Comments Off on Peduli ?

Peduli ?

2018
08.09

Hai semuanya, hari ini saya ingin berbagi sesuatu dengan kalian mengenai hal yang belakangan ini jadi keresahan bagi saya. Yaitu tentang peduli.

Jadi, tanggal 29 Juli 2018 kemarin terjadi musibah di kota kelahiranku, Mataram. Gempa berkekuatan 6,2 SR mengguncang pulau Lombok dan mengakibatkan kerusakan dan telah memakan korban jiwa. Gempa yang berpusat di Lombok Utara ini diketahui merupakan gempa yang terjadi akibat patahan lempengan bumi yang menimbulkan terjadinya banyak gempa-gempa susulan lainnya.

Gempa susulan masih terus berlanjut hingga hari ini, disaat saya sedang menulis blog ini. Hingga saat ini, gempa susulan yang telah terjadi kurang lebih sebanyak 350 kali. Bisa dibayangkan kan, bagaimana kerusakan yang terjadi? Oh tunggu, tidak bisa dibayangkan kan? Tentu saja tidak bisa dibayangkan karena hal ini tidak terjadi di ‘rumah’ kalian sendiri .

Kalian tentu sering mendengar di berita tentang bencana yang terjadi di luar kota atau luar negeri kan? Nah saya juga. Ketika menonton berita tersebut, tentu ada rasa iba, tapi hanya sebatas itu saja. Jujur , sebenarnya saya hanya ingin menyampaikan bahwa melihat bencana terjadi di rumah sendiri itu sangatlah sakit. Apalagi ketika saya tidak berada bersama-sama dengan keluarga saya di rumah.

Ketika gempa bumi terjadi di Lombok, saya sedang berada di Malang, jauh dari kedua orangtua saya dan saudara saya. Saat itu saya sangat panik, menurut saya ini sangat berat. Saya tidak berada disana, saya tidak tahan untuk memikirkan hal-hal buruk yang dapat terjadi. Berdoa?pasti. Sampai akhirnya saya mendapat kabar bahwa semua keluarga baik-baik saja. Tapi setiap hari, setiap pagi saya bangun tidur, saya selalu berfikir apakah gempanya sudah selesai?

Orang tua dan adik saya menjadi relawan untuk mengirimkan bantuan kepada para korban yang berada di Lombok Utara dan setiap hari saya mendapat kabar bagaimana kondisi di Lombok. Rumah-rumah roboh, rata dengan tanah, para pengungsi masih banyak yang belum mendapatkan bantuan, banyak korban luka-luka, dan masih banyak lagi.

Melihat kondisi tersebut, saya berfikir, selain berdoa, apa yang bisa saya lakukan bagi tempat kelahiran saya? Saya jauh dari rumah, tapi saya harus melakukan sesuatu. Lalu saya melakukan donasi dan mengajak teman-teman saya untuk berdonasi. Saya membagikan alamat posko dan rekening posko bantuan yang ada di Lombok ke grup di Line dan WA. Setelah saya melakukan hal tersebut, ternyata saya kurang mendapatkan respon yang baik dari grup-grup yang ada.

Saya awalnya tidak mengerti , mengapa ketika ada orang yang minta tolong, kita kadang sulit untuk mengulurkan tangan memberi bantuan. Ternyata hal ini karena bencana ini terjadi bukan di rumah mereka dan tidak ada keluarga mereka yang berada disana , sehingga mereka tidak tau bagaimana rasa sakit dan kehilangan para korban dan orang-orang yang tinggal disana. Saya tidak mengatakan bahwa semua orang seperti ini, tapi ternyata menurut saya, orang-orang yang hanya bersimpati itu lebih banyak daripada orang-orang yang punya empati.

Simpati itu lebih mudah dari empati. Saya jadi ditegur melalui kejadian ini. Saya juga sering hanya sekedar bersimpati saja tetapi tidak melakukan sesuatu untuk menolong. Kali ini saya merasakan sendiri bagaimana meminta pertolongan itu susah. Mengetuk pintu hati orang lain untuk dapat memberi bantuan itu susah.

Saya ingin mengajak semua yang membaca ini untuk melakukan sesuatu ketika ada orang yang minta tolong, setidaknya membantu menyebarkan informasi untuk donasi atau menjadi donatur. Kita tidak tau betapa banyaknya orang yang membutuhkan bantuan kita. Dan apapun yang kita lakukan untuk menolong orang lain pasti tidak akan sia-sia.

 

Hello world!

2018
07.07

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!