Archive for the ‘Uncategorized’ Category

teori komunikasi

Wednesday, June 2nd, 2010

Tradisi Semiotik

Tradisi semiotik berakar dari bahasa. Dalam buku Tankard disebut beberapa istilah seperti semantic differential, hakekat simbol. Sedangkan dalam Littlejohn disebut secara lebih rinci landasan teoritis dari kalangan ahli linguistik seperti Ferdinand de Saussure, Charles S. Pearce, Noam Chomsky, Benjamin Whorlf, Roland Barthes, dan lainnya. Mencoba membahas tentang hakekat simbol. Selanjutnya dalam John Fiske (1980) tentang pembahasan seputar ini dengan mengurainkan aspek seperti icon, index, dan symbol menurut Pearce.

Jadi terdapat banyak teori komunikasi yang berangkat dari pembahasan seputar simbol. Keberadaan simbol menjadi penting dalam menjelaskan fenomena komunikasi. Simbol merupakan produk budaya suatu masyarakat untuk mengungkapkan ide-ide, makna, dan nilai-nilai yang ada pada diri mereka. Mengkaji aspek ini merupakan aspek yang penting dalam memahami komunikasi.

Dalam kajian kontemporer, dalam hal ini pendekatan postmodernisme-poststrukturalisme, yang banyak menekankan pada kajian seputar simbol atau yang populer tentang analisis wacana. Maka pendekatan dari sudut ini menjadi penting. Jadi teori-teori komunikasi yang berangkat dari tradisi semiotik menjadi bagian yang penting untuk menjadi perhatian. Analisis-analisis tentang iklan, novel, sinetron, film, lirik lagu, video klip, fotografi, dan semacamnya menjadi penting. Terlebih dengan perkembangan industri media di Indonesia dewasa ini, kajian seputar ini menjadi penting untuk mendapat perhatian. Contoh kasus : bila anda seorang cameraman televise, suatu ketika anda meliput di Aceh. Maka dengan pemahaman tradisi semiotic yang memadai, akan membantu untuk menbari icon yang tepat. Misalnya ambil gambar masjid Baiturahman. Bila anda meliputi di kota Surabaya untuk stasiun televise asing, maka anda akan menyertakan menampilkan icon Tugu Pahlawan atau patung Sura lan Baya. Kasus yang kurang lebih sama juga akan terjadi ketika anda bekerja sebagai bagian kreatif sebuah biro iklan. Pemahaman yang memadai tentang dunia symbol akan banyak membantu dalam merancang desain iklan yang tepat. Fenomena iklan-iklan sampoerna bias dijelaskan dalam kontek ini. Kepekaan perancang dengan situasi social di Indonesia salah satu yang dpat disebutkan.

Maka pemahaman akan tradisi semiotic akan penting. Misalkan bagi yang berminat di iklan, dengan wawasan semiotic akan dapat merancang konsep yang tepat. Kehandalan dalam memilih symbol dan semacamnya. Mereka akan mampu menyampaikan makna secara memadai.

Tradisi Psikologi Sosial

Berangkat dari Ilmu Psikologi terutama aliran behavioral. Dalam kajian komunikasi akan sering dijumpai dalam kajian tentang dampak media. Memberi perhatian pada perubahan sikap (attitude). Hubungan media dan khalayak tentunya akan menyebabkan terjadinya perubahan sikap. Media menjadi stimulus dari luar diri khalayak yang akan menyebabkan terjadinya perubahan sikap.

Kasus lain seperti komunikasi persuasi. Pengaruh komunikator terhadap perubahan sikap khalayak. Penelitian eksperimen yang dilakukan Carl Hovland menggunakan pendekatan eksperimen. Sementara Paul F. Lazarfeld lebih menggunakan penelitian survei.

Tradisi psikologi sosial juga dapat dijumpai dalam penelitian komunikasi antar budaya seperti yang menggunakan teori yang dikembangkan Guddykunt tentang Management Reduction Uncertainty Theory.

Psikologi Sosial memberi perhatian akan pentingnya interaksi yang mempengaruhi proses mental dalam diri individu. Aktivitas komunikasi merupakan salah satu fenomena psikologi sosial seperti pengaruh media massa, propaganda, atau komunikasi antar personal lain.

Teori-teori yang berangkat dari psikologi sosial ini juga dapat menjelaskan tentang proses-proses yang berlangsung dalam diri manusia dalam proses komunikasi yakni ketika proses membuat pesan dan proses memahami pesan. Manusia dalam proses menghasilkan pesan melibatkan proses yang berlangsung secara internal dalam diri manusia seperti proses berfikir, pembuatan keputusan, sampai dengan proses menggunakan simbol. Demikian pula dalam proses memahami pesan yang diterima, manusia juga menggunakan proses psikologis seperti berfikir, memahami, menggunakan ingatan jangka pendek dan panjang hingga membuat suatu pemaknaan.

Pendekatan psikologi sosial memberi perhatian terhadap aspek diri manusia. Proses komunikasi manusia merupakan proses yang berlangsung dalam diri manusia.

Selanjutnya dalam komunikasi antar personal juga akan banyak dijelaskan dengan teori-teori dari tradisi psikologi sosial. Misalkan manusia dalam membuat suatu pesan dilatari faktor-faktor tertentu seperti motif, kebutuhan, dan sebagainya. Demikian pula terlibatnya faktor prasangka, stereotype, skema pemikiran, dan sebagainya yang mempengaruhi dalam komunikasi antar personal. Beberapa konsep penting disini dapat disebutkan seperti judgement, prejudice, anxienty, dan sebagainya. (lihat dalam littlejohn).

Beberapa tokoh penting dalam tradisi ini adalah Carl Hovland, Paul F. Lazarfeld, Muzerief, dan sebagainya.

Tradisi Retorika

Tradisi retorika memberi perhatian pada aspek proses pembuatan pesan atau simbol. Prinsip utama disini adalah bagaimana menggunakan simbol yang tepat dalam menyampaikan maksud. Dalam media berkaitan dengan proses pembuatan kebijakan keredaksian, merancang program acara, penentuan grafis. Prinsip bahwa pesan yang tepat akan dapat mencapai maksud komunikator. Kemampuan dalam merancang pesan yang memadai menjadi perhatian yang penting dalam kajian komunikasi.

Beberapa figur yang dapat disebutkan disini adalah kajian-kajian Gaye Tuchman tentang proses penentuan kebijakan dalam ruang pemberitaan, McBreed yang mengkaji tentang proses-proses yang berlangsung dalam organisasi media. Demikian pula teori-teori yang berkaitan dengan proses pembuatan pesan (message production) (lihat lagi littlejohn).

Tradisi retorika dapat menjelaskan baik dalam kontek komunikasi antar personal maupun komunikasi massa. Sepanjang memberi perhatian terhadap bagaimana proses-proses merancang isi pesan yang memadai sehingga proses komunikasi dapat berlangsung secara efektif.

Faktor-faktor nilai, ideologi, budaya, dan sebagainya yang hidup dalam suatu organisasi media atau dalam diri individu merupakan faktor yang menentukan dalam proses pembuatan pesan. Bahwa pesan dihasilkan melalui proses yang melibatkan nilai-nilai, kepentingan, pandangan hidup tertentu dari manusia yang menghasilkan pesan.

Pemahaman yang memadai dari tradisi retorika ini akan membantu dalam memahami bagaimana merancang suatu pesan yang efektif.9 Keberhasilan suatu konsep iklan, program televisi, kampanye tokoh politik, tentunya tidak dapat dilepaskan dari faktor semacam ini.

Keberhasilan SBY dipercaya tidak terlepas dari kemampuan merancang citra yang menarik. Iklan Sampoerna tentunya dilatari kemampuan melakukan perencanaan pesan yang memadai. Demikian pula pada sejumlah stasiun televisi yang masing-masing memiliki keunggulan berangkat dari proses perencanaan program yang memadai. Kita dapat membedakan karakteri RCTI, Metro TV, Trans TV, SCTV, TPI, AN TV, Indosiar, TV7, Lativi, dan Global TV karena masing-masing memiliki karakter. Maka tradisi retorika sesungguhnya berada dalam kontek ini.

Fenomena ‘pembajakan’ para programer televisi di Indonesia dapat dipahami dalam kontek ini. Mereka dibutuhkan sehingga pindah-pindah kerja antar stasiun televisi seakan menjadi sesuatu yang muda. Fenomena Alex Kumara dari RCTI, Trans TV, dan sekarang di TVRI. Figur ini dipandang sukses dalam mendisain tayangan suatu stasiun televisi. Demikian pula Riza Primbadi atau Sumitha Tobing yang beberapa kali pindah stasiun. Kerja kreatif yang melatarinya menyebabkan mahalnya tenaga yang berkiprah dibidang ini. Figur lain yang bisa disebut Uni Lubis yang sukses dengan Panji Masyarakat dan sekarang di TV7. Demikian pula Noorca Massardi yang merintis Jakarta Jakarta yang dulu pernah di Tempo dan sekarang di Forum. Dja’far Assegraf, Toety Adhitama, merupakan nama lain yang bisa disebut yang sekarang berkumpul di Media Group.

Tradisi Sosial Budaya

Tradisi sosial budaya berangkat dari kajian antropologi. Bahwa komunikasi berlangsung dalam kontek budaya tertentu karenanya komunikasi dipengaruhi dan mempengaruhi kebudayaan suatu masyarakat. Konsep kebudayaan yang dirumuskan Clifford Geertz tentu saja menjadi penting. Media massa, atau individu ketika melakukan aktivitas komunikasi ikut ditentukan faktor-faktor situasional tertentu.

Beberapa figur penting disini adalah James Lull, Geertz, Erving Goffman, George H. Mead, dan sebagainya.

Pendekatan interaksi simbolik, konstruktivisme merupakan hal yang penting disini. Interaksi simbolik menekankan pada bagaimana manusia aktif melakukan pemaknaan terhadap realitas yang dihadapi. Hal ini dapat membantu menjelaskan dalam proses komunikasi antar personal. Sedangkan konstruktivisme menekankan pada proses pembentukan realitas secara simbolik. Maka komunikasi baik bermedia maupun antar pribadi sesungguhnya dapat dilihat sebagai proses pembentukan realitas.

Tradisi Fenomenologi

Inti tradisi fenomenologi adalah mengamati kehidupan dalam keseharian dalam suasana yang alamiah. Tradisi fenomenologi dapat menjelaskan tentang khalayak dalam berinteraksi dengan media. Demikian pula bagaimana proses yang berlangsung dalam diri khalayak. Beberapa figur penting disini adalah James Lull, Ien Ang, dan sebagainya.

Kajian tentang proses resepti (reception studies) yang berlangsung dalam diri khalayak menjadi penting. Misalnya bagaimana para penonton televise ketika mengalami sebuah tayangan. Maka proses resepsi sangat ditentukan oleh factor nilai-nilai yang hidup dalam diri khalayak tersebut. Pendekatan etnografi komunikasi menjadi penting diterapkan dalam tradisi ini.

Tradisi Cybernetik

Tradisi ini berkaitan dengan proses pembuatan keputusan. Tradisi cybernetik berangkat dari teori sistim yang memandang terdapatnya suatu hubungan yang saling menggantungkan dalam unsur atau komponen yang ada dalam sistim. Hal lain yang penting adalah sistim dipahami sebagai suatu sistim yang bersifat terbuka sehingga perkembangan dan dinamika yang terjadi dilingkungan akan diproses didalam internal sistim.

Teori informasi berada dalam kontek ini. Demikian pula konsep feedback menjadi penting dalam hal ini. Perkembangannya dapat pula disebut teori-teori yang dikembangkan dari teori informasi seperti yang dilakukan Charles Berger untuk komunikasi antar personal dan Guddykunt untuk komunikasi antar budaya.

Contoh lain adalah proses pembuatan kebijakan publik oleh lembaga pemerintahan dimana tradisi cybernetic dapat menjelaskan. Terdapat proses sosialisasi untuk mendapatkan feedback dari publik sebelum suatu kebijakan ditetapkan secara permanen.

Tentu saja teori-teori proses pembuatan keputusan didalam diri individu juga dapat dijelaskan dari tradisi cybernetik. Tidak bisa dipungkiri tradisi cybernetic yang berangkat dari Norbert Wiener ini dan dikombinasikan dengan Shannon – Wiever menjadi penting sebagai salah satu tradisi dalam kajian komunikasi. Demikian pula proses resepti terhadap pesan yang berlangsung dalam diri khalayak. Pada hakekatnya khalayak merupakan sebuah sistim, maka sebuah pesan yang diterima dari luar merupakan stimulus yang kemudian diolah lagi dengan informasi lain yang sudah ada dalam diri seseorang.

Beberapa figur penting disini adalah Wiener, Shannon-Weaver, Charles Berger, Guddykunts, Karl Deutch, dan sebagainya.

Tradisi Kritis

Tradisi ini berangkat dari asumi teori-teori kritis yang memperhatikan terdapatnya kesenjangan di dalam masyarakat. Proses komunikasi dilihat dari sudut kritis. Bahwa komunikasi disatu sisi telah ditandai dengan proses dominasi oleh kelompok yang kuat atas kelompok masyarakat yang lemah. Pada sisi lain, aktifitas komunikasi mestinya menjadi proses artikulasi bagi kepentingan kelompok masyarakat yang lemah.

Tradisi ini dapat menjelaskan baik lingkup komunikasi antar personal maupun komunikasi bermedia. Beberapa figur penting dapat disebut seperti Noam Chomsky, Herbert Schiller, Ben Bagdikian, C. Wright Mills, dan sebagainya yang pemikiran mereka menyoroti tentang media sementara Stanley Deetz diantaranya pada komunikasi organisasi. Demikian pula Jurgen Habermas untuk tema-tema kajian komunikasi social.

Beberapa buku seperti political economy of media oleh Vincent Mosco dan sebagainya.

Tradisi ini tampak kental dengan pembelaan terhadap kalangan yang lemah. Komunikasi diharapkan berperan dalam proses transformasi masyarakat yang lemah.

Tampaklah bahwa ketujuh tradisi diatas cukup mewakili tentang fenomena komunikasi. Melalui ketujuh tradisi ini dapat dijelaskan mengenai suatu fenomena komunikasi dengan masing-masing penekanannya. Psikologi social akan mampu menjelaskan tentang komunikator atau komunikan sebagai individu dimana aktivitas komunikasi melibatkan dimensi psikologis seperti berfikir, sikap, dan sebagainya. Dalam kontek komunikasi massa, pendekatan psikologi social akan mampu menjelaskan tentang dampak media (media effect) yang terjadi pada diri khalayak. Dalam kontek komunikasi antar personal atau kelompok, pendekatan psikologi social akan menjelaskan tentang proses pembuatan pesan dalam diri individu, yang melibatkan dimensi psikologis seperti motiv, kepentingan, dan sebagainya.

Sedangkan semiotic akan dapat menjelaskan aspek pesan dari komunikasi. Atau yang lebih popular isi (content) dari komunikasi tersebut. Baik yang sifatnya verbal seperti bahasa maupun non verbal seperti gesture, distance, dan sebagainya. Demikian pula lambing visual. Dengan menggunakan perspektif dari sejumlah tokoh linguistic akan dapat dijelaskan makna dari suatu pesan. Salah satu aspek penting disini adalah berkaitan dengan hubungan antara pesan dengan nilai-nilai dalam suatu masyarakat. Bahwa menurut salah satu pandangan, pesan itu tidak memiliki kaitan langsung dengan objek. Pesan semata-mata arbiter, kesepakatan suatu masyarakat.

Pada perspektif lain, memandang bahwa pesan dengan realitas tidak dapat dipisahkan. Justeru pesan ikut mengkonstruksi realitas. Inilah pandangan dari kalangan post-struktualis yang banyak digunakan dalam perspektif postmodernisme.

Sementara tradisi social budaya akan dapat menjelaskan bahwa aktivitas komunikasi berkaitan dengan nilai-nilai yang hidup dalam suatu masyarakat. Dalam kontek komunikasi antar personal, maka individu akan ditentukan oleh nilai yang ada dan sekaligus juga akan ikut mengkonstruksi nilai berdasarkan pemaknaan yang dibentuknya. Dalam kontek komunikasi massa, maka isi media juga ikut ditentukan oleh nilai-nilai yang hidup dalam suatu masyarakat. Misalkan, Kompas yang semula Koran milik Partai Katolik kemudian merubah diri menjadi Koran umum independent, dengan isi yang tidak lagi mewakili kepentingan kalangan katolik.

Selanjutnya dalam pendekatan social budaya juga mempercayai media memiliki kemampuan ikut mengkonstruksi budaya. Dalam kontek ini pandangan tentang efek budaya media menjadi relevan. Kajian dengan pendekatan cultural studies menjadi penting. Media merupakan salah satu komponen dari kebudayaan.

Tradisi cybernetic mencoba menjelaskan tentang komunikasi sebagai sebuah sistim control. Tradisi ini dapat menjelaskan tentang sistim pers, sistim pengolahan dan pembuatan informasi yang berlangsung dalam diri manusia, kebijakan komunikasi, dan sebagainya.

Tradisi fenomenologi dapat menjelaskan tentang fenomena komunikasi sehari-hari seperti penonton televise, pembaca suratkabar, pendengar radio, atau komunikasi pada komunitas tertentu seperti keagamaan, gank remaja, dan sebagainya. Sedangkan tradisi kritis mencoba untuk melihat adanya kesenjangan dalam proses komunikasi. Figur seperti Herbert Schiller, Noam Chomsky, Ben Bagdikian, Habermas, Stanley Deetz, dan sebagainya menjadi penting disini. (teori kom)

Yang pokok adalah pengelompokkan teori komunikasi haruslah dikembalikan pada paradigma yang ada seperti positivistic (covering law perspective ; mekanistik), interpretative (rule theory; humanistik), kritis, dan postmodernism. (teori1)

referensi:

Stephen W. Littlejohn, Theories of Human Communiation, Wadsworth Publication, New Jersey, 1996.

Hello world!

Saturday, May 29th, 2010

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!