FARMAKOTERAPI : Local Anesthesia

TUGAS STRUKTUR

FARMAKOTERAPI VETERINER

 

Local Anesthesia

 

 

Disusun oleh :

 

Fitri Amalia Riska     0911310012
Hendra Legatawa      0911310023

Lelyta Damayanti      0911310037

Muh. Masyhuri D.S   0911310052

Prima Santi                 0911310056

Putrika Suryandari   0911310057

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2011


BAB I

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Anestesi secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846. Obat untuk menghilangkan nyeri terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu analgetik dan anestesi. Analgetik adalah obat pereda nyeri tanpa disertai hilangnya perasaan secara total. seseorang yang mengonsumsi analgetik tetap berada dalam keadaan sadar. Analgetik tidak selalu menghilangkan seluruh rasa nyeri, tetapi selalu meringankan rasa nyeri.

Beberapa tipe anestesi yaitu general anestesi yaitu hilangnya kesadaran total, local anastesi yaitu hilangnya rasa pada daerah tertentu yang diinginkan (pada sebagian kecil daerah tubuh) dan regional anestesi yaitu hilangnya rasa pada bagian yang lebih luas dari tubuh oleh blokade selektif pada jaringan spinal atau saraf yang berhubungan dengannya.

Anestesi lokal adalah salah satu jenis anestesi yang hanya melumpuhkan sebagian tubuh manusia dan tanpa menyebabkan manusia kehilangan kesadaran. Obat bius jenis ini bila digunakan dalam operasi pembedahan, maka setelah selesai operasi tidak membuat lama waktu penyembuhan operasi.

 

Tujuan

  1. Untuk mengetahui penggunaan anestetik yang digunakan untuk local aneastesi drai jurnal yang dibahas.

 

Manfaat

  1. Agar memahami penggunaan anestetik yang digunakan untuk local aneastesi drai jurnal yang dibahas.

BAB II

PEMBAHASAN

 

Pada tugas kali ini kelompok kami menggunakan jurnal berjudul Action of Ropivacaine as a Surface Anaesthetic on the Cornea of Rabbits. Adapun riview jurnal tersebut adalah sebagai berikut :

 

Pengenalan

Anestesi topikal atau anastesi pada membran mukosa hidung, mata, tenggorokan, cabang tracheobronchial, esofagus dan saluran urogenital dapat diproduksi secara langsung dengan aplikasi campuran garam pada banyak lokal anaestesi atau lokal anestesi bentuk suspensi. Lokal anestesi yang biasanya digunakan yaitu tetracaine (2%), lidocaine (2-10%) dan cocaine (1-4%). Lokal anestesi akan diserap dengan cepat ke dalam sirkulasi diikuti efek topikal pada membran mukosa atau kulit.

Toksisitas jantung terhadap stimulasi bupivacaine menyebabkan efek toxin anestesi lokal berkurang dan tahan lama. Ini merupakan suatu bupivacaine lebih baru congener yang mana lebih baik daripada bupivacaine untuk epidural anesthesia oleh memiliki potensi mengurangi blok motor. Baru-baru ini telah disetujui penggunaanya untuk orang dewasa. Anestesi ini efek toxinnya berkurang ke sistem saraf pusat dan jantung dan mengganggu sedikit dengan fungsi motor dari bupivakain. S-enansiomer dipilih karena memiliki toksisitas lebih rendah daripada r-isomer. Ini blok aβ murah c fibries (terlibat dalam transmisi nyeri) lebih lengkap daripada aβ fibries yang mengontrol fungsi motorik. Meskipun konsentrasi efektif equi c dari ropivacaine yang tinggi daripada bupivakain, pemisahan antara blok sensorik dan motorik telah diperoleh tingkat yang lebih besar dengan epidural ropivacaine.

Ropivacaine adalah s-enansiomer dari 1-propil-2 ‘, 6’pipecoloxylidide merupakan anestesi lokal long-acting baru dari jenis amida. Mengandung pusat kiral tunggal dan digunakan sebagai murni s-enantioner. Di racemisasi vivo tidak terjadi setelah distribusi sistemik obat. Sifat fisiokimia yang mencakup-berat 274,4 (dasar), dan log 8.1 pk d (ph 7,4 n-oktanol vs buffer) 2.15. Intervena ropivacaine menunjukkan farmakokinetik obat liner dan hampir sepenuhnya dimetabolisme, dengan kurang dari 1% dari dosis diekskresikan tanpa perubahan.

Beberapa studi telah dilakukan untuk mengungkapkan lingkup ropivacaine untuk digunakan dalam berbagai penyakit dan kondisi. Infiltrasi split situs cangkokan kulit donor dengan ropivacaine meningkatkan nyeri pasca operasi selama 48 jam. Ini adalah metode yang aman dan efisien untuk meningkatkan kenyamanan di samping ganti oklusif standar. Luas permukaan dural mempengaruhi penyebaran anestesi epidural dengan volume lemak ropivacaine dan posterior mempengaruhi durasi anestesi epidural dengan ropivacaine. Anestesi topikal dengan ropivacaine aman dan efektif dalam operasi pterygium. Ropivacaine terbukti efektif untuk menghilangkan nyeri setelah perbaikan hernia di blok ilioinguinal yang menyertai anestesi umum.

Ropivacaine memiliki khasiat mirip dengan lidokain, dengan onset sedikit lebih panjang dan durasi blokade motor. Di samping itu, ropivacaine (0,75%) menginduksi tekanan intraokular yang lebih rendah dan nyeri kurang pada injeksi daripada lidokain (2%) bila digunakan dalam anestesi peribulbar untuk operasi katarak. Dibandingkan dengan lidokain, anestesi regional intervenous dengan ropivacaine tampaknya sebanding tapi sisa anestesi tahan lama. Kemampuan ropivacaine topikal lebih baik walaupun dengan dosis minimal daripada lidokain topikal dalam keberhasilan dan keselamatan dalam operasi katarak. analgesia yang cukup dan tahan lama tanpa perlu dilakukan anestesi intracameral tambahan dalam kebanyakan kasus.

Ropivacaine 0,5% dengan 1:200,00 epinephrines setara dengan 0,5% bupivakain dengan 1:200.000 epinephrines dalam tindakan farmakologis. Ropivacaine tanpa epinefrin untuk anestesi pulpa durasi berkurang. Ropivacaine dengan epinefrin memiliki potensi untuk menggantikan bupivakain dengan epinefrin dalam praktek gigi klinis karena potensi penurunan untuk toksisitas jantung dan sistem saraf pusat.

Namun, aksi ropivacaine sebagai anestesi permukaan belum diteliti sejauh ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki peran ropivacaine sebagai anestesi permukaan pada kornea kelinci.

 

Material dan Metode

Studi ini dilaksanakan pada 5/2/2010 sd 24/06/2010 selama 4 bulan di Mamata Medical College (MMC). Digunakan 20 kelinci (tergantung sexnya) kelinci ini diperoleh dari house of research milik MMC yang kondisinya dijaga mulai pada temperatur 22-26oC dan kelembapan antara 30-70%. Kelinci add libitum air dan makanannya (disediakan dalam bentuk pellet). Semua percobaan yang dilakukan dengan protokol dan ditinjau dengan menggunakan kode etik untuk hewan dan diawasi langsung oleh Commite of the Purpose of Control and Supervision of Experiment on Animal (CPCSEA).

Penghitungan dosis larutan standard ropivacaine. Di pasaran biasanya tersedia larutan standart yang berisi 70% ropivacaine dalam 1 mL dalam sediaan 7.5 mgm/L.

1 milliter berisi 7.5mg atau 7500μg ropivacaine.

1 milliter sedian berisi 14 drop

Sedian/drop = 7500/14 = 535.71 μg

2 drop berisi 535,71×2 = 1071.42 μg

Pemberian larutan uji pada pada hewan coba. Kelompok hewan dipisah menjadi 2 kelompok dengan treatment yang berbeda yaitu kelompok 1 dan kelompok 2. Bulu mata kelinci dijepit dengan penjepit untuk menghindari reflek kornea ketika dilakukan inisiasi dengan memberikan perlakuan berupa sentuhan. Percobaan dilakukan dengan menggunakan mata kanan sedangkan mata kiri sebagai kontrol. Pada kelompok 1 diberi larutan ropivacaine 1 drop sedangkan pada kelompok 2 diberi larutan 2 drop.

Reflek kornea akan terjadi ketika kornea disentuh dengan menggunakan cotton wisp. Sentuhan ini diberikan ketika 5 menit sebelum mata diberikan ropivacaine sedang setiap 5 menit berikutnya berulang diberikan ropivacaine sampai kornael reflek hilang. Lalu ditunggu sampai corneal reflek muncul kembali. Waktu corneal reflek hilang sampai muncul kembali disebut duration of action. Setelah hasil didapatkan lalu data dimasukkan ke tabel lalu dibandingkan antara onset of action dan duration of action.

 

Hasil

 

Waktu hilangnya reflek kornea dan waktu antara hilang dan munculan kembali refleks kornea pada 20 kelinci albino telah dicatat setelah pemberian dua dosis standard sedian ropivacaine. Pada baseline (menit ke-), semua kelinci pada kelompok 1 dan 2 ( n=20) menunjukkan memiliki reflek kornea normal. Lima menit setelah diaplikasi oleh tes, semua kelinci dalam kelomok 1 masih memiliki reflek kornea normal sedangkan pada kelompok 2 reflek kornea hilang. Kira-kira 10 menit, kelinci kelompok 1 juga kehilangan reflek kornea. Pada kelompok kelinci 1, ada 1 kelinci yang memiliki reflek kornea kembali setelah 30 menit (durasi aksi =25 menit), 2 kelinci memiliki reflek kornea kembali setelah 35 menit (durasi aksi = 30 menit), 5 kelinci memiliki reflek kornea kembali setelah 40 menit (durasi aksi = 35 menit). Dalam kelompok kelinci ke 2, 2 kelinci memiliki reflek kornea kembali setelah 45 menit (durasi aksi = 45 menit), 3 kelinci memiliki reflek kornea kembali setelah 50 menit (durasi aksi = 50 menit), 2 kelinci memiliki reflek kornea kembali setelah 55 menit (durasi aksi = 55 menit) dan 3 kelinci memiliki reflek kornea kembali setelah 60 menit (durasi aksi = 60 menit). Untuk kontrol (mata kiri), reflek kornea positif pada periode percobaan.

Analisa statistik mengungkapkan perbedaan yang sangat penting antara kelompok 1 dan 2 dengan (p<0,001). Rata-rata aksi kelompok 1 adalah 10 menit dan kelompok 2 adalah 5 menit. Durasi aksi untuk kelompok 1 adalah 29+- 4,595 dan untuk kelompok 2 48 +- 5,869.

 

 

Diskusi

Topikal anestetik yang digunakan secara klinis dalam pengobatan mata antara lain kokain, proparcain dan tetracaine tetes dan lidocaine gel. Propacain dan tetracain digunakan untuk pemindahan tubuh lain, untuk tonometry dan untuk perawatan korneayang dangkal da tidak menimbulkan efek samping. Ropivacaine adalah anesthesi lokal utama yang digunakan anestesi epidural dan regional. Efek samping dari ropivacaine topical belum dipelajari secara intensif tapi suatu studi menunjukkan tidak adanya efek samping pada biopsi ephitelium ocular. Selain itu ropivacaine aman dan efektif dalam pembedahan pterygium. Penggunaan anestesi long-lasting diijinkan pada prosedur pembedahan dengan autograf conjutival graft dan fibrin glue untuk mengurangi rasa sakit, invasiva yang berhubungan dengan pembedahan yang memiliki jangka waktu perawatan yang pendek atau singkat.

Baru-baru ini anestesi topical dan intracameral menjadi popular pada pembedahan katarak modern. Selama dekade terakhir, ropivacaine digunakan sebagai alat penelitian yang memberikan kontribusi yang sangat besar pada pemahaman patologi permukaan okular termasuk investigasi efek toxin pada aplikasi kimia anterior camera, untuk aplikasi instansi ropivacaine pada endothelium kornea. Pengarang memberikan beberapa perhatian pada penggunaan anestesi intracameral karena efek samping distruktur intraocular, khususnya pada endothelium kornea. Banyak eksperimen yang mempelajari mengenai toksisitas endothelial. Satu persen lidocaine hydrochloride (HCL) menyebabkan transien edema sel endothelial pada in vitro perfuse endothelium manusia dan kornea kelinci

Ropivacaine 1% dan lidocaine 2% aman dan efektif digunakan pada anastesia topikal. Namun, ropivacaine dapat mengkondisikan jalannya operasi yang lebih baik daripada lidocaine untuk bedah dan pasien akan merasa lebih nyaman. Anestesia topikal dengan ropivacaine lebih aman, layak dan lebih efektif daripada lidocaine. Salah satu studi menyatakan bahwa kornea mata yang terkena 0,01% konsentrasi ropivacaine tidak menyebabkan gangguan secara histologis. Metode–metode pada ilmu cytology dapat digunakan untuk mengetahui efek–efek toxic (berbahaya) pada agen anastetik. Keberhasilan 1% ropivacaine untuk anastetik topikal dalam kedokteran gigi sebanding dengan 20% benzocaine gel dan eutectic mixture pada local anastetik 2,5% lidocaine dan 2,5% prilocaine. Pemberian ropivacaine secara bertahap pada intraperitoneal efektif untuk menurunkan nyeri setelah operasi dan memperpendek waktu recovery setelah dilakukan laparoscopic colectomy. Pemberian ropivacaine tambahan secara bertahap pada akhir operasi juga terbukti sangat efektif. Studi yang berbeda menyatakan juga bahwa ropivacaine pada intraperitoneal akan mengurangi rasa nyeri selama periode post-operasi setelah laparoscopic appendectomy.

Ropivacaine merupakan S-enantiomer murni yang memiliki kelarutan lipid sedikit dan memiliki sedikit sifat cardiotoxic daripada bupivacaine, namun lebih cardiotoxic daripada lidocaine. Ropivacaine merupakan obat yang memiliki sifat long-acting, memiliki amida S-enantiomer murni untuk local anastetik, dibuat dengan mengubah ( memodifikasi ) obat – obat yang sudah ada sebelumnya. Secara kimiawi hampir sama seperti bupivacaine dan mepivacaine. Ketiga obat anastetik tersebut disusun oleh molekul pipecolyl xylidines yang digabungkan dengan cincin piperidine dari cocain dengan xylidine dari lidocaine. Penggantian grup methyl, butyl dan propyl pada cincin piperidine dapat menaikkan fungsi mepivacaine, bupivacaine dan ropivacaine. Potensi dan kelarutan lemak yang tinggi dari ropivacaine dapat memberikan gambaran toksisitas CNS yang sama dengan bupivacaine. Penelitian tentang anastesia pada mencit menunjukkan bahwa dosis kumulatif dari levobupivacaine dan ropivacaine dapat menyebabkan kejang yang hampir sama seperti bupivacaine. Prediksi cardiac toxicity pada ropivacaine telah dilakukan studi dan studi untuk memastikan arrhythmogenicity dari ropivacaine berada diantara mepivacaine dan bupivacaine. Dosis kumulatif dari levobupivacaine dapat menghasilkan disritmia dan asistole kecil daripada dosis ropivacaine yang sesuai, tetapi lebih besar daripada bupivacaine. Ropivacaine lebih mudah menginduksi kerja cardiac daripada bupivacaine atau levobupivacaine.

Studi lainnya pada mencit menyatakan bahwa ropivacaine lebih sedikit bersifat toxic daripada bupivacaine. Pada kelinci dan babi, indikasi ditemukan bahwa ropivacaine memiliki cardiodepressive dan arrhythmogenic yang rendah dibanding dengan bupivacaine. Ropivacaine memiliki neurotoxic dan cardiotoxic yang rendah dibandingkan bupivacaine. Menurut data klinis, ropivacaine lebih aktif dan memiliki toleransi yang bagus seperti bupivacaine, ketika dosis equianalgesic dibandingkan dan untuk memblok serabut saraf yang terlibat dalam transmisi nyeri (A delta dan C fibres) sehingga dapat menaikkan level fungsi control motorik (A beta fibres). Menaikkan level pemisahan antara motorik dan sensorik terlihat dengan ropivacaine relative terhadap bupivacaine pada konsentrasi rendah (5 mg kg-1), hal ini akan menjadi suatu aplikasi yang sangat bermanfaat.

Studi ini dilakukan untuk melihat apakah ropivacaine memproduksi bahan tambahan anastesia atau tidak. Studi ini menunjukkan bahwa ropivacaine berpotensi untuk menjadi tambahan anastetik dan memiliki onset yang cepat dengan durasi rata – rata kerja obat dengan dosis satu tetes 187,5ug onset kerja ( hilangya reflek kornea selama 10 menit ) dan durasi kerja (menunjukkan kembai roflek kornea 29 menit). Untuk keterangan lebih lanjut, lihat tabel-tabel yang disediakan

 

Kesimpulan

Seperti proparcaine dan tetracaine, ropivacaine dapat juga digunakan sebagai campuran anestesi untuk menghilangkan benda asing serta kondisi klinis lainnya dalam ilmu oftalmologi. Dalam penelitian yang berbeda, menunjukkan keamanan dan potensi obat ini sebagai obat anastetik topikal dengan resiko yang kecil pada kerja jantung dan neurotoxicities pasien. Penelitian selanjutnya telah dilakukan untuk mengetahui perbedaan dosis ropivacaine, serta penelitian tentang perbandingan antara lidocaine dengan bupivacaine seharusnya terus dilakukan untuk mengetahui potensi ropivacaine sebagai tambahan obat anastetik.

BAB III

PENUTUP

 

Dalam jurnal tersebut dilakukan penelitian mengenai kemampuan dan efektifitas, dosis dan efek samping yang muncul dari penggunaan ropivacaine sebagai anestesi topikal. Dari data penelitian dan literatur yang pengarang pakai didapatkan bahwa 1% ropivacaine aman dan efektif digunakan pada anastesia topikal sebanding dengan lidocaine 2%. Namun, ropivacaine dapat mengkondisikan jalannya operasi yang lebih baik daripada lidocaine untuk bedah dan pasien akan merasa lebih nyaman. Anestesia topikal dengan ropivacaine lebih aman, layak dan lebih efektif daripada lidocaine.

 

PENYAKIT MIKROBIAL DAN PARASITER : Mengamati Cacing pada Hati Sapi di RPH Gadang, Malang

TUGAS TERSTRUKTUR

PENYAKIT MIKROBIAL DAN PARASITER 2

 

Mengamati Cacing pada Hati Sapi di RPH Gadang, Malang

 

 

Oleh:

      Galuh Candra S M P            0911310043

      Inggil Pusvita R                     0911310046

      Ken Ranisa Kusuma             0911310047

      M Jalaludin Fida                   0911310048

      Muh Masyhuri Ds                 0911310052

      Pascara Fajar Lukito            0911310054

      Prima Santi                            0911310056

      Putrika Suryandari               0911310057

 


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2011


BAB I

PENDAHULUAN

 

Parasit atau cacing tidak begitu diperhatikan keberadaannya pada ternak. Padahal cacing yang seringkali tidak dideteksi tersebut berpengaruh besar pada kesehatan serta produktivitas ternak itu sendiri. Cacing yang berpredileksi pada usus mempengaruhi penyerapan nutrisi dari pakan sehingga secara tidak langsung menyebabkan gangguan penyerapan sari makanan. Hal tersebut berhubungan erat dengan produktivitas ternak. Cacing yang hidup diorgan tubuh juga menyebabkan kerusakan organ yang berdampak pada kinerja organ tersebut dalam menjalankan fungsi.

Di Indonesia konsumsi organ dalam hewan masih sangat luas setelah konsumsi daging. Melalui daging dan organ kista atau telur cacing dapat menjadi salah satu penyebab food borne disease pada manusia. Sehingga pemeriksaaan postmortem harus dilakukan secara teliti dan cermat sebelum daging dan organ dalam tersebut dipasarkan. Organ yang telah mengalami kerusakan dan menjadi sarang cacing sebaiknya disingkirkan. Namun dalam prakteknya para pegawai RPH atau jagal tidak memperdulikan hal tersebut karena berorientasi pada profit.

Oleh karena itu kami mendapat tugas untuk mengamati keberadaan cacing yang berpredileksi di dalam organ hepar serta mengetahui presentase sapi yang mempunyai cacing pada organ hepar. Pengamatan dilakukan selama seminggu dari tanggal 18 Oktober-23 Oktober 2011 di Rumah Pemotongan Hewan Gadang Jl. Kol. Sugiono No. 176, Malang, Jawa Timur 65148

 

Tujuan

–          Untuk mengetahui cacing yang hidup di dalam organ hepar sapi

–          Untuk mengamati keadaan hepar sapi yang mengidap cacing

 

Manfaat

–          Untuk memberi informasi mengenai keberadaan cacing pada organ hepar sapi

–          Untuk memberi informasi akibat keberadaan cacing pada organ hepar sapi

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Cacing yang hidup pada hepar sapi yaitu cacing dari genus Fasiola. Cacing yang berpredileksi pada hati sapi yaitu Fasiola hepatica dan Fasiola gigantica. Cacing hati yang asli Indonesia yaitu Fasiola gigantica. Penyakit yang disebabkan oleh cacing pipih genus Fasiola diberi nama Fasciolosis.

 

2.1  Sinonim

Penyakit ini dikenal dibanyak negara dengan berbagai istilah yang berbeda namun mempunyai arti yang sama. Nama lain dari fasciolosis adalah Distomatosishepatik, Fasciolosis, cattle liver fluke, Giant liver fluke (Akoso,1991).

 

2.2  Etiologi

Fasciolosis adalah penyakit yang disebabkan cacing dari genus fasciola. Berdasarkan taksonominya cacing ini mempunyai klasifikasi sebagai berikut:

Phylum                 : Platyhelminthes

Sub Phylum          : –

Kelas                    : Trematoda

Ordo                     : Digenea

Family                  : Fasciolidae

Genus                   : Fasciola

Species                 : Fasciola hepatica, Fasciola gigantica

Sedangkan secara anatomi fasciola berbentuk pipih dorsoventral. Ukuran dan bentuk fasciola bervariasi F. gigantika berukuran 25-75 x 5-12 mm, berwarna terang dan pundaknya tidak begitu nyata, telurnya berukuran 156-197 x 90-104 mikron. F. hepatica berukuran 25-30 x 8-15 mm, berwarna coklat keabuan dan pundaknya lebar, telurnya berukuran 130-160 x 63-90 mikron (Levin, 1994).

 

2.3  Distribusi

Distribusi penyakit ini hampir ada diseluruh hewan produksi seperti sapi dan kambing diseluruh dunia. Fasciolosis biasanya terjadi pada daerah daerah yang mempunyai populasi hospes intermedietnya saja (Anonim, 2005).

 

2.4  Epidemiologi

Menurut Torgerson (1999) fasciolosis pada manusia banyak dilaporkan dari negara-negara Eropa, Amerika, Asia, Afrika, dan Oceania. Prevalensi penyakit pada manusia berkorelasi dengan penyakit pada hewan.

  • Eropa : Dari tahun 1970-1982 di Prancis terdapat 5863 kasus yang dilaporkan di rumah sakit. Penyakit tersebut secara serologis 3.01% berada di Antalusia dan 6.1% di Isparta,
  • Amerika : Di Amerika serikat penyakit ini bersifat sporadik sedang di Mexico terdapat 53 kasus yang dilaporkan.
  • Afrika : Prevalensi yang tinggi telah di laporkan di Egypt, penyakit tersebar di lingkungan sekitar Nile delta. Kecuali di bagia utara tidak ada laporan.
  • Asia : Di Asia kasus yang dilaporkan di Iran dengan jumlah 10 000 kasus yang terdeteksi sedang di Asia tenggara kasus ini bersifat sporadik.

 

Sedangkan pada hewan di dunia terdapat 89.5% kasus infeksi. Penyebaran penyakit pada hewan terdapat di beberapa negara diantaranya:

  • Europa : Ireland, Prancis, Portugal, Italia, Jerman
  • Asia : Thailand, Iraq, Iran, China, Vietnam, Jepang
  • Afrika : Kenya, Zimbabwe, Maroko
  • Amerika : Mexico, Peru, Brazil
  • Australia : Australia, New Zaeland

Hewan yang rentan adalah domba dan kambing, hewan yang kurang rentan adalah sapi, kerbau dan ruminan lain, dan dapat juga menyerang babi, anjing, kucing, kuda, kelinci dan manusia.

Penyebaran fasciolosis di Indonesia mula-mula dilaporkan oleh Van Velzen di Tangerang pada tahun 1890 dan sekarang diketahui tersebar di seluruh Indonesia sesuai dengan penyebaran siput Lymnea yang menjadi induk semang antara. Fasciola gigantica merupakan parasit asli dari Indonesia sedangkan Fasciola hepatica datang ke Indonesia mungkin bersama-sama dengan di bawanya sapi perah FH dari Belanda. Fasciolosis pada sapi dan kerbau bersifat kronis, sedangkan pada domba dan kambing bersifat akut. Fasciola gigantica dapat menimbulkan kematian pada hewan, terutama biri-biri dan sapi (Soedarto, 2003).

 

2.5  Sumber Infeksi

Sumber infeksi yang utama berasal dari kontamianan air dan daging atau produk lain asal hewan yang terinfeksi stadium infektif dari cacing fasciola (Akoso,1996).

 

2.6  Penularan

Infeksi terjadi didaerah yang basah atau lembab, rawa atau daerah payau, dimana banyak terdapat siput, cacing akan keluar dan berenang dan berkeliling akhirnya menempel dan tinggal pada tumbuh-tumbuhan yang akan termakan oleh hewan yang kemudian menjadi induk semang. Penularan ini juga berhubungan erat dengan siklus hidup cacing ini:

 

 

Induk semang dari fasciola adalah siput, umumnya genus Lymnea. Di Indonesia telah diketahui adalah Lymnea rubiginosa. Telur fasciola keluar bersama tinja induk semang dari telur yang menetas keluar mirasidium yang terus masuk ke dalam siput. Dalam tubuh siput mirasidium berubah menjadi sporokista. Sporokista menghasilkan redia, dan redia menghasilkan serkaria. Serkaria keluar dari siput yang merupakan fase infektif. Bila serkaria tidak termakan oleh induk semang maka akan menghasilkan kisata (metaserkaria), tenggelam ke dalam air atau menempel pada rumput (Levin, 1994).

Infeksi terjadi bila induk semang memakan rumput atau meminum air yang tercemar. Dalam usus serkaria keluar dari metaserkaria dan terus menembus dinding usus masuk keruang peritoneum, selanjutnya menembus selaput hati dan meninggalkan jalur-jalur hemorhagik pada parenkim hati dalam perjalanannya menuju saluran empedu untuk menjadi dewasa. Masa prepaten 2-3 bulan (Soedarto, 2003). Penularan pada manusia pada prinsipnya sama dengan penularan pada hewan. Skema penularan pada manusia :

 

 


BAB III

HASIL PENGAMATAN

 

Hasil pengamatan dilakukan selama seminggu dari tanggal 18 Oktober-23 Oktober 2011 di Rumah Pemotongan Hewan Gadang.

 

18 Oktober 2011

19 Oktober 2011

 

 

20 Oktober 2011

 

21 Oktober 2011

22 Oktober 2011

 

 

23 Oktober 2011


BAB IV
PEMBAHASAN

 

4. 1 Hati

Hati merupakan pusat dari metabolisme seluruh tubuh, merupakan sumber energi tubuh sebanyak 20% serta menggunakan 20 – 25% oksigen darah. Ada beberapa fungsi hati yaitu :

  1. Fungsi hati sebagai metabolisme karbohidrat
  2. Fungsi hati sebagai metabolisme lemak
  3. Fungsi hati sebagai metabolisme protein
  4. Fungsi hati sehubungan dengan pembekuan darah
  5. Fungsi hati sebagai metabolisme vitamin
  6. Fungsi hati sebagai detoksikasi
  7. Fungsi hati sebagai fagositosis dan imunitas
  8. Fungsi hemodinamik

 

4.2 Patologi Klinis

Dari hasil pengamatan yang dilakukan selama seminggu dari tanggal 18 Oktober-23 Oktober 2011 di Rumah Pemotongan Hewan Gadang Jl. Kol. Sugiono No. 176, Malang, Jawa Timur 65148 kami mendapatkan gambar seperti diatas. Dalam pengamatan tersebut didapatkan data bahwa setiap hepar sapi yang dipotong selalu ada yang kerusakan pada hepar. Setelah meminta ijin pada para jagal kami mendapati Fasiola yang bersarang di dalam hati membuat terowongan-terowongan sehingga terjadi perubahan jaringan hati.

Cacing ini akan memakan jaringan hati dan darah pada saat masih muda, dan makanan utama setelah dewasa adalah darah. Pada pemeriksaan hati sapi di rumah potong hewan, luas kerusakan hati tergantung pada hebatnya infeksi dan lamanya hewan sakit . Pada infeksi yang parah terlihat adanya perubahan berupa pembengkakan yang berair dan penyumbatan saluran empedu, jaringan hati mengeras karena terbentuk jaringan parut (cirrhosis) dan hati mengecil (atrophi). Hal tersebut dapat mengakibatkan gangguan proses pertumbuhan, produksi susu dan berat badan menurun sehingga menyebabkan penurunan produksi dan dapat menyebabkan kematian.

Gejala klinis fasciolosis dapat sangat ringan atau tanpa gejala, namun gangguan pada fungsi hati dapat juga terjadi. Bentuk akut pada sapi mempunyai ciri-ciri gangguan pencernaan, adanya gejala konstipasi yang jelas dan kadang-kadang mencret. Terjadi pengurusan yang cepat, lemah dan anemia. Bentuk kronik pada sapi berupa penurunan produktivitas dan pertumbuhan yang terhambat.

Bentuk akut pada domba dan kambing, berupa mati mendadak disertai darah yang merembes atau keluar dari hidung dan anus. Bentuk kronik pada tahap pertama pada domba menunjukan gejala menjadi gemuk akibat banyaknya empedu yang disalurkan ke dalam usus, karena lemak kurang berfungsi atau tidak dipergunakan akibat adanya anemia. Meskipun gemuk terjadi kelemahan otot. Selanjutnya diikuti penurunan nafsu makan, selaput lendir pucat, serta bulu menjadi kering dan rontok, akhirnya terjadi kebotakan dan hewan menjadi lemah dan kurus (AAK, 1995).

 

4.3 Diagnosa

Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat penderita yang mengalami pembesaran hati yang melunak, dan disertai sindrom demam eosinofilik. Migrasi cacing muda dari usus ke hati dapat menimbulkan lesi ektopik di dinding usus, jantung, bola mata, paru dan jaringan dibawah kulit, sehingga menimbulkan keluhan setempat (Akoso, 1994).

Untuk menegakkan diagnosis pasti, dilakukan pemeriksan tinja atau cairan duodenum atau cairan empedu hospes untuk menemukan telur cacing fasciola. Penghitungan jumlah telur tiap gram tinja, menemukan metaserkaria pada rumput. Untuk membantu menegakkan diagnosis terutama fasciolosis jaringan dan fasciolosis dalam periode prepaten, maka dapat dilakukan berbagai uji imunodiagnostik misalnya uji imunofluoresen tak langsung, uji hemaglutinasi pasif, uji presipitasi gel atau metode imunodiagnostik lainnya (Akoso, 1995).

Bentuk akut dapat keliru dengan penyakit antrax, karena adanya pengeluaran darah dari hidung dan anus. Bentuk kronik pada domba dapat keliru dengan haemonchosis karena adanya bottle jaw, anemia pada fasciolosis dapat keliru dengan anemia oleh penyebab yang lain (Akoso, 1991).

Pada hewan dewasa perubahan-perubahan sering hanya terbatas pada hati. Mungkin hewan itu sedikit kurus atau pucat. Pada hewan muda perubahan-perubahan biasanya lebih menyolok, kekurusan, anemi, busung air dimana-mana merupakan perubahan-perubahan terpenting. Pada infeksi akut hati bengkak karena degenerasi parenkim atau infiltrasi lemak; di bawah selubung hati dan pada bidang sayatan nya terlihat perdarahan-perdarahan disebabkan oleh migrasi parasit-parasit muda. Dalam tingkat hal ini kita harus waspada terhadap infeksi sekunder dengan salmonella. Perubahan-perubahan pada hati dalam tingkat menahun ialah cholangitis, peri- cholangitis yang menjadikan hepatitis chronica indurativa (sirosis parasiter). Dinding saluran – saluran empedu sangat tebal karena pembentukan jaringan ikat dan endapan kalsium. Di dalam saluran – saluran itu tertimbun massa`detritus yang berlendir dan mengandung distoma dewasa. Sarang – sarang distomum sekali – sekali ditemukan di dalam paru – paru dan limpa (Ressang, 1984).

Di Indonesia konsumsi organ dalam masih sangat diminati. Sumber utama penularan fasciolosis pada manusia karena kebiasaan masyarakat yang gemar mengkonsumsi tanaman atau tumbuhan air, seperti selada air dalam keadaan mentah yang kemungkinan tercemar metaserkaria cacing Fasciola. Selain mengkonsumsi tanaman air dalam keadaan mentah, penularan penyakit ini dapat pula terjadi akibat meminum air mentah yang tercemar metaserkaria Fasciola spp. Penularan fasciolosis oleh F. hepatica pada manusia di Eropa diduga akibat kebiasaan sebagian masyarakat mengkonsumsi hati mentah atau hati sapi yang tidak dimasak dengan baik.

 

4.4 Pemberantasan, Pencegahan dan Pengobatan

Oleh karena itu pemberantasan atau tindakan fasciolosis ini yang sangat merugikan peternak hendaknya mendapat perhatian lebih banyak. Pemberantasan ini berdasarkan profilaksis termasuk pemberantasan induk-induk semang antara yaitu siput. Untuk mencegah penyebaran fasciolosis pada manusia, selain dengan mengendalikan fasciolosis pada hewan, juga dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi makanan atau air yang tercemar stadium infektif. Makanan atau minuman hendaknya dimasak. Pendidikan kesehatan untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan hidup (Soedarto, 2003).

Tindakannya meliputi :

  • Administrasi
  • Pemeriksaan hati ternak yang dipotong terhadap infeksi fasciola sesuai dengan peraturan yang berlaku.
  • Mencatat dan melaporkan hasil pemeriksaan secara teratur.

Pencegahan yang dilakukan untuk penyakit fasiolosis ini antara lain yaitu :

  • Pemotongan siklus hidup dengan mollusida
  • Memberantas siput secara biologi, misalnya dengan pemeliharaan itik.
  • Rotasi lapangan rumput.
  • Memperbaiki sistem pengairan sehingga memungkinkan tindakan pengeringan.
  • Menyebarkan copper sulphat atau trusi di lapangan penggembalaan.
  • Melakukan pemberian obat cacing secara teratur.

Secara umum paling tidak pengobatan harus dilakukan 3 kali dalam setahun yaitu :

  1. Permulaan musim hujan, untuk menghilangkan cacing didapat selama musim kemarau dan menghadapi perluasan habitat siput.
  2. Pertengahan musim hujan, untuk mengeluarkan cacing yang diperoleh selama musim hujan, dan untuk mengurangi peluang infeksi mirasidium pada siput yang habitatnya meluas.
  3. Pada akhir musim hujan, untuk menghilangkan cacing yang didapat selama musim hujan serta mengurangi potensi untuk terkontaminasi dimusim kemarau.

Adapun obat yang yang digunakan untuk penyakit fasiolosis ini antara lain yaitu :

  • Hexachloroethane (Egitol 20-30 mg/kg BB, PO)
  • Hexachlorophene (Distodin 15-20 mg/kg BB, PO)
  • Nitroxynil (Dovenik 10 mg/kg BB, SC. Trodak 10-12,5 mg/kg BB, SC)
  • Derivat Benzimidazol (Albendazol, Triclabendazol, Prebendazol, Febantel) Dosis 10-15 mg/kg BB untuk sapi dan kerbau, 10 mg/kg BB untuk domba dan kambing.
  • Tidak ada pengobatan yang spesifik terhadap fasciolosis pada manusia, namun pemberian Praziquantel dengan dosis 25 mg/kg BB 3 kali sehari sesudah makan, yang diberikan selama 1-2 hari ternyata memberikan hasil yang cukup memuaskan (Soedarto, 2003).

 

 


BAB V

PENUTUP

 

5.1 Kesimpulan

Cacing yang hidup pada hepar sapi yaitu cacing dari genus Fasiola. Cacing yang berpredileksi pada hati sapi yaitu Fasiola hepatica dan Fasiola gigantica. Keadaan hepar sapi yang mengidap cacing pada infeksi yang parah terlihat adanya perubahan berupa pembengkakan yang berair dan penyumbatan saluran empedu, jaringan hati mengeras karena terbentuk jaringan parut (cirrhosis) dan hati mengecil (atrophi).

 

5.2 Saran

Untuk perbaikan yang akan datang, fokus dari tugas penyakit mikroba dan parasiter untuk kunjungan ke RPH lebih diperjelas.

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

AAK. 1995. Petunjuk Praktis Beternak Sapi Perah. Yogyakarta: Kanisius

Akoso. T. B. 1991. Manual Untuk Paramedik Kesehatan Hewan, Edisi Ke2. Omaf-Cida Disease Investigasi Center.

Akoso. T. B. 1996. Kesehatan Sapi. Yogyakarta: Kanisius

Ressang. A. A. 1984. Pathologi Khusus Veteriner. Denpasar: Fad Project Khusus Investigasi Unit Bali.

Soedarto. 2003. Zoonosisi Kedokteran. Surabaya: Airlangga Press

Torgerson, P, Claxton J. 1999. Epidemiology and Control Fasciolosis. In Dalton, JP Wallingford CABI Pub. pp. 113–49

 

3

PENYAKIT INFEKSI INTERNAL : Salphingitis

SALPHINGITIS

 

Ethiologi

  • Terjadinya inflamasi pada tuba fallopi
  • Salpingitis salah satu penyebab infertitas pada reproduksi ♀
  • Jika tidak ditangani segera  infeksi  menyebabkan kerusakan pada tuba fallopi secara permanen  sehingga sel telur yang dikeluarkan dari ovarium tidak dapat bertemu dengan sperma Salpingitis termasuk kedalam pelvic inflammatory disease (PID)
  • PID  infeksi  pada saluran reproduksi betina (uterus, tuba fallopii, ovari)

Penyebab

N. gonorrhea, C. trachomatis, Streptococcu,  Staphilococcus.,  E. coli, Bacteroides, Actinomyces, Peptococcus, Clostridium, Gardnerella, Haemophilus,

Yang termasuk hewan rentan :

  • Infeksi dapat terjadi pada unggas segala umur (hewan muda > tua)
  • Contoh : ayam, kalkun, itik, anjing, kucing, ruminansia,
  • Sering terjadi pada manusia

Gejala Klinis

  • Nyeri pada kedua sisi perut
  • Demam
  • Mual muntah
  • Kelainan pada vagina seperti perubahan warna yang tidak normal atau berbau.
  • Nyeri selama ovulasi
  • Sering kencing
  • Lower back pain

Patogenesa

  • Disebabkan N. gonnorhea & E. coli
  • Bakteri masuk ke vagina atau bisa melalui pembuluh darah dari jaringan sekitar  Infeksi pada vagina  infeksi pada uterus  infeksi pada tuba fallopii  infeksi pada oviduct

Salpingitis dibagi menjadi:

salpingitis akut kebanyakan disebabkan oleh infeksi gonore.

salpingitis kronik Salpingitis kronik
dapat berbentuk sebagai piosalping, hidrosalping atau salpingitis ismika nodosa.

Diagnosa

  • isolasi & identifikasi bakteri penyebab penyakit  perubahan jaringan yang menciri
  • Pemeriksaan pelvis
  • Kultur swab cervix
  • Laparoscopy
  • Kultur swab dari laparoscopy
  • Urinalisis dan kultur urin untuk mengekslusi infeksi saluran
  • Biopsy endometrium (Pemeriksaan USG per vagina dan per pelvis)

Pengobatan

  • Pathogen detection (gonococcus detection)
  • Penicillin / ampicillin (i.v.) / amoxicillin (orally) / tetracycline
  • Without pathogen detection
  • Doxycycline + metronidazole
  • Ampicillin / amoxillin + β-lactamase inhibitor
  • Clindamycin + gentamycin / tobramycin  ≠ gonococci
  • Cephalosporin + metronidazole + doxycycline
  • Ampicillin + doxycycline
  • Fluoroquinolones +/- metronidazole  ≠ met  moxifloxacin

Tumor

  • Antibiotic  ampicillin / amoxillin + β-lactamase inhibitor, doxycycline + metronidazole, moxifloxacin / levofloxacin, cephalosporin + metronidazole
  • operasi
  • Abses tuba fallopii
  • Antibiotika  cephalosporin + metronidazole, fluoroquinolone + metronidazole
  • Dilakukan operasi jika sudah parah

Pencegahan

  • Pemeriksaan terhadap ♀
  • Memperhatikan pasangan kawin (ati-ati apabila ♂ penderita)  lbh baik IB

TEKNOLOGI REPRODUKSI DAN INSEMINASI BUATAN : Teknik Manajemen Inseminasi Buatandan Perkawinan Kawin Alami

TEKNOLOGI REPRODUKSI DAN INSEMINASI BUATAN

TEKNIK MANAJEMEN INSEMINASI BUATAN DAN

PERKAWINAN KAWIN ALAMI

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :

Adi Candra                             0911310001

Mardiana Sartono                   0911310019

Khoirunnisa’                           0911310016

Yosia Arauna                          0911310028

Fitri Amalia                             0911310012

M.Jalaludin                             0911310048

Ari Purnamasari P                   0911310033

Galuh Asmoro Putra               0911310042

Prima Santi                              0911310056

 

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2011

 

BAB I

PENDAHULUAN

Setiap tahun jumlah penduduk indonesia semakin bertambah. Bertambahnya jumlah penduduk menyebabkan peningkatan kebutuhansusu, daging atau protein hewani. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka perlu adanya peningkatan populasi ternak.Usaha dalam peningkatan populasi ternak diantaranya dengan cara pencegahan penyakit, peningkatan perkembangbiakan alami danperkembangbiakan non alami seperti dengan carainseminasi buatan dan peningkatan teknologi reproduksi. Teknologi reproduksimerupakan semua pemanfaatan dalam proses biologis melalui rekayasa dalam bidang reproduksi baik dalam hal rekayasa genetika dan rekayasa proses untuk menghasilkan ternak dan produk peternakan sesuai dengan yang diharapkan.

Penurunan efisiensi reproduksi dipengaruhi oleh factor manajemen perkawinan yang tidak sesuai dengan kondisi danlingkungan sekitarnya, sehinggga terindikasi terjadinya kawin yangberulang pada induk sapi potong di tingkat usaha ternak rakyat yangmenyebabkan rendahnya keberhasilan kebuntingan dan panjangnyajarak beranak.

Melalui paper ini diharapkan pada masa mendatang akan terdapat banyak tenaga teknis Inseminasi Buatan yang berwawasan dan terampil dan didapatkan suatu cara atau teknik manajemenperkawinan yang tepat sesuai dengan kehendak petani denganberdasar pada potensi atau kehidupan sosial masyarakat pedesaan,yakni teknik kawin suntik dengan IB beku, cair dan pejantan alami yang mantap dan berkesinambungansehingga pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan populasi dan produktivitas ternak. Dengan demikian ketersediaan ternak sebagai sumber protein masyarakat tidak akan terlalu tergantung pada pasokan dari luar.

 

BAB II

ISI DAN PEMBAHASAN

 

2.1       Inseminasi Buatan

Inseminasi Buatan merupakan salah satu teknologi dalam reproduksi ternak yang memiliki manfaat dalam mempercepat peningkatan mutu genetik ternak, mencegah penyebaran penyakit reproduksi yang ditularkan melalui perkawinan alam, meningkatkan efisiensi penggunaan pejantan unggul, serta menurunkan/ menghilangkan biaya investasi pengadaan dan pemeliharaan ternak pejantan. Merupakan suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (sperma atau semen) yangtelah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut ‘insemination gun‘.

 2.1.1 Keuntungan IB

  1. Dapat menghasilkan keturunan anak yang baik dan berkualitas karena menggunakan sperma dari pejantan yang unggul.
  1. Peternak tidak perlu memelihara pejantan sehingga biaya pakan maupun waktu untuk memelihara pejantan dapat digunakan untuk keperluan lain.
  2. Dapat menghindari cacat pada kelahiran anak.
  3. Mencegah terjadinya penularan penyakit yang disebarkan melalui perkawinan alami.
  4. Dapat memperpendek jarak kelahiran (calving interval)
  5. Menghindarkan ternak sapi betina mengalami kecelakaan dalam melakukan perkawinan alami bila pejantan yang digunakan terlalu besar.
  6. Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan;
  7. Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik;
  8. Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding);
  9. Dengan peralatan dan teknologi yang baik spermatozoa dapat simpan dalam jangka waktu yang lama;
  10. Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati;

2.1.2  Tujuan Inseminasi Buatan

  1. Memperbaiki mutu genetika ternak;
  2. Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya;
  3. Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama;
  4. Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur;
  5. Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin.

2.1.3  Kerugian IB

  1. Apabila identifikasi birahi (estrus) dan waktu pelaksanaan IB tidak tepat maka tidak akan terjadi terjadi kebuntingan;
  2. Akan terjadi kesulitan kelahiran (distokia), apabila semen beku yang digunakan berasal dari pejantan dengan breed / turunan yang besar dan diinseminasikan pada sapi betina keturunan / breed kecil;
  3. Bisa terjadi kawin sedarah (inbreeding) apabila menggunakan semen beku dari pejantan yang sama dalam jangka waktu yang lama;
  4. Dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek apabila pejantan donor tidak dipantau sifat genetiknya dengan baik (tidak melalui suatu progeny test).

2.1.4 Waktu yang tepat untuk inseminasi buatan

         Waktu yang tepat untuk melakukan IB pada ternak sapi adalah 15 s/d 18 jam setelah sapi menunjukkan gejala berahi karena pada saat tersebut sel telur telah mencapai saluran tuba falopii yaitu saluran tempat penyatuan sel telur dengan sperma yang diikuti dengan proses pembuahan.

2.1.5 Gejala-gejala Berahi pada Ternak Sapi

Pada umumnya gejala-gejala berahi pada ternak adalah sebagai berikut:

  1. Kemaluan bagian luar (vulva) ternak berwarna merah
  1. Bila dicermati kemaluan tersebut membengkak
  2. Bila diraba kemaluan tersebut terasa hangat
  3. Dari kemaluan keluar lendir bening dan transparan
  4. Gelisah dan kurang nafsu makan

2.1.6Faktor-faktor yang mempengaruhi kegagalan IB

            Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kegagalan dalam pelaksanaan IB pada ternak sapi yaitu:

  1. Kondisi kesehatan sapi betina yang di IB. Betina yang kondisinya sehat (sebelum dan setelah di IB) akan mampu memelihara kebuntingannya sampai melahirkan dengan baik
  1. Ketepatan waktu pelaksanaan IB
  2. Mutu semen beku yang digunakan. Semen beku yang digunakan hendaknya mendapatkan penanganan yang benar mulai saat produksi, penyimpanan dan distribusi sampai di tingkat lapangan
  3. Keterampilan petugas IB sangat mempengaruhi keberhasilan IB. Makin terampil petugas IB, makin kecil resiko kegagalannya

2.2 Intensifikasi kawin alam (IKA)

            Upaya peningkatan populasi ternak sapi dapat dilakukan denganintensifikasi kawin alam melalui distribusi pejantan unggul terseleksidari bangsa sapi lokal atau impor dengan empat manajemenperkawinan, yakni: (1) perkawinan model kandang individu, (2)perkawinan model kandang kelompok/umbaran, (3) perkawinan modelrench (paddock) dan (4) perkawinan model padang pengembalaan.Pejantan yang digunakan berasal dari hasil seleksisederhana, yaitu berdasarkan penilaian performans tubuh dan kualitassemen yang baik, berumur lebih dari dua tahun dan bebas dari penyakitreproduksi seperti EBL dan IBR.

            Untuk seleksiinduk diharapkan memiliki deskriptif sebagai berikut: 1) indukdereman/manaan (nahunan), yakni dapat beranak setiap tahun, 2) skor kondisi tubuh 5-7 (Gambar 4), 5) badan tegap, sehat dan tidak cacat, 4)tulang pinggul dan ambing besar, lubang pusar agak dalam dan 5)Tinggi gumba > 135 cm dengan bobot badan > 300 kg.

2.2.1        Cara kawin alam ini dianjurkan dengan pertimbangan

(1) secara alamiah ternak sapi potong memiliki kebebasan hidup, sehingga mendukung perkembangbiakannya secara normal

(2) secara alamiah ternak sapi jantan mampu mengetahui ternak sapi betina yang berahi

(3) penanganan perkawinan secara kawin alam memerlukan biaya yang sangat murah, tanpa adanya campur tangan manusia

(4) metode kawin alam sangat efektif dan efisien, sehingga dapat digunakan sebagai pola usaha budidaya ternak mulai dari cara intensif, semi intensif dan ektensif, bahkan juga dilakukan di beberapa perusahaan.

2.2.2Perkawinan di kandang invidu (sapi diikat)

            Kandang individu adalah model kandang dimana setiap ekor sapimenempati dan diikat pada satu ruangan; antar ruangan kandangindividu dibatasi dengan suatusekat.Kandang invidu di peternakrakyat, biasanya berupa ruangan besar yang diisi lebih dari satu sapi,tanpa ada penyekat tetapi setiap sapi diikat satu persatu.Model

            Perkawinan kandang individu dimulai dengan melakukanpengamatan birahi pada setiap ekor sapi induk dan perkawinandilakukan satu induk sapi dengan satu pejantan (kawin alam) ataudengan satu straw (kawin IB).Biasanya kandang individu yang sedangbunting beranak sampai menyusui pedetnya.Pengamatan birahi dapat dilakukan setiap hari pada waktu pagidan sore hari dengan melihat gejala birahi secara langsung dengan tanda-tanda estrus.Apabila birahi pagidikawinkan pada sore hari dan apabila birahi sore dikawinkan padabesuk pagi hingga siang.Persentase kejadian birahi yang terbanyak pada pagi hari.Setelah 6-12 jam terlihat gejala birahi, sapi induk dibawa dandiikat ke kandang kawin yang dapat dibuat dari besi atau kayu,kemudian didatangkan pejantan yang dituntun oleh dua orang dandikawinkan dengan induk yang birahi tersebut minimal dua kali ejakulasi. Setelah 21 hari (hari ke 18-23) dari perkawinan, dilakukanpengamatan birahi lagi dan apabila tidak ada gejala birahi hinggga duasiklus (42 hari) berikutnya, kemungkinan sapi induk tersebut berhasil bunting.

Untuk meyakinkan bunting tidaknya, setelah 60 hari sejak dikawinkan, dapat dilakukan pemeriksaan kebuntingan dengan palpasirektal, yaitu adanya pembesaran uterus seperti balon karet (10-16 cm)dan setelah hari ke 90 sebesar anak tikus. Induk setelah bunting tetap berada dalam kandang individu hingga beranak, namun ketika beranak diharapkan induk di keluarkan darikandang individu selama kurang lebih 7-10 hari dan selanjutnyadimasukkan ke kandang invidu lagi.

2.2.3 Perkawinan kandang kelompok

            Kandang terdiri dari dua bagian, yaitu sepertiga sampaisetengah luasan bagian depan adalah beratap/diberi naungan dansisanya di bagian belakang berupa areal terbuka yang berpagarsebagai tempat pelombaran. Ukuran kandang (panjang x lebarnya)tergantung pada jumlah ternak yang menempati kandang, yaitu untuksetiap ekor sapi dewasa membutuhkan luasan sekitar 20 – 30 m2.Bahan dan alatnya: dibuat dari semen atau batu padas, dinding terbukatapi berpagar, atap dari genteng serta dilengkapi tempat pakan, minum dan lampu penerang.

            Manajemen perkawinan model kandang kelompok dapatdilakukan oleh kelompok tani atau kelompok perbibitan sapi potongrakyat yang memiliki kandang kelompok usaha bersama (cooperatefarming system) dengan tahapan sebagai berikut:

  1. Induk bunting tua hingga 40 hari setelah beranak (partus) diletakkan pada kandang khusus, yakni di kandang bunting dan atau menyusui.
  2.  Setelah 40 hari induk dipindahkan ke kandang kelompok dan dicampur dengan pejantan terpilih dengan kapasitas sapi sebanyak 10 ekor betina (induk atau dara) dan dikumpulkan menjadi satu dengan pejantan dalam waktu 24 jam selama dua bulan.
  3. Setelah dua bulan dikumpulkan dengan pejantan dilakukan pemeriksaan kebuntingan (PKB) dengan cara palpasi rectal terhadap induk-induk sapi tersebut (perkawinan terjadi secara alami tanpa diketahui yang kemungkinan pada malam hari atau waktu tertentu yang tidak diketahui.

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1       Kesimpulan

 

 

Untuk

10

 

 

 

mendapatkan anak sapi yang baik, perkawinan dengan inseminasi buatan lebihmenjanjikan mengingat inseminasi buatan menggunakan sperma dari sapi pejantan unggul

Perbedaan Inseminasi Buatan dengan Kawin Alam

 

No

Inseminasi Buatan

Kawin alam

1 Mencegah perkawinan inbreeding Perkawinan inbreeding sering terjadi
2. Menghemat pemeliharaan ternak jantan Pemeliharaan pejantan memerlukan biaya yang tinggi
3 Keberhasilan kualitas dari produk kelahiran lebih menjajikan karena inseminasi buatan dilakukan menggunakan semen dari sapi jantan unggul. Perkawinan alami biasanya tidak dihasilkan produk kelahiran yang baik karena pejantan pemaceknya tidak selalu baik.
4 Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinankarena fisik pejantan terlalu besar

 

Kecelakaan fisik sering terjadi oleh karena fisik pejanta terlalu besar

 

5 Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik . Jarak kelahiran tidak dapat diatur tergantung pejantan yang mengawini
6 Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya. Pejantan harus dibawa ketempat dimana betina berada, biaya terlampau tinggi
7 Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yangditularkan dengan hubungan kelamin Penularan penyakit reproduksi sering terjadi
8 Apabila identifikasi birahi  dan waktu pelaksanaan IB tidak tepat maka kebuntingan tidak akan terjadi. Deteksi estrus lebih efektif karena pejantan akan langsung menaiki betina saat estrus berlangsung
9 Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama: Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati Penggunaan semen hanya pada saat pejantan melakukan ejakulasi secara alami pada saat coitus saja..

 

 

Sedangkan persamaan Inseminasi buatan dan kawin alami adalah
  1. Peningkatan kualitas genetic
  2. Memperbanyak keturunan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Affandhy,L., D. Pamungkas. A. Rasyid dan P. Situmorang. 2003. Uji fertilitas semen cair dan beku pada pejantan sapi potong lapang. Laporan Penelitian. Loka Penelitian Sapi Potong.

Bearden, HJ and Fuquay JW, 1984.Applied Animal Reproduction.2ndEdition. Reston Publishing Company, Inc.A Prentice-Hall Company. Reston. Virginia.

Evans, G. and W.M.C. Maxwell. 1987. Salamon’s Artificial Insemination of Sheep and Goats. Butterwoths Pty Limited. Sydney, Boston, London, Durban, Singapore, Wellington.

Toelihere, M.R. 1993. Inseminasi Buatan pada Ternak. Angksa. Bandung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENYAKIT INTERNAL GANGGUAN METABOLIT DAN GENETIK : Pregnancy Toxemia

MAKALAH

PENYAKIT INTERNAL GANGGUAN METABOLIT DAN GENETIK

“Pregnancy Toxemia”

oleh :

Debin Yuniar Wulandari         0911310007

Faizal Agung Pratomo            0911310011

Lelyta Damayanti                   0911310017

Viki Agita Setiawan               0911310026

Yosia Arauna                          0911310028

Adib Mustain                          0911310032

Galuh Candra Satya M P        0911310043

Ken Ranisa Kusuma               0911310047

Prima Santi                              0911310056

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

  1. A.      ETIOLOGI

Pregnancy toxemia (ketosis) merupakan penyakit karena adanya gangguan metabolisme pada akhir kebuntingan. Pregnancy toxemia lebih sering terjadi pada domba atau kambing pada minggu-minggu terakhir kebuntingan. Penyakit ini dapat terjadi juga pada ruminansia lain seperti sapi dan lebih dikenal sebagai ketosis dan terjadi sebelum atau setelah partus.

 

  1. B.       PENYEBAB

Pregnancy toxemia bukan merupakan penyakit menular dari satu hewan betina bunting ke hewan betina lain. Kambing, domba atau lembu dan sapi yang mengalami penyakit ini mungkin tampaknya seperti menular karena manajemen nutrisi yang diberikan selama kehamilan adalah sama. Pregnancy toxemia dapat terjadi pada induk muda maupun tua. Kejadian pregnancy toxemia lebih tinggi terjadi pad induk tua, gemuk dan kebuntingan kembar. Penyebab pregnancy toxemia yaitu gangguan konsumsi karbohidrat, kegemukan, deposisi lemak dan beberapa kondisi lain yang secara tidak langsung (konsumsi ransum, seperti badai, transportasi atau penyakit lain).

  1. Gangguan Konsumsi Karbohidrat

Pregnancy toxemia disebabkan oleh gangguan dalam penggunaan karbohidrat di dalam tubuh. Pada betina yang sedang bunting, kebutuhan akan energi akan semakin meningkat. Hal ini terjadi akibat ketidak seimbangan kebutuhan energi dengan pakan yang diberikan. Dimana  kebutuhan energi yang mendadak menjadi besar untuk pertumbuhan anak yang sangat cepat pada minggu-minggu akhir kebuntingan yaitu 70 % dari kebutuhan energi untuk pertumbuhan terjadi di akhir kebuntingan. Pada saat anak tumbuh dengan pesat, pengingkatan jumlah ruang dan energi menjadi sangat diperlukan disamping protein dan energi untuk pemeliharaan.

Pada saat yang sama, kapasitas dari rumen akan mengecil karena fetus akan tumbuh serta mengambil ruang yang lebih pada rumen. Hal ini menyebabkan betina bunting tidak menerima cukup karbohidrat (energi) dari makanan yang dimakannya. Sehingga tubuh betina bunting akan memecah lemak dan digunakan sebagai sumber energi untuk dirinya sendiri dan untuk pertumbuhan anak–anaknya. Apabila hal ini terjadi terus menerus tanpa adanya karbohidrat yang cukup di dalam makanannya, Metabolisme lemak didalam tubuh menjadi tinggi untuk mempertahankan kehamilan yang menghasilkan keton. Maka benda–benda keton (toksik yang dihasilkan akibat pemecahan lemak) akan dilepaskan ke dalam pembuluh darah dan keton yang akan dapat menyebabkan keracunan. Apabila hal ini berlangsung lama dan tubuh betina bunting tidak dapat mendetoksifikasi, maka akan terjadi ketosis atau pregnancy toxemia.

  1. Kegemukan

Hal ini juga dapat terjadi pada hewan bunting betina yang terlalu gemuk. Lemak tersebut akan memakan ruang pada rumen sehingga rumen mengalami gangguan dalam menampung makanan. Selain itu perjalanan suatu penyakit lain juga dapat menyebabkan gangguan metabolik seperti ketosis. Pregnancy toxemia atau ketosis terjadi pada dua minggu terakhir kebuntingan.

  1. Deposisi Lemak

Selama kebuntingan, tubuh berusaha mendapat energi dari sumber lain ketika suplai karbohidrat rendah. Sumber alternatif produksi glukosa dari substansi nonkabohidrat yang mudah untuk sumber glukosa fetus. Kejadian pregnancy toxemia sering terjadi bersamaan dengan permulaan produksi susu. Selama masa akhir kebutingan rata-rata 30-40 gram/hari glukosa yang dibutuhkan setiap fetus (Browning, 2008).

Induk dengan cadangan lemak cukup dapat menjadi sumber energi cadangan. Proses penyimpanan lemak dengan konsekuensi kapasitas hati sehingga dapat menyebabkan hepatic lipidosis atau fatty liver dan akhirnya merusak fungsi hati. Ketika induk menghasilkan lemak pada jaringan akan menghasilkan racun tinggi sebagai zat buang yang disebut benda keton yang akan dilepas pada pembuluh darah yang menyebabkan peningkatan akumulasi lemak hati (Browning, 2008). Ketika ini terjadi terlalu cepat tubuh induk tidak dapat mendetoksifikasi keton cukup cepat.

  1. C.      GEJALA

Kejadian induk pregnancy toxemia seringkali terjadi 1-3 minggu sebelum kelahiran. Gejala induk yang menderita tampak lesu, lamban dan nafsu makan menurun. Gejala pertama yang umum terlihat pada domba betina adalah kehilangan nafsu makan. Sehingga induk menjadi tertekan dan memiliki kontrol otot yang lemah sehingga gemetar ketika bergerak, induk juga kehilangan ketidakseimbangaan tubuh sehingga sering sudah duduk susah berdiri dan sering kencing. Pada awal penyakit, domba betina akan menunjukkan hasil positif adanya benda keton dalam urin dan dicirikan dengan memiliki bau manis atau busuk. benda keton merupakan hasil dari pemecahan lemak yang ditemukan dalam darah dan urin. Biasanya terjadi kematian dalam beberapa hari. Kadangkala juga mengakibatkan kebutaan dan mengertakkan gigi atas dan bawah (gridding teeth) (Browning, 2008).

Gambar 1. Domba yang mengalami pregnancy toxemia

Gambar 2. Domba yang mengalami pregnancy toxemia

  1. D.      TIPE – TIPE PEGNANCY TOXAEMIA
    1. a.         Primary Pregnancy toxemia

Tipe ini disebabkan kekurangan nutrisi secara signifikan pada 6 minggu akhir kebuntingan. Sering terjadi pada saat musim dingin karena pakan yang dikonsumsi hanya rumput kering yang hitam danwitchgrass. Sehingga konsumsi rumput hijau menjadi jarang. Diikuti penurunan pemberian pakan tambahan seperti gandum, disertai cuaca yang buruk ataupun disebabkan stress (misalnya karena pengangkutan, dikejar, dsb). Pemberian hay tidak dapat mencukupi kebutuhan energi sehingga pencegahan harus menjadi fokusnya.

  1. b.         Fat Ewe Pregnancy toxemia

Tipe ini terkait juga dengan cuaca buruk dan keracunan makanan. Dapat juga disebabkan rumen terdesak oleh lemak di perut dan anak yang kembar serta karena management pemeliharaan yang bermasalah.

  1. c.         Secondary Pregnancy toxemia

Tipe ini terjadi disebabkan akibat ganggguan primer yang dapat menyebabkan pregnancy toxemia. Misalnya laki mengalami abses saat bunting di akhir musim dingin sehingga hewan merasakan kesakitan, tidak mau bergerak dan tidak mau makan. Sulit untuk menilai apakah hewan tersebut sakit biasa atau terkena pregnancy toxemia. Treatment yang digunakan yaitu fokus awal untuk mengobati abses kemudian terhadap pregnancy toxemia. Setelah beranak, maka akan merangsang kortison untuk menurunkan berat badan hewan betina dan menurunkan glukosa darah.

  1. d.         Starvation Pregnancy toxemia

Tipe ini terjadi ketika hewan betina dalam kondisi yang kekeringan yang berkepanjangan atau tidak terawat dengan baik namun tipe ini jarang ditemui.

  1. E.       PATOGENESA

Patogenesa dari pregnancy toxemia yaitu sebagai berikut :

  1. Gangguan Konsumsi Karbohidrat

Betina bunting à kebutuhan energinya á tetapi suplai pakan â, fetus >1, kapasitas rumen â à memecak lemak tubuh à benda keton à masuk pembuluh darah à pregnancy toxemia

  1. Kegemukan

Betina bunting à kebutuhan energinya á tetapi suplai pakan â, lemak á, kapasitas rumen â à memecak lemak tubuh à benda keton à masuk pembuluh darah à pregnancy toxemia

  1. Deposisi Lemak

Betina bunting à kebutuhan energinya á tetapi suplai pakan â, à mencari nonkarbohidrat à deposisi lemak á à hepatic lipidosis atau fatty liver à lemak jaringan àmasuk pembuluh darah à pregnancy toxemia

  1. F.       PATOLOGI KLINIK

Apabila dilakukan pemeriksaan darah dan urin maka akan didapatkan hasil hypoglycemia (kekurangan gula dalam darah yang menyebabkan acetonaemia pada ruminansia dan pregnancy toxaemia). Dari pemeriksaan darah ditemukan pula ketonemia sehingga pada urin terjadi ketonuria. Terbaca terjadi metabolisme acidosis dimana kondisi pengurangan cadangan alkali pada darah atau jaringan dengan atau tanpa penurunan pH yang jelas. Selain itu ditemukan darah dalam urin (uremia) serta peningkatan BUN.

  1. G.      DIAGNOSA

Untuk keakuratan diagnosa sangat penting diketahui penyakit gangguan metabolit lain yang menjadi differensial dagnosa yang memiliki gejala yang sama seperti hypocalcemia atau hypomagnesemia pada darah. Penyakit lain yang memiliki gejala gangguan syaraf yang sama yaitu polioencephalomalacia, enterotoxemia, rabies, listeriosis dan keracunan. Pemeriksaan laboratorium cepat sangat penting untk diagnosa dan pengobatan pregnancy toxemia. Selain hasil uji laboratorium darah dan urin, data recording induk juga sangat penting. Seringkali kadar glukosa darah normal dan beberapa kadar glukosa tinggi sehingga kadar glukosa bukan menjadi parameter dalam diagnosa pregnancy toxemia (Browning, 2008).

  1. H.      PROGNOSIS

Ramalan didasarkan pada kadar acidosis, dehidrasi dan kegagalan hati dan ginjal yang mungkin terjadi serta kematian fetus (Browning, 2008).

  1. I.         NEKROPSI

Pada induk yang mati ketika dinekropsi akan adanya lemak yang menyelimuti hati sehingga pada jaringan hati, pembesaran ginjal (Browning, 2008).

  1. J.        PENGOBATAN

Pengobatan akan berhasil apabila diagnosa dilakukan pada awal pregnancy pregnancy toxemia. Pengobatan pada awal munculnya gejala cukup sederhana, yaitu dengan memberikan makanan dalam bentuk yang mudah diubah menjadi energi (glukosa) (Browning, 2008).

Metode pengobatan pregnancy toxemia berdasarkan (Browning, 2008):

–            Pemberian glukosa 5-7g secara intravena 8x/hari

–            Pemberian propylene glycol secara oral 4 ons/4x/hari bersama penambahan insulin pada induk kambing cukup membantu

–            Pemberian cairan sodium bicarbonate secara intravena atau oral untuk pengobatan ketoacidosis.

–            Pemberian 20-40 IU protamine zinc insulin secara intramuscular baru-baru ini dapat membantu memetabolisme glukosa.

–            Penambahan cairan elektrolit (dextrose 5%) secara intravena atau subkutan juga direkomendasikan.

–            Apabila mungkin, penggunaan USG untuk menentukan banyak fetus yang sehat. Untuk mempermudah proses kelahiran dapat memberikan dexamethasone 15-20mg secara intravena atau intramuscular.

–            Pada induk yang mati, fetonomy (pengambilan fetus/caesar) direkomendasikan diikuti pemberian antibiotik procaine penicillin g 20.000 IU/kg untuk pencegahan infeksi.

–            Pemberian vitamin B kompleks secara intramuskular dan probiotic secara oral dapat menjadi pertimbangan.

–            Perawatan harus dihentikan ketika induk menunjukkan kemajuan.

–            Sedangkan pada induk yang mengalami koma, pengobatan sangat mahal dan kesembuhannya sangat kecil

  1. K.      PENCEGAHAN
    1. Pakan

Manajemen pakan yang baik dibutuhkan pada masa akhir kebutingan. Selama 6 minggu terakhir kebuntingan, penyediaan biji-bijian sebagai sumber karbohidrat essensial. Induk dengan kebuntingan kembar harus diberi pakan dengan energi yang cukup sesuai TDN (Browning, 2008). Biji–bijian atau gandum merupakan sumber energi tinggi. Pemberian gandum 1-2 pounds dengan dicampur dengan hay berkualitas tinggi pada 4-6 minggu terakhir kebuntingan akan dapat mencegah terjadinya pregnancy toxemia. Apabila hewan betina bunting lebih besar, maka konsumsi gandum dapat ditingkatkan 50% sampai 100%.

Gambar 3. Biji-bijian yang dapat digunakan sebagai pakan pencegahan untuk pregnancy toxemia Gambar 4. Suasana ternak makan jagung

Peternak harus cermat terhadap tingkat kebutuhan energi pada pemberian pakan termasuk kualitas pakan dan ketersediaanya, berat badan induk, BCS dan banyaknya fetus. Keseimbangan tingkat protein dalam kosentrat sangat penting karena protein harus tersedia untuk menjalankan fungsi microbial rumen. Sumber utama energi berasal dari hijauan dengan karbohidrat kompleks yang tinggi, selulosa, hemiselulosa dan pectin. Tubuh induk tidak dapat mencernanya tetapi populasi microbial rumen dapat melakukannya. Bakteri dan protozoa rumen dapat mengurangi selulosa dan hemiselulsa sebagai konsekuensi dalam menyediakan energi untuk induk. Pertimbangan penyediaan konsetrat dengan rasio ionophores yang dapat meningkatkan fungsi rumen dengan menguapkan asam lemak propionic sebagai produksi energi. Juga menghindarkan induk dari stress dan perubahan pakan yang mendadak pada masa akhir kebuntingan (Browning, 2008).

  1. Operasi

Operasi caesar untuk mengeluarkan fetus lebih awal dan pemberian kortikosteroid dapat digunakan untuk mencegah.

  1. USG

Penggunaan USG untuk memeriksa jumlah fetus juga dapat membantu mengatur ransum yang tepat untuk induk.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Browning, M.L, Correa J.E. 2008. Pregnancy Toxemia (Ketosis) in Goats. Alamaba : Alabama A&M And Auburn Universities. www.aces.edu/urban-UNP-106.pdf

Dalrymple, E.F. 2004. Pregnancy Toxemia In A Ferret. Can Vet J. 2004 February; 45(2): 150–152. Canadian Veterinary Medical Association

Jackie Nix. 2004. Ketosis Or Pregnancy Toxemia In The Ewe. http://www.sweetlix.com

Jackie Nix. 2006. Ketosis Or Pregnancy Toxemia In The Doe. http://www.sweetlix.com

LeValley, S. 2012. Pregnancy Toxemia (Ketosis) in Ewes and Does. Colorado State University Extension

Macfarlane, J and Walker, B. 2007. Pregnancy Toxaemia In Beef Cattle. Primefact 335 www.dpi.nsw.gov.au

Schoenian, Susan. 2004. Pregnancy Toxemia In Ewes And Does. University Of Maryland Extension. http://sheepandgoat.com

TEKNOLOGI REPRODUKSI DAN INSEMINASI BUATAN : Kriopreservasi Semen Babi

 

TUGAS TERSTRUKTUR

TEKNOLOGI REPRODUKSI DAN INSEMINASI BUATAN

 

Kriopreservasi Semen Babi

 

 

Oleh:

      Fitri Amalia Riska                0911310012

      Hendra Legawata                 0911310014

      Deshinta Rizky P                   0911310037

      Prima Santi                            0911310056

     

 


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2011

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1    Latar Belakang

Teknologi reproduksi merupakan satu kesatuan dari teknik-teknik rekayasa sistem reproduksi hewan yang dikembangkan melalui suatu proses penelitian dalam bidang reproduksi hewan secara terus menerus dan berkesinambungan dengan hasil berupa alat, metoda ataupun alat dan metoda yang dapat diaplikasikan dengan tujuan tertentu. Terdapat banyak sekali teknologi reproduksi yang bisa diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan usaha peternakan yang ditujukan untuk meningkatkan populasi dan produksi. Beberapa diantaranya telah dipakai di Indonesia namun sebagian besar masih merupakan teknologi yang langka yang umumnya dikarenakan biaya perlakuannya dan peralatannya sangat mahal.

Inseminasi Buatan sangat populer pada ternak saat ini. Keberhasilan yang lebih besar daripada kawin alami merupakan salah satu faktor. Pada sapi, kambing, babi, kuda telah dilakukan begitupula pada ayam. Permintaan semen beku dari pejantan unggul menjadi semakin tinggi. Metode pembuatan semen beku berkualitas pada sapi dan kambing menjadi topik di Indonesia. Namun pembuatan semen beku untuk babi jarang sekali dilakukan. Oleh karena itu kami akan mengangkat topik mengenai Kriopreservasi (Penyimpanan) Untuk Babi.

 

1.2    Tujuan

1.2.1    Apa yang dimaksud dengan kriopreservasi dan bagaimana teknik kriopreservasi?

1.2.3    Bagaimana aspek-aspek praktis dari kriopreservasi semen?

1.2.4    Apakah faktor yang mempengaruhi kriopreservasi?

1.2.5    Apakah faktor-faktor yang dapat merusak spermatozoa selama pemyimpanan?

1.2.6    Apakah kelebihan dan kekurangan pada kriopreservasi?

 

1.3    Manfaat

1.3.1        Untuk mengetahui informasi dari teknologi reproduksi yaitu kriopreservasi sperma pada babi

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1         Kriopreservasi

Secara teoritis, kriopreservasi berasal dari kata krio yang berarti beku, dan preservasi yang berarti penyimpanan pada temperatur rendah. Jadi kriopreservasi adalah teknik penyimpanan materi genetik dalam keadaan beku pada temperatur rendah atau suatu teknik penyimpanan sel hewan, tumbuhan dan materi genetika lainnya (termasuk semen dan oosit) dalam keadaan beku melalui reduksi aktivitas metabolisme tanpa mempengaruhi organel-organel di dalam sel, fungsi fisiologi, biologi, dan morfologi (Suprianata dan Pasaribu, 1992).

Metode kriopreservasi sel spermatozoa dibedakan atas pembekuan lambat (slow freezing), pembekuan cepat (rapid freezing), dan pembekuan sangat cepat (ultra rapid freezing). Prinsip yang terpenting dari kriopreservasi sel spermatozoa ialah pengeluaran air dari dalam sel (dehidrasi) sebelum membeku intraseluler. Bila tidak terjadi dehidrasi akan terbentuk kristal es besar dalam sel yang dapat merusak sel dan bila terjadi dehidrasi yang sangat hebat maka sel akan mengalami kekeringan sehingga sel mati (Supriatna dan Pasaribu 1992). Prinsip perpindahan air keluar masuk membran, baik dehidrasi sebelum deep freezing maupun rehidrasi pada saat pencairan kembali (thawing) menjadi perhatian khusus.

Pada dasarnya tujuan utama kriopreservasi sel spermatozoa ialah melestarikan plasma nutfah yang mendekati kepunahan dan mendukung program teknologi inseminasi buatan (IB) pada ternak. Keuntungan kriopreservasi sel spermatozoa ialah sel spermatozoa dapat disimpan dalam waktu yang tidak terbatas dan dapat digunakan kapan saja bila diperlukan (Toelihere 1985).

 

2.2         Teknik Kriopreservasi

Teknik kriopreservasi dapat dibedakan atas teknik lama (klasik) dan teknik baru :

  1. Teknik lama (klasik)

Teknik ini didasarkan pada freeze-induced dehydration, yaitu dehidrasi yang diinduksi dengan pembekuan pada suhu di bawah titik beku air hingga -40°C. Teknik lama juga disebut teknik pembekuan lambat atau teknik pembekuan dua tahap. Teknik pembekuan dua tahap meliputi inkubasi sel pada krioprotektan dengan total konsentrasi 1-2 M yang menyebabkan dehidrasi moderat dan diikuti oleh pembekuan lambat, misalnya dengan kecepatan 1°C per menit hingga suhu -35°C, lalu pembekuan dalam nitrogen cair dan selanjutnya thawing (pelelehan) (Ika dan Ika, 2003).

  1. Teknik baru

Teknik ini didasarkan pada vitrification, yaitu dehidrasi yang diinduksi pada suhu di atas titik beku air. Vitrification (vitrifikasi) adalah fase transisi air dari bentuk cair menjadi bentuk nonkristalin atau amorf, tembus pandang (glassy) karena elevasi ekstrim dari larutan yang viskos selama pendinginan. Teknik vitrifikasi didasarkan pada dehidrasi sel pada suhu non-freezing (tidak beku), yaitu dengan merendam bahan dalam larutan krioprotektan dengan total konsentrasi 5-8 M pada suhu 0-25°C dan diikuti oleh pembekuan dan selanjutnya pelelehan. Macam-macam teknik baru antara lain (1) vitrifikasi, (2) enkapsulasidehidrasi, (3) enkapsulasi-vitrifikasi, (4) desikasi, (5) pratumbuh, (6) pratumbuh-desikasi, dan (7) dropplet-freezing (Ika dan Ika, 2003).

Adapun penjelasannya sebagai berikut:

  1. Pada teknik vitrifikasi, bahan diperlakukan dengan senyawa krioprotektif dan dehidrasi dengan larutan vitrifikasi, lalu diikuti dengan pembekuan cepat, pelelehan, dan pembuangan krioprotektan serta pemulihan kultur.
  2. Teknik enkapsulasidehidrasi didasarkan pada teknologi yang telah dikembangkan pada produksi benih sintetik. Pada teknik tersebut, bahan dienkapsulasi pada kapsul alginat, lalu ditumbuhkan pada medium yang diperkaya dengan sukrosa dan dikeringkan secara parsial dalam laminar air flow cabinet atau gel silika hingga kandungan air sekitar 20% dan diikuti oleh pembekuan cepat (Ika dan Ika, 2003).
  3. Teknik enkapsulasi-vitrifikasi merupakan kombinasi antara teknik vitrifikasi dan enkapsulasidehidrasi, yaitu bahan dienkapsulasi dengan kapsul alginat, lalu dibekukan dengan teknik vitrifikasi.
  4. Teknik desikasi merupakan teknik yang paling sederhana, yaitu mengeringkan bahan dalam laminar air flow cabinet, gel silika atau flash drying hingga kandungan air 10-20%, kemudian diikuti oleh pembekuan cepat (Ika dan Ika, 2003).
  5. Teknik pratumbuh meliputi penanaman bahan ke dalam media yang mengandung krioprotektan, lalu diikuti oleh pembekuan cepat.
  6. Teknik pratumbuh-desikasi dilakukan dengan menanam bahan ke dalam media yang mengandung krioprotektan, lalu mengeringkannya dalam laminar air flow cabinet atau gel silika dan diikuti oleh pembekuan cepat.
  7. Droplet-freezing diawali dengan pra-perlakuan bahan ke dalam media cair yang mengandung krioprotektan, lalu meletakkan pada Al-foil yang disertai dengan droplet krioprotektan dan diikuti oleh pembekuan cepat (Ika dan Ika, 2003).

Teknik lama memerlukan peralatan terprogram yang cukup mahal harganya, sedangkan teknik baru tidak memerlukan peralatan canggih dan prosedurnya relatif lebih mudah. Teknik lama memerlukan peralatan pembekuan, digunakan pada kultur sel, dan lebih sulit diaplikasikan pada unit sel yang lebih besar seperti tunas apikal atau embrio. Teknik lama berhasil diterapkan pada sistem kultur yang tidak terdiferensiasi (suspensi sel dan kalus) dan spesies yang toleran terhadap suhu dingin, namun tidak berhasil diterapkan pada spesies tropis. Teknik vitrifikasi telah berhasil diterapkan pada spesies dengan skala yang lebih luas (tropis dan subtropis) dan sistem kultur yang lebih kompleks (embriosomatik, suspensi sel, dan meristem apikal) (Ika dan Ika, 2003).

 

2.3         Aspek-Aspek Praktis dari Kriopreservasi Semen

Pemrosesan semen pada kriopreservasi telah dijelaskan sebelumnya. Semen dikemas dalam straw (0,25 dan 0,5 ml) untuk pembekuan dan penyimpanan, atau dibekukan sebagai pelet pada depresi dangkal es kering. Straw dibekukan dalam fase uap diatas nitrogen cair atau pada mesin pembeku dengan laju terkontrol. Spermatozoa dikemas dalam bentuk straw 0,2 ml atau sekitar 10 – 15 juta sel spermatozoa yang diinseminasikan langsung dari straw sesudah pencairan. Sedangkan semen babi dapat dibekukan pada kuantitas yang lebih besar dengan volume 200 µl pada tabung 10 – 15 ml spermatozoa untuk satu kali inseminasi.

Hewan ternak seperti biri-biri, rusa dan hewan ruminansia eksotik lainnya dapat menggunakan pipet khusus inseminasi laparoskopis yang telah dikembangkan dengan ukuran straw 0,25 ml dan jumlah sperma lebih rendah dari metode inseminasi secara trans servikal. Inseminasi dapat dilakukan setelah proses pencairan dalam waktu beberapa detik dengan menggunakan pipet trans servikal. Cara yang lebih mudah untuk mencairkan sampel semen dengan mengurangi konsentrasi simultan krioprotektan yang dapat memberikan keunggulan secara cepat dan jelas setelah proses pencairan basah dengan menuangkan pelet ke dalam larutan khusus. Pencairan straw biasanya dilakukan dengan pencelupan dalam bak air hangat dengan suhu optimum dan kombinasi waktu dapat digunakan dalam penelitan ini dengan pencairan pada suhu maksimum (60-70°C). Teknik pencairan dengan laju penghangatan yang lebih cepat dan dapat menghasilkan kualitas sperma yang baik (Pursel dan Park. 1985). Penyimpanan volume sel lebih besar dapat menyebabkan membran pecah (Bailey et al., 1994). Parkinson dan whitfield (1987) menyatakan bahwa periode pendinginan dan pembekuan dapat mempengaruhi kelangsungan hidup sperma dan meningkatkan fertilitas spermatozoa. Volume pembekuan yang lebih besar seperti maxi-straw atau kantung plastik dapat mempengaruhi kebutuhan dan pengembangan sistem control suhu yang lebih selektif.

 

2.4         Faktor yang Mempengaruhi Kriopreservasi

Sejumlah faktor yang mempengaruhi keberhasilan kriopreservasi dengan teknik pembekuan lambat adalah (1) kecepatan pembekuan, (2) jenis dan konsentrasi krioprotektan, (3) suhu akhir pembekuan, dan (4) tipe dan keadaan fisiologis bahan yang akan disimpan. Jika pembekuan terlalu lambat maka sel terlalu terdehidrasi sehingga konsentrasi zat elektrolit dalam sel menjadi tinggi. Jika pembekuan terlalu cepat maka sel kurang mengalami dehidrasi sehingga terjadi formasi es intraseluler yang bersifat letal.

Penambahan krioprotektan dapat memelihara keutuhan membran dan meningkatkan potensial osmotik media sehingga cairan di dalam sel mengalir keluar dan terjadi dehidrasi. Krioprotekan yang umum digunakan adalah DMSO, gliserol, PEG, sorbitol, dan manitol. Senyawa dalam krioprotektan dapat dipisah menjadi dua, yaitu senyawa yang dapat masuk ke dalam sel (permeating agent) seperti DMSO, gliserol (pada suhu tertentu) dan yang tidak dapat masuk ke dalam sel (non permeating agent) seperti sukrosa dan gula alkohol (manitol, sorbitol) (Ika dan Ika, 2003).

Selama pembekuan dan pelelehan, sel dapat mengalami kerusakan sebagai akibat dari (1) eksposur bahan pada suhu rendah, (2) formasi kristal es, (3) sel terdehidrasi, dan (4) formasi radikal bebas. Eksposur pada suhu rendah dapat menyebabkan inaktivasi protein yang sensitif terhadap suhu dingin. Sebagian besar formasi es intraseluler bersifat letal dan pada dasarnya sel dapat mentolelir formasi es ekstraseluler. Namun demikian, formasi es ekstraseluler juga dapat merusak sel karena daya mekanis dari kristal es yang tumbuh, gaya adesi kristal es terhadap membran, interaksi elektris yang disebabkan oleh perbedaan solubilitas ion pada fase es dan cair, formasi gelembung udara intraseluler, luka khemis yang berhubungan dengan peroksidase lipid dan perubahan pH pada lokasi tertentu (Ika dan Ika, 2003).

Sel yang terdehidrasi terlalu kuat dapat mengalami plasmolisis yang kuat pula sehingga berakibat terhadap perubahan pH, interaksi mikromolekuler, dan peningkatan konsentrasi zat elektrolit. Pada saat pelelehan, kontraksi osmotik dapat menyebabkan endositotik vesikulasi irreversibel yang mengakibatkan sel lisis karena bahan membran yang baru tidak mampu memfasilitasi deplasmolisis (Ika dan Ika, 2003).

 

2.5         Faktor-Faktor yang Dapat Merusak Spermatozoa Selama Pemyimpanan

Kejadian yang dapat merusak dan menurunkan viabilitas spermatozoa selama proses penyimpanan dan pembawa materi genetik ternak (sel gamet) dengan teknik kriopreservasi yaitu kejutan dingin (cold shock) dan pembentukan krista-kristal es. Kejutan dingin terjadi karena adanya penurunan suhu secara mendadak dibawah suhu 0°C. berkaitan erat dengan fase pemisahan dan penurunan sifat-sifat permeabilitas secara selektif dan membran bioligik sel hidup (Watson, 1995).

Pengaruh kejutan dingin terhadap pembawa materi genetik ternak dapat dilihat pada sel spermatozoa dan sel telur (oosit). Pada sel spermatozoa, kejutan dingin menyebabkan terjadi penurunan motilitas, pelepasan enzim pada akrosom, perpindahan ion melewati membran dan penurunan kandungan lipid (fosfolipid dan kolestrol) yang berperan untuk mempertahankan integritas struktural-membran plasma (Weitze dan Petzoidt, 1992; White, 1993).

Pembentukan kristal-kristal es berkaitan erat dengan perubahan tekanan osmotik dalam fraksi yang tidak beku (Watson, 2000). Pengaruh pembentukan kristal-kristal es terhadap pembawa materi genetik ternak selama proses kriopreservasi dapat dilihat pada sel spermatozoa dan sel telur. Pada sel spermatozoa dapat menyebabkan penurunan motilitas dan viabilitas spermatozoa, peningkatan pengeluaran enzim-enzim intraseluler ke ekstraseluler dan kerusakan pada organel-organel sel, seperti mitokondria dan lisosom (Suprianata dan Pasaribu, 1992; Dhani dan Sahni, 1992). Apabila mitokondria rusak dan rantai oksidasi putus akan mengakibatkan spermatozoa berhenti bergerak karena tidak ada pasokan energi dari organel mitokondria. Sumber energi mitokondria berperan untuk menggertak mikrotubul sehingga terjadi pergesekan diantara mikrotubul sehingga spermatozoa dapat bergerak secara bebas (motil).

 

2.6         Kelebihan dan Kekurangan

Setiap teknik penyimpanan mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pada penyimpanan in vitro jangka pendek dan jangka menengah diperlukan tindakan subkultur yang berulang-ulang sehingga kurang efisien dalam hal waktu, tenaga, ruangan, dan biaya. Tindakan tersebut juga dapat menyebabkan kultur mengalami kontaminasi dan kehilangan vigoritas dan berpeluang terjadinya perubahan genetik akibat penggunaan zat penghambat tumbuh dalam jangka waktu yang relatif lama (Ika dan Ika, 2003).

Dengan teknik kriopreservasi, kekurangan dari metode penyimpanan in vitro tersebut dapat ditekan seminimal mungkin karena bahan disimpan dalam ruangan bersuhu sangat rendah. Pada suhu yang sangat rendah, sel-sel tidak mempunyai aktivitas metabolik dengan viabilitas yang tetap terpelihara sehingga bahan dapat disimpan dalam jangka waktu yang sangat lama tanpa memerlukan tindakan subkultur yang berulang-ulang. Keuntungan lain dari kriopreservasi sel spermatozoa ialah sel spermatozoa dapat disimpan dalam waktu yang tidak terbatas dan dapat digunakan kapan saja bila diperlukan (Ika dan Ika, 2003).

 

BAB III

REVIEW

 

Pengaruh  kriopreservasi pada kualitas semen dan ekspresi transporter heksosa membran sperma pada spermatozoa babi Iberia

 

Perkembangan teknik kriopreservasi semen dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian untuk pelestarian materi genetik spesies disebagian Negara. Meskipun penggunaan semen beku untuk inseminasi buatan telah berkembang pesat pada ternak komersial. Hal tersebut belum popular pada babi, dimana semen disimpan dalam bentuk cair masih mendominasi dan 1% semen beku digunakan terutama ekspor inti genetic. Hal tersebut karena jumlah anak babi yang lahir dari inseminasi buatan hampir sama dengan perkawinan alami. Inseminasi buatan dinilai masih mahal walaupun lebih higiene.

Selain itu, spermatozoa babi menderita kerusakan membran dan ekor selama pendinginan dan pencairan, spermatozoa babi hanya bertahan hidup singkat. Sensitivitas dari membran sperma babi hutan untuk pendinginan dipengaruhi oleh karakteristik komposisi lipid pada membran. Komposisi lipid termodifikasi selama pembekuan dan pencairan. Perubahan struktural terjadi karenanya perubahan sumber energi sehingga metabolisme sel dan motilitas sperma. Transfer protein melalui membran sel ikut berpengaruh sehingga mengubah respon terhadap akrosom dan induksi kapasitasi selama pembuahan

Banyak metode yang telah dilakukan untuk mengurangi perubahan sperma selama proses, tetapi hasilnya masih jauh dari optimal. Semen kriopreservasi dari babi Iberia memungkinkan melestarikan variabilitas genetik melalui program bioteknologi reproduksi.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan variasi lokalisasi temporal heksosa transporter spesifik (GLUT-3 dan GLUT-5) selama pendinginan dan pencairan spermatozoa babi Iberia dengan perubahan dalam integritas membran plasma dan motilitas (kelangsungan hidup dan keutuhan metabolik).

 

Bahan

Sampel delapan muda berusia 8-10 bulan babi Iberia babi dari breed ‘Entrepelado’ ‘Lampino’ dikumpulkan. Percobaan dilakukan selama 3 bulan, semen dikumpulkan secara manual dua kali seminggu dan dianalisa untuk memastikan kualitas dan homogenitas. Semen dianalisis integritas membrane dan kinetik dengan immunoassay. Semen diperpanjang usianya dengan didinginkan pada 17oC untuk dikirim ke laboratorium.

 

Metode Kriopreservasi Semen

Semen segera diukur motilitas dan morfologi (minimal motilitas progresif 70% dan morfologis 80% )spermatozoa normal yang diproses. Ditambahkan diluter BTS Kemudian disentrifugasi berpendingin pada 17oC selama 10 menit. Supernatan dibuang dan pelet sisanya kembali diperpanjang dengan diluter laktosa-kuning telur (80 ml(80% v /v, 310 mM) 20 ml sehingga menghasilkan konsentrasi akhir 1,5×109 spermatozoa / ml. Konsentrasi sperma diukur dengan haemocytometer Buker.

Semen selanjutnya didinginkan ke 5oC selama 2 jam dalam sentrifus. Pada suhu ini, semen perlahan-lahan dicampur dengan diluter ketiga yang terdiri dari 89,5 ml Ley extender, 9 ml 1,5 ml gliserol dan STM Equex dengan 2:1 antara semen dan diluter menghasilkan konsentrasi akhir gliserol 3%  1x 109 spermatozoa / ml pada 5oC. Konsentrasi sperma diukur dengan haemocytometer Buker.

Spermatozoa dikemas pada 5oC di kabinet dalam 0,5 ml straw (PVC) disegel dengan PVC bubuk dan ditempatkan pada rak untuk pembekuan. Rak dimasukkan ke dalam freezer MABLE pada suhu 5oC. Pembekuan dilakukan dengan program yaitu 3-5oC selama 5 menit. 1 menit untuk kristalisasi dan kemudian 5-140oC selama 50 menit. Barulah dimasukkan kedalam N2 cair (-196oC) untuk penyimpanan.

 

Desain eksperimental

Kinetik sperma, integritas membran plasma dan ekspresi GLUT-3 dan GLUT-5 dinilai pada tiga tahap yang spesifik:

A)      setelah diperpanjang di Beltsville thawing solution (BTS) dan terus didinginkan pada  17oC pada 24 jam

B)      setelah kembali diperpanjang diekstender-II (lactose–egg yolk (LEY)) dan didinginkan sampai 5oC selama 2 jam

C)      pasca-thawing.

Untuk setiap tahap pengolahan semen (A-C), alikuot spermatozoa diambil dan diperiksa kinetik sperma untuk menggunakan computer-assisted spermanalysis (CASA) dan untuk integritas membran menggunakan SYBR14/ethidium homodimer (EthD-1). Sampel dianalisis setelah 20 menit inkubasi pada 38oC. Dari alikuot masing sampel ditetapkan resuspensi 0,5% (b/v) paraformaldehyde, dan smear hasil immunocytochemistry dari GLUT-3 dan GLUT-5,  kemudian pemeriksaan mikroskop elektron. Akhirnya, sampel diambil untuk Elektroforesis SDS dan westren blotting GLUT-3 dan GLUT-5.

Integritas membran plasma sperma dan motilitas perma integritas membran plasma dapat ditunjukkan dari SYBR-14 dan EthD-1 fluorophores. Adapun prosedurnya yaitu semen sampel (0,5 ml) ditambahkan 2,7 ml dari 1 mM SYBR-14 solusi dimethylsulphoxide (suspensi A). 20 ml suspensi A dicampur dengan 20 ml larutan B yang mengandung 4 ml EthD-1 dalam 1 ml PBS (pH 7,2-7,4).

Spermatozoa diinkubasi pada 34-37oC selama 30 menit dalam ruang gelap sebelum persiapan dari smear basah untuk pengamatan mikroskop fluoresensi. Spermatozoa diklasifikasikan menjadi tiga kategori berdasarkan warna: hidup (hijau), mati (merah) atau rusak (warna ganda) dan minimal harus memiliki 200 sperma yang motil. 20μl sampel sperma ditempatkan dalam counting chamber Makler prewarmed (38oC) dan dianalisis dengan  alat CASA. Setiap sampel minimum memiliki 200 spermatozoa per sampel dan menghitung  persentase spermatozoa motil progresif kecepatan lurus dan linier.

Selanjutnya mempersiapkan sampel untuk dianalisis menggunakan Western blotting. Adapun caranya yaitu sampel sperma dicuci dua kali dengan PBS dan disentrifugasi dua kali pada 600rpm selama 10 menit. Pelet disuspensikan dan kemudian dihomogenkan dengan buffer mixer pada es-dingin sonication. Suspensi homogen direbus dan kemudian disentrifugasi pada 10.000 rpm selama 15 menit pada 4oC. Supernatan dianalisis dengan western boltting. Kandungan total protein supernatan ini adalah dihitung dengan menggunakan metode Bradford (dengan kit). Kemudian dilakukan Immunocytochemistry and electron microscopy dan analisis statistik dengan MANOVA.

 

Hasil

Adapun kualitas sperma berdasarkan parameter fungsional sperma :

  1. Sperma integritas membran plasma. Persentase spermatozoa hidup setelah pencairan

(langkah C) secara signifikan lebih rendah pada Entrepelado daripada Lampino. Tidak ada perbedaan antara kedua breed pada langkah A dan B.

  1. Motilitas Sperma. Persentase motilitas kedua breed tidak menunjukkan perbedaan signifikan selama kriopreservasi antara Entrepelado dan Lampino. Perbandingan antara tiga tahapan proses kriopreservasi menunjukkan signifikan lebih rendah dari motilitas pasca-dicairkan air mani (langkah C) di kedua varietas, tetapi VSL tetap sama. Selain itu, persentase spermatozoa motil 0-30 menit pasca-thawing (stepC) sama, tetapi VSL secara signifikan lebih rendah setelah lebih dari 30menit pasca-thawing di kedua breed.
  2. Immunocytochemistry dari GLUT-3 dan GLUT-5. Analisis SEM dan TEM immunolabelling menunjukkan bahwa spermatozoa babi memiliki transporter heksosa (GLUT-3 dan GLUT-5) pada membran plasma luar dan dalam. Ekspresi dari transporter heksosa GLUT-3 isoform menunjukkan memiliki distribusi yang berbeda, baik dari segi lokasi dan konsentrasi antara spermatozoa pada semua prosedur (langkah A-C). Kekuatan immunoreactivity GLUT-3 diamati pada akrosom membran sperma pada 17oC (langkah A), padabagian anterior kepala terlihat batas equator. Dan bertahan hingga penyimpanan 5oC (langkah B) setelah menambahkan gliserol selama proses kriopreservasi pasca-thawing (langkah C), immunolabelling  kurang jelas baik terlihat intensitas dan distribusi transporter heksosa.

Immunolabelling isoform heksosa GLUT-5 pada 17oC (langkah A) terlihat berlokasi di apikal dan segmen wilayah acrosomal. Namun, immunoreactivity yang paling kuat terdeteksi sepanjang menghubungkan sepotong, bagian tengah dan bagian utama dari ekor sperma (Gambar 2). Sebaliknya GLUT-3 immunolabelling pola distribusinya dipertahankan pada 5oC (langkah B) dan pasca-thawing (langkah C).

Keberadaan transporter heksosa (GLUT-3 dan GLUT-5) dengan western blotting menunjukkan adanya pita spesifik sekitar 50 kDa selama pendinginan (langkah A dan B) dan pasca-thawing (langkah C). Intensitas band GLUT-3 spesifik pada supernatan dari sperma menurun pada semua prosedur (langkah A-C), sedangkan intensitas GLUT-5 meningkat selama langkah A-C.

 

Diskusi

Pendinginan sampai 5oC tampaknya tidak menjadi masalah, karena tidak ada perubahan signifikan yang terdeteksi baik di 17oC menjadi 5oC. Perubahan terjadi ketika pendinginan-pembekuan bawah 5oC. Pasca-thawing memberii efek pada akrosom sperma. Terjadi perubahan distribusi protein akibat dari relokasisasi transpoter heksosa 3 GLUT-dan GLUT-5 pada membran plasma spermatozoa. Semua protein ini terlokalisasi pada spesifik seluler kompartemen pada tingkat sperma kepala dan ekor untuk penyerapan glukosa dan fruktosa yang bertujuan menjaga metabolisme energi kedua transporter. Perubahan membran tersebut menurunkan kemampuannya sperma dalam menggunakan nutrisi energik sehingga motilitas menurun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sangat penting untuk masuknya substrat (dalam hal ini glukosa) ke dalam spermatozoa. Pada pasca-thawing berada ditengah dan bagian utama dari ekor. Distribusi GLUT-3 yang tidak merata pada sperma mempengaruhi metabolisme spermatozoa. Hal tersebut menunjukkan bahwa lokasi transporter heksosa spesifik yang tepat dapat memanfaatkan karbohidrat untuk mendapatkan energi.

Gangguan lipid terkait dengan pendinginan/ pembekuan / pencairan akan menyebabkan  perubahan dalam struktur membran caveolar sperma, yang mengubah lokasi dan keberadaan caveolae terkait membran protein seperti GLUT-3. Ekspresi GLUT-5 mengikuti pola yang berbeda, berpusat di wilayah pasca-acrosomal dan sepanjang bagian tengah dan bagian utama dari ekor dan tidak mengalami perubahan lokasi, distribusi atau intensitas meskipun spermatozoa rusak oleh proses kriopreservasi.

Perubahan struktural secara keseluruhan disebabkan oleh proses pendinginan atau pembekuan yang menyebabkan perubahan pada asosiasi GLUT-5 dengan non-larut struktur, dan hasilnya akan peningkatan kehadiran dari GLUT-5 dalam fraksi larut sperma. Di sisi lain GLUT-3 pada membran sel hanya akan hilang setelah pendinginan/pembekuan/pencairan, sehingga terjadi penurunan GLUT-3 dalam supernatan pasca-thawing.

Perubahan lokasi mempengaruhi kemampuan sperma babi untuk mengelola energi sehingga mengubah keseluruhan fungsi sperma setelah pencairan. Kesimpulan menegaskan penurunan kualitas sperma pada semen cryopreserved Iberia dan mengungkapkan bahwa suhu dibawah 5oC tampaknya menjadi faktor utama yang menjelaskan kegagalan sperma untuk bertahan hidup setelah proses pembekuan-pencairan. Selain itu, efek dari pendinginan-pembekuan suhu pada membran sperma babi hutan, kualitas gamet sperma itu sendiri.

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN

Menurut hasil review jurnal berjudul Pengaruh  kriopreservasi pada kualitas semen dan ekspresi transporter heksosa membran sperma pada spermatozoa babi Iberia (Sancho et al, 2007). Pembuatan semen beku pada babi sebenarnya tidak efisien. Hal tersebut karena jumlah anak babi yang lahir dari inseminasi buatan hampir sama dengan perkawinan alami. Inseminasi buatan dinilai masih mahal walaupun lebih higiene.  Namun jurnal ini menitikberatkan fungsi pembuatan semen beku untuk melestarikan variabilitas genetik babi melalui program bioteknologi reproduksi.

Pada jurnal ini menggunakan metode kriopreservasi teknik baru yang memiliki prinsip dehidrasi sel pada suhu non-freezing (tidak beku). dan diikuti oleh pembekuan dan selanjutnya pencairan. Proses pembuatan semen seperti halnya pada semen sapi. Dari proses tersebut dibagi tiga yang menjadi fokus pengamatan kualitas semen. Langkah A semen ditambahkan BTS (Beltsville thawing solution) pada suhu 17oC selama 24 jam, kemudian langkah B ditambahkan ekstender-II atau diluter kedua yaitu lactose–egg yolk (LEY) dan didinginkan sampai 5oC selama 2 jam. Kemudian dimasukkan ke straw PVC disegel dengan PVC bubuk dan ditempatkan pada rak untuk pembekuan. Rak dimasukkan ke dalam freezer MABLE pada suhu 5oC. Pembekuan dilakukan dengan program yaitu 3-5oC selama 5 menit. 1 menit untuk kristalisasi dan kemudian 5-140oC selama 50 menit. Barulah dimasukkan kedalam N2 cair (-196oC) untuk penyimpanan. Langkah C pengujian dilakukan pasca-thawing.

Menurut jurnal tersebut tidak ada perubahan signifikan yang terdeteksi baik di 17oC menjadi 5oC. Perubahan terjadi ketika pendinginan-pembekuan dibawah 5oC. Pasca-thawing memberi efek pada akrosom sperma. Terjadi perubahan distribusi protein akibat dari relokasisasi transpoter heksosa 3 GLUT-dan GLUT-5 pada membran plasma spermatozoa. Semua protein ini terlokalisasi pada spesifik seluler kompartemen pada tingkat sperma kepala dan ekor untuk penyerapan glukosa dan fruktosa yang bertujuan menjaga metabolisme energi kedua transporter. Perubahan membran tersebut menurunkan kemampuannya sperma dalam menggunakan nutrisi energik sehingga motilitas menurun.

Pada pasca-thawing GLUT-3 berada ditengah dan bagian utama dari ekor. Distribusi GLUT-3 yang tidak merata pada sperma mempengaruhi metabolisme spermatozoa. Hal tersebut menunjukkan bahwa lokasi transporter heksosa spesifik yang tepat dapat memanfaatkan karbohidrat untuk mendapatkan energi.

Gangguan lipid terkait dengan pendinginan atau pembekuan atau pencairan akan menyebabkan  perubahan dalam struktur membran caveolar sperma, yang mengubah lokasi dan keberadaan caveolae terkait membran protein seperti GLUT-3. Ekspresi GLUT-5 mengikuti pola yang berbeda, berpusat di wilayah pasca-acrosomal dan sepanjang bagian tengah dan bagian utama dari ekor dan tidak mengalami perubahan lokasi, distribusi atau intensitas meskipun spermatozoa rusak oleh proses kriopreservasi.

Perubahan struktural secara keseluruhan disebabkan oleh proses pendinginan atau pembekuan yang menyebabkan perubahan pada asosiasi GLUT-5 dengan non-larut struktur, dan hasilnya akan peningkatan kehadiran dari GLUT-5 dalam fraksi larut sperma. Di sisi lain GLUT-3 pada membran sel hanya akan hilang setelah pendinginan atau pembekuan atau pencairan, sehingga terjadi penurunan GLUT-3 dalam supernatan pasca-thawing.

Perubahan lokasi mempengaruhi kemampuan sperma babi untuk mengelola energi sehingga mengubah keseluruhan fungsi sperma setelah pencairan. Kesimpulan menegaskan penurunan kualitas sperma pada semen cryopreserved Iberia dan mengungkapkan bahwa suhu dibawah 5oC tampaknya menjadi faktor utama yang menjelaskan kegagalan sperma untuk bertahan hidup setelah proses pembekuan-pencairan. Selain itu, efek dari pendinginan-pembekuan suhu pada membran sperma babi hutan, kualitas gamet sperma itu sendiri.

 

BAB V

PENUTUP

 

Pembuatan semen beku pada babi sebenarnya tidak efisien. Hal tersebut karena jumlah anak babi yang lahir dari inseminasi buatan hampir sama dengan perkawinan alami. Inseminasi buatan dinilai masih mahal walaupun lebih higiene.  Namun jurnal ini menitikberatkan fungsi pembuatan semen beku untuk melestarikan variabilitas genetik babi melalui program bioteknologi reproduksi. Dari jurnal tersebut diketahui bahwa proses pembuatan semen beku pada babi masih belum menemukan metode yang tepat karena perubahan letak transpoter heksosa sangat mempengaruhi motilitas dan viablitas dari sel sperma pada babi.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bailey JL, Buhr MM. 1994. Cryopreservation alters the Ca2+ flux of bovine spermatozoa. Can J Anim Sci 74.

Ika Roostika Tambunan dan Ika Mariska. 2003.  Pemanfaatan Teknik Kriopreservasi dalam Penyimpanan Plasma Nutfah Tanaman. Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian. Bogor

Toelihere MR. 1985. Inseminasi Buatan pada Ternak. Bandung: Angkasa. Jones RC, Martin ICA. 1973. The effects of dilution egg yolk and cooling to 50

S Sancho, I Casas et all. Effects of cryopreservation on semen quality and the expression of sperm membrane hexose transporters in the spermatozoa of Iberian pigs. Reproduction (2007) 134 111–121

Suprianata, I. dan F.H. Pasaribu. 1992. In Vitro Fertization, Transfer Embrio dan Pembekuan Embrio. Pusat Antar Universitas, Institut Pertanian Bogor.

Watson, P.F. 2000. The Causes of reduced fertility with cryopreserved semen. Anim. Reprod.

Weitze, K.F. and R. Petzoldt. 1992. Preservation of semen. Anim. Repord.

PENYAKIT MIKROBIAL DAN PARASITER : Bovine Viral Diarrhea

TUGAS TERSTRUKTUR

PENYAKIT MIKROBIAL DAN PARASITER II

 

BOVINE VIRAL DIARRHEA

 

 

 

Disusun Oleh

PRIMA SANTI

0911310056

PDH-A-2009

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2011

Bovine diare virus virus (BVDV) adalah permasalahan pada sapi-sapi ternak yang menenyebabkan infertilitas, aborsi, diare, penyakit pernapasan, melemahnya sistem kekebalan tubuh, yang meningkatkan kerentanan terhadap penyakit (imunosupresi) lain, dan banyak lagi.

 

  1. A.    Etiologi

Bovine diare virus virus (BVDV) adalah anggota pestivirus genus. Ada empat spesies dalam genus pestivirus. spesies ini yang BVDV-1, BVDV-2, border disease virus pada domba dan virus classical swine fever. Infeksi BVDV diklasifikasikan menjadi tiga sindrom klinis: akut (transien), infeksi janin infeksi dan infeksi persisten (gambar 1).

  1. B.     Gejala Klinis

Beberapa gejala klinis dibedakan berdasarkan infeksinya sebagai berikut :

1)      Infeksi akut (transien) hanya berlangsung dari beberapa hari sampai beberapa minggu tetapi dapat mengakibatkan demam, diare, penyakit pernapasan, masalah reproduksi, dan banyak lagi tergantung pada usia dan status kekebalan tubuh hewan yang terinfeksi, serta strain BVDV yang menginfeksi. Beberapa hewan tidak menunjukkan tanda-tanda klinis dari infeksi BVDV (penyakit subklinis), tetapi member efek imunosupresif sehingga virus melemahkan sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan rentan terhadap penyakit lain. Sebagian besar hewan pulih dalam beberapa minggu, tetapi beberapa hewan akan mati.

2)      Infeksi Janin. Sebagian besar infeksi akut pada sapi BVDV dan Heifers bersifat subklinis, tetapi jika sapi bunting,  janinnya dapat menjadi terinfeksi, sehingga dalam berbagai konsekuensi. Infeksi janin dapat terjadi setiap saat janin terkena BVDV, tapi hasilnya bervariasi tergantung pada strain virus dan usia kebuntingan. Aborsi dapat terjadi selama kebuntingan, namun lahir cacat dan infeksi persisten terjadi selama spesifik periode kehamilan (gambar 2):

  • Infeksi selama musim kawin bisa mengakibatkan infertilitas atau kematian embrio dini.
  • Infeksi pada paruh pertama kehamilan dapat mengakibatkan aborsi atau infeksi persisten pedet.
  • Infeksi pada paruh kedua kehamilan bisa mengakibatkan aborsi, cacat lahir, bayi lahir mati, atau lemah sapi, tetapi tidak menyebabkan infeksi persisten pedet.

3)      Infeksi persisten (PI) pedet terjadi ketika janin terkena BVDV selama paruh pertama kebuntingan (Gambar 3). Pada masa tersebut sistem kekebalan janin belum cukup berkembang untuk merespon infeksi BVDV. Janin kemungkinan aborsi tetapi jika janin bertahan kemungkinan akan berkembang menjadi pedet PI. Beberapa pedet PI tumbuh buruk sementara yang lain mungkin terlihat sehat dan tumbuh sangat baik, sehingga tidak mungkin mendeteksi hewan PI secara visual. Sebagian besar hewan PI mati pada umur 2 tahun, tetapi beberapa akan bertahan beberapa tahun dan carier BVDV sepanjang  hidup dan

menjadi ancaman bagi kesehatan ternak.

 

  1. C.    Transmisi

BVDV tidak dapat bertahan sangat panjang (kurang dari 3 minggu) hidup di lingkungan, transmisi secara langsung antara hewan yang paling umum. Hewan dengan infeksi akut biasanya merupakan sumber transmisi BVDV, tetapi hewan PI menularkan jutaan virus setiap hari sehingga merupakan sumber konstan eksposur BVDV dalam kelompok karena melalui air liur, lendir, air mata, susu, kotoran, urin, dan setiap sekresi tubuh lainnya (gambar 4).

Manusia tidak rentan terhadap BVDV namun infeksi menyebabkan imunosupresi yang dapat meningkatkan kerentanan dari hewan yang terinfeksi dengan virus lain dan bakteri mungkin mempengaruhi kesehatan manusia misalnya virus bovine rhinotracheitis virus, bovine respiratory syncytial virus, rotavirus, coronavirus, bovine popular stomatitis virus, E. coli, and Salmonella spp.

 

  1. D.    Patogenesis

Virus masuk ke dalam tubuh melalui leleran tubuh kemudian masuk ke dalam saluran limfatik kemudian menyebabkan viremia yang berlangsung 15-60 hari setelah infeksi. Virus bersifat imunosupresif menyebabkan penurunan limfosit T. Pada hewan bunting dapat menembus plasenta dan janin menjadi serum pada umur tujuh bulan, tapi bila terjadi pada kebuntingan awal dapat terjadi toleransi imunogenik jadi pedet lahir dengan status serum negative. Dan akibat imunosupresif virus penderita terkena infeksi sekunder.

 

  1. E.     Diagnosis

Diagnosa dilakukan dengan melihat gejala klinis, pemeriksaan serologis, mengisolasi virus dan melakukan tes antibody fluorencese, imunohistokimia, dan Polymerase Chain Reaction (PCR) bisa digunakan untuk mengidentifikasi infeksi janin dan PI. Isolat dapat diambil dari swab hidung, serum, atau jaringan. Tes “Ear notch” membantu mengidentifikasi BVD namun masih hanya dapat digunakan untuk mengidentifikasi PI.

Gambar 5 dan 6. Pengambilan sampel telinga untuk dipersiapkan untuk pengujian laboratorium.

  1. F.     Pengobatan

Penyakit ini tidak ada obatnya karena disebabkan oleh virus, pencegahan dan pengendalian merupakan hal penting yang harus dilakukan.

 

  1. G.    Pengendalian

Pengendalian BVDV saat ini harus menggabungkan kombinasi dari biosekuriti, pengujian dan pemusnahan hewan PI (diagnostic surveilans) serta vaksinasi. Khusus protokol control BVDV akan berbeda dari satu peternakan sapi dan yang lain bergantung pada tujuan dan riwayat kesehatan populasi pada setiap kandang, faktor risiko paparan BVDV, dll. Berbagai pilihan dapat dilakukan untuk manajemen BVD sekali ketika infeksi dalam suatu kelompok ternak telah ditetapkan yaitu :

1)      Vaksinasi dari sapi penderita. Hewan yang sebelumnya telah divaksin dilakukan booster vaksin tunggal setiap tahunnya.

2)      Tindakan pencegahan melalui biosekuriti agar tidak terbawa virus ke peternakan oleh pembawa (carrier).

3)      Uji yang dapat dilakukan adalah dengan pemeriksaan darah pada saat semua kelahiran anak sapi sekitar 3 bulan pada saat terlihatnya hewan pertama yang sakit dari BVD. Dan kita arus melanjutkan pengujian terhadap semua anak sapi sampai 9 bulan setelah terlihatnya hewan terakhir yang sakit pada peternakan oleh virus BVD. .

4)      Cegah kontaminasi pupuk kandang terhadap bulu, makanan dan air.

5)      Tempat tinggal bayi sapi dibuat sendiri-sendiri.

6)      Pengujian hewan baru untuk infeksi persisten.

7)      Ternak/ sapi yang baru lahir diberi mengkonsumsi kolostrum secara maksimum.

8)      Kurangi stress pada sapi yang bisa disebabkan oleh penyakit-penyakit lain, kekurangan nutrisi, ketidaknyamanan tempat tinggalnya dan kualitas air yang jelek.

 

  1. H.    Pencegahan

1)      Melakukan program vaksinasi BVD pada setiap ternak baru yang masuk ataupun yang baru lahir.

2)      Tidak menjual sapi dari peternakan. Tidak ada peraturan yang melarang pemilik untuk menjual sapi selama masa perjangkitan dari BVD. Untuk mencegah penyebaran dari BVD ke peternakan lainnya, kita merekomendasikan bahwa tidak ada sapi yang akan dijual selama pemusnahan dari sapi tersebut dan sedikitnya 3 minggu setelah hewan yang terakhir terlihat terjangkiti.

3)      Memberikan informasi kepada calon pembeli terhadap perjangkitan BVD ini. Jika pemilik akan menjual sapi, atau sapi yang sedang bunting selama perjangkitan, maka berilah penjelasan kepada pembeli untuk memeriksakan sapi tersebut jika anak-anak sapi tadi terlahir untuk melihat jika mereka menjadi carrier terhadap BVD. Jika anak sapi tersebut carrier, maka haruslah dimusnahkan.

4)      Pengguguran setelah perjangkitan BVD. Pemilik yang telah mengalami perjangkitan dari BVD diharapkan dapat melakukan pengguguran beberapa minggu setelah hewan yang terakhir terlihat sakit. Virus BVD dapat menyebabkan aborsi dari membunuh fetus ketika masa kebuntingan sapi yang terinfeksi. Janin tidak dikeluarkan seketika itu setelah ia mati. Pengeluaran itu akan membutuhkan beberapa minggu sebelum pengguguran terjadi.

5)      Hewan diisolasi jika ada gejala-gejala dari BVD dan juga hewan lain yang kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi tadi.

6)      Sanitasi apa yang dapat digunakan untuk mengatasi BVD. Virus BVD dapat dibunuh oleh desinfektan. Membersihkan secara rutin dan desinfeksi akan membunuh virus BVD. Sanitasi dapat dikombinasikan dengan cara “all-in, all-out” untuk membasmi BVD di kandang. Ada beberapa virus yang terbawa ke dalam peternakan oleh sapi-sapi, sapi yang carier ataupun sapi yang sudah terinfeksi.

7)      Mencegah penyebaran dari hewan yang terinfeksi. Hanya membawa masuk hewan-hewan dari peternakan yang tidak terinefksi BVD.

8)      Hanya membawa hewan dari peternakan yang punya program vaksinasi yang efektif.

9)      Menghindari pembelian hewan-hewan dari kandang –kandang penjualan.

10)  Isolasi hewan sakit. Pengisolasian hewan baru selama ± 30 hari sebelum diijinkan untuk kontak dengan ternak di dalam peternakan.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonimous. -. Bovine Viral Diarrhea: Is Your Herd Protected? www.usjersey.com/reference/bvd_pi.pdf

Aphis. 2007. Bovine Viral Diarrhea Virus. Veterinary Services Centers for Epidemiology and Animal Health. United States Department of Agriculture http://www.aphis.usda.gov/animal_health/emergingissues/downloads/bvdinfosheet.pdf

Gerald L. Stokka, Robin Falkner, Pat Bierman, Jeremy Van Boening. 2000. Bovine Virus Diarrhea. Kansas State University Agricultural Experiment Station and Cooperative Extension Service http://www.ksre.ksu.edu/library/lvstk2/mf2435.pdf

Jeremy Powell. 2010. Livestock Health Series Bovine Virus Diarrhea (BVD).University of Arkansas, United States Department of Agriculture, and County Governments Cooperating. http://www.uaex.edu/Other_Areas/publications/PDF/FSA-3093.pdf

Rodning, Soren P. and  M. Daniel Givens. 2010. Bovine Viral  Diarrhea Virus. Web Only, Jan 2010, ANR-1367. Alabama Cooperative Extension System.

 

 

BIOTEKNOLOGI VETERINER : Plant-made vaccines: biotechnology and immunology in animal health

TUGAS STRUKTUR

BIOTEKNOLOGI VETERINER

 

Plant-made vaccines: biotechnology and immunology in animal health

 

 

Disusun oleh :

 

Ahmad Khoirul N.            0911310003

Faizal Agung Pratomo     0911310011

Lelyta Damayanti             0911310017

Samha Solikhatin              0911310025

Ari Purnamasari               0911310033

Gauh Candra S.M.P        0911310043

Prima Santi                       0911310056

Sonya Loresta                   0911310066

Ayu Alfisa                                     0911313003

Novia Rachmawaty          0911313032

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

 

2011


BAB I

PENDAHULUAN

 

Vaksinasi adalah pemberian vaksin pada hewan untuk meningkatkan kekebalan terhadap penyakit. Vaksin dapat berupa organisme penyebabnya ataupun komponen yang dapat menyebabkan penyakit. Antigen dapat diperoleh dari seluruh jaringan hewan yang telah terinfeksi. Banyak literatur menjelaskan, bahwa tahap awal pengembangan produk antigen protektif diekspresikan pada tanaman transgenic. hasil bahan yang telah diuji mempunyai  kemampuannya baik untuk memicu respon imun pada hewan atau lebih cocok untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit. Di dalam makalah ini kami akan mengenai bioteknologi pembuatan vaksin dari tanaman untuk meningkatkan respon imun. Diharapakan pembuatan vaksin tersebut dapat menjaga kesehatan hewan.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

Kemajuan di bidang bioteknologi tanaman telah membuka pintu untuk penggunaan tanaman transgenik sebagai sistem produksi untuk antigen vaksin. Lebih dari satu dekade yang lalu ketika pertama kali antigen dapat ditunjukan ada dalam tanaman dan dimakan sebagai vaksin untuk menghasilkan respon imun yang terukur. Sejak itu, ekspresi antigen vaksin pada tanaman telah berkembang yang memungkinkan untuk ekspresi gen pada  bakteri, virus dan self-antigen dari seluruh tanaman transgenik dan sel-selnya. Vaksin melalui jalur oral relatif mudah dan murah. Sehingga sebagian studi vaksin buatan pabrik difokuskan  pada pemberian secara oral. Keuntungan utama dari pemberian secara oral memungkinkan peningkatan respon imun mukosa dan kemudahan administrasi vaksin pada hewan serta dapat menurunkan stress. Pemberian vaksin melalui oral juga mempermudah perhitungan jumlah protein yang dibutuhkan dalam 1 mg. Jumlah protein sebenarnya akan tergantung pada presentasi antigen, imunogenisitas dan formulasi antigen. Vaksin peroral membutuhkan jumlah protein yang lebih besar. Sedangkan injeksi subkutan kemungkinan akan membutuhkan antigen jauh lebih sedikit.

EKPRESI PLATFORM

Penelitian  tentang vaksin yang berasal dari tanaman sudah pernah dilakukan pada tembakau, saat ini dilakukan penelitian lanjutan pada buah seperti kentang, tomat dan jagung. Penelitian juga pernah dilakukan pada umbi yang menunjukkan hasil  bahwa umbi yang tidak dimasak menampilkan sejumlah antigen yang cukup untuk menimbulkan adanya sistem pertahanan tubuh. Tetapi terdapat masalah yaitu degradasi protein berjalan lambat, tidak cocok untuk manusia serta dapat menimbulkan masalah pada sistem pencernaan.

Oleh karena itu, digunakan platform yang lain yaitu:

  1. Jagung

Keuntungan menggunakan platform ini yaitu protein transgenic pada biji jagung kering bersifat stabil, benih mudah disimpan dan diangkut, selain itu tanaman jagung lebih mudah diperbanyak sesuai kebutuhan. Utamanya matriks dari ekstrak biji jagung telah terbukti dapat melawan degradasi protein selama melewati usus. Yang menjadi tantangannya yaitu menyelidiki kestabilan protein dalam kondisi usus yang berbeda pada setiap individu.

Jagung transgenic ini telah digunakan untuk menstimulus produksi antibody sebagai respon imun terhadap  Escherichia coli heat-labile enterotoxin (LT)  dan antigen dari

swine transmissible gastroenteritis (TGE) virus (TGEV) and LT-B, the B subunit of LT.

  1. Tomat

Merupakan spesies tanaman yang digunakan untuk mengekspresikan calon vaksin. Buah ini memiliki keuntungan lebih dibandingkan dengan platform lainnya yaitu dapat dikonsumsi secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu.

            Sedangkan tanaman yang digunakan untuk pembuatan vaksin yang berhubungan dengan kesehatan hewan adalah semanggi, alfalfa dan kacang. Alfalfa berhubungan dengan antigen penyakit mulut dan kuku, TGEV, classical swine fever virus dan Mannheimia haemolytica. Beberapa antigen juga diekspresikan pada tembakau antara lain avian influenza virus (AIV), Newcastle disease virus (NDV), E.coli heat-labile toxin and infectious bursal disease virus (IBDV). Semua kultur transgenik menghasilkan protein yang dapat mempertahankan aktifitas biologinya pada uji invitro maupun pengujian langsung dengan penyakit. Safflower juga bisa digunakan untuk uji protein rekombinan. Meskipun banyak peneliti mengembangkan vaksin dari tanaman, tetapi beberapa mengerjakannya dengan kultur sel. Salah satu keuntungan menggunakan tanaman dibandingkan kultur sel yaitu harganya lebih murah.

 

KONSEP GEN

Konsep gen pada studi ini mengutamakan optimasi promotor untuk ekspresi protein vaksin terkait pada tanaman. Akumulasi protein transgenik tergantung tidak hanya pada tingkat transkripsi gen, tetapi ditentukan terutama oleh promotor yang digunakan, dan juga pada tingkat kondisi siap “steady state”, efisiensi translasi mRNA dan tingkat messenger RNA (mRNA) serta stabilitas protein . Ekspresi transgenik dalam sistem heterolog telah menunjukkan pentingnya mengubah penggunaan kodon untuk meningkatkan tingkat produksi protein. Dampak bias kodon dari sel host tergantung pada seberapa dekat kecocokan dengan bias kodon organisme sumber transgen.

Tingkat mRNA yang tinggi membutuhkan pemrosesan mRNA yang benar dan efisien, termasuk transkripsi, terminasi polyadenylation dan splicing. Mekanisme tanaman berbeda dari mekanisme eukariota lainnya dalam hal bagaimana mereka memproses RNA ( bahkan tanaman monokotil bisa berbeda dari dikotil). Tantangan untuk menggunakan tanaman untuk mengekspresikan antigen adalah memahami sepenuhnya nuansa mekanisme kerja dan ekspresi transgen suatu gen sesuai desain, sehingga sinyal tidak disalahtafsirkan oleh mekanisme kerja ekspresi tanaman. Kebanyakan studi menguji kandidat vaksin yang berpotensial untuk transgenik kesehatan hewan mengabaikan masalah ekspresi spesifik pada gen tanaman. Bagaimana ini telah mempengaruhi tingkat ekspresi dari protein, yang cenderung rendah, hal ini perlu ditelusuri untuk antigen protektif yang lebih menjanjikan.

Penargetan protein untuk kompartemen selular yang berbeda penting untuk keberhasilan potensi vaksin yang diekspresikan dalam tanaman. Dalam banyak kasus, menargetkan protein ke retikulum endoplasma (RE) meningkatkan akumulasi relatif terhadap ekspresi dalam sitoplasma. Penargetan ke RE membutuhkan kehadiran peptida sinyal asli atau heterolog pada N-terminus protein. Hal ini mengarahkan protein ke sistem endomembran, tetapi retensi di RE ini membutuhkan penambahan sinyal retensi (misalnya, KDEL, SEKDEL dan HDEL) ke terminus C protein. Penambahan ini untuk sekuen protein yang biasanya tidak ditargetkan ke RE dapat mengubah konformasi protein, pertimbangan kunci ketika merancang strategi ekspresi.

PROTEIN TRANSGENIC TANAMAN

Akumulasi dan konformasi protein transgenik tergantung pada proses pasca-translasi. Kebanyakan modifikasi proses post-translasi ditemukan pada sel eukariot (selain tanaman). Proses tersebut meliputi glikosilasi, S-asilasi, N-myristoylation, fosforilasi, dan asetilasi. Salah satu  proses modifikasi pasca-translasi yang umum adalah glikosilasi, dengan protein tanaman yang mengandung  glikosilasi N-linked dan O-linked.

Namun, pola glikosilasi tanaman secara signifikan berbeda dengan mamalia.  Hal ini penting untuk in vivo dalam produksi antibodi yang berasal dari tanaman untuk imunisasi pasif atau keperluan lainnya. Yang perlu diketahui adalah adanya b (1,2)-xilosa dan (1,3)-fucose residu di tanaman glycans yang tidak ditemukan pada mamalia. Substansi yang berbeda ini dapat membersihkan antibodi dengan cepat dari aliran darah bila diberikan untuk binatang. Seperti protein yang dibawa ke ER, glycans mannose yang tinggi ditambahkan ke asparagines (di dalam asam amino) dan kemudian glycans yang kompleks diproduksi pada kerangka mannose dalam aparatus golgi. Termasuk penambahan xilosa dan fucose di glycan tersebut. Tanaman secara genetis dapat dimodifikasi untuk memproduksi glycans yang mirip dengan yang ditemukan pada hewan. Tingkat ekspresi protein transgenik ini umumnya  tidak terdeteksi sampai dengan 0,4% dari total protein terlarut (TSP). Oleh karen itu dianggap rendah.

Beberapa alternatif sistem produksi untuk tanaman buatan antigen termasuk oil bodies, virus dan plastida. Plastida (yang paling umum digunakan adalah plastid yangditransformasikan tanaman menjadi kloroplas) yang mengandung genom. Hal ini menghasilkan hingga 10.000 eksemplar per sel. Jumlah ini akan meningkatkan tingkat ekspresi, sehingga meningkatkan ekspresi dari 500 sampai 4000 kali lipat. Keuntungan penting dari transformasi plastid adalah bahwa transgenik masuk ke daerah target tertentu dari genom kloroplas dengan urutan yang homolog untuk kloroplas DNA. Beberapa tanaman telah dicoba menggunakan teknologi ini. Kekurangan utama dari penelitian ini adalah keterbatasan teknologi dan kurangnya protein glikosilasi. Antigen ditunjukkan dengan sistem kekebalan tubuh dengan menjalankan respon imun. Peptida dapat berfusi dengan protein lain atau protein domain yang menstabilkan dan meningkatkan akumulasi protein. Berjalannya sel antigen-pressenting dalam jaringan ini memunculkan respon mukosa, yang penting dalam perlindungan terhadap patogen. Strategi ini banyak digunakan untuk vaksin.

PENGUJIAN VAKSIN PADA SPESIES HEWAN TARGET

Walaupun sudah banyak tulisan mengenai potensi dalam produksi vaksin melawan penyakit pada bahan pangan, informasi mengenai imunogenesitas atau efisiensi proteksi masih sangat jarang. Penelitan pada mencit atau model yang serupa menunjukan bahwa antigen yang diekpresikan oleh tanaman memiliki kemampuan dalam mengatur respon imun tetapi perhitungan pada spesies target, terutama yang berhubungan dengan efisiensi, atau tentang manjur atau tidaknya, harus benar-benar diperhatikan karena model infeksi pada mencit memiliki patogenesitas yang berbeda-beda, dan dengan perpanjangan alternatif respon imun protektif, bahkan ketika penyakit pada model muncul yang secara fisik mirip pada natural host.

Sampai saat ini belom ada laporan mengenai vaksinasi dan studi banding pada ruminansia. Menurut Santos (2005) ada 3 jenis pathogen yang menyerang peternakan sapi di Argentina yaitu FMDV, BRV, dan bovine viral diarrhea virus(BVDV) yang diekspresikan pada berbagai jenis tanaman seperti arabidopsis thaliana, alfaalfa dan kentang. Vaksin untuk FMDV dan BRV telah diuji melalui pemaparan secara intraperitoneal (BRV dan FMDV) dan oral (BRV) dan resistensi terhadap virus yang virulen pada tikus.

Peneliti di India telah meneliti penyakit Rinderpest yang menular dan mematikan, masih umum di beberapa bagian di Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan yang kekurangan fasilitas dan merupakan daerah yang sangat panas sehingga sangat sulit  untuk menjaga viabilitas dari vaksin aktif. Di Amerika Utara, pneumonic pasteurellosis merupakan penyakit penting yang mempengaruhi ekonomi yang menyerang industri penggemukan sapi. Bebarapa antigen protektif pada bakteri penyebab utama, M. haemolitica telah diidentifikasi dan para peneliti telah berhasil mengekspresikan leukotoxin(Lkt) yang penting pada semanggi dan alfalafa, untuk produksi vaksin oral akan lebih mudah diberikan, mengurangi stress pada hewan, dan mengurangi biaya penggunaan injeksi.

Kebanyakan vaksin dari tanaman telah diuji menggunakan sistem hewan coba. Vaksinasi dan uji banding penyakit rabbit hemorrhagic disease virus (RHDV) pada kelinci; TGEV pada babi; mink enteritis virus pada cerpelai; canine parvovirus pada anjing dan IBDV, AIV and NDV pada ayam.

Kentang mengekspresikan protein VP60 untuk RHDV dapat menstimulasi respon imun protektif saat pemberian 4 dosis (per bulan) ekstrak daun kentang yang mengandung 12 mg rekombinan VP60 dengan Freud’s adjuvant Complete (hari 0) dan Incomplete (hari 30, 60 dan 90). Vaksinasi pertama kali diberikan melalui rute subkutan, dan intramuscular pada pemberian vaksin selanjutnya. Kelinci yang diinduksi dengan virus RHDV virulen akn hidup hanya jika diberikan vaksin sebelumnya. Pada babi yang dikembangkan adalah vaksin oral untuk TGE. Namun pemberian melalui injeksi harus diberikan secara berulang kali. Pemberian vaksin asal tanaman dapat meningkatkan imunitas proteksi.

Ada lebih banyak vaksin asal tanaman dan studi banding pada peternakan unggas seperti pada IBDV dan NDV. Pada IBDV yang digunakan adalah protein VP2 yang terkandung dalam kultur sel tembakau. Pemberian vaksin melalui subkutan lebih protektif dibandingkan melalui intrabursal. Untuk memproduksi vaksin NDV dari kultur sel tembakau digunakan protein hemagglutinin/ neuraminidase (HN). Hasil dari kultur tersebut diberikan melalui subkutan, intranasal, dan oral. Hasil ayam  yang divaksin hidup, yang tidak akan mati.

 

CHALLENGES FOR THE TECHNOLOGY

Pabrik Farmasi di Montreal Kanada pada tahun 2005 mengadakan konferensi, dalam konferensi tersebut membahas keterbatasan potensi vaksin yang dibuat oleh pabrik tersebut. Disampaikan juga bahwa vaksin tersebut ditargetkan untuk kesehatan manusia dan hewan.  Dijelaskan juga mengenai  manfaat pemberian oral vaksin yang dibuat oleh pabrik tersebut. Namun, untuk  tingkat ekspresi dan keberhasilan masih dipertanyakan. Misalnya, apakah adjuvant diperlukan untuk mendapatkan respon imun yang diinginkan atau VLPs menjadi platform utama dalm memperluas kekebalan yang potensial. Peraturan mengenai vaksin dan sistem produksi  buatan pabrik belum ada persetujuan. Produk kesehatan hewan yang berasal dari tanaman yang dihasilkan secara signifikan telah maju dan mendapatkan lisensi produk. Untuk mengekspresikan antigen vaksin tersebut tergantung jenis sistem yang digunakan. Dalam penelitian yang telah difokuskan pada pemberian oral antigen tanaman yang dinyatakan sebagai vaksin. Perbedaan biologis hasil oral protein transgenik tergantung pada regimen khusus yang digunakan untuk pengobatan. Untuk mengetahui keberhasilan dari vaksin tergantung pada pemberian vaksin secara oral, optimalisasi vaksin dan pemahaman yang lebih luas tentang respon kekebalan terhadap vaksin yang akan di gunakan.

KESIMPULAN

Sejak penelitian ini dipublikasikan tentang potensi tanaman untuk menjalankan ekspresi suatu antigen, penelitian ini terfokuskan pada ekspresi antigen pada tanaman dan model imunogenitas. Hanya sedikit penelitian yang digunakan telah menyelidiki efektivitas vaksin  buatan pabrik dihewan inang (manusia atau hewan) dan dampaknya dalam sistem imun hewan model (tikus). Meskipun berbagai jenis tanaman telah dimanfaatkan sebagai vaksin dengan berbagai jenis antigen (virus, bakteri dan self-antigen), penggunaaan teknologi platform dalam produksi vaksin untuk kesehatan hewan tidak  sepenuhnya produk tersebut dilisensi untuk digunakan dalam bidang kedokteran hewan. Untuk selanjutnya vaksin buatan pabrik tergantung pada kemampuan peneliti untuk mengembangkan vaksin terhadap penyakit yang penting dan menguji vaksin terlebih dahulu sebelumnya untuk keberhasilan vaksin tersebut  dalam host. Keuntungan dari sistem ekspresi tanaman ini harus dilakukan penelitian selanjutnya yang lebih konvensional sehingga  akan memberikan kontribusi pada  bidang vaksinologi.

 

BAB III

PENUTUP

 

Tanaman berpotensi untuk digunakan sebagai vaksin. Pembuatan vaksin dari tanaman dengan metode ekstraksi. Beberapa vaksin dapat dibuat dari daun kentang, daun semanggi, alfafa, daun tembakau dan lain-lain. Pemberian vaksin dapat diberikan melalui oral, injeksi subkutan dan injeksi muskular tergantung spesies dan ekstrak tanaman yang digunakan.

EPIDEMIOLOGI DAN EKONOMI VETERINER : Bacterial vaginosis and HIV acquisition: A meta-analysis of published studies

 

TUGAS TERSTRUKTUR

EPIDEMIOLOGI DAN EKONOMI VETERINER

 

Bacterial vaginosis and HIV acquisition: A meta-analysis of

published studies

 

 

 

Disusun Oleh

PRIMA SANTI

0911310056

PDH-A-2009

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2011

Bakteri vaginosis (BV) merupakan jenis vaginitis yang paling sering pada wanita usia reproduksi. BV terjadi karena adanya ketidakseimbangan dalam ekologi flora normal vagina yang ditandai dengan penipisan laktobasilus dan proliferasi bakteri anaerob seperti Gardnerella vaginalis, Morbilincus sp, Prevotella sp, Mycoplasma hominis dan Atopobium vaginae yang merupakan flora normal vagina.  BV telah terbukti dapat meningkatkan risiko kerugian pada ginekologi dan kandungan seperti persalinan prematur, penyakit radang panggul (PID) dan infeksi saluran kelamin bagian atas.  Dalam penelitian epidemiologi, korelasi antara BV dan HIV besarnya bervariasi mulai dari tidak ada hubungan apapun sampai berpeluang empat kali lipat terinfeksi HIV antara perempuan positif-BV dibandingkan dengan wanita negatif-BV. Jika BV dilaporkan dapat meningkatkan risiko infeksi HIV, pengobatan BV menjadi bermakna untuk mencegah penularan HIV. Jurnal ini untuk menilai dan merangkum literatur yang diterbitkan pada sejauh mana bakterivaginosis (BV) dapat meningkatkan risiko penularan HIV

Desain yang digunakan yaitu analisis-meta dari publikasi jurnal. Metode yang digunakan yaitu MEDLINE dan database elektronik lainnya yang secara sistematis melakukan pencarian untuk jurnal publikasi yang memenuhi syarat. Pencarian menghasilkan 281 artikel yang diterbitkan. Web of Science ™, Popline ™ dan Gateway NLM ™ dari keyword “Bakteri vaginosis dan HIV”. Artikel dimasukkan dalam meta-analisis jika besarnya hubungan antara BV dan HIV disajikan atau dapat dihitung dari informasi yang diberikan dalam artikel dan jika ada  gambaran yang jelas dari metode diagnostik smuanya digunakan untuk memastikan hubungan kedua infeksi BV dan HIV.

Kemudian informasi tersebut diidentifikasi dengan keterangan meliputi penulis, tahun penerbitan, lokasi penelitian, tahun penelitian dilakukan, desain penelitian (HIV kejadian atau prevalensi), risiko HIV pada studi populasi (rendah atau tinggi), kriteria diagnosis BV, Penetapan metode HIV, usia rata-rata atau rata-rata sampel, prosedur disesuaikan hubungan antara BV dan HIV, dan variabel-variabel prosedur yang disesuaikan.

Hasilnya dua puluh tiga publikasi memenuhi syarat telah diidentifikasi, termasuk total 30.739 perempuan. BV dikaitkan dengan peningkatan risiko penularan HIV dalam studi HIV-kejadian. 21 penelitian dari 22 penelitian melaporkan prevalensi perkiraan HIV di atas nol. Hasil terakhir yaitu heterogen dan menunjukkan beberapa bukti plot asimetri corong, menghalangi estimasi ukuran ringkasan tunggal. Studi prevalensi hubungan antara BV dan HIV muncul lebih kuat bagi perempuan tanpa perilaku seksual berisiko tinggi.

Kesimpulannya yaitu BV konsisten berkaitan dengan peningkatan risiko infeksi HIV. Tingginya prevalensi BV dapat mengakibatkan tingginya angka infeksi HIV yang timbul dari BV. Studi lebih prospektif diperlukan untuk mengevaluasi secara akurat peran BV dalam penularan HIV pada perempuan berisiko rendah maupun tinggi. Selain itu, uji klinis harus  dipertimbangkan untuk menentukan pengaruh tindakan pengendalian BV pada penularan HIV.