EMBRIOLOGI : Tugas

EMBRIOLOGI

FERTILISASI PADA CACING TANAH

(Lumbricus terrestris)

 

Makalah Ini Disusun Sebagai Tugas Akhir Semester I

Pendididikan Dokter Hewan Program Studi Kedokteran Hewan

Disusun oleh

Rendy Ocky               0911310024

Samha Solikhatin      0911310025

Viki Agita                   0911310026

Wakhidatus Inrya     0911310027

PENDIDIKAN DOKTER HEWAN

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2009

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Cacing tanah bermanfaat sebagai bahan obat, pakan ternak, bahan kosmetik, makanan manusia, dan vermicomposting. Ada Beberap jenis dari Cacing tanah diantaranya seperti Lumbricus rubellus, Eisenia foetida, Pheretima sp. Secara biologis cacing tanah berstruktur silindris, simetri bilateral, bersegmen, hermafrodit, serta bertelur (Muh. Ilyas. 2009). Cacing tanah merupakan hewan invertebrata atau hewan tak bertulang belakang (Kuncung, A. 2008).

Adapun klasifikasi dari cacing tanah adalah sebagai berikut :

Nama Latin            : Lumbricus sp 

Phylu                      : Annelida

Sub phylum            : –

Ordo                       :  Opisthopora

Family                    : Lumbricidae

Genus                     :  –

Spesies                   :  Lumbricus terrestris

Genus                     : Oligochaeta

Nama Daerah         :  Earthworm Cacing tanah

Perkembangbiakan hewan Invertebrata dibagi menjadi dua, yaitu Generatif (kawin) dan Vegetatif (tak kawin). Perkembangbiakan secara generatif adalah perkembangbiakan dengan cirri penyatuan gamet, yaitu sperma dan ovum atau yang dikenal dengan sebutan pembuahan (fertilisasi). Fertilisasi adalah pembuahan, bersatunya ovum dan sperma. (Virda, 2008). Perkembangbiakan generatif pada hewan meliputi perkembangbiakan dengan konjungsi dan pleburan dua sel gamet. Konjugasi yaitu perkembangbiakan secara kawin pada organisma yang belum jelas alat kelaminnya, contohnya Spirogyra. Sedangkan peleburan dua sel gamet, dapat terjadi pada hewan yang telah memiliki alat kelamin tertentu, sebagai contoh pada cacing tanah terjadi perkawinan silang antara dua cacing yang kawin.  Cacing tanah tergolong hewan hermafrodit yang memiliki alat kelamin jantan dan berin pada satu tubuh. Selain cacing tanah yang tergolong hermafrodit antara lain cacing pita,  siput darat dan bekicot (Mustang, 2009)
Salah satu hal yang paling menakjubkan tentang cacing adalah bahwa mereka dapat hidup selama bertahun-tahun selama kondisi iklim dan benar.  Tubuh cacing secara kasar terdiri dari sembilan puluh persen air. Selain itu, ketika cacing mati, tubuh mereka hanya menjadi bagian dari kompos di dalam tanah dan di seluruh kehidupan dan kematian mereka, mereka sedang membantu tanah dengan banyak cara (Gift, A. 2009).

1.2  Rumusan Masalah

  1. Bagaimana Sistem Reproduksi Cacing Tanah ?
  2. Bagaimana Proses Fertilisasi Pada Cacing Tanah ?

1.3  Tujuan

  1. Untuk mengetahui sistem reproduksi cacing tanah secara umum.
  2. Untuk mengetahui bagaimana cacing tanah menghasilkan keturunannya

1.4  Manfaat

Bagi masyarakat :

Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai cacing tanah dalam bereproduksi.

Bagi Mahasiswa :

Memahami bagaimana cacing tanah menghasilkan keturunannya serta bagaimana mereka bereproduksi.

Bagi Peneliti

Memberikan alternatif bahan penelitian mengenai cacing tanah.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Fertilisasi Cacing Tanah

       Sebagian besar invertebrata melakukan reproduksi secara seksual. Reproduksi seksual dicirikan dengan penyatuan gamet (fertilisasi), yaitu sperma dan ovum. Fertilisasi pada invertebrata sering dijumpai pada cacing tanah yang bersifat hermafrodit (satu individu menghasilkan sperma dan ovum). Meskipun hermafrodit, cacing tanah tidak dapat melakukan fertilisasi sendiri, melainkan dengan pasangan cacing tanah lainnya (Adi kuncung, 2008). Bagi hewan hermafrodit, pembuahan tetap harus terjadi dengan dua individu yang berbeda. Ambil contoh pada cacing tanah, pembuahan sendiri susah terjadi, karena lubang pelepasan sperma berjauhan dengan lubang pelepasan sel telur (Warso, 2009).

Reproduksi cacing tanah  didahului dengan kopulasi. Dua cacing tanah berlekatan dengan saling tebalik.  Kepala cacing tanah A, ada di sebelah belakang cacing tanah B. mereka saling berdekatan dengan dibantu oleh lender yang dikeluarakan oleh klitelum. Sementara terjadi kopulasi, cacing A mengeluarkan dan memasukan spermatozoa ke dalam kantung penyimpanan spermatozoa (reseptakel seminal) dari cacing B demikian sebaliknya cacing B. setelah kawin cacing berpisah. Lalu masing – masing mengeluarkan lender berbentuk gelang yang disebut kokon. Kokon ini juga berasal dari klitelum. Kemudian galang lender akan bergerak kedepan (kearah kepala). Saat gelang lender melawati lubang pelepasan sel telur dan lubang yang berasal dari kantung penyimpan sperma (reseptakel seminal = spermatozoanya dari cacing lain), maka sel telur dan spermatozoa berada dalam gelang lender tadi. Pembuahan terjadi di dalam gelang lender, seterusnya telur yang sudah di buahi tersebut lepas dari tubuh cacing (Onled, 2009).

Cacing tanah harus kawin untuk mereproduksi, meskipun salah satu cacing tanah mengandung baik laki-laki dan perempuan organ reproduksi.  Telur terbentuk dalam tabung lendir yang tergelincir di atas kepala cacing dan bentuk  kepompong atau kapsul yang incubates mereka.  Telur berkembang menjadi cacing-cacing kecil di kepompong dan merangkak keluar melalui salah satu ujungnya ketika mereka siap untuk muncul.  Kepompong bervariasi dalam ukuran dan bentuk dan sekitar 1 / 25 atau 1 / 3 inch panjang.  Beberapa cacing jatuh tempo cepat matang tiga sampai empat bulan setelah menetas dan akan memulai siklus berkembang biak mereka.  Telur diletakkan di atas tanah pada interval satu bulan, dengan  setiap telur kapsul berisi 5-15 bayi cacing. (Elliott, j .2003)

                                     Gb. 1 Proses Fertilisasi pada Cacing

Di Kanada perkawinan berlangsung hampir sepanjang musim panas, tetapi di daerah yang lebih selatan dari wilayah cacing paling sering melakukan perkawinan adalah awal musim semi dan akhir musim gugur.  Walaupun cacing tanah memiliki keduanya perempuan dan laki-laki organ seks, mereka masih perlu pasangan untuk bereproduksi. Tidak berbeda ras manusia, cacing pergi tentang menemukan pasangan sembarangan. Mereka seperti hanya tersandung ke pasangan mereka, dengan mengandalkan pada kepekaan ekstrem mereka, ingat cacing tidak dapat melihat atau mendengar, dari tanah mendeteksi getaran. Mereka benar-benar merasakan tanah bergetar atau rumput bergerak ketika cacing lain bergerak melalui itu. Ketika cacing mengenal calon pasangan adalah dekat ia akan mulai mencari di daerah dengan ujung tubuhnya sampai ia berlari ke cacing lain. Ketika mereka menyentuh slide di samping satu sama lain dan berguling di sisi mereka-satu menghadap kiri kanan yang lain. ( Elliot, 2003)

Setiap cacing memiliki empat sepasang setae, ini seperti bulu pada sikat rambut dan dapat diperpanjang keluar atau ditarik kembali ke dalam tubuh cacing. Set ketiga setae digunakan dalam proses perkawinan. Mereka digunakan untuk memegang cacing tanah bersama-sama ketika kawin. Setae ini benar-benar menembus tubuh pasangan selama perkawinan bertindak. Begitu mereka berada di posisi, sperma dari setiap cacing lolos ke yang lain dan dikumpulkan dan disimpan dalam karung khusus. Proses berlangsung 2 hingga 3 jam. Terpisah pada cacing tanah dan kembali ke terowongan. ( Elliot, 2003)

Pada bagian kedua dari proses reproduksi, berlendir khusus zat yang dihasilkan oleh clitellum (beberapa menyebut ini seks band) membentuk lumpur di sekitar tabung cacing tanah. Lalu ia merangkak mundur ke dalam terowongan dan slip depan tabung lendir dari tubuhnya. Seperti halnya, itu melewati laki-laki dan perempuan bukaan, telur (dari orangtua) dan sperma (dari pasangan) dilepaskan dari tubuh. Pembuahan terjadi di luar tubuh, tetapi dalam perlindungan lendir tabung. Begitu bebas dalam tanah, tabung lender mongering, menyusut dan membentuk sebuah pelindung yang mencakup lebih dari telur, Pada pase ini biasa disebut kepompong. ( Gift, 2009)

Gb. 2 Daur hidup cacing tanah

Kepompong didepositkan cacing jauh di dalam terowongan di bawah garis embun beku. cacing tanah biasanya menetas dalam waktu 30 hingga 60 hari, tetapi beberapa kokon dapat tetap di dalam tanah selama bertahun-tahun sebelum keturunan muncul. Telur akan tetap berada dalam kokon hampir selamanya. Bahkan, cacing tidak dapat melepaskan diri dari kepompong. Mereka harus dibebaskan dari luar. Mereka hanya akan menetas jika dan ketika kondisi tepat untuk kelangsungan hidup mereka. Jika tidak ada cukup tanah bakteri (jenis yang baik) cacing tidak akan dirilis. Bakteri itu sendiri meluruh bagian luar dari kepompong membiarkannya melepaskan cacing. (Gift, 2009)

Setelah mereka menetas dibutuhkan dua hingga empat tahun, untuk mencapai kematangan seksual. Ketika cacing dewasa mereka bisa kawin dengan cacing tanah lain yang mereka temui. Cacing dikatakan siap melakukan fertilisasi ketika sebuah cacing adalah  apabila sekitar empat sampai enam minggu cacing akan mulai membentuk band putih di sekeliling kepala, yang disebut clitellum. Di sinilah tempat kedua organ reproduksi itu berada. (Elliot, 2003)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

  1. Sistem reproduksi pada cacing tanah adalah generatif, Walaupun cacing merupakan hewan hemaprodit yang artinya memiliki dua jenis alat kelamin yang berbeda dalam satu individu (Testis dan Ovum), akan tetapi pematangan sel kelamin/gamet dari kedua jenis alat kelamin itu berbeda waktunya. Waktu pematangan sel sperma pada testis berbeda dengan waktu pematangan sel telur/ovum pada ovarium. Waktu pematangan sel gamet ini tidak pernah terjadi secara bersamaan dalam satu individu.
    Jadi, walaupun salah satu alat kelamin cacing telah siap melakukan proses pembuahan, alat kelamin yang lainnya masih dalam proses pematangan sel gamet yang artinya belum siap melakukan pembuahan. Hal inilah yang menyebabkan cacing tidak dapat melakukan pembuahan sendiri. Diperlukan minimal dua individu untuk melakukan reproduksi dan pembuahan pada cacing.
  2. Proses fertilisasi dimulai ketika bagian clitellium mengeluarkan lendir à kopulasi antar dua cacing (saling berdekatan)àmasing – masing mengeluarkan lender berbentuk gelang yang disebut kokon à galang lender akan bergerak kedepan (kearah kepala) à gelang lender melawati lubang pelepasan sel telur dan lubang yang berasal dari kantung penyimpan sperma (reseptakel seminal = spermatozoanya dari cacing lain) à sel telur dan spermatozoa berada dalam gelang lender à Pembuahan terjadi di dalam gelang lender à telur yang sudah di buahi tersebut lepas dari tubuh cacing à tabung lender mongering, menyusutà membentuk sebuah pelindung yang mencakup lebih dari telurà kepompong

DAFTAR PUSTAKA

Elliott, J. 2003. worm reproduction. http://www.newton.dep.anl.gov/askasci/zoo00/zoo00508.htm. Diakses tanggal  14 Desember 2009. Pukul 15.39.

Gift, A. 2009.Worm-life-cycle. http://www.worm-farming.com/worm-life-cycle.html. Diakses tanggal  14 Desember 2009. Pukul 15.08.

Kuncung, A. 2008.Sistem Reproduksi Invertebrata. http://gurungeblog.wordpress.com/2008/10/31/sistem-reproduksi-invertebrata/. Diakses tanggal  14 Desember 2009. Pukul 14.47.

Muh. Ilyas. 2009. Efek Kombinasi Tiga Species Cacing Tanah Terhadap Dekomposisi Sampah Organik. http://images.ilyas1306.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SAiORAoKCDIAAFV-5rA1/KOLOKIUM-YAS.ppt?nmid=91789893. Diakses tanggal  14 Desember 2009. Pukul 14.35.

Mustang, 2009. Reproduksi. http://www.forumsains.com/biologi-smu/reproduksi/?wap2. Diakses tanggal  14 Desember 2009. Pukul 16.45.

Onled, 2009.Perkembangbiakan Hewan.   http://0n13d.wordpress.com/2009/02/16/perkembangbiakan-hewan/. Diakses tanggal  14 Desember 2009. Pukul 14.50.

Virda, 2008. Reproduksi Invertebrata atau Avertebrata.  virdayan.blogspot.com/2008_12_01_archive.html. Diakses tanggal  14 Desember 2009. Pukul 16.54.

Warso, 2009.  Cara Menghasilkan Keturunan. http://dhi.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=11381. Diakses tanggal  14 Desember 2009. Pukul 16.07.

Win, 2009. Cacing Tanah Lumbricus rubellus. http://tmo-sumberagung.blogspot.com/2009/03/cacing-tanah-lumbricus-rubellus.html. Diakses tanggal  14 Desember 2009. Pukul 16.40.

Zannr, 2009.  Earthworms-and-Reproduction. http://hubpages.com/hub/Earthworms-and-Reproduction. Diakses tanggal  14 Desember 2009. Pukul 15.37.

EMBRIOLOGI : Resume “Perubahan Spermatogenesis pada Pria dengan Epididimis Testis Suhu Tinggi”

Jurnal Embriologi

Perubahan Spermatogensis pada Pria dengan Epididimis Testis Suhu Tinggi

 

Dirangkum sebagai ujian tengah semester tahun ajaran 2009-2010 Program Studi Kedoktetan Hewan Universitas Brawijaya


Oleh

Wakhidatus Inrya Muhammada

0911310027

 

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2009

Perubahan Spermatogenesis pada Pria dengan Epididimis Testis Suhu Tinggi

 

  1. I.                   PENDAHULUAN

Sperma diproduksi oleh sel yang sangat kompleks dan proses diferensiasi yang dikenal sebagai spermatogenesis. Okupasi yang terkena suhu tinggi mempengaruhi fungís testis yang menyebabkan sebagian atau seluruh penangkapan spermatogenik. Pencelup, kaki, pekerja ttanur tinggi dan laki-laki dengan varikokel dikenal untuk mengembangkan hipertermia testis yang menyebabkan oligoasthenoteratozoospermia (OAT) dan azoospermia. Analisis air mani subur dari 125 laki-laki (dan 25 kontrol subur mengikuti pedoman WHO, 1999 menunjukkan azoospermia pada 109 pria dan oligozoospermia di 16 laki-laki. Dua puluh azoospermic dan 14 oligozoospermic pria itu testiculoepididymal tinggi suhu kerja baik karena terkena suhu tinggi atau Varikokel. Semua 14 oligozoospermic pria menunjukkan persentase yang sangat tinggi dari sperma dengan morfologi abnormal, gangguan motilitas dan mereka diklasifikasikan sebagai kelompok OAT. Pengamatan dilakukan dalam studi ini menegaskan kembali bahwa suhu intratesticular tinggi menyebabkan sebagian atau spermatogenik lengkap penangkapan dan dapat mengakibatkan peningkatan produksi morfologi Penangkapan spermatogenik lengkap dapat mengakibatkan peningkatan produksi morfologi abnormal dengan gangguan motilitas sperma. Hal ini berhubungan dengan  invers fungsi sperma dan temperatur tinggi memiliki implikasi dalam kedokteran klinis patologis baik dalam pemahaman maupun untuk tindakan terapeutik.

  1. II.                METODE

Seratus dua puluh lima subur laki-laki yang didiagnosis sebagai subur di Klinik Urologi dari All India Institute of Medical Sciences, New Delhi. Pasangan dikatakan tidak subur jika istri tidak dapat concieve setelah 1 tahun hubungan seksual tanpa perlindungan reguler.Laki-laki yang subur, maka istri hamil dalam 1 tahun pernikahan adalah kontrol (kelompok kontrol).. Informasi tercatat dari pasien dan kontrol tentang pekerjaan mereka, jenis pekerjaan yang dilakukan, masa kohabitasi, setiap penyakit baru-baru ini, obat-obatan diambil, paparan iradiasi, konsumsi alkohol, merokok, kebiasaan makan, penggunaan narkoba dan sejarah keluarga dalam model berpenampilan. Citogenetik dan analisis molekuler dilakukan sesuai dengan pedoman yang ditentukan oleh Simoni et all (1999). Rincian umum dilakukan pemeriksaan fisik untuk setiap pasien. Tingkat FSH dan LH dinilai untuk setiap pasien untuk menentukan kerusakan testis dan untuk mengkonfirmasi bahwa penyebab  infertilitas adalah sekretori.

III.        HASIL DAN PEMBAHASAN

Dua sampel air mani dikumpulkan pada interval 1 bulan dari setiap pasien. Sampel air mani dicairkan pada suhu kamar dan mani volume, pH, jumlah sperma, motilitas dan morfologi dianalisis dalam waktu satu jam dari koleksi menggunakan pedoman WHO, 1999. Untuk menilai pergerakan sperma lapangan mikroskop diperiksa dan motilitas spermatozoa dari masing-masing telah diklasifikasikan sebagai berikut A (yang cepat motilitas progresif linier), B (lambat atau lesu linier atau non linier motilitas), C (tidak progresif motilitas)dan selainnya D (immotale). Untuk mempelajari morfologi sperma setetes air mani itu dioleskan pada kaca bersih, kemudian mencampurkan  bagian yang sama dari etanol dan eter. Bernoda slide dianalisis di bawah x100 imersi minyak yang bertujuan untuk menilai morfologi kelainan kepala sperma, badan dan ekor. Sebanyak 100 sperma per sampel discan untuk menghitung dan mengklasifikasikan sperma dengan morfologi abnormal seperti kecil, pin, berbentuk besar, tapered, dua dan tiga kepala; melebar atau bengkok badan, lehernya dan digulung atau pendek ekor tebal. hasil dan deviasi standar dihitung dengan menggunakan metode statistik standar dan uji sperma untuk mempelajari arti dari dua sampel dengan asumsi varian yang tidak setara.

  1. IV.             KESIMPULAN

Analisis air mani dilakukan di 125 subur laki-laki dan 25 kontrol. Usia rata-rata pasien adalah 28,3 tahun (17-53years) dan durasi rata-rata perkawinan 6 tahun (1-30 tahun).. Dari 125 laki-laki tidak subur, 109 laki-laki tidak memiliki sperma dalam ejakulasi dan diklasifikasikan sebagai azoospermic. Enam belas laki-laki memiliki total jumlah sperma kurang dari 20 juta sperma dan diklasifikasikan sebagai oligozoospermic. Dalam dua dari 16 total oligozoospermic laki-laki berarti jumlah sperma adalah 6.25 juta dengan lebih dari 75% dari sperma menunjukkan morfologi normal. Sperma berbentuk oval ini kepala dengan topi acrosomal mencakup lebih dari sepertiga dari permukaan kepala. Bagian leher/ badanberbentuk silinder dan lebarnya kurang dari sepertiga lebar kepala. Ekor panjang, ramping dan lurus. Sekitar 20% sperma menunjukkan morfologi abnormal. Sisa 14 oligozoospermic laki-laki ditemukan memiliki persentase yang sangat tinggi dari morfologi abnormal sperma dengan gangguan motilitas gambar karakteristik. Kasus yang dianalisis secara rinci dan hasil dibandingkan dengan kelompok kontrol (tabel 1) Semen volume dan pH dalam kelompok OAT sedikit lebih rendah daripada kelompok kontrol, yang tidak signifikan (p> 0.05). Total rata-rata jumlah sperma dalam kelompok OAT 3,9 juta yang secara signifikan (p <0,05) lebih rendah daripada kelompok kontrol. Persentase rata-rata sperma dengan kelainan morfologi (gambar1) seperti ekor melingkar tebal, berbentuk kepala, tapered kepala, kepala ganda dan leher / badan membesar secara signifikan lebih tinggi pada kelompok OAT dibandingkan dengan kelompok kontrol (p <0,05). Rata-rata persentase motilitas sperma dengan tingkat C dan D secara bermakna lebih tinggi pada kelompok OAT daripada di kelompok kontrol (p <0,05) dan motilitas grade A secara signifikan lebih rendah daripada kelompok kontrol (p <0,05). Rata-rata persentase sperma dengan motilitas grade B lebih rendah daripada kelompok kontrol yang tidak signifikan (p> 0.05). Kadar FSH dan LH (17,07 + 1,8 miu / ml dan 24 ± 1 miu / ml) lebih tinggi secara bermakna (p <0,05) di kelompok OAT jantan dibandingkan dengan kelompok kontrol (3,54 ± 0,29 miu / ml dan 6,4 ± 0,1 miu / ml).

EMBRIOLOGI : Sistem Digesti

Semua zat yang berasal dari tumbuhan dan hewan terdiri dari komponen kompleks yang tak dapat digunakan begitu saja, karena itu memerlukan pemecahan agar menjadi komponen yang lebih sederhana. Fungsi utama digesti adalah memecah molekul kompleks dan molekul besar dalam makanan sehingga molekul itu dapat diserap dan digunakan tubuh. Penguraian komponen kompleks menjadi komponen sederhana disebut hidrolisis (Tillman,. At al, 1984).

Sistem digesti pada ternak dibagi menjadi dua macam yaitu monogastrik dan poligastrik. Monogastrik memiliki saluran pencernaan meliputi mulut, oesophagus, stomach, small intestinum, large intestinum, rektum dan anus. Sedangkan pada poligastrik perut dibagi menjadi empat yaitu rumen, reticulum, omasum, dan abomasum, sehingga urutan saluran pencernannya menjadi mulut, oesophagus, rumen, reticulum, omasum, abomasum, small intestinum, large intestinum, rektum dan anus (Swenson,1997).

Sistem saluran pencernaan terdiri atas saluran yang dilapisi oleh membran mukosa yang berhubungan dengan kulit luar, pada mulut dan anus. Empat lapisan yang menyusun dinding saluran pencernaan dari luar ke dalam adalah epitel squamous (di dalam bagian glandular dari perut serta kolon sederhana), lamina propria (termasuk mukosa dan sub mukosa muskularis), otot-otot (seran lintang esophagus, otot halus, pada bagian selainnya esofagus yang umumnya bagian dalam sirkuler juga bagian luar longitudinal), arah kaudal terhadap diafragma serta yang menutupi sebagian besar saluran pencernaan (suatu penutup serosa bagian luar yang disebut peritonium viseral) (Frandson,1992).

Langkah-langkah dalam sistem digesti meliputi, mekanis, biologis dan enzimatis. Sistem mekanis dilakukan dengan prehension, reinsalivasi, dan remastikasi serta redeglutisi. Didalam rumen terdapat mikroflora rumen yang berfungsi untuk mencerna selulose dan hemisellulose menjadi VFH, CO2, CH4 dan energi panas. Fungsi lain dari organisme rumen adalah sebagai sumber energi, sumber asam amino, dan sintesis vitamin B. Sistem digesti juga dibantu oleh glandula saliva, pancreas dan hati merupakan kelenjar tambahan (Tillman,. At al, 1984).

Hewan non ruminansia (unggas) memiliki pencernaan monogastrik (perut tunggal) yang berkapasitas kecil. Makanan ditampung di dalam crop kemudian empedal/gizzard terjadi penggilingan sempurna hingga halus. Makanan yang tidak tercerna akan keluar bersama ekskreta, oleh karena itu sisa pencernaan pada unggas berbentuk cair (Girisenta, 1980).

Zat kimia dari hasil–hasil sekresi kelenjar pencernaan memiliki peranan penting dalam sistem pencernaan manusia dan hewan monogastrik lainnya. Pencernaan makanan berupa serat tidak terlalu berarti dalam spesies ini. Unggas tidak memerlukan peranan mikroorganisme secara maksimal, karena makanan berupa serat sedikit dikonsumsi. Saluran pencernaan unggas sangat berbeda dengan pencernaan pada mamalia. Perbedaan itu terletak didaerah mulut dan perut, unggas tidak memiliki gigi untuk mengunyah, namun memiliki lidah yang kaku untuk menelan makanannya. Perut unggas memiliki keistimewaan yaitu terjadi pencernaan mekanik dengan batu-batu kecil yang dimakan oleh unggas di gizzard (Swenson, 1997).

Saluran pencernaan ruminansia terdiri dari rongga mulut (oral), kerongkongan (oesophagus), proventrikulus (pars glandularis), yang terdiri dari rumen, retikulum, dan omasum; ventrikulus (pars muscularis) yakni abomasum, usus halus (intestinum tenue), usus besar (intestinum crassum), sekum (coecum), kolon, dan anus. Lambung sapi sangat besar, yakni ¾ dari isi rongga perut. Lambung mempunyai peranan penting untuk menyimpan makanan sementara yang akan dikunyah kembali (kedua kali). Selain itu, pada lambung juga terjadi pembusukan dan peragian (Arora, 2005).

Pada hewan lambung tunggal (kelinci) organ saluran pencernaanya terdiri dari mulut, faring, kerongkongan, lambung (gastrum), usus halus (intestineum tenue), yang terdiri dari doedenum, jejenum, ileum, usus besar (intestinum crasum), yang terdiri dari kolon, sekum, dan rektum kemudian berakhir pada anus. (Tillman,. At al, !984).

Daftar Pustaka

Arora, S. P. 2005. Pencernaan Mikrobia pada Ruminansia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Frandson, R.D. 1992 . Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi IV. Gadjah Mada University, Yogyakarta.

Girisenta, 1980. Kawan Beternak. Yayasan Kanisius, Yogyakarta.

Nawang, S. 1989. Zoologi . Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi antar Universitas Ilmu Hayat IPB. Bogor .

Swenson, M. J. 1997. Dukes Phisiology of Domestik Animals. Cornell USA University Press.

Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo, S. Lebdosoekojo.1984. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.