PATOLOGI SISTEMIK : Postmortem Hewan Kurban

LAPORAN PRAKTIKUM

PATOLOGI SISTEMIK DAN NEKROPSI

 PEMERIKSAAN HEWAN KURBAN DI PERUM TATA SURYA MALANG

Disusun Oleh

Nama        : Prima Santi

NIM          : 0911310056

Kelas        : PDH-A-2009

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012


BAB I

PENDAHULUAN

 1.1.  Latar Belakang

Hari raya kurban yang merupakan hari raya bagi umat islam di seluruh dunia ditandai dengan penyembelihan hewan kurban. Hewan yang dapat digunakan sebagi hewan kurban antara lain unta, sapi, kambing atau domba. Hewan yang akan digunakan sebagai hewan kurban hendaknya memenuhi persyaratan antara lain hewan berjenis kelamin jantan, untuk sapi berusia minimal dua tahun dan kambing miniml satu tahun, hewan tidak cacat dan tidak berpenyakit.

Pemeriksaan sebelum penyembelihan disebut pemeriksaan antemortem yang terdiri dari pemeriksaan keadaan umum hewan meliputi lubang-lubang tubuh hewan, menghitung pernafasan, mengecek pencernaan dan peredaran darah, mengukur temperatur tubuh hewan, mengamati selaput-selaput lendir hewan dan keadaan kulit. Tidak lupa mengecek hewan tersebut telah masuk dalam kriteria hewan kurban. Apabila persyaratan tersebut telah terpenuh barulah hewan kurban boleh disembelih.

Setelah hewan kurban disembelih harus dilakukan pemeriksaan postmortem untuk mengetahui daging kurban yang boleh dikonsumsi atau harus disingkirkan. Pemeriksaan postmortem antara lain melakukan pemeriksaan terhadap kepala, jantung, paru-paru, hati, limpa, usus dan lambung serta daging (karkas). Oleh karena itu kami melakukan praktikum di Perumahan Tata Surya Malang  pada tanggal 26 Oktober 2012 untuk memberikan wawasan terhadap profesi dokter hewan terhadap pemeriksaan hewan kurban untuk menyediakan daging kurban yang aman, sehat, utuh dan halal.

1.2.  Tujuan

–          Untuk mengetahui metode pemeriksaan antemortem

–          Untuk mengetahui metode pemeriksaan postmortem

–          Untuk mengetahui metode untuk menyediakan daging kurban yang aman, sehat, utuh dan halal

 

1.3.  Manfaat

Agar mahasiswa calon dokter hewan dapat memiliki skill dalam melakukan pemeriksaan antemortem dan postmortem.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Monorchidsm

Monorchidism merupakan suatu kelainan dimana hewan hanya memiliki satu testis sedangkan testis lainya tidak turun ke skrotum sehingga testis yang lainnya tetap berada dalam rongga abdomen (Adnan, 2007). Proses perpindahan atau penurunan testis dari rongga perut ke dalam rongga skrotum (descensus testiculorum) yang terjadi secara alamiah selama dalam kandungan pada akhir masa kebuntingan. Waktu terjadi proses descensus testiculorum dihitung dari masa kebuntingan. Pada kuda terjadi pada 9-11 bulan, sapi 3,5-4 bulan, domba dan kambing 80 hari, babi 90 hari, khusus pada anjing 5 hari setelah dilahirkan. Terdapat tiga tahap pada descensus testiculorum yaitu perpindahan testis di dalam rongga perut menuju cincin inquinal bagian dalam, perjalanan testis di dalam kanal inquinalis dan perjalanan di dalam rongga skrotum.

Secara normal testis pada hewan dewasa terletak di dalam rongga skrotum kecuali pada unggas, namun pada hewan pejantan tertentu dapat terjadi kegagalan penurunan testis ini ke dalam rongga skrotum. Faktor penyebab terjadinya antara lain terjadi gangguan proses pemendekan gubernakulum, gangguan sekresi hormon gonadotropin dan kelainan anatomis saluran inquinalis dalam bentuk penyempitan(Radostits, 2007).

Kelainan ini dipengaruhi oleh faktor keturunan. Jika hewan memiliki gen resesif namun tertutup oleh gen dominan maka hewan akan membawa gen homozigot resesif. Bila hewan ini dikawinkan dengan hewan yang tidak membawa gen resesif keturunanya akan tetap normal walaupun tetap membawa gen resesif. sebaliknya bila hewan betinanya homozigot resesif maka kemungkinan besar keturunanya akan membawa gen indukanya (Adnan, 2007).

Terdapat dua tipe dari descensus testiculorum yaitu kriptorchid bilateral dan kriptorchid monolateral (monorchidsm). Kriptorchid bilateral yaitu jika kedua testis tidak berada di dalam skrotum dan menyebabkan pejantan menjadi majir total karena pengaruh suhu yang lebih tinggi di dalam rongga perut sehingga proses spermatogenesis tidak dapat terjadi. Sedangkan kriptorchid monolateral yaitu jika hanya satu testis yang berada dalam rongga skrotum pejantan mampu menghasilkan semen dari testis tersebut meskipun dengan konsentrasi yang lebih encer. Kriptorchid bilateral lebih jarang terjadi dibandingkan dengan kriptorchid monolateral. Pada kuda dan sapi, kelainan anatomi ini merupakan kelainan genetik yang dibawa oleh gen dominant pada yang jantan. Hewan dengan kondisi ini masih dapat memiliki keturunan dengan melakukan pemilihan betina secara benar. Namun dilapangan sapi, kambing dan domba, pejantan yang kriptorchid harus dipotong, setelah dipelihara dalam rangka penggemukan (Adnan, 2007).

 2.2  Distomatosis

Fascioliasis atau distomatosishepatik, fasciolosis, cattle liver fluke, giant liver fluke adalah penyakit yang disebabkan cacing dari genus fasciola (Akoso, 1991). Berdasarkan taksonomi cacing ini mempunyai klasifikasi sebagai berikut:

Phylum       : Platyhelminthes

Class           : Trematoda

Ordo           : Digenea

Family        : Fasciolidae

Genus         : Fasciola

Species        : Fasciola hepatica, Fasciola gigantika

Distribusi penyakit ini hampir ada diseluruh hewan produksi seperti sapi dan kambing diseluruh dunia. Sumber infeksi yang utama berasal dari kontamianan air dan daging atau produk lain asal hewan yang terinfeksi stadium infektif dari cacing fasciola (Akoso, 1996). Infeksi terjadi didaerah yang basah atau lembab, rawa atau daerah payau, dimana banyak terdapat siput. Cacing akan keluar dan berenang dan berkeliling akhirnya menempel dan tinggal pada tumbuh-tumbuhan yang akan termakan oleh siput yang kemudian menjadi induk semang (Radostits, 2007).

Induk semang dari fasciola adalah siput, umumnya genus Lymnea. Di Indonesia telah diketahui adalah Lymnea rubiginosa. Telur cacing keluar bersama tinja induk semang dari telur yang menetas keluar mirasidium yang terus masuk ke dalam siput. Dalam tubuh siput mirasidium berubah menjadi sporokista. Sporokista menghasilkan redia, dan redia menghasilkan serkaria. Serkaria keluar dari siput yang merupakan fase infektif. Bila serkaria tidak termakan oleh induk semang maka akan menghasilkan kisata (metaserkaria), tenggelam ke dalam air atau menempel pada rumput (Radostits, 2007).

Infeksi terjadi bila induk semang memakan rumput atau meminum air yang tercemar. Dalam usus serkaria keluar dari metaserkaria dan terus menembus dinding usus masuk keruang peritoneum, selanjutnya menembus selaput hati dan meninggalkan jalur-jalur hemorhagik pada parenkim hati dalam perjalanannya menuju saluran empedu untuk menjadi dewasa. Masa prepaten 2-3 bulan (Soedarto, 2003).

Gejala klinis fascioliasis dapat sangat ringan atau tanpa gejala, namun gangguan pada fungsi hati dapat juga terjadi. Bentuk akut pada sapi mempunyai ciri-ciri gangguan pencernaan, adanya gejala konstipasi yang jelas dan kadang-kadang mencret. Terjadi pengurusan yang cepat, lemah dan anemia. Pada domba dan kambing, berupa mati mendadak disertai darah yang merembes atau keluar dari hidung dan anus. Bentuk kronik pada pada tahap pertama pada domba menunjukan gejala menjadi gemuk akibat banyaknya empedu yang disalurkan ke dalam usus, karena lemak kurang berfungsi atau tidak dipergunakan akibat adanya anemia. Meskipun gemuk terjadi kelemahan otot. Selanjutnya diikuti penurunan nafsu makan, selaput lendir pucat, serta bulu menjadi kering dan rontok, akhirnya terjadi kebotakan dan hewan menjadi lemah dan kurus  sehingga terjadi penurunan produktivitas dan pertumbuhan yang terhambat (Aak, 1995)

Diagnosa dilakukan dengan memeriksa tinja atau cairan duodenum atau cairan empedu hospes untuk menemukan telur cacing fasciola. Penghitungan jumlah telur tiap gram tinja, menemukan metaserkaria pada rumput. Untuk membantu menegakkan diagnosis terutama fasciolosis jaringan dan fascioliasis dalam periode prepaten, maka dapat dilakukan berbagai uji imunodiagnostik misalnya uji imunofluoresen tak langsung, uji hemaglutinasi pasif, uji presipitasi gel atau metode imunodiagnostik lainnya (Akoso, 1996)

Diagnosa banding dari bentuk akut dapat keliru dengan penyakit antrax, karena adanya pengeluaran darah dari hidung dan anus. Sedangkan pada bentuk kronik pada domba dapat keliru dengan haemonchosis karena adanya bottle jaw, anemia pada fascioliasis dapat keliru dengan anemia oleh penyebab yang lain (Akoso, 1991).

Pada hewan dewasa perubahan-perubahan sering hanya terbatas pada hati. Mungkin hewan itu sedikit kurus atau pucat. Pada hewan muda perubahan-perubahan biasanya lebih menyolok, kekurusan, anemia, busung air dimana-mana merupakan perubahan-perubahan terpenting. Pemeriksaan post mortem pada infeksi akut terlihat hati bengkak karena degenerasi parenkim atau infiltrasi lemak, di bawah selubung hati dan pada bidang sayatan terlihat perdarahan-perdarahan disebabkan oleh migrasi parasit-parasit muda. Perubahan-perubahan pada hati dalam tingkat menahun ialah cholangitis, pericholangitis yang menjadikan hepatitis chronica indurativa (sirosis parasiter). Dinding saluran-saluran empedu sangat tebal karena pembentukan jaringan ikat dan endapan kalsium. Di dalam saluran-saluran itu tertimbun massa`detritus yang berlendir dan mengandung distoma dewasa. Sarang-sarang distomum sekali-sekali ditemukan di dalam paru-paru dan limpa (Ressang, 1984).

Tindakan pencegahan yaitu memotong siklus hidup dengan mollusida, memberantas siput secara biologi, misalnya dengan pemeliharaan itik,  rotasi lapangan rumput, memperbaiki sistem pengairan sehingga memungkinkan tindakan pengeringan, menyebarkan copper sulphat atau trusi di lapangan penggembalaan dan melakukan pemberian obat cacing secara teratur (Sumartono, 2001).

Sedangkan tindakan pengendalian yaitu secara umum paling tidak pengobatan harus dilakukan 3 kali dalam setahun yaitu pada permulaan musim hujan untuk menghilangkan cacing didapat selama musim kemarau dan menghadapi perluasan habitat siput. Pada pertengahan musim hujan untuk mengeluarkan cacing yang diperoleh selama musim hujan dan mengurangi peluang infeksi mirasidium pada siput yang habitatnya meluas. Sedangkan pada akhir musim hujan untuk menghilangkan cacing yang didapat selama musim hujan serta mengurangi potensi untuk terkontaminasi dimusim kemarau (Sumartono, 2001).

 2.3    Pink Eye

Pinkeye disebut juga infectious bovine keratoconjunctivitis (IBK), infectious keratitis, bular mata atau radang mata atau katarak atau kelabu mata atau blight merupakan penyakit yang biasa menyerang sapi, kambing maupun domba. Pink eye disebut juga penyakit epidemik, karena ditempat yang telah terinfeksi dapat berjangkit kembali setiap tahunnya. Penyakit ini sering timbul dengan tiba-tiba terutama pada hewan dalam keadaan lelah (Blood et all, 1983).

Pink eye dapat menyerang semua jenis ternak dan semua tingkat umur, tetapi hewan muda lebih peka dibandingkan dengan hewan tua. Pink eye dapat disebabkan oleh mikroorganisme pathogen, benda asing, trauma maupun perubahan iklim. Penyebab utama pink eye pada sapi adalah Moraxella bovis sedangkan pada domba dan kambing disebabkan Rickettsia Colesiota, namun para ahli masih banyak berbeda pendapat ada yang menyebutkan penyebabnya bakteri, virus, chlamidia dan juga rickettsia. Selain itu ada beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya infeksi pink eye antara lain lalat, debu, kelembaban, musim, kepadatan hewan di dalam kandang serta kualitas makanan. Penyakit ini umum menyerang heifers dan pedet umur 3 minggu. Infeksi pink eye lebih banyak berjangkit pada peralihan musim kemarau dibandingkan dengan musim penghujan. Tetapi pada kasus yang kronis dapat berlangsung sepanjang tahun (Made, 1997).

Penyakit ini bersifat mudah menular menyebabkan inflamasi pada kornea dan konjungtiva. Beberapa kasus (2%) bahkan ada yang sampai menyebabkan ulkus kornea hingga kebutaan. Pinkeye sebenarnya termasuk ke dalam self limiting disease, artinya dapat sembuh dengan sendirinya.

Masa inkubasi penyakit ini biasanya 2-3 hari, kadang-kadang lebih panjang. Gejala klinis yang muncul antara lain demam, depresi dan penurunan nafsu makan, mata mengalami konjunctivitis, kreatitis, kekeruhan kornea dan lakrimasi. Terdapat 4 tahap gejala dari penyakit ini, setiap tahapan bila tidak ada tindakan pengobatan maka akan berkembang menuju tahap selanjutnya. Tahap 1 terjadi  hiperlakrimasi, peningkatan sensitivitas terhadap cahaya, kemerahan, dan sering berkedip. Tahap 2 terjadi ulkus pada kornea. Tahap 3 ulkus menyebar, inflamasi pada bagian dalam mata dan pada tahap 4 ulkus terjadi hingga ke iris, hewan menjadi buta.

Pada infeksi akut sekresi mata bersifat purulen, pada bagian bawah mata selalu basah, photopobia (takut cahaya). Kekeruhan kornea dapat meluas menutupi seluruh permukaan lensa mata bila diamati terlihat bintik-bintik putih atau keabu-abuan di tengah bola mata. Apabila membrana nictitan robek, maka bakteri oportunis dapat masuk kedalamnya dan mengakibatkan terjadinya infeksi pada mata sehingga mengakibatkan kebutaan.

Bintik-bintik putih semakin menebal dan menutupi permukaan kornea, cairan dari mata yang bersifat purulen saling melekat sehingga bulu mata lengket dan menyebabkan tergangunya penglihatan. Pada kasus yang kronis cairan mata keluar seperti nanah dan menempel di bawah permukaan mata sampai ke hidung bahkan mengeras membentuk keropeng. Pada infeksi ringan atau sub akut terlihat air mata cenderung keluar, kornea keruh dan sedikit pembengkakan pada jaringan sekitarnya. Pada kornea mata hewan yang sembuh dari penyakit ini terdapat jaringan parut (Made, 1997).

Prevalensi tinggi terjadi pada Bos Taurus dibanding dengan Bos indicus dan lebih resisten pada cross bred. Infeksi campuran dengan infectious bovine rhinotracheitis (IBR), mycoplasma, chlamydia, dan Branhemella ovis akan memperburuk kondisi hewan. Penyebaran penyakit ini melalui kontak dengan sekresi mata yang berasal dari hewan yang terinfeksi. Lalat juga berperan sebagai vektor dalam penyebaran penyakit ini.

Diagnosa pink eye dapat dilakukan berdasarkan etiologi, epidemiologi dan berdasarkan gejala klinis. Pemeriksaan berdasarkan gejala klinis pada penderita pink eye akan menunjukan gejala seperti mata merah, kelopak mata bengkak dan lakrimasi yang meningkat. Pada kasus yang akut kornea mata keruh dan terjadinya pengapuran pada kornea mata (Blood et all, 1983).

Pengobatan awal perlu dilakukan untuk mencegah semakin parahnya kondisi penyakit dan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut terhadap sapi lain. Tindakan karantina perlu dilakukan, karena sapi yang terinfeksi dapat berberan sebagai reservoir. Tindakan pengobatan pada prinsipnya adalah untuk mengurangi iritasi, mengurangi risiko penyebaran penyakit, dan melindungi mata dari kerusakan lebih lanjut. Beberapa jenis antibiotik yang sering digunakan dalam pengobatan pink eye seperti larutan zinc sulfat 2.5%, salap mata sulfathiazole 5%, bacitrasin salap (R282), atau kombinasi anti bakterial dengan anestesi lokal (R289) atau serbuk urea-sulfa, yang digunakan secara lokal. Bisa juga dengan tetracycline, oxytetracycline atau polymyxin B, atau erythromycine salep, yang diberikan 3-4 kali sehari, atau dengan pemberian larutan perak nitrat 1,5% (8-10 tetes) yang diberikan dengan interval 2-3 kali per minggu (Blood et all, 1983).

Cara yang paling ekonomis dalam pengobatan Pink eye yaitu dengan furazone powder atau penyuntikan LA 200 secara intra musculus maupun diteteskan pada mata, tetapi waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan sangat lama. Adapun Komposisi LA 200 terdiri atas : Gentamycin 100mg/ml : 10 ml, Dexamethasone, 2mg/ml : 10 ml, Aquadestilata  : 10 ml.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:

ü Memusnahkan hewan karier yaitu hewan yang dianggap sebagai sumber infeksi segera diisolasi dari kawanan ternak

ü Hewan yang terinfeksi segera dikandangkan (isolasi) pada tempat yang gelap, guna untuk menghindari kontak dengan hewan yang sehat baik secara langsung atau tidak langsung seperti dinding kandang, air minum tempat pengembalaan dengan demikian dapat terhindar dari lalat yang merupakan vektor dari jasad renik tersebut.

ü Sanitasi yaitu dengan menjaga kebersihan kandang serta lingkungan yang bersih serta terbebas dari genangan air.

ü Mengurangi jumlah hewan di dalam kandang. Akibat terlalu padat hewan didalam kandang dapat menyebabkan kontaminasi sesama.

ü Pemberian makanan yang cukup mengandung vitamin A atau padang pengembalaan yang baik sehingga dapat terhindar timbulnya infeksi.

ü Berdasarkan uraian diatas maka dapat diambil kesimpulan antara lain :

ü Penyakit Pink eye merupakan salah satu penyakit yang cepat menular kepada hewan yang lain.

ü Hewan yang menderita penyakit Pink eye dapat bersifat karier.

ü Pada kasus yang kronis  kalau tidak diobati dapat terjadi kebutaan.

ü Pink eye dapat menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak seperti penurunan berat badan, dan penurunan produksi.

ü Kesukaran dalam penanggulangan pink eye yang disebabkan oleh banyaknya faktor predisposisi dan agent penyebab.

ü Tindakan pencegahan yaitu dengan cara menyingkirkan hewan karier serta menjaga kualitas makanan.

2.4    Paramphistomiasis

Paramphistomiasis merupakan penyakitb yang disebabkan oleh Paramphistomum cervi dan Paramphistomum microbothrium yang menyerang  ruminansia. Lokasi infeksi cacing dewasa terdapat pada rumen dan retikulum sedangkan stadium intermediet pada duodenum. Cacing muda menyumbat penyerapan nutrisi dan menghasilkan pengikisan mukosa duodenum. Pada infeksi berat mengakibatkan enteritis, hemorraghi dan ulcer. Ketika dilakukan nekropsi cacing muda dapat dilihat seperti kelompok parasit berwarna pink kecoklatan menempel pada mukosa duodenum dan kadang-kadang juga pada jejunum dan abomasum. Ribuan cacing dewasa juga ditemukan dan bertahan hidup (memperoleh makanan) pada dinding rumen atau retikulum (Urquhart, et all. 1996).

Gejala klinis yang paling sering adalah diare disertai anorexia dan dehidrasi. Kadang-kadang pada sapi, disertai hemorraghi di rektum. Kematian pada fase akut dapat mencapai 90% (Urquhart; et.all. 1996).  Diagnosis didasarkan pada gejala klinis yang kadang-kadang menyangkut hewan muda di peternakan dan sejarah rumput apa ada disekitar habitat keong selama periode musim panas. Pemeriksaan feses penting sejak penyakit terjadi selama periode prepatent. Penegakan diagnosa dapat diperoleh dari pemeriksaan posmortem dan penemuan kembali cacing kecil dari duodenum (Sumartono, 2001).

 2.5    Anemia

Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin atau jumlah sel-sel darah yang fungsional menurun sehingga tubuh akan mengalami hipoksia sebagai akibat kemampuan kapasitas pengangkutan oksigen dari darah kurang. Anemia bukan merupakan diagnosa akhir dari suatu penyakit akan tetapi selalu merupakan salah satu gejala dari sesuatu penyakit misalnya anemia defisiensi besi selalu terjadi akibat dari pendarahan kronis mungkin disebabkan karnoma colon atau ankilostomiasis dan lain-lain. Pada hewan piaraan jarang bersifat primer sering bersifat sekunder (Supandiman, 1997).

Gejala klinis anemia bervariasi tergantung pada etiologi, derajat dan kecepatan timbulnya. Penyakit-penyakit lain seperti penyakit jantung, paru-paru akan mempengaruhi keparahan gejala-gejala. Anemia tersebut akan menampakkan gejala seperti terlihat terhadap kulit dan selaput lendir yaitu mukosa terlihat pucat, lemah, dispnea, anoreksia, oedema, nafsu makan turun, gastrointestinal mengalami kelukaan, tachycardia dan polypnea (bernafas cepat) terutama setelah kerja, peka terhadap dingin, pada pemeriksaan auskultasi terdengar bising jantung karena viskositas darah menurun dan turbulence meningkat, jika sepertiga volume darah hilang maka hewan akan syok, terlihat ikterus (jika ada hemolisa darah), hemoglobinuria, hemoragi dan demam. Gejala kurang jelas jika kejadiannya pelan-pelan sehingga hewan lama-kelamaan dapat beradaptasi (Supandiman, 1997).

BAB III

METODOLOGI

3.1.  Tanggal dan Tempat

Praktek Diagnosa Klinik dilaksanakan di Perumahan Tata Surya Malang pada hari Jumat, tanggal 26 Oktober 2012 dari pukul 06.00-11.00 WIB.

 

3.2.  Alat dan Bahan

Adapun alat untuk melakukan pemeriksaan fisik pada saat antemortem menggunakan termometer dan stetoskop. Sedangkang saat pemeriksaan postmortem menggunakan disetting set. Selain itu juga menggunakan kamera sebagai alat bantu dokumentasi.

3.3.  Langkah Kerja

Hewan

 
–          Dilakukan pemeriksaan fisik meliputi sistem sirkulasi dengan mengitung detak jantung dan pulsus pada arteri, sistem respirasi dengan menghitung gerak paru-paru dan in-ex udara pada hidung, mengamati sistem reproduksi dan sistem termoregulasi menghitung temperature dengan termometer.

–          Dilakukan pengamatan perubahan perilaku, nafsu makan, urinasi dan struktur, warna, bau defekasi sapi. Serta mengecek usia kambing atau sapi dengan melihat gigi.

–          Dilakukan keputusan hewan dapat disembelih atau tidak

–          Dilakukan pemeriksaan postmortem setelah disembelih meliputi kepala, jantung, paru-paru, hati, limpa, usus dan lambung serta daging (karkas)

–          Dilakukan keputusan karkas dan organ dikonsumsi atau tidak

Hasil

 

 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.   Hasil Pengamatan

Proses pemeriksaan postmortem meliputi pemeriksaan kepala, jantung, paru-paru, hati, limpa, ginjal, usus dan lambung serta daging (karkas) dengan data sebagai berikut:

  1. a.    Sapi

Sapi ke

Antemortem

Postmortem

1

–          Umur cukup, kulit kotor pada ekor

–          Testis hanya 1 yang terlihat turun (monocrid)

 

–      Limpa : baik

–      Jantung : baik

–      Paru-paru : baik

–      Hati : afkir (destomatosis)

–      Ginjal : baik

–      Berlemak

2

–          Umur cukup (poel sepasang)

–          Mukosa hidung normal

–          Suhu 39,3oC

–          Testis ada

–          Bersih

–      Limpa : baik

–      Jantung : baik

–      Paru-paru: baik

–      Hati : afkir

–      Ginjal : baik

–      Maseter : baik

3

–          Umur cukup (poel dua pasang)

–          Mukosa hidung normal (basah normal)

–          Suhu 39,5oC

–          Testis ada

–          Bersih

–      Limpa : keras

–      Jantung : pengeluaran tidak sempurna

–      Paru-paru : baik

–      Hati : tumor, tidak cerah, agak keras

–      Limfo pada kepala bagus

4

–          Mukosa hidung normal (basah normal),

–          Umur cukup (poel 2 pasang),

–          Suhu 39,6oc

–          Testis ada,

–          Bersih,

–      Limpa : baik

–      Jantung : baik

–      Paru-paru: baik

–      Hati : baik

–      Ginjal : baik

–      Trakea : baik

5

–          Tidak tercatat –      Limpa  : baik

–      Jantung : baik

–      Paru-paru : ada pus, lemak

–      Hati : afkir

–      Ginjal  : baik

6

–          Umur cukup (poel 2 pasang + 1 gigi sebelah kanan)

–          Mukosa hidung normal (basah normal)

–          Suhu 38,8oC

–          Testis ada

–          Matanya terjadi gangguan (berwarna merah muda/pink eye)

–          Bersih

–      Maseter : baik

–      Limpa : baik

–      Jantung : baik

–      Paru-paru : baik

–      Hati : ada cacing lumayan banyak tapi bentuknya tetap halus dan lancip

7

–          Umur cukup (poel sepasang)

–          Suhu 38,7 0c

–          Mukosa hidung normal ( basah

–          Normal)

–          Testis ada

–          Bersih

–          Pada sudut matanya ada sedikit luka.

–      Limpa  : baik

–      Jantung  : baik

–      Paru-paru  : baik

–      Hati : baik

8

–          Umur cukup (poel sepasang)

–          Mukosa hidung normal (basah normal)

–          Suhu 38,8 0c

–          Badannya kotor

–          Testisnya tidak simetris tetapi kedua testisnya ada

–      Limpa : baik

–      Jantung : baik

–      Paru-paru: baik

–      Hati afkir sebagian

–      Ginjal : baik

–      Retikulum : banyak paramphistomum

9

–          Umur cukup (poel sepasang)

–          Suhu 38,7oc

–          Mukosa hidung normal  (basah normal)

–          Testis ada

–          Bersih

–          Mata seperti katarak

–          Terdapat luka di punggung

–      Limpa : baik

–      Jantung :banyak lemah pada perkardium

–      Paru-paru : ada bintik-bintik hitam (normal terlalu exercise)

–      Hati : afkir

–      Ginjal : baik

 

  1. b.      Kambing

Kambing ke

Antemortem

Postmortem

1

–       Kepala coklat sedikit yg lain putih –       Anemia

2

–       Kambing baru datang

–       Mata putih

–       Limpa : baik

–       Jantung  : baik

–       Paru-paru : baik

–       Hati : baik

3

–       Tidak tercatat –       Limpa : baik

–       Jantung : baik

–       Paru-paru warna tidak normal memar

–       Hati: baik

4

–       Tidak tercatat –       Jantung : baik

–       Paru-paru: baik

–       Hati : baik

5

–       Tidak tercatat –       Jantung : baik

–       Paru-paru: baik

–       Hati : baik

 

 

4.2.  Pembahasan

4.2.1. Sapi

Pada sapi didapat empat jenis penyakit yaitu fasciolasis, monorchidsm, pink eye dan paramphistomiasis. Dari keempat penyakit tersebut sembilan sapi yang disembelih hati dari tujuh diantaranya harus diafkir. Sedangkan kejadian pink eye dan monorchidsm hanya ditemui masing-masing satu ekor. Berikut paparan dari keempat penyakit tersebut.

 –       Moonorchidsm

Pada kasus sapi kurban ini ketika dilakukan penyembelihan, terlihat testis berapa tepat diatas skrotum namun tidak turun. Sehingga sapi tersebut dapat digolongkan mengalami kelainan kriptorchid monolateral (monorchidsm). Sebenarnya sapi dengan kelainan seperti ini tidak boleh digunakan sebagai hewan kurban. Sapi ini merupakan sapi yang digunakan untuk menukar sapi yang sebelumnya dinyatakan belum cukup umur, sehingga sapi ini tetap disembelih karena efisien waktu.

 –       Distomatosis

Dari sembilan sapi yang disembelih, hati dari tujuh diantaranya harus diafkir.  Lima diantara 7 tersebut diafkir seluruhnya karena cacing telah menyebabkan sirosis hati sehingga hati mengeras sehingga tidak layak dikonsumsi.

 –       Pink eye

Pada pemeriksaan hewan kurban kali ini diketahui ada satu sapi yang mengalami pink eye dibagian mata sebelah kanan. Mata sapi tersebut terlihat tertutup selaput putih seperti mata katarak. Sapi diisolasi dengan meletakkan sapi yang mengidap pink eye jauh dari sapi lainnya kira-kira 10 meter agar tidak menular kepada sapi yang lain. Ketika dilakukan pemeriksaan dengan memberi cahaya pada mata yang mengalami pink eye, mata sapi tersebut masih memberikan reflek, sehingga tidak dilakukan pengobatan.

 –       Paramphistomiasis

Untuk kejadian paramphismtomiasis tidak dapat tercatat seluruhnya karena isi abdomen setelah disembelih segera dibawa ke sungai untuk dibersihkan. Isi abdomen atau jeroan yang telah dibersihkan dibawa kembali ke area penyembelihan untuk ditimbangkan dan dibagikan. Saat proses pemotongan tersebut didapati pada bagian dalam rumen. Rumen yang dirasa memiliki koloni paramphistomum yang cukup banyak dipotong dan dipisahkan dan tidak layak dikonsumsi.

 4.2.2. Kambing

Keadaan post mortem pada kambing tidak dapat seluruhnya terpantau karena setelah pemeriksaan antemortem, pada keesokkan harinya kambing disembelih pada tempat yang berbeda. Hanya tercatat beberapa ekor, dimana salah satunya tercatat mengalami anemia yang terlihat pada perubahan warna dari organ dalamnya. Anemia tersebut didapat disebabkan oleh banyak faktor. Namun karena informasi yang tidak lengkap penulis tidak dapat menjabarkan.

 BAB V

PENUTUP

 5.1.  Kesimpulan

Pemeriksaan antemortem dan postmortem wajib dilakukan untuk menjamin daging atau jeroan dari hewan kurban telah sesuai dengan prinsip ASUH yaitu Aman, Sehat, Utuh dan Halal. Kedua pemeriksaan tersebut harus didampingi oleh dokter hewan untuk mencegah terjadinya kecurangan atau hal-hal yang dapat merusak daging atau jeroan dari hewan kurban.

Pemeriksaan antemortem dan postmortem juga harus wajib dilaksanakan di rumah pemotongan hewan untuk menjamin daging yang beredar telah diperiksa dan tidak berpeluang menyebabkan food borne disease. Prosedur yang telah ditetapkan harus dipatuhi agar tidak menimbulkan penyakit atau polemik dimasa mendatang. Oleh karena itu calon dokter hewan harus mampu melaksanakan kedua pemeriksaan tersebut sebagai tugas pokok dokter hewan di rumah pemotongan hewan.

 5.2.  Saran

Sebaiknya sesudah praktikum diadakan evaluasi agar mahasiswa dapat menganalisis permasalahan yang timbul pada saat pelaksanan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Aak. 1995. Petunjuk Praktis Beternak Sapi Perah. Yogyakarta: Kanisius.

Adnan, K.S. 2007. Infertilitas Karena Faktor Genetik pada Sapi. Diakses pada 20 Desember 2012 dari <http://www.fedcosierra.com/2007/04/Infertilitas-Karena-Faktor-Genetik-Pada.html>

Akoso,T.B. 1991. Manual untuk Paramedik Kesehatan Hewan Edisi 2. Omaf-Cida Disease Investigasi Center.

Akoso, T. B. 1996. Kesehatan Sapi. Yogyakarta: Kanisius

Blood, D.C., O.M. Radostits dan J.A. Henderson. 1983. Veterinary Medicine 6th Ed. Philadelphia: Lea And Febiger

Made D.N.D. 1997. Penyidikan Penyakit Hewan. Denpasar: CV Bali Media Perkasa.

Perdhana, L. 2012. Anatomi Fisiologi Lien/Limpa/Spleen. Diakses 20 Desember 2012 <http://medicina-islamica-lg.blogspot.com/2012/02/Anatomi-Fisiologi-Lien-Limpa-Spleen.html>

Radostits O. 2007. Veterinary Medicine A Textbook Of The Diseases Of Cattle, Horses, Sheep, Pigs and Goats 10th Edition. New York. Saunders Elsevier Limited.

Ressang, A. A. 1984. Pathologi Khusus Veteriner. Bali: Fad Project Khusus Investigasi Unit Bali.

Retro. 2011. Aspergillus Jamur Rumahan. Diakses 20 Desember 2012 <http://budidayaukm.blogspot.com/2011/06/Aspergillus-Jamur-Rumahan.Html

Soedarto. 2003. Zoonosis Kedokteran. Surabaya: Airlangga Press.

Sumartono. 2001. Parasitologi Umum. Yogyakarta: Bagian Parasitologi FKH UGM.

Supandiman, I. 1997. Hematologi Klinik. Bandung: Penerbit Alumni.

Urquhart G.M., Armour J., Duncan J.L., Dunn A.M., and Jennings F.W. 1996. Veterinary Parasitology 2nd Edition. England: Elbs

PATOLOGI SISTEMIK : Chronic Downer

Chronic Downer/ Cow Downer/ Downer Syndrom adalah keadaan dimana sapi tidak dapat berdiri dan selalu dalam keadaan berbaring pada salah satu sisi tubuhnya selama lebih dari 24 jam. Sering terjadi pada induk hewan yang sedang bunting tua atau beberapa hari sesudah partus. Lebih lengkap dapat dilihat di  Chronic Downer – Sirkulasi ok

DIAGNOSA KLINIK : Left Displaced Abomasum

MAKALAH

PRAKTIKUM DIAGNOSA KLINIK

DI PT. GREENFIELD PADA 17 DESEMBER 2012

 KASUS

LEFT DISPLACED ABOMASUM

Disusun Oleh

Inggil Pusvita R                         0911310046
M. Masyhuri D.S                        0911310052
Pascara Fajar L.                        0911310054
Prima Santi                               0911310056
Putrika Suryandari                    0911310057

PDH-A-2009

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012


BAB I

PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang

Industri sapi perah setiap tahunnya terus meningkat sesuai dengan peningkatan permintaan susu dalam negeri maupun luar negeri. Untuk menjaga produksi susu makan sapi perah harus terus dalam keadaan sehat agar dapat bunting dan menghasilkan susu setelah partus. Dalam industri ini yang menjadi perhatian khusus adalah produkvitas induk dalam menghasilkan susu, sedangkan pedet merupakan bonus. Sehingga keadaan induk, kesehatannya, nafsu makan dan lain-lain menjadi fokus perhatian agar produksi susu tetap bagus.

Sapi perah setelah partus memiliki resiko tinggi mengalami gangguan infeksius maupun metabolit yang dapat berpeluang menurunkan produktivitas sapi perah. Gangguan pada saat partus antara lain dystocia, paralysis, prolapsed uterus, retained placenta, metritis, dan milk fever. Sedangkan ketika awal laktasi dapat terjadi displaced abomasum, ketosis, rumen acidosis, abomasal ulcers, dan fatty liver.

Begitu banyak kemungkinan yang dapat mengintai sapi perah oleh karena itu dibutuhkan dokter hewan yang dapat menghandle keadaan sapi yang kemungkinan mengalami gangguan dan berpotensi menganggu proses produksi susu. Sehingga sebagai calon dokter hewan harus memiliki skill dalam menangani hewan besar. Oleh karena itu kami melakukan praktikum di PT. Greenfield pada tanggal 17 Desember 2012 untuk memberikan wawasan terhadap profesi dokter hewan besar khususnya pada sapi perah.

 1.2.  Tujuan

–          Untuk mengetahui metode penerimaan pasien

–          Untuk mengetahui metode pemeriksaan fisik dan anamessa pasien

–          Untuk mengetahui metode diagnosa dan terapi penyakit pasien

 1.3.  Manfaat

Agar mahasiswa calon dokter hewan dapat memiliki skill dalam menerima pasien, dapat melakukan pemeriksaan fisik dan anamessa terhadap pasien serta mampu mendiagnosa dan terapi penyakit pasien.

 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.  Etiologi

Left displaced abomasum (displasia abomasum) merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi pada sapi perah terutama di masa awal laktasi atau beberapa minggu post partus. Displasia abomasum atau yang sering disebut tibalik kadut (sunda) atau juga lambung geser adalah berpindahnya atau bergesernya letak abomasum ke posisi abnormal. Kejadian displasia abomasum biasanya diawali dengan adanya atoni abomasum dan timbunan gas sehingga abomasum mudah sekali bergeser. Pergeseran letak abomasum bisa ke bagian perut sebelah kiri bisa juga bergeser ke sebelah kanan dan atau disertai dengan perputaran.

Letak abomasum secara normal adalah di bagian ventral rongga perut sebelah kanan, diantara rusuk ke 7-11.

Penyebab LDA bermacam-macam, tetapi penyebab utamanya ialah asupan pakan sesudah dan sebelum sapi partus. Periode transisi yang terjadi 2 minggu sebelum beranak hingga 2-4 minggu pascamelahirkan adalah periode risiko utama dalam etiologi LDA. Jumlah pemberian konsentrat yang berlebihan selama periode prepartum meningkatkan risiko displasia abomasum kiri. Distensi gas dan hypomotility dari abomasum mungkin dikarenakan tingkat konsentrat pada pakan yang tinggi untuk sapi perah pada akhir kehamilan (Radostits, 2006).

Akhir Kebuntingan. Rumen yang terdesak oleh perluasan uterus dan abomasums di dorong maju dan ke kiri bawah rumen. Setelah partus, rumen kembali dan menjebak abomasums terutma jika atoni karena pemberian konsentrat yang berlebihan (Radostits, 2006). Hypocalcemia biasanya terjadi pada sapi perah dewasa saat kelahiran. Level Ca dalam darah berpengaruh pada motilitas abomasum. Motilitas normal memerlukan 1,2 mmol Ca/ L dan di bawah itu akan menyebabkan motilitas abomasums hilang. Sapi yang mengalami hypocalcemia mempunyai resiko 4.8 kali lebih besar untuk mengalami LDA (Radostits, 2006). LDA paling sering ditemukan pada sapi perah produksi tinggi, tetapi juga dapat dijumpai pada sapi potong, (Timothy, 1999).

2.2.  Penyebab

Faktor resiko terjadinya displasia abomasum:

  1. Faktor manajemen dan pakan

Perbandingan antara konsentrat dengan rumput berhubungan dengan kejadian Displasia abomasum, semakin tinggi pemberian konsentat maka makin tinggi pula kemungkinan terjadinya Displasia abomasum.

  1. Pengalaman dilapangan memang terbukti dari kasus displasia yang ditemui rata-rata terjadi pada sapi-sapi yang di beri konsentrat berlebih dengan pemberian rumput yang minimal karena peternak ingin mendapatkan hasil susu yang maksimal. Kejadian DA ditemukan juga pada pedet yang mulai di beri konsentrat. Pedet tersebut diberikan konsentrat yang berlebih dan pernah terjadi juga pada kandang kelompok sehingga sebagian pedet lebih dominan dan memakan konsentrat lebih banyak.
  2. Kelainan pada masa Periparturien (sekitar kelahiran)

Beberapa kelainan atau gangguan pada masa periparturien yang beresiko menyebabkan DA meliputi : distokia,kelahiran kembar, metritis, ketosis atau milk fever. Gangguan tersebut kebanyakan menyebabkan kekurangan kadar Ca darah atau akibat adanya endotoksin sehingga mengakibatkan terjadinga atoni abomasum & akumulasi gas yang mengakibatkan terjadinya DA.

  1. Jenis dan umur

Jenis sapi FH (Frisian Holstein) cenderung lebih mudah mengalami Displasia abomasum. Kejadian Displasia abomasum lebih sering terjadi pada sapi dewasa yang habis lahir dan pada pedet yang mulai disapih.

2.3.  Gejala klinis

Sapi dengan LDA nafsu makannya turun, terjadi penurunan curah tinja, frekuensi kontraksi rumen berkurang, dan hypogalactia. Perut mungkin terlihat sedikit buncit di kiri, tulang rusuk akan bermunculan, tetapi perut cekung di fosa paralumbar. Denyut nadi sedikit meningkat (85 sampai 90 denyut / menit). Ketonuria dan aseton pada nafas biasanya hadir. Suara denting (tinkling sound) terdengar pada auskultasi rumen dalam fosa paralumbar kiri. Ping zone dapat ditemukan di mana saja dari sepertiga bagian bawah perut di ruang intercostal 8 sampai fosa paralumbar. Pemeriksa harus dilakukan dengan mengetuk sepanjang garis dari tuber coxae ke siku. Luas ping zone sering melingkar dan umumnya tidak melampaui tulang rusuk terakhir. Pada abomasal distensi ekstrim abomasum dapat terlihat dalam fosa paralumbar kiri. Dalam kebanyakan kasus rumen tidak akan ditekan erat ke dinding abdominal saat diraba melalui fosa paralumbar kiri. Tinja mungkin lebih kering dari normal atau sedikit dan encer (Guard, 1997).

2.4.  Patogenesis

Pada sapi yang tidak bunting, abomasums menempati bagian ventral abdomen dengan pylorus memperluas ke sisi kanan caudal dari omasum. Pada kebuntingan, uterus membesar menempati sebagian besar cavum abdomen. Uterus mulai ke bagian bawah caudal dari rumen sehingga menurunkan volume rumen pada akir kebuntingan. Hal tersebut mendesak abomasums ke depan dan agak k samping kiri abdomen, meskipun pylorus terus memanjang melintasi abdomen ke bagian kanan. Setelah kelahiran, uterus memendek ke belakang menuju pelvic inlet yang dalam keadaan normal memungkinkan abomasums untuk kembali normal (Radostits, 2006).

Selama LDA, akir pyloric dari abomasums sepenuhnya berada di bawah rumen sisi kiri. Isi rumen relatif berkurang dan atoni abomasums memungkinkan abomasums untuk membesar (menggembung) dan berpindah ke sisi kiri abdomen.

Dalam abomasums normal, produksi gas seimbang dengan pengeluarannya secara oral atau aboral. Ketika motilitas abomasums menurun (tidak memadai), akumulasi gas terjadi. Kelebihan gas tersebut berasal dari rumen yang berhubungan dengan peningkatan pakan konsentrat dan peningkatan konsentrasi volatile fatty acid (VFA) dalam abomasums. Tingginya biji-bijian dan rendahnya hijauan dapat menyebabkan VFA ada dalam abomasums dengan berkurangnya kedalaman ruminal mat (raft) (Radostits, 2006).

Rumen raft menangkap partikel biji-bijian kemudian difermentasi di bagian atas cairan rumen. VFA diproduksi dibagian atas cair rumen yang kemudian diserap diserap rumen dengan sedikit VFA  yang masuk k abomasums. Pada sapi dengan rumen raft yang tidak memadai (pakan hijauan rendah), partikel biji-bijian jatuh ke bagian ventral rumen dan reticulum kemudian difermentasi atau langsung diteruskan ke abomasums. VFA diproduksi di rumen ventral sehingga dapat melewati orificium rumenoreticuler dan masuk k abomasums sebelum rumen mengabsorbsinya (Radostits, 2006).

Ketika sapi diberi pakan tinggi biji-bijian akan menyebabkan berkurangnya regurgitasi cud dan mastikasi, serta penurunan produksi saliva yang berpengaruh pada buffering rumen (Radostits, 2006).

Pembentukan ruminal raft dari partikel jerami berfungsi untuk mempertahankan fermentasi subtract pakan dalam rumen. Oleh karena itu sebagian besar produksi gas terjadi dalam rumen. Ingesta perlahan-lahan masuk ke glandular abomasums melalui kontraksi rumen. Dalam glandular digesti, abomasums mensekresi sejumlah besar HCl, yang kemudian dinetralkan oleh HCO3-. Sekresi HCO3- terjadi di duodenum dan distimulus oleh aliran bolus makanan. HCl dan KCl direabsorsi dalam saluran pencernaan dalam jumlah rendah, untuk menjaga keseimbangan asam basa (Murphy, 2007).

Dalam dysplasia abomasums, pengeluran abomasal secara fungsional terhalang lipatannya sendiri pada rumen dan terhimpit di dorsal antara rumen dengan dinding abdomen kiri (LDA), atau rumen dengan viscera abdominal kanan (RDA). Obstruksi tersebut membuat hydrogen, potassium, dan klorida yang terkandung dalam cairan lambung yang secara fungsional reabsorpsinya menghilang. Penurunan nafsu makan juga berperan besar dalam hypokalemia pada ruminant karena penurunan asupan ion (Murphy, 2007).

Tanpa adanya aliran ingesta, duodenum tidak mensekresikan HCO3- pankreatik, membuat peningkatan HCO3- dan produksi alkaliosis metabolic alkalosis. Dalam ginjal, HCO3- difiltrasi oleh glomerulus dan direabsorbsi pada tubulus proximal terlepas dari konsentrasi HCO3- dalam plasma (Murphy, 2007).

Dalam kasus alkalosis metabolic hypochloremik, aciduria mungkin terjadi. Dalam merespon dehidrasi akibat hipovolemia, aldesteron merangsang ginjal untuk mempertahankan Na+ dan air. Cl- adalah anion yang diserap bersama dengan Na. namun karena penyerapan Cl- dalam dysplasia abomasums tidak tersedia untuk penyerapan Na. oleh karena itu HCO3- menggantika untuk diserap dengan Na+, sehingga terjadi penurunan pH urin. Hipokalemia menyebabkan pertukaran ion H+ tidak ada, sehingga ditukar dengan Na+ menyebabkan urin asam (Murphy, 2007).

2.5.  Diagnosis

Berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan fisik, terutama dengan auskultasi dan perkusi dinding perut terdengar adanya suara khas yang nyaring yang sering disebut tinkling sound atau ping sound. Diagnosis juga dapat dilakukan dengan pengambilan dan pengukuran pH cairan Abomasum. Pada sapi yang mengalami Displasia Abomasum biasanya mempunyai pH cairan abomasum kurang dari 2 (Soebronto, 2003).

2.6.  Diferensial diagnosa

Differensial diagnosa pada LDA antara lain dilihat dari bunyi “Ping”

2.7.  Penanganan

Ada beberapa cara terapi untuk displasia abomasum dengan tingkat keberhasilan dan resiko yang berbeda-beda. Terapi yang dapat dilakukan adalah:

  1. Operasi.

Merupakan terapi terbaik. Banyak macam cara atau metode operasi yang digunakan, misalnya : Right paramedian abomasopexy; right flank omentopexy dan left flank abomasopexy.

Teknik Operasi Right Flank Omentopexy pd kasus LDA

–          Cukur rambut di daerah flank kanan (di sekitar tempat incisi) hingga bersih

–          Lakukan anastesi  lokal atau bisa juga dengan anastesi regional (metode L terbalik)

–          Desinfeksi kulit disekitar tempat incisimenggunakan alcohol dan povidon secara bergantian dan dilakukan melingkar dari tengah ke samping luar, pasang kain penutup operasi

–          Incisi  daerah flank kanan sekitar 15-20 cm hingga memotong kulit, muskulus dan peritoneum

–          Eksplorasi rongga abdomen dengan tangan kiri, identifikasi  posisi abomasums kemudian lakukan pengeluaran gas dengan meggunakan jarum yang dihubungkan dengan selang (hati-hati saat memegang ujung jarum, jangan sampai menusuk organ lain).

–          Ujung selang masukkan kedalam air untuk mendeteksi adanya gas yang keluar. Lakukan pengeluaran gas semaksimal mungkin.

–          Setelah gas dikeluarkan, jarum di tarik keluar, Lakukan reposisi abomasum

–          Cari pylorus dan omentum, pilih bagian omentum yang tebal kira-kira 5-7 cm dorsal dan caudal dari pylorus kemudian jahitkan dengan dinding abdomen. Buatlah jahitan pada dua titik. Apabila kurang yakin, lakukan penjahitan pada bagian pylorus (usahakan hanya menusuk pada bagian muskularis saja, dan gunakan benang nylon monofilament)

–          Masukkan cairan fisiologis+antibiotic kedalam rongga perut untuk menjaga kelembaban organ  dan mencegah infeksi

–          Lakukan penutupan dinding perut (peritoneum-muskulus-kulit)

–          Terapi dengan injeksi antibiotic selama 3 hari.

Right flank omentopexy

Kelebihan: Hewan masih dalam keadaan berdiri. Dapat dipakai untuk kasus LDA, RDA maupun volvulus. Manipulasi terhadap abomasum minimal. Mudah untuk mengidentifikasi  jika terjadi volvulus. Kelemahan: Sulit untuk melakukan reposisi abomasum dan fiksasi terutama pada kasus LDA. Abomasum sulit untuk di lihat. Resiko terjadinya kontaminasi saat melakukan pengeluaran gas. Kemungkinan untuk kambuh kembali jika lokasi fiksasi terlalu caudal atau terlalu dorsal dari pylorus. Point Penting: Handle omentum dengan hati-hati. Tempat fiksasi sebaiknya 5-7 cm caudal dan dorsal dari pylorus.

 v Left Flank Abomasopexy

Kelebihan: Hewan masih dalam keadaan berdiri. Digunakan untuk kasus LDA. Merupakan cara terbaik untuk penanganan kasus LDA pada masa kebuntingan tua (8-9 bln). Inspeksi abomasum dan palpasi reticulum lebih mudah dibandingkan dengan teknik Right flank omentopexy. Kelemahan: Abomasums harus berada dalam posisi yang lebih atas. Operator harus dibantu atau dipandu dalam melakukan penusukan jarum ke dinding  ventral abdomen. Membutuihkan lengan yang panjang. Chronic fistula dapat terjadi jika abomasum sobek dari jahitan. Resiko tertusuk atau sobeknya vena mammaria. Point penting: Teknik yang sangat dianjurkan untuk kebuntingan tua. Jika blum terbiasa tandai terlebih dahulu bagian dari tempat keluarnya jarum. Sebelum melakukan fiksasi ke ventral abdomen pastikan tidak  ada usus yang ikut terikat.

 v  Paramedian Abomasopexy

Kelebihan: Perlekatan antara abomasums dan dinding abdomen sangat kuat. Fiksasi  abomasum pada posisi normal. Inspeksi abomasums sangat jelas. Kelemahan: Restrain hewan sangat sulit jika tidak tersedia peralatan yang memadai. Kontra indikasi untuk hewan yang mengalami pneumonia atau dalam keadaan shock.  Resiko terjadinya infeksi luka bekas incisi. Point penting: jahitan jangan sampai melewati mukosa dari abomasums. Benang monofilament harus digunakan untuk menutup dinding abdomen.

  1. Laparoskopi dan Fiksasi

Merupakan cara pengikatan abomasum dengan dinding abdomen dari luar dengan membuat lubang kecil menggunakan alat seperti trokar dan benang yang deberi penahan. Cara ini memang meminimalkan luka tetapi membutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang lebih. Ada berbagai metode laparoskopi dan fiksasi, antara lain: percutaneous toggle-pin fixation; two-step laparoscopic reposition and fixation; one-step laparoscopic reposition and fixation pada posisi hewan berdiri dan one-step laparoscopic fixation pada posisi dorsal recumbency.

  1. Pemutaran (Rolling technique)

Merupakan cara klasik. Hewan di ikat kakinya kemudian di telentangkan kemudian digoyang-goyangkan kekiri ke kanan. Cara ini memang mudah dilakukan tapi kemungkinan kesembuhan dengan teknik ini kecil. Kelebihan : Murah, Tanpa operasi. Kelemahan : Tingkat keberhasilan rendah. Kemungkinan untuk kambuh lagi besar. Point penting: Berbahaya  apalagi untuk hewan bunting Contoh penanganan kasus LDA dengan rolling technique :

Gambar 4. Teknik pemutaran kasus LDA

  1.  Puasa dan exercise (pengalaman di lapangan)

Merupakan cara yang sering kami lakukan dilapangan apabila tidak mungkin dilakukan operasi. Cara ini dilakukan karena kebanyakan kejadian Displasia Abomasum yang ditemui akibat kesalahan manajemen dan pemberian pakan. Terapi ini dilakukan dengan menghentikan total pemberian konsentrat dan membiarkan sapi untuk berjalan2 di tempat yang lapang (dipedok = sunda) untuk beberapa hari. Tujuan terapi ini adalah mencegah bertambahnya akumulasi gas dan mengharapkan pergeseran abomasum ke posisi normal. Tingkat keberhasilan dengan cara ini memang kecil tapi sampai sejauh ini masih menjadi pilihan kami karena masih tingginya ketakutan peternak dengan operasi. Apabila dengan terapi ini masih belum berhasil, masih ada satu terapi lagi, yaitu menyarankan untuk dibawa ke RPH atau jagal.

  1. Toggle Fixation

Metode ini memiliki kelebihan : Cepat dan Murah, Luka minimal, tanpa pembedahan dinding abdomen. Kelemahan : Berbahaya jika salah tusuk. Point penting : Sangat berbahaya untuk kasus RDA apalagi disertai volvulus

2.8 Pencegahan

Manajemen diet baik akan mengurangi insiden LDA. Menghindari perubahan mendadak dalam ransum dan termasuk memberi sumber serat yang memadai dengan akan meningkatkan volume rumen.

 BAB III

METODOLOGI

3.1.  Tanggal dan Tempat

Praktek Diagnosa Klinik dilaksanakan di PT. Greenfield, Gunung Kawi, Malang pada hari Senin tanggal 17 Desember 2012 dari pukul 15.00-17.00 WIB.

 

3.2.  Alat dan Bahan

Adapun alat untuk melakukan pemeriksaan fisik menggunakan termometer dan stetoskop. Untuk mendiagnosa penyakit atau gangguan pada pasien dibutuhkan anamessa dan data riwayat hewan. Terapi penyakit pasien disesuaikan dengan hasil dari diagnosa.

 3.3.  Langkah Kerja

Pasien

–          Dilakukan pemeriksaan fisik meliputi sistem sirkulasi dengan mengitung detak jantung dan pulsu pada arteri, sistem respirasi dengan menghitung gerak paru-paru dan in-ex udara pada hidung, mengamati sistem reproduksi dan sistem termoregulasi menghitung temperature dengan termometer.-          Dilakukan pengamatan perubahan perilaku, nafsu makan, urinasi dan struktur, warna, bau defekasi sapi

–          Dilakukan anamesa pada penjaga kandang, melihat recording data riwayat hidup sapi,

–          Didiagnosa dan terapi penyakit

Hasil

 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.  Hasil

  1. a.         Pemeriksaan Fisik

–       Thermoregulasi : 38,6oC

–       Sistem respirasi :

Perhitungan melalui hembusan nafas : 21

Perhitungan gerak paru2 : normal

–       Sistem sirkulasi :

Cardiac Output (sistol,diastol): 100/menit

Pulsus : 100/menit

–       Performance : Lemas,, kurus,, legok lapar cekung

–       Sistem pencernaan

* Tidak ada gerak rumen – auskultasi suara       pung

–       Sistem reproduksi

* palpasi rectal – dischaege bening dr     vagina, tdak berbau

* feses berbau, konsistensi sedikit lembek, warna normal

  1. b.        Rekording Data

–          Sapi jenis FH

–          Umur  676 hari

–          1 kali bunting à partus 4.12.2012 à distokia dengan kategori CD 2 (bantuan orang tanpa alat)

–          Produksi susu 11 litter à 11.12.2012

–          Riwayat penyakit à metritis setelah partus

4.2.  Pembahasan

Perbandingan pemeriksaan fisik dengan data fisiologi sapi

No  Sistem à PE  Data normal
1 Sistem sirkulasi à Pulsus = 100/menit 54-84 /menit
2 Thermoregulasi à Suhu =  38,6oC 38-39,3oC
3 Sistem Respirasi à Frek. = 21/menit 23/ menit

Kondisi tubuh atau perfoma sapi  lemah, kurus dalam kandang jepit.  Legok lapar (flack) nampak cekung besar hal ini terjadi karena sapi tidak mau makan. Ketika dilakukan aukultasi tidak terdengar gerak rumen yang menandangkan rumen kosong. Namun ketika dilakukan aulkutasi dengan cara menepuk bagian rumen terdengar suara ping/pung. Berdasarkan pemeriksaan klinis serta berdasarkan anamnesis maka diagnosa yang diambil adalah Left Displaced Abomasum (LDA).

Diagnosa tersebut didasarkan pada saat masa post partus, fetus keluar dari rongga abdomen sehingga rongga abdomen kosong. Disisi lain sapi diberi pakan konsentratt dalam jumlah besar untuk memacu peningkatan  produksi susu. Konsentrat yang dimakan tidak mengalami remastikasi setelah masuk rumen namun langsung masuk ke reticulum. Sehingga volume rumen kecil. rongga abdomen yang seharusnya terisi oleh rumen menjadi yang kosong kemudian abomasum yang bergeser dari kanan ke kiri mengisi rongga tersebut.

Kami tidak mendiagnosa metritis karena penyakit tersebut mulai sembuh terbukti dari leleran dari vaginal saat palpasi menunjukkan cairan bening dengan pus yang tidak berbau merupakan tanda bahwa sapi dalam keadaan imunitas yang baik sehingga alasan sapi tidak mau makan bukan karena penyakit metritis.

Terapi yang dapat diberikan yaitu pemberian infus ringer laktat sebagai penanganan terhadap dehidrasi. Selain itu juga dibeikan infus dextrose 5% dan biosalamin sebagai suportif agar sapi memiliki energi karena sapi tidak mau makan. Pencegahan yang mungkin bisa dilakukan yaitu pengaturan diet seimbang pakan hijauan dan konsentrat agar volume rumen bisa meningkat dan mencegah abomasums berpindah karena rongga abdomen kosong.

Pronogsa dari pasien sapi perah ini adalah infalse. Kondisi pulsus yang mencapai 100/menit menunjukkan ada peningkatan kerja jantung dimana fungsi jantung sudah dalam keadaan tidak baik. Terlebih lagi ketika diamati terjadi pulsasi pada vena jugularis yang menunjukkan kinerja jantung dalam menghisap darah kembali ke jantung mengalami peningkatan yang abnormal. Sehingga organ vital dari sapi tersebut dalam keadaan yang jelek sehingga tidak dapat dipertahankan. Selain itu sapi tidak mampu berdiri, sedangkan satu-satunya metode yang dapat digunakan untuk menangani masalah tersebut secara cepat dan tepat yaiu melakukan laparatomy. Proses lapatomy tidak dapat dilakukan dalam keadaan berdiri karena seluruh organ dalam kondisi tendensi kuat sehingga berpotensi keluar semua dari rongga abdomen yang akan menyusahkan proses laparatomy.

BAB V

PENUTUP

 5.1.  Kesimpulan

Left displaced abomasum (displasia abomasum) merupakan merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi pada sapi perah terutama di masa awal laktasi atau beberapa minggu post partus. LDA adalah berpindahnya atau bergesernya letak abomasum ke posisi abnormal. Penanganan yang dapat dilakukan dengan terapi simptomatik dan suportif dengan infus ringer laktat, dextros 5% dan biosalamin. Sedangkan terapi causatif dapat dilakukan laparatomy apabila prognosis hewan false. tetapi apabila prognosis hewan infalse sebaiknya dipotong saja selain untuk efisien pemeliharaan juga mengurangi penderita sapi.

 5.2.  Saran

Sebagai dokter hewan, harus lebih sering turun ke lapangan agar terampil dalam mendiagnosa gejala klinisi yang tampak maupun tidak tampak sehingga penyakit dapat ditangani lebih cepat dan prognosisnya lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Adrian Steiner. 2006. Surgical Treatment of the Left Displacement of the abomasum  An Update. Clinic für Ruminants Vetsuisse, Faculty of Bern, Switzerland.  in Word Buiatric Congress, Nice France.

David Weaver, Adrian Steiner and Guy St Jean. 2005. Bovine surgery and lameness. Blackwell Publishing Ltd, Oxford

Desrochers, A and Harvey, D. 2002. SURGERIES OF THE ABOMASUM. Faculté de Médecine Vétérinaire.Université de Montréal.

Podpecan, O. S. Hrusovar-podpecan. 2001.Treatment of Left Abomasal Displacement in Ogilvie TH. 1998. Large  Animal  Internal  Medicine  First  edition. USA: Williams & Willkins

Radostits, O.M.; Gay, C.C.; Blood, D.C.; Hinchcliff, K.W. 2006. Veterinary Medicine: A textbook of the diseases of cattle, horses, sheep, pigs and goats. 10th ed. St. Louis: W.B. Saunders

Dairy Cattle by Rolling and Percutaneous Paramedian Abomasopexy using  Toggle Pin Fixators of Cornel Wood. Slov.Vet.Res 2001:38 (4):327-32

Subronto. 2003. Ilmu  Penyakit Ternak  1 (Mamalia). Gadjah Mada University Press : Yogjakarta

FARMAKOTERAPI : Local Anesthesia

TUGAS STRUKTUR

FARMAKOTERAPI VETERINER

 

Local Anesthesia

 

 

Disusun oleh :

 

Fitri Amalia Riska     0911310012
Hendra Legatawa      0911310023

Lelyta Damayanti      0911310037

Muh. Masyhuri D.S   0911310052

Prima Santi                 0911310056

Putrika Suryandari   0911310057

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2011


BAB I

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Anestesi secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846. Obat untuk menghilangkan nyeri terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu analgetik dan anestesi. Analgetik adalah obat pereda nyeri tanpa disertai hilangnya perasaan secara total. seseorang yang mengonsumsi analgetik tetap berada dalam keadaan sadar. Analgetik tidak selalu menghilangkan seluruh rasa nyeri, tetapi selalu meringankan rasa nyeri.

Beberapa tipe anestesi yaitu general anestesi yaitu hilangnya kesadaran total, local anastesi yaitu hilangnya rasa pada daerah tertentu yang diinginkan (pada sebagian kecil daerah tubuh) dan regional anestesi yaitu hilangnya rasa pada bagian yang lebih luas dari tubuh oleh blokade selektif pada jaringan spinal atau saraf yang berhubungan dengannya.

Anestesi lokal adalah salah satu jenis anestesi yang hanya melumpuhkan sebagian tubuh manusia dan tanpa menyebabkan manusia kehilangan kesadaran. Obat bius jenis ini bila digunakan dalam operasi pembedahan, maka setelah selesai operasi tidak membuat lama waktu penyembuhan operasi.

 

Tujuan

  1. Untuk mengetahui penggunaan anestetik yang digunakan untuk local aneastesi drai jurnal yang dibahas.

 

Manfaat

  1. Agar memahami penggunaan anestetik yang digunakan untuk local aneastesi drai jurnal yang dibahas.

BAB II

PEMBAHASAN

 

Pada tugas kali ini kelompok kami menggunakan jurnal berjudul Action of Ropivacaine as a Surface Anaesthetic on the Cornea of Rabbits. Adapun riview jurnal tersebut adalah sebagai berikut :

 

Pengenalan

Anestesi topikal atau anastesi pada membran mukosa hidung, mata, tenggorokan, cabang tracheobronchial, esofagus dan saluran urogenital dapat diproduksi secara langsung dengan aplikasi campuran garam pada banyak lokal anaestesi atau lokal anestesi bentuk suspensi. Lokal anestesi yang biasanya digunakan yaitu tetracaine (2%), lidocaine (2-10%) dan cocaine (1-4%). Lokal anestesi akan diserap dengan cepat ke dalam sirkulasi diikuti efek topikal pada membran mukosa atau kulit.

Toksisitas jantung terhadap stimulasi bupivacaine menyebabkan efek toxin anestesi lokal berkurang dan tahan lama. Ini merupakan suatu bupivacaine lebih baru congener yang mana lebih baik daripada bupivacaine untuk epidural anesthesia oleh memiliki potensi mengurangi blok motor. Baru-baru ini telah disetujui penggunaanya untuk orang dewasa. Anestesi ini efek toxinnya berkurang ke sistem saraf pusat dan jantung dan mengganggu sedikit dengan fungsi motor dari bupivakain. S-enansiomer dipilih karena memiliki toksisitas lebih rendah daripada r-isomer. Ini blok aβ murah c fibries (terlibat dalam transmisi nyeri) lebih lengkap daripada aβ fibries yang mengontrol fungsi motorik. Meskipun konsentrasi efektif equi c dari ropivacaine yang tinggi daripada bupivakain, pemisahan antara blok sensorik dan motorik telah diperoleh tingkat yang lebih besar dengan epidural ropivacaine.

Ropivacaine adalah s-enansiomer dari 1-propil-2 ‘, 6’pipecoloxylidide merupakan anestesi lokal long-acting baru dari jenis amida. Mengandung pusat kiral tunggal dan digunakan sebagai murni s-enantioner. Di racemisasi vivo tidak terjadi setelah distribusi sistemik obat. Sifat fisiokimia yang mencakup-berat 274,4 (dasar), dan log 8.1 pk d (ph 7,4 n-oktanol vs buffer) 2.15. Intervena ropivacaine menunjukkan farmakokinetik obat liner dan hampir sepenuhnya dimetabolisme, dengan kurang dari 1% dari dosis diekskresikan tanpa perubahan.

Beberapa studi telah dilakukan untuk mengungkapkan lingkup ropivacaine untuk digunakan dalam berbagai penyakit dan kondisi. Infiltrasi split situs cangkokan kulit donor dengan ropivacaine meningkatkan nyeri pasca operasi selama 48 jam. Ini adalah metode yang aman dan efisien untuk meningkatkan kenyamanan di samping ganti oklusif standar. Luas permukaan dural mempengaruhi penyebaran anestesi epidural dengan volume lemak ropivacaine dan posterior mempengaruhi durasi anestesi epidural dengan ropivacaine. Anestesi topikal dengan ropivacaine aman dan efektif dalam operasi pterygium. Ropivacaine terbukti efektif untuk menghilangkan nyeri setelah perbaikan hernia di blok ilioinguinal yang menyertai anestesi umum.

Ropivacaine memiliki khasiat mirip dengan lidokain, dengan onset sedikit lebih panjang dan durasi blokade motor. Di samping itu, ropivacaine (0,75%) menginduksi tekanan intraokular yang lebih rendah dan nyeri kurang pada injeksi daripada lidokain (2%) bila digunakan dalam anestesi peribulbar untuk operasi katarak. Dibandingkan dengan lidokain, anestesi regional intervenous dengan ropivacaine tampaknya sebanding tapi sisa anestesi tahan lama. Kemampuan ropivacaine topikal lebih baik walaupun dengan dosis minimal daripada lidokain topikal dalam keberhasilan dan keselamatan dalam operasi katarak. analgesia yang cukup dan tahan lama tanpa perlu dilakukan anestesi intracameral tambahan dalam kebanyakan kasus.

Ropivacaine 0,5% dengan 1:200,00 epinephrines setara dengan 0,5% bupivakain dengan 1:200.000 epinephrines dalam tindakan farmakologis. Ropivacaine tanpa epinefrin untuk anestesi pulpa durasi berkurang. Ropivacaine dengan epinefrin memiliki potensi untuk menggantikan bupivakain dengan epinefrin dalam praktek gigi klinis karena potensi penurunan untuk toksisitas jantung dan sistem saraf pusat.

Namun, aksi ropivacaine sebagai anestesi permukaan belum diteliti sejauh ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki peran ropivacaine sebagai anestesi permukaan pada kornea kelinci.

 

Material dan Metode

Studi ini dilaksanakan pada 5/2/2010 sd 24/06/2010 selama 4 bulan di Mamata Medical College (MMC). Digunakan 20 kelinci (tergantung sexnya) kelinci ini diperoleh dari house of research milik MMC yang kondisinya dijaga mulai pada temperatur 22-26oC dan kelembapan antara 30-70%. Kelinci add libitum air dan makanannya (disediakan dalam bentuk pellet). Semua percobaan yang dilakukan dengan protokol dan ditinjau dengan menggunakan kode etik untuk hewan dan diawasi langsung oleh Commite of the Purpose of Control and Supervision of Experiment on Animal (CPCSEA).

Penghitungan dosis larutan standard ropivacaine. Di pasaran biasanya tersedia larutan standart yang berisi 70% ropivacaine dalam 1 mL dalam sediaan 7.5 mgm/L.

1 milliter berisi 7.5mg atau 7500μg ropivacaine.

1 milliter sedian berisi 14 drop

Sedian/drop = 7500/14 = 535.71 μg

2 drop berisi 535,71×2 = 1071.42 μg

Pemberian larutan uji pada pada hewan coba. Kelompok hewan dipisah menjadi 2 kelompok dengan treatment yang berbeda yaitu kelompok 1 dan kelompok 2. Bulu mata kelinci dijepit dengan penjepit untuk menghindari reflek kornea ketika dilakukan inisiasi dengan memberikan perlakuan berupa sentuhan. Percobaan dilakukan dengan menggunakan mata kanan sedangkan mata kiri sebagai kontrol. Pada kelompok 1 diberi larutan ropivacaine 1 drop sedangkan pada kelompok 2 diberi larutan 2 drop.

Reflek kornea akan terjadi ketika kornea disentuh dengan menggunakan cotton wisp. Sentuhan ini diberikan ketika 5 menit sebelum mata diberikan ropivacaine sedang setiap 5 menit berikutnya berulang diberikan ropivacaine sampai kornael reflek hilang. Lalu ditunggu sampai corneal reflek muncul kembali. Waktu corneal reflek hilang sampai muncul kembali disebut duration of action. Setelah hasil didapatkan lalu data dimasukkan ke tabel lalu dibandingkan antara onset of action dan duration of action.

 

Hasil

 

Waktu hilangnya reflek kornea dan waktu antara hilang dan munculan kembali refleks kornea pada 20 kelinci albino telah dicatat setelah pemberian dua dosis standard sedian ropivacaine. Pada baseline (menit ke-), semua kelinci pada kelompok 1 dan 2 ( n=20) menunjukkan memiliki reflek kornea normal. Lima menit setelah diaplikasi oleh tes, semua kelinci dalam kelomok 1 masih memiliki reflek kornea normal sedangkan pada kelompok 2 reflek kornea hilang. Kira-kira 10 menit, kelinci kelompok 1 juga kehilangan reflek kornea. Pada kelompok kelinci 1, ada 1 kelinci yang memiliki reflek kornea kembali setelah 30 menit (durasi aksi =25 menit), 2 kelinci memiliki reflek kornea kembali setelah 35 menit (durasi aksi = 30 menit), 5 kelinci memiliki reflek kornea kembali setelah 40 menit (durasi aksi = 35 menit). Dalam kelompok kelinci ke 2, 2 kelinci memiliki reflek kornea kembali setelah 45 menit (durasi aksi = 45 menit), 3 kelinci memiliki reflek kornea kembali setelah 50 menit (durasi aksi = 50 menit), 2 kelinci memiliki reflek kornea kembali setelah 55 menit (durasi aksi = 55 menit) dan 3 kelinci memiliki reflek kornea kembali setelah 60 menit (durasi aksi = 60 menit). Untuk kontrol (mata kiri), reflek kornea positif pada periode percobaan.

Analisa statistik mengungkapkan perbedaan yang sangat penting antara kelompok 1 dan 2 dengan (p<0,001). Rata-rata aksi kelompok 1 adalah 10 menit dan kelompok 2 adalah 5 menit. Durasi aksi untuk kelompok 1 adalah 29+- 4,595 dan untuk kelompok 2 48 +- 5,869.

 

 

Diskusi

Topikal anestetik yang digunakan secara klinis dalam pengobatan mata antara lain kokain, proparcain dan tetracaine tetes dan lidocaine gel. Propacain dan tetracain digunakan untuk pemindahan tubuh lain, untuk tonometry dan untuk perawatan korneayang dangkal da tidak menimbulkan efek samping. Ropivacaine adalah anesthesi lokal utama yang digunakan anestesi epidural dan regional. Efek samping dari ropivacaine topical belum dipelajari secara intensif tapi suatu studi menunjukkan tidak adanya efek samping pada biopsi ephitelium ocular. Selain itu ropivacaine aman dan efektif dalam pembedahan pterygium. Penggunaan anestesi long-lasting diijinkan pada prosedur pembedahan dengan autograf conjutival graft dan fibrin glue untuk mengurangi rasa sakit, invasiva yang berhubungan dengan pembedahan yang memiliki jangka waktu perawatan yang pendek atau singkat.

Baru-baru ini anestesi topical dan intracameral menjadi popular pada pembedahan katarak modern. Selama dekade terakhir, ropivacaine digunakan sebagai alat penelitian yang memberikan kontribusi yang sangat besar pada pemahaman patologi permukaan okular termasuk investigasi efek toxin pada aplikasi kimia anterior camera, untuk aplikasi instansi ropivacaine pada endothelium kornea. Pengarang memberikan beberapa perhatian pada penggunaan anestesi intracameral karena efek samping distruktur intraocular, khususnya pada endothelium kornea. Banyak eksperimen yang mempelajari mengenai toksisitas endothelial. Satu persen lidocaine hydrochloride (HCL) menyebabkan transien edema sel endothelial pada in vitro perfuse endothelium manusia dan kornea kelinci

Ropivacaine 1% dan lidocaine 2% aman dan efektif digunakan pada anastesia topikal. Namun, ropivacaine dapat mengkondisikan jalannya operasi yang lebih baik daripada lidocaine untuk bedah dan pasien akan merasa lebih nyaman. Anestesia topikal dengan ropivacaine lebih aman, layak dan lebih efektif daripada lidocaine. Salah satu studi menyatakan bahwa kornea mata yang terkena 0,01% konsentrasi ropivacaine tidak menyebabkan gangguan secara histologis. Metode–metode pada ilmu cytology dapat digunakan untuk mengetahui efek–efek toxic (berbahaya) pada agen anastetik. Keberhasilan 1% ropivacaine untuk anastetik topikal dalam kedokteran gigi sebanding dengan 20% benzocaine gel dan eutectic mixture pada local anastetik 2,5% lidocaine dan 2,5% prilocaine. Pemberian ropivacaine secara bertahap pada intraperitoneal efektif untuk menurunkan nyeri setelah operasi dan memperpendek waktu recovery setelah dilakukan laparoscopic colectomy. Pemberian ropivacaine tambahan secara bertahap pada akhir operasi juga terbukti sangat efektif. Studi yang berbeda menyatakan juga bahwa ropivacaine pada intraperitoneal akan mengurangi rasa nyeri selama periode post-operasi setelah laparoscopic appendectomy.

Ropivacaine merupakan S-enantiomer murni yang memiliki kelarutan lipid sedikit dan memiliki sedikit sifat cardiotoxic daripada bupivacaine, namun lebih cardiotoxic daripada lidocaine. Ropivacaine merupakan obat yang memiliki sifat long-acting, memiliki amida S-enantiomer murni untuk local anastetik, dibuat dengan mengubah ( memodifikasi ) obat – obat yang sudah ada sebelumnya. Secara kimiawi hampir sama seperti bupivacaine dan mepivacaine. Ketiga obat anastetik tersebut disusun oleh molekul pipecolyl xylidines yang digabungkan dengan cincin piperidine dari cocain dengan xylidine dari lidocaine. Penggantian grup methyl, butyl dan propyl pada cincin piperidine dapat menaikkan fungsi mepivacaine, bupivacaine dan ropivacaine. Potensi dan kelarutan lemak yang tinggi dari ropivacaine dapat memberikan gambaran toksisitas CNS yang sama dengan bupivacaine. Penelitian tentang anastesia pada mencit menunjukkan bahwa dosis kumulatif dari levobupivacaine dan ropivacaine dapat menyebabkan kejang yang hampir sama seperti bupivacaine. Prediksi cardiac toxicity pada ropivacaine telah dilakukan studi dan studi untuk memastikan arrhythmogenicity dari ropivacaine berada diantara mepivacaine dan bupivacaine. Dosis kumulatif dari levobupivacaine dapat menghasilkan disritmia dan asistole kecil daripada dosis ropivacaine yang sesuai, tetapi lebih besar daripada bupivacaine. Ropivacaine lebih mudah menginduksi kerja cardiac daripada bupivacaine atau levobupivacaine.

Studi lainnya pada mencit menyatakan bahwa ropivacaine lebih sedikit bersifat toxic daripada bupivacaine. Pada kelinci dan babi, indikasi ditemukan bahwa ropivacaine memiliki cardiodepressive dan arrhythmogenic yang rendah dibanding dengan bupivacaine. Ropivacaine memiliki neurotoxic dan cardiotoxic yang rendah dibandingkan bupivacaine. Menurut data klinis, ropivacaine lebih aktif dan memiliki toleransi yang bagus seperti bupivacaine, ketika dosis equianalgesic dibandingkan dan untuk memblok serabut saraf yang terlibat dalam transmisi nyeri (A delta dan C fibres) sehingga dapat menaikkan level fungsi control motorik (A beta fibres). Menaikkan level pemisahan antara motorik dan sensorik terlihat dengan ropivacaine relative terhadap bupivacaine pada konsentrasi rendah (5 mg kg-1), hal ini akan menjadi suatu aplikasi yang sangat bermanfaat.

Studi ini dilakukan untuk melihat apakah ropivacaine memproduksi bahan tambahan anastesia atau tidak. Studi ini menunjukkan bahwa ropivacaine berpotensi untuk menjadi tambahan anastetik dan memiliki onset yang cepat dengan durasi rata – rata kerja obat dengan dosis satu tetes 187,5ug onset kerja ( hilangya reflek kornea selama 10 menit ) dan durasi kerja (menunjukkan kembai roflek kornea 29 menit). Untuk keterangan lebih lanjut, lihat tabel-tabel yang disediakan

 

Kesimpulan

Seperti proparcaine dan tetracaine, ropivacaine dapat juga digunakan sebagai campuran anestesi untuk menghilangkan benda asing serta kondisi klinis lainnya dalam ilmu oftalmologi. Dalam penelitian yang berbeda, menunjukkan keamanan dan potensi obat ini sebagai obat anastetik topikal dengan resiko yang kecil pada kerja jantung dan neurotoxicities pasien. Penelitian selanjutnya telah dilakukan untuk mengetahui perbedaan dosis ropivacaine, serta penelitian tentang perbandingan antara lidocaine dengan bupivacaine seharusnya terus dilakukan untuk mengetahui potensi ropivacaine sebagai tambahan obat anastetik.

BAB III

PENUTUP

 

Dalam jurnal tersebut dilakukan penelitian mengenai kemampuan dan efektifitas, dosis dan efek samping yang muncul dari penggunaan ropivacaine sebagai anestesi topikal. Dari data penelitian dan literatur yang pengarang pakai didapatkan bahwa 1% ropivacaine aman dan efektif digunakan pada anastesia topikal sebanding dengan lidocaine 2%. Namun, ropivacaine dapat mengkondisikan jalannya operasi yang lebih baik daripada lidocaine untuk bedah dan pasien akan merasa lebih nyaman. Anestesia topikal dengan ropivacaine lebih aman, layak dan lebih efektif daripada lidocaine.

 

PENYAKIT MIKROBIAL DAN PARASITER : Mengamati Cacing pada Hati Sapi di RPH Gadang, Malang

TUGAS TERSTRUKTUR

PENYAKIT MIKROBIAL DAN PARASITER 2

 

Mengamati Cacing pada Hati Sapi di RPH Gadang, Malang

 

 

Oleh:

      Galuh Candra S M P            0911310043

      Inggil Pusvita R                     0911310046

      Ken Ranisa Kusuma             0911310047

      M Jalaludin Fida                   0911310048

      Muh Masyhuri Ds                 0911310052

      Pascara Fajar Lukito            0911310054

      Prima Santi                            0911310056

      Putrika Suryandari               0911310057

 


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2011


BAB I

PENDAHULUAN

 

Parasit atau cacing tidak begitu diperhatikan keberadaannya pada ternak. Padahal cacing yang seringkali tidak dideteksi tersebut berpengaruh besar pada kesehatan serta produktivitas ternak itu sendiri. Cacing yang berpredileksi pada usus mempengaruhi penyerapan nutrisi dari pakan sehingga secara tidak langsung menyebabkan gangguan penyerapan sari makanan. Hal tersebut berhubungan erat dengan produktivitas ternak. Cacing yang hidup diorgan tubuh juga menyebabkan kerusakan organ yang berdampak pada kinerja organ tersebut dalam menjalankan fungsi.

Di Indonesia konsumsi organ dalam hewan masih sangat luas setelah konsumsi daging. Melalui daging dan organ kista atau telur cacing dapat menjadi salah satu penyebab food borne disease pada manusia. Sehingga pemeriksaaan postmortem harus dilakukan secara teliti dan cermat sebelum daging dan organ dalam tersebut dipasarkan. Organ yang telah mengalami kerusakan dan menjadi sarang cacing sebaiknya disingkirkan. Namun dalam prakteknya para pegawai RPH atau jagal tidak memperdulikan hal tersebut karena berorientasi pada profit.

Oleh karena itu kami mendapat tugas untuk mengamati keberadaan cacing yang berpredileksi di dalam organ hepar serta mengetahui presentase sapi yang mempunyai cacing pada organ hepar. Pengamatan dilakukan selama seminggu dari tanggal 18 Oktober-23 Oktober 2011 di Rumah Pemotongan Hewan Gadang Jl. Kol. Sugiono No. 176, Malang, Jawa Timur 65148

 

Tujuan

–          Untuk mengetahui cacing yang hidup di dalam organ hepar sapi

–          Untuk mengamati keadaan hepar sapi yang mengidap cacing

 

Manfaat

–          Untuk memberi informasi mengenai keberadaan cacing pada organ hepar sapi

–          Untuk memberi informasi akibat keberadaan cacing pada organ hepar sapi

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Cacing yang hidup pada hepar sapi yaitu cacing dari genus Fasiola. Cacing yang berpredileksi pada hati sapi yaitu Fasiola hepatica dan Fasiola gigantica. Cacing hati yang asli Indonesia yaitu Fasiola gigantica. Penyakit yang disebabkan oleh cacing pipih genus Fasiola diberi nama Fasciolosis.

 

2.1  Sinonim

Penyakit ini dikenal dibanyak negara dengan berbagai istilah yang berbeda namun mempunyai arti yang sama. Nama lain dari fasciolosis adalah Distomatosishepatik, Fasciolosis, cattle liver fluke, Giant liver fluke (Akoso,1991).

 

2.2  Etiologi

Fasciolosis adalah penyakit yang disebabkan cacing dari genus fasciola. Berdasarkan taksonominya cacing ini mempunyai klasifikasi sebagai berikut:

Phylum                 : Platyhelminthes

Sub Phylum          : –

Kelas                    : Trematoda

Ordo                     : Digenea

Family                  : Fasciolidae

Genus                   : Fasciola

Species                 : Fasciola hepatica, Fasciola gigantica

Sedangkan secara anatomi fasciola berbentuk pipih dorsoventral. Ukuran dan bentuk fasciola bervariasi F. gigantika berukuran 25-75 x 5-12 mm, berwarna terang dan pundaknya tidak begitu nyata, telurnya berukuran 156-197 x 90-104 mikron. F. hepatica berukuran 25-30 x 8-15 mm, berwarna coklat keabuan dan pundaknya lebar, telurnya berukuran 130-160 x 63-90 mikron (Levin, 1994).

 

2.3  Distribusi

Distribusi penyakit ini hampir ada diseluruh hewan produksi seperti sapi dan kambing diseluruh dunia. Fasciolosis biasanya terjadi pada daerah daerah yang mempunyai populasi hospes intermedietnya saja (Anonim, 2005).

 

2.4  Epidemiologi

Menurut Torgerson (1999) fasciolosis pada manusia banyak dilaporkan dari negara-negara Eropa, Amerika, Asia, Afrika, dan Oceania. Prevalensi penyakit pada manusia berkorelasi dengan penyakit pada hewan.

  • Eropa : Dari tahun 1970-1982 di Prancis terdapat 5863 kasus yang dilaporkan di rumah sakit. Penyakit tersebut secara serologis 3.01% berada di Antalusia dan 6.1% di Isparta,
  • Amerika : Di Amerika serikat penyakit ini bersifat sporadik sedang di Mexico terdapat 53 kasus yang dilaporkan.
  • Afrika : Prevalensi yang tinggi telah di laporkan di Egypt, penyakit tersebar di lingkungan sekitar Nile delta. Kecuali di bagia utara tidak ada laporan.
  • Asia : Di Asia kasus yang dilaporkan di Iran dengan jumlah 10 000 kasus yang terdeteksi sedang di Asia tenggara kasus ini bersifat sporadik.

 

Sedangkan pada hewan di dunia terdapat 89.5% kasus infeksi. Penyebaran penyakit pada hewan terdapat di beberapa negara diantaranya:

  • Europa : Ireland, Prancis, Portugal, Italia, Jerman
  • Asia : Thailand, Iraq, Iran, China, Vietnam, Jepang
  • Afrika : Kenya, Zimbabwe, Maroko
  • Amerika : Mexico, Peru, Brazil
  • Australia : Australia, New Zaeland

Hewan yang rentan adalah domba dan kambing, hewan yang kurang rentan adalah sapi, kerbau dan ruminan lain, dan dapat juga menyerang babi, anjing, kucing, kuda, kelinci dan manusia.

Penyebaran fasciolosis di Indonesia mula-mula dilaporkan oleh Van Velzen di Tangerang pada tahun 1890 dan sekarang diketahui tersebar di seluruh Indonesia sesuai dengan penyebaran siput Lymnea yang menjadi induk semang antara. Fasciola gigantica merupakan parasit asli dari Indonesia sedangkan Fasciola hepatica datang ke Indonesia mungkin bersama-sama dengan di bawanya sapi perah FH dari Belanda. Fasciolosis pada sapi dan kerbau bersifat kronis, sedangkan pada domba dan kambing bersifat akut. Fasciola gigantica dapat menimbulkan kematian pada hewan, terutama biri-biri dan sapi (Soedarto, 2003).

 

2.5  Sumber Infeksi

Sumber infeksi yang utama berasal dari kontamianan air dan daging atau produk lain asal hewan yang terinfeksi stadium infektif dari cacing fasciola (Akoso,1996).

 

2.6  Penularan

Infeksi terjadi didaerah yang basah atau lembab, rawa atau daerah payau, dimana banyak terdapat siput, cacing akan keluar dan berenang dan berkeliling akhirnya menempel dan tinggal pada tumbuh-tumbuhan yang akan termakan oleh hewan yang kemudian menjadi induk semang. Penularan ini juga berhubungan erat dengan siklus hidup cacing ini:

 

 

Induk semang dari fasciola adalah siput, umumnya genus Lymnea. Di Indonesia telah diketahui adalah Lymnea rubiginosa. Telur fasciola keluar bersama tinja induk semang dari telur yang menetas keluar mirasidium yang terus masuk ke dalam siput. Dalam tubuh siput mirasidium berubah menjadi sporokista. Sporokista menghasilkan redia, dan redia menghasilkan serkaria. Serkaria keluar dari siput yang merupakan fase infektif. Bila serkaria tidak termakan oleh induk semang maka akan menghasilkan kisata (metaserkaria), tenggelam ke dalam air atau menempel pada rumput (Levin, 1994).

Infeksi terjadi bila induk semang memakan rumput atau meminum air yang tercemar. Dalam usus serkaria keluar dari metaserkaria dan terus menembus dinding usus masuk keruang peritoneum, selanjutnya menembus selaput hati dan meninggalkan jalur-jalur hemorhagik pada parenkim hati dalam perjalanannya menuju saluran empedu untuk menjadi dewasa. Masa prepaten 2-3 bulan (Soedarto, 2003). Penularan pada manusia pada prinsipnya sama dengan penularan pada hewan. Skema penularan pada manusia :

 

 


BAB III

HASIL PENGAMATAN

 

Hasil pengamatan dilakukan selama seminggu dari tanggal 18 Oktober-23 Oktober 2011 di Rumah Pemotongan Hewan Gadang.

 

18 Oktober 2011

19 Oktober 2011

 

 

20 Oktober 2011

 

21 Oktober 2011

22 Oktober 2011

 

 

23 Oktober 2011


BAB IV
PEMBAHASAN

 

4. 1 Hati

Hati merupakan pusat dari metabolisme seluruh tubuh, merupakan sumber energi tubuh sebanyak 20% serta menggunakan 20 – 25% oksigen darah. Ada beberapa fungsi hati yaitu :

  1. Fungsi hati sebagai metabolisme karbohidrat
  2. Fungsi hati sebagai metabolisme lemak
  3. Fungsi hati sebagai metabolisme protein
  4. Fungsi hati sehubungan dengan pembekuan darah
  5. Fungsi hati sebagai metabolisme vitamin
  6. Fungsi hati sebagai detoksikasi
  7. Fungsi hati sebagai fagositosis dan imunitas
  8. Fungsi hemodinamik

 

4.2 Patologi Klinis

Dari hasil pengamatan yang dilakukan selama seminggu dari tanggal 18 Oktober-23 Oktober 2011 di Rumah Pemotongan Hewan Gadang Jl. Kol. Sugiono No. 176, Malang, Jawa Timur 65148 kami mendapatkan gambar seperti diatas. Dalam pengamatan tersebut didapatkan data bahwa setiap hepar sapi yang dipotong selalu ada yang kerusakan pada hepar. Setelah meminta ijin pada para jagal kami mendapati Fasiola yang bersarang di dalam hati membuat terowongan-terowongan sehingga terjadi perubahan jaringan hati.

Cacing ini akan memakan jaringan hati dan darah pada saat masih muda, dan makanan utama setelah dewasa adalah darah. Pada pemeriksaan hati sapi di rumah potong hewan, luas kerusakan hati tergantung pada hebatnya infeksi dan lamanya hewan sakit . Pada infeksi yang parah terlihat adanya perubahan berupa pembengkakan yang berair dan penyumbatan saluran empedu, jaringan hati mengeras karena terbentuk jaringan parut (cirrhosis) dan hati mengecil (atrophi). Hal tersebut dapat mengakibatkan gangguan proses pertumbuhan, produksi susu dan berat badan menurun sehingga menyebabkan penurunan produksi dan dapat menyebabkan kematian.

Gejala klinis fasciolosis dapat sangat ringan atau tanpa gejala, namun gangguan pada fungsi hati dapat juga terjadi. Bentuk akut pada sapi mempunyai ciri-ciri gangguan pencernaan, adanya gejala konstipasi yang jelas dan kadang-kadang mencret. Terjadi pengurusan yang cepat, lemah dan anemia. Bentuk kronik pada sapi berupa penurunan produktivitas dan pertumbuhan yang terhambat.

Bentuk akut pada domba dan kambing, berupa mati mendadak disertai darah yang merembes atau keluar dari hidung dan anus. Bentuk kronik pada tahap pertama pada domba menunjukan gejala menjadi gemuk akibat banyaknya empedu yang disalurkan ke dalam usus, karena lemak kurang berfungsi atau tidak dipergunakan akibat adanya anemia. Meskipun gemuk terjadi kelemahan otot. Selanjutnya diikuti penurunan nafsu makan, selaput lendir pucat, serta bulu menjadi kering dan rontok, akhirnya terjadi kebotakan dan hewan menjadi lemah dan kurus (AAK, 1995).

 

4.3 Diagnosa

Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat penderita yang mengalami pembesaran hati yang melunak, dan disertai sindrom demam eosinofilik. Migrasi cacing muda dari usus ke hati dapat menimbulkan lesi ektopik di dinding usus, jantung, bola mata, paru dan jaringan dibawah kulit, sehingga menimbulkan keluhan setempat (Akoso, 1994).

Untuk menegakkan diagnosis pasti, dilakukan pemeriksan tinja atau cairan duodenum atau cairan empedu hospes untuk menemukan telur cacing fasciola. Penghitungan jumlah telur tiap gram tinja, menemukan metaserkaria pada rumput. Untuk membantu menegakkan diagnosis terutama fasciolosis jaringan dan fasciolosis dalam periode prepaten, maka dapat dilakukan berbagai uji imunodiagnostik misalnya uji imunofluoresen tak langsung, uji hemaglutinasi pasif, uji presipitasi gel atau metode imunodiagnostik lainnya (Akoso, 1995).

Bentuk akut dapat keliru dengan penyakit antrax, karena adanya pengeluaran darah dari hidung dan anus. Bentuk kronik pada domba dapat keliru dengan haemonchosis karena adanya bottle jaw, anemia pada fasciolosis dapat keliru dengan anemia oleh penyebab yang lain (Akoso, 1991).

Pada hewan dewasa perubahan-perubahan sering hanya terbatas pada hati. Mungkin hewan itu sedikit kurus atau pucat. Pada hewan muda perubahan-perubahan biasanya lebih menyolok, kekurusan, anemi, busung air dimana-mana merupakan perubahan-perubahan terpenting. Pada infeksi akut hati bengkak karena degenerasi parenkim atau infiltrasi lemak; di bawah selubung hati dan pada bidang sayatan nya terlihat perdarahan-perdarahan disebabkan oleh migrasi parasit-parasit muda. Dalam tingkat hal ini kita harus waspada terhadap infeksi sekunder dengan salmonella. Perubahan-perubahan pada hati dalam tingkat menahun ialah cholangitis, peri- cholangitis yang menjadikan hepatitis chronica indurativa (sirosis parasiter). Dinding saluran – saluran empedu sangat tebal karena pembentukan jaringan ikat dan endapan kalsium. Di dalam saluran – saluran itu tertimbun massa`detritus yang berlendir dan mengandung distoma dewasa. Sarang – sarang distomum sekali – sekali ditemukan di dalam paru – paru dan limpa (Ressang, 1984).

Di Indonesia konsumsi organ dalam masih sangat diminati. Sumber utama penularan fasciolosis pada manusia karena kebiasaan masyarakat yang gemar mengkonsumsi tanaman atau tumbuhan air, seperti selada air dalam keadaan mentah yang kemungkinan tercemar metaserkaria cacing Fasciola. Selain mengkonsumsi tanaman air dalam keadaan mentah, penularan penyakit ini dapat pula terjadi akibat meminum air mentah yang tercemar metaserkaria Fasciola spp. Penularan fasciolosis oleh F. hepatica pada manusia di Eropa diduga akibat kebiasaan sebagian masyarakat mengkonsumsi hati mentah atau hati sapi yang tidak dimasak dengan baik.

 

4.4 Pemberantasan, Pencegahan dan Pengobatan

Oleh karena itu pemberantasan atau tindakan fasciolosis ini yang sangat merugikan peternak hendaknya mendapat perhatian lebih banyak. Pemberantasan ini berdasarkan profilaksis termasuk pemberantasan induk-induk semang antara yaitu siput. Untuk mencegah penyebaran fasciolosis pada manusia, selain dengan mengendalikan fasciolosis pada hewan, juga dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi makanan atau air yang tercemar stadium infektif. Makanan atau minuman hendaknya dimasak. Pendidikan kesehatan untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan hidup (Soedarto, 2003).

Tindakannya meliputi :

  • Administrasi
  • Pemeriksaan hati ternak yang dipotong terhadap infeksi fasciola sesuai dengan peraturan yang berlaku.
  • Mencatat dan melaporkan hasil pemeriksaan secara teratur.

Pencegahan yang dilakukan untuk penyakit fasiolosis ini antara lain yaitu :

  • Pemotongan siklus hidup dengan mollusida
  • Memberantas siput secara biologi, misalnya dengan pemeliharaan itik.
  • Rotasi lapangan rumput.
  • Memperbaiki sistem pengairan sehingga memungkinkan tindakan pengeringan.
  • Menyebarkan copper sulphat atau trusi di lapangan penggembalaan.
  • Melakukan pemberian obat cacing secara teratur.

Secara umum paling tidak pengobatan harus dilakukan 3 kali dalam setahun yaitu :

  1. Permulaan musim hujan, untuk menghilangkan cacing didapat selama musim kemarau dan menghadapi perluasan habitat siput.
  2. Pertengahan musim hujan, untuk mengeluarkan cacing yang diperoleh selama musim hujan, dan untuk mengurangi peluang infeksi mirasidium pada siput yang habitatnya meluas.
  3. Pada akhir musim hujan, untuk menghilangkan cacing yang didapat selama musim hujan serta mengurangi potensi untuk terkontaminasi dimusim kemarau.

Adapun obat yang yang digunakan untuk penyakit fasiolosis ini antara lain yaitu :

  • Hexachloroethane (Egitol 20-30 mg/kg BB, PO)
  • Hexachlorophene (Distodin 15-20 mg/kg BB, PO)
  • Nitroxynil (Dovenik 10 mg/kg BB, SC. Trodak 10-12,5 mg/kg BB, SC)
  • Derivat Benzimidazol (Albendazol, Triclabendazol, Prebendazol, Febantel) Dosis 10-15 mg/kg BB untuk sapi dan kerbau, 10 mg/kg BB untuk domba dan kambing.
  • Tidak ada pengobatan yang spesifik terhadap fasciolosis pada manusia, namun pemberian Praziquantel dengan dosis 25 mg/kg BB 3 kali sehari sesudah makan, yang diberikan selama 1-2 hari ternyata memberikan hasil yang cukup memuaskan (Soedarto, 2003).

 

 


BAB V

PENUTUP

 

5.1 Kesimpulan

Cacing yang hidup pada hepar sapi yaitu cacing dari genus Fasiola. Cacing yang berpredileksi pada hati sapi yaitu Fasiola hepatica dan Fasiola gigantica. Keadaan hepar sapi yang mengidap cacing pada infeksi yang parah terlihat adanya perubahan berupa pembengkakan yang berair dan penyumbatan saluran empedu, jaringan hati mengeras karena terbentuk jaringan parut (cirrhosis) dan hati mengecil (atrophi).

 

5.2 Saran

Untuk perbaikan yang akan datang, fokus dari tugas penyakit mikroba dan parasiter untuk kunjungan ke RPH lebih diperjelas.

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

AAK. 1995. Petunjuk Praktis Beternak Sapi Perah. Yogyakarta: Kanisius

Akoso. T. B. 1991. Manual Untuk Paramedik Kesehatan Hewan, Edisi Ke2. Omaf-Cida Disease Investigasi Center.

Akoso. T. B. 1996. Kesehatan Sapi. Yogyakarta: Kanisius

Ressang. A. A. 1984. Pathologi Khusus Veteriner. Denpasar: Fad Project Khusus Investigasi Unit Bali.

Soedarto. 2003. Zoonosisi Kedokteran. Surabaya: Airlangga Press

Torgerson, P, Claxton J. 1999. Epidemiology and Control Fasciolosis. In Dalton, JP Wallingford CABI Pub. pp. 113–49