KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini.

Makalah ini membahas mengenai dampak konservasi lahan pertanian terhadap kerusakan lahan pertanian. Dalam kerusakan lahan pertanian tidak lepas dari ulah manusia yang semena – mena dalam merubah lahan pertanian menjadi lahan industry. Kesalahan ini juga tidak diimbangi dengan perlindungan kawasan pertanian maupun pencegahan kerusakan lahan. Seharusnya perindustriaan dapat bekerja sama dengan baik dengan pertanian,sehingga kerusakan dapat terhindari.

Penulis mengucapkan terima kasih atas bantuan semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini dan untuk lebih menyempurnakan makalah saran dan kritik yang sifatnya membangun akan diterima dengan senang hati.

 

Malang,September 2011

 

 

Penulis

 

 

 

BAB I

 

Latar Belakang

Di masa silam, tata ruang serta perkembangan wilayah dan kota lebih dipandang sebagai fenomena internal saja, namun kini dengan semakin terintegrasinya perekonomian secara global, harus diakui bahwa tata ruang bukanlah suatu fenomena internal semata, tetapi dinamikanya sangat dipengaruhi faktor-faktor global.

Akan tetapi di samping manfaatnya dalam tata ruang pasti ada yang menjadi korban dan menjadi korban utama adalah lahan pertanian yang dikonversi menjadi lahan perindustrian dan permukiman. Konversi lahan pertanian terjadi sebagai konskwensi logis dari perkembangan wilayah. Konversi lahan pertanian seringakali menimbulkan dampak negative terutama dalam bidang ketahanan pangan dan kondisi sosial ekonomi petani. Kawasan pusat kota secara besar-besaran juga mengalami pergeseran fungsi, dari pusat industry menjadi pusat kegiatan bisnis, keuangan dan jasa. Industri sendiri bergeser ke arah tepi kota yang notabene seharusnya menjadi lahan pertanian. Pemukiman di pusat kota beralih fungsi menjadi kawasan bisnis, supermall, perkantoran dan sebagainya. Sedangkan daerah pinggir kota menjadi korban sebagai lahan pemukiman baru. Dengan pemahaman dan kesadaran pentingnya lahan pertanian diharapkan akan menjadi obat dari masalah berkurangnya lahan pertanian.

Dari satu sisi, proses alih fungsi lahan pada dasarnya dapat dipandang merupakan suatu bentuk konsekuensi logis dari adanya pertumbuhan dan transformasi perubahan struktur social ekonomi masyarakat berkembang. Akan tetapi proses ini menghasilkan masalah baru yang terbilang konkret,seperti kerusakan lahan pertanian. Jika suatu lahan pertanian telah rusak maka akan mengganggu stabilitas pangan masyarakat banyak. Padahal bagi negara agraris seperti Indonesia, peran sector pertanian sangat penting dalam mendukung stabilitas bahan pangan dan papan bagi penduduk, serta komoditas ekspor nonmigas untuk menarik devisa.

Rumusan Masalah

Apa dampak peralihan lahan pertanian?

Apa faktor yang mempengaruhi peralihan lahan pertanian?

Bagaimana pencegahan kerusakan akibat peralihan lahan pertanian?

Tujuan

Mengetahui dampak peralihan lahan pertanian.

Mengetahui factor yang mempengaruhi terjadinya konversi lahan.

Mengetahui pencegahan dan pelestarian lahan pertanian dari konversi lahan.

Pembatasan masalah

Makalah ini hanya membahas tentang dampak yang diakibatkan oleh peralihan (konversi) lahan pertanian. Selain membahas dampak konversi lahan, akan sedikit memaparkan factor-faktor yang menyebabkan konversi lahan dan cara pencegahan serta upaya pelestarian lahan pertanian demi mewujudkan pertanian bekelanjutan (suistainable agriculture).

 

 

 

 

 

 

BAB II

Pembahasan

Degradasi Multifungsi Pertanian

Multifungsi pertanian saat ini sedang mengalami degradasi, sejalan dengan menurunnya kualitas dan kuantitas lahan pertanian. Proses degradasi multifungsi lahan yang paling signifikan adalah konversi lahan pertanian, karena proses ini menghilangkan semua fungsi pertanian bersamaan dengan beralihnya fungsi pertanian itu sendiri. Proses degradasi yang lain yang banyak terjadi adalah, erosi dan longsor, pencemaran, dan kebakaran hutan atau lahan.

Konversi Lahan Pertanian

Proses peralihan (konversi) lahan saat ini berlangsung tidak terkendali, konverssi lahan akan terus berlangsung sebagai dampak berbagai pembangunan yang memerlukan lahan seperti industry, permukiman, transportasi, dan pendidikan. Winoto(2005) menyatakan bahwa ancaman konversi lahan sawah ke depan sangat besar. Sebesar 42,40% luas sawah irigasi di Indonesia tersancam. Salah stu penyebabnya adalah kepentingan daerah dalam upaya mengumpulkan dana melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hal ini sangat merugikan sector pertanian akibat konversi lahan. Padahal dalam keadaan tingkat tinggi yang hamper semua penduduknya tidak mengenal kelaparan maupun penyakit menular yang bebahaya, kerusakan lingkungan terutama pertanian akan menyebabkan masalah yang tidak akan terselesaikan dengan mudah.

Konversi lahan tidak sepenuhnya melalui cara yang modern, akan tetapi ada dengan cara konvensional yaitu membakar lahan hutan. Secara langsung kebakaran hutan ini akan menghilangkan seresah di permukaan tanah. Kebakaran hutan juga menimbulakan kerugian seperti gangguan terhadap keanekaragaman hayati, lingkungan hidup serta kesehatan (Musa dan Parlan,2002).

Di sisi lain konversi lahan pertanian dapat menyebabkan erosi dan pencemaran kimiawi. Secara teknis erosi tanah dapat dikendalikan seiring banyaknya teknologi pengendalian erosi yang cukup efektif, seperti teras bangku, gulud, strip rumput, mulsa, dan pertanaman lorong (Abdurachman et al. 2005).

Faktor Peralihan Lahan Pertanian

Rendahnya apresiasi terhadap pertanian, disadari bahwa sector pertanian sangat penting karena menyediakan berbagai produk yang dibutuhkan seluruh penduduk, dan menghasilkan komoditas ekspor. Namun, masyarakat memandang sector industry, perdangangan, pertambangan lebih menguntungkan dan lebih terjamin daripada sector pertanian. Pandangan masyarakat umum tersebut menjadikan lahan pertanian menjadi pilihan terakhir dalam investasi dan pencarian pekerjaaan. Demikian juga dalam penggunaan lahan pertanian, masyarakat cenderung untuk tidak mempertahankannya apabila adaa rencana konservasi lahan ke penggunaan non pertanian.

Praktek pertanian tanpa penerapan konservasi, laju kerusakan lahan pertanian akan meningkat apabila factor manusia juga turut berperan, yaitu jika petani melaksanakan pertanian tanpa penerapan teknik-teknik konservasi tanah. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya lahan kering di lereng-lereng bukit atau gunung. Pada umumnya para petani pengguna lahan tersebut hanya memakai luasa garapan kurang dari 1 ha dan modal kecil. Hal ini menyebabkan para petani tidak menerapkan teknik-teknik pengendalian kerusdakan lahan dalam upaya pertanian berkelanjutan.

Strategi Mempertahankan Multifungsi Pertanian

Mempertahankan pertanian dengan multifungsinya merupakan hal yang sangat penting dalam pembangunan pertanian. Namun, hal ini tidak mudah, dan harus ada keselarasan antara pemerintah serta kesungguhan kerja masyarakat dalam mengupayakan system pertanian berkelanjutan.

 

 

 

Meningkatkan Citra Pertanian dan Masyarakat Tani

Anggapan bahwa pertanian sebagai usah yang kurang menguntungkan, penuh resiko, dan kurang dihargai masyarakat perlu diubah menjadi agribisnis, yang merupakan bagian usaha yang cukup menjanjikan dan menantang terutama bagi investor. Demikian juga dengan citra pengguna  lahan sebagai petanai gurem dan konvensional perlu diubah menjadi pelopor pembangunan menuju pertanian yang maju dan berkelanjutan. Diharapkan dengan perubahan paradigma yang konvensional, para petani akan lebih merasa nyaman da tidak perlu beralih ke usaha lain dengan cara konservasi lahan.

Mengendalikan Degradasi Lahan Pertanian

Pengendalian kerusakan lahan akibat konservasi seperti erosi dan lonsor sudah banyak tersedia, baik berupa metode vegetative maupu mekanis. Masalah yang perlu diatasi dalam upaya pengendalin degradasi lahan adalah rendahnya adopsi teknologi teesebut oleh para pengguna lahan. Perlu perbaikan dalam proses transfer teknologi dari sumber teknologi kepada penyuluh dan kepada pengguna teknologi. Selain itu, perlu peningkatan kemauan dan kemampuan petani untuk menerapkan teknologi konservasi yang dibutuhkan.

Lahan pertanian juga perlu dilindungi terhadap pencemaran oleh limbah industri, seperti industri tekstil, kertas, baterai, dan cat, dengan cara pengaturan pembuangan limbah. Teknologi pengelolaan limbah sudah tersedia, antara lain berupa pembuatan instalasi pengolahan limbah untuk berbagai jenis limbah industri. Lebih jauh dari itu, sudah ditetapkan juga baku mutu limbah untuk berbagai unsur.

Kebakaran sering menjadi pilihan masyarakat kuno dalam pembukaan wilyah guna konservasi lahan. Pengendalian kebakaran dan kerusakan wilayah pertambangan. Pengendalian ini lebih mengarah kepada aspek sosial, budaya, hukum, dan kebijakan pemerintah dibanding dengan aspek teknis. Kebakaran hutan dan lahan misalnya, perlu dicegah dengan aturan pelarangan yang ketat dengan sanksi yang berat. Pembukaan hutan perludiarahkan agar menggunakan cara mekanis atau manual sebagai pengganti cara pembakaran, yang meskipun murah dan mudah, namun mengakibatkan degradasi lahan dan lingkungan. Kerusakan wilayah pertambangan timah atau batu bara juga perlu dicegah dengan peraturan, agar cara-cara penambangannya lebih memperhatikan pemanfaatan lahan setelah penambangan selesai.

Pengendalian daerah tangkapan hujan dan konversi lahan.

Upaya perlindungan lahan pertanian yang mendesak untuk segera ditangani adalah: 1) pengendalian degradasi daerah tangkapan hujan (water catchment area), dan 2) pengendalian konversi lahan pertanian. Hal ini diperuntukkan untuk mengupayaakan irigasi yang mudah demi terwujudnya pertanian berlanjut.

 

 

BAB III

Penutup

Kesimpulan

Adanya keunggulan pertanian berupa multifungsi yang bermanfaat besar bagi masyarakat sudah mulai diperhatikan dan diapresiasi, namun masih terbatas oleh kalangan tertentu seperti peneliti, ilmuwan, dan pengamat pertanian. Masyarakat luas, termasuk para petani, baru mengenal 24 fungsi pertanian sehingga penghargaan terhadap pertanian kurang sesuai dengan nilai pertanian yang sebenarnya. Oleh karena itu, masyarakat memandang konversi lahan pertanian sebagai suatu hal biasa, dan bukan sebagai proses hilangnya multifungsi pertanian. Lahan pertanian secara umum terus mengalami degradasi, yang berarti proses penurunan multifungsi pertanian pun terus terjadi. Upaya pemerintah dalam pengendalian degradasi lahan pertanian masih perlu ditingkatkan,sementara petani tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk mengatasi faktor-faktor penyebabnya secara efektifdan cepat. Strategi utama untuk mempertahankan multifungsi pertanian di Indonesiaadalah: 1) meningkatkan citra pertanian dan masyarakat tani, 2) mengubah kebijakan produk pertanian harga murah, 3) meningkatkan apresiasi terhadap multifungsi pertanian, 4) meningkatkan upaya konservasi lahan pertanian. Mereka harus bekerja sama dengan masyarakat tani dalam memahami dan melaksanakan segala upaya untuk mempertahankan multifungsi pertanian dan mewujudkan system pertanian berlanjut.