Apa Sih moodle itu?

Apa sih Moodle itu?

Apa sih untungnya mengelola wesite e-learning? begitulah kira-kira sang guru sebuah sekolah menengah berkata kepada kepala sekolah saat sang kepala sekolah ingin meningkatkan pelayanan pendidikan via website.  Sang guru yang tahu sedikit tentang pengurusan wbsite itu berkata, bahwa itu percuma membuang biaya banyak karena di dalam pembuatan webiste itu ada biaya hosting dan domain serta pengelolaanya. Bisa mencapai jutaan perbulan, kenapa harus investasi untuk itu, buang-buang biaya saja pak.Kata guru yang sudah dianggap pengalaman itu meyakinkan kepada sekolah. Namun kenyataanya, banyak sekolah yang juga mengembangkan e-learning namun agaknya, masih terkesan hanya formalitas dan gengsi belaka. Nah, pertanyaannya, apakah pesantren juga mau ikut-ikutan latah dengan menggunkan e-learning sebagai basis pengembangan pendidikan jarak jauh kepada masayrakat luas?Jawaban singkat sebenarnya, kita bisa membantah pendirian kepada sekolah dan guru dia tas yang menganggap bahwa institusi akan dibebankan dengan biaya tinggi untuk mengembangkan e-learning.

Kita bisa melihat banyak sekali di internet saat ini orang yang bertahun-tahun berusaha mati-matian (tapi tidak sampai mati) dalam hidupnya untuk mendedikasikan ilmu pengetahuannya bagi masyarakat luas dalam rangka mengembangkan sebuah software yang sangat berguna. Salah satu yang terkenal adalah MOODLE. Sebuah program CMS (content management system) yang sangat terkenal  untuk  membangun e-learning.

Salah satunya adalah Martin Dougiamas, pendiri software e-learning (electronic learning, pembelajaran elektronik berbasis website) bernama Moodle yang beberapa tahun lalu memenangi penghargaan The Best Education Enabler pada ajang “2008 Google-O’Reilly Open Source Awards”. Dougiamas membuat Moodle hanya untuk hobi, walaupun di akhir kisah, dia juga menjadikan hobi itu sebagai tesis untuk mendapatkan gelar PhD dari Curtin University of Technology di Perth, Australia.Dedikasi, inovasi, dan kontribusi untuk open source dari software Moodle memang fenomenal. Moodle hingga kini masih memimpin sebagai software gratis untuk membangun website komunitas yang mendukung proses pembelajaran berbasis website.

Moodle menciptakan genre baru di bidang kategori software, yaitu Course Management System (CMS). CMS biasanya singkatan dari Content Management System, software sejenis tetapi lebih fokus pada isi berita.

Prinsip pedagogi dipegang teguh Moodle karena membantu pendidik menciptakan komunitas pendidikan online. Software ini bisa digunakan guru atau institusi pendidikan. Juga potensial digunakan perseorangan untuk membangun kursus online.

Hingga Januari 2008, jumlah website yang menggunakan Moodle tercatat 38.896 website (yang resmi terdaftar) dan digunakan 16.927.590 pengguna dengan jumlah materi 1.713.438 buah.

Instalasi Moodle

Huruf “M” pada Moodle berarti Martin, nama pendirinya. Namun, Moodle secara resmi merupakan singkatan dari Modular Object-Oriented Dynamic Learning Environment, tempat belajar dinamis menggunakan model berorientasi obyek.

Program ini bisa diunduh dari www.moodle.org. Dibutuhkan ruangan hosting (untuk menempatkan file di website) minimal 59,34 MB. Server harus mendukung Apache, PHP, dan database MySQL atau PostgreSQL.

Instalasi termasuk mudah dan bisa dilakukan seorang pemula. Untuk hosting yang memiliki Fantastico, proses instalasi makin mudah karena bisa dilakukan instan lewat Fantastico.

Dengan Moodle, guru memiliki kontrol penuh terhadap aktivitas belajar, mulai membuat materi, penugasan, menentukan siapa yang berhak mengikuti, survei, jurnal, kuis, chatting, workshop, forum diskusi, mengirim e-mail kepada murid, dan masih banyak lagi.

Dari sisi tampilan, Moodle tampak biasa saja, tetapi sistem yang tertanam di dalamnya terbilang canggih. Bukan hal mengherankan jika Moodle memang yang terbaik di kelasnya. (Masterbiznet.com)

Moodle untuk kesuksesan dunia pendidikanMoodle untuk kesuksesan dunia pendidikan

Moodle untuk kesuksesan dunia pendidikan

Moodle IndonesiaMasih sedikit lembaga pendidikan Indonesia yang memanfaatkan Moodle. Kemungkinan terjadi karena banyak pembuatan website di dunia pendidikan lebih berbasis proyek dan dikerjakan oleh developer berbayar mahal.

Daftar website yang menggunakan Moodle bisa dilihat di http://moodle.org/sites/index.php?country=ID. Tercatat ada 285 website, mulai dari website milik perusahaan, universitas, sekolah, lembaga pendidikan nonformal, hingga situs pribadi.

Moodle has a large and diverse user community with over 704387 registered users on this Moodle site alone, speaking over 78 languages in 210 countries (we have more statistics). Currently there are 56759 sites from 210 countries who have registered. 0263 of these have requested privacy and are not shown in the lists below.

Perusahaan yang memanfaatkan Moodle, misalnya, Garuda Indonesia e-Learning dengan alamat http://training.garuda-indonesia.com/mynts. Lion Air dengan alamat http://ltc.lionair.co.id. Cek juga e-learning milik PT WIKA di http://e-learning.wikarealty.co.id.

Untuk kategori universitas ada FMIPA Universitas Gadjah Mada, http://kuantum.mipa.ugm.ac.id. Beberapa lembaga di bawah Institut Teknologi Bandung (ITB) juga menggunakan Moodle, misalnya http://kuliah.itb.ac.id.

Dalam diskusi di www.moodle.org, beberapa di antaranya datang dari Indonesia, mengungkap kendala penggunaan e-learning. Apa yang diungkapkan Yudi Wibisono pada tahun 2005 tampaknya masih aktual hingga sekarang.

“Saya merasa hal yang paling sulit adalah meyakinkan jurusan atau fakultas dan dosen lain mengenai masa depan e-learning ini. Harus sabar dan terus-menerus beriklan. Beberapa dosen juga mengalami kesulitan dan takut menggunakan Moodle. Pemberian dokumen petunjuk penggunaan bagi dosen mungkin bisa membantu,” katanya.

Pengguna lain, Yuyun Somantri lewat forum Moodle, menyampaikan keputusasaannya, “Sulit sekali meyakinkan atasan dan teman-teman. Dari 76 orang guru, dua guru TIK dan saya guru Matematika, jelas kalah suara. Sebanyak 73 guru plus satu Kepala Sekolah bilang, ‘Untuk apa (e-learning)? Tidak akan efektif, yang ujungnya ke masalah biaya hosting, kelihatannya tidak mendatangkan keuntungan malah menambah beban,” katanya.

Banyak institusi pendidikan yang tak memanfaatkan e-learning untuk memperkaya pengalaman belajar. Beberapa institusi sudah menggunakannya, tetapi lebih ke gengsi sekolah daripada mengejar efektivitas.

Padahal, dalam pandangan Martin Dougiamas, pendiri software Moodle, Moodle akan merevitalisasi cara belajar top-down (dari atas ke bawah) menjadi proses pembelajaran yang partisipatif. Beberapa resum singkat tulisan dia bisa dilihat di situs pribadinya, www.dougiamas.com.

Moodle Pesantren

Moodle untuk digunakan dalam pembelajaran di  pesantren boleh dibidang belum ada yang menciptakan. Kalaupun ada kami belum menemukannya. Barangkali ICT Pesantrenglobal bisa membidangi ini dan menerapkannya dalam bentuk pembelajaran online distance seperti yang kita lakukan saat ini .

Online distance yang selama ini kita dapatkan baru sebatas penguasaan materi dan pembelajarna yang sifatnya massif belum terlaksana. Karenan itu dalam bentuk pelatihan seperti pertamuan-pertemuan sangat penting untuk mengumpulkan pesantren guna membahas dan merancang system pembelajaran yang efektif via moodle secara bersama-sama.

Kita patut bersyukur dengan adanya program odel dari ICIP atas dukungan  Ford Fondation untuk mengembangkan pembelajarn e-learning ini. Sebab dengan fasilitas yang ada di pesantren: komputer, internet, sarana dan prasarana lainnya juga SDM yang memadai serta dukungan support center dari dapur ICP memungkinkan sekali e-learning di pesantren bisa terlekasana dengan efektif.

Moodle sebagai software yang bisa sangat flreksibel digunakan sebagai kursus online baik bagi pribadi maupun institusi semacam memaksa sekolah dan pesanren untuk menerapkan sistem pendidikan yang menghargai pemikiran santri. Para santri tidak lagi dianggap sebagai “gelas kosong”, karena itu para murid boleh mengomentari materi atau modul, bahkan bisa mengirim tulisan sebagai bahan pembelajaran. Proses belajar bisa datang dari siapa pun terutama dari anggota komunitas, termasuk dari seorang murid.

Semua kesempatan telah kita raih, software telah tersediia, SDM juga banyak di tiap pesantren, ilmu pengetahuan dan bahan ajar yang sangat banyak. Belum lagi para pengguna atau student, banyak sekali orang-orang yang haus akan pengetahuan agama, namun sedikit waktu tersedia. Karenanya, alasan yang tepat sekali adalah pesantren mengembangkan system pembelajarna jarak jauh dengan melui e-learning system semacam moodle dan lain-lainnya. Siapkah kita mudeng dengan Moodle?

Sumber