0

PENYAKIT : Epistaksis

Etiologi:

Epistaksis adalah pendarahan melalui hidung yang dapat berasal dari rongga hidung, sinus paranasal, atao nasofaring. Epistaksis hanyalah gejala bukan penyakit. Pendarahan bisa menetes atau mengucur lewat hidung bisa lewat nasofaring. Berdasarkan lokasinya epistaksis dapat dibagi atas beberapa jenis, yaitu:

  1. Epistaksis anterior (depan): berasal dari bagian anterior hidung dengan asal perdarahan berasal dari pleksus Kiesselbach. Perdarahan biasanya ringan, dan dapat berhenti sendiri . Kebanyakan terjadi pada usia yang lebih muda.
  2. Epistaksis posterior (belakang): berasal dari rongga hidung posterior dengan asal perdarahan berasal dari pleksus Woodruff’s. Perdarahan biasanya lebih hebat dan jarang dapat berhenti sendiri. Biasanya terjadi pada usia yang lebih tua dan bersifat lebih parah.

Causa Epistaxis antara lain : Trauma, Neoplasia, Infeksi Mikroorganisme (Bakteri, jamur, parasit), Benda Asing/Corpora Aliena pada Cavum Nasal, Dental disease, Penyakit/ Kelainan Darah, Trombositopenia, Hiperviskositas

Diagnosa :

  • Pemeriksaan tekanan darah dan kondisi pernafasannya.
  • Pengamatan pada daerah kepala, terutama pada bagian oral dan nasal untuk mempermudah pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan dengan
  • Pemeriksaan laboratorium

Penanganan :

  • Dikompres dengan es batu dan ditekan pada bagian nasal. Perlakuan ini akan memicu kontriksi pada pembuluh darah sehingga  aliran darah menurun dan membantu proses pembekuan darah.
  • Pemberian  Adrenaline (e.x :  epinephrine) pada hidung untuk  mengontrol perdarahan dan membuat hewan lebih tenang.
  • Setelah perdarahan bisa dihentikan bersihkan hidung dari sisa darah  yang menggumpal.
  • Istirahatkan, sampai kondisi hewan pulih kembali. Jangan dipaksa  untuk melalukan exercise sementara waktu.
0

DIAGNOSA KLINIK : Urolithiasis

TUGAS TERSTRUKTUR

MATA KULIAH DIAGNOSA KLINIK

HASIL JAGA KLINIK 4 DESEMBER 2012

 KASUS UROLITHIASIS PADA KUCING

 Disusun Oleh

Pascara Fajar L.                         0911310054

Prima Santi                                 0911310056

Putrika Suryandari                    0911310057

PDH-A-2009

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1    Latar Belakang

Kucing dan anjing merupakan hewan yang paling populer menjadi pilihan masyarakat untuk dijadikan hewan hewan kesayangan (pet animal). Menurut laporan survei, ada sekitar 78.200.000 anjing dan sekitar 86,4 juta kucing peliharaan di Amerika Serikat pada tahun 2009-2010. Tren ini juga dialami di Indonesia dan selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Kedekatan psikologi pemilik dengan hewan kesayangan sebagai salah satu  anggota keluarga menuntut pemilik untuk memperhatikan keadaan fisik, makanan maupun kesehatan tubuh hewan kesayangannya.

Kesehatan hewan kesayangan menjadi sangat penting selain faktor kedekatan psikologi untuk tidak membiarkan anggota keluarganya sakit juga berpotensi menularkan penyakit terhadap pemiliknya. Untuk menjaga kesehatan hewan kesayangannya pemilik mempercayakan  kepada dokter hewan. Sehingga sebagai calon dokter hewan harus memiliki skill dalam menangani hewan kesayangan. Oleh karena itu kami melakukan praktek magang di Klinik PKH UB pada tanggal 4 Desember 2012 untuk memberikan wawasan terhadap profesi dokter hewan klinik (pet animal).

1.2    Tujuan

  1. Untuk mengetahui metode penerimaan pasien
  2. Untuk mengetahui metode pemeriksaan fisik dan anamessa pasien
  3. Untuk mengetahui metode diagnosa dan terapi penyakit pasien

1.3    Manfaat

Agar mahasiswa calon dokter hewan dapat memiliki skill dalam menerima pasien, dapat melakukan pemeriksaan fisik dan anamessa terhadap pasien serta mampu mendiagnosa dan terapi penyakit pasien.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Etiologi

Urolitiasis dapat didefinisikan sebagai keadaan dimana terdapat mineralisasi makroskopik, urolit, didalam sistem urinari (Waltham Centre for Pet Nutrition 1999). Urolithiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya batu (urolith) atau kristal-kristal pada saluran air kencing (tractus urinarius).  Urolit memiliki ukuran yang bermacam-macam, mulai dari partikel seperti pasir sampai berukuran lebih besar yang terlihat bila dilakukan radiografi. Urolit ini merupakan perwujudan polycrystalline yang terdiri dari satu atau lebih mineral. Urolit atau disebut juga bladder stone merupakan batu yang terbentuk akibat supersaturasi di urin dengan kandungan mineral-mineral tertentu.

Kejadian terbentuknya urolit pada vesica urinaria biasa terjadi pada hewan, terutama pada hewan domestik seperti anjing dan kucing. Urolit ini terbentuk di dalam vesica urinaria dalam berbagai bentuk dan jumlah tergantung pada infeksi, pengaruh diet/konsumsi, dan genetik (Wikipedia 2008). Urolit dapat terbentuk pada bagian manapun dari traktus urinari anjing dan kucing. Urolit dengan berbagai komposisi mineral telah ditemukan pada kucing, termasuk struvite, kalsium oksalat, kalsium fosfat, uric acid/urate, dan cystine. Pada anjing, urolit dengan berbagai komposisi mineral juga telah ditemukan seperti struvite, kalsium oksalat, kalsium fosfat, urate, cystine, silica, dan xanthine (Vogt, 2002). Biasanya diidentifikasi oleh mineral yang menyusun 70% atau lebih dari komposisinya.

Urolit ini membentuk nidus disekelilingnya, yang dapat terdiri dari leukosit, bakteri, dan matrix organik bercampur dengan kristal, atau hanya kristalnya saja. Nidus menyusun sekitar 10-20% dari total massa urolit. Hal ini memungkinkan nidus dibentuk dari berbagai tipe kristal daripada bagian lainnya, yang biasa dikenal sebagai epitaxial growth. Struvite dan kalsium oksalat adalah yang paling banyak ditemukan pada kasus klinik (Buffington  2001) .

 Batu dan kristal tersebut dapat ditemukan di ginjal, urethra, dan kebanyakan di vesika urinaria (kandung kencing). Adanya batu atau kristal tersebut dapat membuat iritasi saluran air kencing, akibatnya saluran tersebut rusak, ditemukan darah bersama urin yang dapat menimbulkan rasa sakit.

2.2.Gejala Klinis

Gejala klinis tersebut antara lain kesulitan urinasi (kucing sering buang air kecil tidak pada tempatnya), sering menjilat daerah genital, merejan saat buang air kecil (kadang disertai suara tangisan), serta darah pada urin. Selain itu, kucing dengan Feline Lower Urinary Tract Disease biasanya tidak nafsu makan. Pada keadaan yang lebih serius kucing jantan yang mengalami obstruksi uretra komplit akan menunjukkan gejala muntah, kelemahan, serta perut yang menegang dan sakit (Pinney 2009).

2.3.Patogenesis

Faktor utama yang mengatur kristalisasi mineral dan pembentukkan urolit adalah derajat saturasi urin dengan mineral-mineral tertentu. Faktor penyebab lainnya adalah diet atau makanan, frekuensi urinasi, genetik, dan adanya infeksi traktus urinari. Saturasi memberikan energi bebas untuk terbentuknya kristalisasi. Semakin tinggi derajat saturasinya, semakin besar kemungkinan terjadinya kristalisasi dan perkembangan kristal (Waltham Centre for Pet Nutrition 1999). Oversaturasi urine dengan kristal merupakan faktor pembentukkan urolit tertinggi. Oversaturasi ini dapat disebabkan oleh peningkatan ekskresi kristal oleh ginjal, reabsorpsi air oleh tubuli renalis yang mengakibatkan perubahan konsentrasi dan pH urin yang mempengaruhi kristalisasi.

Saturasi ditentukan oleh produk dari konsentrasi aktif yang terlarut dalam urin, misalnya kalsium dan oksalat, yang ditentukan dari konsentrasi absolut, interaksinya dengan substansi lain di urin, efek dari pH urin, dan keseluruhan kekuatan afinitas ion dari larutan. Solute activity atau yang dikenal sebagai jumlah yang bebas untuk bereaksi tidaklah sama dengan konsentrasi dari larutan karena ion-ion yang terdapat pada masing-masing individu dapat membentuk kompleks dengan substansi lain yang ada di larutan. Misalnya, kalsium atau magnesium dapat membentuk kompleks dengan urate, sitrat, atau sulfat dan menyebabkan terbentuknya kalsium oksalat atau struvite urolit. Perkembangan pembentukkan kompleks ini dapat diprediksi berdasarkan konstanta disosiasi/known dissociation constants, sehingga konsentrasi substansi kompleks ditentukan. Misalnya urolit kalsium oksalat, maka reaksi konstanta disosiasi (Ksp) adalah sebagai berikut :

CaC2O4     →      Ca2+ + C2O4 2-

Ksp = [Ca2+] [C2O42-], Ca2+  dan C2O42- merupakan ion product.

Ket. Bila perkalian ion > Ksp maka akan terjadi presipitasi membentuk CaC2O4 sampai perkalian ion = Ksp. Namun apabila perkalian ion < Ksp maka akan terjadi disolusi.

Derajat saturasi yang meningkat akan mengakibatkan terjadinya presipitasi (Elliot 2003). Proses presipitasi mineral didalam traktus urinari dapat dijelaskan dengan dasar-dasar fisika-kimia dan meliputi sejumlah faktor termodinamik dan kinetik. Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mempertimbangkan pembentukkan urolit dalam dua tahap, yaitu proses pembentukkan kristal dan proses agregasi/perkembangan kristal yang berakibat pada perkembangan urolit. Perkembangan kristal dipengaruhi oleh kemampuan nidus untuk tetap berada didalam traktus urinari, durasi supersaturasi urin, serta struktur fisik dari kristal. Kecepatan aktual dari pertumbuhan urolit bergantung pada komposisi mineral dan adanya infeksi (Elliot 2003).

Faktor tambahan yang menyulitkan adalah pergerakan bebas ion-ion yang terdapat pada larutan. Ionic strength ditentukan oleh konsentrasi dan valensi ion dalam sampel urin (Waltham Centre for Pet Nutrition 1999). Kekuatan afinitas ion yang tinggi menurunkan aktivitas individual ion. Produk dari aktivitas individual ion dapat dihubungkan dengan dua nilai untuk tipe kristal yaitu solubility product dan formation product, yang memprediksi proses kristalisasi apa yang cenderung terbentuk dalam larutan.

Solubility product adalah konstanta termodinamik dan yang menentukan titik dimana larutan menjadi tersaturasi dengan mineral tertentu (Waltham Centre for Pet Nutrition 1999). Pembentukkan kristal secara spontan tidak mungkin terjadi didalam larutan dengan derajat saturasi rendah dan kristal yang timbul akan diperkirakan dapat berdisolusi. Hal ini telah didemonstrasikan pada struvite, walaupun kecepatan disolusi dari kalsium oksalat sangat lambat.

Formation product biasanya ditentukan secara empiris dan bukanlah suatu konstanta (Waltham Centre for Pet Nutrition 1999). Larutan dengan derajat saturasi yang lebih tinggi daripada formation productnya akan berada dalam keadaan yang tidak stabil, supersaturasi yang labil,  dan menyebabkan kecenderungan terjadinya kristalisasi spontan yang homogen dengan kecenderungan pembentukkan kristal murni dari satu jenis mineral.

Diantara formation product dan solubility product, larutan akan berada dalam keadaan yang metastabil. Kristalisasi yang homogen tidak akan terjadi tetapi akan terjadi kristalisasi heterogen. Kristalisasi heterogen tidak hanya terdiri dari mineral saja, tetapi terdapat pula sel debris ataupun kristal tipe lain,  terutama ketika mendekati formation product maka terjadi aggregasi kristal yang telah terbentuk dan terjadi perkembangan kristal yang lambat (Waltham Centre for Pet Nutrition 1999).

2.4.Diagnosis

Berdasarkan anamense tersebut, pemeriksaan klinis segera dilakukan dan pemeriksaan dari saluran air kencing sangat diprioritaskan. Pada waktu melakukan pemeriksaan klinis, palpasi daerah abdomen sering terasa adanya pembesaran dari kandung kencing. Setelah pemeriksaan klinis, dilakukan pembuatan foto rontgen atau pemeriksaan dengan USG bagian abdomen dengan posisi rebah samping (lateral).

 

2.5.Pengobatan

Tindakan-tindakan yang bisa dilakukan bila pasien dipastikan terkena urolith adalah sebagai berikut:

  1. Pemberian suntikan penenang guna memudahkan pengeluaran urine.
  2. Evakuasi urin menggunakan kateter propylene dengan berbagai ukuran sesuai dengan besar ukuran kucing.

Cairan infus yang perlu diberikan ialah larutan Ringer Laktat 5%dengan dosis 20 – 40 cc/kgBB/hari. Bilamana kucing banyak muntah (karena sudah terjadi uremia/gagal ginjal), maka cairan yang diberikan ialah Ringer Dextrose 5%.

Disamping melakukan evakuasi urine, perlu dilakukan juga pemeriksaan darah: hematologi lengkap, kimia darah (fungsi ginjal: ureum dan kreatinin), serta beberapa kadar elektrolit di dalam darah seperti Kalium, Natrium, dan Klor. Pemeriksaan urin juga diperlukan untuk mengetahui adanya peradangan di kandung kencing, serta jenis batu atau kristal yang menjadi sumbatan

 

2.6.Pengendalian

Kasus ini cenderung akan terulang kembali sehingga untuk mengendalikan dapat menggunakan  tindakan pembedahan. Dalam teknik pembedahan ada dua jenis yaitu sebagi berikut:

  1. Cystotomy (Pembukaan kandung kencing)

Operasi cystotomy dilakukan dengan membuka abdomen dibagian ventral kemudian membuka vesika urinaria (kandung kencing). Batu atau kristal diambil dari dalam kandung kencing kemudian kandung kencingnya dijahit kembali.

Setelah operasi, kateter masih perlu dipasang selama 4-5 hari untuk mencegah kemungkinan penyumbatan oleh bekuan darah. Pemberian antibiotik secara parenteral atau peroral perlu diberikan selama ±6 hari. Untuk mencegah agar kateter tidak dicabut oleh kucing, maka perlu dilakukan pemasangan Elizabeth collar. Tindakan penanganan yang saya lakukan ini mempunyai successful rate kurang lebih 90%, apabila fungsi kedua ginjal masih baik. Untuk mengeluarkan batu/kristal yang ada di urethra maka perlu membuka urethra (urethrotomy) dimana batu berada. Andaikata terpaksa harus melakukan cystotomy dan urethrotomy, maka urethrotomy didahulukan. Setelah kateter bisa masuk ke dalam vesika urinaria, baru dilakukan cystotomy.

  1. Urethrotomy

Urethrotomy dilakukan apabila batu atau kristal tidak berhasil dimasukkan ke dalam vesika urinaria menggunakan kateter. Biasanya urethrotomy saya lakukan pada kucing jantan dengan menguakkan preputium ke arah kaudal terlebih dahulu sebelum melakukan sayatan pada penis bagian ventral tepat dimana batu atau kristal berada. Keberadaan batu atau kristal tadi dapat dideteksi dengan menggunakan kateter atau sonde yang panjang. Setelah batu atau kristal diketahui posisinya, maka dilakukan sayatan pada uretra kemudian batu atau kristal tersebut dikeluarkan. Selanjutnya, kateter dimasukkan sampai ke dalam vesika urinaria, lalu sayatan dijahit.

2.7.Pencegahan

Ginjal sebagai salah satu organ dalam  sistem perkemihan yang membentuk suatu sistem yang kompleks baik anatomi maupun mekanisme kerjanya dengan unsur  lain bersama sistem tubuh yang lain. Walau berat ginjal umumnya kurang dari 1 % berat badan, namun ginjal menerima 20 – 25 % darah yang dipompa oleh jantung kedalam tubuh. Jantung berperanan akti memompa  dan ginjal ber peranan pasif sebagai filter tubuh.  Sistem perkemihan bertanggung jawab untuk berlangsungnya ekskresi bermacam produk buangan dari dalam tubuh. Sistem ini juga penting sebagai faktor dalam mempertahankan homeostatis serta mempertahankan asam basa tubuh dengan mengatur konsentrasi bikarbonat dan ion hidrogen dalam darah. Urin me rupakan produk akhir dari sistem perkemihan. Peningkatan bikarbonat menyebabkan meningkatnya pH urin, sedang pH urin yang asam akibat pertukaran natrium dengan ion hidrogen atau ammonium klorida. Produksi metabolik suatu zat maupun asupan suatu zat kedalam tubuh akan diikuti oleh sekresi urin atas zat tersebut atau metabolitnya, agar tetap mempertahankan komposisi darah yang relatif konstan. Dengan kata lain, meningkatnya konsentrasi suatu zat dalam darah akan meningkatkan ekskresi zat tersebut atau hasil metaboliknya melalui urin pada hewan normal (Frandson, 1992).

BAB III

METODOLOGI

3.1.  Tanggal dan Tempat

Praktek magang dilaksanakan di Klinik Hewan Program Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya pada tanggal 4 Desember 2012 dari pukul 08.00-13.00 WIB.

 

3.2.  Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan untuk melakukan penerimaan pasien yaitu ambulator dan pena. Sedangkan untuk melakukan pemeriksaan fisik menggunakan termometer, timbangan dan stetoskop. Untuk mendiagnosa penyakit atau gangguan pada pasien dibutuhkan anamessa dari pemilik. Terapi penyakit pasien disesuaikan dengan hasil dari diagnosa.

3.3.  Langkah Kerja

Pasien

 
  -          Dicatat nama dan alamat pemilik, nama, usia dan signalement pasien pada ambulator.

-          Ditimbang berat badan pasien menggunakan timbangan

-          Diukur temperatur pasien dengan termometer

-          Dianamesa gejala penyakit yang muncul, perubahan perilaku, nafsu makan, urinasi dan defekasi pasien kepada pemilik

-          Didiagnosa dan terapi penyakit

Hasil

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.  Hasil

Nama Pemilik : Bayu
Alamat : Jalan Letjen Sutoyo Gg.3 Malang 085649626311
Nama Hewan : Bon-bon
Signalement : Kucing, Jantan, 3 tahun, warna hitam
Anamesa : Sudah dua hari tidak makan dan minum, tadi pagi minum sedikit terus muntah,  ± tiga hari tidak urinasi,

BB = 3,7 Kg

T = 37,9oC

Diagnosa : Urolithiasis
Terapi : Diinjeksi xylazin 0,6 ml secara IM

Dikateter

Diinjeksi Tolfenamic acid 0,7ml dan dexamethazone 0,2 mls

Resep :  

 

4.2.  Pembahasan

Pasien merupakan seekor kucing jantan berwarna hitam. Kucing berusia 3 tahun tersbeut bernama Bon-bon. Ketika datang kami menimbang berat badannya pada baby scale yang dimiliki klinik hewan PKH UB, kucing hanya diam saja tampak lemas dan tidak aktif. Kucing berbobot 3,7 kg tersebut menunjukkan suhu tubuh 37,9 oC  ketika diperiksa dengan termometer infrared. Suhu tersebut tergolong normal karena temperatur kucing normal 37,7 – 39,4 °C. ketika dilakukan pemeriksaan pada membran mukosa mata dan mulut kucing terlihat pucat. Kucing malas berdiri ataupun bergerak, dan hanya meringkuk diatas meja periksa.

Kemudian dilakukan palpasi pada bagian ventral bagian abdomen, teraba vesika urinaria kucing tersebut besar dan penuh terisi urin. Kucing merontak ketika vesika urinaria dipalpasi. Hal tersebut dikarenakan urin menumpuk dan memberikan tekanan pada rongga abdomen. Melalui anamesa dengan pemiliknya diketahui sudah dua hari tidak makan dan minum, tadi pagi dipaksa minum, bisa masuk sedikit kemudian muntah dan  ± tiga hari tidak mengalami urinasi. Menurut sang pemilik kucing tersebut memiliki riwayat batu ginjal atau urolithiasis sebelumnya. Dokter memutuskan kucing harus dikateter agar urin dapat keluar. Sebelum dilakukan kateter kucing diberi xylazin 0,4 ml secara intramuskular pada trisep femuris dan bisep femuris.

Xylazin adalah anestetika umum yang penggunaannya praktis dan relatif aman dan hampir memenuhi syarat sebagai anestetika umum yang ideal, namun juga masih memiliki beberapa kelemahan yang klasik, yaitu efek depresif pada sistem sirkulasi dan respirasi serta mempengaruhi suhu tubuh (Yusuf, 1987). Xylazin dapat mengakibatkan penurunan denyut jantung (bradikardi), hipertensi selintas yang diikuti oleh hipotensi yang lama dan penurunan suhu tubuh (Lumb and Jones. 1984).

Dosis xylazin pada kucing 1,0-2,0 mg/kg secara intra muskular dengan mula kerja obat 3-5 menit (Plumb 1999). Xylazin merk Xyla setiap mililiter mengandung 20 mg. Sehingga cara menghitung dosisnya sebagai berikut:

Pada anjing dan kucing onset kerja xylazin setelah pemberian cecara intramuskular atau subkutan dapat terlihat dalam 10-15 menit dan pada pemberian intravena 3-5 menit. Efek analgesiknya dapat berlangsung 15-30 menit tetapi aksi sedasi 1-2 jam tergantung dari pemberian dosis. Recovery sempurna setelah pemberian dosis antara 2-4 jam pada anjing dan kucing (Plumb 1999).

Setelah diberi anastesi kucing dicukur pada bagian testis dan penis agar rambut tidak menganggu proses kateterisasi sembari menunggu efek sedasi. Setelah mulai mengalami efek sedasi, kemudian mulai dilakukan pemasangan kateter pada penis kucing dengan cara menguakkan ujung penis agar terlihat lubang penis. Setelah kateter terpasang dilakukan fiksasi agar sumber penyumbatan berupa kristal hancur. Selanjutnya dilakukan penyedotan urin dengan spet ukuran enam ml atau 10 ml hingga vesika urinaria. Agar kateter tidak lepas maka dilakukan penjahitan dengan benang silk pada keempat sisi kateter.

Ketika dilakukan penyedotan terlihat urin tidak lagi berwarna kuning melainkan merah. Hal tersebut dikarena kristal melukai permukaan vesika urinaria sehingga terjadi uremia. Tindakan selanjutnya yaitu dilakukan irigasi menggunakan NaCl fisiologis. Irigasi dilakukan dengan cara memasukkan NaCl fisiologis menggunakan spet melalui kateter secukupnya kemudian menyedotnya. Proses tersebut dilakukan beberapa kali hingga urin berwarna bening. Pada proses ini kucing kehilangan efek sedasi sehingga dilakukan injeksi xylasin lagi dengan dosis 0,2 ml.s

Setelah proses irigasi selesai kucing diberi injeksi tolfenamic acid 0,7 cc. Injeksi ini berfungsi sebagai antipiretik, antiinflamasi dan analgesik. Dosis untuk kucing secara intra subkutan yaitu 4 mg/kg. Selain itu juga diberi injeksi dexamethasone sebanyak 0,2 ml. Dexametahose berfungsi sebagai antiinflamasi, terapi suportif pre dan post operasi serta untuk mempercepat recovery.

 BAB V

PENUTUP

5.1.  Kesimpulan

Urolithiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya batu (urolith) atau kristal-kristal pada saluran air kencing (tractus urinarius).  Penyakit ini harus segera ditangani apabila ditemui gejala hewan peliharaan tidak urinasi. Terapi untuk penyakit ini yaitu pemasangan kateter untuk menghancurkan kristal urolit dan diet pakan. Apabila kejadian ini berulang maka pemilik harus lebih waspada karena keterlambatan akan menyebabkan toxemia dan uremia yang menyebabkan kematian.

5.2.  Saran

Kucing yang mengalami urolithiasis harus segera ditangani agar prognosanya baik.

 DAFTAR PUSTAKA

Lumb, W.V and Jones, E.W. (1984). Veterinary Anesthesia. Second Edition. Washinton Square, Philadeiphia.

Yusuf, I. (1987). Penilaian Pengaruh Xylazin dan Kombinasi Atropin-Xylazin terhadap Denyut Jantung, Kecepatan Pernapasan dan Suhu pada Kucing. Skripsi. Fakultas Kedoktreran Hewan Unsyiah, Banda Aceh.

Plumb D C (1999) Veterinary Drug Handbook. 3rd edn. Iowa State University Press, Ames Iowa.

Pinney CC. 2009. Feline Lower Urinary Tract Disease. http://maxshouse.com/

0

ILMU BEDAH KHUSUS : Cystotomy

 

Etiologi

Cystotomy adalah prosedur pembedahan dimana insisi pada vesica urinaria (Diamond, 2012).

 Indikasi

Prosedur ini dapat dilakukan karena berbagai alasan, yang paling umum adalah

  • untuk memfasilitasi menghilangkan vesica urinaria dan batu uretra.
  • untuk mendiagnosa tumor vesica urinaria
  • untuk memperbaiki ureter ektopik dan rupture kandung kemih
  • untuk membantu diagnosis sulit-untuk-mengobati infeksi saluran kemih.

 Penyebab

Akumulasi kalsium di dalam vesica urinaria

 Prognosa

Pengobatan kencing batu sulit tanpa pengambilan dengan cara pembedahan

Pra Operasi

Tes pra operasi tergantung sebagian pada usia dan kesehatan umum hewan serta penyebab cystotomy tersebut. Radiografi (sinar-x) atau USG perut biasanya dilakukan untuk mendiagnosis penyakit yang mendasari sebelum operasi. Seringkali hitung darah lengkap, uji biokimia serum, urinalisis, dan kemungkinan EKG akan dilakukan sebelum operasi.

Sebelum melakukan operasi dokter hewan harus mengetahui posisi vesica urinaria.

Waktu Operasi

Prosedur ini memakan waktu sekitar 45 menit untuk jam 1-1/4 untuk tampil dalam banyak kasus, termasuk waktu yang dibutuhkan untuk persiapan dan anestesi.

Teknik Operasi

Adapun prosedur cystotomy sebagai berikut:

What is the procedure for a Cystotomy?

Dilakukan pencukuran pada bagian abdomen, kemudian dibersihkan dengan antiseptic serta povidone iodine

Cat's Abdomen is shaved

Selanjutnya dilakukan pemasangan kain drape. Dilanjutkan dengan pembuatan insisi pada kulit diatas vesica urinaria. Kemudian vesica urinaria dicari dengan telunjuk tangan

incision start

Kemudian vesicaa urinaria dikuakkan keluar secara hati-hati

bladder lifted out

 Dilakukan insisi pada dinding vesica urinaria, dan urin akan keluar memancar dengan sendirinya

bladder wall incision

Insisi diperbesar untuk mempermudah pengeluaran batu

enlarge bladder wall incision

Metode kuret digunakan untuk menghilangkan batu

remove bladder stone

Batu dari pada vesica urinaria kucing

bladder stone

Kemudian dilakukan irigasi untuk menghilangkan batu kecil dan pembekuan darah

flush bladder

Digunakan kateter kecil untuk membuang setiap kristal kecil dalam vesica urinaria yang tersisa agar keluar melalui uretra

flush bladder with catheter
Vesica urinaria ditutup dengan benang absorbable. Dinding verica urinaria akan membaik 3-5 hari pasca operasi
stitch bladder wall stitch bladder wall
stitch bladder wall stitch subcuticular tissue

dinding dan jaringan subkutikular ditutup dengan benang absorbable

stitch subcuticular tissue stitch skin

Kulit ditutup dengan benang nonabsorbable

stitch skin stitch skin
closed incision
Dan diberikan injeksi analgesik dan antiinflamsi

Pasca Operasi

  • Pasca-operasi pengobatan harus diberikan analgesic, antibiotic.
  • Seringkali kateter urin dipasang pada saat operasi kemudian dilepaskan dalam 24 sampai 72 jam.
  • Anda harus memeriksa garis jahitan setiap hari untuk memantau tanda-tanda kemerahan, debit, bengkak, atau sakit dan jahitan diambil dalam 10 sampai 14 hari.
  • Urin berwaran darah-biruan pada  beberapa hari pertama, kucing terlihat kesakitandan tegang

Pencegahan

Uji laboratorium kristal atau batu untuk dianalisis sehingga mendapat diet khusus untuk mencegah pembentukan di masa depan

Daftar Pustaka

Anonimus. 2012. WHAT IS A CYSTOTOMY IN DOGS?. diakses pada 13 desember 2012 <http://www.northgatepetclinic.com/articles/bid/86563/WHAT-IS-A-CYSTOTOMY-IN-DOGS>

Diamond, D. 2012. Cystotomy in Dogs. Diakses pada tanggal 13 Desmber 2012 <http://www.petplace.com/dogs/cystotomy-in-dogs>

Nayes, N.J. 2006. What is a Cystotomy surgery?. Peoria. Whitney Veterinary Hospital. diakses tanggal 3 Desember 2012 <http://www.whitneysvet.com/cysto/cystoPlain.html>

0

PATOLOGI SISTEMIK DAN NEKROPSI : Kijang [at] Sengkaling

Pemeriksaan Fisik

  • Sex : betina
  • Umur : ± 2,5-3 tahun
  • Gejala klinis : terlihat pruritus di telinga, mata, leher, sela kaki depan belakang,
  • Kronologi kematian : tadi pagi ambruk, mau diinfus, mati
  • Riwayat penyakit : abortus 3 minggu yang lalu
  • Nekropsi diketahui kondisi organ hati dan paru-paru dalam kondisi baik namun lien terlihat ada abnormalitas. Pada bagian pericardium terdapat banyak airnya, terdapat jejunum terdapat gas, ginjal kiri bengkak, ginjal kanan baik, ada tumor yang menempel pada aorta.

Proses Nekropsi :

Diagnosa Klinik

Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa kijang mengalami pruritis pada, mata, leher dan sela kaki depan belakang. Pruritus tersebut menunjukkan bahwa ada infeksi jamur atau scabies. Ketika imunitas rendah jamur, bakteri maupun virus mudah menginfeksi hewan (Retro, 2011). Adanya infeksi tersebut menunjukkan adanya keadaan imunitas kijang dalam keadaan rendah. Kijang juga diketahui mengalami abortus tiga minggu sebelum kematian. selain kondisi tubuh yang terus menurun, kejadian tersebut juga dapat ditersebut juga dapat disebabkan adanya infeksi pada sistem reproduksi.

Kemudian dilakukan nekropsi dan memeriksa organ. Hati dalam kondisi baik begitu juga paru-paru sehingga penyebab kematiannya bukan pada hati maupun sistem respirasi. Organ limpa terlihat tidak normal sehinga dilakukan isolasi. Limfa yang tampak abnormal dapat menunjukkan adanya gangguan pada peredaran darah. limfa secara normal berfungsi merombak sel darah merah (Perdhana, 2012).

Ketika dilakukan nekropsi pada rongga torak didapati bahwa terdapat banyak cairan pada pericardium, hal tersebut terjadi karena terjadi odema pada paru-paru atau adanya cairan ekstra sel yang keluar akibat dari jantung terlalu kuat sehingga tempat sebelum penyumbatan memiliki tekanan tinggi sehingga jantung bengkak. Pembengkakan yang terjadi mengakibatkan cairan ekstra sel keluar berupa gel kenyal berwarna putih yang kemudian naik dan kemungkinan besar menyebabkan sumbatan pada katup jantung dan menyebabkan gagal jantung. Hal tersebut dinyatakan berdasarkan gejala klinis dari penjaga kandang bahwa kijang pada pagi hari masih beraktivitas namun kemudian diketahui mati.

Kemudian dilanjutkan dengan membuka bagian abdomen. Ketika jejunum dibuka tidak ada sisa makanan hanya ada gas. Tumpukan gas tersebut menyebabkan kijang kembung sehingga tidak makan. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya pakan pada bagian rumen yang tidak dicerna. Sedangkan ketika bagian sekum dibuka tidak terlihat keabnormalan.

Pada bagian dorsal dekat bagian ginjal ditemukan adanya benjolan berupa tumor yang menempel pada aorta (pembuluh dararh besar) dibelakang uterus. Kemudian dilakukan pemotongan, darah deras keluar dari aorta tersebut. Ketika dilanjutkan pada nekropsi ginjal diketahui bahwa ginjal bagian kiri mengalami pembengkakan sedangkan bagian kanan tidak.

Berdasarkan hasil nekropsi tersebut dapat disimpulkan bahwa kematian kijang tersebut dikarena gagal jantung. Hal tersebut terjadi karena tumor menyebabkan sumbatan pada aorta sehingga kerja jantung meningkat karena curah cardiak menurun sehingga jantung melakukan kompensasi dengan meningkatkan frekuensi memompa. Kenaikan kerja jantung menyebaban jantung bengkak. Semakin lama jantung yang bengkak tiudak dapat mengkompensasi sehingga kijang mengalami penurunan imunitas sehingga penyakit mudah masuk. Hal tersebut terlihat adabnya jamur yang hidup pada kijang.

Ketika tumor diinsisi terlihat bentukan reticulum fetus, kemungkinan besar tumor tersebut merupakan fetus yang terrlempar keluar dari tubafallopi ketika akan menuju uterus karena gerak peristaltik tubaffalopi. Kemudian fetus menempel pada aorta yang merupakan pembuluh darah yang membawa nutrisi dan oksigen. Fetus terus tumbuh membesar dan menekan aorta sehingga proses sirkulasi dari dan menuju terganggu. Secara langsung sumbatan tersebut akan menurunkan suplai nutrisi ke uterus. Ketika fetus dalam uterus kekurangan nutrisi, maka fetus akan mati dan diaborsikan.

0

PATOLOGI SISTEMIK : Postmortem Hewan Kurban

LAPORAN PRAKTIKUM

PATOLOGI SISTEMIK DAN NEKROPSI

 PEMERIKSAAN HEWAN KURBAN DI PERUM TATA SURYA MALANG

Disusun Oleh

Nama        : Prima Santi

NIM          : 0911310056

Kelas        : PDH-A-2009

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012


BAB I

PENDAHULUAN

 1.1.  Latar Belakang

Hari raya kurban yang merupakan hari raya bagi umat islam di seluruh dunia ditandai dengan penyembelihan hewan kurban. Hewan yang dapat digunakan sebagi hewan kurban antara lain unta, sapi, kambing atau domba. Hewan yang akan digunakan sebagai hewan kurban hendaknya memenuhi persyaratan antara lain hewan berjenis kelamin jantan, untuk sapi berusia minimal dua tahun dan kambing miniml satu tahun, hewan tidak cacat dan tidak berpenyakit.

Pemeriksaan sebelum penyembelihan disebut pemeriksaan antemortem yang terdiri dari pemeriksaan keadaan umum hewan meliputi lubang-lubang tubuh hewan, menghitung pernafasan, mengecek pencernaan dan peredaran darah, mengukur temperatur tubuh hewan, mengamati selaput-selaput lendir hewan dan keadaan kulit. Tidak lupa mengecek hewan tersebut telah masuk dalam kriteria hewan kurban. Apabila persyaratan tersebut telah terpenuh barulah hewan kurban boleh disembelih.

Setelah hewan kurban disembelih harus dilakukan pemeriksaan postmortem untuk mengetahui daging kurban yang boleh dikonsumsi atau harus disingkirkan. Pemeriksaan postmortem antara lain melakukan pemeriksaan terhadap kepala, jantung, paru-paru, hati, limpa, usus dan lambung serta daging (karkas). Oleh karena itu kami melakukan praktikum di Perumahan Tata Surya Malang  pada tanggal 26 Oktober 2012 untuk memberikan wawasan terhadap profesi dokter hewan terhadap pemeriksaan hewan kurban untuk menyediakan daging kurban yang aman, sehat, utuh dan halal.

1.2.  Tujuan

-          Untuk mengetahui metode pemeriksaan antemortem

-          Untuk mengetahui metode pemeriksaan postmortem

-          Untuk mengetahui metode untuk menyediakan daging kurban yang aman, sehat, utuh dan halal

 

1.3.  Manfaat

Agar mahasiswa calon dokter hewan dapat memiliki skill dalam melakukan pemeriksaan antemortem dan postmortem.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Monorchidsm

Monorchidism merupakan suatu kelainan dimana hewan hanya memiliki satu testis sedangkan testis lainya tidak turun ke skrotum sehingga testis yang lainnya tetap berada dalam rongga abdomen (Adnan, 2007). Proses perpindahan atau penurunan testis dari rongga perut ke dalam rongga skrotum (descensus testiculorum) yang terjadi secara alamiah selama dalam kandungan pada akhir masa kebuntingan. Waktu terjadi proses descensus testiculorum dihitung dari masa kebuntingan. Pada kuda terjadi pada 9-11 bulan, sapi 3,5-4 bulan, domba dan kambing 80 hari, babi 90 hari, khusus pada anjing 5 hari setelah dilahirkan. Terdapat tiga tahap pada descensus testiculorum yaitu perpindahan testis di dalam rongga perut menuju cincin inquinal bagian dalam, perjalanan testis di dalam kanal inquinalis dan perjalanan di dalam rongga skrotum.

Secara normal testis pada hewan dewasa terletak di dalam rongga skrotum kecuali pada unggas, namun pada hewan pejantan tertentu dapat terjadi kegagalan penurunan testis ini ke dalam rongga skrotum. Faktor penyebab terjadinya antara lain terjadi gangguan proses pemendekan gubernakulum, gangguan sekresi hormon gonadotropin dan kelainan anatomis saluran inquinalis dalam bentuk penyempitan(Radostits, 2007).

Kelainan ini dipengaruhi oleh faktor keturunan. Jika hewan memiliki gen resesif namun tertutup oleh gen dominan maka hewan akan membawa gen homozigot resesif. Bila hewan ini dikawinkan dengan hewan yang tidak membawa gen resesif keturunanya akan tetap normal walaupun tetap membawa gen resesif. sebaliknya bila hewan betinanya homozigot resesif maka kemungkinan besar keturunanya akan membawa gen indukanya (Adnan, 2007).

Terdapat dua tipe dari descensus testiculorum yaitu kriptorchid bilateral dan kriptorchid monolateral (monorchidsm). Kriptorchid bilateral yaitu jika kedua testis tidak berada di dalam skrotum dan menyebabkan pejantan menjadi majir total karena pengaruh suhu yang lebih tinggi di dalam rongga perut sehingga proses spermatogenesis tidak dapat terjadi. Sedangkan kriptorchid monolateral yaitu jika hanya satu testis yang berada dalam rongga skrotum pejantan mampu menghasilkan semen dari testis tersebut meskipun dengan konsentrasi yang lebih encer. Kriptorchid bilateral lebih jarang terjadi dibandingkan dengan kriptorchid monolateral. Pada kuda dan sapi, kelainan anatomi ini merupakan kelainan genetik yang dibawa oleh gen dominant pada yang jantan. Hewan dengan kondisi ini masih dapat memiliki keturunan dengan melakukan pemilihan betina secara benar. Namun dilapangan sapi, kambing dan domba, pejantan yang kriptorchid harus dipotong, setelah dipelihara dalam rangka penggemukan (Adnan, 2007).

 2.2  Distomatosis

Fascioliasis atau distomatosishepatik, fasciolosis, cattle liver fluke, giant liver fluke adalah penyakit yang disebabkan cacing dari genus fasciola (Akoso, 1991). Berdasarkan taksonomi cacing ini mempunyai klasifikasi sebagai berikut:

Phylum       : Platyhelminthes

Class           : Trematoda

Ordo           : Digenea

Family        : Fasciolidae

Genus         : Fasciola

Species        : Fasciola hepatica, Fasciola gigantika

Distribusi penyakit ini hampir ada diseluruh hewan produksi seperti sapi dan kambing diseluruh dunia. Sumber infeksi yang utama berasal dari kontamianan air dan daging atau produk lain asal hewan yang terinfeksi stadium infektif dari cacing fasciola (Akoso, 1996). Infeksi terjadi didaerah yang basah atau lembab, rawa atau daerah payau, dimana banyak terdapat siput. Cacing akan keluar dan berenang dan berkeliling akhirnya menempel dan tinggal pada tumbuh-tumbuhan yang akan termakan oleh siput yang kemudian menjadi induk semang (Radostits, 2007).

Induk semang dari fasciola adalah siput, umumnya genus Lymnea. Di Indonesia telah diketahui adalah Lymnea rubiginosa. Telur cacing keluar bersama tinja induk semang dari telur yang menetas keluar mirasidium yang terus masuk ke dalam siput. Dalam tubuh siput mirasidium berubah menjadi sporokista. Sporokista menghasilkan redia, dan redia menghasilkan serkaria. Serkaria keluar dari siput yang merupakan fase infektif. Bila serkaria tidak termakan oleh induk semang maka akan menghasilkan kisata (metaserkaria), tenggelam ke dalam air atau menempel pada rumput (Radostits, 2007).

Infeksi terjadi bila induk semang memakan rumput atau meminum air yang tercemar. Dalam usus serkaria keluar dari metaserkaria dan terus menembus dinding usus masuk keruang peritoneum, selanjutnya menembus selaput hati dan meninggalkan jalur-jalur hemorhagik pada parenkim hati dalam perjalanannya menuju saluran empedu untuk menjadi dewasa. Masa prepaten 2-3 bulan (Soedarto, 2003).

Gejala klinis fascioliasis dapat sangat ringan atau tanpa gejala, namun gangguan pada fungsi hati dapat juga terjadi. Bentuk akut pada sapi mempunyai ciri-ciri gangguan pencernaan, adanya gejala konstipasi yang jelas dan kadang-kadang mencret. Terjadi pengurusan yang cepat, lemah dan anemia. Pada domba dan kambing, berupa mati mendadak disertai darah yang merembes atau keluar dari hidung dan anus. Bentuk kronik pada pada tahap pertama pada domba menunjukan gejala menjadi gemuk akibat banyaknya empedu yang disalurkan ke dalam usus, karena lemak kurang berfungsi atau tidak dipergunakan akibat adanya anemia. Meskipun gemuk terjadi kelemahan otot. Selanjutnya diikuti penurunan nafsu makan, selaput lendir pucat, serta bulu menjadi kering dan rontok, akhirnya terjadi kebotakan dan hewan menjadi lemah dan kurus  sehingga terjadi penurunan produktivitas dan pertumbuhan yang terhambat (Aak, 1995)

Diagnosa dilakukan dengan memeriksa tinja atau cairan duodenum atau cairan empedu hospes untuk menemukan telur cacing fasciola. Penghitungan jumlah telur tiap gram tinja, menemukan metaserkaria pada rumput. Untuk membantu menegakkan diagnosis terutama fasciolosis jaringan dan fascioliasis dalam periode prepaten, maka dapat dilakukan berbagai uji imunodiagnostik misalnya uji imunofluoresen tak langsung, uji hemaglutinasi pasif, uji presipitasi gel atau metode imunodiagnostik lainnya (Akoso, 1996)

Diagnosa banding dari bentuk akut dapat keliru dengan penyakit antrax, karena adanya pengeluaran darah dari hidung dan anus. Sedangkan pada bentuk kronik pada domba dapat keliru dengan haemonchosis karena adanya bottle jaw, anemia pada fascioliasis dapat keliru dengan anemia oleh penyebab yang lain (Akoso, 1991).

Pada hewan dewasa perubahan-perubahan sering hanya terbatas pada hati. Mungkin hewan itu sedikit kurus atau pucat. Pada hewan muda perubahan-perubahan biasanya lebih menyolok, kekurusan, anemia, busung air dimana-mana merupakan perubahan-perubahan terpenting. Pemeriksaan post mortem pada infeksi akut terlihat hati bengkak karena degenerasi parenkim atau infiltrasi lemak, di bawah selubung hati dan pada bidang sayatan terlihat perdarahan-perdarahan disebabkan oleh migrasi parasit-parasit muda. Perubahan-perubahan pada hati dalam tingkat menahun ialah cholangitis, pericholangitis yang menjadikan hepatitis chronica indurativa (sirosis parasiter). Dinding saluran-saluran empedu sangat tebal karena pembentukan jaringan ikat dan endapan kalsium. Di dalam saluran-saluran itu tertimbun massa`detritus yang berlendir dan mengandung distoma dewasa. Sarang-sarang distomum sekali-sekali ditemukan di dalam paru-paru dan limpa (Ressang, 1984).

Tindakan pencegahan yaitu memotong siklus hidup dengan mollusida, memberantas siput secara biologi, misalnya dengan pemeliharaan itik,  rotasi lapangan rumput, memperbaiki sistem pengairan sehingga memungkinkan tindakan pengeringan, menyebarkan copper sulphat atau trusi di lapangan penggembalaan dan melakukan pemberian obat cacing secara teratur (Sumartono, 2001).

Sedangkan tindakan pengendalian yaitu secara umum paling tidak pengobatan harus dilakukan 3 kali dalam setahun yaitu pada permulaan musim hujan untuk menghilangkan cacing didapat selama musim kemarau dan menghadapi perluasan habitat siput. Pada pertengahan musim hujan untuk mengeluarkan cacing yang diperoleh selama musim hujan dan mengurangi peluang infeksi mirasidium pada siput yang habitatnya meluas. Sedangkan pada akhir musim hujan untuk menghilangkan cacing yang didapat selama musim hujan serta mengurangi potensi untuk terkontaminasi dimusim kemarau (Sumartono, 2001).

 2.3    Pink Eye

Pinkeye disebut juga infectious bovine keratoconjunctivitis (IBK), infectious keratitis, bular mata atau radang mata atau katarak atau kelabu mata atau blight merupakan penyakit yang biasa menyerang sapi, kambing maupun domba. Pink eye disebut juga penyakit epidemik, karena ditempat yang telah terinfeksi dapat berjangkit kembali setiap tahunnya. Penyakit ini sering timbul dengan tiba-tiba terutama pada hewan dalam keadaan lelah (Blood et all, 1983).

Pink eye dapat menyerang semua jenis ternak dan semua tingkat umur, tetapi hewan muda lebih peka dibandingkan dengan hewan tua. Pink eye dapat disebabkan oleh mikroorganisme pathogen, benda asing, trauma maupun perubahan iklim. Penyebab utama pink eye pada sapi adalah Moraxella bovis sedangkan pada domba dan kambing disebabkan Rickettsia Colesiota, namun para ahli masih banyak berbeda pendapat ada yang menyebutkan penyebabnya bakteri, virus, chlamidia dan juga rickettsia. Selain itu ada beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya infeksi pink eye antara lain lalat, debu, kelembaban, musim, kepadatan hewan di dalam kandang serta kualitas makanan. Penyakit ini umum menyerang heifers dan pedet umur 3 minggu. Infeksi pink eye lebih banyak berjangkit pada peralihan musim kemarau dibandingkan dengan musim penghujan. Tetapi pada kasus yang kronis dapat berlangsung sepanjang tahun (Made, 1997).

Penyakit ini bersifat mudah menular menyebabkan inflamasi pada kornea dan konjungtiva. Beberapa kasus (2%) bahkan ada yang sampai menyebabkan ulkus kornea hingga kebutaan. Pinkeye sebenarnya termasuk ke dalam self limiting disease, artinya dapat sembuh dengan sendirinya.

Masa inkubasi penyakit ini biasanya 2-3 hari, kadang-kadang lebih panjang. Gejala klinis yang muncul antara lain demam, depresi dan penurunan nafsu makan, mata mengalami konjunctivitis, kreatitis, kekeruhan kornea dan lakrimasi. Terdapat 4 tahap gejala dari penyakit ini, setiap tahapan bila tidak ada tindakan pengobatan maka akan berkembang menuju tahap selanjutnya. Tahap 1 terjadi  hiperlakrimasi, peningkatan sensitivitas terhadap cahaya, kemerahan, dan sering berkedip. Tahap 2 terjadi ulkus pada kornea. Tahap 3 ulkus menyebar, inflamasi pada bagian dalam mata dan pada tahap 4 ulkus terjadi hingga ke iris, hewan menjadi buta.

Pada infeksi akut sekresi mata bersifat purulen, pada bagian bawah mata selalu basah, photopobia (takut cahaya). Kekeruhan kornea dapat meluas menutupi seluruh permukaan lensa mata bila diamati terlihat bintik-bintik putih atau keabu-abuan di tengah bola mata. Apabila membrana nictitan robek, maka bakteri oportunis dapat masuk kedalamnya dan mengakibatkan terjadinya infeksi pada mata sehingga mengakibatkan kebutaan.

Bintik-bintik putih semakin menebal dan menutupi permukaan kornea, cairan dari mata yang bersifat purulen saling melekat sehingga bulu mata lengket dan menyebabkan tergangunya penglihatan. Pada kasus yang kronis cairan mata keluar seperti nanah dan menempel di bawah permukaan mata sampai ke hidung bahkan mengeras membentuk keropeng. Pada infeksi ringan atau sub akut terlihat air mata cenderung keluar, kornea keruh dan sedikit pembengkakan pada jaringan sekitarnya. Pada kornea mata hewan yang sembuh dari penyakit ini terdapat jaringan parut (Made, 1997).

Prevalensi tinggi terjadi pada Bos Taurus dibanding dengan Bos indicus dan lebih resisten pada cross bred. Infeksi campuran dengan infectious bovine rhinotracheitis (IBR), mycoplasma, chlamydia, dan Branhemella ovis akan memperburuk kondisi hewan. Penyebaran penyakit ini melalui kontak dengan sekresi mata yang berasal dari hewan yang terinfeksi. Lalat juga berperan sebagai vektor dalam penyebaran penyakit ini.

Diagnosa pink eye dapat dilakukan berdasarkan etiologi, epidemiologi dan berdasarkan gejala klinis. Pemeriksaan berdasarkan gejala klinis pada penderita pink eye akan menunjukan gejala seperti mata merah, kelopak mata bengkak dan lakrimasi yang meningkat. Pada kasus yang akut kornea mata keruh dan terjadinya pengapuran pada kornea mata (Blood et all, 1983).

Pengobatan awal perlu dilakukan untuk mencegah semakin parahnya kondisi penyakit dan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut terhadap sapi lain. Tindakan karantina perlu dilakukan, karena sapi yang terinfeksi dapat berberan sebagai reservoir. Tindakan pengobatan pada prinsipnya adalah untuk mengurangi iritasi, mengurangi risiko penyebaran penyakit, dan melindungi mata dari kerusakan lebih lanjut. Beberapa jenis antibiotik yang sering digunakan dalam pengobatan pink eye seperti larutan zinc sulfat 2.5%, salap mata sulfathiazole 5%, bacitrasin salap (R282), atau kombinasi anti bakterial dengan anestesi lokal (R289) atau serbuk urea-sulfa, yang digunakan secara lokal. Bisa juga dengan tetracycline, oxytetracycline atau polymyxin B, atau erythromycine salep, yang diberikan 3-4 kali sehari, atau dengan pemberian larutan perak nitrat 1,5% (8-10 tetes) yang diberikan dengan interval 2-3 kali per minggu (Blood et all, 1983).

Cara yang paling ekonomis dalam pengobatan Pink eye yaitu dengan furazone powder atau penyuntikan LA 200 secara intra musculus maupun diteteskan pada mata, tetapi waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan sangat lama. Adapun Komposisi LA 200 terdiri atas : Gentamycin 100mg/ml : 10 ml, Dexamethasone, 2mg/ml : 10 ml, Aquadestilata  : 10 ml.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:

ü Memusnahkan hewan karier yaitu hewan yang dianggap sebagai sumber infeksi segera diisolasi dari kawanan ternak

ü Hewan yang terinfeksi segera dikandangkan (isolasi) pada tempat yang gelap, guna untuk menghindari kontak dengan hewan yang sehat baik secara langsung atau tidak langsung seperti dinding kandang, air minum tempat pengembalaan dengan demikian dapat terhindar dari lalat yang merupakan vektor dari jasad renik tersebut.

ü Sanitasi yaitu dengan menjaga kebersihan kandang serta lingkungan yang bersih serta terbebas dari genangan air.

ü Mengurangi jumlah hewan di dalam kandang. Akibat terlalu padat hewan didalam kandang dapat menyebabkan kontaminasi sesama.

ü Pemberian makanan yang cukup mengandung vitamin A atau padang pengembalaan yang baik sehingga dapat terhindar timbulnya infeksi.

ü Berdasarkan uraian diatas maka dapat diambil kesimpulan antara lain :

ü Penyakit Pink eye merupakan salah satu penyakit yang cepat menular kepada hewan yang lain.

ü Hewan yang menderita penyakit Pink eye dapat bersifat karier.

ü Pada kasus yang kronis  kalau tidak diobati dapat terjadi kebutaan.

ü Pink eye dapat menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak seperti penurunan berat badan, dan penurunan produksi.

ü Kesukaran dalam penanggulangan pink eye yang disebabkan oleh banyaknya faktor predisposisi dan agent penyebab.

ü Tindakan pencegahan yaitu dengan cara menyingkirkan hewan karier serta menjaga kualitas makanan.

2.4    Paramphistomiasis

Paramphistomiasis merupakan penyakitb yang disebabkan oleh Paramphistomum cervi dan Paramphistomum microbothrium yang menyerang  ruminansia. Lokasi infeksi cacing dewasa terdapat pada rumen dan retikulum sedangkan stadium intermediet pada duodenum. Cacing muda menyumbat penyerapan nutrisi dan menghasilkan pengikisan mukosa duodenum. Pada infeksi berat mengakibatkan enteritis, hemorraghi dan ulcer. Ketika dilakukan nekropsi cacing muda dapat dilihat seperti kelompok parasit berwarna pink kecoklatan menempel pada mukosa duodenum dan kadang-kadang juga pada jejunum dan abomasum. Ribuan cacing dewasa juga ditemukan dan bertahan hidup (memperoleh makanan) pada dinding rumen atau retikulum (Urquhart, et all. 1996).

Gejala klinis yang paling sering adalah diare disertai anorexia dan dehidrasi. Kadang-kadang pada sapi, disertai hemorraghi di rektum. Kematian pada fase akut dapat mencapai 90% (Urquhart; et.all. 1996).  Diagnosis didasarkan pada gejala klinis yang kadang-kadang menyangkut hewan muda di peternakan dan sejarah rumput apa ada disekitar habitat keong selama periode musim panas. Pemeriksaan feses penting sejak penyakit terjadi selama periode prepatent. Penegakan diagnosa dapat diperoleh dari pemeriksaan posmortem dan penemuan kembali cacing kecil dari duodenum (Sumartono, 2001).

 2.5    Anemia

Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin atau jumlah sel-sel darah yang fungsional menurun sehingga tubuh akan mengalami hipoksia sebagai akibat kemampuan kapasitas pengangkutan oksigen dari darah kurang. Anemia bukan merupakan diagnosa akhir dari suatu penyakit akan tetapi selalu merupakan salah satu gejala dari sesuatu penyakit misalnya anemia defisiensi besi selalu terjadi akibat dari pendarahan kronis mungkin disebabkan karnoma colon atau ankilostomiasis dan lain-lain. Pada hewan piaraan jarang bersifat primer sering bersifat sekunder (Supandiman, 1997).

Gejala klinis anemia bervariasi tergantung pada etiologi, derajat dan kecepatan timbulnya. Penyakit-penyakit lain seperti penyakit jantung, paru-paru akan mempengaruhi keparahan gejala-gejala. Anemia tersebut akan menampakkan gejala seperti terlihat terhadap kulit dan selaput lendir yaitu mukosa terlihat pucat, lemah, dispnea, anoreksia, oedema, nafsu makan turun, gastrointestinal mengalami kelukaan, tachycardia dan polypnea (bernafas cepat) terutama setelah kerja, peka terhadap dingin, pada pemeriksaan auskultasi terdengar bising jantung karena viskositas darah menurun dan turbulence meningkat, jika sepertiga volume darah hilang maka hewan akan syok, terlihat ikterus (jika ada hemolisa darah), hemoglobinuria, hemoragi dan demam. Gejala kurang jelas jika kejadiannya pelan-pelan sehingga hewan lama-kelamaan dapat beradaptasi (Supandiman, 1997).

BAB III

METODOLOGI

3.1.  Tanggal dan Tempat

Praktek Diagnosa Klinik dilaksanakan di Perumahan Tata Surya Malang pada hari Jumat, tanggal 26 Oktober 2012 dari pukul 06.00-11.00 WIB.

 

3.2.  Alat dan Bahan

Adapun alat untuk melakukan pemeriksaan fisik pada saat antemortem menggunakan termometer dan stetoskop. Sedangkang saat pemeriksaan postmortem menggunakan disetting set. Selain itu juga menggunakan kamera sebagai alat bantu dokumentasi.

3.3.  Langkah Kerja

Hewan

 
-          Dilakukan pemeriksaan fisik meliputi sistem sirkulasi dengan mengitung detak jantung dan pulsus pada arteri, sistem respirasi dengan menghitung gerak paru-paru dan in-ex udara pada hidung, mengamati sistem reproduksi dan sistem termoregulasi menghitung temperature dengan termometer.

-          Dilakukan pengamatan perubahan perilaku, nafsu makan, urinasi dan struktur, warna, bau defekasi sapi. Serta mengecek usia kambing atau sapi dengan melihat gigi.

-          Dilakukan keputusan hewan dapat disembelih atau tidak

-          Dilakukan pemeriksaan postmortem setelah disembelih meliputi kepala, jantung, paru-paru, hati, limpa, usus dan lambung serta daging (karkas)

-          Dilakukan keputusan karkas dan organ dikonsumsi atau tidak

Hasil

 

 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.   Hasil Pengamatan

Proses pemeriksaan postmortem meliputi pemeriksaan kepala, jantung, paru-paru, hati, limpa, ginjal, usus dan lambung serta daging (karkas) dengan data sebagai berikut:

  1. a.    Sapi

Sapi ke

Antemortem

Postmortem

1

-          Umur cukup, kulit kotor pada ekor

-          Testis hanya 1 yang terlihat turun (monocrid)

 

-      Limpa : baik

-      Jantung : baik

-      Paru-paru : baik

-      Hati : afkir (destomatosis)

-      Ginjal : baik

-      Berlemak

2

-          Umur cukup (poel sepasang)

-          Mukosa hidung normal

-          Suhu 39,3oC

-          Testis ada

-          Bersih

-

-      Limpa : baik

-      Jantung : baik

-      Paru-paru: baik

-      Hati : afkir

-      Ginjal : baik

-      Maseter : baik

3

-          Umur cukup (poel dua pasang)

-          Mukosa hidung normal (basah normal)

-          Suhu 39,5oC

-          Testis ada

-          Bersih

-      Limpa : keras

-      Jantung : pengeluaran tidak sempurna

-      Paru-paru : baik

-      Hati : tumor, tidak cerah, agak keras

-      Limfo pada kepala bagus

4

-          Mukosa hidung normal (basah normal),

-          Umur cukup (poel 2 pasang),

-          Suhu 39,6oc

-          Testis ada,

-          Bersih,

-      Limpa : baik

-      Jantung : baik

-      Paru-paru: baik

-      Hati : baik

-      Ginjal : baik

-      Trakea : baik

5

-          Tidak tercatat -      Limpa  : baik

-      Jantung : baik

-      Paru-paru : ada pus, lemak

-      Hati : afkir

-      Ginjal  : baik

6

-          Umur cukup (poel 2 pasang + 1 gigi sebelah kanan)

-          Mukosa hidung normal (basah normal)

-          Suhu 38,8oC

-          Testis ada

-          Matanya terjadi gangguan (berwarna merah muda/pink eye)

-          Bersih

-      Maseter : baik

-      Limpa : baik

-      Jantung : baik

-      Paru-paru : baik

-      Hati : ada cacing lumayan banyak tapi bentuknya tetap halus dan lancip

7

-          Umur cukup (poel sepasang)

-          Suhu 38,7 0c

-          Mukosa hidung normal ( basah

-          Normal)

-          Testis ada

-          Bersih

-          Pada sudut matanya ada sedikit luka.

-      Limpa  : baik

-      Jantung  : baik

-      Paru-paru  : baik

-      Hati : baik

8

-          Umur cukup (poel sepasang)

-          Mukosa hidung normal (basah normal)

-          Suhu 38,8 0c

-          Badannya kotor

-          Testisnya tidak simetris tetapi kedua testisnya ada

-      Limpa : baik

-      Jantung : baik

-      Paru-paru: baik

-      Hati afkir sebagian

-      Ginjal : baik

-      Retikulum : banyak paramphistomum

9

-          Umur cukup (poel sepasang)

-          Suhu 38,7oc

-          Mukosa hidung normal  (basah normal)

-          Testis ada

-          Bersih

-          Mata seperti katarak

-          Terdapat luka di punggung

-      Limpa : baik

-      Jantung :banyak lemah pada perkardium

-      Paru-paru : ada bintik-bintik hitam (normal terlalu exercise)

-      Hati : afkir

-      Ginjal : baik

 

  1. b.      Kambing

Kambing ke

Antemortem

Postmortem

1

-       Kepala coklat sedikit yg lain putih -       Anemia

2

-       Kambing baru datang

-       Mata putih

-       Limpa : baik

-       Jantung  : baik

-       Paru-paru : baik

-       Hati : baik

3

-       Tidak tercatat -       Limpa : baik

-       Jantung : baik

-       Paru-paru warna tidak normal memar

-       Hati: baik

4

-       Tidak tercatat -       Jantung : baik

-       Paru-paru: baik

-       Hati : baik

5

-       Tidak tercatat -       Jantung : baik

-       Paru-paru: baik

-       Hati : baik

 

 

4.2.  Pembahasan

4.2.1. Sapi

Pada sapi didapat empat jenis penyakit yaitu fasciolasis, monorchidsm, pink eye dan paramphistomiasis. Dari keempat penyakit tersebut sembilan sapi yang disembelih hati dari tujuh diantaranya harus diafkir. Sedangkan kejadian pink eye dan monorchidsm hanya ditemui masing-masing satu ekor. Berikut paparan dari keempat penyakit tersebut.

 -       Moonorchidsm

Pada kasus sapi kurban ini ketika dilakukan penyembelihan, terlihat testis berapa tepat diatas skrotum namun tidak turun. Sehingga sapi tersebut dapat digolongkan mengalami kelainan kriptorchid monolateral (monorchidsm). Sebenarnya sapi dengan kelainan seperti ini tidak boleh digunakan sebagai hewan kurban. Sapi ini merupakan sapi yang digunakan untuk menukar sapi yang sebelumnya dinyatakan belum cukup umur, sehingga sapi ini tetap disembelih karena efisien waktu.

 -       Distomatosis

Dari sembilan sapi yang disembelih, hati dari tujuh diantaranya harus diafkir.  Lima diantara 7 tersebut diafkir seluruhnya karena cacing telah menyebabkan sirosis hati sehingga hati mengeras sehingga tidak layak dikonsumsi.

 -       Pink eye

Pada pemeriksaan hewan kurban kali ini diketahui ada satu sapi yang mengalami pink eye dibagian mata sebelah kanan. Mata sapi tersebut terlihat tertutup selaput putih seperti mata katarak. Sapi diisolasi dengan meletakkan sapi yang mengidap pink eye jauh dari sapi lainnya kira-kira 10 meter agar tidak menular kepada sapi yang lain. Ketika dilakukan pemeriksaan dengan memberi cahaya pada mata yang mengalami pink eye, mata sapi tersebut masih memberikan reflek, sehingga tidak dilakukan pengobatan.

 -       Paramphistomiasis

Untuk kejadian paramphismtomiasis tidak dapat tercatat seluruhnya karena isi abdomen setelah disembelih segera dibawa ke sungai untuk dibersihkan. Isi abdomen atau jeroan yang telah dibersihkan dibawa kembali ke area penyembelihan untuk ditimbangkan dan dibagikan. Saat proses pemotongan tersebut didapati pada bagian dalam rumen. Rumen yang dirasa memiliki koloni paramphistomum yang cukup banyak dipotong dan dipisahkan dan tidak layak dikonsumsi.

 4.2.2. Kambing

Keadaan post mortem pada kambing tidak dapat seluruhnya terpantau karena setelah pemeriksaan antemortem, pada keesokkan harinya kambing disembelih pada tempat yang berbeda. Hanya tercatat beberapa ekor, dimana salah satunya tercatat mengalami anemia yang terlihat pada perubahan warna dari organ dalamnya. Anemia tersebut didapat disebabkan oleh banyak faktor. Namun karena informasi yang tidak lengkap penulis tidak dapat menjabarkan.

 BAB V

PENUTUP

 5.1.  Kesimpulan

Pemeriksaan antemortem dan postmortem wajib dilakukan untuk menjamin daging atau jeroan dari hewan kurban telah sesuai dengan prinsip ASUH yaitu Aman, Sehat, Utuh dan Halal. Kedua pemeriksaan tersebut harus didampingi oleh dokter hewan untuk mencegah terjadinya kecurangan atau hal-hal yang dapat merusak daging atau jeroan dari hewan kurban.

Pemeriksaan antemortem dan postmortem juga harus wajib dilaksanakan di rumah pemotongan hewan untuk menjamin daging yang beredar telah diperiksa dan tidak berpeluang menyebabkan food borne disease. Prosedur yang telah ditetapkan harus dipatuhi agar tidak menimbulkan penyakit atau polemik dimasa mendatang. Oleh karena itu calon dokter hewan harus mampu melaksanakan kedua pemeriksaan tersebut sebagai tugas pokok dokter hewan di rumah pemotongan hewan.

 5.2.  Saran

Sebaiknya sesudah praktikum diadakan evaluasi agar mahasiswa dapat menganalisis permasalahan yang timbul pada saat pelaksanan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Aak. 1995. Petunjuk Praktis Beternak Sapi Perah. Yogyakarta: Kanisius.

Adnan, K.S. 2007. Infertilitas Karena Faktor Genetik pada Sapi. Diakses pada 20 Desember 2012 dari <http://www.fedcosierra.com/2007/04/Infertilitas-Karena-Faktor-Genetik-Pada.html>

Akoso,T.B. 1991. Manual untuk Paramedik Kesehatan Hewan Edisi 2. Omaf-Cida Disease Investigasi Center.

Akoso, T. B. 1996. Kesehatan Sapi. Yogyakarta: Kanisius

Blood, D.C., O.M. Radostits dan J.A. Henderson. 1983. Veterinary Medicine 6th Ed. Philadelphia: Lea And Febiger

Made D.N.D. 1997. Penyidikan Penyakit Hewan. Denpasar: CV Bali Media Perkasa.

Perdhana, L. 2012. Anatomi Fisiologi Lien/Limpa/Spleen. Diakses 20 Desember 2012 <http://medicina-islamica-lg.blogspot.com/2012/02/Anatomi-Fisiologi-Lien-Limpa-Spleen.html>

Radostits O. 2007. Veterinary Medicine A Textbook Of The Diseases Of Cattle, Horses, Sheep, Pigs and Goats 10th Edition. New York. Saunders Elsevier Limited.

Ressang, A. A. 1984. Pathologi Khusus Veteriner. Bali: Fad Project Khusus Investigasi Unit Bali.

Retro. 2011. Aspergillus Jamur Rumahan. Diakses 20 Desember 2012 <http://budidayaukm.blogspot.com/2011/06/Aspergillus-Jamur-Rumahan.Html

Soedarto. 2003. Zoonosis Kedokteran. Surabaya: Airlangga Press.

Sumartono. 2001. Parasitologi Umum. Yogyakarta: Bagian Parasitologi FKH UGM.

Supandiman, I. 1997. Hematologi Klinik. Bandung: Penerbit Alumni.

Urquhart G.M., Armour J., Duncan J.L., Dunn A.M., and Jennings F.W. 1996. Veterinary Parasitology 2nd Edition. England: Elbs

0

PATOLOGI SISTEMIK : Chronic Downer

Chronic Downer/ Cow Downer/ Downer Syndrom adalah keadaan dimana sapi tidak dapat berdiri dan selalu dalam keadaan berbaring pada salah satu sisi tubuhnya selama lebih dari 24 jam. Sering terjadi pada induk hewan yang sedang bunting tua atau beberapa hari sesudah partus. Lebih lengkap dapat dilihat di  Chronic Downer – Sirkulasi ok

0

DIAGNOSA KLINIK : Left Displaced Abomasum

MAKALAH

PRAKTIKUM DIAGNOSA KLINIK

DI PT. GREENFIELD PADA 17 DESEMBER 2012

 KASUS

LEFT DISPLACED ABOMASUM

Disusun Oleh

Inggil Pusvita R                         0911310046
M. Masyhuri D.S                        0911310052
Pascara Fajar L.                        0911310054
Prima Santi                               0911310056
Putrika Suryandari                    0911310057

PDH-A-2009

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012


BAB I

PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang

Industri sapi perah setiap tahunnya terus meningkat sesuai dengan peningkatan permintaan susu dalam negeri maupun luar negeri. Untuk menjaga produksi susu makan sapi perah harus terus dalam keadaan sehat agar dapat bunting dan menghasilkan susu setelah partus. Dalam industri ini yang menjadi perhatian khusus adalah produkvitas induk dalam menghasilkan susu, sedangkan pedet merupakan bonus. Sehingga keadaan induk, kesehatannya, nafsu makan dan lain-lain menjadi fokus perhatian agar produksi susu tetap bagus.

Sapi perah setelah partus memiliki resiko tinggi mengalami gangguan infeksius maupun metabolit yang dapat berpeluang menurunkan produktivitas sapi perah. Gangguan pada saat partus antara lain dystocia, paralysis, prolapsed uterus, retained placenta, metritis, dan milk fever. Sedangkan ketika awal laktasi dapat terjadi displaced abomasum, ketosis, rumen acidosis, abomasal ulcers, dan fatty liver.

Begitu banyak kemungkinan yang dapat mengintai sapi perah oleh karena itu dibutuhkan dokter hewan yang dapat menghandle keadaan sapi yang kemungkinan mengalami gangguan dan berpotensi menganggu proses produksi susu. Sehingga sebagai calon dokter hewan harus memiliki skill dalam menangani hewan besar. Oleh karena itu kami melakukan praktikum di PT. Greenfield pada tanggal 17 Desember 2012 untuk memberikan wawasan terhadap profesi dokter hewan besar khususnya pada sapi perah.

 1.2.  Tujuan

-          Untuk mengetahui metode penerimaan pasien

-          Untuk mengetahui metode pemeriksaan fisik dan anamessa pasien

-          Untuk mengetahui metode diagnosa dan terapi penyakit pasien

 1.3.  Manfaat

Agar mahasiswa calon dokter hewan dapat memiliki skill dalam menerima pasien, dapat melakukan pemeriksaan fisik dan anamessa terhadap pasien serta mampu mendiagnosa dan terapi penyakit pasien.

 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.  Etiologi

Left displaced abomasum (displasia abomasum) merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi pada sapi perah terutama di masa awal laktasi atau beberapa minggu post partus. Displasia abomasum atau yang sering disebut tibalik kadut (sunda) atau juga lambung geser adalah berpindahnya atau bergesernya letak abomasum ke posisi abnormal. Kejadian displasia abomasum biasanya diawali dengan adanya atoni abomasum dan timbunan gas sehingga abomasum mudah sekali bergeser. Pergeseran letak abomasum bisa ke bagian perut sebelah kiri bisa juga bergeser ke sebelah kanan dan atau disertai dengan perputaran.

Letak abomasum secara normal adalah di bagian ventral rongga perut sebelah kanan, diantara rusuk ke 7-11.

Penyebab LDA bermacam-macam, tetapi penyebab utamanya ialah asupan pakan sesudah dan sebelum sapi partus. Periode transisi yang terjadi 2 minggu sebelum beranak hingga 2-4 minggu pascamelahirkan adalah periode risiko utama dalam etiologi LDA. Jumlah pemberian konsentrat yang berlebihan selama periode prepartum meningkatkan risiko displasia abomasum kiri. Distensi gas dan hypomotility dari abomasum mungkin dikarenakan tingkat konsentrat pada pakan yang tinggi untuk sapi perah pada akhir kehamilan (Radostits, 2006).

Akhir Kebuntingan. Rumen yang terdesak oleh perluasan uterus dan abomasums di dorong maju dan ke kiri bawah rumen. Setelah partus, rumen kembali dan menjebak abomasums terutma jika atoni karena pemberian konsentrat yang berlebihan (Radostits, 2006). Hypocalcemia biasanya terjadi pada sapi perah dewasa saat kelahiran. Level Ca dalam darah berpengaruh pada motilitas abomasum. Motilitas normal memerlukan 1,2 mmol Ca/ L dan di bawah itu akan menyebabkan motilitas abomasums hilang. Sapi yang mengalami hypocalcemia mempunyai resiko 4.8 kali lebih besar untuk mengalami LDA (Radostits, 2006). LDA paling sering ditemukan pada sapi perah produksi tinggi, tetapi juga dapat dijumpai pada sapi potong, (Timothy, 1999).

2.2.  Penyebab

Faktor resiko terjadinya displasia abomasum:

  1. Faktor manajemen dan pakan

Perbandingan antara konsentrat dengan rumput berhubungan dengan kejadian Displasia abomasum, semakin tinggi pemberian konsentat maka makin tinggi pula kemungkinan terjadinya Displasia abomasum.

  1. Pengalaman dilapangan memang terbukti dari kasus displasia yang ditemui rata-rata terjadi pada sapi-sapi yang di beri konsentrat berlebih dengan pemberian rumput yang minimal karena peternak ingin mendapatkan hasil susu yang maksimal. Kejadian DA ditemukan juga pada pedet yang mulai di beri konsentrat. Pedet tersebut diberikan konsentrat yang berlebih dan pernah terjadi juga pada kandang kelompok sehingga sebagian pedet lebih dominan dan memakan konsentrat lebih banyak.
  2. Kelainan pada masa Periparturien (sekitar kelahiran)

Beberapa kelainan atau gangguan pada masa periparturien yang beresiko menyebabkan DA meliputi : distokia,kelahiran kembar, metritis, ketosis atau milk fever. Gangguan tersebut kebanyakan menyebabkan kekurangan kadar Ca darah atau akibat adanya endotoksin sehingga mengakibatkan terjadinga atoni abomasum & akumulasi gas yang mengakibatkan terjadinya DA.

  1. Jenis dan umur

Jenis sapi FH (Frisian Holstein) cenderung lebih mudah mengalami Displasia abomasum. Kejadian Displasia abomasum lebih sering terjadi pada sapi dewasa yang habis lahir dan pada pedet yang mulai disapih.

2.3.  Gejala klinis

Sapi dengan LDA nafsu makannya turun, terjadi penurunan curah tinja, frekuensi kontraksi rumen berkurang, dan hypogalactia. Perut mungkin terlihat sedikit buncit di kiri, tulang rusuk akan bermunculan, tetapi perut cekung di fosa paralumbar. Denyut nadi sedikit meningkat (85 sampai 90 denyut / menit). Ketonuria dan aseton pada nafas biasanya hadir. Suara denting (tinkling sound) terdengar pada auskultasi rumen dalam fosa paralumbar kiri. Ping zone dapat ditemukan di mana saja dari sepertiga bagian bawah perut di ruang intercostal 8 sampai fosa paralumbar. Pemeriksa harus dilakukan dengan mengetuk sepanjang garis dari tuber coxae ke siku. Luas ping zone sering melingkar dan umumnya tidak melampaui tulang rusuk terakhir. Pada abomasal distensi ekstrim abomasum dapat terlihat dalam fosa paralumbar kiri. Dalam kebanyakan kasus rumen tidak akan ditekan erat ke dinding abdominal saat diraba melalui fosa paralumbar kiri. Tinja mungkin lebih kering dari normal atau sedikit dan encer (Guard, 1997).

2.4.  Patogenesis

Pada sapi yang tidak bunting, abomasums menempati bagian ventral abdomen dengan pylorus memperluas ke sisi kanan caudal dari omasum. Pada kebuntingan, uterus membesar menempati sebagian besar cavum abdomen. Uterus mulai ke bagian bawah caudal dari rumen sehingga menurunkan volume rumen pada akir kebuntingan. Hal tersebut mendesak abomasums ke depan dan agak k samping kiri abdomen, meskipun pylorus terus memanjang melintasi abdomen ke bagian kanan. Setelah kelahiran, uterus memendek ke belakang menuju pelvic inlet yang dalam keadaan normal memungkinkan abomasums untuk kembali normal (Radostits, 2006).

Selama LDA, akir pyloric dari abomasums sepenuhnya berada di bawah rumen sisi kiri. Isi rumen relatif berkurang dan atoni abomasums memungkinkan abomasums untuk membesar (menggembung) dan berpindah ke sisi kiri abdomen.

Dalam abomasums normal, produksi gas seimbang dengan pengeluarannya secara oral atau aboral. Ketika motilitas abomasums menurun (tidak memadai), akumulasi gas terjadi. Kelebihan gas tersebut berasal dari rumen yang berhubungan dengan peningkatan pakan konsentrat dan peningkatan konsentrasi volatile fatty acid (VFA) dalam abomasums. Tingginya biji-bijian dan rendahnya hijauan dapat menyebabkan VFA ada dalam abomasums dengan berkurangnya kedalaman ruminal mat (raft) (Radostits, 2006).

Rumen raft menangkap partikel biji-bijian kemudian difermentasi di bagian atas cairan rumen. VFA diproduksi dibagian atas cair rumen yang kemudian diserap diserap rumen dengan sedikit VFA  yang masuk k abomasums. Pada sapi dengan rumen raft yang tidak memadai (pakan hijauan rendah), partikel biji-bijian jatuh ke bagian ventral rumen dan reticulum kemudian difermentasi atau langsung diteruskan ke abomasums. VFA diproduksi di rumen ventral sehingga dapat melewati orificium rumenoreticuler dan masuk k abomasums sebelum rumen mengabsorbsinya (Radostits, 2006).

Ketika sapi diberi pakan tinggi biji-bijian akan menyebabkan berkurangnya regurgitasi cud dan mastikasi, serta penurunan produksi saliva yang berpengaruh pada buffering rumen (Radostits, 2006).

Pembentukan ruminal raft dari partikel jerami berfungsi untuk mempertahankan fermentasi subtract pakan dalam rumen. Oleh karena itu sebagian besar produksi gas terjadi dalam rumen. Ingesta perlahan-lahan masuk ke glandular abomasums melalui kontraksi rumen. Dalam glandular digesti, abomasums mensekresi sejumlah besar HCl, yang kemudian dinetralkan oleh HCO3-. Sekresi HCO3- terjadi di duodenum dan distimulus oleh aliran bolus makanan. HCl dan KCl direabsorsi dalam saluran pencernaan dalam jumlah rendah, untuk menjaga keseimbangan asam basa (Murphy, 2007).

Dalam dysplasia abomasums, pengeluran abomasal secara fungsional terhalang lipatannya sendiri pada rumen dan terhimpit di dorsal antara rumen dengan dinding abdomen kiri (LDA), atau rumen dengan viscera abdominal kanan (RDA). Obstruksi tersebut membuat hydrogen, potassium, dan klorida yang terkandung dalam cairan lambung yang secara fungsional reabsorpsinya menghilang. Penurunan nafsu makan juga berperan besar dalam hypokalemia pada ruminant karena penurunan asupan ion (Murphy, 2007).

Tanpa adanya aliran ingesta, duodenum tidak mensekresikan HCO3- pankreatik, membuat peningkatan HCO3- dan produksi alkaliosis metabolic alkalosis. Dalam ginjal, HCO3- difiltrasi oleh glomerulus dan direabsorbsi pada tubulus proximal terlepas dari konsentrasi HCO3- dalam plasma (Murphy, 2007).

Dalam kasus alkalosis metabolic hypochloremik, aciduria mungkin terjadi. Dalam merespon dehidrasi akibat hipovolemia, aldesteron merangsang ginjal untuk mempertahankan Na+ dan air. Cl- adalah anion yang diserap bersama dengan Na. namun karena penyerapan Cl- dalam dysplasia abomasums tidak tersedia untuk penyerapan Na. oleh karena itu HCO3- menggantika untuk diserap dengan Na+, sehingga terjadi penurunan pH urin. Hipokalemia menyebabkan pertukaran ion H+ tidak ada, sehingga ditukar dengan Na+ menyebabkan urin asam (Murphy, 2007).

2.5.  Diagnosis

Berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan fisik, terutama dengan auskultasi dan perkusi dinding perut terdengar adanya suara khas yang nyaring yang sering disebut tinkling sound atau ping sound. Diagnosis juga dapat dilakukan dengan pengambilan dan pengukuran pH cairan Abomasum. Pada sapi yang mengalami Displasia Abomasum biasanya mempunyai pH cairan abomasum kurang dari 2 (Soebronto, 2003).

2.6.  Diferensial diagnosa

Differensial diagnosa pada LDA antara lain dilihat dari bunyi “Ping”

2.7.  Penanganan

Ada beberapa cara terapi untuk displasia abomasum dengan tingkat keberhasilan dan resiko yang berbeda-beda. Terapi yang dapat dilakukan adalah:

  1. Operasi.

Merupakan terapi terbaik. Banyak macam cara atau metode operasi yang digunakan, misalnya : Right paramedian abomasopexy; right flank omentopexy dan left flank abomasopexy.

Teknik Operasi Right Flank Omentopexy pd kasus LDA

-          Cukur rambut di daerah flank kanan (di sekitar tempat incisi) hingga bersih

-          Lakukan anastesi  lokal atau bisa juga dengan anastesi regional (metode L terbalik)

-          Desinfeksi kulit disekitar tempat incisimenggunakan alcohol dan povidon secara bergantian dan dilakukan melingkar dari tengah ke samping luar, pasang kain penutup operasi

-          Incisi  daerah flank kanan sekitar 15-20 cm hingga memotong kulit, muskulus dan peritoneum

-          Eksplorasi rongga abdomen dengan tangan kiri, identifikasi  posisi abomasums kemudian lakukan pengeluaran gas dengan meggunakan jarum yang dihubungkan dengan selang (hati-hati saat memegang ujung jarum, jangan sampai menusuk organ lain).

-          Ujung selang masukkan kedalam air untuk mendeteksi adanya gas yang keluar. Lakukan pengeluaran gas semaksimal mungkin.

-          Setelah gas dikeluarkan, jarum di tarik keluar, Lakukan reposisi abomasum

-          Cari pylorus dan omentum, pilih bagian omentum yang tebal kira-kira 5-7 cm dorsal dan caudal dari pylorus kemudian jahitkan dengan dinding abdomen. Buatlah jahitan pada dua titik. Apabila kurang yakin, lakukan penjahitan pada bagian pylorus (usahakan hanya menusuk pada bagian muskularis saja, dan gunakan benang nylon monofilament)

-          Masukkan cairan fisiologis+antibiotic kedalam rongga perut untuk menjaga kelembaban organ  dan mencegah infeksi

-          Lakukan penutupan dinding perut (peritoneum-muskulus-kulit)

-          Terapi dengan injeksi antibiotic selama 3 hari.

Right flank omentopexy

Kelebihan: Hewan masih dalam keadaan berdiri. Dapat dipakai untuk kasus LDA, RDA maupun volvulus. Manipulasi terhadap abomasum minimal. Mudah untuk mengidentifikasi  jika terjadi volvulus. Kelemahan: Sulit untuk melakukan reposisi abomasum dan fiksasi terutama pada kasus LDA. Abomasum sulit untuk di lihat. Resiko terjadinya kontaminasi saat melakukan pengeluaran gas. Kemungkinan untuk kambuh kembali jika lokasi fiksasi terlalu caudal atau terlalu dorsal dari pylorus. Point Penting: Handle omentum dengan hati-hati. Tempat fiksasi sebaiknya 5-7 cm caudal dan dorsal dari pylorus.

 v Left Flank Abomasopexy

Kelebihan: Hewan masih dalam keadaan berdiri. Digunakan untuk kasus LDA. Merupakan cara terbaik untuk penanganan kasus LDA pada masa kebuntingan tua (8-9 bln). Inspeksi abomasum dan palpasi reticulum lebih mudah dibandingkan dengan teknik Right flank omentopexy. Kelemahan: Abomasums harus berada dalam posisi yang lebih atas. Operator harus dibantu atau dipandu dalam melakukan penusukan jarum ke dinding  ventral abdomen. Membutuihkan lengan yang panjang. Chronic fistula dapat terjadi jika abomasum sobek dari jahitan. Resiko tertusuk atau sobeknya vena mammaria. Point penting: Teknik yang sangat dianjurkan untuk kebuntingan tua. Jika blum terbiasa tandai terlebih dahulu bagian dari tempat keluarnya jarum. Sebelum melakukan fiksasi ke ventral abdomen pastikan tidak  ada usus yang ikut terikat.

 v  Paramedian Abomasopexy

Kelebihan: Perlekatan antara abomasums dan dinding abdomen sangat kuat. Fiksasi  abomasum pada posisi normal. Inspeksi abomasums sangat jelas. Kelemahan: Restrain hewan sangat sulit jika tidak tersedia peralatan yang memadai. Kontra indikasi untuk hewan yang mengalami pneumonia atau dalam keadaan shock.  Resiko terjadinya infeksi luka bekas incisi. Point penting: jahitan jangan sampai melewati mukosa dari abomasums. Benang monofilament harus digunakan untuk menutup dinding abdomen.

  1. Laparoskopi dan Fiksasi

Merupakan cara pengikatan abomasum dengan dinding abdomen dari luar dengan membuat lubang kecil menggunakan alat seperti trokar dan benang yang deberi penahan. Cara ini memang meminimalkan luka tetapi membutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang lebih. Ada berbagai metode laparoskopi dan fiksasi, antara lain: percutaneous toggle-pin fixation; two-step laparoscopic reposition and fixation; one-step laparoscopic reposition and fixation pada posisi hewan berdiri dan one-step laparoscopic fixation pada posisi dorsal recumbency.

  1. Pemutaran (Rolling technique)

Merupakan cara klasik. Hewan di ikat kakinya kemudian di telentangkan kemudian digoyang-goyangkan kekiri ke kanan. Cara ini memang mudah dilakukan tapi kemungkinan kesembuhan dengan teknik ini kecil. Kelebihan : Murah, Tanpa operasi. Kelemahan : Tingkat keberhasilan rendah. Kemungkinan untuk kambuh lagi besar. Point penting: Berbahaya  apalagi untuk hewan bunting Contoh penanganan kasus LDA dengan rolling technique :

Gambar 4. Teknik pemutaran kasus LDA

  1.  Puasa dan exercise (pengalaman di lapangan)

Merupakan cara yang sering kami lakukan dilapangan apabila tidak mungkin dilakukan operasi. Cara ini dilakukan karena kebanyakan kejadian Displasia Abomasum yang ditemui akibat kesalahan manajemen dan pemberian pakan. Terapi ini dilakukan dengan menghentikan total pemberian konsentrat dan membiarkan sapi untuk berjalan2 di tempat yang lapang (dipedok = sunda) untuk beberapa hari. Tujuan terapi ini adalah mencegah bertambahnya akumulasi gas dan mengharapkan pergeseran abomasum ke posisi normal. Tingkat keberhasilan dengan cara ini memang kecil tapi sampai sejauh ini masih menjadi pilihan kami karena masih tingginya ketakutan peternak dengan operasi. Apabila dengan terapi ini masih belum berhasil, masih ada satu terapi lagi, yaitu menyarankan untuk dibawa ke RPH atau jagal.

  1. Toggle Fixation

Metode ini memiliki kelebihan : Cepat dan Murah, Luka minimal, tanpa pembedahan dinding abdomen. Kelemahan : Berbahaya jika salah tusuk. Point penting : Sangat berbahaya untuk kasus RDA apalagi disertai volvulus

2.8 Pencegahan

Manajemen diet baik akan mengurangi insiden LDA. Menghindari perubahan mendadak dalam ransum dan termasuk memberi sumber serat yang memadai dengan akan meningkatkan volume rumen.

 BAB III

METODOLOGI

3.1.  Tanggal dan Tempat

Praktek Diagnosa Klinik dilaksanakan di PT. Greenfield, Gunung Kawi, Malang pada hari Senin tanggal 17 Desember 2012 dari pukul 15.00-17.00 WIB.

 

3.2.  Alat dan Bahan

Adapun alat untuk melakukan pemeriksaan fisik menggunakan termometer dan stetoskop. Untuk mendiagnosa penyakit atau gangguan pada pasien dibutuhkan anamessa dan data riwayat hewan. Terapi penyakit pasien disesuaikan dengan hasil dari diagnosa.

 3.3.  Langkah Kerja

Pasien

-          Dilakukan pemeriksaan fisik meliputi sistem sirkulasi dengan mengitung detak jantung dan pulsu pada arteri, sistem respirasi dengan menghitung gerak paru-paru dan in-ex udara pada hidung, mengamati sistem reproduksi dan sistem termoregulasi menghitung temperature dengan termometer.-          Dilakukan pengamatan perubahan perilaku, nafsu makan, urinasi dan struktur, warna, bau defekasi sapi

-          Dilakukan anamesa pada penjaga kandang, melihat recording data riwayat hidup sapi,

-          Didiagnosa dan terapi penyakit

Hasil

 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.  Hasil

  1. a.         Pemeriksaan Fisik

-       Thermoregulasi : 38,6oC

-       Sistem respirasi :

Perhitungan melalui hembusan nafas : 21

Perhitungan gerak paru2 : normal

-       Sistem sirkulasi :

Cardiac Output (sistol,diastol): 100/menit

Pulsus : 100/menit

-       Performance : Lemas,, kurus,, legok lapar cekung

-       Sistem pencernaan

* Tidak ada gerak rumen – auskultasi suara       pung

-       Sistem reproduksi

* palpasi rectal – dischaege bening dr     vagina, tdak berbau

* feses berbau, konsistensi sedikit lembek, warna normal

  1. b.        Rekording Data

-          Sapi jenis FH

-          Umur  676 hari

-          1 kali bunting à partus 4.12.2012 à distokia dengan kategori CD 2 (bantuan orang tanpa alat)

-          Produksi susu 11 litter à 11.12.2012

-          Riwayat penyakit à metritis setelah partus

4.2.  Pembahasan

Perbandingan pemeriksaan fisik dengan data fisiologi sapi

No  Sistem à PE  Data normal
1 Sistem sirkulasi à Pulsus = 100/menit 54-84 /menit
2 Thermoregulasi à Suhu =  38,6oC 38-39,3oC
3 Sistem Respirasi à Frek. = 21/menit 23/ menit

Kondisi tubuh atau perfoma sapi  lemah, kurus dalam kandang jepit.  Legok lapar (flack) nampak cekung besar hal ini terjadi karena sapi tidak mau makan. Ketika dilakukan aukultasi tidak terdengar gerak rumen yang menandangkan rumen kosong. Namun ketika dilakukan aulkutasi dengan cara menepuk bagian rumen terdengar suara ping/pung. Berdasarkan pemeriksaan klinis serta berdasarkan anamnesis maka diagnosa yang diambil adalah Left Displaced Abomasum (LDA).

Diagnosa tersebut didasarkan pada saat masa post partus, fetus keluar dari rongga abdomen sehingga rongga abdomen kosong. Disisi lain sapi diberi pakan konsentratt dalam jumlah besar untuk memacu peningkatan  produksi susu. Konsentrat yang dimakan tidak mengalami remastikasi setelah masuk rumen namun langsung masuk ke reticulum. Sehingga volume rumen kecil. rongga abdomen yang seharusnya terisi oleh rumen menjadi yang kosong kemudian abomasum yang bergeser dari kanan ke kiri mengisi rongga tersebut.

Kami tidak mendiagnosa metritis karena penyakit tersebut mulai sembuh terbukti dari leleran dari vaginal saat palpasi menunjukkan cairan bening dengan pus yang tidak berbau merupakan tanda bahwa sapi dalam keadaan imunitas yang baik sehingga alasan sapi tidak mau makan bukan karena penyakit metritis.

Terapi yang dapat diberikan yaitu pemberian infus ringer laktat sebagai penanganan terhadap dehidrasi. Selain itu juga dibeikan infus dextrose 5% dan biosalamin sebagai suportif agar sapi memiliki energi karena sapi tidak mau makan. Pencegahan yang mungkin bisa dilakukan yaitu pengaturan diet seimbang pakan hijauan dan konsentrat agar volume rumen bisa meningkat dan mencegah abomasums berpindah karena rongga abdomen kosong.

Pronogsa dari pasien sapi perah ini adalah infalse. Kondisi pulsus yang mencapai 100/menit menunjukkan ada peningkatan kerja jantung dimana fungsi jantung sudah dalam keadaan tidak baik. Terlebih lagi ketika diamati terjadi pulsasi pada vena jugularis yang menunjukkan kinerja jantung dalam menghisap darah kembali ke jantung mengalami peningkatan yang abnormal. Sehingga organ vital dari sapi tersebut dalam keadaan yang jelek sehingga tidak dapat dipertahankan. Selain itu sapi tidak mampu berdiri, sedangkan satu-satunya metode yang dapat digunakan untuk menangani masalah tersebut secara cepat dan tepat yaiu melakukan laparatomy. Proses lapatomy tidak dapat dilakukan dalam keadaan berdiri karena seluruh organ dalam kondisi tendensi kuat sehingga berpotensi keluar semua dari rongga abdomen yang akan menyusahkan proses laparatomy.

BAB V

PENUTUP

 5.1.  Kesimpulan

Left displaced abomasum (displasia abomasum) merupakan merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi pada sapi perah terutama di masa awal laktasi atau beberapa minggu post partus. LDA adalah berpindahnya atau bergesernya letak abomasum ke posisi abnormal. Penanganan yang dapat dilakukan dengan terapi simptomatik dan suportif dengan infus ringer laktat, dextros 5% dan biosalamin. Sedangkan terapi causatif dapat dilakukan laparatomy apabila prognosis hewan false. tetapi apabila prognosis hewan infalse sebaiknya dipotong saja selain untuk efisien pemeliharaan juga mengurangi penderita sapi.

 5.2.  Saran

Sebagai dokter hewan, harus lebih sering turun ke lapangan agar terampil dalam mendiagnosa gejala klinisi yang tampak maupun tidak tampak sehingga penyakit dapat ditangani lebih cepat dan prognosisnya lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Adrian Steiner. 2006. Surgical Treatment of the Left Displacement of the abomasum  An Update. Clinic für Ruminants Vetsuisse, Faculty of Bern, Switzerland.  in Word Buiatric Congress, Nice France.

David Weaver, Adrian Steiner and Guy St Jean. 2005. Bovine surgery and lameness. Blackwell Publishing Ltd, Oxford

Desrochers, A and Harvey, D. 2002. SURGERIES OF THE ABOMASUM. Faculté de Médecine Vétérinaire.Université de Montréal.

Podpecan, O. S. Hrusovar-podpecan. 2001.Treatment of Left Abomasal Displacement in Ogilvie TH. 1998. Large  Animal  Internal  Medicine  First  edition. USA: Williams & Willkins

Radostits, O.M.; Gay, C.C.; Blood, D.C.; Hinchcliff, K.W. 2006. Veterinary Medicine: A textbook of the diseases of cattle, horses, sheep, pigs and goats. 10th ed. St. Louis: W.B. Saunders

Dairy Cattle by Rolling and Percutaneous Paramedian Abomasopexy using  Toggle Pin Fixators of Cornel Wood. Slov.Vet.Res 2001:38 (4):327-32

Subronto. 2003. Ilmu  Penyakit Ternak  1 (Mamalia). Gadjah Mada University Press : Yogjakarta

0

Nama saya ada di Pemenang UB Blogmetrics Award 2012

Ngerti kan maksud gambar diatas. Horeee :) !!!. Alhamdulillah saya masuk kedalam 15 pemenang hiburan UB Blogmetrics Award 2012. Walau hiburan ya harus bersyukur soalnya termasuk 17 mahasiswa dari 10758 orang. Kalian semua harus bilang WOW sama joget ngebor karena saya salah satunya ata 0,0092 sekian persen. Tetapi alhamdulillah masuk.

Sebenarnya sih ngiri sama pemenang 1,2,3 tiga hadiahnya laptop sama hp sih dan saya dapat power bank. power bank?? saat search digoogle semacam charger portable gitu, kalo dinilai uang sih emang gak seberapa tapi dari pada nerima uang pasti habis gak ada kenang-kenangannya. waktu liat blog pemenang 1,2,3 sebenarnya sih sama aja kayak punya saya, cuma kalo yang pemenang 1 dan 2 emang didedikasikan untuk keilmuannya, tapi yang ketiga ternyata berisi cerita atau curhatan. Saya pikir dulu blog ini didasarkan atas kemanfaatannya, makanya diblog saya UB  emang cuma berisi tentang materi kuliah, sedangkan tentang curhatan ada sendiri disini. Lain kali aku isi curhatan sekalian deh biar jadi pemenang. Di anual-report blog pribadi juga tiba-tiba ada laporan bahwa  yang melakukan kunjungan ke blog saya ada 27 negara ada amerika dan eropa (manggut-manggut). May be yes may be no, blog pribadi saya masih pakai bahasa Indonesia sih :( .

Sebenarnya kebiasaan ngeblog sudah saya lakukan sejak awal kuliah, apalagi ketika disemester 3 saya jadi admin blog kolegium, saya jadi kebiasaan menulis berita maupun cerita, sehingga yang ada diblog ini merupakan salinan dari tugas kuliah saya dan teman-teman di PKH UB. Tak terasa akhirnya setelah hampir tiga tahun ngeblog dapat apresiasi yang WOW BANGET.  Inspirasi menulis sejak SMP, secara anak jurnalistik. Tapi inspirasi ngeblog bermula dari Dika yang jadi buku kemudian anak HC seperti Suci karena pakai bahasa inggris, Dian, Fitri dan lain-lain. Tidak terasa semester depan tinggal ujian PKL dan SKRIPSI. eh malah kemana-mana. SO I EXCITED SO MUCH BOUT THIS.