0

PATOLOGI SISTEMIK : Postmortem Hewan Kurban

LAPORAN PRAKTIKUM

PATOLOGI SISTEMIK DAN NEKROPSI

 PEMERIKSAAN HEWAN KURBAN DI PERUM TATA SURYA MALANG

Disusun Oleh

Nama        : Prima Santi

NIM          : 0911310056

Kelas        : PDH-A-2009

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012


BAB I

PENDAHULUAN

 1.1.  Latar Belakang

Hari raya kurban yang merupakan hari raya bagi umat islam di seluruh dunia ditandai dengan penyembelihan hewan kurban. Hewan yang dapat digunakan sebagi hewan kurban antara lain unta, sapi, kambing atau domba. Hewan yang akan digunakan sebagai hewan kurban hendaknya memenuhi persyaratan antara lain hewan berjenis kelamin jantan, untuk sapi berusia minimal dua tahun dan kambing miniml satu tahun, hewan tidak cacat dan tidak berpenyakit.

Pemeriksaan sebelum penyembelihan disebut pemeriksaan antemortem yang terdiri dari pemeriksaan keadaan umum hewan meliputi lubang-lubang tubuh hewan, menghitung pernafasan, mengecek pencernaan dan peredaran darah, mengukur temperatur tubuh hewan, mengamati selaput-selaput lendir hewan dan keadaan kulit. Tidak lupa mengecek hewan tersebut telah masuk dalam kriteria hewan kurban. Apabila persyaratan tersebut telah terpenuh barulah hewan kurban boleh disembelih.

Setelah hewan kurban disembelih harus dilakukan pemeriksaan postmortem untuk mengetahui daging kurban yang boleh dikonsumsi atau harus disingkirkan. Pemeriksaan postmortem antara lain melakukan pemeriksaan terhadap kepala, jantung, paru-paru, hati, limpa, usus dan lambung serta daging (karkas). Oleh karena itu kami melakukan praktikum di Perumahan Tata Surya Malang  pada tanggal 26 Oktober 2012 untuk memberikan wawasan terhadap profesi dokter hewan terhadap pemeriksaan hewan kurban untuk menyediakan daging kurban yang aman, sehat, utuh dan halal.

1.2.  Tujuan

-          Untuk mengetahui metode pemeriksaan antemortem

-          Untuk mengetahui metode pemeriksaan postmortem

-          Untuk mengetahui metode untuk menyediakan daging kurban yang aman, sehat, utuh dan halal

 

1.3.  Manfaat

Agar mahasiswa calon dokter hewan dapat memiliki skill dalam melakukan pemeriksaan antemortem dan postmortem.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Monorchidsm

Monorchidism merupakan suatu kelainan dimana hewan hanya memiliki satu testis sedangkan testis lainya tidak turun ke skrotum sehingga testis yang lainnya tetap berada dalam rongga abdomen (Adnan, 2007). Proses perpindahan atau penurunan testis dari rongga perut ke dalam rongga skrotum (descensus testiculorum) yang terjadi secara alamiah selama dalam kandungan pada akhir masa kebuntingan. Waktu terjadi proses descensus testiculorum dihitung dari masa kebuntingan. Pada kuda terjadi pada 9-11 bulan, sapi 3,5-4 bulan, domba dan kambing 80 hari, babi 90 hari, khusus pada anjing 5 hari setelah dilahirkan. Terdapat tiga tahap pada descensus testiculorum yaitu perpindahan testis di dalam rongga perut menuju cincin inquinal bagian dalam, perjalanan testis di dalam kanal inquinalis dan perjalanan di dalam rongga skrotum.

Secara normal testis pada hewan dewasa terletak di dalam rongga skrotum kecuali pada unggas, namun pada hewan pejantan tertentu dapat terjadi kegagalan penurunan testis ini ke dalam rongga skrotum. Faktor penyebab terjadinya antara lain terjadi gangguan proses pemendekan gubernakulum, gangguan sekresi hormon gonadotropin dan kelainan anatomis saluran inquinalis dalam bentuk penyempitan(Radostits, 2007).

Kelainan ini dipengaruhi oleh faktor keturunan. Jika hewan memiliki gen resesif namun tertutup oleh gen dominan maka hewan akan membawa gen homozigot resesif. Bila hewan ini dikawinkan dengan hewan yang tidak membawa gen resesif keturunanya akan tetap normal walaupun tetap membawa gen resesif. sebaliknya bila hewan betinanya homozigot resesif maka kemungkinan besar keturunanya akan membawa gen indukanya (Adnan, 2007).

Terdapat dua tipe dari descensus testiculorum yaitu kriptorchid bilateral dan kriptorchid monolateral (monorchidsm). Kriptorchid bilateral yaitu jika kedua testis tidak berada di dalam skrotum dan menyebabkan pejantan menjadi majir total karena pengaruh suhu yang lebih tinggi di dalam rongga perut sehingga proses spermatogenesis tidak dapat terjadi. Sedangkan kriptorchid monolateral yaitu jika hanya satu testis yang berada dalam rongga skrotum pejantan mampu menghasilkan semen dari testis tersebut meskipun dengan konsentrasi yang lebih encer. Kriptorchid bilateral lebih jarang terjadi dibandingkan dengan kriptorchid monolateral. Pada kuda dan sapi, kelainan anatomi ini merupakan kelainan genetik yang dibawa oleh gen dominant pada yang jantan. Hewan dengan kondisi ini masih dapat memiliki keturunan dengan melakukan pemilihan betina secara benar. Namun dilapangan sapi, kambing dan domba, pejantan yang kriptorchid harus dipotong, setelah dipelihara dalam rangka penggemukan (Adnan, 2007).

 2.2  Distomatosis

Fascioliasis atau distomatosishepatik, fasciolosis, cattle liver fluke, giant liver fluke adalah penyakit yang disebabkan cacing dari genus fasciola (Akoso, 1991). Berdasarkan taksonomi cacing ini mempunyai klasifikasi sebagai berikut:

Phylum       : Platyhelminthes

Class           : Trematoda

Ordo           : Digenea

Family        : Fasciolidae

Genus         : Fasciola

Species        : Fasciola hepatica, Fasciola gigantika

Distribusi penyakit ini hampir ada diseluruh hewan produksi seperti sapi dan kambing diseluruh dunia. Sumber infeksi yang utama berasal dari kontamianan air dan daging atau produk lain asal hewan yang terinfeksi stadium infektif dari cacing fasciola (Akoso, 1996). Infeksi terjadi didaerah yang basah atau lembab, rawa atau daerah payau, dimana banyak terdapat siput. Cacing akan keluar dan berenang dan berkeliling akhirnya menempel dan tinggal pada tumbuh-tumbuhan yang akan termakan oleh siput yang kemudian menjadi induk semang (Radostits, 2007).

Induk semang dari fasciola adalah siput, umumnya genus Lymnea. Di Indonesia telah diketahui adalah Lymnea rubiginosa. Telur cacing keluar bersama tinja induk semang dari telur yang menetas keluar mirasidium yang terus masuk ke dalam siput. Dalam tubuh siput mirasidium berubah menjadi sporokista. Sporokista menghasilkan redia, dan redia menghasilkan serkaria. Serkaria keluar dari siput yang merupakan fase infektif. Bila serkaria tidak termakan oleh induk semang maka akan menghasilkan kisata (metaserkaria), tenggelam ke dalam air atau menempel pada rumput (Radostits, 2007).

Infeksi terjadi bila induk semang memakan rumput atau meminum air yang tercemar. Dalam usus serkaria keluar dari metaserkaria dan terus menembus dinding usus masuk keruang peritoneum, selanjutnya menembus selaput hati dan meninggalkan jalur-jalur hemorhagik pada parenkim hati dalam perjalanannya menuju saluran empedu untuk menjadi dewasa. Masa prepaten 2-3 bulan (Soedarto, 2003).

Gejala klinis fascioliasis dapat sangat ringan atau tanpa gejala, namun gangguan pada fungsi hati dapat juga terjadi. Bentuk akut pada sapi mempunyai ciri-ciri gangguan pencernaan, adanya gejala konstipasi yang jelas dan kadang-kadang mencret. Terjadi pengurusan yang cepat, lemah dan anemia. Pada domba dan kambing, berupa mati mendadak disertai darah yang merembes atau keluar dari hidung dan anus. Bentuk kronik pada pada tahap pertama pada domba menunjukan gejala menjadi gemuk akibat banyaknya empedu yang disalurkan ke dalam usus, karena lemak kurang berfungsi atau tidak dipergunakan akibat adanya anemia. Meskipun gemuk terjadi kelemahan otot. Selanjutnya diikuti penurunan nafsu makan, selaput lendir pucat, serta bulu menjadi kering dan rontok, akhirnya terjadi kebotakan dan hewan menjadi lemah dan kurus  sehingga terjadi penurunan produktivitas dan pertumbuhan yang terhambat (Aak, 1995)

Diagnosa dilakukan dengan memeriksa tinja atau cairan duodenum atau cairan empedu hospes untuk menemukan telur cacing fasciola. Penghitungan jumlah telur tiap gram tinja, menemukan metaserkaria pada rumput. Untuk membantu menegakkan diagnosis terutama fasciolosis jaringan dan fascioliasis dalam periode prepaten, maka dapat dilakukan berbagai uji imunodiagnostik misalnya uji imunofluoresen tak langsung, uji hemaglutinasi pasif, uji presipitasi gel atau metode imunodiagnostik lainnya (Akoso, 1996)

Diagnosa banding dari bentuk akut dapat keliru dengan penyakit antrax, karena adanya pengeluaran darah dari hidung dan anus. Sedangkan pada bentuk kronik pada domba dapat keliru dengan haemonchosis karena adanya bottle jaw, anemia pada fascioliasis dapat keliru dengan anemia oleh penyebab yang lain (Akoso, 1991).

Pada hewan dewasa perubahan-perubahan sering hanya terbatas pada hati. Mungkin hewan itu sedikit kurus atau pucat. Pada hewan muda perubahan-perubahan biasanya lebih menyolok, kekurusan, anemia, busung air dimana-mana merupakan perubahan-perubahan terpenting. Pemeriksaan post mortem pada infeksi akut terlihat hati bengkak karena degenerasi parenkim atau infiltrasi lemak, di bawah selubung hati dan pada bidang sayatan terlihat perdarahan-perdarahan disebabkan oleh migrasi parasit-parasit muda. Perubahan-perubahan pada hati dalam tingkat menahun ialah cholangitis, pericholangitis yang menjadikan hepatitis chronica indurativa (sirosis parasiter). Dinding saluran-saluran empedu sangat tebal karena pembentukan jaringan ikat dan endapan kalsium. Di dalam saluran-saluran itu tertimbun massa`detritus yang berlendir dan mengandung distoma dewasa. Sarang-sarang distomum sekali-sekali ditemukan di dalam paru-paru dan limpa (Ressang, 1984).

Tindakan pencegahan yaitu memotong siklus hidup dengan mollusida, memberantas siput secara biologi, misalnya dengan pemeliharaan itik,  rotasi lapangan rumput, memperbaiki sistem pengairan sehingga memungkinkan tindakan pengeringan, menyebarkan copper sulphat atau trusi di lapangan penggembalaan dan melakukan pemberian obat cacing secara teratur (Sumartono, 2001).

Sedangkan tindakan pengendalian yaitu secara umum paling tidak pengobatan harus dilakukan 3 kali dalam setahun yaitu pada permulaan musim hujan untuk menghilangkan cacing didapat selama musim kemarau dan menghadapi perluasan habitat siput. Pada pertengahan musim hujan untuk mengeluarkan cacing yang diperoleh selama musim hujan dan mengurangi peluang infeksi mirasidium pada siput yang habitatnya meluas. Sedangkan pada akhir musim hujan untuk menghilangkan cacing yang didapat selama musim hujan serta mengurangi potensi untuk terkontaminasi dimusim kemarau (Sumartono, 2001).

 2.3    Pink Eye

Pinkeye disebut juga infectious bovine keratoconjunctivitis (IBK), infectious keratitis, bular mata atau radang mata atau katarak atau kelabu mata atau blight merupakan penyakit yang biasa menyerang sapi, kambing maupun domba. Pink eye disebut juga penyakit epidemik, karena ditempat yang telah terinfeksi dapat berjangkit kembali setiap tahunnya. Penyakit ini sering timbul dengan tiba-tiba terutama pada hewan dalam keadaan lelah (Blood et all, 1983).

Pink eye dapat menyerang semua jenis ternak dan semua tingkat umur, tetapi hewan muda lebih peka dibandingkan dengan hewan tua. Pink eye dapat disebabkan oleh mikroorganisme pathogen, benda asing, trauma maupun perubahan iklim. Penyebab utama pink eye pada sapi adalah Moraxella bovis sedangkan pada domba dan kambing disebabkan Rickettsia Colesiota, namun para ahli masih banyak berbeda pendapat ada yang menyebutkan penyebabnya bakteri, virus, chlamidia dan juga rickettsia. Selain itu ada beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya infeksi pink eye antara lain lalat, debu, kelembaban, musim, kepadatan hewan di dalam kandang serta kualitas makanan. Penyakit ini umum menyerang heifers dan pedet umur 3 minggu. Infeksi pink eye lebih banyak berjangkit pada peralihan musim kemarau dibandingkan dengan musim penghujan. Tetapi pada kasus yang kronis dapat berlangsung sepanjang tahun (Made, 1997).

Penyakit ini bersifat mudah menular menyebabkan inflamasi pada kornea dan konjungtiva. Beberapa kasus (2%) bahkan ada yang sampai menyebabkan ulkus kornea hingga kebutaan. Pinkeye sebenarnya termasuk ke dalam self limiting disease, artinya dapat sembuh dengan sendirinya.

Masa inkubasi penyakit ini biasanya 2-3 hari, kadang-kadang lebih panjang. Gejala klinis yang muncul antara lain demam, depresi dan penurunan nafsu makan, mata mengalami konjunctivitis, kreatitis, kekeruhan kornea dan lakrimasi. Terdapat 4 tahap gejala dari penyakit ini, setiap tahapan bila tidak ada tindakan pengobatan maka akan berkembang menuju tahap selanjutnya. Tahap 1 terjadi  hiperlakrimasi, peningkatan sensitivitas terhadap cahaya, kemerahan, dan sering berkedip. Tahap 2 terjadi ulkus pada kornea. Tahap 3 ulkus menyebar, inflamasi pada bagian dalam mata dan pada tahap 4 ulkus terjadi hingga ke iris, hewan menjadi buta.

Pada infeksi akut sekresi mata bersifat purulen, pada bagian bawah mata selalu basah, photopobia (takut cahaya). Kekeruhan kornea dapat meluas menutupi seluruh permukaan lensa mata bila diamati terlihat bintik-bintik putih atau keabu-abuan di tengah bola mata. Apabila membrana nictitan robek, maka bakteri oportunis dapat masuk kedalamnya dan mengakibatkan terjadinya infeksi pada mata sehingga mengakibatkan kebutaan.

Bintik-bintik putih semakin menebal dan menutupi permukaan kornea, cairan dari mata yang bersifat purulen saling melekat sehingga bulu mata lengket dan menyebabkan tergangunya penglihatan. Pada kasus yang kronis cairan mata keluar seperti nanah dan menempel di bawah permukaan mata sampai ke hidung bahkan mengeras membentuk keropeng. Pada infeksi ringan atau sub akut terlihat air mata cenderung keluar, kornea keruh dan sedikit pembengkakan pada jaringan sekitarnya. Pada kornea mata hewan yang sembuh dari penyakit ini terdapat jaringan parut (Made, 1997).

Prevalensi tinggi terjadi pada Bos Taurus dibanding dengan Bos indicus dan lebih resisten pada cross bred. Infeksi campuran dengan infectious bovine rhinotracheitis (IBR), mycoplasma, chlamydia, dan Branhemella ovis akan memperburuk kondisi hewan. Penyebaran penyakit ini melalui kontak dengan sekresi mata yang berasal dari hewan yang terinfeksi. Lalat juga berperan sebagai vektor dalam penyebaran penyakit ini.

Diagnosa pink eye dapat dilakukan berdasarkan etiologi, epidemiologi dan berdasarkan gejala klinis. Pemeriksaan berdasarkan gejala klinis pada penderita pink eye akan menunjukan gejala seperti mata merah, kelopak mata bengkak dan lakrimasi yang meningkat. Pada kasus yang akut kornea mata keruh dan terjadinya pengapuran pada kornea mata (Blood et all, 1983).

Pengobatan awal perlu dilakukan untuk mencegah semakin parahnya kondisi penyakit dan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut terhadap sapi lain. Tindakan karantina perlu dilakukan, karena sapi yang terinfeksi dapat berberan sebagai reservoir. Tindakan pengobatan pada prinsipnya adalah untuk mengurangi iritasi, mengurangi risiko penyebaran penyakit, dan melindungi mata dari kerusakan lebih lanjut. Beberapa jenis antibiotik yang sering digunakan dalam pengobatan pink eye seperti larutan zinc sulfat 2.5%, salap mata sulfathiazole 5%, bacitrasin salap (R282), atau kombinasi anti bakterial dengan anestesi lokal (R289) atau serbuk urea-sulfa, yang digunakan secara lokal. Bisa juga dengan tetracycline, oxytetracycline atau polymyxin B, atau erythromycine salep, yang diberikan 3-4 kali sehari, atau dengan pemberian larutan perak nitrat 1,5% (8-10 tetes) yang diberikan dengan interval 2-3 kali per minggu (Blood et all, 1983).

Cara yang paling ekonomis dalam pengobatan Pink eye yaitu dengan furazone powder atau penyuntikan LA 200 secara intra musculus maupun diteteskan pada mata, tetapi waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan sangat lama. Adapun Komposisi LA 200 terdiri atas : Gentamycin 100mg/ml : 10 ml, Dexamethasone, 2mg/ml : 10 ml, Aquadestilata  : 10 ml.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:

ü Memusnahkan hewan karier yaitu hewan yang dianggap sebagai sumber infeksi segera diisolasi dari kawanan ternak

ü Hewan yang terinfeksi segera dikandangkan (isolasi) pada tempat yang gelap, guna untuk menghindari kontak dengan hewan yang sehat baik secara langsung atau tidak langsung seperti dinding kandang, air minum tempat pengembalaan dengan demikian dapat terhindar dari lalat yang merupakan vektor dari jasad renik tersebut.

ü Sanitasi yaitu dengan menjaga kebersihan kandang serta lingkungan yang bersih serta terbebas dari genangan air.

ü Mengurangi jumlah hewan di dalam kandang. Akibat terlalu padat hewan didalam kandang dapat menyebabkan kontaminasi sesama.

ü Pemberian makanan yang cukup mengandung vitamin A atau padang pengembalaan yang baik sehingga dapat terhindar timbulnya infeksi.

ü Berdasarkan uraian diatas maka dapat diambil kesimpulan antara lain :

ü Penyakit Pink eye merupakan salah satu penyakit yang cepat menular kepada hewan yang lain.

ü Hewan yang menderita penyakit Pink eye dapat bersifat karier.

ü Pada kasus yang kronis  kalau tidak diobati dapat terjadi kebutaan.

ü Pink eye dapat menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak seperti penurunan berat badan, dan penurunan produksi.

ü Kesukaran dalam penanggulangan pink eye yang disebabkan oleh banyaknya faktor predisposisi dan agent penyebab.

ü Tindakan pencegahan yaitu dengan cara menyingkirkan hewan karier serta menjaga kualitas makanan.

2.4    Paramphistomiasis

Paramphistomiasis merupakan penyakitb yang disebabkan oleh Paramphistomum cervi dan Paramphistomum microbothrium yang menyerang  ruminansia. Lokasi infeksi cacing dewasa terdapat pada rumen dan retikulum sedangkan stadium intermediet pada duodenum. Cacing muda menyumbat penyerapan nutrisi dan menghasilkan pengikisan mukosa duodenum. Pada infeksi berat mengakibatkan enteritis, hemorraghi dan ulcer. Ketika dilakukan nekropsi cacing muda dapat dilihat seperti kelompok parasit berwarna pink kecoklatan menempel pada mukosa duodenum dan kadang-kadang juga pada jejunum dan abomasum. Ribuan cacing dewasa juga ditemukan dan bertahan hidup (memperoleh makanan) pada dinding rumen atau retikulum (Urquhart, et all. 1996).

Gejala klinis yang paling sering adalah diare disertai anorexia dan dehidrasi. Kadang-kadang pada sapi, disertai hemorraghi di rektum. Kematian pada fase akut dapat mencapai 90% (Urquhart; et.all. 1996).  Diagnosis didasarkan pada gejala klinis yang kadang-kadang menyangkut hewan muda di peternakan dan sejarah rumput apa ada disekitar habitat keong selama periode musim panas. Pemeriksaan feses penting sejak penyakit terjadi selama periode prepatent. Penegakan diagnosa dapat diperoleh dari pemeriksaan posmortem dan penemuan kembali cacing kecil dari duodenum (Sumartono, 2001).

 2.5    Anemia

Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin atau jumlah sel-sel darah yang fungsional menurun sehingga tubuh akan mengalami hipoksia sebagai akibat kemampuan kapasitas pengangkutan oksigen dari darah kurang. Anemia bukan merupakan diagnosa akhir dari suatu penyakit akan tetapi selalu merupakan salah satu gejala dari sesuatu penyakit misalnya anemia defisiensi besi selalu terjadi akibat dari pendarahan kronis mungkin disebabkan karnoma colon atau ankilostomiasis dan lain-lain. Pada hewan piaraan jarang bersifat primer sering bersifat sekunder (Supandiman, 1997).

Gejala klinis anemia bervariasi tergantung pada etiologi, derajat dan kecepatan timbulnya. Penyakit-penyakit lain seperti penyakit jantung, paru-paru akan mempengaruhi keparahan gejala-gejala. Anemia tersebut akan menampakkan gejala seperti terlihat terhadap kulit dan selaput lendir yaitu mukosa terlihat pucat, lemah, dispnea, anoreksia, oedema, nafsu makan turun, gastrointestinal mengalami kelukaan, tachycardia dan polypnea (bernafas cepat) terutama setelah kerja, peka terhadap dingin, pada pemeriksaan auskultasi terdengar bising jantung karena viskositas darah menurun dan turbulence meningkat, jika sepertiga volume darah hilang maka hewan akan syok, terlihat ikterus (jika ada hemolisa darah), hemoglobinuria, hemoragi dan demam. Gejala kurang jelas jika kejadiannya pelan-pelan sehingga hewan lama-kelamaan dapat beradaptasi (Supandiman, 1997).

BAB III

METODOLOGI

3.1.  Tanggal dan Tempat

Praktek Diagnosa Klinik dilaksanakan di Perumahan Tata Surya Malang pada hari Jumat, tanggal 26 Oktober 2012 dari pukul 06.00-11.00 WIB.

 

3.2.  Alat dan Bahan

Adapun alat untuk melakukan pemeriksaan fisik pada saat antemortem menggunakan termometer dan stetoskop. Sedangkang saat pemeriksaan postmortem menggunakan disetting set. Selain itu juga menggunakan kamera sebagai alat bantu dokumentasi.

3.3.  Langkah Kerja

Hewan

 
-          Dilakukan pemeriksaan fisik meliputi sistem sirkulasi dengan mengitung detak jantung dan pulsus pada arteri, sistem respirasi dengan menghitung gerak paru-paru dan in-ex udara pada hidung, mengamati sistem reproduksi dan sistem termoregulasi menghitung temperature dengan termometer.

-          Dilakukan pengamatan perubahan perilaku, nafsu makan, urinasi dan struktur, warna, bau defekasi sapi. Serta mengecek usia kambing atau sapi dengan melihat gigi.

-          Dilakukan keputusan hewan dapat disembelih atau tidak

-          Dilakukan pemeriksaan postmortem setelah disembelih meliputi kepala, jantung, paru-paru, hati, limpa, usus dan lambung serta daging (karkas)

-          Dilakukan keputusan karkas dan organ dikonsumsi atau tidak

Hasil

 

 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.   Hasil Pengamatan

Proses pemeriksaan postmortem meliputi pemeriksaan kepala, jantung, paru-paru, hati, limpa, ginjal, usus dan lambung serta daging (karkas) dengan data sebagai berikut:

  1. a.    Sapi

Sapi ke

Antemortem

Postmortem

1

-          Umur cukup, kulit kotor pada ekor

-          Testis hanya 1 yang terlihat turun (monocrid)

 

-      Limpa : baik

-      Jantung : baik

-      Paru-paru : baik

-      Hati : afkir (destomatosis)

-      Ginjal : baik

-      Berlemak

2

-          Umur cukup (poel sepasang)

-          Mukosa hidung normal

-          Suhu 39,3oC

-          Testis ada

-          Bersih

-

-      Limpa : baik

-      Jantung : baik

-      Paru-paru: baik

-      Hati : afkir

-      Ginjal : baik

-      Maseter : baik

3

-          Umur cukup (poel dua pasang)

-          Mukosa hidung normal (basah normal)

-          Suhu 39,5oC

-          Testis ada

-          Bersih

-      Limpa : keras

-      Jantung : pengeluaran tidak sempurna

-      Paru-paru : baik

-      Hati : tumor, tidak cerah, agak keras

-      Limfo pada kepala bagus

4

-          Mukosa hidung normal (basah normal),

-          Umur cukup (poel 2 pasang),

-          Suhu 39,6oc

-          Testis ada,

-          Bersih,

-      Limpa : baik

-      Jantung : baik

-      Paru-paru: baik

-      Hati : baik

-      Ginjal : baik

-      Trakea : baik

5

-          Tidak tercatat -      Limpa  : baik

-      Jantung : baik

-      Paru-paru : ada pus, lemak

-      Hati : afkir

-      Ginjal  : baik

6

-          Umur cukup (poel 2 pasang + 1 gigi sebelah kanan)

-          Mukosa hidung normal (basah normal)

-          Suhu 38,8oC

-          Testis ada

-          Matanya terjadi gangguan (berwarna merah muda/pink eye)

-          Bersih

-      Maseter : baik

-      Limpa : baik

-      Jantung : baik

-      Paru-paru : baik

-      Hati : ada cacing lumayan banyak tapi bentuknya tetap halus dan lancip

7

-          Umur cukup (poel sepasang)

-          Suhu 38,7 0c

-          Mukosa hidung normal ( basah

-          Normal)

-          Testis ada

-          Bersih

-          Pada sudut matanya ada sedikit luka.

-      Limpa  : baik

-      Jantung  : baik

-      Paru-paru  : baik

-      Hati : baik

8

-          Umur cukup (poel sepasang)

-          Mukosa hidung normal (basah normal)

-          Suhu 38,8 0c

-          Badannya kotor

-          Testisnya tidak simetris tetapi kedua testisnya ada

-      Limpa : baik

-      Jantung : baik

-      Paru-paru: baik

-      Hati afkir sebagian

-      Ginjal : baik

-      Retikulum : banyak paramphistomum

9

-          Umur cukup (poel sepasang)

-          Suhu 38,7oc

-          Mukosa hidung normal  (basah normal)

-          Testis ada

-          Bersih

-          Mata seperti katarak

-          Terdapat luka di punggung

-      Limpa : baik

-      Jantung :banyak lemah pada perkardium

-      Paru-paru : ada bintik-bintik hitam (normal terlalu exercise)

-      Hati : afkir

-      Ginjal : baik

 

  1. b.      Kambing

Kambing ke

Antemortem

Postmortem

1

-       Kepala coklat sedikit yg lain putih -       Anemia

2

-       Kambing baru datang

-       Mata putih

-       Limpa : baik

-       Jantung  : baik

-       Paru-paru : baik

-       Hati : baik

3

-       Tidak tercatat -       Limpa : baik

-       Jantung : baik

-       Paru-paru warna tidak normal memar

-       Hati: baik

4

-       Tidak tercatat -       Jantung : baik

-       Paru-paru: baik

-       Hati : baik

5

-       Tidak tercatat -       Jantung : baik

-       Paru-paru: baik

-       Hati : baik

 

 

4.2.  Pembahasan

4.2.1. Sapi

Pada sapi didapat empat jenis penyakit yaitu fasciolasis, monorchidsm, pink eye dan paramphistomiasis. Dari keempat penyakit tersebut sembilan sapi yang disembelih hati dari tujuh diantaranya harus diafkir. Sedangkan kejadian pink eye dan monorchidsm hanya ditemui masing-masing satu ekor. Berikut paparan dari keempat penyakit tersebut.

 -       Moonorchidsm

Pada kasus sapi kurban ini ketika dilakukan penyembelihan, terlihat testis berapa tepat diatas skrotum namun tidak turun. Sehingga sapi tersebut dapat digolongkan mengalami kelainan kriptorchid monolateral (monorchidsm). Sebenarnya sapi dengan kelainan seperti ini tidak boleh digunakan sebagai hewan kurban. Sapi ini merupakan sapi yang digunakan untuk menukar sapi yang sebelumnya dinyatakan belum cukup umur, sehingga sapi ini tetap disembelih karena efisien waktu.

 -       Distomatosis

Dari sembilan sapi yang disembelih, hati dari tujuh diantaranya harus diafkir.  Lima diantara 7 tersebut diafkir seluruhnya karena cacing telah menyebabkan sirosis hati sehingga hati mengeras sehingga tidak layak dikonsumsi.

 -       Pink eye

Pada pemeriksaan hewan kurban kali ini diketahui ada satu sapi yang mengalami pink eye dibagian mata sebelah kanan. Mata sapi tersebut terlihat tertutup selaput putih seperti mata katarak. Sapi diisolasi dengan meletakkan sapi yang mengidap pink eye jauh dari sapi lainnya kira-kira 10 meter agar tidak menular kepada sapi yang lain. Ketika dilakukan pemeriksaan dengan memberi cahaya pada mata yang mengalami pink eye, mata sapi tersebut masih memberikan reflek, sehingga tidak dilakukan pengobatan.

 -       Paramphistomiasis

Untuk kejadian paramphismtomiasis tidak dapat tercatat seluruhnya karena isi abdomen setelah disembelih segera dibawa ke sungai untuk dibersihkan. Isi abdomen atau jeroan yang telah dibersihkan dibawa kembali ke area penyembelihan untuk ditimbangkan dan dibagikan. Saat proses pemotongan tersebut didapati pada bagian dalam rumen. Rumen yang dirasa memiliki koloni paramphistomum yang cukup banyak dipotong dan dipisahkan dan tidak layak dikonsumsi.

 4.2.2. Kambing

Keadaan post mortem pada kambing tidak dapat seluruhnya terpantau karena setelah pemeriksaan antemortem, pada keesokkan harinya kambing disembelih pada tempat yang berbeda. Hanya tercatat beberapa ekor, dimana salah satunya tercatat mengalami anemia yang terlihat pada perubahan warna dari organ dalamnya. Anemia tersebut didapat disebabkan oleh banyak faktor. Namun karena informasi yang tidak lengkap penulis tidak dapat menjabarkan.

 BAB V

PENUTUP

 5.1.  Kesimpulan

Pemeriksaan antemortem dan postmortem wajib dilakukan untuk menjamin daging atau jeroan dari hewan kurban telah sesuai dengan prinsip ASUH yaitu Aman, Sehat, Utuh dan Halal. Kedua pemeriksaan tersebut harus didampingi oleh dokter hewan untuk mencegah terjadinya kecurangan atau hal-hal yang dapat merusak daging atau jeroan dari hewan kurban.

Pemeriksaan antemortem dan postmortem juga harus wajib dilaksanakan di rumah pemotongan hewan untuk menjamin daging yang beredar telah diperiksa dan tidak berpeluang menyebabkan food borne disease. Prosedur yang telah ditetapkan harus dipatuhi agar tidak menimbulkan penyakit atau polemik dimasa mendatang. Oleh karena itu calon dokter hewan harus mampu melaksanakan kedua pemeriksaan tersebut sebagai tugas pokok dokter hewan di rumah pemotongan hewan.

 5.2.  Saran

Sebaiknya sesudah praktikum diadakan evaluasi agar mahasiswa dapat menganalisis permasalahan yang timbul pada saat pelaksanan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Aak. 1995. Petunjuk Praktis Beternak Sapi Perah. Yogyakarta: Kanisius.

Adnan, K.S. 2007. Infertilitas Karena Faktor Genetik pada Sapi. Diakses pada 20 Desember 2012 dari <http://www.fedcosierra.com/2007/04/Infertilitas-Karena-Faktor-Genetik-Pada.html>

Akoso,T.B. 1991. Manual untuk Paramedik Kesehatan Hewan Edisi 2. Omaf-Cida Disease Investigasi Center.

Akoso, T. B. 1996. Kesehatan Sapi. Yogyakarta: Kanisius

Blood, D.C., O.M. Radostits dan J.A. Henderson. 1983. Veterinary Medicine 6th Ed. Philadelphia: Lea And Febiger

Made D.N.D. 1997. Penyidikan Penyakit Hewan. Denpasar: CV Bali Media Perkasa.

Perdhana, L. 2012. Anatomi Fisiologi Lien/Limpa/Spleen. Diakses 20 Desember 2012 <http://medicina-islamica-lg.blogspot.com/2012/02/Anatomi-Fisiologi-Lien-Limpa-Spleen.html>

Radostits O. 2007. Veterinary Medicine A Textbook Of The Diseases Of Cattle, Horses, Sheep, Pigs and Goats 10th Edition. New York. Saunders Elsevier Limited.

Ressang, A. A. 1984. Pathologi Khusus Veteriner. Bali: Fad Project Khusus Investigasi Unit Bali.

Retro. 2011. Aspergillus Jamur Rumahan. Diakses 20 Desember 2012 <http://budidayaukm.blogspot.com/2011/06/Aspergillus-Jamur-Rumahan.Html

Soedarto. 2003. Zoonosis Kedokteran. Surabaya: Airlangga Press.

Sumartono. 2001. Parasitologi Umum. Yogyakarta: Bagian Parasitologi FKH UGM.

Supandiman, I. 1997. Hematologi Klinik. Bandung: Penerbit Alumni.

Urquhart G.M., Armour J., Duncan J.L., Dunn A.M., and Jennings F.W. 1996. Veterinary Parasitology 2nd Edition. England: Elbs