Archive for August, 2018

Mengenal Motif Batik Pekalongan

Thursday, August 2nd, 2018

Motif batik pekalongan tercatat banyak dipengaruhi oleh budaya dari luar yaitu budaya dari Arab (Islam) dan budaya dari tionghoa yang terjadi pada masa lalu. Sebelumnya, mayoritas masyarakat Pekalongan selalu membuat motif batik dengan meniru antara satu dan lainnya. Jadi sebenarnya masyarakat Pekalongan memiliki imajinasi dan kreatifitas yang tinggi, mengapa? Karena masyarakat Pekalongan dituntut untuk bisa menciptakan motif batik pekalongan terbaru agar tidak disamai oleh yang lainnya. Menurut sumber lain, pengusaha batik asal Belanda juga turut berkontribusi atas perkembangan motif batik pekalongan. Dengan kreatifitasnya, dia berhasil mengarahkan terciptanya motif-motif baru batik pekalongan dan salah satunya menjadi motif batik yang terkenal di pekalongan.

Motif Batik Pekalongan mempunyai ciri khasnya sendiri, ciri khas ini tidak lepas dari sejarah batik Pekalongan itu sendiri yang dipengaruhi oleh beberapa faktor.

1. Menggunakan Pewarna Soga Ciri khas batik Pekalongan yang pertama yaitu menggunakan pewarna soga. Apa itu pewarna soga? Pewarna soga adalah pewarna kain batik yang alami karena berasal dari tumbuh-tumbuhan baik itu dari kulit kayu maupun akar tumbuhan. Namun sepertinya penggunaan warna alami sudah semakin jarang, mengingat prosesnya yang jauh lebih rumit dibanding penggunaan warna tekstil.
2. Memiliki Warna-warna Cerah Ciri khas batik Pekalongan yang kedua yaitu warna-warna yang cerah. Beberapa warna tersebut antara lain merah, biru, hijau, violet dan orange.
3. Mayoritas Bermotif Bunga Ciri khas batik Pekalongan yang berikutnya yaitu motif batik yang mayoritas menggunakan motif bunga. Meskipun motif bunga juga sudah umum digunakan di daerah lain, namun yang membedakan motif bunga pada motif batik pekalongan yaitu motif bunganya lebih kecil dibanding motif bunga dari daerah lain. Dengan ukuran motif bunga yang kecil, membuat pemakai yang mempunyai ukuran tubuh besar menjadi terlihat lebih langsing.
4. Menggunakan Teknik Garis dan Titik Ciri khas batik Pekalongan yang terakhir adalah banyak menggunakan teknik garis dan titik. Penggunaan garis dan titik pada motif batik pekalongan disebabkan pengaruh budaya luar terhadap perkembangan motif batik tersebut diantaranya budaya tionghoa dan budaya arab.
Inilah mengapa motif batik pekalongan disebut unik, karena motif ciri khas-nya ternyata tidak luput dari pengaruh budaya luar dan teknik pewarnaan menggunakan bahan alami pada awal-awal sebelum pewarna tekstil muncul seperti sekarang.

Ada 3 motif batik Pekalongan yang sudah sangat melegenda karena keberadaannya sudah turun-temurun dari dulu dan masih sangat diminati konsumen.
1. Motif Batik Jlamprang
Motif batik jlamprang sangat dipengaruhi oleh budaya Islam, di dalam Islam dilarang menggambar makhluk hidup. Untuk itulah motif jlamprang terdiri dari titik, kotak, lingkaran dan bentuk-bentuk lain yang membentuk geometris. Selain itu warna cerah menjadi ciri khas lain dari motif jlamprang, bisa dua warna atau lebih. Meskipun berupa titik dan bentuk-bentuk dasar yang geometris, namun pola yang terbentuk memiliki makna yang mendalam.
Beberapa contoh motif batik jlamprang

2. Motif Batik Liong
Jika motif batik jlamprang sangat dipengaruhi oleh budaya Islam, sesuai dengan namanya motif batik liong sangat dipengaruhi oleh budaya Tiongkok. Melalui etnis tionghoa yang menetap di Pekalongan, mereka ikut berkontribusi dengan terciptanya motif batik liong ini berdasar dari makhluk imaginer ular naga dan burung phoenix. Menurut mitologi Tiongkok, kedua makhluk tersebut merupakan simbol dari kesuburan, kemakmuran dan kebaikan. Dengan motif batik liong, diharapkan bisa memberi pengaruh yang sama kepada penggunanya. Begitulah filosofi dari motif batik liong.
Beberapa contoh motif batik liong

3. Motif Batik Semen
Berbeda dengan dua motif batik Pekalongan sebelumnya, motif batik semen merupakan motif batik klasik dari Pekalongan. Penampilannya hampir mirip dari motif batik semen dari Jogja maupun Solo, perbedaannya terletak pada tidak terdapatnya motif cecak pada motif batik semen Pekalongan. Motif batik semen berupa pola yang membentuk gambar daratan dengan berbagai makhluk dan tumbuhan didalamnya termasuk burung garuda. Secara filosofi diartikan bahwa burung garuda yang gagah mampu bertahan dengan kondisi apapun, dan hal itulah yang diharapkan bagi siapapun pemakainya bisa memiliki keteguhan hati yang kuat.
Beberapa contoh motif batik semen

 

Demikian informasi mengenai motif batik Pekalongan, mulai dari pengertian, sejarah, ciri khas, makna, filosofi dan penjelasannya. Semoga artikel ini bermanfaat menambah wawasan anda mengenai motif batik Pekalongan.

Keunikan Makna Filosofi Batik Motif Kawung

Thursday, August 2nd, 2018

Batik Kawung adalah motif tua yang berasal dari tanah Jawa yang berbentuk seperti kolang-kaling disusun pada empat sudut persegi. Motif ini menurut catatan penelitian sudah ada sejak abad ke-9 dulu. Namun konon batik Kawung baru mulai berkembang pada jaman Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, yaitu tahun 1755 pada abad ke-18.
Makna batik Kawung sendiri ada beberapa, diantaranya adalah pengendalian diri yang sempurna, hati yang bersih tanpa adanya keinginan untuk ria, dan masih banyak lagi.

Asal-Usul Batik Kawung
Ada banyak cerita tentang apa yang sebenarnya menjadi inspirasi motif batik Kawung ini. Namun hanya ada dua versi yang yang banyak disetujui oleh masyarakat.
Versi yang pertama adalah dimana inspirasi batik Kawung ini berasal dari serangga Kumbang. Lalu versi kedua adalah dimana inspirasi batik Kawung berasal dari buah pohon aren, yaitu Kolang-Kaling.

Versi pertama menceritakan bahwa kata Kawung berasal dari Kwangwung (Oryctes rhinoceros), sejenis kumbang berwarna cokelat cerah yang seringkali menjadi hama tanaman kelapa. Serangga ini kerap hadir menganggu tanaman kelapa dan menjadi momok yang menakutkan bagi para petani.
Versi ini menyatakan bahwa warna dan bentuk serangga Kwangwung ini menjadi inspirasi bentukan serta corak dari batik Kawung. Pola melingkar dan warna coklat gelap mengkilap, diperkirakan berasal dari bentuk serangga Kwawung yang legam dan oval/lonjong.

Versi kedua menceritakan bahwa asal mula nama batik Kawung berasal dari buah dari sejenis tumbuhan palem/aren, atau buah dari pohon aren yang biasa disebut dengan Kolang-Kaling.
Versi kedua ini yang lebih banyak dipercayai oleh masyarakat pada umumnya. Karena memang terlihat sangat persis. Anda pasti tau dong Kolang-Kaling? Kalau anda pernah minum minuman es buah, es teler, es campur dan sebagainya pasti anda tahu.
Dikatakan bahwa bahwa buah Kawung atau Kolang Kaling ini memiliki komposisi kulit, biji dan buah. Apabila dibentuk dan dikomposisikan dengan benar, buah Arena saat dibelah menjadi empat akan terbentuk menjadi bagian-bagian yang simetris.

Makna Dari Motif Batik Kawung

Motif Kawung walau sederhana ternyata memiliki makna filosofis yang amat dalam dan bervariasi. Tidak hanya satu makna yang dikandung dalam motif yang sangat sederhana ini. Bahkan bisa disimpulkan bahwa kebanyakan artinya merupakan doa yang baik bagi pemakai motif Kawung ini.

Hati Yang Bersih
Buah Kawung berasal dari sejenis pohon aren, yang memiliki daging buah warna putih tersembunyi dibalik kulitnya yang keras. Buah yang biasa dikenal dengan Kolang-Kaling.
Sehingga dalam kepercayaan Jawa, batik Kawung ini dimaknai sebagai sebuah penggambaran hati yang bersih. Bahwa itikad hati yang bersih itu merupakan sebuah ketetapan hati yang tidak perlu diketahui oleh orang lain.

Berguna Bagi Banyak Orang
Filosofi dari pohon aren pun juga dimuat dalam motif Kawung ini. Pohon aren memiliki manfaat bagi manusia mulai dari ujung daun sampai pada akarnya, baik dari batang, daun, nira, dan buahnya. Hal itu menyimbolkan agar manusia untuk senantiasa berguna bagi siapa saja setiap saat dalam kehidupannya sehari-hari.