peran naungan pada tanaman kopi

posted by bayustiawan
Jun 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang

Dalam ilmu sejarah tanaman belum pernah disebut kapan dan bagaimana asal mulanya kopi dikenal manusia. Kemudian dari hasil penelitian dapat dipastikan bahwa pohon kopi berasal dari Benua Afrika, tumbuh di hutan – hutan belantara dan terdiri dari berbagai jenis. Menurut Linneus diberi nama Coffea arabica yang sampai pada akhir abad XIX tersebar meluas ke seluruh pelosok dunia di daerah – daerah iklim tropis, jenis ini berasal dari negara Etiopia, tumbuh di dataran – dataran tinggi. Daerah ini tersebar ke wilayah negara – negara Arab sampai Persia ( Iran ). Di daerah Yaman ternyata tanaman kopi tumbuh dengan baik di lereng – lereng bukit yang tanahnya subur. Di Indonesia, tanaman kopi dibawa oleh para penjajah dari Belanda.

Naungan pada dasarnya hanya diperlukan bagi tanaman kopi yang ditanam di daerah – daerah yang kurang subur karena kopi sendiri sebenarnya dapat ditanam tanpa naungan.

Untuk mengetahui lebih lengkap dan jelas tentang peran naungan pada tanaman kopi, akan dibahas pada makalah ini.

 

1.2  Rumusan Masalah

  • Bagaimana peran naungan pada tanaman kopi ?
  • Bagaimana bibit / benih tanaman kopi ?
  • Bagaimana kondisi iklim dan tanah yang tepat untuk tanaman kopi ?
  • Bagaimana cara pemupukkan pada tanaman kopi ?
  • Seberapa besar potensi produksi tanaman kopi ?

1.3  Tujuan

  • Untuk mengetahui peran naungan pada tanaman kopi.
  • Untuk mengetahui bibit / benih tanaman kopi
  • Untuk mengetahui kondisi iklim dan tanah yang tepat untuk tanaman kopi
  • Untuk mengetahui cara pemupukkan pada tanaman kopi
  • Untuk mengetahui potensi produksi tanaman kopi

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Biji tanaman kopi

Bibit yang akan ditanam dapat berasal dari :

‐ biji (zaaling), pembiakan secara genertaif.

‐ Sambungan atau stek, pembiakan secara vegetatif.

2.1.1 Pembiakan Bibit Tanaman Kopi dari Biji

Cara memperoleh biji kopi :

Dari kebun sendiri, biji diambil dari pohon yang telah diketahui mutunya. Pohon induk yang produksinya cukup tinggi, tahan terhadap nematoda, bubuk buah maupun bubuk batang, atau dengan kata lain yang tahan terhadap hama dan penyakit. Sedangkan Balai penelitian perkebunan, bersumber dari kebun percobaan yang menghasilkan biji telah teruji keunggulannya.

Cara memilih dan memelihara biji kopi:

Buah yang dipungut adalah yang masak, kemudian dipilih yang baik, tidak cacat dan yang besarnya normal. Jika biji ini tidak memenuhi syarat harus disingkirkan.

Penaburan biji kopi:

Bibit kopi dapat ditanam setelah umur 8‐9 bulan. Maka penaburan biji kopi dipersemaian harus memperhatikan rencana penanaman. Kalau bibit kopi ditanam sebagai zaailing, maka sebaiknya biji itu ditaburkan pada bulan Januari ‐ Februari. Dengan demikian kelak musim tanam tiba bibit sudah berumur 10‐11 bulan. Kalau bibit akan ditanam sebagai sambungan, sebaiknya kalau biji itu ditaburkan pada bulan Agustus. Selanjutnya bibit dapat disambung pada umur satu tahun. Dan pada waktu itu masih banyak biji yang segar. Bila kelak bibit akan ditanam pada bulan November/Desember bibit sambungan tersebut sudah berumur 4 bulan.

Banyaknya biji yang akan ditaburkan tentu saja harus disesuaikan dengan luas rencana penanaman. Biji yang ditaburkan perlu diperhitungkan 2 kali lipat dari bibit yang akan ditanam, hal ini bila ditanam sebagai zaailing. Tetapi bila bibit itu akan disambung, maka jumlah biji yang akan ditaburkan adalah dua setengah kali dari rencana penanaman. Hal ini mengingat bahwa daya tumbuh sambungan belum tentu bisa mencapai 100%.

 

2.2 Kondisi iklim dan tanah bagi tanaman kopi

Faktor iklim sangat menentukan berhasil atau gagalnya bertanama atau berkebun kopi, sehingga kita harus terlebih dahulu mengetahui iklim yang cocok untuk tanaman kopi.

Ada 2 faktor iklim yang sangat mempengaruhi terhadap tumbuh dan hasil tanaman kopi :

  1. Elevasi / tinggi tempat dari permukaan laut dan temperatur
  2. Curah Hujan / banyak sedikitnya curah hujan dalam tiap – tiap tahun dan musim

Tanaman kopi lebih cocok jika ditanam pada kedalaman kurang lebih 1,5 meter dari permukaan. Secara fisik tanah harus mempunyai kapasitas memegang air yang tinggi. Tanaman kopi juga lebih cocok ditanam pada tanah yang memiliki derajat keasaman 6 – 6,5. Jenis – jenis tanah latosol dan vulkanis disukai tanaman ini.

 

2.3 Pemupukkan pada tanaman kopi

Adanya penanaman yang terus menerus telah menghabiskan persediaan hara tanaman di dalam tanah, selain itu akan terjadi hilangnya hara tanaman karena pencucian dan fiksasi. Maka usaha untuk menggantikan hara yang hilang perlu juga diperhatikan atau ditambah hara tanaman yang jumlahnya lebih banyak. Hal ini dimaksudkan agar perkembangan akar,ranting daun-daun, serta persiapan pembungaan dan pembentukan buah di musim berikutnya tidak mengalami gangguan. Dengan demikian dapat diketahui, bahwa hara tanaman yang hilang dan terambil tidak sedikit jumlahnya. Maka perlu adanya pengganti dalam bentuk pupuk.

Dari kebutuhan tanaman akan unsur hara, dapat digolongkan menjadi 2, yaitu:

  • Unsur hara makro : yaitu unsur yang diperlukan tanaman dalam jumlah besar daripada unsur-unsur lainnya. Unsur-unsur tersebut adalah: C.H.O.N.P.K.Ca.Mg.dan S
  • Unsur hara mikro: yaitu unsur yang diperlukan tanaman dalam jumlah sedikit daripada unsur yang lain. Unsur-unsur tersebut adalah: Fe.Mn.Bo.Co.Zn.dan Cl

Masing-masing akan memainkan peranannya di dalam proses pertumbuhan kopi. Ketiga unsure utama dan beberapa unsur lainnya sangat diperlukan dan tidak dapat ditukar dengan sembarang unsur.

Apabila kopi muda mempunyai kebutuhan khusus akan N dan P2O5, maka setelah tanaman itu dewasa akan memerlukan lebih banyak lagi akan unsure K2O. oleh karena itu sangat penting untuk tanaman kopi untuk memdapatkan unsur hara yang seimbang dalam setiap saat.

Memilih pupuk yang tepat sangat besar pengaruhnya terhadap hasil pemupukan. Karena ada pupuk yang mudah larut dan mudah di serap oleh tanaman dan ada yang agak lambat. Jika tanaman itu merana dan tanah itu cukup miskin maka harus menggunakan pupuk yang mudah diserap. Sebaliknya jika pupuk itu hanya digunakan sebagai cadangan baiknya menggunakan pupuk yang agak lambat atua tahan lama.

Teknik pemupukan dapat dilakukan sebagai berikut: mengenai pemupukan ini perlu mengingat umur dan jenis tanaman, jarak tanam, tanaman tersebut ada pelindungnya atau tidak, tanah,iklim, serta jenis pupuk. Cara pemupukan berbeda dengan tanaman perkebunan di lapangan dan berbeda pula dengan tanaman yang sudah produktiv. Cara pemupukan itu ada yang disebarkan, adapula yang dibenamkan dalam alur sekitar tanaman, dan ada pula yang disemprotkan lewat daun. Hal ini tergantung jenis pupuk dan kepentingannya.

Pada umumnya pemupukan kopi dilakukan 2 kali dalam setahun. Terkecuali kopi muda, sebagai starter dapat diberikan lebih dari 2 atau 3 kali, hal ini mengingat kondisi tanaman yang bersangkutan.

Awal musim penghujan           : ½ dosis N ditambah 1 dosis P

Akhir musim penghujan          : ½ dosis N ditambah 1 dosis K

Jumlah setahun                        : 1 dosis N ditambah 1 dosis P ditambah 1 dosis K

 

2.4 Produksi tanaman kopi

Pertanaman kopi tersebar hampir di seluruh propinsi di Indonesia karena Indonesia memiliki lahan dan iklim yang sesuai untuk tanaman kopi. Sentra-sentra produksi kopi Robusta tersebar di seluruh daerah Sumatera, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Kopi Arabika umumnya tersebar di D.I Aceh, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Sulawesi Selatan. Luasan pertanaman kopi tahun 1999 tercatat 1.157.696 ha dan angka estimasi untuk tahun 2000 sekitar 1.142.045 ha.

Perkembangan produksi kopi dunia selama kurun waktu 20 tahun(1980/1981 – 1999/2000) berfluktuasi dan cenderung mengalami peningkatan produksi, yaitu sebesar 5,2 juta ton (1980/1981) menjadi 6,3 juta ton pada tahun 1999/ 2000 (Ditjenbun, Tanpa tahun). Sebagian besar (75 %) produksi kopi dunia berasal dari jenis kopi Arabika, sisanya (25 %) berasal dari jenis kopi Robusta. Tetapi akhir-akhir ini (1998) produksi kopi Arabika cenderung menurun, yaitu menjadi 66 % dari produksi kopi dunia atau dibawah 4,2 juta ton. Kopi Arabika diproduksi oleh lebih dari 41 negara dengan penghasilan terbesar (50 – 60 %) berasal dari negara-negara Amerika Selatan dan Afrika seperti: Brazil, Kolombia, Kosta Rika, Elsavador, Guatemala, Kenya, Mexico. Kopi Robusta diproduksi oleh lebih dari 36 negara terutama di wilayah Afrika seperti Pantai Gading dan Uganda, sedangkan produsen terbesar kopi Robusta dunia adalah Indonesia, Vietnam dan India.

 

2.5 Naungan pada tanaman kopi

Naungan pada dasarnya hanya diperlukan bagi tanaman kopi yang ditanam di daerah – daerah yang kurang subur karena kopi sendiri sebenarnya dapat ditanam tanpa naungan. Yang dimaksud dengan daerah – daerah yang kurang subur adalah pada daerah yang kering apabila kita menanamnya di perkebunan. Akan tetapi bila tanaman kopi ditanam tanpa naungan pada tanah yang subur, pada permulaannya memperlihatkan pertumbuhan yang baik, dan mulai berbuah juga lebih cepat. Selama 5 – 8 tahun kebun mampu member hasil yang baik. Namun pada tahun – tahun berikutnya hasil akan mengalami penurunan, penrunan hasil ini disebabkan penyinaran matahari yang tidak teratur, sehingga pertumbuhan generatifnya juga tidak teratur, termasuk pembungaan dan perbuahannya. Selain penyinaran yang tidak teratur juga karena sangat kekurangan bahan organik sehingga lapisan humusnya cepat habis.

Di samping itu pohon pelindung mempunyai fungsi lain yang berguna bagi tanaman kopi, diantaranya:

  • Dapat mencegah erosi
  • Menambah bahan organik
  • Sebagai sumber nitrogen
  • Menahan tumbuhnya gulma
  • Mencegah embun lepas pada daerah – daerah tinggi
  • Memberikan persediaan zat – zat makanan pada permukaan tanah yang berasal dari sisa – sisa daun yang gugur

Sedangkan kekurangan dari pohon pelindung adalah :

  • Menimbulkan persaingan air dan hara tanaman
  • Merupakan tanaman inang hama dan inang penyakit
  • Perlu inventasi modal tambahan untuk pengadaan, pemeliharaan, dan pengaturannya

`           Atas dasar kekurangan itulah maka pohon naungan yang baik harus bersifat dapat memnuhi fungsinya dan menekan atau menghilangkan kekurangannya. Untuk naungan yang baik diperlukan beberapa syarat seperti :

  • Berakar dalam untuk memperkecil saingan iar dan zat hara
  • Mudah diatur secara periodik agar tidak menghambat pembungaan
  • Tidak menjadi tanaman inang hama atau penyakit kopi
  • Menghasilkan banyak bahan organik

Beberapa contoh jenis pohon naungan yang baik untuk tanaman kopi adalah :

  • Dadap

Hampir semua perkebunan menggunakan pohon dadap sebagai pohon naungan karena pohon ini dapat tumbuh dengan cepat, bentuk dari naungannya merata, daunnya banyak dan mudah ditanam dengan stek.

 

  • Sengon Laut

Naungan ini sering digunakan pada kebun kopi pada tanah – tanah di dataran tinggi. Pohon sengon ini harus ditanam jauh – jauh sebelum penanaman pohon kopi, sebab tanaman itu baru rimbun setelah beberapa tahun lamanya. Tetapi dewasa ini naungan dari sengon hampir tidak digunakan lagi karena mudah diserang oleh pengerek batang dan mudah patah atau roboh bila ada angin kencang.

 

  • Lamtoro

Hampir semua perkebunan kopi menggunakan pohon naungan dengan lamtoro, karena daun daun lamtoro ini proses pelapukkannya lebih cepat, sehingga cepat pula menambah bahan organik yang sangat diperlukan oleh tanaman pokok.

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Naungan pada dasarnya hanya diperlukan bagi tanaman kopi yang ditanam di daerah – daerah yang kurang subur karena kopi sendiri sebenarnya dapat ditanam tanpa naungan. Pohon naungan yang baik harus bersifat dapat memenuhi fungsinya dan menekan atau menghilangkan kekurangannya. Pohon kopi sebenarnya tidak memerlukan nanungan jika ditanam di tanah subur, tetapi ketika pohon kopi ditanam di tanah yang kurang subur, maka pohon kopi tersebut memerlukan naungan untuk menambah bahan organik.

Beberapa contoh naungan yang biasanya ada pada perkebunan kopi adalah :

  • Dadap
  • Sengon
  • Lamtoro

 

3.2 Saran

Sebaiknya petani dapat memilih naungan yang tepat bagi tanaman kopi, agar menghasilkan produksi yang tinggi.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

AAK.1991.BUDIDAYA TANAMAN KOPI. PENERBIT KANISIUS :Jogjakarta

Notodimejo,Soewarno, Dr.Ir. 1985. BUDIDAYA TANAMAN KOPI DAN KARET. FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA : Malang

Categories: Uncategorized


Leave a Reply

*