Tugas Kelompok Teknologi dan Manajemen Pengemasan Kelas C Kelompok 8

Tugas ROP : Resume Jurnal Bio Polimer

Resume Jurnal

“Optimasi Deasetilasi Khitin Dari Kulit Udang Dan Cangkang Kepiting Limbah Restoran Seafood Menjadi Khitosan Melalui Variasi Konsentrasi NaOH”

Disusun untuk Memenuhi Tugas Besar Mata Kuliah Rekayasa dan Optimasi Proses Semester Ganjil 2011/2012

Disusun Oleh:

Kelompok 4

Mamas Daniyar         (105100300111016)

Putri Siska W            (105100300111025)

Fatchul Rahman        (105100300111038)

Alfred P. B                (105100301111016)

Nur Anas F                (105100301111025)

Meryana Santya P     (105100301111030)

Lutfiyatul H              (105100313111007)

Rochmayanti             (105100300111042)

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG 

2012

A. DASAR TEORI

Kulit udang dan limbah cangkang kepiting merupakan sumber potensial pembuatan khitin dan khitosan, yaitu biopolimer yang  secara komersil berpotensi dalam berbagai bidang industri. Manfaat  khitin  dan  khitosan di berbagai bidang industri moderen diantaranya adalah dalam industri farmasi, biokimia, bioteknologi, biomedikal, pangan, gizi, kertas, tekstil, pertanian, kosmetik,  membran dan kesehatan. Disamping itu, khitin dan khitosan serta turunannya mempunyai sifat sebagai bahan pengemulsi  koagulasi dan penebal emulsi. Kulit  udang mengandung protein 25-40%, kalsium  karbonat 45-50%, dan khitin 15-20%, tetapi besarnya kandungan komponen tersebut tergantung pada jenis udang dan tempat hidupnya. Cangkang kepiting mengandung protein 15,60-23,90%,  kalsium karbonat 53,70-78,40%, dan khitin 18,70-32,20% yang juga tergantung  pada jenis kepiting dan tempat hidupnya (Marganov, 2003).

Secara kimiawi khitin merupakan polimer β-(1,4)-2-asetamida-2-dioksi-D-glukosa yang tidak dapat dicerna oleh mamalia. Khitin tidak larut dalam air  sehingga penggunaannya terbatas. Namun dengan modifikasi struktur kimianya maka akan diperoleh senyawa turunan khitin yang mempunyai sifat kimia yang  lebih baik. Salah satu turunan khitin adalah khitosan, yaitu suatu senyawa yang  mempunyai rumus kimia poli β-(1,4)-2-amino-2-dioksi-D-glukosa yang dapat  dihasilkan dari proses hidrolisis khitin menggunakan basa kuat (proses  deasetilasi) (Srijanto dan Imam, 2005). Perbedaan khitin dan khitosan terletak  pada kandungan nitrogennya. Bila kandungan total nitrogennya kurang dari 7%,  maka polimer tersebut adalah khitin dan apabila  kandungan  total  nitrogennya  lebih  dari 7% maka disebut khitosan (Krissetiana, 2004).

Sebelumnya, telah dilakukan penelitian tentang cara pengolahan dan pemanfaatan kulit udang telah banyak dilakukan. Menurut Prasetyo (2004), derajat deasetilasi khitosan ditentukan oleh  beberapa faktor, yaitu konsentrasi NaOH, suhu dan lama proses deasetilasinya. Peneliti lainnya, Srijanto dan Imam (2005) mempelajari pengaruh suhu reaksi terhadap derajat deasetilasi khitosan, dimana dengan  naiknya suhu reaksi, maka derajat deasetilasi khitosan yang diperoleh juga  meningkat. Hasil penelitiannya menunjukkan pada suhu 140, 130, dan 100oC diperoleh derajat deasetilasi khitosan berturut-turut sebesar 83,26; 82,66; dan  74,29% dengan menggunakan basa kuat dan lama reaksi 4 jam (Srijanto dan  Imam, 2005). Hasil penelitian Alamsyah et al. (2007) menunjukkan proses deasetilasi yang dilakukan dengan menggunakan NaOH 50% pada suhu 140oC  selama 4 jam diperoleh khitosan larut air dengan derajat deasetilasi sebesar 70%.  Alamsyah juga meneliti tentang pengaruh urutan proses isolasi khitin, hasilnya  tahap demineralisasi-deproteinasi menghasilkan rendemen khitin dan derajat deasetilasi yang lebih baik dibandingkan dengan proses deproteinasi-demineralisasi (Alamsyah et al., 2007).

Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan di atas, dapat diketahui bahwa khitin dan khitosan hasil pengolahan kulit udang dan cangkang  kepiting memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Maka penting dilakukan pengolahan kulit udang dan cangkang kepiting limbah restoran seafood menjadi khitin dan khitosan. Dari hasil penelitian Larita (2006) dan Ernawati (2008), disimpulkan bahwa derajat deasetilasi dari khitosan dan rendemen khitin yang  diperoleh dari cangkang kepiting perlu ditingkatkan. Untuk meningkatkan derajat deasetilasi khitosan, maka pada penelitian ini akan dilakukan optimasi reaksi  deasetilasi khitin dengan cara memvariasikan konsentrasi NaOH  sedangkan suhu  dan waktu reaksi dibuat konstan.

 

B. METODE OPTIMASI YANG DIGUNAKAN

Dalam penelitian ini, bahan yang digunakan berupa kulit udang, cangkang kepiting, HCL 37%, NaOH, aseton, etanol, CH3COOH, CuSo4, KI ,I2, H2SO4, AgNO3, dan aquades. Sedangkan alat yang digunakan meliputi gelas ukur, Erlenmeyer, pipet ukur, pipet volume, labu ukur, gelas beaker, corong dan labu pemanas, ayakan 0,25 mm, oven,  desikator, kertas saring, thermometer, pH meter, bola hisap, neraca analitik, penangas minyak, hot plate, dan alat sentrifugasi, serta peralatan instrument berupa spektrofotometer fourier transform inframerah (FTIR) Shimadzyu.

Metodologi penelitian dilakukan dengan cara penyiapan sampel lalu ekstraksi khitin dari kulit udang dan ektraksi khitin dari cangkang kepiting. Pada ekstraksi khitin dari kulit udang dilakukan dengan cara penghilangan mineral (demineralisasi), penghilangan protein (deproteinasi), kemudian dilakukan deasetilasi khitin menjadi khitosan. Setelah itu dilakukan penentuan konsentrasi optimum NaOh pada suhu dan waktu reaksi yang konstan. Sedangkan pada ekstraksi khitin dari cangkang kepiting dilakukan dengan penghilangan mineral (demineralisasi), penghilangan protein (deproteinasi), deasetilasi khitin dari cangkang kepiting menjadi khitosan menggunakan kondisi optimum (yang telah diperoleh dari proses optimasi deasetilasi khitin dari kulit udang), pemurnian kitosan, karakterisasai khitin dan khitosan, serta penentuan derajat deasetilasi. Pada proses penghilangan mineral (demineralisasi) cangkang  kepiting  sama  dengan  proses demineralisasi  kulit  udang,  namun hanya  dilakukan  satu  kali  tanpa  pengulangan, karena    sampel   awal   yang   dibutuhkan   hanya 100 g. Pada proses penghilangan protein (deproteinasi) sebanyak  24,7552  g  serbuk  kepiting kering bebas mineral dimasukkan ke dalam gelas beaker 1 L dan ditambahkan larutan NaOH 3,5% sebanyak 247,50 mL dengan perbandingan 1:10 (b/v)  antara  sampel  dengan  pelarut.  Proses selanjutnya  sama  dengan  proses  deproteinasi khitin  dari  kulit  udang.  Khitin  yang diperoleh  dihitung  rendemennya,  yaitu  sebesar 20,9072  g,  lalu  dikarakterisasi  dengan  FTIR kemudian ditentukan derajat deasetilasinya.

 

C. HASIL DAN PEMBAHASAN

  • Ø Isolasi Khitin dari Kulit Udang dan Cangkang Kepiting

Dari hasil penelitian yang dilakukan dalam jurnal ini perhitungan rendemen khitin yang dihasilkan dari kulit udang sebesar   35,17 % dengan        berat awal 300.000 g dan berat khitin yang dihasilkan 105,5113 g. Rendemen ini sesuai dengan penelitian yang sebelumnya dilakukan oleh Matheis dkk (2006) yang menghasilkan rendemen  diatas 20%. Sedangkan  rendemendari cangkang kepiting sebesar  20,91 % dengan berat awal sebesar 100.000 g dan berat akhir sebesar 20, 9072 g. Isolasi khitin dari kulit udang. Hal ini sesuai dengan literature dimana kepiting mengandung khitin sebesar 18,70-32,90% (Marganov, 2003).Rendemen khitin dari cangkang kepiting lebih sedikit dibandingkan kulit udang, oleh karena kandungan mineral cangkang kepiting 53,70-78,40% lebih besar dibandingkan dengan kandungan mineral kulit udang 45-50% (Marganov, 2003). Cangkang kepiting mengandung lebih banyak mineral, disbanding kulit udang hal ini  ditunjukkan dengan terbentuknya banyak sekali gelembung udaran udara saat penam bahan HCl ke dalam sampel, sehingga penambahan HCl dilakukan secara bertahap agar sampel tidak meluap.  pada penelitian ini, demineralisasi dilakukan dengan menggunakan HCl 1,5 M selama 4 jam pada suhu 70-80oC. Suhu dan waktu reaksi sangat berpengaruh terhadap rendemen khitin yang diperoleh. Faktor lain yang berpengaruh terhadap jumlah rendemen khitin adalah urutan tahap pembuatan khitin, isolasi khitin dilakukan melalui dua tahap, yaitu proses demineralisasi dan deproteinasi. Hasil isolasi khitin dari kulit udang dan cangkang kepiting dikarakterisasi gugus fungsinya dengan FTIR.  Spektra FTIR untuk khitin kulit udang dan cangkang kepiting memperlihatkan pola serapan yang muncul pada panjang gelombang yang sama yaitu 3448,72 cm- 1 menunjukkan vibrasi OH yang melebar. Vibrasi ulur N-H pada 3263,56 cm-1 (tajam) pada kulit udang, sedangkan pada cangkang kepiting vibrasi ulur N-H pada 3271,27 cm-1 (tajam). Serapan lainnya yaitu pada 2885,51 cm-1 pada kulit udang dan 2895,51 cm-1 pada cangkang kepiting merupakan uluran C-H alifatik yang menyatu pada pita uluran OH sama seperti uluran N-H. Vibrasi ulur C=O pada 1662,14 cm-1 pada kulit udang dan 1662,31 cm-1 pada cangkang kepiting, sedangkan untuk vibrasi tekuk N-H muncul pada bilangan gelombang 1558,48 cm-1 baik pada kulit udang maupun cangkang kepiting. Serapan CH3 dari khitin kulit udang dan cangkang kepiting pada 1419,61 cm-1. Adanya serapan pada 1072,42 cm-1 pada khitin kulit udang dan cangkang kepiting menunjukkan vibrasi C-O-C dalam cincin khitin dan memunculkan banyak puncak karena hidroksida dari khitin mengandung ikatan tunggal C=O. Vibrasi kibasan NH pada 694,37 cm-1 pada kulit udang dan 693,51 cm-1 pada cangkang kepiting. Pada proses pembuatan khitin, ada sebagian khitin yang sudah berubah menjadi khitosan sehingga khitin yang diperoleh tidak murni senyawa khitin, akan tetapi sudah tercampur bersama khitosan. Hal ini dapat diketahui dari derajat deasetilasi khitin. Hasil ini sesuai dengan Bastaman, bahwa khitin adalah suatu polimer N-asetil glukosamin yang sedikit terdeasetilasi yaitu lebih besar dari 25% dan lebih kecil dari 70% (Bastaman, 1989).

 

 

  • Ø Optimasi Deasetilasi Khitin menjadi Khitosan
  • Optimasi konsentrasi NaOH pada suhu dan waktu reaksi yang konstan

Khitin hasil deproteinasi dibagi menjadi tiga bagian dengan berat yang sama, kemudian dideasetilasi dengan menambahkan NaOH pekat konsentrasi 50, 55, dan 60% pada tiap bagian khitin dengan   perbandingan 1:20 (b/v) antara khitin dengan pelarut. Campuran diaduk dan dipanaskan pada suhu 120oC selama 4 jam. Kondisi ini digunakan karena struktur sel-sel khitin yang tebal dan kuatnya ikatan hydrogen intramolekul antara atom hidrogen pada gugus amin dan atom oksigen pada gugus karbonil. Proses deasetilasi dalam basa kuat panas menyebabkan hilangnya gugus asetil pada khitin melalui pemutusan ikatan antara karbon pada gugus asetil dengan nitrogen pada gugus amin. Setelah tahap deasetilasi selesai dilanjutkan dengan proses pemurnian hingga menjadi serbuk khitosan murni yang dapat diaplikasikan lebih luas dalam berbagai bidang. Hasil perhitungan rendemen, derajat deasetilasi, serta pengamatan terhadap tekstur khitosan murni yang dihasilkan dari variasi konsentrasi NaOH pada proses deasetilasi ditampilkan dalam Tabel di bawah ini:

Asal sampel Berat sampel Khitosan yang Rendemen Derajat deasetilasi Tekstur
(g) diperoleh (g) khitosan (%) khitosan (%) khitosan
Khitin A1 170,500 85,936 50,40 74,66 Serbuk putih
(NaOH 50%) krem
Khitin A2 170,500 86,306 50,62 77,25 Serbuk putih
(NaOH 55%) krem
Khitin A3 170,500 93,609 54,90 88,04 Serbuk putih
(NaOH 60%) krem

Perbedaan yang terjadi setelah tahap deasetilasi adalah tidak munculnya gugus C=O pada 1680-1660 cm-1 yang menandakan hilang atau telah berkurangnya gugus C=O pada khitosan, serta munculnya serapan pada 820,52; 810,32; dan 824,11 cm-1 yang merupakan vibrasi dari gugus kibasan dan pelintiran NH2.

 

  • Deasetilasi Khitin menjadi Khitosan dari Cangkang Kepiting menggunakan Kondisi Optimum

Khitin hasil deproteinasi (dari tahap sebelumnya) dideasetilasi dengan menambahkan NaOH pekat dengan konsentrasi optimum 60% (yang didapat untuk kulit udang) dengan perbandingan 1:20 (b/v) antara khitin dengan pelarut. Campuran diaduk dan dipanaskan pada suhu 120oC selama 4 jam. Setelah proses deasetilasi selesai, dilanjutkan dengan proses pemurnian hingga menjadi serbuk khitosan murni. Hasil perhitungan terhadap rendemen, derajat deasetilasi, dan pengamatan terhadap tekstur khitosan murni yang dihasilkan dari penggunaan kondisi konsentrasi NaOH optimum pada 120oC selama 4 jam.

Hasil optimasi deasetilasi khitin menjadi khitosan dari cangkang kepiting menggunakan konsentrasi NaOH optimum 60% pada suhu 120oC selama 4 jam menghasilkan rendemen dan derajat deasetilasi khitosan yang tinggi, yaitu berturut-turut 62,76 dan 88,53%. Hasil ini dikatakan baik karena memiliki rendemen diatas 50% dan derajat deasetilasi di atas 80%. Dibandingkan dengan khitosan dari kulit udang hasil optimasi (khitosan udang A3), khitosan dari cangkang kepiting sedikit lebih besar rendemen maupun derajat deasetilasinya. Khitosan dari cangkang kepiting setelah diuji kemurniannya dan hasilnya adalah khitosan dari cangkang kepiting larut sempurna dalam larutan asam asetat 2%, hal ini dikategorikan bahwa khitosan telah murni atau kelarutannya dalam air sebesar 98% (Mukherjee, 2001). Khitosan cangkang kepiting dianalisis dengan spektrofotometer FTIR untuk mengetahui apakah khitin telah mengalami transformasi menjadi khitosan, yaitu dapat dilihat dari gugus fungsi utamanya serta membandingkannya dengan spektra khitosan literatur. Spektra FTIR memperlihatkan pola serapan yang muncul pada khitosan dari cangkang kepiting 3450,03 cm-1 menunjukkan adanya vibrasi OH, sementara vibrasi ulur N-H muncul pada 3334,89 cm-1 (tajam) pada khitosan cangkang kepiting. Serapan lainnya yaitu pada 2895,51 cm-1 merupakan vibrasi ulur dari gugus C-H metilen. Vibrasi guntingan NH2 dan bengkokan N-H pada 1655,07 cm-1. Serapan CH3 pada khitosan muncul pada 1420,33 cm-1. Adanya serapan pada 1077,85 cm-1 pada khitosan cangkang kepiting menunjukkan vibrasi gugus C-O-C. Vibrasi kibasan N-H muncul pada 716,03 cm-1. Perbedaan yang terjadi setelah tahap deasetilasi adalah tidak munculnya gugus C=O pada 1680-1660 cm-1 yang menandakan hilang atau telah berkurangnya gugus C=O pada khitosan, serta munculnya serapan pada 854,97 cm-1 pada khitosan cangkang kepiting yang merupakan vibrasi dari gugus kibasan dan pelintiran NH2. Semua khitosan yang diperoleh dari hasil optimasi deasetilasi khitin dari kulit ufang maupun cangkang kepiting memiliki rendemen diatas 50% dan derajat deasetilasi mulai dari yang terkecil 74,66% sampai yang terbesar 88,53%. Produk khitosan pasaran umumnya memiliki derajat deasetilasi antara 70-90%. Berdasarkan besar derajat deasetilasinya, khitosan hasil isolasi pada penelitian ini sudah memenuhi standar khitosan industrial.

 

D. KESIMPULAN

Konsentrasi NaOH 60% merupakan konsentrasi optimum pada proses deasetilasi khitin dari kulit udang pada suhu 120oC selama 4 jam, uang menghasilkan khitosan dengan rendemen dan derajat deasetilasi yang paling besar yaitu, 54,90% dan 88,04% berurutan. Dengan menggunakan kondisi yang sama, proses deasetilasi khitin menjadi khitosan dari cangkang kepiting memberikan rendemen yang lebih baik yaitu sebesar62,76% dengan derajat deasetilasi sebesar 88,53%. Semua khitosan yang diperoleh dalam penelitian ini larut sempurna dalam larutan asam asetat 2% dengan perbandingan 1:100 (b/v) antara khitosan dengan pelarut, yang menunjukkan bahwa khitosan tersebut murni atau memiliki kelarutan dalam air sebesar 98%.

 

Berikut Jurnal yang digunakan dalam resume ini :

“Optimasi Deasetilasi Khitin Dari Kulit Udang Dan Cangkang Kepiting Limbah Restoran Seafood Menjadi Khitosan Melalui Variasi Konsentrasi NaOH”

MATERIAL HANDLING PT.GANGSAL FEED INDONESIA, Tbk.

Dalam makalah ini dijelaskan mengenai informasi yang meliputi profil perusahaan, profil produk (pakan ternak), lokasi perusahaan dan tipe layout yang digunakan, diagram alir proses pembuatan pakan ternak, urut-urutan material mulai darisupplier hingga ke konsumen, peta dari – ke dengan keterangan jarak, serta material handlingyang ada di dalam perusahaan. Berikut kami lampirkan file makalah dan slide presentasi kelompok kami guna menunjang keterangan di atas.

File Makalah : makalah PLO kelompok 3

File PPT: PLO Kelompok 3

Anggota Kelompok 3 :

Sukma Nan Tegar   (105100300111012)

Putri Siska W           (105100300111025)

Fatchul Rahman      (105100300111038)

Satria Agung T. M   (105100301110115)

Meryana Santya P  (105100301111030)

TUGAS INDIVIDU PPIC PENGGANTI KUIS

TUGAS INDIVIDU PPIC

Pengendalian persediaan dalam industri berbasis produk pertanian lebih tepat dilaksanakan dengan model P daripada Model Q (KONTRA)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DISUSUN OLEH:

NAMA                          :  MERYANA SANTYA PARAMITA

NIM                               : 105100301111030

KELAS                            : C

MATA KULIAH           : PPIC

JUDUL TUGAS           : Pengendalian persediaan dalam industri berbasis produk pertanian lebih tepat dilaksanakan dengan model P daripada Model Q (KONTRA)

DOSEN PENGAMPU                : IKA ATSARI DEWI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2012

Pengendalian persediaan dalam industri berbasis produk pertanian lebih tepat dilaksanakan dengan model P daripada Model Q (kontra)

 

1. Tidak semua produk pertanian dapat dikendalikan persediaannya menggunakan model P dan model Q

Model P : Sistem pengendalian dengan sistem P adalah suatu sistem pengendalian persediaan yang jarak waktu antar dua pesanan adalah tetap. Persediaan pengaman dalam sistem ini tidak hanya dibutuhkan untuk meredam fluktuasi permintaan selama lead time, tetapi juga untuk seluruh konsumsi persediaan. Pada sistem P ini setiap kali pesan jumlah yang dipesan sangat bergantung pada sisa persediaan pada saat periode pemesanan tercapai; sehingga setiap kali pemesanan dilakukan, ukuran lot pesanan tidak sama. Permasalahan pada sistem P ini adalah terdapat kemungkinan persediaan sudah habis sebelum periode pemesanan kembali belum tercapai. Akibatnya, safety stock yang diperlukan relatif lebih besar. Metode P relatif tidak memerlukan proses administrasi yang banyak, karena periode pemesanan sudah dilakukan secara periodik. Untuk memudahkan implementasinya, digunakan visual review system dengan metode yang disebut One Bin System:

  • Dibuat Bin yang berisikan jumlah inventory maksimum.
  • Setiap kali periode pemesanan sampai tinggal dilihat berapa stock tersisa dan pemesanan dilakukan untuk mengisi Bin penuh.

Model Q : Sistem Q memecahkan persoalan persediaan probabilistik dengan memandang bahwa posisi barang yang tersedia di gudang sama dengan posisi persediaan barang pada sistem determistik dengan menambahkan cadangan pengaman (Safety Stock). Pada prinsipnya sistem ini adalah hampir sama dengan model inventory probabilistik sederhana kecuali pada tingkat pelayanannya. Kalau pada model inventory probabilistik sederhana tingkat pelayanan ditetapkan sedangkan dalam Sistem Q tingkat pelayanan akan dicari optimalisasinya. Pada sistem Q ini setiap kali pemesanan dilakukan dalam jumlah lot pesanan yang sama (karena itu disebut metode Q). Untuk memudahkan implementasinya, sering digunakan visual review system dengan metode yang disebut Two Bin System:

  • Dibuat dua bin (tempat) penyimpanan; Bin I berisi persediaan sebesar tingkat reorder point; Bin II berisi sisanya.
    • Penggunaan stock dilakukan dengan mengambil isi Bin II; jika sudah habis artinya pemesanan harus dilakukan kembali; sementara menunggu pesanan datang, stock pada Bin I digunakan

Asumsi yang perlu dperhatikan pada saat menggunakan metode pengendalian Sistem Q ini adalah:

  1. Biaya simpan per unit tetap
  2. Biaya setiap kali dilakukan pemesanan ulang adalah tetap
  3. Waktu tunggu tetap (dalam keadaan normal), sehingga keterlambatan bahan baku tidak ada
  4. Permintaan bahan baku bervariasi
  5. Setiap jenis item diperoleh dari penjualan yang berlainan
  6. Pembelian tidak mendapat potongan harga
  7. Kedatangan bahan yang tidak sekaligus akan menimbulkan biaya tambahan

 

Perbandingan model P dan model Q :

 

Jadi tergantung pada produknya bagaimana periode pemesanannya, bagaimana jumlahnya, bagaimana kuantitasnya. Jika pemesanan tidak tetap , namun jumlah yang dipesan selalu sama dan barang yang di simpan relatif lebih sedikit maka dapat menggunakan model Q dan sebaliknya jika periode pemesanannya tetap namun jumlahnya nya berbeda dan persediaan pengamannya banyak maka menggunakan model P. Dan  pada pengendalian persediaan dalam industri berbasis produk pertanian yang harus diperhatikan adalah jenis barang yang akan dikendalikan persediaannya musiman atau tidaknya dan masa simpannya. Karena jika polanya musiman maka periode pemesananny tidak tetap dan jumlah yang di pesan juga tidak sama. Jadi jika ada pernyataan bahwa Pengendalian persediaan dalam industri berbasis produk pertanian lebih tepat dilaksanakan dengan model P daripada Model Q saya sedikit kurang setuju.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Penerapan model Q dan P tingkat kerusakan bahan hanya berdasarkan berat wadah dan susut berat bahan, sehingga perlu diteliti pola kerusakan kimiawi bahan selama penyimpanan. Pada produk pertanian yang harusnya mendapatkan perhatian lebih adalah kualitas pada bahan sedangkan pada penerapan Model Q dan P tingkat kerusakannya hanya  secara fisik, namun kerusakan secara kimiawinya tidak diteliti lebih lanjut. Jadi penerapan model Q dan P pada produk pertanian kurang tepat sehingga perlu dilakukan penelitian lagi untuk menentukan model yang sesuai untuk pengendalian persediaan produk berbasis pertanian.

 

3. Penerapan kedua model tersebut juga didasarkan pada kapasitas produksi yang tetap, sehingga perlu diteliti lebih lanjut tentang model persediaan bahan jika perusahaan mengadakan perluasan atau peningkatan kapasitas produksi.  Maksudnya jika perusahaan melakukan perluasan atau peningkatan kapasitas produksi maka kapasitas produksi sudah berubah sehingga kedua model tersebut tidak dapat diterapkan.

 

 

SUMBER :

JURNAL TEKNOLOGI PERTANIAN, VOL. 2, NO. 2, AGUSTUS 2001 : 58-73

PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN DENGAN MODEL P DAN Q

PADA KEGIATAN PRODUKSI CAMILAN

DI PERUSAHAAN CAMILAN TRADISIONAL MALANG

M. Hindun Pulungan•, Sukardi•, dan Siti Rofida••

tugas besar ppic

TUGAS BESAR PPIC

PERUSAHAAN AIR MINUM DALAM KEMASAN

PT. MADA FRESH DRINK

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DISUSUN OLEH:

DEVI LIANA                                                                 (105100307111010)

MERYANA SANTYA P                                             (105100301111030)

ANDREAS SITEPU                                                     (105100301111009)

ALFRED .P. P. BUTARBUTAR                                (105100301111016)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2012

BAB I

PROFIL PERUSAHAAN

 

  1. 1.       NAMA PERUSAHAAN

PT. MADA FRESH DRINK

Merupakan perusahaan yang bergerak dalam industri pengolahan air minum dalam kemasan dengan aneka rasa.

 

  1. 2.       LOKASI PERUSAHAAN

PT. MADA FRESH DRINK berlokasi di Pandaan karena tanahnya luas, ketersediaan utilitas, peraturan setempat yang tidak terlalu rumit dan tenaga kerja yang mudah didapat dengan keterampilan yang sesuai.

 

  1. 3.       VISI DAN MISI PERUSAHAAN

VISI

“Menjadi perusahaan industri minuman yang terbaik dan terbesar di Indonesia, dengan senantiasa mengutamakan kepuasan konsumen, dan menjungjung tinggi kepercayaan para pemegang saham serta mitra kerja perusahaan.”

 

MISI

“Menjalankan usaha yang dilandasi dengan kepekaan yang tinggi untuk senantiasa berorientasi kepada pasar atau konsumen, dan kepekaan serta kepedulian untuk senantiasa memperhatikan lingkungan yang dilakukan secara optimal agar dapat memberikan nilai tambah sebagai wujud pertanggung jawaban kepada pemegang saham.”

 

 

Deskripsi Struktur Organisasi

  1. 1.       General Manager (GM)
  • Wewenang

Menetapkan kebijakan strategis perusahaan sebagaimana dituangkan dalam rencana jangka panjang, rencana kerja, anggaran perusahaan, dan rencana operasional lainnya.

  • Tugas

a)      Merencanakan, membina, dan mengembangkan efektivitas dan efisiensi organisasi perusahaan sesuai dengan kebutuhanya.

b)      Memelihara dan mengelolah kekayaan perusahaan berdasarkan prinsip, peraturan, dan ketentuan yang berlaku.

 

  1. 2.       Secretary (sekretaris)
  • Wewenang

Bertanggung jawab atas penyusunan dan pengaturan agenda kerja general manager.

  • Tugas

Mencatat dan menyampaikan data-data perusahaan kepada general manager, baik yang berhubungan dengan administrasi maupun surat-surat penting perusahaan.

 

  1. 3.       Technical Operation Manager (TOM)
  • Wewenang

Membimbing dan mengawasi para kepala bagian yang menjadi bawahannya.

  • Tugas

a)      Bertanggung jawab atas kegiatan produksi secara keseluruhan.

b)      Mengatur keseimbangan antara investasi dan produksi.

c)       Melaksanakan instruksi general menager.

 

  1. 4.       Human Resources Manager (HRM)
  • Wewenang

Bertanggung jawab atas barang-barang (investaris) perusahaan.

  • Tugas

a)      Bertanggung jawab tentang penyediaan tenaga kerja, pengembangan karir, dan kesejahteraan karyawan.

b)      Bertanggung jawab terhadap terlaksananya tertib administrasi yang menyangkut surat-surat atau dokumentasi perusahaan.

 

  1. 5.       Finance Manager (FM)
  • Wewenang

Bertanggung jawab dan mengawasi atas penggunaan dana perusahaan.

  • Tugas

a)      Mengkoordinasi tugas-tugas karyawan.

b)      Melaksananya tertib administrasi yang berhubungan dengan system dan prosedur akuntansi.

 

  1. 6.       General Sales Manager (GSM)
  • Wewenang

Mengkooardinir serta bertanggung jab atas seluruh kegiatan pemasaran, promosi, pengelolahan pasar (baik ke pengecer maupun ke konsumen) dan warehouse yang ada.

  • Tugas

Merumuskan serta menetapkan kebijakan strategis dan opersi bagian pemasaran sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

 

  1. 7.       Information System Manager (ISM)
  • Wewenang

Memastikan setiap informasi yang dibutuhkan perusahaan.

  • Tugas

Menyediakan informasi kepada semua unit kerja.

 

  1. 8.       Public Relation Manager (PRM)
  • Wewenang

Membela produk yang menghadapi masalah public.

  • Tugas

a)      Membantu peluncuran produk baru.

b)      Membangun minat terhadap suatu katagori produk.

c)       Mempengaruhi kelompok sasaran tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

JADWAL INDUK PRODUKSI

 

  1. 1.       TUJUAN DAN MANFAAT PENYUSUNAN JADWAL INDUK PRODUKSI

Pada dasarnya jadwal induk merupakan suatu pernyataan tentang produksi akhir (termasuk item pengganti dan suku cadang) dari PT. MADA FRESH DRINK, untuk memproduksi output berkaitan dengan kuantitas dan periode waktu.  Dengan kata lain JIP adalah suatu set perencanaan yang mengidentifikasi kuantitas item tertentu yang dapat dan akan dibuat oleh perusahaan.

Fungsi Jadwal Induk Produksi

  1. Menjadwalkan produksi dan order pembelian untuk item – item JIP
  2. Memberikan input dasar bagi sistem MRP
  3. Menjadi dasar bagi penentuan sumber daya (tenaga kerja , waktu, mesin dll)
  4. Menjadi dasar dalam membuat janji pengiriman pada konsumen

Tujuan Jadwal Induk Produksi

  1. Memenuhi target tingkat pelayanan terhadap konsumen
  2. Efisiensi penggunaan sumber daya produksi
  3. Mencapai target tingkat produksi tertentu, sesuai batasan dalam perencanaan agregat.

 

  1. 2.       JADWAL INDUK PRODUKSI PT. MADA FRESH DRINK

Diketahui permintaan rata – rata produk minuman  2664 dos per bulan. Dengan  Persedian awal 500 dos, Lot produksi  800 dos.

Permintaan produk :

Persediaan awal 500 dos

Lot produksi 800 dos

I

II

III

IV

Forecast pembeli

150

500

264

Pesanan Antar Pabrik

300

200

400

Pesanan pelanganggan

400

200

100

100

Pesanan Gudang

50

 

Perhitungan Kebutuhan Produksi Item

Persediaan awal 500 dos

Lot produksi 800 dos

I

II

III

IV

Permintaan 600 500 800 764
Persediaan awal 500 700 200 200
Produksi yang dibutuhkan (MPS) 800 800 800
Persediaan akhir 700 200 200 164

 

 

 

 

 

  1. 3.       UJI KELAYAKAN MENGGUNAKAN (ROUGH CUT CAPACITY PLANNING)
 

Week

1

2

3

4

5

6

7

8

MPS-Model A

40

30

20

0

0

40

0

30

MPS-Model B

20

30

40

30

30

20

0

20

 

Hours per Unit on Machine 1

Hours per Unit on Machine 2

Model A

3

2.5

Model B

2

1.5

 

Machine 1 Load

Week

1

2

3

4

5

6

7

8

Due To Model B

120

90

60

0

0

120

0

90

Due To Model A

40

60

30

60

60

40

0

40

Total Machine 1 Load

160

140

120

60

60

160

0

130

 

Machine 2 Load

Week

1

2

3

4

5

6

7

8

Due To Model B

100

75

50

0

0

100

0

75

Due To Model A

30

45

60

45

45

30

0

30

Total Machine 2 Load

130

120

110

45

45

130

0

105

 

 

Rough-Cut Capacity Planning (RCCP)

  • Diasumsikan perusahaan beroperasi 7 hari dalam seminggu
  • Disetiap hari ada 3 shift. Masing-masing selama 7 jam
  • Total tiap hari mesin beroperasi selama 21 jam
  • Selama 1 minggu beroperasi selama 147 jam

 

 

 

147

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

147

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

MANAJEMEN PERSEDIAAN

 

  1. 1.       PENTINGNYA PERSEDIAAN DAN MANAJEMEN PERSEDIAAN PT. MADA FRESH DRINK

Persediaan merupakan kekayaan perusahaan yang memiliki peranan penting dalam operasi bisnis, maka perusahaan perlu melakukan manajemen persediaan proaktif, artinya perusahaan harus mampu mengantisipasi keadaan maupun tantangan yang ada dalam manajemen persediaan untuk mencapai sasaran akhir dalam manajemen persediaan, yaitu untuk meminimasi total biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk penanganan persediaan.

 

Tujuan Pengelolaan Persediaan

Suatu pengendalian persediaan yang dijalankan oleh suatu perusahaan sudah tentu memiliki tujuan-tujuan tertentu. Tujuan pengelolaan persediaan adalah :

  1. Untuk dapat memenuhi kebutuhan atau permintaan konsumen dengan cepat (memuaskan konsumen)
  2. Untuk menjaga kontinuitas produksi atau menjaga agar perusahaan tidak mengalami kehabisan persediaan yang mengakibatkan terhentinya proses produksi, hal ini dikarenakan alasan:
  • Kemungkinan barang (bahan baku dan penolong) menjadi langka sehingga sulit untuk diperoleh
  • Kemungkinan supplier terlambat mengirimkan barang yang dipesan
  1. Untuk mempertahankan dan bila mungkin meningkatkan penjualan dan laba perusahaan
  2. Menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari, karena dapat mengakibatkan ongkos pesan menjadi besar
  3. Menjaga supaya penyimpanan dalam emplacement tidak besar-besaran, karena akan mengakibatkan biaya menjadi besar.

 

Manajemen persediaan memerlukan perhatian yang penting dari pihak manajemen perusahaan karena manajemen yang buruk dapat menimbulkan masalah baik dalam kegiatan beroperasi mauoun dalam bisnis. Maksud dari manajemen persediaan adalah untuk menentukan jumlah persediaan yang disimpan yaitu seberapa banyak persediaan yang disimpan, berapa banyak yang harus dipesan, dan kapan persediaan harus diisi kembali. Manajemen persediaan juga berkaitan dengan manajemen logistik, manajemen logistik juga membahas mengenai gudang, pergerakan (pemindahan) dan penyimpanan.

 

Fungsi-Fungsi Persediaan

Persediaan dapat melayani beberapa fungsi yang akan menambahkan fleksibilitas operasi perusahaan. Fungsi persediaan menurut Rangkuti (2007), yaitu:

  1. Fungsi Decuopling, untuk membantu perusahaan agar bisa memenuhi permintaan langganan tanpa tergantung pada supplier.
  2.  Fungsi Economic Lot Sizing, persediaan ini perlu mempertimbangkan penghematan-penghematan (potongan pembelian, biaya pengangkutan per unit lebih murah dan sebagainya) karena perusahaan melakukan pembelian dalam kuantitas yang lebih besar, dibandingkan dengan biaya-biaya yang timbul karena besarnya persediaan (biaya sewa gudang, investasi, risiko, dan sebagainya)
  3. Fungsi antisipasi, untuk mengantisipasi dan mengadakan permintaan musiman (seasonal inventories), menghadapi ketidakpastian jangka waktu pengiriman dan untuk menyediakan persediaan pengamanan (safety stock)

Menurut Herjanto ( 1997 ) dalam Priyanto (2007) terdapat enam fungsi penting yang dikandung oleh persediaan dalam memenuhi kebutuhan perusahaan, antara lain :

  1. Menghilangkan resiko keterlambatan pengiriman bahan baku atau barang yang dibutuhkan perusahaan.
  2. Menghilangkan resiko jika material yang dipesan tidak baik sehingga harus dikembalikan.
  3. Menghilangkan resiko terhadap kenaikan harga barang atau inflasi.
  4. Untuk menyimpan bahan baku yang dihasilkan secara musiman sehingga perusahaan tidak akan kesulitan bila bahan tersebut tidak tersedia di pasaran.
  5. Mendapatkan keuntungan dari pembelian berdasarkan potongan kuantitas ( Quantity discount )
  6. Memberikan pelayanan kepada langganan dengan tersedianya bahan yang diperlukan.

 

  1. 2.       PENGERTIAN EOQ

EOQ merupakan salah saru teknik pengendalian persediaan tertua dan paling terkenal. Teknik ini relative mudah digunakan, tetapi didasarkan pada beberapa asumsi:

  1. Tingkat permintaan diketahui dan bersifat konstan
  2. Lead time, yaitu waktu antara pemesanan dan penerimaan pesanan, diketahui, dan bersifat konstan. Ada dua macam pegertian Lead time, pada produksi, berarti jangka waktu sejak barang mulai dibuat sampai dengan selesai dikerjakan; dalam pembelian, berarti jangka waktu sejak barang dipesan sampai barang tiba/datang.
  3.  Persediaan diterima dengan segera. Dengan kata lain, persediaan yang dipesan tiba dalam bentuk kumpulan produk, pada satu waktu.
  4. Tidak mungkin diberikan diskon
  5. Biaya variabel yang muncul hanya biaya pemasangan atau pemesanan dan biaya penahanan atau penyimpanan persediaan sepanjang waktu.
  6. Keadaan kehabisan stok (out of stock) dapat dihindari sama sekali bila pemesanan dilakukan pada waktu yang tepat.

Rumusan EOQ yang biasa digunakan adalah:

 

Dimana:

S              = Biaya pemesanan ( persiapan pesanan dan penyiapan mesin ) per pesanan

D             = penggunaan atau permintaan yang diperkirakan per periode waktu.

H             = Biaya penyimpanan per unit per tahun

 

  1. 3.       EOQ SETIAP ITEM BARANG YANG HARUS DIPESAN UNTUK MEMBUAT PRODUK

Barang yang dibutuhkan:

  1. Cup plastik  2000 unit/hari
  2. Top seal 2000 unit/hari
  3. Kardus 100 unit/ hari
  4. Gula  90kg/hari
  5. Ekstrak buah 288kg/hari
  6. Asam sitrat 180gr/hari
  7. Natrium benzoat 72gr/hari
  8. Air 360lt/hari

EOQ tiap item barang

  1. EOQ untuk cup plastik

Demand                               : 2000unit/hari = 624000unit/tahun

Biaya pemesanan             : Rp.10000/pesan

Biaya simpan                      : Rp.50/unit/tahun

 

 

 

 

  1. EOQ untuk Top seal

Demand                               : 2000 unit/hari = 624000unit/tahun

Biaya pemesanan             : Rp.10000/pesan

Biaya simpan                      : Rp. 25/unit/tahun

 

 

 

 

 

  1. EOQ untuk Kardus

Demand                               : 100 unit/ hari = 31200/tahun

Biaya pemesanan             :Rp.12000/pesan

Biaya simpan                      :Rp.50/unit/tahun

 

 

 

 

 

  1. EOQ untuk Gula

Demand                               : 90kg/hari = 28080kg/tahun

Biaya pemesanan             : Rp.15000/pesan

Biaya simpan                      : Rp. 100/kg/tahun

 

 

 

 

 

  1. EOQ untuk Ekstrak buah

Demand                               : 288kg/hari = 89856kg/tahun

Biaya pemesanan             : Rp. 20000/ pesan

Biaya simpan                      : RP.200/kg/tahun

 

 

 

 

 

  1. EOQ untuk Asam sitrat

Demand                               : 180gr/hari = 56160gr/tahun

Biaya pemesanan             : Rp.5000/pesan

Biaya simpan                      : Rp. 50/gr/tahun

 

 

 

 

 

  1. EOQ untuk Natrium benzoat

Demand                               : 72gr/hari = 22464gr/tahun

Biaya pemesanan             : Rp. 5000/pesan

Biaya simpan                      : Rp. 50/gr/tahun

 

 

 

 

 

 

  1. EOQ untuk  Air

Demand                               : 360lt/hari = 112320lt/tahun

Biaya pemesanan             : Rp.1000/pesan

Biaya simpan                      : Rp.10/lt/tahun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

ABC INVENTORY CLASSIFICATION

 

  1. 1.       PERANAN ABC INVENTORY CLASIFICATION

Analisis ABC merupakan salah satu model yang digunakan untuk memecahkan masalah penentuan titik optimum, baik jumlah pemesanan maupun order point. Analisis ABC sangat berguna dalam memfokuskan perhatian manajemen terhadap penentuan jenis barang yang paling penting dalam system inventori yang bersifat multisystem.

ABC Analisis mengklasifikasikan persediaan dalam tiga kategori, yaitu: A, B, dan C dengan basis volume penggunaan biaya persediaan dalam setahun. Analisis ABC adalah sebuah aplikasi persediaan dari prinsip Pareto, dikembangkan oleh Vilfredo Pareto ahli ekonomi Italia, yang menyatakan bahwa “ terdapat sedikit hal yang penting dan banyak hal yang sepele.” Tujuannya adalah membuat kebijakan persediaan yang memusatkan sumber daya pada komponen persediaan penting yang sedikit dan bukan pada yang banyak tetapi sepele. Masing-masing jenis barang membutuhkan analisis tersendiri untuk mengetahui besarnya order size dan order point. Namun demikian, harus kita sadari bahwa berbagai macam jenis barang yang ada dalam persediaan tersebut tidak seluruhnya memiliki tingkat prioritas yang sama.

 

Pengendalian Persediaan Masing-masing Kelas dalam Analisis ABC

 

Dalam analisis abc ada beberapa hal yang perlu diperhatikan,

  • Berkaitan dengan kinerja ukuran. Nilai penjualan sering digunakan sebagai ukuran kinerja, untuk memperoleh keputusan yang berbeda, ukuran yang dipakai harus sesuai dengan tujuan pengambilan keputusan. Dengan demikian, criteria ukuran yang dipakai harus menunjukkan skala terbaik dari keputusan yang diambil
  •  Perusahaan memiliki jenis barang yang masuk dalam kategori kelompok C berdasarkan kriteria penjualan, tetapi sangat penting untuk pelanggan. Meskipun komponen tersebut perlu mendapatkan perhatian khusus dari pihak manajemen, sama seperti jenis barang terdapat dalam kelompok A dan B.

Pengklasifikasian berdasarkan konsep ABC dilakukan dengan mengelompokkan persediaan berdasarkan nilai pemakaian. Tahap-tahap yang dilakukan dalam pengklasifikasian persediaan berdasarkan konsep ABC adalah:

  1. Membuat daftar semua item yang akan diklasifikasikan dan harga beli masing-masing item
  2.  Menentukan jumlah pemakaian rata-rata per tahun untuk setiap item tersebut
  3.  Menentukan nilai pemakaian per tahun setiap item dengan cara mengalikan jumlah pemakaian rata-rata per tahun dengan harga beli masing-masing item
  4. Menjumlahkan nilai pemakaian tahunan semua item untuk memperoleh nilai pemakaian total.
  5.  Menghitung persentase pemakaian setiap item dari hasil bagi antara nilai pemakaian per tahun setiap item dengan total nilai pemakaian per tahun.
  6. Mengurutkan sedemikian rupa nilai pemakaian tahunan semua persediaan yang memiliki nilai uang yang paling besar sampai yang terkecil agar mempermudah pembagian persediaan atas kelas A,B,atau C sesuai dengan aturan pengkasifikasian yang dipakai, yaitu kelompok A memiliki persentase jumlah barang 10% dan persentase nilai barang 70%, kelompok B memiliki persentase jumlah barang 20% dan persentase nilai barang 20%, dan kelompok C memiliki persentase jumlah barang 70% dan persentase nilai barang 10%.

 

2.  ABC INVENTORY CLASIFICATION PT. MADA FRESH DRINK

item

Permintaan

(unit)

biaya per unit

Cup plastik  2000  75
Top seal  2000  25
Kardus  100  200
Gula  90  12000
 Ekstrak buah  288  15000
Asam sitrat  180  5000
 Natrium benzoat  72  5000
Air  360  100

 

 

 

 

 

 

 

ITEM

DEMAND

PRICE

DOLLAR VOLUME

PERCENT OF $-VOL

CUMULATIV $-VOL %

CATEGORY

 Ekstrak buah

288

15000

4320000

62,46

62,46

A
Gula

90

12000

1080000

15,62

78,08

B
Asam sitrat

180

5000

900000

13,01

91,09

B
 Natrium benzoat

72

5000

360000

5,21

96,30

 C
Cup plastik

2000

75

150000

2,17

98,47

 C
Top seal

2000

25

50000

0,72

99,19

 C
Air

360

100

36000

0,52

99,71

 C
Kardus

100

200

20000

0,29

100,00

 C
     

6916000

     

 

  1. 1.       Item yang termasuk dalam kategori A dengan presentase ± 70% adalah ekstrak buah
  2. 2.       Item yang termasuk dalam kategori B dengan presentase ± 20% adalah gula dan asam sitrat
  3. 3.       Item yang termasuk dalam kategori c dengan presentase ± 10% adalah netrium benzoat, cup plastik, top seal, air dan kardus

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

DISKON KUANTITAS

 

  1. 1.       PENGERTIAN DISKON KUANTITAS

Diskon Kuantitas, yaitu penurunan harga bagi orang yang membeli dalam jumlah besar. Diskon kuantitas harus ditawarkan sama untuk pelanggan dan tidak boleh melebihi penghematan biaya yang diperoleh penjual. Diskon tersebut dapat ditawarkan untuk masing-masing pesanan yang dilakukan atau untuk jumlah unit yang dipesan selama kurun waktu tertentu.

  1. 2.       DISKON KUANTITAS PT. MADA FRESH DRINK
Angka diskon Kuantitas diskon Diskon (%) Harga diskon (Rp)
1 0 – 1499 15000
2 1500 – 2999 5 14250
3 3000 – 4499 10 13500
4 4500 – lebih 15 12750

 

Langkah 1 : Menghitung nilai Q* untuk setiap diskon

 

 

 

 

 

Langkah 2 : Menyesuaikan Q*

= 1095

= 1123 ~ 1500

= 1154 ~ 3000

= 1154 ~ 4500

Langkah 3:

Angka diskon Harga satuan Kuantitas pesanan Biaya produk tahunan Biaya

Pemesanan tahunan

Biaya penyimpanan tahunan total
1 15000 1095 1.347.840.000 1.641.206 109.500 1.349.590.706
2 14250 1500 1.280.448.000 1.198.080 150.000 1.281.796.080
3 13500 3000 1.213.056.000 599.040 300.000 1.213.955.040
4 12750 4500 1.145.664.000 399.360 450.000 1.146.513.360

Jadi kuantitas pesanan 4500 ekstrak buah akan meminimalkan biaya totalnya.

BAB VI

PERSEDIAAN PROBABILISTIK

 

  1. 1.       PENGERTIAN PERSEDIAAN PROBABILISTIK

Model persediaan probabilistic adalah model persediaan yang digunakan jika permintaan akan produk tidak diketahui, tetapi dapat dispesifikasikan dengan menggunakan distribusi probabilitas.

 

  1. 2.       PENGERTIAN PERSEDIAAN PENGAMAN (safety stock )

Persediaan pengamanan atau safety sotck adalah persediaan yang dilakukan untuk mengantisipasi unsur ketidakpastiaan permintaan dan penyediaan. Apabila persediaan pengamanan tidak mampu mengantisipasi ketidakpastian tersebut, akan terjadi kekurangan persediaan (stockout). Jumlah safety stock yang sesuai dalam kondisi tertentu sangat tergantung pada factor-faktor sebagai berikut:

1. Rata-rata tingkat permintaan dan rata-rata masa tenggang

2. Variabilitas permintaan dan masa tenggang

3. Keinginan tingkat pelayanan yang diberikan.

Untuk tingkat pelayanan dari siklus pemesanan, besarnya tingkat permintaan atau masa tenggang menyebabkan jumlah safety stock harus lebih banyak sehingga dapat memenuhi tingkat pelayanan yang diinginkan.

  1. 3.       PERAN PERSEDIAAN PENGAMAN (safety stock )

Safety stock adalah unit – unit tambahan yang dgunkan untuk mengurangi kahabisan persediaan. Safety stock bertujuan untuk menentukan berapa besar stock yang dibutuhkan selama masa tenggang untuk memenuhi besarnya permintaan.  Jumlah safety stock yang dijaga bergantung pada biaya yang ditimbulkan jika terjadi kehabisan persediaan dan biaya penyimpanan persediaan tambahan

  1. 4.       PERSEDIAAN PENGAMAN (safety stock ) PT. MADA FRESH DRINK (3 ITEM)
  • Permintaan Variabel dan Waktu tunggu konstan

Item : ekstrak buah

Permintaan harian rata – rata            : 288 kg

Lead time konstan                                 : 3 hari

Standar deviasi harian σd                    : 100 kg

Tingkat pelayanan                                  : 90% à Z = 1,28

 

 

= 864 + 221,7

= 1086 kg

Safety Stock (SS) = 221,7 ≈ 223 kg

  • Waktu Tunggu Variabel dan Permintaan Konstan

Item : kardus

Permintaan harian                 : 100 unit

Waktu tunggu          : 4 hari

Standar deviasi σt   : 2 hari

Tingkat pelayanan : 98% à Z = 2,055

 

 

= 400 + 411

= 811 unit

Safety Stock (SS) = 411 unit

  • Permintaan dan Waktu Tunggu Variabel

Item : natrium benzoat

Permintaan harian                                                 : 72 gram

Waktu tunggu                                          : 5 hari

Standar deviasi harian σd                    : 10 gram

Standar deviasi σt                                   : 1 hari

Tingkat pelayanan : 95% à Z = 1,65

 

 

= 75,39 gram

 

Safety Stock (SS) = 124,39 gram

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VII

METERIAL REQUIREMENT PLANNING

  1. 1.       PENGERTIAN MRP

Teknik Perencanaan Kebutuhan Material (Material Requirement Planning, MRP) digunakan untuk perencanaan dan pengendalian item barang (komponen) yang tergantung (dependent) pada item-item ditingkat (level) yang lebih tinggi. Kebutuhan pada item-item yang bersifat tergantung merupakan hasil dari kebutuhan yang disebabkan oleh penggunaan item-item tersebut dalam memproduksi item yang lain, seperti dalam kasus dimana bahan baku dan komponen assembling yang digunakan untuk memproduksi produk jadi.

MRP adalah lebih dari sekedar metode proyeksi kebutuhan-kebutuhan akan komponen individual dari suatu produk. Sistem MRP mempunyai tiga fungsi utama : control tingkat persediaan, penugasan komponen berdasar urutan prioritas, dan penentuan kebutuhan kapasitas (capacity requirement)pada tingkat yang lebih detail daripada proses perencanaan pada rough-cut capacity-requirements.

  • Tujuan dan Komponen

Tujuan MRP adalah menentukan kebutuhan dan jadwal untuk pembuatan komponen-komponen subasembling-subasembling atau pembellian material untuk memenuhi kebutuhan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh MPS. Jadi, MRP menggunakan MPS untuk memproyeksi kebutuhan akan jenis-jenis komponen (component parts).

Elemen-elemen MRP :

1.      Penjadwalan Induk (Master scheduling)

Bertujuan untuk menentukan output fungsi operasi.

2.      Bagan Bahan (Bill of Material)

Bahan-bahan apa saja dan berapa kompisisi untuk suatu produk.

3.      Catatan Sediaan (Inventory Record)

Catatan dari akumulasi transaksi sediaan yang terjadi di perusahaan atau pabrik.

4.      Perencanaan Kapasitas (Capacity Planning)

v  Suatu cara membuat perencanaan kapasitas, yaitu :

·         Rough Cut Capacity Planning, perencanaan kapasitas pemotongan kasar yang lebih sedikit melakukan kalkulasi.

·         Shop Loading, perencanaan yang lebih akurat daripada Rough Cut Capacity Planning.

5.      Pembelian (Purchasing)

Diperluas fungsinya tidak hanya sekedar membeli, tetapi termasuk juga membangun kepercayaan pemasok.

6.      Pengendalian Pengelola Bengkel (Shop-floor Control)

Bertugas untuk mengendalikan aliran bahan dengan memperhatikan lead time yang ada. Jangan sampai terjadi penumpukan akibat tidak lancarnya aliran bahan.

  • Proses MRP

Sistem MRP memerlukan syarat pendahuluan dan asumsi-asumsi yang harus dipenuhi. Bila syarat pendahuluan dan asumsi-asumsi tersebut telah dipenuhi, maka kita bisa mengolah MRP dengan empat langkah dasar sebagai berikut :

Ø  NETTING (Penghitungan Kebutuhan Bersih). Kebutuhan bersih (NR) dihitung sebagai nilai dari Kebutuhan Kotor (GR) minus Jadwal Penerimaan (SR) minus Persediaan Ditangan (OH. Kebutuhan besih dianggap nol bila NR lebih kecil dari atau sama dengan nol.

Ø  LOTTING (Penentuan Ukuran Lot). LAngkah ini bertujuan menentukan besarnya pesanan individu yang optimal berdasarkan hasil dari perhitungan kebutuhan bersih. Metode yang umum dipakai dalam prakteknya adalah Lot-for Lot (L-4-L).

  • Karakteristik Dasar Sistem MRP

Manajemen persediaan system MRP memiliki karakteristik sebagai berikut:

1.      Perhatian terhadap kapan dibutuhkan

Integrasi pemikiran antara fungsi pengawasan produksi dan manajemen prsediaan mengakibatkan pergeseran perhatian terhadap kapan dibutuhkan ketimbang perhatian langsung terhadap kapan melakukan pemesanan.

2.      Perhatian terhadap prioritas pemesanan

Adanya kesadaran bahwa semua pesanan konsumen tidak memiliki prioritas yang sama.

3.      Penundaan pengiriman permintaan

Konsekuensi dari prioritas pesanan menghasilkan konsep penundaan pengiriman yaitu menunda produksi atau pesanan terhadap item yang telah dijadwal, untuk memaksimumkan keseluruhan operasi.

4.      Fungsi integrasi

Pengawasan produksi dan manajemen persediaan dipandang sebagai fungsi yang terintegrasi.

  • Arus Informasi Sistem MRP

1.      Master Production Schedule (MPS)

MPS merupakan ringkasan skedul produksi produk jadi untuk periode mendatang yang dirancang berdasarkan pesanan pelanggan atau ramalan permintaan. System MRP mengasumsikan bahwa pesanan yang dicatat dalam MPS adalah pasti, kendatipun hanya merupakan ramalan.

2.      Bill Of Material (BOM)

BOM merupakan rangkaian struktur semua  komponen yang digunakan untuk memproduksi barang jadi sesuai dengan MPS. Secara spesifik struktur BOM tidak saja berisi komposisi komponen, tetapi juga memuat langkah penyeledaian produk jadi. Tanpa adanya struktur BOM sangat mustahil untuk dapat melaksanakan system MRP.

3.      Infentory Master File (IMF)

Terdiri dari semua catatan tentang persediaan produk jadi, komponen dan sub-komponen lainnya, baik yang sedang dipesan maupun persediaan pengaman.

  • Faktor Kesulitan Dalam MRP

Terdapat lima factor yang mempengaruhi tingkat kesulitan dalam proses MRP, yaitu:

1        Struktur Produk

Semakin rumit struktur produk, akan membuat perhitungan MRP semakin rumit pula. Struktur produk yang komleks terutama kearah vertical, akan membuat proses penentuan kebutuhan bersih, penentuan jumlah pesanan optimal, penentuan saat yang tepat melakukan pasanan, dan penentuan kebutuhan kotor menjadi berulang-ulang.

2        Ukuran Lot

Jika dilihat dari cara pendekatan masalah, terdapat dua aliran dalam penentuan ukuran lot yaitu, a) pendekatan period dan 2) level by level

3        Tenggang Waktu

Perbedaan dalam tenggang waktu akan menambah kerumitan dalam proses MRP. Oleh karena itu kita dihadapkan pada masalah penentuan saat paling awal dan saat paling lambat suatu komponen harus selesai atau disebut dengan lintasan kritis.

4        Perubahan Kebutuhan

MRP dirancang untuk menjadi suatu system yang peka terhadap perubahan baik perubahan dari luar (permintaa) maupun perubahan dari dalam (kapasitas). Kepekaan ini bukanlah tidak menimbulkan masalah, perubahan kebutuhan produk akhir tidak hanya mempengaruhi rencana pemesanan, tetapi juga mempengaruhi jumlah kebutuhan yang diinginkan.

5        Komponen Yang Bersifat Umum (Communality)

Adanya komponen yang bersifat umum (dibutuhkan lebih dari satu induk item) akan menimbulkan kesulitan apabila komponen umum tersebut berada pada level yang berbeda. Sehingga diperlukan tingkat ketelitian yang tinggi, baik dalam jumlah maupun waktu pelaksanaan pemesanan

  • Kemampuan Sistem MRP

Ada empat kemampuan yang menjadi ciri utama dari system MRP, yaitu:

Ø  Mampu menentukan kebutuhan pada saat yang tepat.

Maksudnya adalah menentukan secara tepat “kapan” suatu pekerjaan harus diselesaikan atau “kapan” material harus tersedia untuk memenuhi permintaan atas produk akhir yang sudah direncanakan pada jadwal induk produksi.

Ø  Membentuk kebutuhan minimal untuk setiap item

Dengan diketahuinya kebutuhan akan produk jadi, MRP dapat menentukan secara tepat system penjadwalan (berdasarkan prioritas) untuk memenuhi semua kebutuhan minimal setiap item komponen.

Ø  Menentukan pelaksanaan rencana pemesanan

Maksudnya adalah memberikan indikasi kapan pemesanan atau pembatalan terhadap pesanan harus dilakukan, baik pemesanan yang diperoleh dari luar atau dibuat sendiri.

Ø  Mentukan penjadwalan ulang atau pembatalan atas suatu jadwal yang sudah direncanakan

Apabila kapasitas yang ada tidak mampu memenuhi pesanan yang dijadwalkan pada waktu yang diinginkan, maka MRP dapat memberikan indikasi untuk melakukan rencana penjadwalan ulang dengan menentukan prioritas pesanan yang realistis.

 

 

 

  1. 2.       SUSUNAN BOM

 

 

 

 

 

 

Item Lead Time (hari ) On Hand
Produk (A) 1 10
Cup (B) 2 15
Top Seal (C) 1 15
Gula  (D) 1 20
Ekstrak Buah (E) 2 25
Asam Sitrat (F) 3 5
Natrium Benzoat (G) 2 5
Air (H) 1 0

 

Dibutuhkan 60 cup

Pengerjaan 5 hari

  1. 3.       MRP PT. MADA FRESH DRINK
  • Struktur Produk Berfase Waktu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                       HARI KE –

 

 

 

  • Kebutuhan bruto

HARI KE-

WAKTU TUNGGU

1

2

3

4

5

A

       

60

1

     

60

 

B

     

60

 

2

 

60

     

C

     

60

 

1

   

60

   

D

     

180

 

1

   

180

   

E

     

300

 

2

 

300

     

F

     

120

 

3

120

       

G

     

60

 

2

 

60

     

H

     

360

 

1

   

360

   

 

  • Kebutuhan Netto

UKURAN LOT

WAKTU TUNGGU (HARI)

ON HAND

LEVEL

ITEM

HARI

1

2

3

4

5

L –4– L

1

 10

0

 A

KEBUTUHAN BRUTO          60
ON HAND  10 10 10 10 10
KABUTUHAN NETTO          50
PENERIMAAN PESANAN TERENCANA          50
PENGIRIMAN PESANAN TERENCANA        50  

 L –4– L

 2

 15

 1

 B

KEBUTUHAN BRUTO        50  
ON HAND  15 15 15 15  
KABUTUHAN NETTO        45  
PENERIMAAN PESANAN TERENCANA        45  
PENGIRIMAN PESANAN TERENCANA    45      

 L –4– L

 1

 15

 1

 C

KEBUTUHAN BRUTO        50  
ON HAND  15 15 15 15  
KABUTUHAN NETTO        45  
PENERIMAAN PESANAN TERENCANA        45  
PENGIRIMAN PESANAN TERENCANA      45    

L –4– L

 1

20

 1

D

KEBUTUHAN BRUTO        150  
ON HAND  20 20 20 20  
KABUTUHAN NETTO        130  
PENERIMAAN PESANAN TERENCANA        130  
PENGIRIMAN PESANAN TERENCANA      130    

 L –4– L

 2

 25

 1

E

KEBUTUHAN BRUTO        250  
ON HAND  25 25 25 25  
KABUTUHAN NETTO        225  
PENERIMAAN PESANAN TERENCANA        225  
PENGIRIMAN PESANAN TERENCANA    225      

 L –4– L

 3

 5

 1

F

KEBUTUHAN BRUTO        100  
ON HAND  5 5 5 5  
KABUTUHAN NETTO        95  
PENERIMAAN PESANAN TERENCANA        95  
PENGIRIMAN PESANAN TERENCANA  95        

 L –4– L

 2

 5

 1

G

KEBUTUHAN BRUTO        50  
ON HAND  5 5 5 5  
KABUTUHAN NETTO        45  
PENERIMAAN PESANAN TERENCANA        45  
PENGIRIMAN PESANAN TERENCANA    45      

 L –4– L

 1

 0

 1

H

KEBUTUHAN BRUTO        300  
ON HAND  0  0  0  0  
KABUTUHAN NETTO       300  
PENERIMAAN PESANAN TERENCANA       300  
PENGIRIMAN PESANAN TERENCANA      300    

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VIII

JUST IN TIME

  1. 1.       PENGERTIAN JUST IN TIME

Just In Time adalah suatu keseluruhan filosofi operasi manajemen dimana segenap sumber daya, termasuk bahan baku dan suku cadang, personalia, dan fasilitas dipakai sebatas dibutuhkan. Tujuannya adalah untuk mengangkat produktifitas dan mengurangi pemborosan. Just In Time didasarkan pada konsep arus produksi yang berkelanjutan dan mensyaratkan setiap bagian proses produksi bekerja sama dengan komponen-komponen lainnya. Tenaga kerja langsung dalam lingkungan Just In Time dipertangguh dengan perluasan tanggung jawab yang berkontribusi pada pemangkasan pemborosan biaya tenaga kerja, ruang dan waktu produksi. Metode produksi Just In time mensyaratkan tidak adanya persediaan bahan baku karena bahan baku dan suku cadang dijadwalkan untuk sampai ke pabrik dari pemasok hanya pada saat dibutuhkan saja.

 

  1. 2.       PERSIAPAN UNTUK DAPAT MENERAPKAN JUST IN TIME

Prinsip dasar JIT adalah meningkatkan kemampuan secara terus-menerus untuk merespon perubahan dengan meminimisasi pemborosan. Ada empat aspek pokok dalam sistim JIT yaitu :

  • Menghilangkan semua aktivitas atau sumber-sumber yang tidak memberikan nilai tambah terhadap produk.
  • Komitmen terhadap kualitas prima.
  • Mendorong perbaikan berkesinambungan untuk meningkatkan efisiensi.
  • Memberikan tekanan pada penyederhanaan aktivitas dan peningkatan visibilitas yang memberikan nilai tambah.

Pada sistem JIT PT. MADA FRESH DRINK  harus meningkatkan kualitas agar dapat bersaing dengan perusahaan yang lain. Untuk perusahaan harus memperhatikan kualitas mutunya. Dalam pengiriman barang dalam JIT harus tepat waktu, sesuai dengan jumlah pesanan dan dengan kualitas yang bermutu tinggi. Karena hal ini dapat mempengaruhi kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan produksi. Jika pelanggan senang maka ia akan sering melakukn pesanan terhadap perusahaan produksi dan sebaliknya jika pelanggan tidak puas maka pelanggan akan memilih ke perusahaan produksi lainnya.

Ada beberapa strategi dalam mengimplementasikan JIT dalam perusahaan, antara lain:

  • Startegi Penerapan pembelian Just in Time. Dukungan, yaitu dari semua pihak terutama yang berkaitan dengan kegiatan pembelian, dan khususnya dukungan dari pimpinan. Tanpa ada komitmen dari pinpinan tersebut JIt tidak dapat terlaksana. Mengubah system, yaitu mengubah cara mengadakan pembelian, yaitu dengan membuat kontrak jangka panjang dengan pemasok sehingga perusahaan cukup hanya memesan sekali untuk jangka panjang, selanjutnya barang akan dating sesuai kebutuhan atau proses produksi perubahan kita.
  • Startegi penerapan Just in Time dalam system produksi. Penemuan system produksi yang tepat, yaitu dengan system tarik yang bertujuan memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan dengan menghilangkan sebanyakmungkin pemborosan. Penemuan lini produksi yaitu dalam satu lini produksi harus dibuat bermacam-macam barang, sehingga semua kebutuhanpelanggan yang berbeda-beda itu dapat terpenuhi. Selain itu lini produksi tersebut dapat menghemat biaya, biaya bahan, persediaan, dan sebagainya. JIT bukan hanya sekedar metode pengedalian persediaan, tetapi juga merupakan system produksi system produksi yang saling berkaitan dengan semua fungsi dan aktivitas.

 

 

 

tugas biaya mutu chiget(chiken nugget)

 

biaya kegagalan eksternal pada produk chiken nugget

Biaya kegagalan Eksternal :

  • Kesalahan pada distribusi produk.
  • Biaya pengganti masa kadaluarsa
  • Analisa kegagalan eksternal
  • Biaya keracunan produk

Rp.   20.000.000,-

Rp.      3.000.000,-

Rp.      9.000.000,-

Rp.      2.000.000,-

Rp.      6.000.000,-

20 %

15 %

45 %

10 %

30 %

tugas jurnal manmut

ANALISIS PENGENDALIAN MUTU PADA PROSES PRODUKSI
AIR MINUM DALAM KEMASAN (AMDK) SBQUA
(STUDI KASUS di PT SINAR BOGOR QUA, PAJAJARAN – BOGOR)

 PROFIL PERUSAHAAN
1. PT SBQUA didirikan pada bulan September 2001.
2. Perusahaaan ini berlokasi di Bogor dengan bentuk perusahaan perseorangan
3. Pada tahun 2002, PT. SBQUA mengadakan kerjasama dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bogor
4. Tahun 2003 bentuk perusahaan SBQUA berubah menjadi Perseroan Terbatas (PT).
5. PT. SBQUA telah memiliki nomor daftar industri 535/45.TDI-Diperindagkop
6. PT. SBQUA juga telah memiliki SNI 01-3553-1996
7. PT. SBQUA memiliki merek dalam negeri dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM)
8. Bahan baku dalam produksi di PT. SBQUA juga telah memenuhi syarat kualitas air minum Menkes R.I

 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pengendalian mutu pada proses produksi AMDK?
2. Sebab – sebab potensial yang mempengaruhi mutu air minum dalam kemasan di PT.Sinar Bogor Qua?
3. Apakah pengendalian mutu ada proses produksi tersebut terkendali ataupun tidak terkendali?

 PENGENDALIAN MUTU
Pengendalian mutu pada PT SBQUA terbagi menjadi empat tahap
1. pengendalian mutu bahan baku
2. pengendalian mutu dalam proses
3. pengendalian mutu produk jadi
4. pengendalian mutu kemasan.

 Sebab – sebab potensial yang mempengaruhi mutu air minum dalam kemasan di PT.Sinar Bogor Qua dapat diketahui melalui diagram sebab akibat (fish bone)
Elemen yang mempengaruhi:
1. Bahan
2. Kemasan
3. Lingkungan
4. Metode
5. Karyawan
6. Mesin

 Analisis Diagram Sebab Akibat

GRAFIK KENDALI MUTU
 Grafik kendali adalah grafik yang digunakan untuk menentukan apakah suatu proses berada dalam keadaan in control atau out control.
 Batas pengendalian yang meliputi batas atas (upper control limit) dan batas bawah (lower control limit) dapat membantu untuk menggambarkan performansi yang diharapkan dari suatu proses, yang menunjukkan bahwa proses tersebut konsisten.

 DAFTAR NILAI KOEFISIEN DALAM PERHITUNGAN BATAS-BATAS GRAFIK KENDALI

Peta Kontrol X-Bar
CL = 6,84
UCL = X double bar + A2 R bar
= 6,84 + (1,023 ) 0,38
= 7,22
LCL = X double bar – A2 R bar
= 6,84 – (1,023 ) 0,38
= 6,46
Peta Kontrol Range
CL = 0,38
UCL = D4 R bar
= (2,574 ) 0,38
= 0,97
LCL = D3 R bar
= (0 ) 0,38
Grafik Pengendali Derajat Keasaman (pH) Air

Pada grafik kendali rata – rata, dapat dilihat terdapat :
1. Lima titik memenuhi kriteria nomor (1) yaitu pada sampel 2, 9, 14, 15, 16.
2. Empat titik memenuhi kriteria nomor (5) yaitu pada sampel 6, 10, 11, 15
3. Satu titik memenuhi kriteria nomor (6) yaitu pada sampel 7

Kriteria – kriteria tersebut menandakan bahwa proses tidak terkendali
Grafik kendali R untuk pH pada tank penampungan bahan baku menunjukkan proses terkendali, dengan tidak adanya titik yang memenuhi kriteria proses tidak terkendali.

HASIL
 Kriteria – kriteria tersebut menandakan bahwa proses tidak terkendali
 Grafik kendali R untuk pH pada tank penampungan bahan baku menunjukkan proses terkendali, dengan tidak adanya titik yang memenuhi kriteria proses tidak terkendali

tugas manmut HrACCP NUGGET AYAM

MERYANA SANTYA PARAMITA/105100301111030/RAW MATERIAL NUGGET AYAM/ MANAJEMEN MUTU KELAS C/

NO

MATERIAL

HARAM YANG TERIDENTIFIKASI

ALASAN PENETAPAN RESIKO KEHARAMN

RESIKO HARAM

PENCEGAHAN

CCP

1 Daging dan kulit ayam Mikroba Kontaminasi mikroba patogen Tinggi Sertifikat MUI, COA,Uji spesifikasi CCP
2 Bahan – bahan kering Mikroba Kontaminasi mikroba patogen Tinggi Sertifikat MUI, COA,Uji spesifikasi CCP
3 Batter Mikroba Kontaminasi mikroba patogen dan bahan najis Rendah COA, Uji spesifikasi CP
4 Breader Hasil Olahan Kontaminasi mikroba dan bahan najis Rendah Sertifikat MUI, COA,Uji spesifikasi CP
5 Air Mikroba Kontaminasi mikroba patogen dan bahan najis Medium COA CP
6 Minyak Nabati Hasil Olahan Kontaminasi mikroba dan bahan kimia Tinggi Sertifikat MUI, COA,Uji spesifikasi, diagram alir CCP
7 Rempah – rempah Hasil olahan Kontaminasi bahan najis Rendah COA CP
8 Garam Hasil olahan Kontaminasi mikroba patogen dan bahan najis Rendah COA Cp

 

Spielberg Sibuk Siapkan ‘Tintin 2’

09/12/2011 11:06 | Produksi Film
Liputan6.com, Los Angeles: Setelah sukses dengan filmnya ‘The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn’, Steven Spielberg kini kembali menyiapkan proyek untuk sekuel film tersebut. Menurut laporan Contactmusic.com, Jumat (9/12), Spielberg tengah disibukkan memulai mengerjakan naskah film “Tintin” kedua.

Kesibukan Spielberg ini dibeberkan langsung oleh sang produser Kathleen Kennedy saat diwawancarai oleh situs Collider.com. Rencananya, sekuel film yang dibintangi Jamie Bell, Daniel Craig dan Andy Serkis itu akan dirilis di Amerika Serikat pada Hari Natal 2014 atau musim panas 2015.

“Oh yeah, film ini berlanjut. Aku dan Steven sudah berdiskusi tentang hal ini. Kami tengah sibuk mengerjakan naskah saat ini. Semoga naskahnya akan selesai pada Februari atau Maret tahun depan. Jika kami bisa memulai syuting musim panas ini, filmnya bisa dijadwalkan rilis pada Hari Natal 2014 atau musim panas 2015,” kata Kathleen.

Produser lainnya, Peter Jackson, juga sebelumnya membeberkan bahwa sekuel “Tintin” akan dibuat sampai empat film.

“Salah satu sekuel favoritku yang berjudul ‘The Seven Crystal Balls’, jadi ini yang selalu aku pikirkan untuk digarap,” kata Jackson. (Vin)

Lowongan pekerjaan (tugas MSDM)

PT. HEALTY DRINK INDONESIA
Mojokerto Jawa Timur
Lowongan pekerjaan

Jabatan Quality Control Manager

Persyaratan :
-Pria / wanita, 30 – 35 tahun
-Lulusan, S1/S2 Teknik Industri
-Memiliki pengetahuan dalam manajemen produksi dan pengendalian proses, ISO 22000, Sistem Mutu, GMP, HSE, HACCP
-Berpengalaman bekerja di industri makanan minimal 5 tahun sebagai manager QC
-Memiliki kemampuan keterampilan manajemen yang baik dan kepemimpinan yang kuat
Persyaratan Umum :
-Memiliki gelar sarjana dengan IPK minimal 3.00
-Mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris (aktif/pasif)
-Pekerja keras, independen dan mampu bekerja di bawah tekanan
-Bersedia di tempatkan di Bali

Kirim CV dan lamaran anda ke alamat di bawah ini
Human Resource Department
PT. Healty Drink Indonesia
Jl. Mojosari-Pacet km 4 RT 01 desa Peranggahan kec.Kutorejo kab.Mojokerto

Or by email to :
fanbeghpratiwi@yahoo.co.id

“Kandidat yang terpilih akan dihubungi melalui email/telfon untuk tes dan interview”

Go to Top