Archives

Tumbuhan Monokotil (Curcuma longa L.)

Tumbuhan Kunyit (Curcuma longa L.)

Nama spesies: Curcuma longa L. (Bejar, 2018)
Nama lokal: Kunyit (Sasak), huni (Bima), kunit (Banjar), kunyir (Sunda), temo koneng (Madura) (Hidayat & Napitupulu, 2015)
Deskripsi: Kunyit merupakan salah satu tumbuhan rempah-rempah yang memiliki karakteristik berupa tumbuhan ini memiliki habitus berupa herba (herbaceous/herbs) (Bejar, 2018; Kumar & Sakhya, 2013), namun juga sapat berupa semak (Hidayat & Napitupulu, 2015) dimana dari lama hidupnya, tanaman ini termasuk kategori tumbuhan perennial (Bejar, 2018; Kumar & Sakhya, 2013) yang berarti dapat hidup lebih dari dua tahun dengan tinggi tumbuhan yang dapat dicapai antara 0.7 m (Hidayat & Napitupulu, 2015) – 1.5 m (Bejar, 2018). Akar dari tanaman ini berupa akar serabut dengan warna berupa coklat muda (Hidayat & Napitupulu, 2015). Batang tanaman ini dijelaskan oleh  (Hidayat & Napitupulu, 2015) bahwa batang tanaman ini memiliki bentuk bulat dan mengalami modifikasi menjadi rimpang (rhizome) yang tegak, bersifat semu, memiliki warna hijau kekuningan, serta Kumar & Sakhya (2013) menyebut batang tumbuhan ini berukuran pendek. Hidayat & Napitupulu (2015) dan Lianah (2019) menjelaskan bahwa daun tanaman ini berupa daun tunggal dengan lanset memanjang, memiliki tangkai, dan berpelepah dimana ujung dan pangkalnya meruncing dengan bagian tepi yang rata serta memiliki warna hijau pucat dengan pertulangan menyirip dengan ukuran panjang daun antara 20 – 40 cm serta lebar antara 15 – 30 cm. Lianah (2019) dan Hidayat & Napitupulu (2015) menjelaskan bahwa bunga tanaman ini termasuk ke kategori bunga majemuk yang bersisik dan berambut yang memeiliki bnetuk seperti bulir dengan panjang tangkai antara 16 – 20 cm, memiliki warna putih hingga kuning muda dengan panjang kurang lebih 3 cm dan lebar kurang lebih 1.5 cm dengan kelopak daun yang silindris dimana setiap bunga terdapat 3 helai tajuk dan 3 helai kelopak. Nair (2019) menjelaskan bahwa buah tanaman ini memiliki kapsul trilokular dengan jumlah biji yang banyak dimana ketika matang akan memiliki penampilan seperti bulbus bawang putih yang kecil dengan warna putih. Nair (2019) juga menjelaskan mengenai biji dari tumbuhan ini memiliki warna putih hingga coklat cerah ketika belum matang dan warna hitam kecoklatan ketika matang dimana terdapat embrio yang menunjukkan tanda tanaman ini termasuk tanaman monokotil, namun untuk penjelasan mengenai bentuk dan ciri-ciri lainnya secara detail tidak dijelaskan.

                                                               (Lianah, 2019)

Gambar 1. Beberapa bagian tumbuhan kunyit (Curcuma longa L.)

Habitat & Distribusi: Kumar & Sakhya (2013) menyebutkan bahwa tanaman ini memiliki habitat berupa wilayah dengan temperatur suhu antara 20 – 30 oC dan curah hujan setiap yang cukup agara dapat tumbuh dan berkembang dan Bejar (2018) menyebut bahwa tumbuhan ini dapat ditanam pada ketinggian sederajat dengan permukaan laut hingga 1200 m di atas permukaan laut dan dapat tumbuhan di tanah lempung hitam dan tanah merah ketika sedang di irigasi. Bejar (2018) menjelaskan bahwa tanaman ini memiliki distribusi yang cukup luas dimana tanaman ini merupakan tanaman asli dari bagian Asia Tenggara dan daerah tropis lainnya dengan beberapa daerah persebarannya berupa di China, India, Indonesia, Haiti, Malaysia, Filipina, Thailand, Bangladesh, Sri Lanka, Jepang, Jamaika, Peru, Taiwan, Cambodia, Myanmar, serta juga dapat tumbuh di wilayah bukan asalnya, seperti Ocenia dan Madagaskar.
Kegunaan/Peran: Kunyit merupakan tanaman yang memiliki peran yang perlu dibutuhkan oleh ekosistem dimana Bejar (2018) menjelaskan bahwa bagian tanaman kunyit, yaitu rimpang (rhizome) telah banyak digunakan masyarakat sebagai salah satu bahan rempah-rempah dalam membuat suatu makanan, baik tradisional maupun modern dan juga digunakan sebagai bahan untuk pembuatan pewarna alami untuk makanan. Kumar & Sakhya (2013) menyebut juga bahwa tanaman ini sering digunakan sebagai obat herbal dalam mengatasi beberapa penyakit pada pasien, seperti penyakit infeksi pada sinus, infeksi telinga, untuk mengatasi cacingan, untuk memperlancar pencernaan, untuk menghangatkan tubuh, serta dapat digunakan sebagai bahan untuk anti-mikroba dan anti-jamur. Kumar et al (2017) menjelaskan bahwa tanaman kunyit juga sangat bermanfaat bagi beberapa bakteri dalam tanah karena dapat terjadi mutualisme antara keduanya dimana tanaman kunyit mendapatkan bantuan pertumbuhan dari aktivitas beberapa spesies bakteri yang berada di dalam jaringan tanaman ini dan juga berperan penting dalam produksi metabolit sekunder dan pertahanan tambahan dalam menghadapi penyakit pada tanaman ini.
Klasifikasi (Kumar & Sakhya, 2013):

Kingdom  : Plantae

Divisi       : Magnoliophyta

Kelas        : Liliopsida

Subkelas  : Zingiberidae

Ordo       : Zingiberales

Family     : Zingiberaceae

Genus      : Curcuma

Species    : Curcuma longa L.

Referensi:

Bejar, E. 2018. Turmeric (Curcuma longa) Root and Rhizome, and Root and Rhizome Extracts. Botanical Adulterants Bulletin. Hal. 1-11. www.botanicaladulterants.org.

Hidayat, R.S & R.M. Napitupulu. 2015. Kitab Tumbuhan Obat. AgriFlo. Cibubur.

Kumar, N. & S.K. Sakhya. 2013. Ethnopharmacological Properties of Curcuma longa: A Review. IJPSR. 4(1): 103-112. http://dx.doi.org/10.13040/IJPSR.0975-8232.4(1).03-12.

Kumar, A., A.K. Singh, M.S. Kaushik, S.K. Mishra, P. Raj, P.K. Singh, & K.D. Pandey. 2017. Interaction of Turmeric (Curcuma longa L.) with beneficial microbes: a review. 3 Biotech. 7(6): 357.  10.1007/s13205-017-0971-7.

Lianah. 2019. Biodiversitas Zingiberaceae Mijen Kota Semarang. Penerbit Deepublish. Sleman.

Nair, K.P. 2019. Turmeric (Curcuma longa L.) and Ginger (Zingiber officinale Rosc.) – World’s Invaluable Medicinal Spices: The Agronomy and Economy of Turmeric and Ginger. Springer. Switzerland.