KEBIDANAN : Torsio Uteri

TUGAS TERSTRUKTUR

KEBIDANAN DAN KEMAJIRAN GANGGUAN REPRODUKSI

TORSIO UTERI

disusun oleh :

Galuh Asmoro Putro

0911310042

Galuh Candra Satya Muda P.

0911310043

Inggil Pusvita Ramadani

0911310046

Ken Ranisa Kusuma

0911310047

Muhammad Jalaludin Fida

0911310048

Muh Masyhuri Ds

0911310052

Pascara Fajar Lukito

0911310054

Prima Santi

0911310056

Putrika Suryandari

0911310057

Reza Rusandy Putra

0911310058

Rizka Asrini

0911310059

Rizki Rosmallasari

0911310060

Rizky Rakadana Putra

0911310061

Rosita Arviana Masruroh

0911310062

Rr Arum Rizky D

0911310063

PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2010


 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wata΄ala, karena berkat rahmat-Nya penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Torsio Uteri”. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Kebidanan dan Kemajiran.
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya. Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi mahasiswa pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

 Malang, Oktober 2010

                                                                                                            Penyusun


 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar ………………………………………………………………………………………………………….2

Daftar Isi ………………………………………………………………………………………………………………….3

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………………………………………..4

            1.1 Latar Belakang ………………………………………………………………………………………….4

            1.2 Tujuan………………………………………………………………………………………………………4

            1.3 Ruang Lingkup Materi ……………………………………………………………………………….4

BAB II  ISI ……………………………………………………………………………………………………………….5

            2.1 Tinjauan Pustaka …………………………………………………………………5

            2.2 Pembahasan ………………………………………………………………………7

BAB IV PENUTUP………………………………………………………………………………………………….10

            4.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………………………..10

            4.2 Saran………………………………………………………………………………………………………10

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………………………….11

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1    Latar Belakang

Distokia merupakan suatu kondisi stadium pertama kelahiran (dilatasi cervik) dan kedua (pengeluaran fetus) lebih lama dan menjadi sulit dan tidak mungkin lagi bagi induk untuk mengeluarkan fetus. Sebab–sebab distokia diantaranya herediter, gizi, tatalaksana, infeksi, traumatik dan berbagai sebab lain. Misalnya pada sapi potong. Keberhasilan reproduksi akan sangat mendukung peningkatan populasi sapi potong. Namun kondisi sapi potong di usaha peternakan rakyat, hingga saat ini sering dijumpai adanya kasus gangguan reproduksi yang ditandai dengan rendahnya fertilitas induk, akibatnya berupa penurunan angka kebuntingan dan jumlah kelahiran pedet, sehingga mempengaruhi penurunan populasi sapi dan pasokan penyediaan daging secara nasional. Perlu dicarikan solusi untuk meningkatkan populasi sapi potong dalam rangka mendukung kecukupan daging sapi secara nasional.

1.2    Tujuan Penulisan

Sesuai dengan judul yang diangkat, maka tujuan penulisan dari makalah ini ialah :

a)      Memberikan pengetahuan tentang pengertian dan seluk beluk tentang distokia (kesulitan dalam tindakan kelahiran)

b)      Mengetahui secara mendetail mengenai mekanisme torsio uteri pada hewan.

c)      Memberikan informasi kepada pelaku usaha peternakan tentang usaha penanggulangan dan cara menangani gangguan reproduksi pada calon induk.

d)     Agar para pelaku usaha peternakan dapat mengurangi tingkat kemajiran dan memperlancar proses beranak serta dapat meningkatkan jumlah kelahiran dan jumlah induk berkualitas yang akhirnya dapat meningkatkan nilai tambah para peternak.

1.3    Ruang Lingkup Materi

Torsio Uteri adalah perputaran uterus pada sumbu memanjangnya pada ternak yang sedang bunting. Sering terjadi pada bunting tua dan pada saat melahirkan.

BAB II

ISI

 

2.1.      Tinjauan Pustaka

Gangguan reproduksi dapat  disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya cacat anatomi saluran reproduksi (defek kongenital), gangguan fungsional, kesalahaan manajemen atau infeksi organ reproduksi. Adapun macam gangguan reproduksi dan penanggulangannya adalah sebagai berikut:

a. Cacat anatomi saluran reproduksi

Abnormalitas yang berupa cacat anatomi saluran reproduksi ini dibedakan menjadi dua yaitu cacat congenital (bawaan) dan cacat perolehan (Riady, 2006).

b. Cacat Kongenital

Gangguan karena cacat kongenital atau bawaan lahir dapat terjadi pada ovarium (indung telur) dan pada saluran reproduksinya. Gangguan pada ovarium meliputi: Hipoplasia ovaria (indung telur mengecil) dan Agenesis ovaria (indung telur tidak terbentuk). Cacat turunan juga dapat terjadi pada saluran alat reproduksi, diantaranya : Freemartin (abnormalitas kembar jantan dan betina) dan atresia vulva (pengecilan vulva). Organ betina sapi freemartin tidak berkembang (ovaria hipoplastik) dan ditemukan juga organ jantan (glandula vesikularis). Sapi betina nampak kejantanan seperti tumbuh rambut kasar di sekitar vulva, pinggul ramping dengan hymen  persisten dan kadangkala mengalami atresia vulva merupakan suatu kondisi pada sapi induk dengan vulva kecil dan ini membawa resiko pada kelahiran sehingga sangat memungkinkan terjadi distokia (kesulitan melahirkan) (Riady, 2006).

c. Cacat perolehan

Cacat perolehan dapat terjadi pada indung telur maupun pada alat reproduksinya. Cacat perolehan yang terjadi pada indung telur, diantaranya: Ovarian Hemorrhagie (perdarahan pada indung telur) dan Oophoritis (radang pada indung telur). Cacat perolehan pada saluran reproduksi, diantaranya: Salphingitis (radang pada oviduk, trauma akibat (Riady, 2006).

d.  Gangguan fungsional

Salah satu penyebab gangguan reproduksi adalah adanya gangguan fungsional (organ reproduksi tidak berfungsi dengan baik). Infertilitas bentuk fungsional ini disebabkan oleh adanyanabnormalitas hormonal. Gangguan reproduksi yang umum terjadi pada sapi diantaranya: (1) retensio sekundinarium (ari-ari tidak keluar), (2) distokia (kesulitan melahirkan) (3) abortus (keguguran), dan (4) kelahiran prematur/sebelum waktunya (Riady, 2006).

Dari sekian banyak gangguan reproduksi seperti yang telah kami tuliskan diatas, kami mencoba membahas mengenai distokia. Distokia merupakan suatu kondisi stadium pertama kelahiran (dilatasi cervik) dan kedua (pengeluaran fetus) lebih lama dan menjadi sulit dan tidak mungkin lagi bagi induk untuk mengeluarkan fetus. Sebab – sebab distokia diantaranya herediter, gizi, tatalaksana, infeksi, traumatik dan berbagai sebab lain. Penanganan yang dapat dilakukan diantaranya:

  • Mutasi, mengembalikan presentasi, posisi dan postur fetus agar normal dengan cara di dorong (ekspulsi), diputar (rotasi) dan ditarik (retraksi).
  • Penarikan paksa, apabila uterus lemah dan janin tidak ikut menstimulir perejanan.
  • Pemotongan janin (Fetotomi), apabila presentasi, posisi dan postur janin yang abnormal tidak bisa diatasi dengan mutasi/ penarikan paksa dan keselamatan induk yang diutamakan.
  • Operasi Secar (Sectio Caesaria), merupakan alternatif terakhir apabila semua cara tidak berhasil. Operasi ini dilakukan dengan pembedahan perut (laparotomy) dengan alat dan kondisi yang steril.

Gambar 1,2,3,4,5 dan 6 . Berbagai Macam Distokia (Toelihere, 1987)

2.2.      Pembahasan

Kali ini kami mendapat tugas membahas salah satu distokia yaitu torsio uteri. Torsi uterus (kandung peranakan melintir) merupakan perputaran sumbu panjang uterus pada porosnya. Ini adalah kondisi biasa tetapi berpotensi mengancam nyawa (Dua, 2006). Torsio uteri terdiri dari dua jenis yaitu torsio uteri sempurna (bila perputarannya lebih dari 180 derajad) dan torsio uteri tidak sempurna (bila perputarannya kurang dari 180 derajad).

Gambar 7. Torsio Uteri (Severidt, 2005)

Kejadian ini biasanya disebabkan oleh gerakan sapi yang mendadak saat berbaring atau berdiri, kekurangan cairan fetus, terjatuh atau terpeleset dan selalu dikandangkan, tonus uterus (kekuatan rahim) menurun, gerakan fetus yang berlebihan, kebuntingan pada hewan tua,  dan karena struktur anatomi (sebagai faktor predisposisi atau pendukung).

Gejala yang nampak adalah hewan terlihat tidak tenang, menendang-nendang perut, mengejan, pulsus dan frekuensi nafas meningkat, kehilangan nafsu makan, kolik, konstipasi dan terjadi obstruksi suplai darah ke uterus yang berujung pada kematian fetus.

Diagnosa dapat dilakukan dengan palpaso perrectal dimana terasa ada pintalan vagina, arteri uterina media dan ligamentum lata menjadi tegang, posisi fetus sulit teraba. Atau dengan palpasi pervaginal dimana adanya perputaran dinding vagina. Prognosa dilakukan berdasarkan pada derajad torsionya dan lamanya terjadi torsio.

Pertolongan yang dapat dilakukan yaitu dengan memutar (menggulingkan) badan induk penderita, diputar uterus dan fetusnya melalui jalan kelahiran, laparatomi, atau sectio caesar.

 

Sectio caesar

Pembedahan caesar pada hewan besar terbaik dilakukan pada hewan berdiri pada daerah flank (legok lapar) sebelah kiri karena gangguan organ viscera saat mengeksteriosasi uterus bisa minimal karena hanya berbatasan dengan rumen, sedangkan flank sebelah kanan ada omentum, juga dikhawatirkan intestinae keluar (Deptan, 2006) .

Pada hewan yang berbaring juga dapat dilakukan dimana lokasi operasinya adalah ventrolateral, paramedian, median dekat linea alba dan median pada linea alba, operasi caesar pada hewan yang berbaring terlihat lebih mudah bila dilihat dari gerakan hewan pada waktu operasi yang sangat terbatas. Akan tetapi usaha membaringkan hewan dan kekurang tepatan tempat penyayatan dan lokasi uterus bunting di dalam abdomen cukup menyulitkan prosedur operasi (Mozes, 1979).

“Sectio caesaria” pada hewan yang berdiri merupakan cara yang praktis dan mudah. Sebelum dioperasi, daerah flank kiri dicuci bersih dan dicukur dengan lebar 5 cm dengan panjang 30-40 cm dan luas 20-45 cm, kemudian didesinfeksi dengan Iodium tincture. Tempat incisi ditentukan pada jarak 1 telapak tangan dibawah vertebrae lumbalis dan 1 telapak tangan dibelakang costae terakhir, incisi dilakukan pada kulit secara tegak lurus kebawah sepanjang 30-40 cm. Pada saat pelebaran luka bedah, incisi m. transversus externus dan internus, m. obliquus abdominis externus dan internus juga peritoneum, dengan panduan jari tengan dan jari telunjuk sayatan diperluas seperti sayatan pada kulit, begitu flank kiri terbuka, terlihat rumen yang menutupi hampir semua lubang incisi.

Rumen di dorong ke arah cranial kedalam rongga perut, kemudian palpasi dinding uterus, bila ada torsio uteri kembalikan dahulu ke posisi semula. Pembedahan dilakukan terhadap dinding uterus, sayatan pada dinding uterus harus cukup besar supaya pengeluaran foetus tidak terhalangi. Hindari teririsnya kotiledon saat mengiris dinding uterus karena akan menyebabkan pendarahan pasca operasi. Dinding uterus yang sudah terbuka dapat dijepit dengan tang uterus. Robeklah selaput amnion sehingga cairannya keluar dan kedua kaki foetus terpegang dan ditarik keluar, kemudian dibebaskan dari selaput foetus. Arah penarikan dengan posisi anterior yaitu semula ke atas kemudian membengkok ke bawah dan foetus akan meluncur ke luar dengan beratnya sendiri. Proses pengeluaran foetus harus berlangsung cepat, jika tidak foetus akan mengalami pneumonia aspirasi, bahkan bisa mati. Hal ini terjadi karena bila kaki belakang foetus ditarik keluar lebih dahulu, maka saluran pusar akan terputus, padahal kepala foetus masih didalam selaput amnion yang berisi cairan. Bila proses berlangsung lama, maka foetus akan bernafas di dalam cairan amnion. Pada letak sungsang, selain kedua kaki depan, kepala juga ditarik keluar. Chorda umbilicalis akan putus dengan sendirinya sewaktu pengeluaran foetus (Deptan, 2006) .

Bagian-bagian selaput foetus yang longgar dilepas memakai gunting. Kemudian dibilas dengan Ringer lactate dan dimasukkan antibiotika kedalam rongga uterus sebelum dinding uterus dijahit (Mozes, 1979).  Efek Clenbuterol, uterus akan terus berelaksasi setelah foetus keluar. Bila tidak menggunakan Clenbuterol, uterus akan mengkerut dengan cepat, sehingga penjahitan dinding uterus akan sulit dilakukan (Anonymous, 1979).

Penjahitan dimulai dari dinding uterus dengan pola jahitan Lambert dengan menggunakan chromic cat gut sampai dinding uterus tertutup dan rapat. Sesudah penjahitan, uterus dimasukkan kembali ke dalam rongga perut, lalu bersihkan rongga perut dari darah yang membeku dan runtuhan jaringan yang berasal dari rongga uterus dengan Ringer Lactate yang dicampur dengan Penstrep. Pembersihan ini penting untuk menghindari terjadinya adhesi antar organ viscera pasca operasi. Bila rongga perut sudah bersih, penutupan daerah sayatan di mulai dengan peritoneum dengan pola jahitan simple interrupted memakai benang chromic cat gut, musculus dan fascia di jahit dengan pola simple continous memakai benang chromic cat gut. Kemudian kulit di tutup dengan jahitan simple interrupted menggunakan benang nilon. Ke dalam daerah sayatan di semprotkan penicillin oil dan di bersihkan dengan menggunakan Iodium tincture 3 %. Hewan disuntik penicillin kristal dengan dosis 3-6 juta unit atau tetracyclin dengan dosis 1-2 gr secara intra muscular. Juga disuntikkan Oksitosin 5 ml pasca operasi. Oksitosin merupakan antidota dari Clenbuterol. Oksitosin akan membuat uterus berkontraksi dan proses involusi segera dimulai, plasenta akan terbantu keluar dengan adanya kontraksi uterus (Deptan, 2006) .

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Torsio uterus didefinisikan sebagai gerakan rotasi lebih dari 45 ° sekitar sumbu panjang uterus. Sering terjadi pada bunting tua dan pada saat melahirkan. Gangguan reproduksi dapat diantisipasi dengan memperhatikan beberapa faktor diantaranya :

  1. Seleksi genetik.
  2. Manajemen pakan yang baik sehingga mendukung kesuburan saluran reproduksi.
  3. Manajemen kesehatan yang baik meliputi kesehatan sapi (program pengobatan dan vaksinasi) , kebersihan kandang dan lingkungan (sanitasi dan desinfeksi) sehingga dapat meminimalisasi agen patogen (bakteri, virus, jamur, protozoa) yang dapat mengganggu kesehatan.
  4. Penanganan masalah reproduksi dengan prosedur yang baik dan benar sehingga mengurangi kejadian trauma fisik yang akan menjadi faktor predisposisi gangguan reproduksi.

3.2 Saran

Dengan mengetahui tentang pengertian dan seluk-beluk tentang distokia (kesulitan dalam melahirkan) dan torsio uteri, diharapkan para calon dokter hewan atau pihak terkait dapat memahami secara mendetail langkah apa saja yang harus diambil jika menghadapi kasus distokia dan torsio uteri.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

Deptan, 2006. Pejantan Sapi Potong Dan Kambing. Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari. Direktorat Jendral Peternakan. Departemen Pertanian.

Dua,  A., K. Fishwick dan B. Deverashetty. 2006. Uterine Torsion in Pregnancy: A Review.  The Internet Journal of Gynecology and Obstetrics.  2006 Volume 6 Number 1

Boothby, D. And G. Fahey, 1995. A Practical Guide Artificial Breeding Of Cattle. Agmedia, East Melbourne Vic 3002. Pp 127.

Ewer, T.K. 1982. Practical Animal Husbandry. Dorset Press, Dorchester.

Riady, M. 2006. Implementasi Program Menuju Swasembada Daging 2010. Strategi Dan Kendala. Seminar Nasional Teknologi Peternakan Dan Veteriner. Puslitbangnak, 5-6 September, 2006.

Toelihere, M.R. 1985. Ilmu Kebidanan Pada Ternak Sapi Dan Kerbau. Penerbit Universitas Indonesia (Ui-Press), Jakarta.

Prihatno, S.A. 2004. Infertilitas Dan Sterilitas. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Severidt, J, H. Hirst, D. Van Metre, F. Garry. 2005. Calving and Calf Care on Dairy Farms. http://www.cvmbs.colostate.edu/ilm/proinfo/calving/photos/uterine%20torsion2w-text.jpg

REKAYASA GENETIKA : “RNAi-mediated silencing of a novel Ascaris suum gene expression in infective larvae”

TUGAS TERSTRUKTUR

REKAYASA GENETIKA

 

RNAi-mediated silencing of a novel Ascaris suum gene expression in infective larvae

Anggota kelompok :

Fitri Amalia R.                      0911310012

Fitria Adinda                         0911310013

Rendy Ocky P.                      0911310024

Yulinar Risky Karaman         0911310030

Dyah Agustini                       0911310039

Fanny Rufaida                      0911310040

Inggil Pusvita R.                   0911310046

Putrika Suryandari                0911310057

Prima Santi                            0911310056

Tri Widyawati                         0911310067

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2010

HASIL DISKUSI KELOMPOK BUNGA MATAHARI 2010

 

  1. RNAi =  RNA interferensi merupakan sebuah sistem dalam sel-sel hidup yang mengambil bagian dalam mengontrol gen mana yang aktif dan seberapa aktif mereka.  Dua jenis kecil RNA molekul – microRNA (Mirna) dan kecil campur tangan RNA (siRNA) – adalah pusat untuk interferensi RNA. RNA adalah produk langsung gen, dan ini RNA kecil dapat mengikat RNA lainnya khusus dan baik kenaikan atau penurunan aktivitas mereka, misalnya dengan mencegah RNA dari memproduksi protein. RNA interferensi memiliki peran penting dalam melindungi sel terhadap gen parasit – virus dan transposon – tetapi juga dalam mengarahkan pembangunan serta ekspresi gen pada umumnya.
  2. Ascaris suum = Ascaris suum,  juga dikenal sebagai cacing gelang besar babi, adalah parasit nematoda yang menyebabkan ascariasis pada babi dan menyebabkan kerugian pada peternakan babi di dunia.
  3. Larva infektif = larva yang dapat membawa penyakit
  4. Novel = ide/gagasan baru digunakan untuk menyatakan bahwa merupakan penelitian baru
  5. Silencing = membungkam

 

 


BAB II

PEMBAHASAN

 

Abstrak

Dalam penelitian  ini, potensi RNA gangguan (RNAi) sebagai alat membungkam gen dan efek yang dihasilkan pada pembangunan larva Ascaris suum diperiksa oleh menargetkan gen (diwakili oleh EST06G09) khusus dinyatakan dalam larva infektif A. suum. BALB / c\ mencit terinfeksi dengan RNAi-diperlakukan larva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen target dibungkam setelah perendaman selama 72 jam, dan tingkat kelangsungan hidup RNAi larva perlakuan berkurang 17,25% (P <0,01). Perbedaan yang signifikan (P <0,05) terdeteksi dalam angka larva dikumpulkan dari hati dan paru-paru terinfeksi tikus 4 hari setelah infeksi larva tidak dikenai perlakuan (164,29 ± 21,51) dan larva RNAi-perlakuan (71,43 ± 14,35). Signifikan perbedaan (P <0,01) juga ditemukan di tubuh panjang dan lebar antara larva tidak dikenai perlakuan (480 ± 105,77 pM untuk panjang dan 23,93 ± 3,72 pM untuk lebar) dan RNAi dikenai perlakuan larva (400,57 ± 71,31 pM untuk panjang dan 20,20 ± 2,43 pM untuk lebar). Hasil ini menunjukkan bahwa gen yang direpresentasikan oleh 06G09 EST mungkin memainkan peran dalam pengembangan A. suum larva.

 

Material dan Metode Penelitian

Pada penelitian ini, digunakan beberapa material yang mendukung  penelitian, antara lain :

  1. Parasit

è Parasit yang digunakan adalah A.suum yang sedang berada dalam stadium larva infektiv(L3). Singkatnya, telur yang berembrio diproses dalam sodium hipoklorit     7.5 % dan diinkubasi selama satu malam dalam suhu 37 derajat celcius.

  1. Hewan Coba

è Hewan coba yang digunakan dalam penelitian ini adalah 20 tikus putih berumur 8 minggu yang bebas penyakit. Tikus putih tersebut dibagi menjadi 2 kelompok sama banyak dan diberi makan dari pelet dan air minum. Semuanya dikondisikan dalam iklim yang sama selama satu minggu masa penelitian. Semua prosedur penelitian ini dilaksanakan berdasarkan petunjuk lembaga kode etik hewan coba.

  1. Jumlah persiapan RNA dan pembalikan Transkripsi yang digunakan.

è Total RNA yang dipakai dalam penelitian ini disiapkan dari larva cacing yang sudah dideskripsikan diatas. Trizol reagen (invitrogen) pada penelitian ini digunakan sesuai protokol produksi.

Kemudian metode atau langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Menyiapkan dsRNA

Metode yang digunakan untuk mengisolasi RNAi adalah metode perendaman. Pada metode tersebut, kelompok kontrol dibudayakan di dsRNA free culture medium. Antibiotik yang digunakan untuk penghambat bakteri adalah penisilin G potassium, streptomycin sulfate, dan amphotericin B. Untuk tiap kelompok, didapatkan dua perbedaan dari preparasi dsRNA. Hasil tersebut didapat dari tes dengan menggandakannya tiap masa inkubasi.

Selanjutnya langkah kerja dalam gen fenotip :

 

 

diperiksa menggunakan mikroskop inverted yang memiliki 5 lapangan pandang yang berbeda.

dicuci dua kali (larvanya) dengan 0,9% normal garam, secara terpisah.

 

Hasil

RNA total diekstraksi untuk analisis fenotipe oleh reverse transcription PCR (RT-PCR) 

 

  1. Analisis RT-PCR

Total preparasi RNA dari nematoda dan sintesis cDNA ditampilkan dalam deskripsi diatas, dan 06G09 primer tanpa promotor digunakan pada analisis PCR. Setelah material dan metode tersebut dipersiapkan, larva diinfeksikan ke hewan coba, kemudian hasil dapat dilihat melalui hati dan paru.paru hewan terinfeksi yang sudah dihaluskan dengan mortar kemudian dilakukan sesuai metode diatas.

 

Hasil

Tingkat survival larva Ascaris suum pada 24-96 jam. Grafik batang berwarna putih menunjukkan larva kontrol  dan yang berwarna hitam menunjukkan larvae RNAi-treated. Error bars menunjukkan standar deviasi untuk kelima perbedaan hasil pada saat waktu yang bervariasi. Dibandingkan dengan untreated control larvae, reduksi tingkat survival tertinggi terjadi pada RNAi-treated larvae muncul pada waktu 48 jam, yang berturut-turut yaitu 20.37% (P < 0.01), dan 17.25% (P  < 0.01) serta 14.15% (P < 0.05) pada waktu 72 dan 96 jam.

Gambar 1. Deteksi hasil transkripsi gen 06G09 larva Ascaris suum. A-D  berturut-turut 24, 48, 72, dan 96 jam. Lanes 1 dan 2  menunjukkan terjadinya replikasi dari treatment ; lane 2 menunjukkan kontrol larva  lane 4-6 menunjukkan β-actin dari treatment dan kontrol ; lane 7 menunjukkan kontrol negatif (tidak ada RNA) untuk RT-PCR. Lane M menunjukkan DNA size marker ( nilai ordinat dalam bp (base pair)). Eksperimen ini diulang dua kali dengan hasil yang mirip.

Ekspresi hasil transkripsi 06G09 diamati dalam untreated larvae dari 24 sampai 96 jam. Hasil tersebut diperbesar oleh RT-PCR dari total RNA pada saat 24 dan 48 jam di dalam dsRNA treated larvae, sementara dsRNA treated larvae tidak terdeteksi pada waktu 72 dan 96 jam.

Grafik1. Penyembuhan mencit post-infection Ascaris suum selama 4 hari. Data diekspresikan sebagai arti nilai ± standar deviasi pada masing-masing kelompok 10 mencit (P < 0.05). Grafik batang yang berwarna putih menunjukkan jumlah dari kontrol larva dan grafik batang yang berwarna hitam menunjukkan penyembuhan larva dari dsRNA-treated larvae. Error bars menunjukkan stnadar deviasi untuk kelompok 10 mencit.heruf yng berbeda (a dan b) di atas menunjukkan perbedaan signifikan.

Jumlah penyembuhan larva di hati dan paru-paru selama 4 hari post-inoculation berturut-turut adalah 164.29 ± 21.51 untuk untreated larvae  dan 71.43 ± 14.35 untuk RNAi-treated larvae (P  < 0.05)

Grafik 2. Rata-rata panjang tubuh larva  A. suum pada hati dan paru-paru dari mencit (P < 0.01). grafik batang yang berwarna putih menunjukkan panjang tubuh dari untreated larvae, dan grafik batang berwarna hitam menunjukkan yang dsRNA-treated larvae. Error bars menunjukkan standar deviasi pada masing-masing kelompok. Huruf berbeda (a dan b) di atas grafik batang menunjukkan perbedaan signifikan.

Panjang tubuh dari larva yang disembuhkan adalah berturut-turut 480 ± 105.77 μm untuk untreated control larvae dan 400.57 ± 71.31 μm untuk RNAi-treated larvae (P < 0.01).

Grafik 3. Rata-rata panjang tubuh larva  A. suum pada hati dan paru-paru dari mencit (P < 0.01). grafik batang yang berwarna putih menunjukkan panjang tubuh dari untreated larvae, dan grafik batang berwarna hitam menunjukkan yang dsRNA-treated larvae. Error bars menunjukkan standar deviasi pada masing-masing kelompok. Huruf berbeda (a dan b) di atas grafik batang menunjukkan perbedaan signifikan.

Panjang minimum dan maksimum dari RNAi-treated larvae adalah berturut-turut 260 dan 550 μm, sementara untreated larvae adalah 300 dan 680 μm. Lebar tubuh larva adalah berturut-turut 23.93 ± 3.72 μm untuk untreated larvae dan 20.20 ± 2.43 μm untuk RNAi-treated larvae.

Gambar 2. Tingkat mRNA dari gen 06G09 dalam larva A. suum. Lanes 1 dan 2 menunjukkan tingkat  mRNA  dari gen 06G09 di dalam  RNAi-treated larvae yang disembuhkan dari hati dan paru-paru. Lanes 3 dan 4 menunjukkan tingkat mRNA gen 06G09 di dalam untreated larvae disembuhkan dari mencit yang terinfeksi selama 4 hari. Ekspresi gen β-actin tidak terpengaruh dari kedua dsRNA-treated larvae (lanes 5 dan 6) dan untreated larvae (lanes 7 dan 8). Lane 9 menunjukkan kontrol negatif (tidak mengandung RNA) untuk RT-PCR. Lane M menunjukkan DNA size marker (nilai ordinat di dalam bp (base pair)). Eksperimen ini diulang dua kali dengan hasil yang identik.

Lebar minimum dan maksimum adalah berturut-turut untuk RNAi-treated larvae 19 dan 21 μm, sementara untreated larvae adalah 20 dan 30 μm. Hasil transkripsi mRNA larva disembuhkan terdeteksi oleh analisis RT-PCR dan tidak ada ekspresi gen 06G09 yang terdeteksi di dalam RNAi-treated larvae.

 

Diskusi

Penelitian ini menunjukkan bahwa ekspresi gen yang diwakili oleh 06G09 EST dibungkam setelah 72 jam perendaman, sementara itu ekspresi masih bisa ditemukan pada 24 dan 48 jam dibandingkan dengan larva yang tidak dikenai perlakuan. Peneliti lain telah menemukan bahwa RNAi dapat berlaku setelah 24 jam dengan menggunakan metode perendaman pada A. suum gen AsPPase (Islam et al 2005.), sementara beberapa yang lain menemukan sebuah keterlambatan atau kurangnya reproduksibilitas dalam spesies seperti H. contortus dan O. ostertagi (Geldhof et al 2006;. Visser et al 2006.). Ia juga melaporkan bahwa pola RNAi adalah serupa dalam jangka pendek (4-24 jam) dan jangka panjang (1-4 hari) eksperimen (Holen 2005). Alasan yang paling mungkin untuk fenomena ini mungkin bahwa gen yang berbeda memiliki kerentanan yang berbeda untuk RNAi (al Knox et 2007.).

Dibandingkan dengan kontrol, penurunan tingkat kelangsungan hidup larva dikenai perlakuan dengan dsRNA mencapai puncaknya pada 48 jam, dengan tingkat penurunan 20,37% (P <0,01) ketika mekanisme RNAi dimulai. Laju penurunan lebih rendah pada 72 dan 96 jam dari pada 48 jam RT-PCR analisis larva sembuh dari hati dan paru-paru menunjukkan bahwa efek RNAi dapat dilanjutkan paling sedikit selama 4 hari. Awal studi dengan brasiliensis N. dan C. elegans menunjukkan bahwa efek RNAi dapat bertahan selama 6 hari atau lebih.

Jumlah larva RNAi yang dikenai perlakuan sembuh dari hati dan paru-paru mencit setelah infeksi tantangan yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan larva tidak dikenai perlakuan, dan panjang tubuh dan lebar larva RNAi-diperlakukan juga secara signifikan lebih kecil daripada larva tidak dikenai perlakuan. Hasil ini menunjukkan bahwa beberapa larva RNAi-perlakuan dibunuh oleh membungkam gen atau oleh sistem kekebalan tubuh mencit setelah pembungkaman gen. Dalam parasit nematoda, beberapa proses perkembangan, termasuk molting, sangat penting untuk pengembangan hingga jatuh tempo, tetapi mekanisme molekular dari proses dalam nematoda parasit manusia dan hewan yang kurang dipahami (Islam et al 2005.). Meskipun tidak jelas untuk apa yang telah terjadi di larva A. suum setelah membungkam gen, cacing menunjukkan kelangsungan hidupnya berkurang dan pembangunan tertunda dibandingkan dengan larva kontrol, menunjukkan bahwa hilangnya ekspresi gen 06G09 dapat menyebabkan keterlambatan dalam perkembangan larva.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa RNAi spesifik pada organisme kebanyakan mempelajari, seperti tanaman, cacing, lalat, jamur, vertebrata, dan embrio tikus (Fire et al 1998;. Sharp dan Zamore 2000; Islam et al 2005.). Penyuntikan dsRNA khusus menekan ekspresi gen dengan urutan DNA dan diarahkan degradasi urutan spesifik dari mRNA, tetapi tidak berdampak terhadap gen yang tidak terkait dalam urutan (Sharp dan Zamore 2000; Zamore et al 2000.). Dalam studi Islam et al. (2005), pyrophosphatase dari A. suum dibungkam khusus oleh RNAi, dan lain gen kontrol tidak terpengaruh. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ekspresi gen β-aktin menjaga rumah itu tidak akan terpengaruh ketika gen 06G09 dibungkam.

 

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa ekspresi gen diwakili oleh 06G09 EST diisolasi setelah 72 jam perendaman lebih lebih rendah tingkat kerusakannya dibandingkan ketika hanya direndam pada 24 – 48 jam. Peneliti lain telah menemukan bahwa RNAi dapat bereaksi setelah 24 jam dengan menggunakan metode perendaman pada gen A. suum AsPPase (Islam et al. 2005), sementara beberapa penelitian yang lain menemukan sebuah factor yang memperlambat atau mengurangi daya perkembang biakan pada spesies seperti Haemoncus contortus dan O. ostertagi (Geldhof et al 2006;. Visser et al 2006.). Pada penelitian tersebut melaporkan bahwa pola RNAi adalah mampu bekerja pada (4-24 jam) untuk jangka pendek dan (1-4 hari) untuk jangka panjang (Holen 2005). Alasan yang paling mungkin untuk fenomena ini mungkin bahwa gen yang berbeda memiliki kerentanan yang berbeda untuk RNAi (Knox et al. 2007). Dibandingkan dengan kontrol, untuk mengurangi kelangsungan hidup pada larva diberikan dsRNA  yang akan mencapai puncaknya pada 48 jam, dengan tingkat penurunan 20,37% (P <0,01) ketika reaksi RNAi berlangsung. Laju reaksi menurun pada 72 dan 96 jam dari pada 48 jam. Kemudian setelah dianalisa, ternyata larva A.suum berangsur pulih maka menunjukkan bahwa paparan efek RNAi dapat dilanjutkan paling sedikit selama 4 hari supaya tidak mampu pulih kembali. Studi Awal dengan brasiliensis N. dan C. elegans menunjukkan bahwa efek RNAi bisa bertahan selama 6 hari atau lebih (Hussein et al 2002.; Vastenhouw et al. 2006). Kemudian pada perlakuan dengan RNAi normal ternyata dapat menimbulkan penurunan ukuran larva dan panjang tubuh A. suum berkurang. Hasil ini menunjukkan bahwa beberapa larva mati setelah diberikan perlakuan dengan RNAi dengan mengisolasi gen atau oleh sistem kekebalan tubuh mencit setelah gen silencing. Meskipun tidak jelas untuk apa yang terjadi di larva A. suum setelah gen silencing, cacing menunjukkan kelangsungan hidup yang berkurang dan pertumbuhan yang lambat dibandingkan dengan control yang tidak dikenai perlakuan, dan menunjukkan bahwa hilangnya ekspresi gen 06G09 dapat menyebabkan keterlambatan dalam perkembangan larva. Suntikan dsRNA khusus menekan ekspresi gen dengan urutan DNA dan mengarahkan degradasi urutan spesifik dari mRNA, tetapi tidak berdampak pada gen yang tidak terkait dalam urutan (Sharp dan Zamore 2000; Zamore et al. 2000). Dalam studi Islam et al. (2005), pyrophosphatase dari A. suum diisolasi khusus oleh RNAi. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ekspresi β-aktin gen tidak terpengaruh ketika 06G09 gen diisolasi (Gbr. 6). Sebagai kesimpulan, penelitian ini menunjukkan bahwa gen 06G09 mungkin berperan dalam perkembangan larva A. suum dan mungkin menjadi target potensial untuk pengembangan vaksin atau agen kemoterapi untuk ascariasis. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menjelaskan fungsi biologi gen 06G09.

BAB III

PENUTUP

 

Pembungkam gen 06G09 EST pada Ascaris suum sangat memperngaruhi perkembangan larva dari cacing ini secara signifikan.

DAFTAR PUSTAKA

M. J. Xu & N. Chen & H. Q. Song & R. Q. Lin & C. Q. Huang & Z. G. Yuan & X. Q. Zhu. 2010. RNAi-mediated silencing of a novel Ascaris suum gene expression in infective larvae. Parasitol Res (2010) 107:1499–1503

MEDICAL TERMINOLOGI : Pangan Asal Hewan

PANGAN ASAL HEWAN (PAH) YANG AMAN,SEHAT,UTUH,HALAL

(ASUH)

Disusun oleh

Dwi Ayu                     091131000

Faizal Agung               091131000

Galuh Chandra            091131000

Mardiana Sartono       0911310013

Wakhidatus Inrya       0911310027

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2009

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Di era perdagangan bebas posisi komoditas peternakan Indonesia akan semakin sulit dan memprihatinkan. Berbagai negara maju di dunia sudah mulai melakukan berbagai cara untuk menghambat ekspor Indonesia, bukan hanya dengan tarif atau proteksi melainkan melalui hambatan teknis dan isu lingkungan. Cara-cara ini dapat mengakibatkan lemahnya  daya saing produk peternakan Indonesia dan hal ini merupakan tantangan bagi

Indonesia sebagai implikasi perdagangan bebas yang benar-benar perlu mendapatkan perhatian. Untuk menghadapi tantangan dimasa mendatang, maka Indonesia harus mampu menghasilkan pangan asal hewan yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH). Keamanan pangan (food safety) merupakan persyaratan utama yang  menjadi semakin penting tidak saja untuk kesehatan penduduk Indonesia akan tetapi juga untuk seluruh konsumen yang mengkonsumsinya. Kejadian yang muncul belakangan ini menunjukkan bahwa keamanan pangan mendapat perhatian yang semakin serius di dunia seperti kasus penyakit Sapi Gila (Mad Cow Disease), Foot and Mouth Disease, Flu Burung (Avian Influenza), kontaminan akibat mikroba menimbulkan kasus keracunan makanan dan kasus residu obat hewan pada ikan sehingga ekspor udang Indonesia ditolak serta adanya pemalsuan pada produk hewan dengan bahan pengawet dan pewarna (formalin, borak, nitrat, dll). Tuntutan konsumen dalam hal keamanan pangan akan semakin tinggi seiring dengan pemerataan pendidikan bagi masyarakat dan meningkatnya  pendapatan. Aspek keamanan dari suatu produk bukan hanya berarti tidak mengandung bibit penyakit yang dapat menular kepada manusia, akan tetapi juga tidak mengandung residu yang dapat membahayakan kesehatan manusia

 1.2 Dasar Hukum

  1. Undang – Undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Pokok Peternakan dan

            Kesehatan Hewan

  1. Undang – Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan

           dan Tumbuhan

  1. Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan
    1. Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Bab III

            Pasal 4)

  1. Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 1983 tentang Kesehatan

            Masyarakat Veteriner

1.3 Rumusan Masalah

         1. Apa ASUH dan bagaimana penerapannya ?

2. Apakah peran dokter hewan dalam pelaksanaan pengawasan produk pangan asal

             hewan yang  aman, utuh, sehat, dan halal ?

1.4    Tujuan

  1. Untuk mengetahui ppoduk pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh, dan halal
  2. Untuk menetahui peran dokter hewan dalam pengawasan peredaran produk pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh, dan halal

 BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Pangan Asal Hewan Yang Aman, Sehat, Utuh, Halal

Sudah menjadi tugas seorang dokter hewan untuk mengawasi proses pengolahan produk makanan asal hewan dari peternakan hingga ke meja makan, atau yang biasa kita kenal save from farm to table. Pangan asal hewan yang akan dikonsumsi oleh masyarakat harus aman dan layak karena  setiap orang berhak untuk memperoleh pangan yang cukup bergizi & aman dikonsumsi (Deklarasi FAO/WHO (1992) pada International Conference on Nutrition). Pangan harus aman (safe) & layak (suitable for human consumption) (Code of Hygienic Practice, Codex Alimentarius Commission). Seperti halnya yang dijelaskan pada undang – undang bahwa setiap orang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan kegiatan atau proses produksi, penyimpanan, pengangkutan, dan atau peredaran pangan wajib:  memenuhi persyaratan sanitasi, keamanan, dan atau keselamatan manusia …  (UU No 7 Tahun 1996 tentang Pangan, Bab II Pasal 7 ayat a). Hak konsumen adalah hak atas kenyamanan, keamanan & keselamatan dlm mengkonsumsi barang dan atau jasa (UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Bab III Pasal 4).

Bahan pangan yang akan dikonsumsi oleh masyarakat harus berprinsip ASUH. Adapun yang dimaksud dengan ASUH adalah :

  1. Aman yaitu tidak mengandung bahaya-bahaya biologis, kimiawi dan fisik atau bahan-bahan yang dapat mengganggu kesehatan manusia .
  2. Sehat yaitu mengandung bahan-bahan yang dapat menyehatkan manusia (baik untuk kesehatan).
  3. Utuh yaitu tidak dikurangi atau dicampur dengan bahan lain.
  4. Halal yaitu sesuai dengan syariat agama Islam.

2.2 Keamanan Pangan Asal Hewan

Adapun beberapa definisi mengenai keamanan pangan, diantaranya adalah jaminan bahwa pangan tidak akan menyebabkan bahaya bagi konsumen saat disiapkan dan atau dikonsumsi sesuai dengan tujuan penggunaannya  (Codex Alimentarius 1997), serta kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia (UU no. 7/1996 tentang Pangan). Selain itu, demi memenuhi kecukupan gizi bagi masyarakat diperlukan beberapa produk tambahan. Sesuai dengan perkembangan jaman, produk-produk tersebut diproduksi dengan proses bioteknologi.

Dan sesuai dengan perkembangan teknologi, bahan pangan dapat diproduksi dengan proses bioteknologi  masih harus berprinsip pada ASUH pula terutama pada produk yang berasal dari hewani. Dengan demikian kelayakan dan keamanan bahan pangan untuk masyarakat dapat terjamin. Dan dapat diingat pula bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat akan bertambah.

Pangan asal hewan adalah media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme karena mengadung zat gizi tinggi, pH mendekati 7.0, aktivitas air >0.80 . Pangan asal hewan dikategorikan pangan mudah rusak (perishable food) & pangan berpotensi mengandung bahaya (potentially hazardous food/PHF) maka dari itu perlu penanganan yang higienis & baik.  Hal ini dikarenakan 75% penyakit-penyakit baru yang menyerang manusia dalam 20 tahun terakhir disebabkan oleh patogen yang berasal dari hewan atau produk hewan (WHO 2005). Bahaya-bahaya (hazards) yang mungkin terdapat dalam pangan:

M Bahaya biologis:  bakteri, kapang, kamir, riketsia, virus, cacing, protozoa, prion

M Bahaya kimia:  residu antibiotik, residu hormon, cemaran logam berat, pestisida, toksin alami, mikotoksin, cemaran lain

M Bahaya fisik:  kerikil kecil, serpihan kaca, serpihan kayu, besi.

2.3 Masalah Pangan Asal Hewan

Masalah pangan asal hewan di Indonesia banyak sekali. Mulai dari cemaran mikroorganisme dan mikotoksin,  mengandung residu maupun formalin pada daging sapi maupun ayam, bahkan permainan curang para pedangang untuk menyuntikan air pada daging atau yang biasa disebut dengan glonggongan untuk keuntungan semata.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah sudah melaksanakan  melaksanakan PMSR (program monitoring dan surveilans residu)  oleh BPMPP, BPPV dan Lab Kesmavet. Tetapi masih banyak kendala yang ditemui diantaranya praktek higiene dan sanitasi yang masih kurang, tidak ada pengawasan dan pemeriksaan yang konsisten (pemeriksaan hewan dan daging di RPH), penegakan hukum yang lemah, belum adanya SISTEM  khususnya KESMAVET.

2.4 Higiene Sanitasi

Sanitasi adalah menciptakan segala sesuatu yang higienis dan kondisi yang menyehatkan, sedangkan higiene adalah seluruh tindakan untuk mencegah atau mengurangi kejadian terhadap kesehatan. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa sanitasi dilakukan terhadap lingkungan sekitar pangan, dan hygiene dilakukan terhadap pangan dan personal (yang berhubungan langsung dengan bahan makanan tersebut). Kedua perlakuan ini mutlak diperlukan untuk menjaga kebersihan dan kehigienisan suatu produk pangan asal hewan.

2.5 Good Hygienic Practice

Good Hygienic Practice / GHP (all practices regarding the conditions and measures necessary to ensure the safety and suitability of food at all stages of the food chain ) adalah seluruh praktek yang berkaitan dengan kondisi dan tindakan yang dibutuhkan untuk menjamin keamanan dan kelayakan pangan pada seluruh tahapan dalam rantai pangan (Codex Alimentarius Commission 2005). Tujuan GHP/GMP adalah  menghasilkan pangan yang aman (safe) dan layak (suitable) untuk dikonsumsi yang dirujuk dari peraturan-perundangan (pemerintah atau perusahaan), SNI, Code of Hygienic Practice (Codex Alimentarius Commission), atau hasil penelitian.  GHP/GMP dijabarkan lebih lanjut dalam Standard Operating Procedures (SOP).  Penerapan GHP pada penyediaan pangan asal hewan bersifat penting pada penerapan konsep safe from farm to table atau konsep aman dari peternakan sampai dikonsumsi.

BAB III

KESIMPULAN

 

  1.  Bahan pangan yang beredar di masyarakat harus memenuhi prinsip ASUH yaitu Asli, Sehat, Utuh dan Halal. Pangan asal hewan dikategorikan sebagai pangan mudah rusak dan PHF, sehingga perlu penerapan sistem jaminan keamanan & kualitas pangan, dengan konsep safe from farm to table .
  1. Peran dokter hewan dalam peredaran produk pangan asal hewan ini adalah sebagai pengontrol dan pengawas penyebaran produk pangan asal hewan. Sehingga masyarakat memiliki pengetahuan untuk berwaspada terhadap  bahan pangan yang berasal dari hewani yang akan dikonsumsi