica urinaria dalam berbagai bentuk dan jumlah tergantung pada infeksi, pengaruh diet/konsumsi, dan genetik (Wikipedia 2008). Urolit dapat terbentuk pada bagian manapun dari traktus urinari anjing dan kucing. Urolit dengan berbagai komposisi mineral telah ditemukan pada kucing, termasuk struvite, kalsium oksalat, kalsium fosfat, uric acid/urate, dan cystine. Pada anjing, urolit dengan berbagai komposisi mineral juga telah ditemukan seperti struvite, kalsium oksalat, kalsium fosfat, urate, cystine, silica, dan xanthine (Vogt, 2002). Biasanya diidentifikasi oleh mineral yang menyusun 70% atau lebih dari komposisinya.

Urolit ini membentuk nidus disekelilingnya, yang dapat terdiri dari leukosit, bakteri, dan matrix organik bercampur dengan kristal, atau hanya kristalnya saja. Nidus menyusun sekitar 10-20% dari total massa urolit. Hal ini memungkinkan nidus dibentuk dari berbagai tipe kristal daripada bagian lainnya, yang biasa dikenal sebagai epitaxial growth. Struvite dan kalsium oksalat adalah yang paling banyak ditemukan pada kasus klinik (Buffington  2001) .

 Batu dan kristal tersebut dapat ditemukan di ginjal, urethra, dan kebanyakan di vesika urinaria (kandung kencing). Adanya batu atau kristal tersebut dapat membuat iritasi saluran air kencing, akibatnya saluran tersebut rusak, ditemukan darah bersama urin yang dapat menimbulkan rasa sakit.

2.2.Gejala Klinis

Gejala klinis tersebut antara lain kesulitan urinasi (kucing sering buang air kecil tidak pada tempatnya), sering menjilat daerah genital, merejan saat buang air kecil (kadang disertai suara tangisan), serta darah pada urin. Selain itu, kucing dengan Feline Lower Urinary Tract Disease biasanya tidak nafsu makan. Pada keadaan yang lebih serius kucing jantan yang mengalami obstruksi uretra komplit akan menunjukkan gejala muntah, kelemahan, serta perut yang menegang dan sakit (Pinney 2009).

2.3.Patogenesis

Faktor utama yang mengatur kristalisasi mineral dan pembentukkan urolit adalah derajat saturasi urin dengan mineral-mineral tertentu. Faktor penyebab lainnya adalah diet atau makanan, frekuensi urinasi, genetik, dan adanya infeksi traktus urinari. Saturasi memberikan energi bebas untuk terbentuknya kristalisasi. Semakin tinggi derajat saturasinya, semakin besar kemungkinan terjadinya kristalisasi dan perkembangan kristal (Waltham Centre for Pet Nutrition 1999). Oversaturasi urine dengan kristal merupakan faktor pembentukkan urolit tertinggi. Oversaturasi ini dapat disebabkan oleh peningkatan ekskresi kristal oleh ginjal, reabsorpsi air oleh tubuli renalis yang mengakibatkan perubahan konsentrasi dan pH urin yang mempengaruhi kristalisasi.

Saturasi ditentukan oleh produk dari konsentrasi aktif yang terlarut dalam urin, misalnya kalsium dan oksalat, yang ditentukan dari konsentrasi absolut, interaksinya dengan substansi lain di urin, efek dari pH urin, dan keseluruhan kekuatan afinitas ion dari larutan. Solute activity atau yang dikenal sebagai jumlah yang bebas untuk bereaksi tidaklah sama dengan konsentrasi dari larutan karena ion-ion yang terdapat pada masing-masing individu dapat membentuk kompleks dengan substansi lain yang ada di larutan. Misalnya, kalsium atau magnesium dapat membentuk kompleks dengan urate, sitrat, atau sulfat dan menyebabkan terbentuknya kalsium oksalat atau struvite urolit. Perkembangan pembentukkan kompleks ini dapat diprediksi berdasarkan konstanta disosiasi/known dissociation constants, sehingga konsentrasi substansi kompleks ditentukan. Misalnya urolit kalsium oksalat, maka reaksi konstanta disosiasi (Ksp) adalah sebagai berikut :

CaC2O4     →      Ca2+ + C2O4 2-

Ksp = [Ca2+] [C2O42-], Ca2+  dan C2O42- merupakan ion product.

Ket. Bila perkalian ion > Ksp maka akan terjadi presipitasi membentuk CaC2O4 sampai perkalian ion = Ksp. Namun apabila perkalian ion < Ksp maka akan terjadi disolusi.

Derajat saturasi yang meningkat akan mengakibatkan terjadinya presipitasi (Elliot 2003). Proses presipitasi mineral didalam traktus urinari dapat dijelaskan dengan dasar-dasar fisika-kimia dan meliputi sejumlah faktor termodinamik dan kinetik. Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mempertimbangkan pembentukkan urolit dalam dua tahap, yaitu proses pembentukkan kristal dan proses agregasi/perkembangan kristal yang berakibat pada perkembangan urolit. Perkembangan kristal dipengaruhi oleh kemampuan nidus untuk tetap berada didalam traktus urinari, durasi supersaturasi urin, serta struktur fisik dari kristal. Kecepatan aktual dari pertumbuhan urolit bergantung pada komposisi mineral dan adanya infeksi (Elliot 2003).

Faktor tambahan yang menyulitkan adalah pergerakan bebas ion-ion yang terdapat pada larutan. Ionic strength ditentukan oleh konsentrasi dan valensi ion dalam sampel urin (Waltham Centre for Pet Nutrition 1999). Kekuatan afinitas ion yang tinggi menurunkan aktivitas individual ion. Produk dari aktivitas individual ion dapat dihubungkan dengan dua nilai untuk tipe kristal yaitu solubility product dan formation product, yang memprediksi proses kristalisasi apa yang cenderung terbentuk dalam larutan.

Solubility product adalah konstanta termodinamik dan yang menentukan titik dimana larutan menjadi tersaturasi dengan mineral tertentu (Waltham Centre for Pet Nutrition 1999). Pembentukkan kristal secara spontan tidak mungkin terjadi didalam larutan dengan derajat saturasi rendah dan kristal yang timbul akan diperkirakan dapat berdisolusi. Hal ini telah didemonstrasikan pada struvite, walaupun kecepatan disolusi dari kalsium oksalat sangat lambat.

Formation product biasanya ditentukan secara empiris dan bukanlah suatu konstanta (Waltham Centre for Pet Nutrition 1999). Larutan dengan derajat saturasi yang lebih tinggi daripada formation productnya akan berada dalam keadaan yang tidak stabil, supersaturasi yang labil,  dan menyebabkan kecenderungan terjadinya kristalisasi spontan yang homogen dengan kecenderungan pembentukkan kristal murni dari satu jenis mineral.

Diantara formation product dan solubility product, larutan akan berada dalam keadaan yang metastabil. Kristalisasi yang homogen tidak akan terjadi tetapi akan terjadi kristalisasi heterogen. Kristalisasi heterogen tidak hanya terdiri dari mineral saja, tetapi terdapat pula sel debris ataupun kristal tipe lain,  terutama ketika mendekati formation product maka terjadi aggregasi kristal yang telah terbentuk dan terjadi perkembangan kristal yang lambat (Waltham Centre for Pet Nutrition 1999).

2.4.Diagnosis

Berdasarkan anamense tersebut, pemeriksaan klinis segera dilakukan dan pemeriksaan dari saluran air kencing sangat diprioritaskan. Pada waktu melakukan pemeriksaan klinis, palpasi daerah abdomen sering terasa adanya pembesaran dari kandung kencing. Setelah pemeriksaan klinis, dilakukan pembuatan foto rontgen atau pemeriksaan dengan USG bagian abdomen dengan posisi rebah samping (lateral).

 

2.5.Pengobatan

Tindakan-tindakan yang bisa dilakukan bila pasien dipastikan terkena urolith adalah sebagai berikut:

  1. Pemberian suntikan penenang guna memudahkan pengeluaran urine.
  2. Evakuasi urin menggunakan kateter propylene dengan berbagai ukuran sesuai dengan besar ukuran kucing.

Cairan infus yang perlu diberikan ialah larutan Ringer Laktat 5%dengan dosis 20 – 40 cc/kgBB/hari. Bilamana kucing banyak muntah (karena sudah terjadi uremia/gagal ginjal), maka cairan yang diberikan ialah Ringer Dextrose 5%.

Disamping melakukan evakuasi urine, perlu dilakukan juga pemeriksaan darah: hematologi lengkap, kimia darah (fungsi ginjal: ureum dan kreatinin), serta beberapa kadar elektrolit di dalam darah seperti Kalium, Natrium, dan Klor. Pemeriksaan urin juga diperlukan untuk mengetahui adanya peradangan di kandung kencing, serta jenis batu atau kristal yang menjadi sumbatan

 

2.6.Pengendalian

Kasus ini cenderung akan terulang kembali sehingga untuk mengendalikan dapat menggunakan  tindakan pembedahan. Dalam teknik pembedahan ada dua jenis yaitu sebagi berikut:

  1. Cystotomy (Pembukaan kandung kencing)

Operasi cystotomy dilakukan dengan membuka abdomen dibagian ventral kemudian membuka vesika urinaria (kandung kencing). Batu atau kristal diambil dari dalam kandung kencing kemudian kandung kencingnya dijahit kembali.

Setelah operasi, kateter masih perlu dipasang selama 4-5 hari untuk mencegah kemungkinan penyumbatan oleh bekuan darah. Pemberian antibiotik secara parenteral atau peroral perlu diberikan selama ±6 hari. Untuk mencegah agar kateter tidak dicabut oleh kucing, maka perlu dilakukan pemasangan Elizabeth collar. Tindakan penanganan yang saya lakukan ini mempunyai successful rate kurang lebih 90%, apabila fungsi kedua ginjal masih baik. Untuk mengeluarkan batu/kristal yang ada di urethra maka perlu membuka urethra (urethrotomy) dimana batu berada. Andaikata terpaksa harus melakukan cystotomy dan urethrotomy, maka urethrotomy didahulukan. Setelah kateter bisa masuk ke dalam vesika urinaria, baru dilakukan cystotomy.

  1. Urethrotomy

Urethrotomy dilakukan apabila batu atau kristal tidak berhasil dimasukkan ke dalam vesika urinaria menggunakan kateter. Biasanya urethrotomy saya lakukan pada kucing jantan dengan menguakkan preputium ke arah kaudal terlebih dahulu sebelum melakukan sayatan pada penis bagian ventral tepat dimana batu atau kristal berada. Keberadaan batu atau kristal tadi dapat dideteksi dengan menggunakan kateter atau sonde yang panjang. Setelah batu atau kristal diketahui posisinya, maka dilakukan sayatan pada uretra kemudian batu atau kristal tersebut dikeluarkan. Selanjutnya, kateter dimasukkan sampai ke dalam vesika urinaria, lalu sayatan dijahit.

2.7.Pencegahan

Ginjal sebagai salah satu organ dalam  sistem perkemihan yang membentuk suatu sistem yang kompleks baik anatomi maupun mekanisme kerjanya dengan unsur  lain bersama sistem tubuh yang lain. Walau berat ginjal umumnya kurang dari 1 % berat badan, namun ginjal menerima 20 – 25 % darah yang dipompa oleh jantung kedalam tubuh. Jantung berperanan akti memompa  dan ginjal ber peranan pasif sebagai filter tubuh.  Sistem perkemihan bertanggung jawab untuk berlangsungnya ekskresi bermacam produk buangan dari dalam tubuh. Sistem ini juga penting sebagai faktor dalam mempertahankan homeostatis serta mempertahankan asam basa tubuh dengan mengatur konsentrasi bikarbonat dan ion hidrogen dalam darah. Urin me rupakan produk akhir dari sistem perkemihan. Peningkatan bikarbonat menyebabkan meningkatnya pH urin, sedang pH urin yang asam akibat pertukaran natrium dengan ion hidrogen atau ammonium klorida. Produksi metabolik suatu zat maupun asupan suatu zat kedalam tubuh akan diikuti oleh sekresi urin atas zat tersebut atau metabolitnya, agar tetap mempertahankan komposisi darah yang relatif konstan. Dengan kata lain, meningkatnya konsentrasi suatu zat dalam darah akan meningkatkan ekskresi zat tersebut atau hasil metaboliknya melalui urin pada hewan normal (Frandson, 1992).

BAB III

METODOLOGI

3.1.  Tanggal dan Tempat

Praktek magang dilaksanakan di Klinik Hewan Program Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya pada tanggal 4 Desember 2012 dari pukul 08.00-13.00 WIB.

 

3.2.  Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan untuk melakukan penerimaan pasien yaitu ambulator dan pena. Sedangkan untuk melakukan pemeriksaan fisik menggunakan termometer, timbangan dan stetoskop. Untuk mendiagnosa penyakit atau gangguan pada pasien dibutuhkan anamessa dari pemilik. Terapi penyakit pasien disesuaikan dengan hasil dari diagnosa.

3.3.  Langkah Kerja

Pasien

 
  –          Dicatat nama dan alamat pemilik, nama, usia dan signalement pasien pada ambulator.

–          Ditimbang berat badan pasien menggunakan timbangan

–          Diukur temperatur pasien dengan termometer

–          Dianamesa gejala penyakit yang muncul, perubahan perilaku, nafsu makan, urinasi dan defekasi pasien kepada pemilik

–          Didiagnosa dan terapi penyakit

Hasil

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.  Hasil

Nama Pemilik : Bayu
Alamat : Jalan Letjen Sutoyo Gg.3 Malang 085649626311
Nama Hewan : Bon-bon
Signalement : Kucing, Jantan, 3 tahun, warna hitam
Anamesa : Sudah dua hari tidak makan dan minum, tadi pagi minum sedikit terus muntah,  ± tiga hari tidak urinasi,

BB = 3,7 Kg

T = 37,9oC

Diagnosa : Urolithiasis
Terapi : Diinjeksi xylazin 0,6 ml secara IM

Dikateter

Diinjeksi Tolfenamic acid 0,7ml dan dexamethazone 0,2 mls

Resep :  

 

4.2.  Pembahasan

Pasien merupakan seekor kucing jantan berwarna hitam. Kucing berusia 3 tahun tersbeut bernama Bon-bon. Ketika datang kami menimbang berat badannya pada baby scale yang dimiliki klinik hewan PKH UB, kucing hanya diam saja tampak lemas dan tidak aktif. Kucing berbobot 3,7 kg tersebut menunjukkan suhu tubuh 37,9 oC  ketika diperiksa dengan termometer infrared. Suhu tersebut tergolong normal karena temperatur kucing normal 37,7 – 39,4 °C. ketika dilakukan pemeriksaan pada membran mukosa mata dan mulut kucing terlihat pucat. Kucing malas berdiri ataupun bergerak, dan hanya meringkuk diatas meja periksa.

Kemudian dilakukan palpasi pada bagian ventral bagian abdomen, teraba vesika urinaria kucing tersebut besar dan penuh terisi urin. Kucing merontak ketika vesika urinaria dipalpasi. Hal tersebut dikarenakan urin menumpuk dan memberikan tekanan pada rongga abdomen. Melalui anamesa dengan pemiliknya diketahui sudah dua hari tidak makan dan minum, tadi pagi dipaksa minum, bisa masuk sedikit kemudian muntah dan  ± tiga hari tidak mengalami urinasi. Menurut sang pemilik kucing tersebut memiliki riwayat batu ginjal atau urolithiasis sebelumnya. Dokter memutuskan kucing harus dikateter agar urin dapat keluar. Sebelum dilakukan kateter kucing diberi xylazin 0,4 ml secara intramuskular pada trisep femuris dan bisep femuris.

Xylazin adalah anestetika umum yang penggunaannya praktis dan relatif aman dan hampir memenuhi syarat sebagai anestetika umum yang ideal, namun juga masih memiliki beberapa kelemahan yang klasik, yaitu efek depresif pada sistem sirkulasi dan respirasi serta mempengaruhi suhu tubuh (Yusuf, 1987). Xylazin dapat mengakibatkan penurunan denyut jantung (bradikardi), hipertensi selintas yang diikuti oleh hipotensi yang lama dan penurunan suhu tubuh (Lumb and Jones. 1984).

Dosis xylazin pada kucing 1,0-2,0 mg/kg secara intra muskular dengan mula kerja obat 3-5 menit (Plumb 1999). Xylazin merk Xyla setiap mililiter mengandung 20 mg. Sehingga cara menghitung dosisnya sebagai berikut:

Pada anjing dan kucing onset kerja xylazin setelah pemberian cecara intramuskular atau subkutan dapat terlihat dalam 10-15 menit dan pada pemberian intravena 3-5 menit. Efek analgesiknya dapat berlangsung 15-30 menit tetapi aksi sedasi 1-2 jam tergantung dari pemberian dosis. Recovery sempurna setelah pemberian dosis antara 2-4 jam pada anjing dan kucing (Plumb 1999).

Setelah diberi anastesi kucing dicukur pada bagian testis dan penis agar rambut tidak menganggu proses kateterisasi sembari menunggu efek sedasi. Setelah mulai mengalami efek sedasi, kemudian mulai dilakukan pemasangan kateter pada penis kucing dengan cara menguakkan ujung penis agar terlihat lubang penis. Setelah kateter terpasang dilakukan fiksasi agar sumber penyumbatan berupa kristal hancur. Selanjutnya dilakukan penyedotan urin dengan spet ukuran enam ml atau 10 ml hingga vesika urinaria. Agar kateter tidak lepas maka dilakukan penjahitan dengan benang silk pada keempat sisi kateter.

Ketika dilakukan penyedotan terlihat urin tidak lagi berwarna kuning melainkan merah. Hal tersebut dikarena kristal melukai permukaan vesika urinaria sehingga terjadi uremia. Tindakan selanjutnya yaitu dilakukan irigasi menggunakan NaCl fisiologis. Irigasi dilakukan dengan cara memasukkan NaCl fisiologis menggunakan spet melalui kateter secukupnya kemudian menyedotnya. Proses tersebut dilakukan beberapa kali hingga urin berwarna bening. Pada proses ini kucing kehilangan efek sedasi sehingga dilakukan injeksi xylasin lagi dengan dosis 0,2 ml.s

Setelah proses irigasi selesai kucing diberi injeksi tolfenamic acid 0,7 cc. Injeksi ini berfungsi sebagai antipiretik, antiinflamasi dan analgesik. Dosis untuk kucing secara intra subkutan yaitu 4 mg/kg. Selain itu juga diberi injeksi dexamethasone sebanyak 0,2 ml. Dexametahose berfungsi sebagai antiinflamasi, terapi suportif pre dan post operasi serta untuk mempercepat recovery.

 BAB V

PENUTUP

5.1.  Kesimpulan

Urolithiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya batu (urolith) atau kristal-kristal pada saluran air kencing (tractus urinarius).  Penyakit ini harus segera ditangani apabila ditemui gejala hewan peliharaan tidak urinasi. Terapi untuk penyakit ini yaitu pemasangan kateter untuk menghancurkan kristal urolit dan diet pakan. Apabila kejadian ini berulang maka pemilik harus lebih waspada karena keterlambatan akan menyebabkan toxemia dan uremia yang menyebabkan kematian.

5.2.  Saran

Kucing yang mengalami urolithiasis harus segera ditangani agar prognosanya baik.

 DAFTAR PUSTAKA

Lumb, W.V and Jones, E.W. (1984). Veterinary Anesthesia. Second Edition. Washinton Square, Philadeiphia.

Yusuf, I. (1987). Penilaian Pengaruh Xylazin dan Kombinasi Atropin-Xylazin terhadap Denyut Jantung, Kecepatan Pernapasan dan Suhu pada Kucing. Skripsi. Fakultas Kedoktreran Hewan Unsyiah, Banda Aceh.

Plumb D C (1999) Veterinary Drug Handbook. 3rd edn. Iowa State University Press, Ames Iowa.

Pinney CC. 2009. Feline Lower Urinary Tract Disease. http://maxshouse.com/