KEBIDANAN : Degenerasi Testis

DEGENERASI TESTIS

 Pengertian

Suatu keadaan pada testis menjadi lebih kecil dari ukuran normal sebelumnya serta memiliki konsistensi yang keras

Testis normal –> kenyal dan lenting –> spermatogenesis yang baik

Degenerasi testis –> Testis yang fibrous terasa keras dan tidak lenting

 

Faktor Genetik (Konginental)

adalah suatu sifat yang berasal dari induk maupun pejantan yang menurun kepada anaknya dimana manifestasinya pada alat kelamin –> kemajiran

 

Kelainan anatomi alat kelamin yang menurun disebabkan :

Kelainan sex kromosom

Kelainan 1 gene resesif pada autosom

 

Gangguan reproduksi dapat diketahui :

Awal reproduksi

Umur tua

Setelah menghasikan keturunan

 

 

Faktor non genetik à kelainan anatomi

Seperti pemberian obat berulang-ulang

– Ampicillin

– Chloramphenicol

– Talidomid

– Obat cacing : Mebendazol

Deficiensi vit.E

Kekurangan testosteron

 

Penyebab

  • Kelebihan berat badan pejantan sehingga mengakibatkan menurunkan libido
  • lemak berlebih pada skrotum
  • penebalan kulit misalnya pada kasus kudisan mampu meningkatkan temperatur daerah skrotum
  • Gigitan serangga
  • Penyakit umum bersifat lokal (cacingan) seperti penyakit cacing haemonchiasis  pada domba dan kambing
  • Keracunan bahan kimiawi misal molibdinum, arsen, dll
  • Kekurangan pakan termasuk vitamin A
  • Gangguan hormonal
  • Stress karena suhu yang tinggi

 

Pemeriksaan Klinik umum :

Pemeriksaan kondisi tubuh

Pemeriksaan temperamen

Pemeriksaan sistema respirasi

Pemeriksaan sistema gastrointestinal

 

Prognosa Ringan

Perubahan air mani dengan peningkatan jumlah air mani yang abnormal

Terpisahnya kepala sel mani dari ekornya

Terbentuknya tenunan fibrosis pada testis

Pada awalnya testis membengkak dan konsistensinya lunak selanjutnya testis akan mengalami pengecilan dan pengerasan

 

Prognosa Berat

Jumlah sel mani sangat sedikit dan kebanyakan terdiri dari sel mani yang telah mati serta bentuk sel yang tidak teratur seperti berbentuk kapal.

 

Pengobatan

  • Pada degenerasi masih awal, pengobatan di dasarkan pada penyebabnya.
  • Bila kurang makan à diberi ransum yang berkualitas tinggi dan mudah dicerna
  • Gangguan hormonal à diberi suntikan hormon gonadotropin seperti FSH atau PMSG dan LH atau HCG
  • Penyakit umum atau cacing à diobati menurut macam penyakitnya
  • Bila masih ringan dan segera diadakan diagnosa dan penanggulangan maka dapat diperpendek khususnya bila hewan jantan dapat dipelihara dengan kondisi optimum dengan pakan, kandang dan pemeliharaan yang baik serta istirahat yang cukup

KEBIDANAN : Prostatitis

PROSTATITIS

Pengertian

Prostatitis  merupakan  suatu infeksi (peradangan) kelenjar prostat yang diakibatkan karena struktur abnormal uretra atau infeksi kuman yang ditularkan melalui hubungan seksual.

Hospes

Prostatitis bisa menyerang mamalia jantan terutama spesies anjing dan kucing, juga bisa diderita oleh manusia berjenis kelamin laki-laki. Menurut  Brennan (2008), biasanya prostatitis yang ditemukan pada hewan jantan terjadi dalam temuan  kasus Brucellosis.

Penyebab

  • Brucella sp : Prostatitis merupakan salah satu bagian dari brucellosis pada anjing, walaupun biasanya tidak nampak secara nyata. Prostatitis ini cenderung menjadi infeksi intertitial kronis, hal ini mencerminkan kenyataan bahwa penyakit ini pembentukkannya membutuhkan waktu yang lama dan fase akut sudah berakhir. (Barr et al, 1986). Walaupun Brucellosis bisa menyebabkan prostatitis, namun organ utama yang diinfeksi adalah testis dan epididimis (Ling et all, 1985)
  • Eshericia colli  bisa menyebabkan emfisematosa
  • Proteus
  • Klebsiella
  • Staphylococcus
  • Streptococcus sp. ( Rohleder and Jones, 2002)

Gejala

Tanda-tanda klinis dari prostatitis berbeda menurut keadaan infeksi (peradangan) apakah akut atau kronis :

  • Demam
  • Noda darah yang keluar dari penis
  • Darah di dalam air seni
  • Ketidaknyamanan daerah abdominal
  • Gaya berjalan kaku
  • Lemah & lesu
  • Kesulitan untuk buang air kecil atau membuang air besar
  • Anoreksia
  • Muntah
  • Kehilangan berat badan
  • Ketidaksuburan/kemandulan pada jantan

 

Patogenesa

Diperkirakan bahwa prostatitis terjadi melalui jalur infeksi dari bawah ke atas (luar ke dalam). Organisme penyebab prostatitis akan  berjalan dari penis dan preputium menuju kelenjar prostat melaui urethra. Infeksi dari bakteri Brucella bisa terjadi akibat adanya aliran darah yang mengumpul dan dilokalisasi di kelenjar prostat, namun bisa juga diakibatkan dari epididimitis. Ada juga teori yang menjelaskan bahwa prostatitis bisa berasal dari kandung kemih dan urine. Adanya abses dari kelenjar prostat merupakan salah satu penanda terjadinya prostatitis. Saat bakteri menginfeksi prostat, maka mereka tumbuh dan berkembang di dalam lumen dari kelenjar tersebut, sehingga akan menyebabkan terjadinya inflamasi (pembengkakan). Inflamasi tersebut merupakan suatu indikasi akan terjadinya fase infeksi akut dari kelenjar tersebut dan selanjutnya masuk pada fase infeksi di jaringan interstitial. Neutrofil dan granulosit-granulosit akan menghasilkan bahan-bahan kemotaktis yang akan menyerang bakteri sebagai respon dari pembengkakan tersebut. Bakteri tersebut bisa berupa bakteri gram negative dan biasanya menghasilkan endotoksin. Selanjutnya respon dari jaringan interstitial akan semakin baik dengan diawali oleh mendominasinya limfosit dan plasma sel. Jaringan interstitial lalu akan mengalami fibrosis.

Gambaran Makroskopik

Prostatitis acute merupakan kondisi patologis yang biasanya disertai oleh rasa sakit. Beberapa kasus menunjukkan adanya edema dan hemoragi pada bagian protat dan jaringan periprostaticnya. Pada tahap ini akan sulit untuk melihat bentuk kelenjar yang  utuh dikarenakan terjadi respon peradangan akut. Ketika suatu respon peradangan menghasilkan nanah/pus, maka kelenjar prostat akan menjadi lebih besar/menggembung dan apabila disayat, cairan nanah bisa merembes dari permukaan sayatan terutama bila kelenjar prostat ditekan. Untuk Prostatitis kronis, biasanya akan nampak bentukan putih pada kelenjar prostat atau bahkan terkadang tidak menampakkan perubahan makroskopik apapun. Untuk beberapa kasus yang jarang terjadi, terkadang  prostatitis bisa menyebabkan emfisematosa pada kelenjar prostat ( Rohleder and Jones, 2002)

Gambaran Mikroskopik

Pada kebanyakan prostatitis akut, bila dilihat secara mikroskopik, akan tampak terjadi edema dan hemoragi pada jaringan interstitial dan  acini nya terpisah jauh antara satu sama lain. Selain itu pada beberapa bagian akan terjadi nekrosis. Netrofil akan tampak banyak pada bagian intertitium maupun diantara acininya. Pada sedikit  kasus dari prostatitis akut, sel netrofil, sel makrofag, dan sisa-sisa sel yang mengalami nekrosis akan tampak di daerah lumen dan bisa menyebabkan pembengkakan. Selain itu, sel plasma dan limfosit akan tampak disekeliling acini dan vessels. Akan tampak juga bentukan fibrosis dan kelenjar-kelenjar disekitar area peradangan akan mengalami atropi (penyusutan)

Pengobatan

Kronik : Pengobatan memerlukan program berkepanjangan (4-8 minggu) dengan antibiotik yang bisa menembus prostat dengan baik. Diantaranya yaitu quinolones (ciprofloxacin, levofloxacin), sulfas (Bactrim, Septra), Doxycycline and macrolides (erythromycin, clarithromycin). Infeksi persisten bisa diatasi (80% pasien)  dengan menggunakan -blockers (tamsulosin, flomax, alfuzosin), atau untuk terapi jangka panjang bisa diberi terapi antibiotik dosis rendah. Infeksi berulang dapat disebabkan karena buang air kecil yang tidak tuntas (hipertrofi prostatic jinak), batu prostat atau kelainan struktural yang berfungsi sebagai reservoir untuk infeksi.

Akut : Terapi antibiotik untuk infeksi prostatitis akut  sangat singkat. Pemilihan antibiotik  tergantung mikoba. Dalam pengobatan prostatitis akut, lebih baik  memilih bacteriocidal antibiotik (membunuh bakteri) daripada antibiotik bakteriostatik (memperlambat pertumbuhan bakteri) karena untuk infeksi akut berpotensi mengancam kehidupan. Bila sakitnya parah,bisa di lakukan rawat inap, namun bila tidak terlalu parah, bisa dirawat dirumah dengan istirahat yang cukup, pemakaian analgesik, pelunak tinja, dan hidrasi.

KEBIDANAN : Phimosis

PHIMOSIS

Pengertian

Suatu keadaan dimana ujung preputium (kulit luar penis) mengalami penyempitan sehingga tidak dapat ditarik ke arah proximal (bawah) melewati glans (kepala penis) yang biasanya dapat mengkibatkan obstruksi air seni.

Penyebab

  • Inflamasi ( Balanitis )
  • infeksi akan menimbulkan jaringan parut dan selanjutnya preputium akan melekat pada glans penis pada bagian preputium
  • Edema
  • Neoplasia
  • Disuria

 

Gejala

  • Demam tinggi selama seminggu
  • Ujung penis terlihat merah
  • Urinasi abnormal
  • Preputium lengket sehingga menutupi lubang penis
  • Preputium tidak dapat ditarik

 

Pengobatan

  • Circumcision ( sunnat / khitan )
  • Pemberian paracetamol
  • Pemerian anti inflamasi

 

KEBIDANAN : Epididimitis

EPIDIDIMITIS

 

Pengertian

peradangan pada epididimis

 

penyebab

  • Infeksi bakteri : disebabkan bakteri dalam saluran kencing contohnya Pseudomonas aeroginosa atau Escherichia coli fibriosis pada sapi dan Brucella ovis pada kambing. Perioorkhitis dengan perlengketan tunika vaginalis yang meluas dan radang pada korda spermatika
  • non-infeksi : trauma (jatuh)
  • retrograde :urin kembali masuk ke saluran genital dan mengalir ke epididimis
  • operasi atau pemberian obat-obatan

Gejala

  • Nyeri pada testis atau epididimis
  • Suhu testis meningkat dan biasanya nampak merah.
  • Pembengkakan skrotum
  • Demam
  • Kadang pembentukan abses (pernanahan).

Klasifikasi

Dapat dibedakan berdasarkan lama gejalanya dibagi 2 yaitu :

  1. Epididimitis akut : Radang pada epididymis yang menyebabkan pembengkakan dan edema serta rasa sakit pada semua bagian epididimis dapat pula diikuti abses berlangsung selama lebih dari 6 bulan. Gejalanya pembengkakan dan edema serta rasa sakit pada semua bagian epididimis dan dapat terjadi abses. Secara mikroskopis saluran epididmis mengamndung darah yang telah rusak, nanah spermatozoa yang telah mati atau runtuhan sel – sel epitel. Kadang kala tumbuh jaringan ikat.
  2. Epididimitis khronis : Epididimitis kronis ditandai oleh peradangan bahkan ketika tidak hadir suatu infeksi yang terjadi selama lebih dari enam minggu. Gejalanya ditemukan reaksi tuberkoloid dan sisa-sisa keradangan pada saluran epididimis. Pembengkakan cauda epididimis Bentuk epididimis tidak teratur karena terjadi pengerasan dan pengkerutan. Terbentuknya granuloma

 

Komplikasi

Pada beberapa kasus epididimitis mengakibatkan penyumbatan lumen dan menghambat perjalanan sperma dari testis menuju vas deferens. Bila penyumbatan terjadi bilateral maka akan menyebabkan steril permanen pada pejantan akan tetapi bila penyumbatan hanya bersifat unilateral (hanya satu epididimis) maka efek yang ditimbulkan berupa penurunan kesuburan pejantan..

 

Diagnosa

  • Gejala klinis
  • Palpasi bagian belakang testis
  • isolasi bakteri
  • Uji serologi pengikatan komplemen

 

Pengobatan

  • Dilakukan berdasarkan penyebab epididimitis
  • Jika terjadi infeksi digunakan antibiotik.
  • azithromycin dan cefixime untuk mengobati gonorrhoeae dan klamidia.
  • Fluoroquinolones digunakan jika terjadi perlawanan gonorrhoeae.
  • Doxycycline biasa digunakan sebagai alternatif untuk azithromycin.
  • organisme enterik (seperti E. coli) menggunakan antibiotik ofloksasin atau levofloxacin.

 

 

 

 

IMUNOLOGI : Hipersensitivitas

TUGAS PAPER IMUNOLOGI VETERINER

Hipersensitivitas

disusun oleh :

Prima Santi

0911310056

Pendidikan Dokter Hewan

Program Kedokteran Hewan

Universitas Brawijaya

Malang

2010

 

Hipersensitivitas adalah peningkatan reaktivitas sensitivitas atau meningkatnya sensitivitas tubuh terhadap antigen yang  sebelumnya memapar. Istilah ini sering digunakan sebagai sinonim untuk alergi, yang menggambarkan keadaan berubah reaktivitas untuk antigen. Hipersensitivitas telah dibagi ke dalam kategori berdasarkan apakah itu diperoleh secara pasif atau ditransfer oleh antibodi atau dengan sel limfoid imun khusus. Yang paling banyak digunakan saat ini adalah klasifikasi dari Coombs dan Gell yang menunjuk reaksi hipersensitif (langsung) diperantarai imunoglobulin sebagai jenis I, II, dan III, dan perantaraan limfoid sel (delayedtype) diperantarai sel imunitas sebagai reaksi tipe IV.

Tipe I. Anaphylactic or Immediate-Type Hypersensitivity

Tipe I, anaphylactic or immediate-type hypersensitivity (gambar 1) adalah reaksi alergi akibat paparan antigen khusus yang disebut alergen. Paparan dapat berasal dari konsumsi, inhalasi, suntikan atau kontak langsung. Reaksi ini diperantarai oleh antibodi IgE. reaktif spesifik antibodi IgE dengan  alergen (antigen yang menyebabkan alergi) menempel pada basofil atau Fc reseptor sel mast.

 

Gambar 1. Reaksi hipersensitivitas tipe I yang molekul antigen cross-link pada permukaan molekul IgE sehingga melepaskan mediator anafilaksis primer dan sekunder (Cruse,2003).

Crosslinking dari cellbound Antibodi IgE oleh antigen diikuti oleh sel mast atau basophil degranulation, dengan melepas mediator farmakologi. Mediator ini terdiri dari  amina vasoaktif seperti histamin, yang menyebabkan peningkatan permeabilitas vaskular, vasodilatasi, kejang bronkial, dan sekresi mukosa (Gambar 2). Mediator Sekunder termasuk leukotrien, prostaglandin D2, faktor pengaktif platetet dan cytokine.

 

Gambar 2. Skema representasi peristiwa yang mengikuti degranulation sel mast pada jaringan, yang mengakibatkan vasodilatasi kapiler, yang mengarah ke perubahan jaringan pada reaksi hipersensitivitas tipe I (Cruse,2003).

Type II. Antibody-Mediated Hypersensitivity

Hipersensitivitas tipe II antibodi-mediated diinduksi oleh antibodi dan memiliki tiga bentuk (Gambar 3). Jenis hipersensitivitas klasik melibatkan interaksi antibodi dengan antigen diikuti oleh melengkapi lisis. Antibodi spesifik terhadap antigen intrinsik untuk jaringan target tertentu. Antibodi yang dilapisi juga telah meningkatkan kerentanan untuk fagositosis. hipersensitivitas tipe II adalah antibodydependent yang diperantarai sel sitotoksisitas (ADCC).  sel NK, yang memiliki reseptor Fc pada permukaan, mengikat Fc molekul IgG. Dan bereaksi dengan antigen permukaan sel target untuk menghasilkan lisis dari sel antibodi berlapis. Selain NK, neutrofil, eosinofil, dan makrofag dapat berpartisipasi dalam ADCC.

Gambar 3. Tiga bentuk hipersensitivitas tipe II. Diagram paling atas menggambarkan antibodi dan mediasi sel bernukleus lisis sebagai konsekuensi dari serangan pembentukan kompleks membran. Diagram tengah menunjukkan antibodydependent sitotoksisitas sel-dimediasi melalui aksi baik sebagai NK dengan antibodi spesifik permukaan untuk sel target. Gambar terakhir menggambarkan penghambatan transmisi impuls saraf oleh antibodi terhadap reseptor acetycholine seperti yang terjadi di myasthenia gravis. (Cruse,2003).

 

Type III. Immune Complex-Mediated Hypersensitivity

Hipersensitivitas tipe III adalah reaksi imun kompleks antigen-antibodi. Kompleks antigen-antibodi menstimulus inflamasi pada jaringan seperti dinding kapiler. Antigen-antibodi kompleks dapat merangsang respon inflamasi akut yang mengarah aktivasi komplemen dan leukosit PMN infiltrasi. Kompleks imun terbentuk baik oleh antigen eksogen seperti dari mikroba atau dengan antigen endogen seperti DNA. Mediasi imun kompleks dapat berupa sistemik atau lokal. Pada sistemik, antigen-antibodi kompleks diproduksi dalam sirkulasi, disimpan dalam jaringan, dan memulai peradangan.  Imun  kompleks  disimpan dalam jaringan, komplemen adalah tetap, dan PMNs adalah tertarik ke situs. Enzim lisosomal dilepaskan, mengakibatkan cedera jaringan.

 

Gambar 4. Skema representasi dari pembentukan dan deposisi kompleks imun di dinding pembuluh dalam tipe III hipersensitivitas. (Cruse,2003).

 

Type IV. Cell-Mediated Hypersensitivity

Hipersensitivitas tipe IV diperantarai sel sensitivif khusus (Gambar 5). Sedangkan antibodi berpartisipasi dalam tipe I, II, dan III reaksi, T limfosit memediasi hipersensitivitas tipe IV. Dua jenis reaksi yaitu dimediasi oleh T cell Mediated Cytolysis (TMC). Delayed-type hypersensitivity (DTH) dimediasi oleh sel CD4+ T, dan selular sitotoksisitas dimediasi terutama oleh sel CD8+.

Setelah paparan Mycobacterium TB pada reaksi classic delayed hypersensitivity, CD4 + limfosit mengenali antigen mikroba dari molekul MHC kelas II pada permukaan sel antigen-presenting. Memori sel T berkembangdan tetap dalam sirkulasi untuk waktu yang lama. Ketikaantigen tuberkulin disuntikkan intradermally, sel T bereaksi dengan antigen pada antigen-presenting permukaan sel, mengalami transformasi, dan limfokin dilepaskan. Tidak seperti antibodi-mediated hipersensitivitas, limfokin tidak antigen spesifik.

DTH reaksi yang ditimbulkan oleh CD4 + sel-TH1. CD4 mengeluarkan IFN yang menyebabkan aktivasi enzim makrofag lisosomal, oksigen intermediate (ROI) reaktif, spesies oksigen reaktif (ROS), oksida nitrat (NO), cytokins pro inflamasi (TNF-α, IL-1β) sehingga menyebabkan cedera jaringan dan mengakibatkan faktor produksi pertumbuhan jaringan fibrosis.

TMC reaksi yang ditimbulkan oleh sel CD8 + (CTL). Tanggapan CTL untuk infeksi virus dapat menyebabkan cedera jaringan dengan membunuh sel yang terinfeksi (CPE virus & CPE Non virus) sehingga merugikan ke host

 

Gambar 5. Skema representasi hipersensitivitas tipe IV. Bingkai atas menggambarkan reaktivitas tuberkulin di kulit yang dimediasi oleh CD4 + helper T induser / sel dan merupakan bentuk alergi bakteri. Bingkai bawah menggambarkan aksi sitotoksik CD8 + T sel terhadap sel target terinfeksi virus yang menyajikan antigen melalui molekul MHC kelas I untuk TCR nya, mengakibatkan pelepasan molekul perforin yang mengarah pada sasaran lisis sel (Cruse,2003).

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Cruse, J.M dan R.E. Lewis. 2003. Atlas Of Immunology 2th. London: CRC Press

Pastoret, P.P, P.G.H.Bazin, A. Govaerts. 1998. Handbook of Vertebrate Immunology. San Diego: Academic Press.

KEBIDANAN : Urolithiasis

UROLITHIASIS

 

Pengertian

Urolithiasis adalah suatu keadaan dimana terdapat penyumbatan oleh batu atau kristal pada saluran kemih dan dapat menyebabkan iritasi dalam saluran kemih. Urolithiasis kebanyakan terdapat pada anjing dan kucing dan sering terjadi dalam kandung kemih serta uretra.

Penyebab

Infeksi saluran kemih dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan menjadi inti pembentukan urolithiasis. Infeksi oleh bakteri yang memecah ureum dan membentuk amonium akan mengubah pH urin menjadi alkali dan akan mengendapkan garam-garam fosfat sehingga akan mempercepat pembentukan batu yang telah ada.

  • Obsruksi dan Statis Urin : Adanya obstruksi dan statis urin menyebabkan infeksi
  • Keturunan : Terdapat pada anjing jenis dalmatian, terrier skotlandia irlandia
  • Air minum : Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum akan mengurangi kemungkinan tebentuknya batu saluran kemih, sedangkan bila kurang minum menyebabkan kadar semua substansi dalam urin akan meningkat dan akan mempermudah pembentukan batu saluran kemih.
  • Suhu : Tempat yang bersuhu panas misalnya didaerah panas menyebakan banyak mengeluarkan keringat, akan mengurangi produksi urin dan mempermudah pembentukan batu saluran kemih

 

Gejala

  • terdapat darah dalam urine (hematuria)
  • Ketidak nyamanan pada bagian abdominal.
  • depresi
  • anorexia
  • vomit / muntah
  • susah buang air kecil.

 

Treatment

  • menyediakan banyak air
  • x-ray
  •  urat urolithiasis
  • USG
  • Diet khusus
  • Operasi

KEBIDANAN : Balanitis

B A L A N I T I S

 

Pengertian

merupakan radang pada glands penis dan preputium individu jantan. Posthitis adalah radang pada kulup. Secara umum, jamur atau infeksi bakteri di bawah kulup menyebabkan posthitis. Radang pada kepala penis dan kulup (balanoposthitis) bisa juga terjadi.

 

Penyebab

Balanitis adalah istilah umum yang meliputi kondisi kulit tertentu dan infeksi yang dapat mempengaruhi penis, termasuk:

Iritasi

dermatitis

thrush (candida)

alergi

 

Epidemiologi

Balanitis pada anjing lebih banyak terjadi pada anjing yg unneutered (tdk dikebiri)

 

Gejala

–          Peradangan tersebut menyebabkan nyeri, rasa gatal, kemerahan, bengkak dan bisa akhirnya menyebabkan penyempitan (stricture) pada urethra.

–          Edema menyebabkan pimosis.

–          Ulserasi glans penis.

–          Pembasaran kelenjar limfe inguinal.

–          Pada daerah gland penis kulitnya berwarna kemerahan biasanya muncul bau yang tidak sedap.

–          Kulit kulup, gland penis menebal

–          Sering terjadi perlengketan yang hebat sehingga sering berdarah bila perlengketan dilepaskan.

–          Gejala Pada Anjing

–          Terasa tdk nyaman di daerah penis, sehingga anjing akan menjilati daerah prepurtium atau penis

–          Glans penis membengkak

–          Glans penis memerahan

–          Discharge cairan hijau-kuning

–          Jika parah akan ada perdarahan

–          Dapat menyebabkan tidak tertarik kepada betina

–          Menyebabkan anorexia, lesu, dll

 

 

Balanitis berhubungan dengan penyakit lain dan dapat menyebabkan terjadinya berbagai penyakit lain seperti

–          orchitis,

–          phimosis,

–          paraphimosis,

–          undescended testicles,

–          testicular degeneration,

–          testicular tumors,

–          prostatitis.

 

Komplikasi bila balanitis tidak segera ditangani

–          Terbentuk jaringan parut (scar) yang permanen pada gland penis.

–          Penyempitan lubang meatus urethra (urehtral stricture).

–          Mempersulit kembalinya preputium menutupi gland penis setelah retraksi karena ereksi. Tentu saja keadaan ini pun akan menyebabkan rasa sakit.

–          Preputium dapat teretraksi secara otomatis karena mengalami pembengkakkan sehingga dapat terjadi konstriksi, rasa sakit dan kerusakan pada pada gland penis.

 

Faktor predisposisi mencakup:

–          Kelembaban (keringat) dapat memungkinkan mikroorganisme untuk berkembang.balanitis * Jarang cuci dan / atau kegagalan untuk mengeringkan glans setelah  mencuci

–          Sebaliknya, lebih penis lebih sering dibersihkan dengan sabun

–          Diabetes mellitus, dapat meningkatkan kemungkinan infeksi Candida albicans

–          Tertular saat kawin

–          iritasi, misalnya, jelly pelumas, krim obat

–          trauma Minor  ini mungkin terjadi karena gesekan selama hubungan seksual

 

Pencegahan

–          Memperhatikan kebersihan penis

–          mencuci penis dan skrotum setiap hari dengan sabun dan air bersih

–          Menjaga kebersihan, dengan membersihkan prepusium dan mencucinya dengan larutan garam faal pada fase akut.

 

Treatment

–          Rambut di area prepurtium dipotong

–          Jika balanitis disebabkan infeksi organisme, perlu dilakukan biopsy terlebih dahulu

–          Pemberian antibiotik selama 7-10 hari

–          Jika terdapat tumor harus dihilangkan terlebih dahulu, baru kemudian digunakan antibiotik

–          Antibiotik yg berupa salep dapat dioleskan secara langsung

–          Rongga prepurtium dibersihkan dengan mild antiseptik

–          Biasanya general anesthesia diperlukan

 

KEBIDANAN : Hernia Scrotalis

HERNIA SCROTALIS

Pengertian

Merupakan suatu keadaan dimana usus masuk kedalam scrotum atau saluran inguinal yang menyebabkan testis pada sisi yang menderita hernia tidak berfungsi karena suhu dalam kantong meningkat sehingga menyebabkan  produksi sperma yang dihasilkan rendah dan  banyak sperma berbentuk abnormal.

Etiologi

Melemahnya canalis inguinalis  à adanya korset alami, tekanan pada cavitas abdominal menjadi lebih besar  à ruptur di inguinal menjadi lebih besar dan organ-organ seperti usus bisa menekan ruptur tersebut dan menuju skrotum

Akibat

Usus yang masuk ke skrotum menyebabkan adanya penekanan pada testis

Suhu scrotum menjadi sama dengan suhu tubuh (padahal suhu skrotum harus lebih rendah), hal ini menyebabkan testis menjadi malfungsi dan kualitas sperma menurun

Penyebab

  1. Genetik

Suatu sifat yang berasal dari induk maupun pejantan yang menurun kepada anaknya dimana manifestasinya pada alat kelamin  kemajiran Jantan yang terkena hernia, lebih baik dikeluarkan dari peternakan Hernia scrotalis merupakan warisan dari sang induk, yang merupakan turunan resesif

  1. Inbreeding

Inbreeding diduga menjadi penyebab kualitas semen/sperma menurun di sebuah peternakan. Hal ini menyebabkan menurunnya kualitas genetik

Pertolongan

a. Konservative

–          Melakukan reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi.

b. Operative

–  Herniotomi : Pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya, apabila ada perlekatan maka harus direposisi. Kemudian kantong hernia diikat dan dipotong.
–   Hernioplasti : Memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.

Pencegahan

–          Menjaga berat badan ideal

–          Memberi pakan yang berserat tinggi

IMUNOLOGI : Program Vaksinasi Ayam Petelur

UMUR AYAM

JENIS VAKSIN

CARA VAKSINASI

Hari 1

Marek’ Injeksi subkutan leher

Hari 3

Vaksin NB + IB Tetes mata

Hari 4

Vaksin ND Lasota Air minum (1½  dosis)

Hari 5

Vaksin Cocci Spray (tiap ekor DOC 10 gr) semprot di makanan ayam.
ND kill Injeksi subkutan (0,2 cc)

Hari 9

IBD Live Air minum

Hari 10

Coccivax Air minum

Hari 12

ND La Sota Tetes mata

Hari 16

Vaksin Gumoro 228 E Air minum ( 1½ dosis)
IBD live Air minum

Hari 21

ND La Sota Injeksi intramuskuler dada

Hari 23

Vaksin Gumoro 228 E Air minum ( 1½ dosis)

Hari 25

IB Air minum

Hari 28

Vaksin ND Lasota Injeksi intramuskuler dada  ( 3 dosis)

Hari 29

Vaksin ND Lasota Air minum (1½  dosis)

Hari 35

Vaksin IB Air minum (3 dosis)
ND Kill Injeksi intramuskuler dada (0,4 cc)
ND La Sota Tetes mata
Fowl Pox Tusuk sayap

Minggu 6/7

Vaksin cacar Tusuk sayap (1 dosis)
ILT Tetes hidung
Coryza Injeksi dada/paha

Minggu 8 (hr 56)

Vaksin ND Lasota Injeksi intramuskuler dada  ( 3 dosis)

Minggu 8 (hr 57)

Vaksin ND Lasota Air minum (1½  dosis)

Minggu 9

Vaksin Coryza Injeksi intramuskuler paha  (0,2 cc)
IB Air minum

Minggu 10

Vaksin ILT Tetes mata (1 dosis)

Minggu 12

Vaksin ND Lasota Air minum (3 dosis)

Minggu 12/13

Vaksin AI Injeksi intramuskuler dada  (1 dosis)

Minggu 13

Vaksin IB Air minum (3 dosis)

Minggu 16

Vaksin ND Lasota Air minum (3 dosis)
Vaksin ND+EDS+IB Injeksi intramuskuler dada  (1 dosis 0,3 cc)

Minggu 17

Vaksin Coryza Injeksi intramuskuler paha  (1 dosis 1 cc)

Minggu 30

Vaksin ND+IB (Vaksin ulang) Injeksi intramuskuler dada  (2 dosis)

Minggu 50

Vaksin ND+IB Injeksi intramuskuler dada  (1½ dosis)