Bagastyayoga Fiskal Anugraha | Blog Mahasiswa Manajemen Sumber Daya Lahan Universitas Brawijaya

Klasifikasi Bentuk Lahan

Eksogen dan Endogen

Landform Tektonisme

Proposal GALIFU

Landform Vulkanisme

Mar/18

11

Klasifikasi Bentuk Lahan

Dalam membahas klasifikasi bentuk lahan ada beberapa istilah yang kadang-kadang membingungkan:

– Fisiografi

– Geomorfologi

– Proses Geomorfik

– Lansekap

– Bentuk lahan (Landform)

– Relief

– Terrain

FISIOGRAFI adalah Ilmu yang mempelajari tentang genesis dan evolusi bentuk lahan. Bentukan alam di permukaan bumi (pada wilayah yang luas), baik di daratan maupun di bawah permukaan air laut, yang dibedakan atas proses pembentukannya.

GEOMORFOLOGI adalah Ilmu yang mempelajari tentang sifat-sifat alami, penyebaran, dan sejarah bentuk lahan serta proses-proses pelapukan, erosi dan sedimentasi yang menyebabkan terbentuknya landform tersebut.

PROSES GEOMORFIK adalah Proses-proses yang menyebabkan terbentuknya suatu landform. Proses tersebut disebabkan oleh adanya gaya/tenaga endogenik/hipogenik (berasal dai bawah kulit bumi), eksogenik/epigenik (berasal dari permukaan bumi), dan ekstra-terestrial (berasal dari luar angkasa)

LANSEKAP adalah Semua bentukan alam maupun buatan manusia di permukaan bumi, seperti: sawah, bukit, rawa, hutan, bendungan, jalan, dll yang membedakan suatu hamparan dengan hamparan yang lainnya.

RELIEF adalah Keadaan suatu wilayah daratan di permukaan bumi ditinjau dari aspek lereng/kelerengan dan perbedaan ketinggian yang ada

TERRAIN adalah Istilah yang digunakan untuk menyatakan keadaan medan suatu wilayah di permukaan bumi, mencakup keadaan relief, vegetasi/penggunaan lahan, perairan, batuan/tanah, dll.

DASAR KLASIFIKASI BENTUKLAHAN

Kategori tertinggi berdasarkan atas PROSES, khususnya proses geomorfik. Kategori selanjutnya didasarkan atas bentukan bentuklahan itu sendiri, relief, lereng, litologi, tingkat erosi atau torehan, dll mana yang dominan di daerah tersebut. 

1.             GRUP ALUVIAL (A)

Bentuk lahan muda yang terbentuk dari proses fluvial (aktivitas sungai), koluvial (gravitasi), atau gabungan dari proses fluvial dan koluvial. Berupa dataran di daerah luas pengaruh sungai yang besar atau dataran sempit di sekitar sungai.

Contoh Gambar Landform Aluvial

2.             GRUP MARIN (M)

Bentuk lahan muda yang terbentuk dari proses marin, baik proses yang bersifat konstruktif (pengendapan) atau destruktif (abrasi). Daerah yang terpengaruh air permukaan yang bersifat asin secara langsung atau tidak langsung ataupun daerah pasang surut tergolong dalam bantuklahan marin. Dijumpai di kawasan pantai, baik pantai landai maupun terjal.

Contoh Gambar Landform Marin

3.             GRUP FLUVIO-MARIN (B)

Bentuk lahan yang terbentuk dari ganungan proses fluvial dan marin. Keberadaan bentuklahan ini dapat terbentuk pada lingkungan laut (berupa delta) ataupun di muara sungai yang terpengaruh oleh aktivitas laut. Umumnya dijumpai di muara sungai yang membentuk delta.

Contoh Gambar Landform Fluvio-Marin

4.             GRUP GAMBUT (G)

Bentuk lahan yang terbentuk di daerah rawa (baik rawa pedalaman maupun di daerah pantai) dengan akumulasi bahan organik yang cukup tebal. Bentuklahan ini dapat berupa kubah maupun bukan kubah. Banyak terdapat di Kalimantan dan Sumatra.

Contoh Gambar Landform Gambut

5.             GRUP EOLIN (E)

Bentuk lahan yang terbentuk oleh proses pengendapan bahan halus (pasir dan debu) yang terbawa angin. Di Indonesia tidak banyak dijumpai. Contoh di Pantai Parangtritis DIY, di Jawa Timur tidak terlalu tegas dijumpai di pantai selatan Lumajang.

Contoh Gambar Landform Eolin

6.             GRUP KARST (K)

Bentuk lahan yang didominasi oleh bahan batugamping keras dan masif, pada umumnya keadaan topografi daerah tidak teratur. Terbentuk terutama karena proses pelarutan bahan batuan penyusun, dengan terjadinya antara lain: sungai bawah tanah, gua-gua dengan stalagtit dan stalagmit, sinkhole, doline, uvala, polje dan “tower” karst.

Contoh Gambar Landform Karst

7.             GRUP VOLKANIK (V)

Bentuk lahan yang terbentuk karena aktivitas volkan/gunung berapi. Bentuklahan ini terutama dicirikan dengan adanya bentukan kerucut volkan, aliran lahar, lava ataupun wilayah yang merupakan akumulasi bahan volkanik.

Contoh Gambar Landform Volkanik

8.             GRUP TEKTONIK (T)

Bentuk lahan yang terbentuk akibat dari proses tektonik (orogenesa dan epirogenesa) berupa proses angkatan, lipatan atau patahan. Bentuk lahan yang terbentuk umumnya ditentukan oleh proses-proses tersebut dan karena sifat litologinya (struktural).

Contoh Gambar Landform Tektonik

9.             GRUP ANEKA (X)

Bentukan alam atau hasil kegiatan manusia yang tidak termasuk dalam grup yang telah diuraikan di atas, misalnya: lahan rusak, singkapan batuan, penambangan, penggalian, tanah longsor, reklamasi pantai, dll.

Contoh Gambar Landform Aneka

No tags

Mar/18

11

Eksogen dan Endogen

TENAGA EKSOGEN

Eksogen, atau tenaga eksogen ialah tenaga yang berasal dari luar bumi. Sifatnya merusak atau merombak permukaan bumi yang sudah terbentuk oleh tenaga endogen. Tenaga eksogen juga mengakibatkan bentuk-bentuk muka bumi. Tenaga eksogen dapat berasal dari tenaga air, angin, dan organisme yang menyebabkan terjadinya proses pelapukan, erosi, denudasi, dan sedimentasi. Contoh seperti bukit atau tebing yang terbentuk hasil tenaga endogen terkikis oleh angin, sehingga dapat mengubah bentuk permukaan bumi.

Di permukaan laut, bagian litosfer yang muncul akan mengalami penggerusan oleh tenaga eksogen yaitu dengan jalan pelapukan, pengikisan dan pengangkutan, serta sedimentasi. Misalnya di permukaan laut muncul bukit hasil aktivitas tektonisme atau vulkanisme. Mula-mula bukit dihancurkannya melalui tenaga pelapukan, kemudian puing-puing yang telah hancur diangkut oleh tenaga air, angin, gletser atau dengan hanya gravitasi bumi. Hasil pengangkutan itu kemudian diendapkan, ditimbun di bagian lain yang akhirnya membentuk timbunan atau hamparan bantuan hancur dari yang kasar sampai yang halus.

Contoh lain dari tenaga eksogen adalah pengikisan pantai. Setiap saat air laut menerjang pantai yang akibatnya tanah dan batuannya terkikis dan terbawa oleh air. Tanah dan batuan yang dibawa air tersebut kemudian diendapkan dan menyebabkan pantai menjadi dangkal. Di daerah pegunungan bisa juga ditemukan sebuah bukit batu yang kian hari semakin kecil akibat tiupan angin.

Secara umum tenaga eksogen berasal dari 3 sumber, yaitu:

·  Atmosfer, yaitu perubahan suhu dan angin.

·  Air yaitu bisa berupa aliran air, siraman hujan, hempasan gelombang laut, gletser, dan sebagainya.

·  Organisme yaitu berupa jasad renik, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia.

Perusakan bentuk muka bumi oleh tenaga eksogen berupa pelapukan, pengikisan (erosi) dan pengendapan.

 

Pelapukan adalah penghancuran batuan dari bentuk gumpalan menjadi butiran yang lebih kecil bahkan menjadi hancur atau larut dalam air. Proses pelapukan dapat dikatakan sebagai proses penghancuran massa batuan melalui media penghancuran. Menurut proses terjadinya pelapukan dapat digolongkan menjadi 3 jenis yaitu:

A.           Pelapukan fisik dan mekanik.

Pelapukan mekanik (fisik) adalah proses pengkikisan dan penghancuran bongkahan batu jadi bongkahan yang lebih kecil,tetapi tidak mengubah unsur kimianya. Proses ini disebabkan oleh sinar matahari, perubahan suhu tiba-tiba, dan pembekuan air pada celah batu. Penyebab terjadinya pelapukan mekanik yaitu:

o      Adanya perbedaan temperatur yang tinggi.

Peristiwa ini terutama terjadi di daerah yang beriklim kontinental atau beriklim Gurun, di daerah gurun temperatur pada siang hari dapat mencapai 50 Celcius. Pada siang hari bersuhu tinggi atau panas. Batuan menjadi mengembang, pada malam hari saat udara menjadi dingin, batuan mengerut. Apabila hal itu terjadi secara terus menerus dapat mengakibatkan batuan pecah atau retak-retak.

o      Adapun pembekuan air di dalam batuan

Jika air membeku maka volumenya akan mengembang. Pengembangan ini menimbulkan tekanan, karena tekanan ini batu-batuan menjadi rusak atau pecah pecah. Pelapukan ini terjadi di daerah yang beriklim sedang dengan pembekuan hebat.

o      Berubahnya air garam menjadi kristal.

Jika air tanah mengandung garam, maka pada siang hari airnya menguap dan garam akan mengkristal. Kristal garam garam ini tajam sekali dan dapat merusak batuan pegunungan di sekitarnya, terutama batuan karang di daerah pantai.

B.            Pelapukan organik

Penyebabnya adalah proses organisme yaitu binatang tumbuhan danmanusia, binatang yang dapat melakukan pelapukan antara lain cacing tanah, serangga. Dibatu-batu karang daerah pantai sering terdapat lubang-lubang yang dibuat oleh binatang. Pengaruh yang disebabkan oleh tumbuh tumbuhan ini dapat bersifat mekanik atau kimiawi. Pengaruh sifat mekanik yaitu berkembangnya akar tumbuh-tumbuhan di dalam tanah yang dapat merusak tanah disekitarnya. Pengaruh zat kimiawi yaitu berupa zat asam yang dikeluarkan oleh akarakar serat makanan menghisap garam makanan. Zat asam ini merusak batuan sehingga garam-garaman mudah diserap oleh akar. Manusia juga berperan dalam pelapukan melalui aktifitas penebangan pohon, pembangunan maupun penambangan.

C.            Pelapukan kimiawi

Pada pelapukan ini batu batuan mengalami perubahan kimiawi yang umumnya berupa pengelupasan. Pelapukan kimiawi tampak jelas terjadi pada pegunungan kapur (Karst). Pelapukan ini berlangsung dengan batuan air dan suhu yang tinggi. Air yang banyak mengandung CO2 (Zat asam arang) dapat dengan mudah melarutkan batu kapur (CACO3). Peristiwa ini merupakan pelarutan dan dapat menimbulkan gejala karst. Di Indonesia pelapukan yang banyak terjadi adalah pelapukan kimiawi. Hal ini karena di Indonasia banyak turun hujan. Air hujan inilah yang memudahkan terjadinya pelapukan kimiawi.

TENAGA ENDOGEN

Permukaan bumi senantiasa berubah dan akan terus berubah. Hal itu karena adanya tenaga pengubah relif permukaan bumi. Tenaga itu di sebut tenaga geologi, yaitu tenaga yang mengubah bentuk muka bumi. Tenaga ini dibedakan menjadi dua, yaitu tenaga endogen dan tenaga eksogen. Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang bersifat membangun bentuk relief muka bumi. Tenaga ini meliputi tektonisme, vulkanisme dan seisme.

1.      Tenaga tektonik adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang mengakibatkan terjadinya pergeseran dan perubahan letak lapisan batuan secara horizontal (orogenesis) dan secara vertical (epirogenesis)

  1. Gerak orogenesis adalah pergeseran lapisaan kulit bumi secara cepat meliputi darah yang sempit.peristiwa ini menimbulkan lipatan dan patahan.

Lipatan terjadi jika terdapat tekanan horizontal maupun vertical pada kulit bumi yang bersifat liat (plastis), sehingga kulit bumi mengalami pengerutan. Hal ini dapat kita bandingkan seperti taplak meja yan ditekan secara horizontal pada satu sisi, sehingga terjadi pengerutan atau pelipatan.

Punggung lipatannya disebut antiklinal, sedangkan lembah lipatannya disebut sinklinal. Puncak dan lembah lipatan inilah yang membentuk rangkaiann pegunungan.
Lipatan yang terjadi dapat berupa lipatan tegak (symmetrical folds), miring (asymmetrical fold), menutup (recumbent folds) rebah (overturned folds) dan sesar sungkup (overthrust) dan isoklinal.

Patahan, terjadi akibat tenaga endogen yang relative cepat, baik secara vertical maupun horizontal terhadapstruktur batuan keras sehingga antara struktur lapisan yang satu dan yang lainnya jadi terpisah dan patah.

Jenis patahan

  • Tanah naik (horst), dataran yang terletak lebih tinggi dari aerah sekelilingnya, akibat dataran di sekelilingnya payah.
  • Tanah turun (graben/slenk), yaitu kenampakan dataran yang letaknya rendah dari daerah di sekelilingnya, akibat dataran
  • Destral adalah patahan yang bergeser ke kanan dari titik peneliti
  • Sinitral adalah patahan yang bergeser ke kiri dari titik peneliti
  • Block mountain adalah patahan yang terjadi akibat tenaga endogen yang menghasilkan bentuk retakan, ada yang naik, ada yang turun dan ada yang bergerak miring sehingga terjadi suatu bentuk yang kompleks

Gerak epirogenesis adalah pergeseran lapisan kulit bumi yang relative lambat meluputi daerah yang luas. Gerak epirogeentik sering pula disebut tenaga pembentuk benua.

Ada dua gerak epirogenesis yaitu :

·         epirogenesis positif : gerak turunnya daratan sehingga terlihat permukaan air laut naik

·         epirogenesis negative : gerak naiknya daratan sehingga terlihat perrmukaan air laut turun

Vulkanisme adalah proses ekstruksi (keluarnya)magma ke permukaan bumi. Proses keluarnya magma ke permukaan bumi di sebut ERUPSI. Di bedakan menjadi dua yaitu intrusi dan ekstrusi :

1.        Intrusi magma : penerobosan magma yang tidak sampai ke permukaan bumi, peristiwa intrusi magma disebut juga PLUTONISME. Walau tidak sampai ke permukaan bumi, penerobosan magma ini menghasilkan batuan beku di dalam lapisan kulit bumi yang disebut INTRUSIVE. Bentuk intrusi magma misalnya :

·         Batolit adalah magma yang membeku di dalam dapur magma

·         Lakolitn  adalah batuan beku yang terbentuk dari resapan magma dan membeku di antara dua lapisan batuan. Lakolit berbentuk seperti lensa cembung

·         Keeping intrusi atau sill adalah batuan beku yang terbentuk di antara dua lapisan batuan dengan bentuk pipih danmelebar.

·         Gang atau korok adalah batuan beku yang berbentuk pipih atau lebar yang merupakan hasil intrusi magma yang memotong lapisan batuan dengan arah tegak atau miring

2.        Ekstrusi magma : gerakan magma yang dapat mencapai permukaan bumi melalui terusan kepundan maupun celah – celah retakan.

·         Erupsi berdasarkan bentuk lubang keluarnya magma dibedakan menjadi 3 yaitu :
– Erupsi linier yaitu magma keluar ke permukaan bumi melalui retakan memanjang sehingga terbentuk deretan gunung api.

·         –         Erupsi areal, yaitu erupsi yang terjadi karena magma terletak sengat dekat dengan permukaan bumi, sehingga ketika permukaan bumi terbakar, magma meleleh keluar ke permukaan bumi.

·         –         Erupsi sentral, yatu erupsi yang terjadi karena magma keluar melalui lubang dan membentuk gunung – gunung yang letaknya terpisah.

Erupsi sentral dibedakan menjadi 3 macam :

  • erupsi effusif adalah peristiwa keluarnya magma ke permukaan bumi yang tidak disertai dengan terjadinya ledakan karena tekanan gasnya kurang kuat. (menghasilkan gunung api tameng/perisai)
  • Erupsi aksplosif adalah peristiwa keluarnya magma ke permukaan bumi dengan disertai ledakan sebagai akibat dari tekanan gas yang kuat. (menghasilkan gunung api corong / maar)
  • Erupsi campuran adalah erupsi selang seling antara effisif dan eksplosif. (menghasilkan gunung api kerucut / strato)

Berdasarkan sifat erupsi dan bahan yang dikeluarkannya, ada 3 macam gunung berapi sentral, yaitu:

  1. Gunung api perisai. Gunung api ini terjadi karena magma yang keluar sangat encer. Magma yang encer ini akan mengalir ke segala arah sehingga membentuk lereng sangat landai. Ini berarti gunung ini tidak menjulang tinggi tetapi melebar. Contohnya: Gunung Maona Loa dan Maona Kea di Kepulauan Hawaii.
  2. Gunung api maar. Gunung api ini terjadi akibat adanya letusan eksplosif. Bahan yang dikeluarkan relatif sedikit, karena sumber magmanya sangat dangkal dan sempit. Gunung api ini biasanya tidak tinggi, dan terdiri dari timbunan bahan padat (efflata). Di bekas kawahnya seperti sebuah cekungan yang kadang-kadang terisi air dan tidak mustahil menjadi sebuah danau. Misalnya Danau Klakah di Lamongan atau Danau Eifel di Prancis.
  3. Gunung api strato. Gunung api ini terjadi akibat erupsi campuran antara eksplosif dan efusif yang bergantian secara terus menerus. Hal ini menyebabkan lerengnya berlapis-lapis dan terdiri dari bermacam-macam batuan. Gunung api inilah yang paling banyak ditemukan di dunia termasuk di Indonesia. Misalnya gunung Merapi, Semeru, Merbabu, Kelud, dan lain-lai

Pravulkanik adalah tanda-tanda atau gejala di suatu daerah akan terjadi letusan gunungapi. Tanda-tanda akan terjadinya letusan gunungapi adalah :

  1. Kenaikan suhu udara di sekitar gunungapi drastis (dari suhu rendah tiba-tiba naik jadi panas)
  2. Banyak tumbuhan kering dan hewan turun dari gunung.
  3. Meningkatnya bau belerang yang menyengat
  4. Terdengar suaa gemuruh dari dalam gunung api
  5. Sering terjadi gempa kecil
  6. Keluarnya bahan gas yang semakin hebat
  7. Sumber air di sekitar gunung api banyak yang mengering

 

No tags

Mar/18

1

Proposal GALIFU

PROPOSAL PROYEK GALIFU

SEMESTER GENAP 2017-2018

 

PENDUGAAN EROSI TANAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE USLE DI SUB DAS COROGROJONG KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR

  

 

 

OLEH

KELOMPOK 11

 

 

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

FAKULTAS PERTANIAN

MALANG

2018


 

PROPOSAL PROYEK GALIFU

SEMESTER GENAP 2017-2018

 

PENDUGAAN EROSI TANAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE USLE DI SUB DAS COROGROJONG KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR

 

 

 

PROPOSAL PROYEK GALIFU

 

 

 

 

ANGGOTA KELOMPOK 11

 

 

          IQBAL MAULANA A (CO KELOMPOK)             (155040201111076)

          ADITHYA RIEFANTO S                                        (155040200111049)

          BAGASTYAYOGA F A                                         (155040200111100)

          CHOIRUM AYUN                                                   (155040200111112)

          REFKI AULIA WIWAHA                                        (155040200111113)

          YUNI TAMARA                                                      (155040200111137)

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

FAKULTAS PERTANIAN

MALANG

2018

 

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI i

DAFTAR GAMBAR.. ii

DAFTAR TABEL. iii

BAB I. PENDAHULUAN.. 1

1.1.     Latar Belakang. 1

1.2.     Tujuan. 2

1.3.     Alur Pikir. 2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.. 3

2.1.     Pengertian Erosi 3

2.2.     Proses Terjadinya Erosi 3

2.3.     Pendugaan Erosi dengan Metode USLE.. 3

2.4.     Strategi Konservasi 4

2.5.     Jenis-jenis erosi 6

BAB III. METODE.. 9

3.1.     Tempat Dan Waktu. 9

3.2.     Alat Dan Bahan. 9

3.3.     Tahapan Dan Pelaksanaan Proyek. 9

DAFTAR PUSTAKA.. 11

 

 

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Alur Pikir 2

Gambar 2. Alur Kerja. 10


 

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Alat dan Fungsinya. 9

Tabel 2. Bahan dan Fungsinya. 9


BAB I. PENDAHULUAN

1.1.     Latar Belakang

Lahan memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga masing-masing lahan memiliki kemampuan lahan yang berbeda. Sepanjang bantaran sub DAS Corogrojong yang masuk dalam administrasi kecamatan Pujon masih ditemukan penggunaan lahan yang kurang sesuai dengan kemampuan lahannya yang didominasi tanaman semusim atau hortikultura. Menurut BPS (2016) Curah hujan rata-rata wilayah desa Ngroto kecamatan Pujon mencapai 2000 mm/tahun. Kesalahan dalam pengelolaan lahan dapat menimbulkan kerusakan lahan itu sendiri. Kesalahan pengelolaan lahan seperti pemanfaatan lahan yang tidak sesuai kemampuan lahan akan mengakibatkan kerusakan lahan salahsatunya adalah erosi.

Erosi adalah proses penghancuran dan pelapukan partikel tanah dan perpindahan partikel tersebut akibat adanya erosive transport agent seperti air dan eknik. (Nursa’ban, 2006). Terjadinya erosi pada suatu lahan dapat menyebabkan hilangnya lapisan atas tanah yang umunya memiliki sifat yang ekniki subur. Jika lapisan atas tanah terkikis karena erosi, maka kualitas tanah akan menurun sehingga tanaman tidak akan tumbuh subur dan hasil produktivitasnya akan berkurang. Berkurangnya hasil produktivitas tanaman akan mengurangi pendapatan petani sehingga nantinya dapat menyebabkan kerugian materi maupun lingkungan. Erosi juga dapat menyebabkan terjadinya pendangkalan di daerah hilir akibat adanya sedimentasi dari perpindahan partikel tanah yang telah hancur. Pendangkalan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas air yang berdampak pada kerusakan ekosistem perairan yang dapat meningkatkan frekuensi terjadinya banjir. Faktor yang mempengaruhi terjadinya erosi berdasarkan Nursa’ban (2006) adalah eknik yang dapat diubah oleh manusia seperti tumbuh-tumbuhan, sifatsifat tanah, dan satu unsur topografi yaitu eknik lereng dan eknik yang tidak dapat diubah oleh manusia seperti iklim, tipe tanah, dan kecuraman lereng.

Tindakan konservasi sangat penting digunakan untuk mengatasi permasalahan yang ada di daerah sub DAS Corogrojong. Konservasi tanah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan konservasi air karena setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air  pada tempat yang dialirinya. Tujuan konservasi tanah adalah meningkatkan  produktivitas lahan secara maksimal, memperbaiki lahan yang rusak atau kritis, dan melakukan upaya pencegahan kerusakan tanah akibat erosi. Untuk melakukan tindakan konservasi tanah diperlukan kriteria penetapan  pengendalian erosi. Teknik konservasi yang kerap diterapkan petani sekitar antara lain teknik secara vegetatif dan mekanik. Teknik konservasi secara vegetatif yaitu setiap pemanfaatan tanaman atau vegetasi sebagai media pelindung tanah dari erosi, penghambat laju aliran permukaan dan perbaikan sifat-sifat tanah. Sedangkan teknik konservasi secara mekanik yaitu dengan upaya pembuatan teras bangku.

1.2.     Tujuan

1)         Untuk mengetahui dan meganalisis tingkat erosi pada lahan

2)         Untuk menentukan rekomendasi konservasi tanah dan air pada sub DAS Corogrojong

1.3.     Alur Pikir

Gambar 1. Alur Pikir

 

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.     Pengertian Erosi

Erosi merupakan peristiwa terangkutnya tanah atau bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami. Pada peristiwa erosi, tanah atau bagian bagian tanah terkikis dan terangkut, kemudian diendapkan di tempat lain (Arsyad, 2010).

Sedangkan menurut Manik (2003) menyatakan bahwa erosi merupakan proses penghancuran, pengikisan dan pengangkutan butir-butir tanah atau bagian-bagian tanah dari tempat yang satu ke tempat lain oleh air atau angin. Kehilangan tanah saat terjadinya erosi bergantung pada jumlah tanah yang terangkut dari tempat itu

Dan menurut  Menurut Kartasapoetra et al.(2005), erosi merupakan pengikisan atau kelongsoran, dimana sesungguhnya proses penghanyutan tanah oleh desakan atau kekuatan air dan angina, baik yang berlangsung secara alami maupun sebagai akibat dari tindakan manusia.

2.2.     Proses Terjadinya Erosi

Erosi tanah terjadi melalui dua proses yaitu proses penghancuran partikel tanah (detachment) dan proses pengangkutan (transport) partikel-partikel tanah yang sudah dihancurkan. Proses tersebut terjadi akibat hujan (rain) dan aliran permukaan (run off) yang dipengaruhi berbagai faktor seperti curah hujan, intensitas, diameter, lama dan jumlah hujan, karakteristik tanah, tutupan lahan, kemiringan lereng, dan juga panjang lereng. sebagainya (Wischmeier dan Smith 1978, dalam Banuwa, 2008).

2.3.     Pendugaan Erosi dengan Metode USLE

Suatu model parametrik untuk menduga erosi dari suatu bidang tanah telah dilaporkan oleh Wischemeir dan Smith (1965, 1978), dengan nama Universal Soil Loss Equation (USLE). Model USLE ini menduga laju rata-rata erosi di suatu bidang tanah pada berbagai kecuraman lereng dengan pola hujan tertentu untuk setiap usaha pertanaman dan tindakan pengelolaan tanah yang mungkin dilakukan atau sedang diusahakan (Arsyad 2010).

Menurut As-syakur (2008), metode USLE merupakan metode yang umum digunakan untuk memprediksi laju erosi. Selain sederhana, metode ini cocok diterapkan pada daerah yang memiliki faktor utama penyebab erosin berupa hujan dan aliran permukaan. Wischmeier (1976) cit. Risse et al. (1993) menyatakan bahwa metode USLE didesain untuk memprediksi kehilangan tanah karena erosi dan diendapkan pada segmen lereng bukan pada hulu DAS tersebut, dan juga memprediksi rerata jumlah erosi dalam jangka waktu yang panjang. Tujuan utama dari model erosi untuk melakukan prediksi pada sebidang tanah, yaitu memperkirakan laju erosi yang akan terjadi dari tanah yang dipergunakan dalam penggunaan lahan dan pengelolaan tertentu (Arsyad 1989). Jika laju erosi yang dapat diperkirakan dan laju erosi yang masih dapat ditoleransikan sudah dapat ditetapkan, maka dapat ditentukan kebijakan penggunaan lahan dan tindakan konservasi tanah yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah dan dapat dipergunakan secara produktif dan lestari.

Persamaan dari USLE tersebut adalah:

A = R. K. LS. C. P

Keterangan :

A : besar erosi (ton/ha/thn)

R : faktor erosivitas hujan

K : faktor erodibilitas tanah

LS : faktor topografi yaitu panjang (L) dan kemiringan lereng (S)

C : faktor pengelolaan tanaman

P : faktor tindakan konservasi tanah

2.4.     Strategi Konservasi

Begitu besarnya bahaya erosi yang pada akhirnya merugikan kehidupan manusia, oleh karena itu beberapa ahli membagi faktor-faktor yang menjadi penyebab erosi dan berupaya untuk menanggulanginya. Menurut (Rahim, 2000) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi erosi adalah :

  1. Energi, yang meliputi hujan, air limpasan, angin, kemiringan dan panjang lereng
  2. Ketahanan; erodibilitas tanah (ditentukan oleh sifat fisik dan kimia tanah), dan
  3. Proteksi, penutupan tanah baik oleh vegetasi atau lainnya serta ada atau tidaknya tindakan konservasi.

Nasiah (2000) menyatakan bahwa kemampuan mengerosi, agen erosi, kepekaan erosi dari tanah, kemiringan lereng, dan keadaan alami dari tanaman penutup tanah merupakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap erosi tanah.

Arsyad (1989) menyatakan bahwa erosi adalah akibat interaksi kerja antara faktor-faktor iklim, topografi, tumbuh-tumbuhan (vegetasi), dan manusia terhadap tanah sebagai berikut :

E = f ( i.r.v.t.m )

Keterangan :

E = Erosi                     i = Iklim

v = Vegetasi                m = Manusia

f = fungsi                     r = Topografi

t = Tanah

  1. a) Iklim

Iklim merupakan faktor terpenting dalam masalah erosi sehubungan dengan fungsinya. Sebagai agen pemecah dan transpor. Faktor iklim yang mempengaruhi erosi adalah hujan. Banyaknya curah hujan, intensitas dan distribusi hujan menentukan dispersi hujan tehadap tanah, jumlah dan kecepatan permukaaan serta besarnya kerusakan erosi. Angin adalah faktor lain yang menentukan kecepatan jatuh butir hujan. Angin selain sebagai agen transport dalam erosi di beberapa kawasan juga bersama-sama dengan temperatur, kelambaban dan penyinaran matahari berpengaruh terhadap evapotranspirasi, sehingga mengurangi kandungan air dalam tanah yang berarti memperbesar kembali kapasitas infiltrasi tanah.

  1. b) Topografi

Kemiringan dan panjang lereng adalah dua faktor yang menentukan karakteristik topografi suatu daerah aliran sungai. Kedua faktor tersebut penting untuk terjadinya erosi karena faktor-faktor tersebut menentukan besarnya kecepatan dan volume air larian. Unsur lain yang berpengaruh adalah konfigurasi, keseragaman dan arah lereng.

Panjang lereng dihitung mulai dari titik pangkal aliran permukaan sampai suatu titik dimana air masuk ke dalam saluran atau sungai, atau dimana kemiringan lereng berkurang sedemikian rupa sehingga kecepatan aliran air berubah. Air yang mengalir di permukaan tanah akan terkumpul di ujung lereng. Dengan demikian berarti lebih banyak air yang mengalir dan semakin besar kecepatannya di bagian bawah lereng dari pada bagian atas.

  1. c) Vegetasi

Vegetasi penutup tanah yang baik seperti rumput yang tebal, atau hutan yang lebat akan menghilangkan pengaruh hujan dan topografi terhadap erosi yang lebih berperan dalam menurunkan besarnya erosi adalah tumbuhan bahwa karena ia merupakan stratum vegetasi terakhir yang akan menentukan besar kecilnya erosi percikan. Pengaruh vegetasi terhadap aliran permukaan dan erosi dibagi dalam lima bagian, yakni:

1)         Sebagai intersepsi hujan oleh tajuk tanaman.

2)         Mengurangi kecepatan aliran permukaan dan kekuatan perusak air.

3)         Pengaruh akar dan kegiatan-kegiatan biologi yang berhubungan dengan pertumbuhan vegetasi dan pengaruhnya terhadap stabilitas struktur dan porositas tanah.

4)         Transpiransi yang mengakibatkan kandungan air tanah berkurang sehingga meningkatkan kapasitas infiltrasi.

  1. d) Tanah

Berbagai tipe tanah mempunyai kepekaan terhadap erosi yang berbeda-beda. Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi kepekaan erosi adalah (1) sifat-sifat tanah yang mempengaruhi laju infiltrasi, permeabilitas menahan air, dan (2) sifat-sifat tanah yang mempengaruhi ketahanan struktur tanah terhadap dispersi dan pengikisan oleh butir-butir hujan yang jatuh dan aliran permukaan. Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi erosi adalah tekstur, struktur, bahan organik, kedalaman, sifat lapisan tanah, dan tingkat kesuburan tanah.

  1. e) Manusia

Manusia dapat mencegah dan mempercepat terjadinya erosi, tergantung bagaimana manusia mengelolahnya. Manusialah yang menentukan apakah tanah yang dihasilkannya akan merusak dan tidak produktif atau menjadi baik dan produktif secara lestari. Banyak faktor yang menentukan apakah manusia akan mempertahankan dan merawat serta mengusahakan tanahnya secara bijaksana sehingga menjadi lebih baik dan dapat memberikan pendapatan yang cukup untuk jangka waktu yang tidak terbatas.

2.5.     Jenis-jenis erosi

  1. Erosi Air

Erosi air dimulai dari jatuhnya air hujan. Air hujan tersebut tidak mampu memecahkanagregat (bahan-bahan mineral yang tidak bergerak seperti batu kerikil dan debu) danmenghempaskan partikel-partikel bersama percikan air hujan. Adapun bentuk atau tipe erosinya sebagai berikut :

 

  1. Pelarutan Tanah

Kapur mudah dilarutkan air sehingga di daerah kapur sering di temukan sungai-sungai di bawah tanah.

  1. Erosi Percikan (Splash Erosion)

Curah hujan yang jatuh langsung ke tanah dapat melempar butr-butir tanah sampai setinggi1 meter keudara. Didaerah yang berlereng, tanah yangt terlempar tersebut umumnya jatuhkelereng dibawahnya.

  1. Erosi Lembar (Sheet Erosion)

Pemindahan tanah terjadi lember demi lember (lapis demi lapis) mulai dari lapisan yangpaling atas. Erosi sepintas lalu tidak terlihat, karena kehilangan lapisan-lapisan tanahseragam, tetapi dapat berbahaya karena pada suatu saat seluruh top soil akan habis.

  1. Erosi Alur (Rill ERosion)

Dimulai dengan genagan-genagan kecil setempat-setempat di satu lereng, maka bila airdalam genagan tersebut mengalir, terbentuklah alur-alur bekas aliran tersebut. Alur-alurtersebut mudah di hilangkan dengan pengolahan tanah biasa.

  1. Erosi Gully (Gully Erosion)

Erosi ini merupakan lanjutan dari erosi alur tersebut. Karena alur yang terus-menerusdigerus oleh aliran-aliran air terutama daerah-daerah yang banyak hujan, maka alur-alurtersebut menjadi dalam dan lembare dengan aliran yang lebih kuat. Alur-alur tersebuttidak dapatb hilang dengan pengolahan tanah biasa.

  1. Erosi Parit (Channel Erosion)

Arit-parit yang besar sering masih terus mangalir lama setelah hujan berhenti. Aliran airdalam parit ini dapat mengikis dasar parit atau dinding (tebing) parit dibawah permukaanair, sehingga tebing diatasnya dapat runtuh ke dasar parit. Adanya gejala Neader darisuatu aliran dapat meningkatan pengikisan tebing di tempat-tempat tertentu (Beasley,1972).Erosi juga dapat mneyebabkan longsor. Tanah longsor terjadi karena gaya grafitasi . padaumumnya, karena di bagian bawa tanah terdapat lapisan yang licin dan kedap air (sukardi tembus air) seperti batuan liat. Pada saat musim hujan, tanah di atasnya menjadi jenuhair sehingga berat dan bergeser ke bawah melalui lapisan yang licintersebut sebagai tanah longsor.

  1. Erosi angin

Erosi angin terjadi di daerah berpasir, mengakibatkan terbentuknya bukit-bukit pasir.Proses pengikisan bantuan yang dilakukan oleh angin disebut deflasi. Proses erosi inihanya terjadi di daerah yang kering, misalnya: padang pasir dan pantai berpasir.

  1. Erosi Gletser

Erosi gletser disebut juga extarasi gletser atau es. Terdapat di daerah kutub dan puncak-puncak gunung tinggi seperti Gunung Himalaya, Alpen, Rocky Mountain, pegunungan Jaya Wijaya.

  1. Erosi Abrasi

Erosi abrasi menyebabkan terbentuknya cliff. Cliff adalah lereng dengan dinding bagianatas menggantung karena dinding bagian bawah telah terkikis oleh gelombang air laut.

 


BAB III. METODE

3.1.     Tempat Dan Waktu

Proyek erosi bertempat di Das Kali Konto, Sub – Das Corogrojong. Pengamatan dan pendugaan erosi dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu, 28 dan 29 April 2018 di Desa Ngroto, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Indonesia.

3.2.     Alat Dan Bahan

3.2.1  Alat

Tabel 1. Alat dan Fungsinya

No Alat Fungsi
1 Survei Set Untuk pengamatan morfologi tanah
2 Stereoskop Saku Untuk pengamatan landform di lapang
3 pH Universal Untuk pengamatan pH
4 Cangkul Untuk pembuatan minipid
5 Bor Untuk pengamatan morfologi tanah
6 Papras Untuk pembuatan minipid

3.2.2  Bahan

Tabel 2. Bahan dan Fungsinya

NO Bahan Fungsi
1 Peta Dasar DAS-Sub DAS Untuk menentukan batas sub-DAS lokasi project
2 Peta Administrasi Untuk menentukan batas administrasi pada lokasi project
3 Peta Penggunaan Lahan Untuk menentukan penggunaan lahan pada lokasi project
4 Peta Geologi Untuk menentukan informasi geologi pada lokasi project
5 Peta Lereng Untuk menentukan kelerengan pada lokasi project
6 Peta Landform Untuk menentukan informarsi landform pada lokasi project

3.3.     Tahapan Dan Pelaksanaan Proyek

Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan survey langsung ke lapang. Terdapat dua sumber data yang dapat digunakan untuk inventarisasi. Sumber pertama ialah kegiatan pengamatan dan pengukuran langsung atas objek inventarisasi. Data pertama tersebut dinamakan data primer. Data primer tersebut antara lain data R yang didapatkan melalui perhitungan data fournier indeks (F) dan indeks kemasaman Bagnouls-Gaussen (B). Kemudian data K diperoleh dari perhitungan tekstur tanah (Sr), kedalaman tanah (So), dan keberadaan batu (Ss) yang ada ditanah. Setelah mendapatkan data R dan K, maka selanjutnya menghitung nilai resiko erosi potensial (Ep) dan didukung data lereng (S). Kemudian langkah terakhir adalah menentukan nilai resiko erosi aktual (Ea) dengan perhitungan nilai resiko erosi potensial (Ep) dan data tutupan lahan (V) Sumber kedua adalah bahan pustaka atau dokumen tertulis yang memuat data yang dikumpulkan oleh orang lain, data yang diperoleh tersebut dinamakan data sekunder.

Gambar 2. Alur Kerja

 


 

DAFTAR PUSTAKA

As-Syakur, A.R. 2008. Prediksi Erosi Dengan Menggunakan Metode USLE Dan Sistem Informasi Geografi (SIG) Berbasis Piksel Di Daerah Tangkapan Air Danau Buyan. Proseding PIT XVII MAPIN. pp 1-11

Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Institut Pertanian Bogor, Bogor

Hardjowigeno. 2003. Ilmu Tanah. Akademi Pressindo, Jakarta

Nasiah. 2000. Evaluasi Kemampuan Lahan dan Tingkat Bahaya Erosi Untuk Prioritas. UGM. Yogyakarta

Rahim, S. E. 2000. Pengendalian Erosi Tanah Dalam Rangka Pelestarian Lingkungan Hidup. Bumi Aksara, Jakarta

No tags

Feb/18

27

Landform Vulkanisme

Vulkanisme adalah peristiwa keluarnya magma (lelehan panas bebatuan) dari litosfer (lapisan dibawah permukaan bumi) ke permukaan bumi atau segala kegiatan magma dari lapisan dalam litosfer ke lapisan yang lebih atau keluar permukaan bumi (dalam arti luas). Suatu gunung dapat dikatakan bahwa gunung tersebut merupakan gunung berapi jika memiliki kepundan, yaitu tempat keluarnya magma dan gas ke permukaan bumi. Pembagian macam gunung berapi dibagi menjadi 3 macam berdasarkan aktifitasnya. Pertama gunung berapi aktif, gunung yang memiliki tingkat aktifitas vulkanisme yang sangat aktif (sering mengeluarkan abu vulkanik dan material vulkan). Kedua gunung berapi istirahat, gunung yang memiliki tingkat aktifitas vulkanisme cukup aktif. Gunung berapi tersebut tidak sesering mengeluarkan abu vulkanik dan material vulkan. Ketiga gunung berapi tidak aktif, gunung berapi tersebut pada dasarnya merupakan gunung aktif akan tetapi terdapat suatu kejadian pada kepundan gunung berapi tersebut. Ketika kepundan gunung berapi tersebut tersumbat oleh magma yang telah membeku terlebih dahulu sebelum keluar dari kepundan tersebut, maka kepundan akan tertutup dan saluran tempat keluarnya magma akan tersumbat. Peristiwa itulah yang dapat menyebabkan gunung berapi menjadi tidak aktif.

Indonesia memiliki kurang lebih 500 gunung berapi, 129 diantaranya merupakan gunung berapi yang aktif, dan 20 dari 129 tersebut sering meletus. Akan tetapi dengan adanya peristiwa meletusnya gunung berapi, disamping memiliki dampak negatif berupa bencana alam hal tersebut juga memberikan dampak positig berupa adanya renewable (pembaharuan sifat tanah khususnya pada sifat kimia)

Pergerakan  magma bisa terjadi kesemua arah bahkan magama tersebut bisa sampai ke permukaan bumi, magma yang tidak keluar bumi dan tetap berada di bawah permukaan bumi disebut instrnuksi magma. Meskipun magma tersebut tidak dapatmencapai permukaan bumi, instruksi magma ini bisa mengangkat lapisan kulit bumi menjadi cembung hingga membentuk tonjolan berupa pegunungan. Sedangkan magma yang bergerak dan mencapai ke permukaan bumi disebut ekstruksi magma. Adanya ekstruksi inilah yang menyebabkan adanya gunung api (Vulkan).

  1. Instruksi magma

Instruksi magma adalah menyusupnya magma diantar lapisan batuan, tetapi tidak mencapai permukaan bumi. Tenaga yang mengangkat magma tersebut dapat dikatakan kecil sehingga magma hanya masuk diantara celah celah batuan. Instrusi magma, mengakibatkan terbentuknya beberapa jalur, lubang dan relief di dalam bumi. Beberapa bentuk yang dihasilkan oleh instrusi magma adalah batolit, lakolit, sill, diaterma, koron dan apolisa.

  • Batolit, terbentuk akibat penurunan suhu dibawah gunung berapi, ketika terjadi letusan gunung api batolit sangat mempengaruhi tinggi rendahnya tekanan pada gunung berapi. Semakin dalam letak batolit maka semakin tinggi tekanannya. Volume batolit mempengaruhi besar rendahnya letusan gunung berapi, karena batolit merupakan bagian penting dalam gunung berapi. Batolit memiliki ukuran yang cukup besar dan tidak beraturan. Batuan beku yang terbentuk disekitar dapur magma. Batuan ini tersentuk akibat pendinginan magma yang terjadi di sekitar dapur magma.
  • Lakolit, magma yang menyusup diantara lapisan batuan yang menyebabkan lapisan batuan diatasnya terangkat hingga menyerupai lensa cembung akibat tekanan dari magma, sementara permukaan diatasnya tetap rata. Lakolit ukurannya lebih kecil jika dibandingkan dengan intrusi magma lainnya, yakni sampai 16 km (10 mil) saja diameternya. Ketebalan lakolit berkisar antara beberapa ratus meter sampai ribuan meter, tergantung wilayahnya.
  • Diaterma, batuan yang megisi pipa letusan, bentuk silinder, mulai dari dapur magma sampai ke permukaan bumi. Diaterma bisa menunjukkan kandungan mineral bernilai ekonomis yang ada di perut bumi.
  • Sill, merupakan lapisan magma tipis yang menyusup diantara lapisan batuan ditas, datar dibagian atasnya. Sill atau sheet(lembaran) terbentuk diantara lapisan batu yang usdah ada sebelumnya. Letak sill berdiri parallel dengan lapisan batuan lain yang menyertakannya. Sill lebih banyak idtemukan diposisi horizontal daripada vertical. Sill memiliki ketebalan satu satu smapai ratusan kaki dengan luas permukaan sampai ratusan mil. Berdasarkan jumlah intrusi magma yang terjadi dan jenis-jenis batuan yang dikandungnya, sill dibagi menjadi tiga macam :

–          Simple sill, adalah sill yang dihasilkan oleh satu proses intrusi magma

–          Multiple sill, adalah sill yang dihasilkan oleh dua atau lebih intrusi magma

–          Composite sill, adalah sill yang mengandung lebih dari satu jenis batuan yang berada diantara lapisan batuan lain yang telah mengalami satu episode intrusi magma.

  1. Ekstruksi magma

Ekstruksi magma adalah peristiwa penyusupan magma hingga keluar ke permukaan bumi dan membentuk gunung api. Hal ini terjadi apabila tekanan gas cukup kuat dan ada retakan pada kulit Bumi sehingga menghasilkan letusan yang sangat dahsyat. Saat ada celah pada permukaan bumi, maka magma akan keluar. Bahan yang dikeluarkan pada saat terjadi proses ekstruksi magma terutama ketika terjadi letusan gunung api adalah material yang berbentuk padat (eflata/piroklastik) dan dalam wujud cair brupa lava dan lahar. Ekstruksi magma memiliki berbagai macam jenis, ekstruksi magma dibagi menjadi dua jenis, yaitu berdasarkan materi yang dikeluarkan dan berdasarkan tempat magma keluar. Berdasarkan materi yang dikeluarkan ekstruksi magma dibagi menjadi tiga yaitu eksplosif, effusive dan campuran.

  • Ekstrusi sentral, yiatu magma keluar melalui sebuah saluran magma (pipa kawah) dan membentuk gunung-gunung dan letaknya tersendiri. Ekstruksi melahirkan tipe letusan gunung api. Contoh : gunung Krakatau
  • Ekstruksi linier, yaitu magma keluar melalui retakan atau celahan yang memanjang sehingga mengakibatkan terbentuknya deretan gunung api yang kecil-kecil disepanjang retakan itu. Contoh : gunung api Laki di pulau Eslandia yang memanjang 30 km.

No tags

Feb/18

27

Landform Tektonisme

Munculnya batuan tersebut yang kemudian bisa melapuk atau berkembang menjadi tanah dipengaruhi adanya tenaga dari dalam bumi. Tenaga tersebut berasal dari perut bumi, tenaga tersebut adalah tenaga eksogen dan tenaga endogen. Tenaga endogen tersebut memiliki 3 macam bentuk yaitu tektonisme, vulkanisme dan seisme. Dari ketiga bentuk tersebut akan dibahas secara lebih rinci terkait Tektonisme.

Tektonisme merupakan tenaga dari dalam bumi yang mengakibatkan adanya perubahan letak atau perubahan bentuk dari kulit bumi. Sehingga ketika terjadi perubahan bentuk atau perubahan letak bias jadi lapisan yang menjadi penyusun bumi tersebut mengalami keretakan atau pecah menjadi potongan-potongan.  Hasil dari retakan tersebut dikarenakan adanya tekanan secara horizontal maupun vertikal. Berdasarkan kecepatan gerak dan luas daerahnya, tektonisme dibagi menjadi dua, yaitu :

a.       Epirogenesa

Epirogenesa merupakan gerakan pada lapisan kulit bumi secara hprisontal maupun vertikal yang diakibatkan adanya pengangkatan dan penurunan permukaan bumi yang sangat lambat sehingga membutuhkan waktu yang sangat lama serta cakupan wilayah tersebut sangat luas. Adanya gerakan epirogenesa ini ditandai dengan kenaikan permukaan air laut sehingga garis pantai pindah ke daratan karena daratan mengalami penurunan. Hal ini juga bias dilihat dari adanya bagian pantai yang berteras yang disebabkan karena adanya pengangkatan yang berulang kali. Gerak epirogenesa ini terdapat dua macam yaitu gerak epirogenesa positif dan gerak epirogenesa negatif.

Gerak epirogenesa positif, merupakan gerak turunnya daratan sehingga seolah-olah permukaan air naik. Hal ini dapat ditemukan di pantai atau sungai. Contoh dari gerak epirogenesa positif ini adalah penurunan pulau-pulau di Indonesia bagian timur (kepulauan Maluku dari pulau-pulau di barat daya Maluku sampai pulau Banda).

Gerak epirogenesa negatif, merupakan gerak naiknya daratan sehingga permukaan air menjadi menurun. Beberapa hal yang menunjukkan terjadinya gerakan epirogenesa negative adalah bentuk pantai yang berteras karena permukaan kulit bumi mengalami kenaikan atau pengangkatan yang terjadi secara berulang kali. Contoh hal yang adalah naiknya pulau Timor dan Pulau Button, naiknya dataran tinggi Coloradi di Amerika.

b.      Orogenesa

    Orogenesa berasal dari bahasa latin, yaitu Oros yang berarti pegunungan dan Gennao yang berarti pembentuk. Secara sederhana orogenesa adalah gerakan yang menyebabkan terbentuknya pegunungan dan waktu yang dibutuhkan relative lebih singkat dibandingkan dengan epirogenesa. Gerakan orogenesa ini menimbulkan patahan atau lipatan.

·         Lipatan, merupakan gerak tekanan horizontal yang menyebabkan kulit bumi yang elastis mengalami pengerutan, pelipatan dan menghasilkan relief muka baru berbentuk pegunungan. Contoh dari lipatan ini adalah pegunungan lipatan Himalaya, terlipatnya lapisan batuan ini mendorong terbentuknya perbukitan (Antiklinal) dan lembah (Sinklinal). Lipatan yang dapat terjadi tidak hanya satu macam, tetapi lipatan ini mempunyai lebih dari satu macam, diantaranya :

1.                  Lipatan tegak (symmetrical folds), terjadi karena pengaruh tenaga horizontal sama atau tenaga radial sama dengan tenaga tangensial.

2.                  Lipatan miring (asymmetrical folds), terjadi karena arah tenaga horizontal tidak sama.

3.                  Lipatan menutup (recumbent folds), terjadi karena tenaga tangensial saja yang bekerja.

4.                  Lipatan rebah (overturnes folds), terjadi karena arah tenaga horizontal dari satu arah.

5.                  Lipatan sungkup (overthrust), terjadi karena adanya pergerakan pada sepanjang kerak bumi.

·         Patahan atau Fault Process akan terjadi ketika lempeng yang membentuk kerak bumi bergerak dan saling berdekatan. Gerakan ini akan memberikan tegangan yang besar sehingga dapat memecahkan batuan. Tempat batuan pecah disebut dengan patahan. Patahan dapat terjadi karena adanya tenaga endogen yang mempunyai arah mendatar dan juga saling menjauh satu sama lain sehingga pada bongkahan tersebut terjadi retakan-retakan dan kemudian membentuk bagian yang baru. Macam-macam patahan diantaranya :

1.             Patahan Vertikal, merupakan patahan yang terjadi akibat tenaga endogen. Patahan ini menyebabkan sesar bergerak keatas dan kebawah. Adanya patahan vertikal ini menyebabkan relief dimuka bumi ini memiliki tinggi yang berbeda-beda. Bentuk patahan vertikal dibagi menjadi empat yaitu :

a.              Horst, dataran yang mengalami kenaikan akibat adanya tenaga endogen

b.             Graben, dataran yang mengalami penurunan akibat dari tarikan tenaga endogen.

c.              Faultt Scrap, bentukpatahan yang terjadi akibat dorongan dari satu sisi saja.

d.             Pegunungan patahan, bentuk patahan yang berbentuk seperti tangga

2.             Patahan Horizontal, bentuk patahan yang diakibatkan karena adanya tenaga endogen yang bergerak secara horizontal. Patahan ini hanya berbentuk seperti garis-garis atau retakan besar yang ada didalam tanah. Patahan horizontal dipisahkan menjadi dua yaitu :

a.              Dekstral, patahan horizontal yang bergerak kearah kanan

b.             Sinistral, patahan yang bergerak kearah kiri

3.             Block Mauntain, merupakan kumpulan dari patahan-patahan ynag tidak beraturan. Tekanan ini membuat tarikan dan dorongan yang menghasilkan relief tidak beraturan.

Oblique, merupakan sesar yangbmengalami patahan vertiksal  bersamaan dengan patahan horizontal.

No tags

Feb/18

14

Tugas Kuliah Analisis Landskap Terpadu Kelas C Kelompok 2

 KLIPING

MATA KULIAH ANALISIS LANDSKAP PERTANIAN

Studi Kasus “Banjir, Penghubung Batu-Pacet Tertutup Lumpur”

 

 

 Disusun Oleh:

Hidayah Ajeng Dwi P J Q      155040200111021

Bagastyayoga Fiskal A           155040200111100

Muhammad Firly R                 155040201111190

Felinda Mutiara Putri              155040201111104

Chosa Zahro Fatiha                 155040207111040

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

 

  1. Artikel Peristiwa Banjir Lumpur Di Kota Batu, Malang

Hujan deras yang melanda Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaj, Kota Batu, Malang pada  pukul 15.00 WIB pada hari sabtu (03/02/2018) membawa bencana bagi warga sekitar, karena hujan yang deras mengakibatkan banjir lumpur. Penyebab terjadinya banjir lumpur pada daerah tersebut yaitu meningkatnya debit air di lahan pertanian warga pasca hujan lebat yang mengguyur Desa Sumber Brantas selama 3 jam yang mengakibatkan plengsengan penahan lahan pertanian ambrol karena tidak kuat menahan intensitas curah hujan yang tinggi, sehingga terjadi banjir lumpur yang mengalir dari lahan pertanian warga hingga ke jalan raya.

Derasnya aliran air yang mengalir dari saluran air menuju ke lahan pertanian yang lebih rendah mengakibatkan ambrolnya sebagian bahu jalan di kawasan tersebut karena tanah yang berada di bagian bawah  jalan ikut tergerus terbawa aliran air. Selain plengsengan warga setempat juga mengalami kerugian karena lahan pertanian mereka rusak, sehingga mereka tidak dapat melakukaan penanaman tanaman pada awal musim tanam, dan terganggunya aktifitas di sepanjang jalan yang menyebabkan banjir lumpur, disebabkan oleh hujan yang deras.

Peristiwa ini bukan kali pertama terjadi di Desa Sumber Brantas, bencana banjir lumpur yang tidak hanya menggenangi jalan raya dan lahan pertanian milik warga saja, namun banjir lumpur ini juga menerjang hingga ke rumah-rumah warga.  Jalur penghubung Kota Batu-Pacet-Mojokerto tertutup lumpur hingga sepanjang 50 meter, sehingga pengendara yang hendakkanmelintasi jalur tersebut dihimbau untuk putar arah karena kondisi jalan yang sangat membahayakan.

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu Achmad Rochim menjelaskan , banjir bandang yang terjadi pada bulan November lalu terjadi karena hujan lebat, debit air di lahan pertanian warga meningkat. Akibatnya, plengsengan penahan lahan pertanian warga ambrol sehingga terjadi banjir lumpur. Hal ini menunjukkan bahwa hujan yang lebat menjadi faktor pemicu utama banjir lumpur di Desa Sumber Brantas yang terjadi pada bulan November dan 3 Februari lalu.

Oleh sebab itu dengan adanya peristiwa banjir lumpur akibat hujan yang lebat, maka diperlukan penanaman pengalihfungsian hutan kembali dari lahan hutan menjadi lahan tanaman hortikultura dan diperluakan tindakan penggunaan pohon khususnya di wilayah hutan agar akar tanaman tersebut mampu menahan permukaan tanah dari pukulan air hjan, sehingga tidak terjadi erosi yang kemudian jika tingkat erosi semakin besar makan longsor akan terjadi.

  1. Mengapa Malang Raya Banyak Dikelilingi Gunung Api ?

Indonesia adalah negara kepulauan yang kaya akan gunungapi. Tidak kurang dari 130 gunungapi aktif atau kurang lebih 17 persen dari jumlah gunungapi di dunia terdapat di Indonesia. Gunung-gunung tersebut tersebar di pulau-pulau besar seperti Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Irian serta pulau-pulau kecil seperti Pulau Bali, Lombok, Sumba, Sumbawa dan Flores, Kepulauan Banda, Maluku Utara, Sangihe bahkan ada yang terdapat di laut seperti Gunung Krakatau.

Ada tiga jalur sistem gunungapi di Indonesia, yaitu:

  1. Gunung api yang termasuk jalur Pegunungan Mediterania yang terbagi dalam dua rangkaian yaitu:
  2. Gunung-gunung yang terletak pada suatu jalur gunung api busur dalam (inner arc) yang merupakan jalur vulkano aktif yang melewati kepulauan Andaman, Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Sumba, Flores, Alor, Wetar, Damar dan Laut Banda.
  3. Jalur gunung api busur luar (outer arc) yang melewati pulau-pulau Simeuleue, Nias, Batu. Mentawai, Enggano, selatan Pulau Jawa, kemudian muncul di Pulau Sawu, Roti, Timor, Sermata, Buru dan sekitarnya
  4. Gunung api yang termasuk jalur pegunungan (sirkum) Pasifik yakni Gunung Lompo batang di Sulawesi Selatan, terus ke Sulawesi Utara yakni Gunung Lokon, Soputan, dan Klabat, terus melewati Kepulauan Sangihe, Talaut, Tidore dan Ternate.
  5. Gunung api yang termasuk jalur pegunungan lingkar Australia yaitu yang melewati Pulau Halmahera dan Papua.

Persebaran gunung api ini tersebar merata di daerah pulau jawa, yang mana Kabupaten Malang juga dilewati oleh gunung api dengan jalur mediterania gunung-gunung yang terletak pada suatu jalur gunung api busur dalam (inner arc) maupun jalur gunung api busur luar (outer arc). Hal tersebut mengakibatkan Kabupaten Malang dikelilingi oleh gunung api. Aktifitas lava dari gunung api inilah yang nantinya akan membentuk anakan gunung dan bukit-bukit disekitarnya. Gunung api yang berada di daerah Malang antara lain : Gunung Arjuno Welirang, Gunung Bromo, Gunung Kawi, Gunung Anjasmoro dan Gunung Kelud. Gunung-gunung yang sudah lama tidak mengeluarkan lava sebenarnya lava didalamnya masih aktif namun tidak ada celah keatas untuk keluar, maka dari itu lava dari gunung api tersebut mencari jalan dan akhirnya memunculkan gunung baru. Seperti akibat dari aktivitas lava gunung Kawi yang tidak dapat keluar keatas maka lava tersebut mencari celah kesamping dan memunculkn gunung baru, yaitu gunung Wukir. Hal seperti inilah yang mengakibatkan kabupaten Malang dikelilingi oleh banyak gunung.

Gambar Sebaran Gunung Api di Jawa Timur 

  1. Deskripsi Kondisi Lansekap Pada Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu

Malang terletak di bagian tengah Provinsi Jawa Timur, dengan luas sekitar 3.534,86 km2 (353.486 hektar). Terdapat DAS sumber brantas, Wilayah DAS ini sebagian besar berada di Kota Madya Batu dan sebagian kecil berada di Kabupaten Malang (Kecamatan Pujon dan Karangploso). Bagian hulu termasuk kawasan Taman Hutan Raya (Tahura Suryo). Secara geografik terletak pada 115017‟0‟$E2 hingga118019‟0‟‟ Bujur Timur dan 7055‟30‟‟ hingga 7057‟30‟‟ Lintang Selatan. DAS Sumber Brantas ini berada di wilayah pegunungan vulkanik yang mengelilinginya, yaitu Gunung Arjuna-Welirang, Gunung Anjasmara dan Gunung Kawi-Butak.

  1. Kondisi Landform

Kondisi geologi dan proses pembentukan lahan menghasilkan bentuk lahan yang dipengaruhi oleh proses vulkanisme. Landform vulkanik yang terjadi akibat pergerakan lempeng yang terus menekan sejak jutaan tahun lalu hingga sekarang. Gunung api terbentuk pada empat busur, yaitu busur tengah benua, terbentuk akibat pemekaran kerak benua; busur tepi benua, terbentuk akibat penunjaman kerak samudara ke kerak benua, busur tengah samudera, terjadi akibat pemekaran kerak samudera dan busur dasar samudera yang terjadi akibat terobosan magma basa pada penipisan kerak samudera.

Gambar Macam Pergerakan Lempeng Bumi

Pergerakan antar lempeng ini menimbulkan empat busur gunungapi berbeda :

  1. Pemekaran kerak benua, lempeng bergerak saling menjauh sehingga memberikan kesempatan magma bergerak ke permukaan, kemudian membentuk busur gunungapi tengah samudera.
  2. Tumbukan antar kerak, dimana kerak samudera menunjam di bawah kerak benua. Akibat gesekan antar kerak tersebut terjadi peleburan batuan dan lelehan batuan ini bergerak ke permukaan melalui rekahan kemudian membentuk busur gunungapi di tepi benua.
  3. Kerak benua menjauh satu sama lain secara horizontal, sehingga menimbulkan rekahan atau patahan. Patahan atau rekahan tersebut menjadi jalan ke permukaan lelehan batuan atau magma sehingga membentuk busur gunungapi tengah benua atau banjir lava sepanjang rekahan.
  4. Penipisan kerak samudera akibat pergerakan lempeng memberikan kesempatan bagi magma menerobos ke dasar samudera, terobosan magma ini merupakan banjir lava yang membentuk deretan gunungapi perisai.

Berdasarkan reliefnya, bentuk lahan di wilayah Malang dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu jalur pelembahan sempit dan jalur aliran lahar, lalu dataran,  perbukitan, dan  pegunungan, dimana, berdasarkan posisinya pada suatu lereng dan kemiringan lerengnya, masih dapat dibagi lagi menjadi berbagai macam bentuk lahan. Jalur perlembahan tersebar di seluruh lokasi merupakan hasil proses denudasional/ pengikisan dari bentuk lahan asalnya. Pada beberapa jalur, ditumpuki oleh sedimentasi lahar tua atau debris. Kedalaman, lebar dan bentuknya tergantung lokasi jalur ini. Di bagian lereng atas pegunungan umumnya cukup lebar dan dalam dengan lemah bentuk V. Di bagian dataran, tidak terlalu lebar, tidak terlalu dalam dan berbentuk U.

Kondisi Lereng

Kemiringan lereng di wilayah Malang khususnya daerah DAS Brantas sangat bervariasi dari datar sampai sangat curam. Lereng datar dijumpai pada dataran antar gunung api di bagian tengah, termasuk dataran sempit antara Gunung Arjuna dan Anjasmara. Lereng terjal umumnya dijumpai pada tebing lereng hampir di semua lokasi. Lereng datar sampai agak datar (<8%) sekitar 19.18% luas areal berada pada dataran vulkanik antar pegunungan. Sebagian besar berada di Kecamatan Junrejo dan Batu dan sebagian kecil di Kecamatan Bumiaji. Di Kecamatan Bumiaji biasanya diusahakan untuk tanaman pangan (padi dan jagung), sedangkan di Kecamatan Batu dan Bumiaji untuk tanaman sayuran. Lereng landai (8-15%) sekitar 16.8% luas wilayah pada dataran berombak di kaki perbukitan yang dimanfaatkan untuk lahan budidaya (tanaman pangan di Kecamatan Bumiaji dan Batu), dan sayuran dan/ atau buah-buahan di Kecamatan Bumiaji. Lereng curam (25-40) sekitar 15.47 % luas wilayah pada kawasan kaki perbukitan atau tebing lembah yang ada di DAS Sumber Brantas. Penggunaan lahan berupa kebun campuran, tanaman pangan atau sayuran.

  1. Proses Geomorfologi

Seiring dengan keberagaman sumber daya alam di wilayah Kota Batu, prosesproses geomorfologi di setiap desanya juga sangat beragam. Dari keberagaman inilah tentunya banyak hal yang sangat perlu dikaji khususnya dalam ilmu kegeografian. Salah satu proses geomorfologi yang menjadi fenomena dan sering terjadi yaitu erosi. Erosi merupakan salah satu proses geomorfologi yang sering terjadi di Batu. Proses ini disebabkan oleh berbagai faktor. Erosi merupakan peristiwa yang sering berdampak negatif bagi masyarakat. Seperti halnya erosi tanah akan berpengaruh negatif terhadap produktivitas lahan yang meliputi kurangnya ketersediaan air, nutrisi, bahan organik, dan menghambat kedalaman perakaran (Herlambang, 2011).

Faktor yang berpengaruh terhadap erosi tanah di Desa Tulungrejo Batu yangdiduga berperan adalah curah hujan, kemiringan lereng, dan penggunaan lahan,Faktor curah hujan tidak bisa diubah sedangkanfaktor kemiringan lereng dapatdiatasi dengan teknik konservasi yaitu pembuatan teras dan juga teknik vegetatif. Faktor penggunaan lahan berperan dalam tindakan konservasi yang dilakukan di Tulungrejo. Sebagai contoh, untuk lahan tanaman ketang maka petani membuat kontur searah lereng dengan tujuan drainase pada lahan itu bagus sehingga tanaman kentang tidak busuk. Oleh karena itu, penggunaan lahan menentukan praktek konservasi yang ada pada lahan itu (Herlambang, 2011).

DAFTAR PUSTAKA

Angga, 2017. Banjir Jalan Penghubung Batu Pacet Tertutup Lumpur. Jati Times. Malang

Herlambang, Sudarno. 2011. Garis Besar Geomorfologi Daerah Lintang Rendah. Malang: UniversitasNegeri Malang.

No tags

Theme Design by devolux.nh2.me