Berbagai Sumber Tentang Kartografi

Posted: 23rd February 2012 by Betty Agustina W in Uncategorized

Kartografi berasal dari bahasa Yunani, yang berati gambaran permukaan. Maka kartografi diartikan sebagai ilmu membuat peta. Arti istilah kartografi telah berubah secara fundamental sejak tahun 1960. Kartografi yang tadinya diartikan sebagai pembuatan peta, saat ini didefinisikan sebagai penyampaian informasi geospasial dalam bentuk peta.

Menurut Aryono Prihandito (1989:1) Kartografi adalah ilmu yang mempelajari peta, dimulai dari pengumpulan data di lapangan, pengolahan data, simbolisasi, penggambaran, analisa peta, serta interpretasi data.

Ruang Lingkup Kartografi

Tujuan dari kartografi adalah mengumpulakan dan menganalisa data dari lapangan yang berupa unsur- unsur permukaan bumi dan menyajikan unsur- unsur tersebut secara grafis dengan skala tertentu sehingga unsure- unsure tersebut dapat terlihat jelas, mudah dimengerti dan dipahami.

sumber

KAIDAH KARTOGRAFIS: SEBUAH KONTEMPLASI PROFESI

Kaidah kartografis diterapkan dalam desain dan produksi peta dengan tujuan  tercapainya efektivitas penggunaan. Efektivitas ini semakin dibutuhkan jika penggunaan peta tersebut terkait dengan persoalan hukum. Penggunaan yang tidak efektif berakibat juga pada tidak tepatnya sasaran peta. Penelitian yang terkait dengan sasaran penggunaan peta secara efektif telah membuktikan perlunya dilakukan pendekatan kognitif  dalam desain, selain munculnya kebutuhan akan pendidikan pokok ataupun pelatihan tambahan tentang disiplin kartografi.

Subjek kartografi merupakan studi tentang manifestasi grafis fenomena keruangan (spasial) atau fenomena geografis. Objek kartografi adalah pembuatan peta sebagai refleksi dunia atau alam nyata (real world) yang setepat mungkin. Definisi yang dibuat oleh International Cartographic Association (1973), dan rekomendasi pemutakhiran definisi oleh International Cartographic Association (ICA) Working Group (1992), memandang kartografi sebagai ilmu faktual berhubungan dengan pembuatan peta berketepatan (akurasi) tinggi. Akurasi diperoleh melalui pengukuran berdasarkan model matematis yang membantu memindahkan gambaran permukaan bumi
pada bidang datar secara akurat. Sebagai ilmu kognitif, kartografi dipandang dari sudut penggunaan peta. Visualisasi peta yang menarik dan efektif dapat dihasilkan melalui model kognitif. Secara manual-tradisional, kaidah kartografis mendasari penyajian keruangan dalam desain dan visualisasi peta. Kaidah kartografis adalah ketentuan ilmiah tentang desain dan visualisasi peta dalam berbagai komponen grafis (elemen grafis dan variabel grafis).
Berdasar teori kartografis dan pendekatan psikologis, proses desain diarahkan melalui kaidah kartografis untuk menghasilkan visualisasi peta agar efektif dalam penggunaannya. Penggunaan yang efektif adalah yang mampu menimbulkan pengertian, perasaan senang, pengaruh dalam bersikap, interaksi dan manfaat, serta menimbulkan tindak lanjut yang makin baik atas produk peta tersebut. Penggunaan yang efektif juga dicirikan dengan terjadinya interpretasi yang akurat, keyakinan, dan preferensi (kesukaan) yang tinggi. Van Der Wel dkk. (1994) menyebutkan kriteria peta yang efektif sebagai validitas kartografis, yaitu menarik, mudah dibaca, dan berguna.

Menurut Robinson dkk. (1985 dan 1995), kartografi meliputi lima konsep berikut :

  • Konsep geometrik yang merupakan dasar untuk pengembangan sistem referensi lokasi, seperti lintang, dan bujur, serta berbagai jenis grid rektangular, dan mengantar kepada akurasi pemetaan pada umumnya.
  • Konsep teknologi, karena kartografi diterima sebagai teknologi untuk memproduksi peta, dan peta diterima sebagai media untuk menyimpan informasi keruangan. Konsep ini memandang kartografi sebagai sebuah rangkaian proses koleksi data, desain peta,  produksi, dan reproduksinya. Penekanan konsep berada pada teknologi berkomputer.
  • Konsep penyajian, konsep ini dilatarbelakangi oleh kepentingan tentang apa yang  dilakukan dalam bidang kartografi dan hubungannya dengan disiplin pemetaan dan disiplin terkait lainnya. Desain peta merupakan fokus sentral dengan sasaran ada pada efisiensi pemetaan.
  • Konsep artistik, konsep ini dimaksudkan terutama untuk menerapkan pengertian tentang kualitas visual (seperti warna, keseimbangan, kontras, pola, karakter garis, seleksi, eksagerasi, dan karakter grafis lainnya) untuk menciptakan bentuk dan hubungan yang dapat menanamkan kesan dan sensasi yang sesuai setepat-tepatnya, yaitu kesan yang realistik atas lingkungan yang dipetakan.
  • Konsep komunikasi, konsep ini menunjukkan tugas pokok kartografi sebagai sarana komunikasi yang efektif melalui penggunaan peta. Dasarnya adalah keyakinan bahwa grafik atau gambar (termasuk peta) memainkan peran penting bagi manusia dalam berpikir dan berkomunikasi.

Guna Kartografi

Agar tujuan dapat dengan mudah dimengerti penggunanya terpenuhi, sedangkan untuk menyampaikan informasi melalui peta dan hubungan dari kedudukannya dalam ruang muka bumi dengan obyek geografis yang akan disampaikan sangat rumit, oleh karena itu dibutuhkan penyederhanaan obyek geografis, maka pemakaian tatawarna dan simbol sangatlah membantu, yang dalam peta simbol-simbol itu berbentuk titik, garis, dan luasan (polygon).

Penggunaan warna pada peta (dapat juga berupa pola) ditujukan untuk tiga hal yaitu untuk membedakan, untuk menunjukkan kualitas atau kuantitas (gradasi) dan untuk keindahan. Penggunaan beberapa jenis warna untuk hal tertentu tidak ada aturannya, tetapi dilakukan menurut suatu kebiasaan dan perasaan. Sedangkan untuk menunjukkan adanya perbedaan tingkat (gradasi) digunakan satu jenis warna atau pola,  yang penting tingkatan warna yang dipakai benar-benar mencerminkan “makin…” atau “lebih…”, jika hal itu dapat terlihat jelas maka bisa dikatakan peta itu benar, tidak tergantung warna apa yang dipakai pembuatnya.

Untuk menyatakan informasi ke dalam peta kita tidak perlu menggambarkannya seperti bentuk yang sesungguhnya melainkan kita pergunakan gambar pengganti atau simbol. Dengan demikian kita kenal simbol titik untuk menunjukkan tanda, letak sesuatu dan menyatakan kuantitas suatu hal, simbol ini adalah cara terbaik untuk menyatakan penyebaran.

Simbol garis digunakan untuk menunjukkan obyek yang memanjang seperti jalan atau sungai, garis juga bisa digunakan untuk memperlihatkan perbedaan tingkatan atau kuantitas yang disebut isoline. Tujuan dari penggunaan peta garis ini yaitu untuk melihat perbandingan nilai suatu hal pada daerah satu dengan daerah lainnya, sehingga pengguna peta mengetahui nilai setiap daerah. Ada dua jenis peta garis yaitu garis yang letaknya sudah pasti seperti garis ketinggian dan garis batas suatu negara, jenis lain yakni garis yang letaknya tidak pasti karena hasilnya didapat dari perhitungan yang tidak selamanya menghasilkan nilai yang sama atau beraturan. Yang terpenting dari simbol garis ini adalah tidak boleh memotong tapi bisa bersinggungan.

Simbol polygon biasanya digunakan untuk menunjukkan suatu area yang memiliki nilai luas seperti penggunaan tanah, danau dan lain-lain. Yang berbeda dari simbol ini adalah kadang bentuknya yang menyerupai obyek yang sesungguhnya ada di lapangan, tetapi tentu dengan ukuran yang disesuaikan dengan sekala peta.

sumber

Comments are closed.