RSS
 

MEMANFAATKAN KULIT SINGKONG MENJADI PAKAN ALTERNATIF TERNAK KAMBING DAN DOMBA

20 May

TUGAS MAKALAH ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN BAHAN PAKAN TERNAK

 

Judul:

MEMANFAATKAN KULIT SINGKONG MENJADI PAKAN ALTERNATIF TERNAK KAMBING DAN DOMBA

 

Dosen Pembimbing:

Hely Testiana, Spt.,

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

Budi Pangestu (115050100111011)

 

 

 

 

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2013


 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang

Sebagai tanaman pangan, ubi-ubian masih tergolong kelompok yang paling kurang mendapat perhatian atau penghargaan masyarakat dibanding dengan padi-padian dan kacang-kacangan. Pemanfaatan singkong seringkali menghasilkan sampah yang memenuhi bahkan mencemari lingkungan. Permasalahan sampah yang harus dilaksanakan secara terpadu. Teknologi pengolahan sampah kota secara terpadu menekankan pada pemecahan masalah sampah perkotaan dengan melihat sampah sebagai sumberdaya. Sal;ah satu pengolahan limbah singkong adalah dengan menmanfaatkan kulit singkong yang biasanya terbuang percuma menjadi suatu produk yang bernilai ekonomi dan memiliki nilai tambah khususnya untuk ternak ruminansia (domba/kambing)

Produk yang dihasilkan adalah bahan awetan kulit singkong rasa dibuat dengan berbagai bahan alami dan melalui proses yang higenis.  Pembuatan pakan awetan kulit singkong untuk ternak ruminansia (domba/kambing) dengan berbagai cara teknologi inovasi baru yang perlu untuk dikembangkan. Karena pembuatan bahan pakan kulit singkong dapat megembangkan kreativitas dalam pemanfaataan limbah singkong yang pada umumnya dibuang begitu saja.

1.2  Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, ada beberapa masalah yang akan dibahas yaitu sebagai berikut.

1        Bagaimana cara memanfaatkan limbah kulit singkong agar memiliki nilai guma untuk kebutuhan pakan ternak khususnya ternak ruminansia.

2        Bagaimana cara teknologi pengolahan limbah kulit singkong menjadi pakan untuk ternak yang  memiliki nilai nutrisi tinggi.

 

1.3  Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini, mempunyai tujuan untuk memecahkan permasalahan yang telah terjadi, tujuannya adalah sebagai berikut;

  1. Menambah nilai guna dari limbah siingkong berupa pakan ternak ruminansia
  2. Agar dapat menerapkan cara pembuatan pakan ternak limbah kulit singkong dengan kandungan nutrisi yang tinggi

Tujuan khusus;

1.Untuk memenuhi kewajiban Tugas Mata Kuliah “ Ilmu Pengolahan Teknologi Bahan Makanan Ternak”

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1         Diskripsi Singkong

Kulit singkong merupakan limbah kupasan hasil pengolahan gaplek, tapioka, tape, dan panganan berbahan dasar singkong lainnya. Potensi kulit singkong di Indonesia sangat melimpah, seiring dengan eksistensi negara ini sebagai salah satu penghasil singkong terbesar di dunia  dan terus mengalami peningkatan produksi dalam setiap tahunnya. Dari setiap berat singkong akan dihasilkan limbah kulit singkong sebesar 16% dari berat tersebut. Kulit singkong terkandung dalam setiap umbi singkong dan keberadaannya mencapai 16% dari berat umbi singkong tersebut. Berdasarkan data BPS 2008, diketahui produksi umbi singkong pada tahun 2008 adalah sebanyak 20.8 juta ton, artinya potensi kulit singkong di Indonesia mencapai angka 3,3 juta ton/tahun.

Pada singkong juga memiliki spesifikasi kandungan gizi singkong per 100 gram meliputi.Kalori 121 kalSingkong memiliki nama latin Manihot utilissima. Merupakan umbi atau akar pohon yang panjang dengan fisik rata-rata bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm, tergantung dari jenis singkong yang ditanam. Daging umbinya berwarna putih atau kekuning-kuningan. Umbi singkong tidak tahan simpan meskipun ditempatkan di lemari pendingin. Gejala kerusakan ditandai dengan keluarnya warna biru gelap akibat terbentuknya asam sianida yang bersifat racun bagi manusia.

Singkong merupakan makanan bersumber energi yang kaya karbohidrat, demikian juga dengan daun singkong yang telah dimanfaatkan sebagai bahan makanan kita karena mengandung protein dan zat besi. Hampir semua bagian dari pohon singkong bisa dimanfaatkan mulai dari umbi hingga daunnya. Umbi singkong biasanya hanya diambil dagingnya dan untuk digoreng atau direbus, dan daun biasanya dijadikan lalap atau direbus sebagai sayur. Padahal,

Kulit singkong ini juga memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi yang dapat dikonsumsi pula oleh manusia. Presentase jumlah limbah kulit bagian luar sebesar 0,5-2% dari berat total singkong segar dan limbah kulit bagian dalam sebesar 8-15%. Sampah kulit singkong termasuk dalam kategori sampah organik karena sampah ini dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami.

  1. Kalori 121 kal
  2. Air 62,50 gram
  3. Fosfor 40,00 gram
  4. Karbohidrat 34,00 gram
  5. Kalsium 33,00 miligram
  6. Vitamin C 30,00 miligram
  7. Protein 1,20 gram
  8. Besi 0,70 miligram
  9. Lemak 0,30 gram
  10. Vitamin B1 0,01 miligram

 

2.2 Asam Sianida (HCN)

Asam sianida disebut juga Hidrogen sianida (HCN), biasanya terdapat dalam bentuk gas atau larutan dan terdapat pula dalam bentuk garam-garam alkali seperti potasium sianida. Sifat-sifat HCN murni mempunyai sifat tidak berwarna, mudah menguap pada suhu kamar dan mempunyai bau khas. HCN mempunyai berat molekul yang ringan, sukar terionisasi, mudah berdifusi dan lekas diserap melalui paru-paru, saluran cerna dan kulit (Dep Kes RI, 1987). HCN dikenal sebagai racun yang mematikan. HCN akan menyerang langsung dan menghambat sistem antar ruang sel, yaitu menghambat sistem cytochroom oxidase dalam sel-sel, hal ini menyebabkan zat pembakaran (oksigen) tidak dapat beredar ketiap-tiap jaringan sel-sel dalam tubuh.

Dengan sistem keracunan ini maka menimbulkan tekanan dari alat-alat pernafasan yang menyebabkan kegagalan pernafasan, menghentikan pernafasan dan jika tidak tertolong akan menyebabkan kematian. Bila dicerna, HCN sangat cepat terserap oleh alat pencernaan masuk ke dalam saluran darah. Tergantung jumlahnya HCN dapat menyebabkan sakit hingga kematian (dosis yang mematikan 0,5 – 3,5 mg HCN/kg berat badan ) (Winarno, F.G. 2004 ).

2.3 Cara Mengurangi Kadar HCN

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi kandungan HCN yang terdapat dalam singkong, yaitu dengan cara perendaman, pencucian, perebusan, pengukusan, penggorengan atau pengolahan lain. Dengan adanya pengolahan dimungkinkan dapat mengurangi kadar HCN sehingga bila singkong dikonsumsi tidak akan

membahayakan bagi tubuh. Pengolahan secara tradisional dapat mengurangi/bahkan menghilangkan kandungan racun. Pada singkong, kulitnya dikupas sebelum diolah, direndam sebelum dimasak dan difermentasi selama beberapa hari.

Dengan perlakuan tersebut linamarin banyak yang rusak dan hidrogen sianidanya ikut terbuang keluar sehingga tinggal sekitar 10- 40 mg/kg. Asam biru (HCN) dapat larut di dalam air maka untuk menghilangkan asam biru tersebut cara yang paling mudah adalah merendamnya di dalam air pada waktu tertentu.

Kulit singkong yang berpotensi sebagai pakan ternak mengandung asam sianida. Konsentrasi glukosida sianogenik di kulit umbi bisa 5 sampai 10 kali lebih besar dari pada umbinya. Sifat racun pada biomass ketela pohon (termasuk kulitnya umbinya) terjadi akibat terbebasnya HCN dari glukosida sianogenik yang dikandungnya. Total kandungan sianida pada kulit singkong berkisar antara 150 sampai 360 mg HCN per kg berat segar. Namun kandungan sianida ini sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh varietas tanaman singkongnya.

 

Dilaporkan bahwa ternak domba mampu mentoleransi asam sianida pada konsentrasi 2,5 – 4,5 ppm per kg bobot hidup. Sedangkan Tweyongyere dan Katongole (2002), melaporkan bahwa konsentrasi asam sianida yang aman dari pengaruh toksik adalah dibawah 30 ppm. Tingginya kandungan asam sianida dalam kulit singkong ini dapat menimbulkan keracunan jika dikonsumsi oleh ternak (domba/kambing).

 

 

2.4 Alat dan baahan

Pada pengolahan limbah singkong ini diperlukan beberapa alat agar mudah dalampembuatan pakan dari limbah kulit singkong. Alat-alat yang dibutuhkan antara lain pisau untuk memotong atau mengupas kulit singkong, telenan sebagai alas ketika memotong kulit singkong, wadah untuk merendam kulit singkong, kompor sebagai alat untuk merebus/ mengukus, tampah, dan saringan untuk meniriskan kulit.

2.5Teknologi Pengelolaan Limbah Kulit Singkong

Pengalaman peternak Cipambuan-Sukabumi,  pemberian kulit singkong oleh peternak secara langsung dicampur dengan rumput atau diberikan setelah kambing/domba diberi makan rumput.

Kulit singkong yang berpotensi sebagai pakan ternak mengandung asam sianida. Konsentrasi glukosida sianogenik di kulit umbi bisa 5 sampai 10 kali lebih besar dari pada umbinya. Sifat racun pada biomass ketela pohon (termasuk kulitnya umbinya) terjadi akibat terbebasnya HCN dari glukosida sianogenik yang dikandungnya. Total kandungan sianida pada kulit singkong berkisar antara 150 sampai 360 mg HCN per kg berat segar. Namun kandungan sianida ini sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh varietas tanaman singkongnya.Pada percobaan ini dilakukan proses pengolahan kulit singkong diantaranya:

1.      Perendaman: dilakukan dengan cara memasukkan kulit singkong yang sudah dipotong kecil-kecil ke dalam ember yang kemudian diisi air sampai kulit singkong terendam dan dibiarkan semalaman (16 jam).

2.      Pengukusan: dilakukan dengan membersihkan kulit singkong dari tanah yang melekat (dicuci) kemudian dipotong kecil-kecil selanjutnya dikukus dalam panci yang ada saranganya yang berisi air dan didihkan selama 15 menit.

3.      Dicampur dengan urea 3% BK: Kulit singkong dicuci kemudian dipotong kecil-kecil selanjutnya dicampur dengan urea dengan konsentrasi 3% dari berat kering. Kemudian campuran terbut dimasukkan ke dalam plastik disimpan dalam kondisi kedap udara selama 1 minggu.

4.      Fermentasi: dilakukan dengan cara kulit singkong yang sudah dicuci kemudian diiris kecil-kecil yang selanjutnya dikukus dalam panci yang berisi air mendidih selama 15 menit, setelah itu diangkat kemudian ditebar dalam nampan sampai dingin. Setelah dingin kulit singkong ini diinokulasi dengan menggunakan kapang Trichoderma resii, kemudian ditutup dengan nampan diatasnya dan dibiarkan selama 4 hari.

 

Hasil percobaan perlakuan terhadap kulit singkong dapat dilihat dari Tabel 1 bahwa kulit singkong yang tidak diolah mempunyai kandungan HCN yang sangat tinggi (459,56 ppm).

      Dengan berbagai proses pengolahan yang dilakukan pada percobaan ini terlihat bahwa kandungan HCN dapat turun secara drastis dan konsentrasi masih dibawah ambang toleransi, seperti proses fermentasi yang dapat menurunkan kadar HCN hampir hilang (0,77 ppm). Bahkan dengan proses yang paling sederhana dengan perendaman, kandungan HCN nya dalam batas yang aman.

Pembebasan spontan HCN dari tanaman tergantung pada adanya enzim glukosidase (linamarase) dan air (MONTGOMERY, 1969). Enzim linamarase adalah ekstra-seluler dan mudah mencapai senyawa glukosida sianogenik setelah perusakan fisik sel. Enzim ini akan bekerja pada kondisi dingin dan rusak oleh panas. Enzim linamarase mengalami kerusakan pada suhu 72°C. Proses otohidrolisis dipertinggi jika biomas tanaman direndam dalam air setelah terlebih dahulu dicincang. Perusakan fisik sel (pencincangan) tanpa perendaman akan memperlambat pembebasan sianida.

Dengan pengolahan fermentasi menggunakan kapang Trichoderma terlihat bahwa konsentrasi HCN hampir hilang (0,77 ppm) (Tabel 1), hal ini menunjukkan bahwa kapang Trichoderma mampu dengan sangat efisien mendegradasi/mendetoksikasi asam sianida.

 2.5.1Teknik Perendaman Kulit Singkong

Kulit singkong memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, setelah melalui proses pengolahan kulit singkong ini  dapat diberikan kepada ternak  sebagai bahan pakan substitusi dan bahkan dapat dikonsumsi oleh manusia. Persentase jumlah limbah kulit bagian luar sebesar 0,5-2% dari berat total singkong segar dan limbah kulit bagian dalam sebesar 8-15%.    Sampah kulit singkong termasuk dalam kategori sampah organik karena sampah ini dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami.

Oleh karena kulit singkong ini dalam keadaan segar masih mengandung Asam Sianida (HCN) yang sangat tinggi (± 459,56 ppm). Berdasarkan pengalaman, salah satu cara penanganan kulit singkong agar kandungan asam sianidanya  berkurang atau sampai pada batas aman dikonsumsi ternak (2,5 – 4,5 ppm per kg bobot hidup) yaitu dengan perendaman. Cara perendaman kulit singkong sebagai berikut :

 

Bersihkan kulit singkong kemudian potong sesuai kebutuhan (disarankan tidak terlalu besar)

-       Kulit singkong yang telah di potong kemudian dibersihkan di air yang mengalir agar kandungan racun yang ada dalam singkong terbuang

-       Setelah dicuci, kulit singkong di rebus ± 15 menit hingga berwarna kecoklatan

-       Setelah perebusan kulit singkong selanjutnya di cuci kembali

-       Selanjutnya kulit singkong direndam.

-       Merendam kulit singkong biasanya antara dua hingga tiga hari, dengan air rendaman diganti tiap harinya. Proses perendaman ini dapat menghilangkan getah pada kulit singkong.

-       Selanjutnya kulit singkong yang telah direndam ditiriskan dan diangin-anginkan untuk selanjutnya bisa di berikan kepada ternak.

 

2.6  Cara Pemberian tehadap Ternak

Kulit singkong memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, setelah melalui proses pengolahan kulit singkong ini  dapat diberikan kepada ternak  sebagai bahan pakan substitusi dan bahkan dapat dikonsumsi oleh manusia. Dalam pemberiannya limbah kulit singkong kepada ternak ada beberapa cara antara lain;

-          Dicampurkan dalam bahan pakan lainnya yang sebelumnya kulit singkong sudah dipotong kecil-kecil, dan dilayukan pemberian dengan memeliki takaran yang sesuai dengan takaran dan kebutuhan yang diinginkan,

-          Dilayukan dan dikeringkan dibawah sinar matahari  hingga kadar air 15-20%, agar tidak  ditumbuhnya mikroorganisme (jamur). Kemudian diberikan ke ternak di siang hari

-          Pemberian pakan limbah kulit singkong pada ternak domba dicampurkan pada air minumnya (“comboran” kalau bahasa jawanya) yang tercampur dengan bahan pakan seperti dedak padi ataupun dedag jagung.

 

Pemberian kulit singkong harus dibatasi sesuai  dengan kebutuhan dan bahan pakan campuran lainnya,  untuk menghidari hal-hal yang merugikan ternak maupun peternak. Sehingga perlu dilakukan dengan mencacahnya/di potong kecil-kecil terlebih dahulu kemudian dilayukan sebelum diberikan ke ternak sebagai bahan pakanalternatif

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan dan Saran

Ternak domba mampu mentoleransi asam sianida pada konsentrasi 2,5 – 4,5 ppm per kg bobot hidup. Bahwa konsentrasi asam sianida yang aman dari pengaruh toksik adalah dibawah 30 ppm. Hasil analisa kandungan HCN pada kulit singkong yang diambil adalah 459,56 ppm. Tingginya kandungan asam sianida dalam kulit singkong ini dapat menimbulkan keracunan jika dikonsumsi oleh ternak (domba/kambing) terlalu banyak. Pemberian kulit singkong harus dibatasi sesuai  dengan kebutuhan dan bahan pakan campuran lainnya,  untuk menghidari hal-hal yang merugikan ternak maupun peternak. Sehingga perlu dilakukan dengan mencacahnya terlebih dulu kemudian dilayukan sebelum diberikan ke ternak

 


 

Daftar Pustaka

Rustandy, Yudi. 2011. Memanfaatkan Kulit Singkong menjadi Pakan Alternatif Ternak Kambing dan Domba.http://www.stpp.malang.ac.id/index.php/component/content/article/68-artikel/191-artikelkulitsingkong. Di akses tanggal 30 april 2013

Sandi, Sofia. 2012. Nilai Nutrisi Kulit Singkong yang Mendapat Perlakuan Bahan Pengawet Selama Penyimpanan. Jurnal penelitian sains vol. 15 No 2(D). Program Studi Peternakan, Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan, Indonesia

Petunjuk Teknis Pengelolaan Pakan Dalam Usaha Ternak Kambing, 2009. Oleh : Simon P. Ginting. Loka Penelitian Kambing Potong Sei Putih : vii+ 45 halaman.

 

 

 
 

Leave a Reply

 
*