DIAGNOSA KLINIK : Left Displaced Abomasum

MAKALAH

PRAKTIKUM DIAGNOSA KLINIK

DI PT. GREENFIELD PADA 17 DESEMBER 2012

 KASUS

LEFT DISPLACED ABOMASUM

Disusun Oleh

Inggil Pusvita R                         0911310046
M. Masyhuri D.S                        0911310052
Pascara Fajar L.                        0911310054
Prima Santi                               0911310056
Putrika Suryandari                    0911310057

PDH-A-2009

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012


BAB I

PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang

Industri sapi perah setiap tahunnya terus meningkat sesuai dengan peningkatan permintaan susu dalam negeri maupun luar negeri. Untuk menjaga produksi susu makan sapi perah harus terus dalam keadaan sehat agar dapat bunting dan menghasilkan susu setelah partus. Dalam industri ini yang menjadi perhatian khusus adalah produkvitas induk dalam menghasilkan susu, sedangkan pedet merupakan bonus. Sehingga keadaan induk, kesehatannya, nafsu makan dan lain-lain menjadi fokus perhatian agar produksi susu tetap bagus.

Sapi perah setelah partus memiliki resiko tinggi mengalami gangguan infeksius maupun metabolit yang dapat berpeluang menurunkan produktivitas sapi perah. Gangguan pada saat partus antara lain dystocia, paralysis, prolapsed uterus, retained placenta, metritis, dan milk fever. Sedangkan ketika awal laktasi dapat terjadi displaced abomasum, ketosis, rumen acidosis, abomasal ulcers, dan fatty liver.

Begitu banyak kemungkinan yang dapat mengintai sapi perah oleh karena itu dibutuhkan dokter hewan yang dapat menghandle keadaan sapi yang kemungkinan mengalami gangguan dan berpotensi menganggu proses produksi susu. Sehingga sebagai calon dokter hewan harus memiliki skill dalam menangani hewan besar. Oleh karena itu kami melakukan praktikum di PT. Greenfield pada tanggal 17 Desember 2012 untuk memberikan wawasan terhadap profesi dokter hewan besar khususnya pada sapi perah.

 1.2.  Tujuan

-          Untuk mengetahui metode penerimaan pasien

-          Untuk mengetahui metode pemeriksaan fisik dan anamessa pasien

-          Untuk mengetahui metode diagnosa dan terapi penyakit pasien

 1.3.  Manfaat

Agar mahasiswa calon dokter hewan dapat memiliki skill dalam menerima pasien, dapat melakukan pemeriksaan fisik dan anamessa terhadap pasien serta mampu mendiagnosa dan terapi penyakit pasien.

 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.  Etiologi

Left displaced abomasum (displasia abomasum) merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi pada sapi perah terutama di masa awal laktasi atau beberapa minggu post partus. Displasia abomasum atau yang sering disebut tibalik kadut (sunda) atau juga lambung geser adalah berpindahnya atau bergesernya letak abomasum ke posisi abnormal. Kejadian displasia abomasum biasanya diawali dengan adanya atoni abomasum dan timbunan gas sehingga abomasum mudah sekali bergeser. Pergeseran letak abomasum bisa ke bagian perut sebelah kiri bisa juga bergeser ke sebelah kanan dan atau disertai dengan perputaran.

Letak abomasum secara normal adalah di bagian ventral rongga perut sebelah kanan, diantara rusuk ke 7-11.

Penyebab LDA bermacam-macam, tetapi penyebab utamanya ialah asupan pakan sesudah dan sebelum sapi partus. Periode transisi yang terjadi 2 minggu sebelum beranak hingga 2-4 minggu pascamelahirkan adalah periode risiko utama dalam etiologi LDA. Jumlah pemberian konsentrat yang berlebihan selama periode prepartum meningkatkan risiko displasia abomasum kiri. Distensi gas dan hypomotility dari abomasum mungkin dikarenakan tingkat konsentrat pada pakan yang tinggi untuk sapi perah pada akhir kehamilan (Radostits, 2006).

Akhir Kebuntingan. Rumen yang terdesak oleh perluasan uterus dan abomasums di dorong maju dan ke kiri bawah rumen. Setelah partus, rumen kembali dan menjebak abomasums terutma jika atoni karena pemberian konsentrat yang berlebihan (Radostits, 2006). Hypocalcemia biasanya terjadi pada sapi perah dewasa saat kelahiran. Level Ca dalam darah berpengaruh pada motilitas abomasum. Motilitas normal memerlukan 1,2 mmol Ca/ L dan di bawah itu akan menyebabkan motilitas abomasums hilang. Sapi yang mengalami hypocalcemia mempunyai resiko 4.8 kali lebih besar untuk mengalami LDA (Radostits, 2006). LDA paling sering ditemukan pada sapi perah produksi tinggi, tetapi juga dapat dijumpai pada sapi potong, (Timothy, 1999).

2.2.  Penyebab

Faktor resiko terjadinya displasia abomasum:

  1. Faktor manajemen dan pakan

Perbandingan antara konsentrat dengan rumput berhubungan dengan kejadian Displasia abomasum, semakin tinggi pemberian konsentat maka makin tinggi pula kemungkinan terjadinya Displasia abomasum.

  1. Pengalaman dilapangan memang terbukti dari kasus displasia yang ditemui rata-rata terjadi pada sapi-sapi yang di beri konsentrat berlebih dengan pemberian rumput yang minimal karena peternak ingin mendapatkan hasil susu yang maksimal. Kejadian DA ditemukan juga pada pedet yang mulai di beri konsentrat. Pedet tersebut diberikan konsentrat yang berlebih dan pernah terjadi juga pada kandang kelompok sehingga sebagian pedet lebih dominan dan memakan konsentrat lebih banyak.
  2. Kelainan pada masa Periparturien (sekitar kelahiran)

Beberapa kelainan atau gangguan pada masa periparturien yang beresiko menyebabkan DA meliputi : distokia,kelahiran kembar, metritis, ketosis atau milk fever. Gangguan tersebut kebanyakan menyebabkan kekurangan kadar Ca darah atau akibat adanya endotoksin sehingga mengakibatkan terjadinga atoni abomasum & akumulasi gas yang mengakibatkan terjadinya DA.

  1. Jenis dan umur

Jenis sapi FH (Frisian Holstein) cenderung lebih mudah mengalami Displasia abomasum. Kejadian Displasia abomasum lebih sering terjadi pada sapi dewasa yang habis lahir dan pada pedet yang mulai disapih.

2.3.  Gejala klinis

Sapi dengan LDA nafsu makannya turun, terjadi penurunan curah tinja, frekuensi kontraksi rumen berkurang, dan hypogalactia. Perut mungkin terlihat sedikit buncit di kiri, tulang rusuk akan bermunculan, tetapi perut cekung di fosa paralumbar. Denyut nadi sedikit meningkat (85 sampai 90 denyut / menit). Ketonuria dan aseton pada nafas biasanya hadir. Suara denting (tinkling sound) terdengar pada auskultasi rumen dalam fosa paralumbar kiri. Ping zone dapat ditemukan di mana saja dari sepertiga bagian bawah perut di ruang intercostal 8 sampai fosa paralumbar. Pemeriksa harus dilakukan dengan mengetuk sepanjang garis dari tuber coxae ke siku. Luas ping zone sering melingkar dan umumnya tidak melampaui tulang rusuk terakhir. Pada abomasal distensi ekstrim abomasum dapat terlihat dalam fosa paralumbar kiri. Dalam kebanyakan kasus rumen tidak akan ditekan erat ke dinding abdominal saat diraba melalui fosa paralumbar kiri. Tinja mungkin lebih kering dari normal atau sedikit dan encer (Guard, 1997).

2.4.  Patogenesis

Pada sapi yang tidak bunting, abomasums menempati bagian ventral abdomen dengan pylorus memperluas ke sisi kanan caudal dari omasum. Pada kebuntingan, uterus membesar menempati sebagian besar cavum abdomen. Uterus mulai ke bagian bawah caudal dari rumen sehingga menurunkan volume rumen pada akir kebuntingan. Hal tersebut mendesak abomasums ke depan dan agak k samping kiri abdomen, meskipun pylorus terus memanjang melintasi abdomen ke bagian kanan. Setelah kelahiran, uterus memendek ke belakang menuju pelvic inlet yang dalam keadaan normal memungkinkan abomasums untuk kembali normal (Radostits, 2006).

Selama LDA, akir pyloric dari abomasums sepenuhnya berada di bawah rumen sisi kiri. Isi rumen relatif berkurang dan atoni abomasums memungkinkan abomasums untuk membesar (menggembung) dan berpindah ke sisi kiri abdomen.

Dalam abomasums normal, produksi gas seimbang dengan pengeluarannya secara oral atau aboral. Ketika motilitas abomasums menurun (tidak memadai), akumulasi gas terjadi. Kelebihan gas tersebut berasal dari rumen yang berhubungan dengan peningkatan pakan konsentrat dan peningkatan konsentrasi volatile fatty acid (VFA) dalam abomasums. Tingginya biji-bijian dan rendahnya hijauan dapat menyebabkan VFA ada dalam abomasums dengan berkurangnya kedalaman ruminal mat (raft) (Radostits, 2006).

Rumen raft menangkap partikel biji-bijian kemudian difermentasi di bagian atas cairan rumen. VFA diproduksi dibagian atas cair rumen yang kemudian diserap diserap rumen dengan sedikit VFA  yang masuk k abomasums. Pada sapi dengan rumen raft yang tidak memadai (pakan hijauan rendah), partikel biji-bijian jatuh ke bagian ventral rumen dan reticulum kemudian difermentasi atau langsung diteruskan ke abomasums. VFA diproduksi di rumen ventral sehingga dapat melewati orificium rumenoreticuler dan masuk k abomasums sebelum rumen mengabsorbsinya (Radostits, 2006).

Ketika sapi diberi pakan tinggi biji-bijian akan menyebabkan berkurangnya regurgitasi cud dan mastikasi, serta penurunan produksi saliva yang berpengaruh pada buffering rumen (Radostits, 2006).

Pembentukan ruminal raft dari partikel jerami berfungsi untuk mempertahankan fermentasi subtract pakan dalam rumen. Oleh karena itu sebagian besar produksi gas terjadi dalam rumen. Ingesta perlahan-lahan masuk ke glandular abomasums melalui kontraksi rumen. Dalam glandular digesti, abomasums mensekresi sejumlah besar HCl, yang kemudian dinetralkan oleh HCO3-. Sekresi HCO3- terjadi di duodenum dan distimulus oleh aliran bolus makanan. HCl dan KCl direabsorsi dalam saluran pencernaan dalam jumlah rendah, untuk menjaga keseimbangan asam basa (Murphy, 2007).

Dalam dysplasia abomasums, pengeluran abomasal secara fungsional terhalang lipatannya sendiri pada rumen dan terhimpit di dorsal antara rumen dengan dinding abdomen kiri (LDA), atau rumen dengan viscera abdominal kanan (RDA). Obstruksi tersebut membuat hydrogen, potassium, dan klorida yang terkandung dalam cairan lambung yang secara fungsional reabsorpsinya menghilang. Penurunan nafsu makan juga berperan besar dalam hypokalemia pada ruminant karena penurunan asupan ion (Murphy, 2007).

Tanpa adanya aliran ingesta, duodenum tidak mensekresikan HCO3- pankreatik, membuat peningkatan HCO3- dan produksi alkaliosis metabolic alkalosis. Dalam ginjal, HCO3- difiltrasi oleh glomerulus dan direabsorbsi pada tubulus proximal terlepas dari konsentrasi HCO3- dalam plasma (Murphy, 2007).

Dalam kasus alkalosis metabolic hypochloremik, aciduria mungkin terjadi. Dalam merespon dehidrasi akibat hipovolemia, aldesteron merangsang ginjal untuk mempertahankan Na+ dan air. Cl- adalah anion yang diserap bersama dengan Na. namun karena penyerapan Cl- dalam dysplasia abomasums tidak tersedia untuk penyerapan Na. oleh karena itu HCO3- menggantika untuk diserap dengan Na+, sehingga terjadi penurunan pH urin. Hipokalemia menyebabkan pertukaran ion H+ tidak ada, sehingga ditukar dengan Na+ menyebabkan urin asam (Murphy, 2007).

2.5.  Diagnosis

Berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan fisik, terutama dengan auskultasi dan perkusi dinding perut terdengar adanya suara khas yang nyaring yang sering disebut tinkling sound atau ping sound. Diagnosis juga dapat dilakukan dengan pengambilan dan pengukuran pH cairan Abomasum. Pada sapi yang mengalami Displasia Abomasum biasanya mempunyai pH cairan abomasum kurang dari 2 (Soebronto, 2003).

2.6.  Diferensial diagnosa

Differensial diagnosa pada LDA antara lain dilihat dari bunyi “Ping”

2.7.  Penanganan

Ada beberapa cara terapi untuk displasia abomasum dengan tingkat keberhasilan dan resiko yang berbeda-beda. Terapi yang dapat dilakukan adalah:

  1. Operasi.

Merupakan terapi terbaik. Banyak macam cara atau metode operasi yang digunakan, misalnya : Right paramedian abomasopexy; right flank omentopexy dan left flank abomasopexy.

Teknik Operasi Right Flank Omentopexy pd kasus LDA

-          Cukur rambut di daerah flank kanan (di sekitar tempat incisi) hingga bersih

-          Lakukan anastesi  lokal atau bisa juga dengan anastesi regional (metode L terbalik)

-          Desinfeksi kulit disekitar tempat incisimenggunakan alcohol dan povidon secara bergantian dan dilakukan melingkar dari tengah ke samping luar, pasang kain penutup operasi

-          Incisi  daerah flank kanan sekitar 15-20 cm hingga memotong kulit, muskulus dan peritoneum

-          Eksplorasi rongga abdomen dengan tangan kiri, identifikasi  posisi abomasums kemudian lakukan pengeluaran gas dengan meggunakan jarum yang dihubungkan dengan selang (hati-hati saat memegang ujung jarum, jangan sampai menusuk organ lain).

-          Ujung selang masukkan kedalam air untuk mendeteksi adanya gas yang keluar. Lakukan pengeluaran gas semaksimal mungkin.

-          Setelah gas dikeluarkan, jarum di tarik keluar, Lakukan reposisi abomasum

-          Cari pylorus dan omentum, pilih bagian omentum yang tebal kira-kira 5-7 cm dorsal dan caudal dari pylorus kemudian jahitkan dengan dinding abdomen. Buatlah jahitan pada dua titik. Apabila kurang yakin, lakukan penjahitan pada bagian pylorus (usahakan hanya menusuk pada bagian muskularis saja, dan gunakan benang nylon monofilament)

-          Masukkan cairan fisiologis+antibiotic kedalam rongga perut untuk menjaga kelembaban organ  dan mencegah infeksi

-          Lakukan penutupan dinding perut (peritoneum-muskulus-kulit)

-          Terapi dengan injeksi antibiotic selama 3 hari.

Right flank omentopexy

Kelebihan: Hewan masih dalam keadaan berdiri. Dapat dipakai untuk kasus LDA, RDA maupun volvulus. Manipulasi terhadap abomasum minimal. Mudah untuk mengidentifikasi  jika terjadi volvulus. Kelemahan: Sulit untuk melakukan reposisi abomasum dan fiksasi terutama pada kasus LDA. Abomasum sulit untuk di lihat. Resiko terjadinya kontaminasi saat melakukan pengeluaran gas. Kemungkinan untuk kambuh kembali jika lokasi fiksasi terlalu caudal atau terlalu dorsal dari pylorus. Point Penting: Handle omentum dengan hati-hati. Tempat fiksasi sebaiknya 5-7 cm caudal dan dorsal dari pylorus.

 v Left Flank Abomasopexy

Kelebihan: Hewan masih dalam keadaan berdiri. Digunakan untuk kasus LDA. Merupakan cara terbaik untuk penanganan kasus LDA pada masa kebuntingan tua (8-9 bln). Inspeksi abomasum dan palpasi reticulum lebih mudah dibandingkan dengan teknik Right flank omentopexy. Kelemahan: Abomasums harus berada dalam posisi yang lebih atas. Operator harus dibantu atau dipandu dalam melakukan penusukan jarum ke dinding  ventral abdomen. Membutuihkan lengan yang panjang. Chronic fistula dapat terjadi jika abomasum sobek dari jahitan. Resiko tertusuk atau sobeknya vena mammaria. Point penting: Teknik yang sangat dianjurkan untuk kebuntingan tua. Jika blum terbiasa tandai terlebih dahulu bagian dari tempat keluarnya jarum. Sebelum melakukan fiksasi ke ventral abdomen pastikan tidak  ada usus yang ikut terikat.

 v  Paramedian Abomasopexy

Kelebihan: Perlekatan antara abomasums dan dinding abdomen sangat kuat. Fiksasi  abomasum pada posisi normal. Inspeksi abomasums sangat jelas. Kelemahan: Restrain hewan sangat sulit jika tidak tersedia peralatan yang memadai. Kontra indikasi untuk hewan yang mengalami pneumonia atau dalam keadaan shock.  Resiko terjadinya infeksi luka bekas incisi. Point penting: jahitan jangan sampai melewati mukosa dari abomasums. Benang monofilament harus digunakan untuk menutup dinding abdomen.

  1. Laparoskopi dan Fiksasi

Merupakan cara pengikatan abomasum dengan dinding abdomen dari luar dengan membuat lubang kecil menggunakan alat seperti trokar dan benang yang deberi penahan. Cara ini memang meminimalkan luka tetapi membutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang lebih. Ada berbagai metode laparoskopi dan fiksasi, antara lain: percutaneous toggle-pin fixation; two-step laparoscopic reposition and fixation; one-step laparoscopic reposition and fixation pada posisi hewan berdiri dan one-step laparoscopic fixation pada posisi dorsal recumbency.

  1. Pemutaran (Rolling technique)

Merupakan cara klasik. Hewan di ikat kakinya kemudian di telentangkan kemudian digoyang-goyangkan kekiri ke kanan. Cara ini memang mudah dilakukan tapi kemungkinan kesembuhan dengan teknik ini kecil. Kelebihan : Murah, Tanpa operasi. Kelemahan : Tingkat keberhasilan rendah. Kemungkinan untuk kambuh lagi besar. Point penting: Berbahaya  apalagi untuk hewan bunting Contoh penanganan kasus LDA dengan rolling technique :

Gambar 4. Teknik pemutaran kasus LDA

  1.  Puasa dan exercise (pengalaman di lapangan)

Merupakan cara yang sering kami lakukan dilapangan apabila tidak mungkin dilakukan operasi. Cara ini dilakukan karena kebanyakan kejadian Displasia Abomasum yang ditemui akibat kesalahan manajemen dan pemberian pakan. Terapi ini dilakukan dengan menghentikan total pemberian konsentrat dan membiarkan sapi untuk berjalan2 di tempat yang lapang (dipedok = sunda) untuk beberapa hari. Tujuan terapi ini adalah mencegah bertambahnya akumulasi gas dan mengharapkan pergeseran abomasum ke posisi normal. Tingkat keberhasilan dengan cara ini memang kecil tapi sampai sejauh ini masih menjadi pilihan kami karena masih tingginya ketakutan peternak dengan operasi. Apabila dengan terapi ini masih belum berhasil, masih ada satu terapi lagi, yaitu menyarankan untuk dibawa ke RPH atau jagal.

  1. Toggle Fixation

Metode ini memiliki kelebihan : Cepat dan Murah, Luka minimal, tanpa pembedahan dinding abdomen. Kelemahan : Berbahaya jika salah tusuk. Point penting : Sangat berbahaya untuk kasus RDA apalagi disertai volvulus

2.8 Pencegahan

Manajemen diet baik akan mengurangi insiden LDA. Menghindari perubahan mendadak dalam ransum dan termasuk memberi sumber serat yang memadai dengan akan meningkatkan volume rumen.

 BAB III

METODOLOGI

3.1.  Tanggal dan Tempat

Praktek Diagnosa Klinik dilaksanakan di PT. Greenfield, Gunung Kawi, Malang pada hari Senin tanggal 17 Desember 2012 dari pukul 15.00-17.00 WIB.

 

3.2.  Alat dan Bahan

Adapun alat untuk melakukan pemeriksaan fisik menggunakan termometer dan stetoskop. Untuk mendiagnosa penyakit atau gangguan pada pasien dibutuhkan anamessa dan data riwayat hewan. Terapi penyakit pasien disesuaikan dengan hasil dari diagnosa.

 3.3.  Langkah Kerja

Pasien

-          Dilakukan pemeriksaan fisik meliputi sistem sirkulasi dengan mengitung detak jantung dan pulsu pada arteri, sistem respirasi dengan menghitung gerak paru-paru dan in-ex udara pada hidung, mengamati sistem reproduksi dan sistem termoregulasi menghitung temperature dengan termometer.-          Dilakukan pengamatan perubahan perilaku, nafsu makan, urinasi dan struktur, warna, bau defekasi sapi

-          Dilakukan anamesa pada penjaga kandang, melihat recording data riwayat hidup sapi,

-          Didiagnosa dan terapi penyakit

Hasil

 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.  Hasil

  1. a.         Pemeriksaan Fisik

-       Thermoregulasi : 38,6oC

-       Sistem respirasi :

Perhitungan melalui hembusan nafas : 21

Perhitungan gerak paru2 : normal

-       Sistem sirkulasi :

Cardiac Output (sistol,diastol): 100/menit

Pulsus : 100/menit

-       Performance : Lemas,, kurus,, legok lapar cekung

-       Sistem pencernaan

* Tidak ada gerak rumen – auskultasi suara       pung

-       Sistem reproduksi

* palpasi rectal – dischaege bening dr     vagina, tdak berbau

* feses berbau, konsistensi sedikit lembek, warna normal

  1. b.        Rekording Data

-          Sapi jenis FH

-          Umur  676 hari

-          1 kali bunting à partus 4.12.2012 à distokia dengan kategori CD 2 (bantuan orang tanpa alat)

-          Produksi susu 11 litter à 11.12.2012

-          Riwayat penyakit à metritis setelah partus

4.2.  Pembahasan

Perbandingan pemeriksaan fisik dengan data fisiologi sapi

No  Sistem à PE  Data normal
1 Sistem sirkulasi à Pulsus = 100/menit 54-84 /menit
2 Thermoregulasi à Suhu =  38,6oC 38-39,3oC
3 Sistem Respirasi à Frek. = 21/menit 23/ menit

Kondisi tubuh atau perfoma sapi  lemah, kurus dalam kandang jepit.  Legok lapar (flack) nampak cekung besar hal ini terjadi karena sapi tidak mau makan. Ketika dilakukan aukultasi tidak terdengar gerak rumen yang menandangkan rumen kosong. Namun ketika dilakukan aulkutasi dengan cara menepuk bagian rumen terdengar suara ping/pung. Berdasarkan pemeriksaan klinis serta berdasarkan anamnesis maka diagnosa yang diambil adalah Left Displaced Abomasum (LDA).

Diagnosa tersebut didasarkan pada saat masa post partus, fetus keluar dari rongga abdomen sehingga rongga abdomen kosong. Disisi lain sapi diberi pakan konsentratt dalam jumlah besar untuk memacu peningkatan  produksi susu. Konsentrat yang dimakan tidak mengalami remastikasi setelah masuk rumen namun langsung masuk ke reticulum. Sehingga volume rumen kecil. rongga abdomen yang seharusnya terisi oleh rumen menjadi yang kosong kemudian abomasum yang bergeser dari kanan ke kiri mengisi rongga tersebut.

Kami tidak mendiagnosa metritis karena penyakit tersebut mulai sembuh terbukti dari leleran dari vaginal saat palpasi menunjukkan cairan bening dengan pus yang tidak berbau merupakan tanda bahwa sapi dalam keadaan imunitas yang baik sehingga alasan sapi tidak mau makan bukan karena penyakit metritis.

Terapi yang dapat diberikan yaitu pemberian infus ringer laktat sebagai penanganan terhadap dehidrasi. Selain itu juga dibeikan infus dextrose 5% dan biosalamin sebagai suportif agar sapi memiliki energi karena sapi tidak mau makan. Pencegahan yang mungkin bisa dilakukan yaitu pengaturan diet seimbang pakan hijauan dan konsentrat agar volume rumen bisa meningkat dan mencegah abomasums berpindah karena rongga abdomen kosong.

Pronogsa dari pasien sapi perah ini adalah infalse. Kondisi pulsus yang mencapai 100/menit menunjukkan ada peningkatan kerja jantung dimana fungsi jantung sudah dalam keadaan tidak baik. Terlebih lagi ketika diamati terjadi pulsasi pada vena jugularis yang menunjukkan kinerja jantung dalam menghisap darah kembali ke jantung mengalami peningkatan yang abnormal. Sehingga organ vital dari sapi tersebut dalam keadaan yang jelek sehingga tidak dapat dipertahankan. Selain itu sapi tidak mampu berdiri, sedangkan satu-satunya metode yang dapat digunakan untuk menangani masalah tersebut secara cepat dan tepat yaiu melakukan laparatomy. Proses lapatomy tidak dapat dilakukan dalam keadaan berdiri karena seluruh organ dalam kondisi tendensi kuat sehingga berpotensi keluar semua dari rongga abdomen yang akan menyusahkan proses laparatomy.

BAB V

PENUTUP

 5.1.  Kesimpulan

Left displaced abomasum (displasia abomasum) merupakan merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi pada sapi perah terutama di masa awal laktasi atau beberapa minggu post partus. LDA adalah berpindahnya atau bergesernya letak abomasum ke posisi abnormal. Penanganan yang dapat dilakukan dengan terapi simptomatik dan suportif dengan infus ringer laktat, dextros 5% dan biosalamin. Sedangkan terapi causatif dapat dilakukan laparatomy apabila prognosis hewan false. tetapi apabila prognosis hewan infalse sebaiknya dipotong saja selain untuk efisien pemeliharaan juga mengurangi penderita sapi.

 5.2.  Saran

Sebagai dokter hewan, harus lebih sering turun ke lapangan agar terampil dalam mendiagnosa gejala klinisi yang tampak maupun tidak tampak sehingga penyakit dapat ditangani lebih cepat dan prognosisnya lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Adrian Steiner. 2006. Surgical Treatment of the Left Displacement of the abomasum  An Update. Clinic für Ruminants Vetsuisse, Faculty of Bern, Switzerland.  in Word Buiatric Congress, Nice France.

David Weaver, Adrian Steiner and Guy St Jean. 2005. Bovine surgery and lameness. Blackwell Publishing Ltd, Oxford

Desrochers, A and Harvey, D. 2002. SURGERIES OF THE ABOMASUM. Faculté de Médecine Vétérinaire.Université de Montréal.

Podpecan, O. S. Hrusovar-podpecan. 2001.Treatment of Left Abomasal Displacement in Ogilvie TH. 1998. Large  Animal  Internal  Medicine  First  edition. USA: Williams & Willkins

Radostits, O.M.; Gay, C.C.; Blood, D.C.; Hinchcliff, K.W. 2006. Veterinary Medicine: A textbook of the diseases of cattle, horses, sheep, pigs and goats. 10th ed. St. Louis: W.B. Saunders

Dairy Cattle by Rolling and Percutaneous Paramedian Abomasopexy using  Toggle Pin Fixators of Cornel Wood. Slov.Vet.Res 2001:38 (4):327-32

Subronto. 2003. Ilmu  Penyakit Ternak  1 (Mamalia). Gadjah Mada University Press : Yogjakarta

Leave a Reply