Jalan-jalan bersama ke KUD BATU

Malang, 18 Juni 2011, Kelompok Ternak Besar IMPROVE UB mengadakan kunjungan lapangan ke KUD BATU. Acara yang diikuti 22 orang anggota KERTAS tersebut sempat diwarnai kegejean karena ternyata kami salah tempat, seharusnya tempat pengolahan yang menjadi tujuan kami yang terletak Beji Batu, namun kami datang ke KUD yang jl. Diponegoro, alhasil kami harus balik arah. Sesampainya disana kami disambut oleh Pak Winarno selaku humas KUD BATU. Kami diberi penjelasan mengenai profil KUD BATU dan alur pengolahan susu. Setelah diskusi selesai kami diajak untuk melihat proses pengolahan dari lantai 2 KUD BATU. Kami dapat melihat tabung-tabung besar, beberapa terbuka sehingga kami dapat melihat susu berwarna coklat, merah muda, hijau sedang diaduk. Kemudian didekat tabung tersebut salah satu petiugas mempersiapkan gelas-gelas untuk kemasan dan beberapa orang diantara lain memunguti kemasan susu cup yang siap dijual.
Setelah itu kami diajak, melihat proses pembuatan konsentrat yang didistribusikan kepada peternak anggota KUD BATU. Konsentrat yang dibuat oleh KUD ini terdiri dari 9 bahan yan campur dengan perbandingan tertentu kemudian diaduk pada alat khusus.Setelah itu kami kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan diskusi. Setelah diskusi selesai, Yosia Arauna selaku pimpinan rombongan menyerahkan vandel ke Pak Winarno sebagai ucapkan terimakasih dari kami. Tak lupa kami berfoto bersama sebelum pulang.
Kunjungan ini sebenarnya telah dipersiapkan jauh-jauh hari namun karena kesibukan kegiatan akademik sehingga terkesan banyak celah yang harus kami perbaiki kedepannya nanti. Semoga di kunjungan selanjutnya dapat lebih baik. Viva Veteriner (ps).



Liburan Kongkow di Workshop Dairy Pro

11-12 juni 2011 yang lalu aku bersama mbak Mega (Mega Ayu Kharisti SD), mas Furqon (Furqon Adimas Y), Hendro (Hendra Legatawa) dan Gacan (Galuh Candra SMP) menghabiskan akhir pekan di peternakan sapi perah drh. Deddy F. Kurniawan untuk membantu pelaksanaan Workshop bagi para peternak dan orang-orang yang bergelut di dunia persapi-perahan (entah apakah ini ejaan yang baku). Workshop tersebut menghadirkan General Manager PT. Greenfield Indonesia drh. Heru Prabowo. Banyak ilmu baru yang melengkapi ilmu yang telah kami dapatkan dari kampus. Dari penuturan para peserta yang notabene merupakan peternakan kelas menengah banyak pelayanan dokter hewan di lapangan yang tidak memuaskan, lebih tepatnya tidak jujur (pembohong atau menipu) sehingga menjadikan peternak tidak mempercayai kinerja dokter hewan. huff. bete. Aku pastikan aku bisa menjadi dokter hewan yang mencerdaskan peternak sehingga para peternakan dapat menjunjung tinggi Animal Walfare dan manajemen peternakan yang baik sehingga Indonesia dapat menjadi negara swasembada daging, susu maupun telur. Sehingga anak dan cucuku nanti dapat menikmati makan-makanan bergizi dengan harga terjangkau. bukan makanan abal-abal yang penuh dengan bahan pengawet dan zat-zat berbahaya. Viva Veteriner (ps)


Suprise Party untuk Prof Pratiwi

15 Juni merupakan ulang tahun Prof. Dr. Drh. Pratiwi Trisunuwati Ms ketua Program Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya. Hari rabu yang begitu banyak tugas membuatku dan teman-teman dikelas PDH A 2009 PKH UB riuh bak pasar, tugas bejibun mencekik nadi kami. Namun masih ada yang ingat ulang tahun beliau. Koko (Pascara Fajar Loekito) dengan santai mengatakan “eh hari ini ultah prof pratiwi lo” mengudara ditengah-tengah kepenatan kami. Setelah tugas rampung Keni (Ken Ranisa Kusuma) dan Ariudin (Ari Purnamasari Putu Amijaya) mengikhlaskan untuk pergi menjadi sebentuk kue tart untuk Prof, dengan segenap harapan gembira bercampur aduk Riri (Diajeng Galuh Riesan) mengeluarkan beberapa lembar dari dompet bendahara kelasnya untuk dibelikan kue. Tepat sebelum istirahat siang usai kue tart mungil, lilin dan korek tertata rapi tepat berada diatas kursi yang berjarak satu kursi dariku. Kuliah tambahan dari beliau pun di mulai. Dengan mata ngantuk ku tahan untuk tetep konsen mendengarkan kuliah. Hari sebelumnya kami telah membuat beliau jengkel maka dari itu siang ini kami sekelas kompak untuk menjaga sikap. Kuliahpun usia, pim2 (Fitri Amalia Riska) beranjak ke kursi kue tart, membuka kardusnya berlahan kemudian menyalakan lilin, sedangkan aku bergegas memasang baterai ke dalam tubuh Vitam kamera pocketku. Lagu ulang tahun berkumandang dipenjuru kelas, dan akhirnya Prof meniup lilinnya. Prof yang selalu rendah hati akhirnya membagi kue tart yang mungil itu untuk kami makan satu kelas bersama. Beliau salah satu idola kami, yang secara alami kami hormati dan hargai dalam jiwa dan raga kami. Semoga kami semua bisa meneladani sifat dan sikap beliau (ps).

IMUNOLOGI : Program Vaksinasi Ayam Petelur

 

UMUR AYAM

JENIS VAKSIN

CARA VAKSINASI

Hari 1

Marek’ Injeksi subkutan leher

Hari 3

Vaksin NB + IB Tetes mata

Hari 4

Vaksin ND Lasota Air minum (1½  dosis)

Hari 5

Vaksin Cocci Spray (tiap ekor DOC 10 gr) semprot di makanan ayam.
ND kill Injeksi subkutan (0,2 cc)

Hari 9

IBD Live Air minum

Hari 10

Coccivax Air minum

Hari 12

ND La Sota Tetes mata

Hari 16

Vaksin Gumoro 228 E Air minum ( 1½ dosis)
IBD live Air minum

Hari 21

ND La Sota Injeksi intramuskuler dada

Hari 23

Vaksin Gumoro 228 E Air minum ( 1½ dosis)

Hari 25

IB Air minum

Hari 28

Vaksin ND Lasota Injeksi intramuskuler dada  ( 3 dosis)

Hari 29

Vaksin ND Lasota Air minum (1½  dosis)

Hari 35

Vaksin IB Air minum (3 dosis)
ND Kill Injeksi intramuskuler dada (0,4 cc)
ND La Sota Tetes mata
Fowl Pox Tusuk sayap

Minggu 6/7

Vaksin cacar Tusuk sayap (1 dosis)

ILT Tetes hidung

Coryza Injeksi dada/paha

Minggu 8 (hr 56)

Vaksin ND Lasota Injeksi intramuskuler dada  ( 3 dosis)

Minggu 8 (hr 57)

Vaksin ND Lasota Air minum (1½  dosis)

Minggu 9

Vaksin Coryza Injeksi intramuskuler paha  (0,2 cc)
IB Air minum

Minggu 10

Vaksin ILT Tetes mata (1 dosis)

Minggu 12

Vaksin ND Lasota Air minum (3 dosis)

Minggu 12/13

Vaksin AI Injeksi intramuskuler dada  (1 dosis)

Minggu 13

Vaksin IB Air minum (3 dosis)

Minggu 16

Vaksin ND Lasota Air minum (3 dosis)
Vaksin ND+EDS+IB Injeksi intramuskuler dada  (1 dosis 0,3 cc)

Minggu 17

Vaksin Coryza Injeksi intramuskuler paha  (1 dosis 1 cc)

Minggu 30

Vaksin ND+IB (Vaksin ulang) Injeksi intramuskuler dada  (2 dosis)

Minggu 50

Vaksin ND+IB Injeksi intramuskuler dada  (1½ dosis)

IMUNOLOGI : Hipersensitivitas

 TUGAS PAPER IMUNOLOGI VETERINER

Hipersensitivitas

disusun oleh :

Prima Santi

0911310056

Pendidikan Dokter Hewan

Program Kedokteran Hewan

Universitas Brawijaya

Malang

2010

Hipersensitivitas adalah peningkatan reaktivitas sensitivitas atau meningkatnya sensitivitas tubuh terhadap antigen yang  sebelumnya memapar. Istilah ini sering digunakan sebagai sinonim untuk alergi, yang menggambarkan keadaan berubah reaktivitas untuk antigen. Hipersensitivitas telah dibagi ke dalam kategori berdasarkan apakah itu diperoleh secara pasif atau ditransfer oleh antibodi atau dengan sel limfoid imun khusus. Yang paling banyak digunakan saat ini adalah klasifikasi dari Coombs dan Gell yang menunjuk reaksi hipersensitif (langsung) diperantarai imunoglobulin sebagai jenis I, II, dan III, dan perantaraan limfoid sel (delayedtype) diperantarai sel imunitas sebagai reaksi tipe IV.

 

Tipe I. Anaphylactic or Immediate-Type Hypersensitivity

Tipe I, anaphylactic or immediate-type hypersensitivity (gambar 1) adalah reaksi alergi akibat paparan antigen khusus yang disebut alergen. Paparan dapat berasal dari konsumsi, inhalasi, suntikan atau kontak langsung. Reaksi ini diperantarai oleh antibodi IgE. reaktif spesifik antibodi IgE dengan  alergen (antigen yang menyebabkan alergi) menempel pada basofil atau Fc reseptor sel mast.

Gambar 1. Reaksi hipersensitivitas tipe I yang molekul antigen cross-link pada permukaan molekul IgE sehingga melepaskan mediator anafilaksis primer dan sekunder (Cruse,2003).

 

Crosslinking dari cellbound Antibodi IgE oleh antigen diikuti oleh sel mast atau basophil degranulation, dengan melepas mediator farmakologi. Mediator ini terdiri dari  amina vasoaktif seperti histamin, yang menyebabkan peningkatan permeabilitas vaskular, vasodilatasi, kejang bronkial, dan sekresi mukosa (Gambar 2). Mediator Sekunder termasuk leukotrien, prostaglandin D2, faktor pengaktif platetet dan cytokine.

 

Gambar 2. Skema representasi peristiwa yang mengikuti degranulation sel mast pada jaringan, yang mengakibatkan vasodilatasi kapiler, yang mengarah ke perubahan jaringan pada reaksi hipersensitivitas tipe I (Cruse,2003).

 

Type II. Antibody-Mediated Hypersensitivity

Hipersensitivitas tipe II antibodi-mediated diinduksi oleh antibodi dan memiliki tiga bentuk (Gambar 3). Jenis hipersensitivitas klasik melibatkan interaksi antibodi dengan antigen diikuti oleh melengkapi lisis. Antibodi spesifik terhadap antigen intrinsik untuk jaringan target tertentu. Antibodi yang dilapisi juga telah meningkatkan kerentanan untuk fagositosis. hipersensitivitas tipe II adalah antibodydependent yang diperantarai sel sitotoksisitas (ADCC).  sel NK, yang memiliki reseptor Fc pada permukaan, mengikat Fc molekul IgG. Dan bereaksi dengan antigen permukaan sel target untuk menghasilkan lisis dari sel antibodi berlapis. Selain NK, neutrofil, eosinofil, dan makrofag dapat berpartisipasi dalam ADCC.

.

Gambar 3. Tiga bentuk hipersensitivitas tipe II. Diagram paling atas menggambarkan antibodi dan mediasi sel bernukleus lisis sebagai konsekuensi dari serangan pembentukan kompleks membran. Diagram tengah menunjukkan antibodydependent sitotoksisitas sel-dimediasi melalui aksi baik sebagai NK dengan antibodi spesifik permukaan untuk sel target. Gambar terakhir menggambarkan penghambatan transmisi impuls saraf oleh antibodi terhadap reseptor acetycholine seperti yang terjadi di myasthenia gravis. (Cruse,2003).

 

Type III. Immune Complex-Mediated Hypersensitivity

Hipersensitivitas tipe III adalah reaksi imun kompleks antigen-antibodi. Kompleks antigen-antibodi menstimulus inflamasi pada jaringan seperti dinding kapiler. Antigen-antibodi kompleks dapat merangsang respon inflamasi akut yang mengarah aktivasi komplemen dan leukosit PMN infiltrasi. Kompleks imun terbentuk baik oleh antigen eksogen seperti dari mikroba atau dengan antigen endogen seperti DNA. Mediasi imun kompleks dapat berupa sistemik atau lokal. Pada sistemik, antigen-antibodi kompleks diproduksi dalam sirkulasi, disimpan dalam jaringan, dan memulai peradangan.  Imun  kompleks  disimpan dalam jaringan, komplemen adalah tetap, dan PMNs adalah tertarik ke situs. Enzim lisosomal dilepaskan, mengakibatkan cedera jaringan.

Gambar 4. Skema representasi dari pembentukan dan deposisi kompleks imun di dinding pembuluh dalam tipe III hipersensitivitas. (Cruse,2003).

 

Type IV. Cell-Mediated Hypersensitivity

Hipersensitivitas tipe IV diperantarai sel sensitivif khusus (Gambar 5). Sedangkan antibodi berpartisipasi dalam tipe I, II, dan III reaksi, T limfosit memediasi hipersensitivitas tipe IV. Dua jenis reaksi yaitu dimediasi oleh T cell Mediated Cytolysis (TMC). Delayed-type hypersensitivity (DTH) dimediasi oleh sel CD4+ T, dan selular sitotoksisitas dimediasi terutama oleh sel CD8+.

Setelah paparan Mycobacterium TB pada reaksi classic delayed hypersensitivity, CD4 + limfosit mengenali antigen mikroba dari molekul MHC kelas II pada permukaan sel antigen-presenting. Memori sel T berkembangdan tetap dalam sirkulasi untuk waktu yang lama. Ketikaantigen tuberkulin disuntikkan intradermally, sel T bereaksi dengan antigen pada antigen-presenting permukaan sel, mengalami transformasi, dan limfokin dilepaskan. Tidak seperti antibodi-mediated hipersensitivitas, limfokin tidak antigen spesifik.

DTH reaksi yang ditimbulkan oleh CD4 + sel-TH1. CD4 mengeluarkan IFN yang menyebabkan aktivasi enzim makrofag lisosomal, oksigen intermediate (ROI) reaktif, spesies oksigen reaktif (ROS), oksida nitrat (NO), cytokins pro inflamasi (TNF-α, IL-1β) sehingga menyebabkan cedera jaringan dan mengakibatkan faktor produksi pertumbuhan jaringan fibrosis.

TMC reaksi yang ditimbulkan oleh sel CD8 + (CTL). Tanggapan CTL untuk infeksi virus dapat menyebabkan cedera jaringan dengan membunuh sel yang terinfeksi (CPE virus & CPE Non virus) sehingga merugikan ke host

Gambar 4. Skema representasi hipersensitivitas tipe IV. Bingkai atas menggambarkan reaktivitas tuberkulin di kulit yang dimediasi oleh CD4 + helper T induser / sel dan merupakan bentuk alergi bakteri. Bingkai bawah menggambarkan aksi sitotoksik CD8 + T sel terhadap sel target terinfeksi virus yang menyajikan antigen melalui molekul MHC kelas I untuk TCR nya, mengakibatkan pelepasan molekul perforin yang mengarah pada sasaran lisis sel (Cruse,2003).

DAFTAR PUSTAKA

 

Cruse, J.M dan R.E. Lewis. 2003. Atlas Of Immunology 2th. London: CRC Press

Pastoret, P.P, P.G.H.Bazin, A. Govaerts. 1998. Handbook of Vertebrate Immunology. San Diego: Academic Press.

MIKROBIOLOGI : Bordetella bronchiseptica

TUGAS PAPER

MIKROBIOLOGI VETERINER

 

Bordetella bronchiseptica

disusun oleh :

Prima Santi

0911310056

Pendidikan Dokter Hewan

Program Kedokteran Hewan

Universitas Brawijaya

Malang

2010

Judul 

Peran Bordetella bronchiseptica dalam dunia kedokteran hewan

Pendahuluan

            Bordetella bronchiseptica adalah bakteri kecil, gram negatif, berbentuk batang dari genus Bordetella berukuran 0,5-1 mikrometer dengan diameter mikrometer. Dapat tumbuh optimal pada suhu 35-37oC. Kondisi lingkungan sangat berpengaruh terhadap bentuk dan panjang flagella. Dapat dikembangbiakkan pada berbagai media dan menunjukkan pertumbuhan yang cepat pada blood free pepton agar. Merupakan spesies bakteri aerob yang pertama kali diisolasi dari saluran pernafasan anjing terinfeksi distemnper oleh Ferry pada tahun 1910 sebagai Bacillus bronchicanis.

Gambar 1. Scanning electron micrograph of B. bronchiseptica

Bakteri ini memiliki lima lapis dinding sel. Tiga lapisan pertama memberikan penampilan atau kontur lobulated. Dinding tersebut memiliki saluran antara lobulus yang berada dalam berbagai ukuran 10-20nm. Membran bagian dalam mengelilingi sitoplasma. Matriks sitoplasma kaya akan ribosom.

Bakteri ini memiliki kromosom circular terdiri dari pasangan basa sekitar 5.338.400 pasang. Kromosomnya memiliki lebih satu plasmid berukuran besar. Ditemukan pula plasmid kecil strain yang diyakini berperan penting dalam resistensi antibiotik. Dari 68,07% kromosomnya terdiri dari basa G-C. Pada kromosomnya terdiri dari 3 operon rRNA dan 55 operon tRNA.

Bakteri ini dapat menyebabkan bronkitis menular, tapi jarang menginfeksi manusia. Terkait erat dengan B. pertusis obligat patogen pada manusia yang menyebabkan pertusis (batuk rejan). B. bronchiseptica dapat bertahan di lingkungan untuk waktu yang lama.

B. bronchiseptica biasanya menginfeksi saluran pernafasan mamalia kecil seperti kucing, anjing, kelinci, dll.  B. bronchiseptica tidak mengekspresikan toksin pertusis, yang merupakan salah satu faktor virulensi karakteristik B. pertusis. Tapi bakteri ini memiliki gen untuk melakukannya, menilik hubungan evolusi yang erat antara kedua spesies. Penularan bakteri ini melalui aerosol, kontak langsung, atau hubungi dengan sekret hidung hewan yang terinfeksi.

Bakteri ini masuk pada saluran pernapasan bagian atas dan trakea, dan menempel pada epitel bersilia. B. bronchiseptica melakukan adhesins menghasilkan cytolytic racun.  B. bronchiseptica dapat berubah bentuk menjadi biofilm secara in vitro yang berfungsi melindungi bakteri dari pertahanan hospes.

Dalam kedokteran hewan, B. bronchiseptica mengarah ke berbagai patologi di host yang berbeda. Menyebabkan penyakit serius pada anjing, babi, dan kelinci dan mucul pula pada kucing dan kuda.  Pada babi, B. bronchiseptica dan Pasteurella multocida bertindak secara sinergis menyebabkan rhinitis atrofi, penyakit di terminal hidung. Pada anjing, B. bronchiseptica menyebabkan tracheobronchitis akut yang biasanya mengalami gejala batuk. Pada kelinci, B. bronchiseptica sering ditemukan pada saluran hidung.

Pada guinea pig, morbiditas dan kematian yang paling sering terlihat pada babi guinea muda. Guinea pig yang terkena sakit muncul, dengan bulu kusut, nafas tersengal-sengal, dan anoreksia. Terdapat eksudat mukopurulen atau catarrhal di nares. Pada nekropsi, cranioventral daerah paru-paru ada eksudat purulen di saluran udara. Pemeriksaan histologis mengungkapkan supuratif bronkopneumonia dengan heterophilic dan mononuklear infiltrasi saluran udara dan berpengaruh pada alveoli. Pada kelinci, patogenisitas dari Bordetella tidak pasti. Infeksi bronchiseptica B. dapat mengganggu mukosiliar clearance dan lebih patogen organisme yang masuk.

Oleh karena pengaruhnya terhadap mamalia pet animal dan hewan laboratorium yang menyebabkan kerugian ekonomi yang besar maka spesies ini sedang dipelajari secara gencar. Aplikasi dalam dunia kedokteran hewan kini melibatkan Bordetella bronchiseptica difokuskan terutama pada pengembangan vaksin. Tersebut faktor virulensi dan senyawa dipelajari dan digunakan untuk membuat vaksin terhadap organisme untuk penggunaan pertanian dan domestik pada hewan serta pengembangan vaksin terhadap infeksi lain organisme yang terkait. Vaksin tersebut melibatkan meningkatkan respon antibodi terhadap faktor virulensi prevalant dan adhesi, seperti FHA dan siklase adenilat-hemolisin.

 

Pembahasan

            Genus Bordetella memiliki kekhasan dimana bakteri genus ini memiliki Antigen-O di permukaan sel glikolipid lipopolisakarida (LPS) yang berfungsi penting dalam kekebalan bawaan menghindari imun dari hospes. Struktur inti lipopolisakarida (LPS) dan antigen O dari Bordetella bronchiseptica dan Bordetella parapertussis telah
diketahui, dan pada mulanya diperkirakan sama. Melalui penellitian Preston et all, 2006, menggambarkan struktur lengkap karbohidrat lipopolisakarida (LPS) untuk membantu menjelaskan genetika kompleks biosintesis lipopolisakarida (LPS) dalam bakteri tersebut.

B. pertusis, B. parapertussis, dan B. bronchiseptica aspek patogenisitas dan belum memiliki kisaran inang yang berbeda dan menyebabkan patologi yang berbeda pada host masing-masing. Hal ini mungkin berhubungan dengan perbedaan dalam cara bakteri ini berinteraksi dengan host mereka, yang dalam gilirannya kemungkinan akan terpengaruh oleh komponen permukaan bakteri. LPS bakteri ini menunjukkan banyak kesamaan tetapi menampilkan sejumlah perbedaan penting, seperti yang ditunjukkan di sini. Sebagai contoh, tidak seperti B. bronchiseptica B. parapertussis, dan B. pertusis tidak mengungkapkan antigen O karena penghapusan lokus ektensi.wbm yang berisi antigen O. Selanjutnya, B. parapertussis dan B. bronchiseptica  mengekspresikan antigen O yang sama, namun kemungkinan memainkan peranan yang berbeda selama infeksi. Antigen O pada B. bronchiseptica melekat pada GlcNac sedang pada spesies lain tidak. Selain itu diketahui B. bronchiseptica memiliki varian gen yang lebih banyak yang diindikasikan spesies ini merupakan modifikasi dari spesies yang lain.

Melalui penelitian Gueirard et all 2006, diketahui bahwa bakteri  ini dapat mengifeksi manusia. Infeksi tersebut diperoleh ketika manusia kontak dengan hewan terinfeksi, dan dapat menginfeksi kembali meskipun tidak melakukan kontak lagi dengan hewan terinfeksi. Bakteri ini ternyata dapat bertahan di dalam intrasel yaitu pada makrofag alveolar dengan mengeluarkan AC – Hly yang dapat menginduksi agar sel makrofag tidak mengalami apoptosis. Dan kemungkinan besar bakteri ini dapat hidup di dalam sel epitel dan dapat mengekspresikan gen VAG dan VRG dan memulai infeksi pada tubuh inang.

Menurut penelitian King et all 2009, Bordetella bronchiseptica memiliki modifikasi yang mengatur permukaan selnya sehingga dapat bertahan hidup pada lingkungannya sehingga tidak mudah mati karena system imun hospesnya. Dari penelitian Huebner, 2006, diketahui bahwa Bordetella bronchiseptica telah menjadi penyakit nosokomia di rumah sakit pada instalasi paru-paru dimana manusia penderita infeksi Bordetella bronchiseptica yang tertular dari hewan peliharaan dapat menularkan penyakit tersebut pada manusia lain.

Penelitian saat ini masih mempelajari mengenai Bordetella bronchiseptica, terutama untuk mempelajari B. pertussis dan B. Parapertussis yang sudah menyebarkan dan menginfeksi pada manusia. Difokuskan pada perbandingan genomic gen ketiga bakteri tersebut dan patogenesisnya.

Studi lanjutan difokuskan pada pengembangan pembuatan vaksin Bordetella bronchiseptica untuk penggunaannya di dunia kedokteran hewan terutama digunakan pada hewan laboratorium yang notabene mengalami kegagalan pada saat penelitian karena bakteri ini dan hewan ternak serta hewan peliharaan yang ternyata diketahui dapat menularkan bakteri ini ke manusia. Penelitian juga dilakukan mengenai proses terjadinya radang setelah proses infeksi dari Bordetella bronchiseptica terjadi.

 

Kesimpulan

Bordetella bronchiseptica tidak lagi bakteri yang menyebabkan penyakit pada hewan laboratoriumm sehingga merugikan secara ekonomi dari banyak penelitian, kecacatan dan  kerugian para peternak dan pecinta hewan bila menyerang hewan ternak atau hewan peliharaan mereka. Bakteri ini telah dapat menular pada manusia yang melakukan kontak dengan hewan terinfeksi dan bahkan telah dilaporkan bahwa manusia yang yang terinfeksi dapat menularkannya pada manusia lain.

Bordetella bronchiseptica ini telah menjadi focus pada dunia kedokteran saat ini karena dapat berpontensi menjadi penyakit zoonosis dan menyebabkan kerugian secara ekonomi secar besar-besar. Penelitian mengenai structure dan metabolimse untuk pengembangan vaksin sedang marak dilakukan.

 


DAFTAR PUSTAKA

Mylisa R. Pilione, Luis M. Agosto, Mary J. Kennett, Eric T. Harvill (2006) CD11b is required for the resolution of inflammation induced by Bordetella bronchiseptica respiratory infection. Cellular Microbiology 8 (5), 758–768.

Gueirard, Pascale, Christian Weber, Alain Le Coustumier, And Nicole Guiso. 2006. Human Bordetella bronchiseptica Infection Related to Contact with Infected Animals: Persistence of Bacteria in Host. Journal Of Clinical Microbiology, Aug. 1995, p. 2002–2006 Vol. 33, No. 8

Huebner, Elizabeth S. Brian Christman, Stephen Dummer, Yi-Wei Tang, and Stacey Goodman1. 2006. Hospital-Acquired Bordetella bronchiseptica Infection following Hematopoietic Stem Cell Transplantation. Journal Of Clinical Microbiology, July 2006, p. 2581–2583 Vol. 44, No. 7

King, Jerry D., Evgeny Vinogradov, Andrew Preston, Jianjun Li, and Duncan J. Maskell. 2009. Post-assembly Modification of Bordetella bronchiseptica O Polysaccharide by a Novel Periplasmic Enzyme Encoded by wbmE. The Journal Of Biological Chemistry Vol. 284, NO. 3, pp. 1474–1483, January 16, 2009

Preston, Andrew, Bent O. Petersen, Jens. Duus, Joanna Kubler-Kielb, Gil Ben Menachem, Jianjun Li, and Evgeny Vinogradov. 2006.Complete Structures of Bordetella bronchiseptica and Bordetella parapertussis Lipopolysaccharides.The Journal Of Biological Chemistry Vol. 281, NO. 26, pp. 18135–18144, June 30, 2006

Holiday in Sempu Island

Satwa liar merupakan dalam lingkup kerja dokter hewan. Menumbuhkan kepekaan mahasiswa terhadap kehidupan satwa liar Ikatan Mahasiswa Profesi Veteriner divisi Kelompok Eksotik, Akuatik dan Satwa Liar (KELAWAR) Program Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya melakukan pengamatan satwa liar pada tanggal 6-7 November 2010 di pulau Sempu yang berada di selatan Kabupaten Malang. Pengamatan yang diikuti oleh 33 mahasiswa angkatan 2008 dan 2009 tersebut di damping oleh drh. Pandu Tribakhti dan drh. Rahadi S. yang bertindak sebagai dosen pembimbing.
Hari pertama rombongan tiba di pulau Sempu menjelang senja sehingga rombongan membangun tenda terlebih dahulu dan melanjutkan perjalanan esok hari. Pengamatan satwa dimulai sekitar pukul 5 pagi dengan rute dari lokasi camping menuju telaga lele yang berada di bagian timur dari pulau Sempu kemudian kembali lagi. Rombongan menembus hutan kurang lebih selama 2 jam menempuh jarak 2,5 km dengan medan yang sangat mendaki, sangat menurun, dan sangat licin. Menyeberangi sungai dan pohon-pohon besar yang tumbang juga menjadi bagian dari perjalanan yang harus ditempuh anggota rombongan.

Perjalanan menuju Telaga Lele

Berusaha melihat satwa yang ada di telaga Lele

Dalam perjalanan tersebut rombongan dapat melihat jejak babi hutan, jejak rusa melihat macaca dan jelarong (sebangsa monyet) bergelantungan diatas pohon, rangkong, kepiting laut, cacing hitam dan berbagai jenis burung. Cuaca yang sangat cerah memacu rombongan untuk terus menyusuri hutan tetapi sesampai di Telaga Lele rombongan terpaksa menghentikan perjalanan dikarena telaga sedang meluap. Kelelahan dan rasa penasaran para anggota rombongan telah terbayar walaupun tidak dapat melihat harimau, beruang dan ular yang banyak hidup di pulau Sempu menurut informasi dari petugas (ps).

Holiday in Songgoriti

Liburan semester 3 yang lalu aku berniat magang bersama Maringgil (Inggil Pusvita Ramadhani), Pim2 (Fitri Amalia Riska), Wawa (Deshinta Rizky Pramudita), Ami (Fanny Rufaida), Revan (Imam Aditya P), Habyb (Habyb Palyoga), Bona (Bonanza Wahyu P), Dedi (Yulinar Rizky K), Ihsan (Maulana Inamul H), Nevi (Nevi Kristi). Proposal dan surat pengantar dari PKH UB telah dikirim. Namun restu tidak didapat. HOAX. Beruntung magang yang rencana dimulai 19 Januari 2011, sedangkan tanggal 17 Januari 2011merupakan hari terakhir UAS semester tiga.

baca selengkapnya

Say Good Bye Party in Taman Safari

Setelah selama seminggu berkutat dengan handout dan catatan materi kuliah, akhir aku berkesempatan refeshing ke Taman Safari, gratis pula. Hahahah. Dari tiga orang mahasiswa kedokteran hewan Universitas Brawijaya yang akhirnya hanya aku yang berangkat. Winda dan Faizal memilih untuk rapat  (padahal eman to).

Dengan semangat ku langkahkan kaki keluar dari pintu merah kosan tepat 05.10 dan sampai di BULETAN UB (diksi yg dipakai mbak Nastiti Perdani) -> Bunderan UB depan rektorat tepat 06.05. What the hell. Kemana semua orang kok masih sedikit yang datang (tidak ada yang kukenal maksudnya). Sembari menunggu kulahap susu bantal rasa vanila yang terpaksa ku beli karena rasa strawberry tidak ada dan sepotong roti bundar berisi krim vanila yang amat manis. Seorang teman Kedokteran Hewan datang (ternyata tidak sendirian aku). Lambat laun teman-teman departemen infokom datang yaitu Rizka, kemudian Dhira dan Mbak Nastiti yang ternyata malah molor gara-gara pinjem payung.

baca selengkapnya

 

Calon Dokter Hewan Masa Depan

Pagi ini dengan sangat semangat aku melangkah menuju kampus untuk mengikuti acara PESAWAT. Pendidikan Kesejahteraan Hewan Untuk Masyarakat. Sangat tidak terduga antusias adik-adik kelas 4 SDN Dinoyo II membuatku WOW… mereka sudah pinter-pinter, ternyata disekolah dasar sekarang sudah ada pelajaran lingkungan hidup yang similar dengan kesejateraan hewan. Seneng banget melihat para generasi penerus bangsa yang aktif seperti mereka.

foto-fotonya…