Banyuwangi Travel Guide

Posted: 24th December 2013 by Bachtiar Djanan M in Uncategorized
Tags: , , ,

green turtle, Sukamade, Banyuwangi, East Java, Indonesia
Banyuwangi Discovery

Banyuwangi is located at the easternmost end of the Indonesian island of Java. It serves as a port between Java and the island of Bali. It is surrounded by mountains and forests to the west, by sea to the east and south. Banyuwangi is separated by Strait of Bali from Bali.

One Banyuwangi native group is the Osing community which has a Hindu culture although they can be considered as a Javanese sub-ethnic group. They live mainly in the central part of Banyuwangi and they sometimes consider themselves as Majapahit descendants. Other groups are Javanese (living mostly in the south and west), Madurese (mainly in the north and coastal area) and Balinese (scattered but more concentrated in the east). Other smaller groups include Chinese, Buginese, and Arabs.

The beauty of nature is spread across Banyuwangi from the west to the east. Mountains, forests and beaches mark the landscape of the regency. For instance, Ijen Crater, in the western part of Banyuwangi is famous for its beautiful crater lake, the traditional sulfur miners who amazingly climb up and down the slope of Mount Merapi, and the plantations that cover the Crater’s slope. The National Park of Meru Betiri is famous for its Java Tiger and turtles. These locations form the center of the Tourism Developed area which is called the Diamond Triangle, which connects one Tourism Object to another.

Banyuwangi also has various art, culture, customs and traditions. One of the typical arts of Banyuwangi is Gandrung, a welcoming dance for distinguished guests. The dance is the defining dance of Banyuwangi. Besides Gandrung, Seblang, Kuntulan, Damarwulan, Angklung, Ketoprak, Barong, Kendang Kempul, Jaranan are arts that can be seen in Banyuwangi. Other customs that can be observed in Banyuwangi include the sea offering, metik (a celebration performed before rice and coffee harvesting), Rebo Wekasan, Kebo Visit Banyuwangi the Real Tropical Country keboan, Ruwatan, Tumplek punjen, Gredoan, Endog-endogan, etc. These events are performed every year and are included in the Calendar of Events of Banyuwangi. The typical handicrafts and traditional foods are available across Banyuwangi. The products and places that should be visited are Batik Tulis at Temenggungan and Tempo, Bamboo handicraft at Kecamatan Rogojampi and Kalipuro, etc. Banyuwangi also has typical food products; such as bagiak, selai pisang (banana jam) etc.

Many European tourists visiting Bali come to Banyuwangi to surf in Plengkung and dive in Tabuhan Island. Ferries from Bali arrive at the port of Ketapang, some 8 km to the north of Banyuwangi city. Plekung Beach is also known as G-land or green land have 3 types of waves up to 6 to 8 meters tall.

Mbak Ratna, sang penulis, sang pejuang lingkungan hidup…

Posted: 5th April 2011 by Bachtiar Djanan M in Lingkungan Hidup

ratna indraswari ibrahim

Di kota Malang, bila ada sosok yang paling pantas dianggap sebagai guru, ibu, maupun kakak bagi kalangan pegiat sastra, pelaku budaya, dan para aktivis pergerakan, tentu beliau adalah seorang Ratna Indraswari Ibrahim. Mbak Ratna,  demikian biasanya panggilan akrab sang penulis cerpen yang telah menghasilkan tak kurang dari 400 cerpen semasa hidupnya.

Pada masa kanak-kanaknya, Mbak Ratna menderita penyakit rachitis (radang tulang) yang mengakibatkan Kedua kaki dan tangannya tidak berfungsi, sehingga semenjak usia 13 tahun beliau harus menjalani semua aktivitas kehidupannya dengan duduk di atas kursi roda. Namun keterbatasan fisik seperti ini bukan menjadi hambatan baginya untuk mengembangkan kemampuannya dalam menulis, dengan cara mendiktekan pemikirannya pada para asistennya untuk mengetik.

Mbak Ratna pernah berkuliah di Fakultas Ilmu Alam Universitas Brawijaya, Malang, namun tidak dirampungkannya, beliau memilih untuk menekuni dunia penulisan. Dengan perjuangan keterbatasan fisik seperti itulah cerpen dan novelnya lahir, dan memiliki karakter yang sangat khas dengan kewanitaannya. Karyanya antara lain : berupa kumpulan cerpen yang di muat dalam antologi Kado Istimewa (1992), Pelajaran Mengarang (1993), Lampor (1994), Laki-Laki yang Kawin dengan Peri (1995),  Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (1997), Lakon Di Kota Senja (2002) dan Waktu Nayla (2003). Menjelang akhir tahun 2002, penerbit Gramedia meluncurkan Sumi dan Gambarnya.

Novel-novel karya Mbak Ratna

Kumpulan cerpennya yang lain: Aminah di Suatu Hari, Menjelang Pati (1994), Namanya Masa (2000) dan Sumi dan Gambarnya (2003). Karya-karya cerpennya tersebut banyak dimuat di berbagai media massa seperti Kompas, Horison, Basis, Suara Pembaruan, Kartini, Sarinah, Jawa Pos dan banyak lagi. Mbak Ratna juga menerbitkan novel yaitu Bukan Pinang Dibelah Dua (2003) dan Lemah Tanjung (2003).

Atas peran aktifnya dalam dunia sastra, tercatat beberapa kali Mbak Ratna meraih beberapa penghargaan, antara lain, tiga kali berturut-turut cerpennya masuk dalam antologi cerpen pilihan Kompas (1993-1996), cerpen pilihan harian Surabaya Post (1993) serta juara tiga lomba penulisan cerpen dan cerbung majalah Femina (1996-1997).  Karyanya juga terpilih masuk dalam Antologi Cerpen Perempuan ASEAN (1996).

Di samping rajin menulis, sejak 1977 Mbak Ratna juga aktif menjadi ketua Yayasan Bhakti Nurani Malang dan Direktur I LSM Entropic Malang (1991). Karena aktivitas sosialnya inilah beliau mendapat kesempatan mengikuti berbagai seminar internasional, seperti Disable People International di Sydney, Australia, (1993),  Kongres Internasional Perempuan di Beijing, RRC (1995), Leadership Training MIUSA di Eugene Oregon, Amerika Serikat (1997), Kongres Perempuan Sedunia di Washington DC, Amerika Serikat (1997), serta pernah mendapat predikat Wanita Berprestasi dari Pemerintah RI (1994).

rumah Mbak Ratna, Jl. Diponegoro 3

Ada sebuah penghargaan “lucu” yang pernah diterima Mbak Ratna dan membuatnyaterbahak.  Pada tanggal 26 Juni 1996, Mbak Ratna mendapat piagam penghargaan yang ditandangani Menteri Negara Peranan Wanita Tutty Alawiyah AS dalam acara “Temu Tokoh Seribu Wajah Wanita Indonesia”. Dalam piagam tertera “prestasi” Mbak Ratna, yakni “kepemimpinan dan manajemen peningkatan peran wanita”. Merasa tak berhak menerima penghargaan dengan kriteria tak jelas itu, Mbak Ratna lalu mengembalikan piagam penghargaan itu lewat jasa pos ke kantor Menteri Peranan Perempuan di Jakarta.

Menulis hanyalah salah satu kegiatan, tapi berbuat nyata dan menginspirasi  orang lain adalah “tugas besar” yang terus ditunaikannya semasa hidupnya, sekalipun dari atas kursi roda. Salah satunya, pada tahun 2001, Mbak Ratna membentuk Forum Kajian Ilmiah Pelangi yang bermarkas di rumahnya, Jl. Diponegoro 3.A Malang. Forum ini mampu menjadi oase, kantong budaya, karena mengakomodasi berbagai elemen masyarakat dalam diskusi beragam persoalan aktual setiap bulannya.

Pembelaan Lemah Tanjung
Dalam karya-karyanya, seluruh tokoh protagonis dalam cerpen Mbak Ratna adalah perempuan. Tokoh-tokohnya tak terbatas pada kaum marjinal, tapi wanita-wanita dari segala kelas. Tampak jelas Mbak Ratna adalah seorang pembela kaum perempuan. Namun tidak hanya tema pembelaan kaum perempuan yang ditulisnya, novel Lemah Tanjung merupakan karya pembelaan Mbak Ratna kepada lingkungan hidup.

Lokasi APP Tanjung

Novel yang ditulisnya dalam waktu dua tahun ini boleh dikata merupakan karya Mbak Ratna yang paling komplet. Pergulatan batin dan emosinya begitu kental, pergolakan liku-liku hidup, cinta, kesadaran sejarah, dan nafas perlawanan dalam novel Lemah Tanjung sedemikian kuat dan gampang terbaca.

Novel yang diterbitkan pada 2003 ditulis berdasarkan kisah nyata. Warga Kota Malang mengenal Lemah Tanjung yaitu lahan bekas kampus Akademi Penyuluh Pertanian (APP) seluas 28,5 hektare, yang juga merupakan hutan kota. Hutan Lemah Tanjung saat itu menjadi satu-satunya paru-paru kota yang tersisa, sekaligus menjadi buffer zone Kota Malang. Di dalamnya terdapat hutan heterogen, kebun kopi, kakao, sawit, ladang jagung, hamparan sawah, pun lapangan rumput terbuka. Hidup pula sedikitnya 128 spesies tanaman, yang beberapa di antaranya belum teridentifikasi dan menjadi tempat bernaung tak kurang dari 36 spesies burung langka.

Rencana pengalihan fungsi hutan kota APP menjadi perumahan mewah ditentang banyak kalangan, terutama warga setempat, akademisi dan aktivis lingkungan. Dalam pembelaannya terhadap APP, Mbak Ratna tidak saja berperan sebagai sastrawan, tapi juga bertindak sebagai aktivis tulen, beliau turut terlibat aktif dalam berbagai diskusi dan unjuk rasa menentang pengalihan fungsi hutan kota menjadi perumahan mewah tersebut.

Mbak Ratna menulis novel Lemah Tanjung sebagai doku-drama dari bahan yang otentik karena beliau sendiri yang terlibat dalam aksi-aksi perjuangan penolakan penggusuran. Rapat para demonstran dan aktivis melawan penggusuran APP Tanjung di tahun 1999 juga tak jarang dilakukan di rumah Mbak Ratna. Mbak Ratna benar-benar mendedikasikan novel Lemah Tanjung tersebut bagi warga yang menentang pembangunan perumahan mewah di atas lahan hutan kota APP.

Baginya, lahan bekas APP itu bukan hanya menyangkut soal lingkungan, tapi juga berkaitan dengan dinamika sosial-budaya dan sejarah Kota Malang. Lahan APP yang juga dikenal dengan sebutan Lambau, merupakan sebuah hutan kota yang berada di jalan Ikhwan Ridwan Rais atau lebih dikenal dengan daerah Tanjung.  Nama Lambau sendiri berasal dari bahasa Belanda: Landbouw yang artinya pertanian, maklum lidah orang Jawa mungkin tidak bisa melafalkan dengan sempurna sehingga ‘melenceng’ menjadi Lambau.

Selain sebagai hutan kota, dahulu di kawasan Tanjung ini juga terdapat lapangan tembak, perkebunan, persawahan, lapangan sepakbola dan berfungsi sebagai ruang terbuka hijau dan daerah resapan air. Beberapa bangunan utama kampus APP berupa bangunan jaman Belanda yang termasuk dalam kategori bangunan cagar budaya yang perlu dilestarikan. Di hutan kota APP, warga kota Malang bisa menikmati suasana alami area perkebunan coklat dan pemandangan hutan yang asri dan hijau. Siapa menyangka di hutan yang kecil itu seringkali ditemukan beberapa species semacam ular sanca, burung rangkok, kepodang dan sebagainya oleh warga sekitar. Lokasi ini merupakan sedikit dari habitat yang tersisa di tengah Kota Malang bagi kawanan kunang-kunang.

Ijen Nirwana Regency

Kawasan APP ditukar guling, antara Departemen Pertanian dan kelompok bisnis perumahan PT Bakrieland Development Tbk.bekerja sama dengan PT Duta Perkasa Unggul Lestari (DPUL), dan dibangun menjadi salah satu pemukiman termewah di kota Malang dengan nama Ijen Nirwana Residence.  Dalam perjalanannya, Ijen Nirwana Residence direncanakan memasarkan 214 rumah dan cottage seharga Rp 900 jutaan sampai Rp 5 miliar, dengan fasilitas sport club, hotel, ruko, convention hall, bioskop, food court, distro, dan hipermarket (ironisnya nama dan logo Ijen Nirwana kini terpampang gagah sebagai salah satu sponsor utama di kaos tim kebanggaan kota Malang: Arema)

Selain tidak sesuai secara fungsi lingkungan hidup, pembangunan perumahan mewah ini tentunya sangat tidak peka sosial, di mana di sekitar lokasi tersebut merupakan kawasan pemukiman padat penduduk dengan tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah. Memang seperti inilah wajah pembangunan kota Malang dengan kebijakannya yang sewenang-wenang, tanpa adanya kepekaan sosial, dan bertentangan dengan hukum.

Mbak Ratna dan Bu Hien

Mbak Ratna dan Bu Hien (foto Purnawan DN)

Salah satu inspirasi Mbak Ratna dalam menulis novel Lemah Tanjung adalah perjuangan seorang warga APP, yaitu almarhum Ibu Hiendrarsih, atau akrab dipanggil dengan Bu Hien. Bu Hien adalah satu diantara dua keluarga APP, yang menolak relokasi dan memilih bertahan di dalam rumahnya di dalam kampus itu kendati pihak Deptan (baca: APP) dan pihak investor perumahan dengan kekuatan kapitalisnya, melakukan tukar guling untuk menyulap bekas kampus itu menjadi perumahan mewah.

Almarhum Bu Hien dan almarhum Pak Rachmad serta keluarganya, ditemani beberapa teman mahasiswa dan LSM melakukan perlawanan dan bertahan di dalam kampus. Selama bertahun-tahun perlawanan itu berlanjut. Bu Hien dan keluarganya yang benar-benar merasakan teror yang terus-menerus dilancarkan untuk membuatnya tak betah dan meninggalkan kampus APP. Pemadaman listrik dan lemparan batu di atas genteng rumah sudah menjadi teror harian yang mesti diterima.

Sayang setelah bertahun-tahun tak banyak yang bertahan. Teman-teman mahasiswa datang silih berganti. Hanya Bu Hien dan Pak Rachmad yang bertahan. Satu persatu aset APP dikuasai pengembang (dengan dukungan Pemda). Salah satu lahan APP yang berada di di dekat kampus UNM, kini sudah berganti wajah menjadi pusat perbelanjaan besar, Malang Town Square (bayangkan sebuah pusat perbelanjaan besar di antara lokasi kampus dan sekolah). Dan ironisnya banyak warga Malang yang bangga dengan pusat perbelanjaan ini.

Mbak Ratna, Bu Hien dan Pak Rachmad (belakang, kanan), dan para pejuang APP (foto Purnawan DN)

Beberapa waktu sebelum Bu Hien berpulang ke rahmatullah, beliau menderita kelumpuhan yang diakibatkan adanya syaraf di leher yang terjepit, yang memaksa dirinya harus beraktivitas di atas kursi roda. Kondisi tersebut tak membuatnya surut dalam berjuang. Sangat sering Bu Hien dan Mbak Ratna hadir pada berbagai kegiatan bersama-sama, kedua pejuang berkursi roda ini memang bersahabat erat, dan sama-sama menyuarakan perjuangan menentang pembangunan perumahan mewah di atas lahan APP. Kemudian pada akhirnya karena penyakit lainnya, seperti penyakit jantung dan diabetes (yang membuat kaki Bu Hien diamputasi), telah mengakhiri perjalanan hidup Bu Hien yang keras dalam melestarikan lingkungan hidup kota Malang, khususnya menyelamatkan ruang terbuka hijau yang tersisa.

Kini ruang terbuka hijau (RTH) di kota Malang setiap tahun makin menyusut. Pada tahun 1994, luas RTH masih sekitar 7.160 hektare dari luas Kota Malang yang mencapai 110,6 kilometer persegi. Dua tahun berikutnya, jumlah RTH berkurang menjadi 6.957 hektare, dan menjadi 6.615 hektare pada 1998. Pada 2000, jumlahnya menjadi 6.415 hektare dan pada 2002 tinggal 6.367 hektare. Pada 2004, tercatat hanya tersisa seluas 3.188 hektare, dan pada 2007, luas RTH tersisa 1,8 persen atau 1,908 hektare.

Menurut UU Nomor 26 Tahun 2007, luasan RTH di wilayah perkotaan minimal 30 persen dari total luas wilayah, di mana 20% merupakan RTH publik dan 10% untuk alokasi RTH privat.  Kasus APP ini juga telah melanggar Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan (RTHKP). Dalam peraturan tersebut, disebutkan luas minimal RTHKP adalah minimal 20 persen luas kawasan perkotaan. RTH salah satunya berfungsi memberikan ketahanan udara dari CO2, sehingga udara tetap sejuk.

Sedangkan dari penelitian LSM KSBK pada tahun 2005 menyebutkan bahwa kebutuhan minimal oksigen untuk kota Malang adalah sebesar 1103,5 ton/hari. Hal tersebut dapat dipenuhi dengan luas kawasan hijau dan peresapan air sebesar 40%. Faktanya saat itu kawasan tersebuka hijau di Malang tinggal 4%, itupun sudah termasuk hutan kota APP di Tanjung.

APP dulu

Ijen Nirwana (APP) sekarang

Sebelum hutan kota APP habis dan beralih fungsi menjadi kawasan perumahan mewah Ijen Nirwana Residence, Malang dulu memiliki kawasan resapan air Taman Indrokilo yang kini telah beralih fungsi menjadi kawasan perumahan mewah (di belakang museum Brawijaya). Menyusul kawasan resapan air GOR Pulosari yang kini sudah berubah menjadi swalayan Hero, eks lahan APP yang berlokasi di Jalan Veteran juga sudah berubah menjadi mall Malang Town Square (Matos), sebagian kawasan Stadion Gajayana menjadi pusat perbelanjaan Malang Olympic Garden (MOG), dan sejumlah taman menjadi gedung perkantoran.

Data pertengahan 2010, luas taman di Kota Malang yang dikelola pemerintah tinggal 109.487 meter persegi, hutan kota di 11 titik seluas 71.793 meter persegi, dan kebun bibit seluas 5.800 meter persegi.  RTH Kota Malang yang berbentuk taman hanya seluas 109.487 meter persegi yang tersebar di 31 titik.

Dengan kondisi tersebut dan ditambah adanya pemanasan global, tak heran data suhu udara kota Malang setiap tahun mengalami peningkatan. Data dari Stasiun Klimatologi Karangploso Kabupaten Malang menyebutkan bahwa dalam 12 tahun terakhir, suhu meningkat tajam. Pada tahun 1997 lalu suhu udara rata-rata Kota Malang sekitar 23,4 derajat celcius. Namun, akhir tahun 2006 meningkat menjadi 24,2 derajat celcius. Sementara suhu udara tertinggi selama musim kemarau terjadi pada bulan Oktober dan Nopember tahun 2006 mencapai 33,5 derajat celcius, tahun 2007 maksimum 33 derajat celcius. Sedangkan 2008 melonjak drastis menjadi 34,0 derajat celcius. Data ini berasal dari rekaman pengukur temperatur udara yang ditempatkan di Universitas Brawijaya Malang, Karangploso, dan Lanud Abdulrachman Saleh Malang.

Berdasarkan potret buram lingkungan hidup kota Malang inilah Mbak Ratna menuangkan pemikiran dan pergulatan batinnya dalam novel Lemah Tanjung yang sempat pula diangkat sebagai cerita bersambung di harian Jawa Pos. Demikianlah perjuangan Mbak Ratna untuk APP yang secara totalitas dilakukannya dengan segala keterbatasannya beraktivitas di atas kursi roda.

Selamat Jalan Mbak Ratna…

pemakaman Mbak Ratna  (foto Radar Malang)

pemakaman Mbak Ratna (foto Radar Malang)

Pada hari Senin, 28 Maret 2011, pukul 09.55 wib, Mbak Ratna berpulang ke rahmatullah dalam usia 62 tahun di RSU Dr. Syaiful Anwar, Malang, Jawa Timur, akibat stroke yang kesekian kalinya komplikasi dengan penyakit jantung dan paru-paru. Jam 13.30 wib, di bawah guyuran hujan, jenazah cerpenis, novelis, budayawan dan aktivis ini dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Samaan, Kelurahan Samaan, Kecamatan Klojen, Kota Malang.

Kota Malang kehilangan lagi salah seorang warga terbaiknya… Dalam beberapa waktu terakhir beberapa pejuang lingkungan hidup senior telah berpulang menghadap kepada Sang Khalik. Prof Radyastuti, pakar pendidikan lingkungan hidup dari Universitas Negeri Malang, sang Penghijau perintis Hutan Kota Taman Malabar dan Jalur Hijau Jl. Jakarta; Bapak Rachmad  dan Bu Hiendrarsih, pejuang lingkungan hidup dan penghuni terakhir bumi APP Tanjung; dan kini menyusul Mbak Ratna juga telah menuntaskan episode yang menjadi “panggilan hidup” baginya untuk berbuat sesuatu melalui pemikiran dan karya-karyanya….

Saya yakin Mbak Ratna saat ini berada di tempat terbaik di sisi-Nya, karena jasa-jasa beliau dalam menyuarakan nilai-nilai, memotivasi dan menginspirasi banyak orang. Seingat saya, salah satu guru agama SD saya pernah berkata “Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain”.. Dan kita semua tahu, tak diragukan lagi, bahwa Mbak Ratna adalah termasuk dalam golongan tersebut…   Selamat jalan Mbak Ratna kita…
(bahan dari berbagai sumber)

Buletin Mangrove Mengare edisi sembilan

Posted: 27th March 2011 by Bachtiar Djanan M in Konservasi Mangrove Mengare

volunteer alam lestari, mangrove mengare

menjadi ramah lingkungan


volunteer alam lestari, mangrove mengareBumi kian memanas, lingkungan kian rusak, siapa yang harus menyelamatkannya? Untuk hal ini kita tidak bisa menunggu. Sebenarnya semua orang harus sadar bahwa tiap orang harus mengambil peran penyelamatan bumi. Dimulai dari diri kita sendiri,  di rumah, di tempat mencari nafkah, di manapun kita berada, perlu kita bertindak sesuai yang kita mampu. Beberapa contoh peran kecil yang bisa kita lakukan:
Kalau berbelanja bawa  tas  belanja sendiri, ini akan mengurangi  penggunaan tas  plastik/kresek, mengurangi sampah, dan mengurangi emisi karbon yang dihasilkan dari proses pembuatan plastik
Minumlah dengan gelas  kaca atau keramik, jangan air kemasan gelas.
M a t i k a n lampu  bila tidak dipakai,  jangan tinggalkan air  menetes.
Gunakan lampu hemat energi. Meskipun  lebih  mahal,  rata rata 8 kali lebih  kuat  dan lebih hemat hingga 80 % dari

earth hour, simbolis selamatkan energi

lampu pijar biasa.
Maksimalkan  pencahayaan alam.  Gunakan  warna terang  di  tembok,  gunakan genteng  kaca  diplafon,  maksimalkan pencahayaan melalui jendela.
Dalam mengisi ulang baterai  HP kita, bila  sudah  penuh segera cabut chargernya.
Potong  makanan  dalam  ukuran  yang  kecil.  Ukuran potongan yang kecil akan menggunakan energi lebih sedikit dalam memasaknya.
Cek  tekanan  angin  ban  dan jadwal  service kendaraan kita. Menjaga  kondisi kendaraan pada  kondisi optimal  akan menghemat  5%  penggunaan bahan bakar kita
Tanamlah pohon di pekarangan kita, tanamlah mangrove di tambak kita. Niscaya lingkungan kita akan menjadi lebih sejuk dan sehat.

Kowak malam abu,

mencari makan di malam hari


volunteer alam lestari, mangrove mengare

kowak malam abu

Bila ada burung di Mengare yang kalau siang tidur dan kalau malam justru beraktivitas mencari makan, salah satunyajenis di antaranya adalah burung KOWAK-MALAM ABU (Nycticorax nycticorax), yang dalam bahasa Inggris disebut : Black-crowned Night-heron.
Burung cantik ini berukuran sedang (61 cm), berkepala besar, bertubuh kekar, berwarna hitam dan putih. Ketika dewasa ia memiliki mahkota hitam, leher dan dada putih, dua bulu panjang tipis terjuntai dari tengkuk yang putih, punggung hitam, sayap dan ekor abu-abu. Betina lebih kecil daripada jantan. Selama masa berbiak kaki dan kekang menjadi merah. Pada masa remaja tubuhnya coklat bercoretan dan berbintik-bintik, harus ditangkap dulu jika hendak membedakannya dengan remaja Kowak-malam merah.

Iris kuning (remaja) atau merah terang (dewasa), paruh hitam (dewasa: merah), kaki kuning- kotor.

KOWAK-MALAM ABU (Nycticorax nycticorax)

Kowak malam abu memiliki suara “Wok” atau “kowak” yang parau sewaktu terbang, dan uakan serak jika terganggu.
Penyebaran globalnya terdapat hampir di seluruh dunia.
Sedangkan penyebaran lokalnya sebagai pengunjung di luar masa berbiak ke Sumatera dan Kalimantan bagian utara. Penetap di Kalimantan dan Jawa. Di Jawa, Kowak-malam merah kadang-kadang ikut bersarang dalam koloni.
Kebiasaan burung ini beristirahat di atas pohon pada siang hari. Sebelum keluar mencari makan  pada waktu senja, berputar-putar di atas tempat istirahat sambil mengeluarkan suara kuakan parau. Pada malam hari, mencari makan  di sawah, padang rumput, dan pinggir sungai. Bersarang di dalam koloni yang ribut di pohon, biasanya di atas air. Cara terbang agak mirip kalong.

=====================================

Info Mangrove Mengare merupakan selebaran informasi  lingkungan hidup yang diterbitkan
oleh Volunteer Alam Lestari bekerjasama dengan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Jawa
Kementerian Lingkungan Hidup RI, sebagai media informasi dan komunikasi bagi masyarakat Mengare
dalam program Mangrove Mengare Management

Buletin Mangrove Mengare edisi delapan

Posted: 27th March 2011 by Bachtiar Djanan M in Konservasi Mangrove Mengare

volunteer alam lestari, mangrove mengare

Air ku….  Air mu… Air kita


Luas permukaan bumi adalah 510 juta km2, yang terdiri dari luas daratan 149 juta km2 (29%), luas laut dan samudera 361 juta km2 (71%).

volunteer alam lestari, mangrove mengare

keberadaan air di bumi

Dari data yang ada, ternyata air di bumi yang bisa dikonsumsi hanya sedikit sekali. Itu pun harus dibagi bersama untuk  volunteer alam lestari, mangrove mengare6 milyar manusia penghuni bumi.     Kita menggunakan 10 liter air setiap kali menyiram toilet, dan menggunakan lebih dari 7 kali jumlah itu setiap kali mandi. Mesin cuci kita membutuhkan paling sedikit 100 liter air setiap kali mencuci.

Sebuah keluarga yang terdiri atas 4 orang, menggunakan kira-kira lebih dari 3500 liter air setiap minggunya.
Dengan kondisi tersebut, maka kita harus jaga agar air di lingkungan kita tetap tersedia dengan kualitas yang bagus… Bagaimana air di Mengare..??

Air kita semua…


Air adalah sumber kehidupan utama semua makhluk hidup. Tanpa air tak mungkin terdapat kehidupan di planet kita. Seperti halnya bumi, tubuh kita pun didominasi oleh unsur air sampai sekitar duapertiga. Setiap hari tubuh kita kehilangan banyak air. Sekitar satu liter terbuang di toilet, setengah liter lagi hilang sebagai keringat dan menguap bersama udara ketika kita bernapas. Kita dapat melihat uap air ini dalam hembusan nafas kita yang hangat jika hari sedang dingin. Pada hari-hari yang panas, keringat kita membantu agar tubuh tetap terasa sejuk. Butir-butir keringat keluar melalui pori-pori pada kulit kemudian menguap ke udara sambil membawa panas dari tubuh kita.

Berbeda dengan unta yang dapat menyimpan bergalon-galon air di dalam jaringan tubuhnya, kita tidak mempunyai tempat penyimpanan air, karena itu air yang hilang harus diganti terus setiap hari. Kita membutuhkan satu setengah liter air setiap hari agar tetap hidup.

volunteer alam lestari, mangrove mengare

ancaman intrusi air laut ke daratan

Selama ini, dalam pemenuhan kebutuhannya sehari-hari, masyarakat di Mengare mendapatkan air tawar yang cukup baik, dengan kelimpahan yang cukup banyak pula. Itu suatu hal yang patut kita syukuri bersama, karena posisi Mengare sebagai daerah pesisir biasanya merupakan posisi yang tidak cukup mudah untuk bisa mendapatkan air tawar yang baik dan berlimpah.

Sadarkah kita, bahwa keberadaan mangrove-mangrove kita di pantai dan di sungai salah satunya adalah sebagai pelindung bagi sumber-sumber air kita di daratan?

Selain berfungsi melindungi pantai dari abrasi dan menjadi tempat bagi ikan, kepiting, udang, serta biota laut lainnya untuk berkembang biak dan mencari makan, tenyata mangrove juga memiliki fungsi mencegah intrusi air laut. Intrusi

air laut adalah meresapnya air laut ke sumber-sumber air tawar di daratan.
Ada sebuah kisah kejadian nyata dari daerah pantai Angke, Jakarta. Dahulunya pantai ini memiliki hutan mangrove yang  tebal. Pada sekitar tahun 1996-1997 dilakukan pembabatan mangrove untuk kepentingan pembangunan fisik seperti jalan raya, perumahan, dll. Tak lama setelah mangrove ditebang habis, sumur-sumur penduduk di daerah-daerah sekitar sana berangsur-angsur menjadi payau. Dan masyarakat tak tahu harus berbuat apa. Beberapa tahun kemudian ada sebuah program penanaman mangrove untuk wilayah pesisir Angke. Ternyatam beberapa tahun dari program penanaman tersebut, air sumur masyarakat berangsur-angsur  kembali menjadi tawar.
Belajar dari kondisi yang terjadi di Angke tersebut, maka jangan sampai kejadian meresapnya air laut ke sumber-sumber air di daratan terjadi juga di Mengare. Mumpung masih cukup banyak mangrove yang tersisa, mari kita jaga bersama.
Selain menjaga mangrove-nya, tentunya kita juga harus menjaga kondisi air Mengare. Ada beberapa tips bagaimana kita bisa menjaga keberadaan air tawar yang bagus di Mengare.
Sebagai contoh, kita perlu tahu bahwa air di kran mengalir kira-kira 9 liter per menit. Jadi, jangan biarkan  kran air mengalir tanpa digunakan.
Beberapa tips menghemat air:
Periksalah pipa-pipa air secara teratur, ceklah kran. Bila terjadi kebocoran, segera perbaiki.
Untuk mencuci piring dengan jumlah agak banyak, gunakan 3 buah baskom berisi air, jangan dari air kran mengalir.
Cucilah sayuran dan daging terpisah dalam wadah yang terisi air sekitar 4 liter air. Kita akan memerlukan air 15 kali lebih banyak bila melakukannya di bawah air mengalir.
Bila  menyikat gigi, maka air yang diperlukan hanyalah untuk membasahi, membilas sikat gigi dan berkumur. Jadi jangan biarkan air mengalir  sementara kita menyikat gigi.
Gunakan lap dan seember air bila mencuci kendaraan, jangan menggunakan air mengalir dari selang.
Tips menjaga kualitas air agar tidak tercemar dan menjadi sumber penyakit:
Menjaga agar air limbah tidak masuk ke dalam sumur
Dalam membuat sumur, letakkan minimal 10 meter dari septictank  dan sumur resapan.
Tidak membuang sampah ke sungai
Tidak membuang hajat besar di sungai
Bak mandi harus dikuras/ diganti airnya minimal 2 kali dalam seminggu agar tidak digunakan bertelurnya nyamuk.

Remetuk laut,

Kicauan merdu burung terkecil di dunia

volunteer alam lestari, mangrove mengare

REMETUK LAUT (Gerygone sulphurea)

Bila kita berada di areal mangrove di sungai-sungai desa Tajung Widoro Mengare, kita mungkin sering mendengarkan sulan merdu dari salah satu burung terkecil di dunia, yaitu burung REMETUK LAUT (Gerygone sulphurea), yang mempunyai nama Inggris Golden-bellied Gerygone. Burung berukuran sangat kecil (9 cm),  hanya sebesar ibu jari orang dewasa ini termasuk dalam kategori suku burung pengicau (silviidae).
Suku ini termasuk besar. Kebanyakan berukuran kecil, sangat lincah. Pemakan serangga dengan paruh sempit menajam. Kebanyakan berwarna tidak menarik dan sulit untuk diidentifikasi di lapangan. Kicauan pada umumnya nyaring dan indah. Membuat sarang berbentuk mangkuk atau kubah yang rapi. Beberapa jenis bersifat migran.
Burung Remetuk Laut memiliki perut kuning, kekang putih khas. Tubuh bagian atas coklat keabuan, dagu dan tenggorokan putih, tubuh bagian bawah kuning terang, ekor sebaris berbintik putih sebelum ujungnya.
Pada masa remaja, tubuh bagian bawahnya berwarna putih, tersapu kuning.

volunteer alam lestari, mangrove mengare

remetuk laut

Iris coklat, paruh hitam, kaki hijau-zaitun tua.
Burung mini ini memiliki suara berupa siulan yang sulit ditebak asalnya, tiga sampai lima nada lemah bergetar, mengalun dari nada ke nada dalam variasi frase menurun.
Penyebaran globalnya di Filipina, Sulawesi, Semenanjung Malaysia dan Sunda Besar.
Untuk penyebaran lokal ada di Sumatera (termasuk P. Enggano dan Bangka), Kalimantan (termasuk Kep. Marutua), Jawa (termasuk Karimun Jawa) dan Bali, umum terdapat di beberapa tempat, sampai ketinggian   1.500 m.
Kebiasaan remetuk laut sering mengunjungi semak-semak tepi pantai, hutan mangrove, perkebunan karet, dan hutan terbuka, terutama rumpun bambu dan cemara. Hidup sendirian atau berpasangan. Kecil dan tidak mencolok, tetapi dapat diidentifikasi dari nyanyiannya yang merdu.

=====================================

Info Mangrove Mengare merupakan selebaran informasi  lingkungan hidup yang diterbitkan
oleh Volunteer Alam Lestari bekerjasama dengan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Jawa
Kementerian Lingkungan Hidup RI, sebagai media informasi dan komunikasi bagi masyarakat Mengare
dalam program Mangrove Mengare Management

Buletin Mangrove Mengare edisi tujuh

Posted: 26th March 2011 by Bachtiar Djanan M in Konservasi Mangrove Mengare

volunteer alam lestari, mangrove mengare

Ribuan pulau kita hampir tenggelam


Menurut data Departemen Kelautan dan Perikanan tahun 2009, disebutkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini volunteer alam lestari, mangrove mengaredari jumlah 17.506 pulau yang dimiliki Indonesia, tahun 2009 melorot jumlahnya tinggal 17.480 pulau. Hal ini disebabkan oleh abrasi (terkikisnya daratan oleh gelombang laut) maupun oleh maraknya penambangan pasir laut.
Saat ini, dengan adanya perubahan iklim akibat pemanasan global yang membuat es di kutub mencair, di Indonesia tiap tahunnya mengakibatkan terjadinya kenaikan tinggi permukaan air laut antara 5-10 milimeter. Dengan kondisi tersebut, ditambah dengan maraknya penambangan pasir laut serta abrasi di pesisir, diperkirakan dalam 25 tahun ke depan Indonesia akan kehilangan lebih dari 2000 pulau yang akan tenggelam, apabila tidak segera dilakukan langkah-langkah penyelamatan. Sebagai gambaran, kenaikan air laut 1 meter saja akan menenggelamkan 405.000 hektar pantai  Indonesia.
Perlu kita ketahui, selama abad ke-20 ini tinggi permukaan ari laut di seluruh dunia telah meningkat 10-25 cm, diperkirakan pada abad ke-21 ini akan terus terjadi peningkatan permukaan air laut antara 9-88 cm. Sebagai ilustrasi, kenaikan permukaan laut 50 cm akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat, kenaikan 100 cm akan menenggelamkan 6% daerah Belanda, 17,5% daerah Bangladesh, dll.
Karenanya, perlulah kita bersama-sama berupaya menyelamatkan pesisir pantai kita, salah satunya  dengan menanam mangrove. (Bach)

Benarkah Mengare dulu sebuah pulau…??


mangrove mengare grafis by BachtiardmInilah sebuah pertanyaan yang sering dilontarkan wisatawan yang datang ke Mengare. Kalau pulau kok kendaraan darat bisa sampai Mengare?

Berdasarkan gambar di samping, dari foto citra satelit yang telah dianalisa hal tanah pembentuknya, bisa kita lihat, sebenarnya tanah daratan yang asli adalah yang berwarna hijau diarsir miring. Sedangkan semua yang berwarna gelap adalah tanah alluvial, yaitu tanah endapan atau tanah sedimentasi dari lumpur yang dibawa oleh aliran sungai Bengawan Solo, yang mengendap di muara sungai, kemudian semakin maju dan meluas (dalam dunia tambak sering disebut dengan istilah “tanah olor”).
Tanah-tanah alluvial ini adalah tanah yang mengandung unsur hara sangat tinggi sehingga sangat baik biladipergunakan untuk sawah, ladang, maupun pertambakan.  Proses terbentuknya daratan “oloran” ini tentunya memakan waktu ratusan tahun.

Dalam sebuah prasasti dari batu yang ditemukan dekat desa Lasem, Sedayu, yang diperkirakan berasal dari jaman Erlangga, menyebutkan bahwa Segalu merupakan lokasi Bandar Utama Kerajaan Majapahit.

Dalam sebuah naskah Cina kuno juga menyebutkan bahwa Sugalu merupakan lokasi Bandar Majapahit. Oleh W.P. Groeneveldt, ahli purbakala Belanda yangmenerjemahkan naskah tersebut, Sugalu diartikan sebagai Sedayu. Selain itu dalam naskah Cina itu terdapat penyebutan nama Danyangan Jok, di mana sampai saat ini di dekat Desa Lasem terdapat sebuah makam keramat yang ramai dikunjungi orang yang disebut sebagai makam Buyut Jok.
Dari prasasti lain bertarikh tahun 1387 masehi yang ditemukan di Desa Karang Bogem disebutkan nama Sedayu dan Gresik. Dalam sebuah prasasti berbeda bertarikh tahun1385 masehi, juga disebut-sebut nama Madanten, yang diperkirakan saat ini adalah Desa Badanten, dekat Sedayu.
Melihat bukti sejarah dan dari analisa foto citra satelit tersebut, bisa dibayangkan bahwa dahulunya Sedayu merupakan kota pesisir pantai yang lambat laun menjadi daratan karena sedimentasi/ endapan dari lumpur yang dibawa oleh aliran Sungai Bengawan Solo. (Bach)

volunteer alam lestari, mangrove mengare

Foto citra satelit Mengare Gresik

raja udang biru (Alcedo coerulescens),

Raja yang mungil

volunteer alam lestari, mangrove mengare

raja udang biru (Alcedo coerulescens)

Salah satu burung indah dan unik yang terdapat di seputar pertambakan desa Tajung Widoro Mengare adalah burung RAJA-UDANG BIRU (Alcedo coerulescens). Burung yang dalam bahasa Inggris disebut Small Blue Kingfisher ini termasuk dalam suku Raja Udang (Alcedinidae).
Suku ini merupakan kelompok burung berwarna terang (banyak jenis berbulu biru metalik). Kaki dan ekor pendek, kepala besar, paruh panjang kuat. Pemakan serangga atau vertebrata kecil, beberapa jenis memangsa ikan. Bersarang dalam lubang di tanah, batang pohon, tebing sungai, atau sarang rayap. Telur keputih-putihan, berbentuk bola. Tersebar luas di seluruh dunia. Beberapa jenis mengeluarkan suara keras kasar. Tiga jari depan sebagian bergabung pada pangkal.
Raja Udang Biru berukuran sangat kecil (18 cm), berwarna biru dan putih. Tubuh bagian atas dan garis dada biru kehijauan mengilap; mahkota dan penutup sayap bergaris hitam kebiruan; kekang, tenggorokan, dan perut putih.
Iris coklat, paruh hitam, kaki merah.
Burung ini memiliki suara dengan nada cukup tinggi, cicitan dua nada “tiiw-tiiw” yang dikeluarkan sewaktu terbang.
Penyebaran globalnya di sekitar Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, dan Sumbawa.
Penyebaran lokal dan statusnya sebagai penetap yang umum di Sumatera Selatan (mungkin pendatang baru dari Jawa), Jawa, dan Bali. Umum terdapat di rawa pesisir, hutan mangrove, dan muara sungai.
Kebiasaan Raja Udang Biru adalah bertengger pada pohon di pinggir aliran air kecil, tambak, dan hutan mangrove. (Bach)

volunteer alam lestari, mangrove mengare

raja udang biru (Alcedo coerulescens)

=====================================

Info Mangrove Mengare merupakan selebaran informasi  lingkungan hidup yang diterbitkan
oleh Volunteer Alam Lestari bekerjasama dengan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Jawa
Kementerian Lingkungan Hidup RI, sebagai media informasi dan komunikasi bagi masyarakat Mengare
dalam program Mangrove Mengare Management

Buletin Mangrove Mengare edisi enam

Posted: 26th March 2011 by Bachtiar Djanan M in Konservasi Mangrove Mengare

volunteer alam lestari, mangrove mengare

KEKAYAAN NUSANTARA


Dengan luas daratan ‘hanya’ 1,32 % dari seluruh luas daratan yang ada di bumi ini, grafis web mangrove mengare by bachtiardmternyata Indonesia memiliki kekayaan kurang lebih 27.500 jenis tumbuhan, 350.000 jenis satwa dan 10.000 mikroba yang hidup secara alami di bumi pertiwi ini, dengan rincian: 10 % jenis tumbuhan berbunga,  12 % binatang menyusui, 16 % reptilia dan amfibia, 17 % burung, 15 % serangga, 25 % jenis ikan, dari jenis yang ada di seluruh dunia. Luar biasa.
Dari kekayaan jenis satwa dan tumbuhan tersebut, ternyata baru sebagian kecil saja yang telah diketahui potensinya dan dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia. Tercatat lebih kurang 6000 jenis tumbuhan, 1600 jenis hewan dan 100 jenis jasad renik, yang saat ini telah tergali potensi pemanfaatannya (data BKSDA, 1996). (Bach)

Bruguiera parviflora,

mangrove yang bersahabat dengan serangga

volunteer alam lestari, mangrove mengare

Bruguiera parviflora

Salah satu jenis mangrove yang bisa kita jumpai di Mengare, khususnya di wilayah desa Tajung Widoro adalah Bruguiera parviflora. Mangrove jenis ini di berbagai daerah memiliki nama lokal antara lain:  tanjang, langgade, mengelangan, lenggadai,  bius, mou, paproti, sia-sia, tongi.
Bruguiera parviflora berupa semak atau pohon kecil yang selalu hijau, tinggi (meskipun jarang) dapat mencapai 20 m. Kulit kayu burik, berwarna abu-abu hingga coklat tua, bercelah dan agak membengkak di bagian pangkal pohon. Akar lutut dapat mencapai 30 cm tingginya.
Di daunnya terdapat bercak hitam di bagian bawah daun dan berubah menjadi hijau-kekuningan ketika usianya bertambah.  Berbentuk elips, dengan ujung meruncing, berukuran  5,5-13 x 2-4,5 cm.
Bunga Bruguiera parviflora  mengelompok di ujung tandan (panjang tandan: 2 cm), terletak di ketiak daun.  Memiliki formasi kelompok (3-10 bunga per tandan). Daun mahkota berjumlah  8, berwarna  putih-hijau kekuningan,  dengan panjang 1,5-2 mm. Berambut pada tepinya.  Kelopak bunganya sejumlah 8, menggelembung, warna hijau kekuningan, bagian bawah berbentuk tabung, panjangnya 7-9 mm.
Buah tanaman ini berbentuk melingkar spiral, panjang 2 cm. Hipokotil silindris, agak melengkung, permukaannya halus, warna hijau kekuningan, dengan ukuran panjang 8-15 cm dan diameter 0,5-1 cm.
Ekologi tumbuhan inimembentuk tegakan monospesifik pada areal yang tidak sering tergenang. Terkadang individu yang terisolasi juga ditemukan tumbuh di sepanjang alur air dan tambak tepi pantai. Substrat yang cocok termasuk lumpur, pasir, tanah payau dan bersalinitas tinggi. Di Australia, perbungaan tercatat dari bulan Juni hingga September, dan berbuah dari bulan September hingga Desember.  Hipokotilnya yang ringan mudah untuk disebarkan melalui air, dan nampaknya tumbuh dengan baik pada areal yang menerima cahaya matahari yang sedang hingga cukup.
Bunga dibuahi oleh serangga yang terbang pada siang hari, seperti kupu-kupu.
Daunnya berlekuk-lekuk, yang merupakan ciri khasnya, disebabkan oleh gangguan serangga. Dapat menjadi sangat dominan di areal yang telah diambil kayunya (misalnya Karang Gading-Langkat Timur Laut di Sumatera Utara; Giesen & Sukotjo, 1991). (Bach)

IBIS ROKO-ROKO

volunteer alam lestari, mangrove mengare

IBIS ROKO-ROKO Plegadis falcinellus

Salah satu burung unik yang dapat kita jumpai di wilayah pertambakan Desa Tajung Widoro Mengare adalah burung berwarna serba gelap: IBIS ROKO-ROKO Plegadis falcinellus.
Burung ini termasuk suku Ibis (Threskiornithidae).  Suku ini jumlah jenisnya sedikit, tersebar terutama di seluruh daerah tropis. Mirip dan mempunyai hubungan yang dekat dengan bangau, tetapi ukuran badan sedikit lebih kecil dan paruh lebih sesuai untuk menusuk makanan dalam air atau lumpur daripada untuk mencotok mangsa. Mendeteksi mangsa lebih banyak dengan menggunakan sentuhan daripada dengan penglihatan. Kaki sebagian berselaput. Hampir semua jenis terbang dengan kepakan sayap perlahan diselingi dengan melayang pendek.
Ibis Roko-roko dalam bahasa Inggris disebut  Glossy Ibis.
Burung ini berukuran agak kecil (60 cm), berwarna merah coklat kehitaman mengilap, terlihat seperti gajahan yang besar dan gelap. Tubuh bagian atas hitam dan ungu berkilau.
Iris coklat, paruh kehitaman, kaki coklat kehijauan.
Burung ini memiliki suara dengungan sengau serta suara mendengkur dan seperti mengembik ketika di sarang.volunteer alam lestari, mangrove mengare
Penyebaran global burung ini tersebar secara luas. Sementara penyebaran lokal dan status diragukan ada di Sumatera, tercatat sekali di Kalimantan selatan (1851). Tidak umum dan terbatas di dataran rendah di Jawa. Koloni yang tersisa hanya ada di P. Dua,  Jawa barat. Jadi keberadaan populasi burung ini di wilayah Mengare adalah suatu yang sangat tidak biasa.
Kebiasaan Ibis roko-roko menghuni rawa-rawa, sawah, pinggiran danau, dan padang rumput tergenang. Biasanya hidup dalam kelompok kecil, bergerak maju perlahan-lahan, menusuk-nusuk lumpur dengan paruhnya yang panjang. Pada waktu malam, terbang berjajar atau dalam formasi, menuju tempat bertengger. Bersarang dalam koloni bersama kuntul dan cangak. (Bach)

=====================================

Info Mangrove Mengare merupakan selebaran informasi  lingkungan hidup yang diterbitkan
oleh Volunteer Alam Lestari bekerjasama dengan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Jawa
Kementerian Lingkungan Hidup RI, sebagai media informasi dan komunikasi bagi masyarakat Mengare
dalam program Mangrove Mengare Management

Buletin Mangrove Mengare edisi lima

Posted: 26th March 2011 by Bachtiar Djanan M in Konservasi Mangrove Mengare

volunteer alam lestari, mangrove mengare

MANGROVE UNTUK KITA, KITA UNTUK MANGROVE

volunteer alam lestari, mangrove mengareIndonesia memiliki cadangan hutan mangrove tropis terluas di dunia dengan luas sekitar 3,5 juta ha pada tahun 1996 atau sekitar 30 – 40 % jumlah seluruh hutan mangrove dunia (Ditejen Intag, Departemen Kehutanan, 1996). Hutan mangrove di Indonesia terpusat di Irian Jaya dan Maluku (38 %), Sumatra (19 %), Kalimantan (28%), namun dalam perkembangannya saat ini sudah mengelami kerusakan hampir 68%.
Mangrove mempunyai peran penting sebagai pelindung pantai dari hempasan gelombang  air laut. Disamping itu sebagai peredam gelombang dan angin badai, penahan lumpur, perangkap sedimen yang diangkut oleh aliran permukaan(Bengen, 1999). Ekosistem mangrove bagi sumberdaya ikan dan udang berfungsi sebagai tempat mencari makan, memijah, memelihara juvenil dan berkembang biak. Untuk fungsi ekologi sebagai penghasil sejumlah detritus dan perangkap sedimen. Hutan mangrove merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa. Tugas kita bersama untuk melestarikannya. (Bach)

Ceriops tagal,

kuat dan bagus untuk persalinan

volunteer alam lestari, mangrove mengare

ceriops tagal

Salah satu jenis mangrove yang cukup banyak terdapat di desa Tajung Widoro Mengare adalah Ceriops tagal. Di berbagai daerah, tumbuhan ini memiliki nama lokal seperti: tengar, tengah, tangar, tingih, tingi, palun, parun, bido-bido, lonro, mentigi, tengar, tinci, mange darat, wanggo.
Ceriops tagal berupa pohon kecil atau semak dengan ketinggian bisa mencapai 25 m. Kulit kayu berwarna abu-abu, kadang-kadang coklat, halus dan pangkalnya menggelembung. Pohon seringkali memiliki akar tunjang yang kecil.
Tanaman ini memiliki daun hijau mengkilap dan sering memiliki pinggiran yang melingkar ke dalam. Berbentuk bulat telur terbalik-elips.  Ujung membundar.  Berukuran  1-10 x 2-3,5 cm.
Bunga dari Ceriops tagal  mengelompok di ujung tandan. Gagang bunga panjang dan tipis, berresin pada ujung cabang baru atau pada ketiak cabang yang lebih tua.   Letaknya  di ketiak daun.  Dengan formasi kelompok  (5-10 bunga per kelompok).  Tanaman ini memiliki daun mahkota berjumlah 5; putih dan kemudian jadi coklat. Kelopak bunga: 5; warna hijau, panjang 4-5 mm, tabung 2mm. Tangkai benang sari lebih panjang dari kepala sarinya yang tumpul.

volunteer alam lestari, mangrove mengare

Ceriops tagal

Buah dari tumbuhan ini memiliki panjang 1,5-2 cm, dengan tabung kelopak yang melengkung. Hipokotil berbintil, berkulit halus, agak menggelembung dan seringkali agak pendek. Leher kotilodon menjadi kuning jika sudah matang/dewasa.  Ukuran hipokotil panjangnya 4-25 cm dengan diameter 8-12 mm.
Ekologi dari tumbuhan ini membentuk belukar yang rapat pada pinggir daratan dari hutan pasang surut dan/atau pada areal yang tergenang oleh pasang tinggi dengan tanah memiliki sistem pengeringan baik. Juga terdapat di sepanjang tambak. Menyukai substrat tanah liat, dan kemungkinan berdampingan dengan  C.decandra.  Perbungaan terjadi sepanjang tahun.
Penyebaran Ceriops tagal  Dari Mozambik hingga Pasifik Barat, termasuk Australia Utara, Malaysia dan Indonesia.
Pemanfaatan dari tanaman ini antara lain ekstrak kulit kayunya bermanfaat untuk persalinan. Tanin dihasilkan dari kulit kayu. Pewarna dihasilkan dari kulit kayu dan kayu. Kayu bermanfaat untuk bahan bangunan, bantalan rel kereta api, dan pegangan perkakas, karena ketahanannya jika direndam dalam air garam. Bahan kayu bakar yang baik serta merupakan salah satu kayu terkuat di antara jenis-jenis mangrove yang ada. (Bach)

kirik-kirik biru,

si pemburu serangga yang gemar membanting


Salah satu burung indah yang bisa kita jumpai di Mengare, khususnya di seputar desa Tajung Widoro adalah burung KIRIK-KIRIK BIRU Merops viridis. Dalam bahasa Inggris, burung ini disebut Blue-throated Bee-eater, sedangkan dalam bahasa Melayu disebut  Berek-berek Tadah Hujan.
Kirik-kirik biru termasuk suku kirik-kirik (Meropidae). Suku ini anggotanya sedikit dan ditemukan di seluruh Dunia Lama. Berwarna-warni dengan warna utama hijau. Kaki pendek, bentuk badan anggun dengan paruh ramping panjang dan sedikit melengkung. Sayap panjang-tajam, pada kebanyakan jenis terdapat bulu ekor tengah berbentuk pita. Kebanyakan jenis berkelompok dan lebih menyukai daerah terbuka. Kelompok duduk pada cabang terbuka, terbang menyapu serangga yang kemudian dibawanya kembali ke tenggeran. Mangsa dibanting-bantingkan ke benda keras untuk dipecahkan dan dilunakkan sebelum dimakan. Tiga jari depan sebagian bersatu. Bersarang di lubang di tanah untuk meletakkan telurnya.
Kirik-kirik biru berukuran sedang (28 cm, termasuk perpanjangan pita pada ekor tengah). Burung yang dewasa memiliki mahkota dan mantel coklat, setrip mata hitam, sayap hijau kebiruan, tunggir dan ekor berpita biru pucat. Tubuh bagian bawah hijau pucat dengan tenggorokan biru mencolok. Burung yang berusia remaja tidak ada perpanjangan bulu ekor, kepala dan mantel hijau.
Iris berwarna merah atau biru, paruh hitam, kaki abu-abu atau coklat.
Mengapa disebut kirik-kirik, karena burung ini memiliki suara dengan nada getaran cepat sewaktu terbang, berbunyi: “kerik-kerik-kerik”.
Penyebaran burung ini secara global di Cina selatan, Asia Tenggara, Filipina, Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan, Kep. Natuna utara, Karimata, dan Jawa barat. Tidak diketahui di Bali.

volunteer alam lestari, mangrove mengare

kirik kirik biru sebagai perangko Singapura

Burung ini berstatus penetap umum di beberapa tempat di Sumatera dan Kalimantan. Tidak umum di Jawa. Diperkirakan terjadi migrasi sebatas wilayah ini.
Kebiasaan Kirik-kirik biru menyukai lapangan terbuka dan pepohonan di daerah yang rendah, biasanya di dekat laut. Berkelompok pada tempat berbiak di daerah berpasir. Dibandingkan dengan Kirik-kirik laut, kurang melayang dan jarang terbang. Lebih menyukai berburu serangga terbang dengan cara menunggu di tenggeran. Kadang-kadang menyambar serangga dari permukaan air atau tanah. (Bach)

=====================================

Info Mangrove Mengare merupakan selebaran informasi  lingkungan hidup yang diterbitkan
oleh Volunteer Alam Lestari bekerjasama dengan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Jawa Kementerian Lingkungan Hidup RI, sebagai media informasi dan komunikasi bagi masyarakat Mengare
dalam program Mangrove Mengare Management

Buletin Mangrove Mengare edisi empat

Posted: 25th March 2011 by Bachtiar Djanan M in Konservasi Mangrove Mengare

volunteer alam lestari, mangrove mengare

Global Warming, pemanasan global


volunteer alam lestari, mangrove mengareGlobal Warming adalah salah satu isu terbesar abad ini, apa itu “global warming”?
Pasti kita pernah tahu, ketika sebuah mobil diparkir di tempat yang terkena langsung sinar matahari. Apa yang terjadi? Di dalam mobil terasa jauh lebih panas dan lebih gerah dibanding di luar mobil. Jadi dari sinar matahari yang masuk ke dalam mobil, panasnya terperangkap di dalam mobil. Teknik inilah yang dipakai para petani ketika melakukan pembibitan, ditempatkanlah bibit di dalam rumah kaca, agar sinar matahari masuk dari dinding/atap kaca, dan panas dari sinar matahari tersebut terperangkap di dalam rumah kaca, suhu di rumah kaca menjadi lebih hangat, dan tidak terjadi penguapan air.

Kejadian terperangkapnya energi panas inilah yang disebut sebagai “Efek Rumah Kaca”. Seperti inilah yang terjadi di bumi kita, sinar matahari yang masuk ke bumi, energi panasnya terperangkap di udara bumi karena ada gas-gas tertentu di atmosfer yang menghalangi terlepasnya energi panas ke angkasa. Pada kadar tertentu panas yang terjebak ini memang dibutuhkan, agar bumi tidak terlalu dingin (bila panas matahari tidak terjebak di bawah atmosfir, suhu bumi adalah minus 18 derajat celcius, seperti sebagian planet lain di sekitar bumi). Tetapi apabila panas yang terjebak ini terlalu besar, justru akan membahayakan,  karena suhu udara menjadi makin panas. Inilah yang disebut sebagai Pemanasan Global (Global Warming). Akibat pemanasan global  es di kutub akan mencair, ketinggian air laut meningkat, banyak pesisir tenggelam, banyak satwa punah, banyak penyakit-penyakit baru timbul, dll.

Gas-gas rumah kaca di atmosfer yang menjebak panas sinar matahari ini antara lain Co2 (dari emisi gas buang kendaraan bermotor maupun industri, pembakaran batu bara untuk pembangkit listrik, dll), freon pada AC, CH4 (Metan), N2O (Nitrogen Oksida), dll. Jadi, semakin banyak terdapat gas rumah kaca di atmosfer, maka semakin banyak panas matahari yang terjebak di udara bumi. (Bach)

Mengapa tambak di Mengare kalah…??


Warga Mengare pasti telah paham, bahwa banyak tambak di Mengare yang saat ini telah “kalah” dan rusak dihempas ombak pasang. Terutama tambak-tambak di wilayah utara.
Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dibentengi karung berisi tanah, dipagar bambu-bambu, dipasang batu, ditanam mangrove, dll. Namun semuanya berakhir dengan jebolnya penahan dan tambak yang menjadi mata pencaharian warga Mengare pun tenggelam disapu ombak. Apa yang menyebabkan alam demikian ganas menelan tambak?

volunteer alam lestari, mangrove mengare citra satelitSeperti bisa kita lihat dalam gambar foto citra satelit, bahwa tambak-tambak di Mengare yang posisinya terluar dan berhadapan dengan laut, kesemuanya menghadapi pertemuan-pertemuan ombak dan arus laut.
Khususnya tambak di wilayah utara selepas Selat Madura, terdapat pertemuan ombak besar,  arus  cukup besar dari arah Selat Madura (karena sempit) bertemu dengan ombak dari timur yang besar. Akibat perjumpaan dua arah arus dan ombak yang berbeda tersebut terjadilah pusaran-pusaran arus yang kuat yang menghantam tambak-tambak di wilayah utara, dengan karakter arus bawah yang kuat, di mana gerusan-gerusan terhadap daratan selain terjadi di permukaan juga secara kuat terjadi di bawah air.
Ketika saat ini sudah tak ada lagi mangrove di wilayah utara, tentunya tak ada lagi penahan yang bisa menghentikan kekuatan arus pertemuan tersebut, dan menanam mangrove dengan kondisi sudah terbuka seperti saat ini  juga tingkat keberhasilannya rendah sekali, karena ombak dan arus pertemuan yang menghantam di permukaan maupun di nawah air demikian kuat.

volunteer alam lestari, mangrove mengare

kerusakan tambak di Mengare

Perlu kita ketahui, bahwa kondisi alam yang seperti di Mengare ini termasuk kondisi alam yang jarang ada di dunia, sehingga cukup menarik minat para ilmuwan kelautan tingkat dunia.
Di samping itu, tenggelamnya ratusan bahkan ribuan hektar tambak di pesisir Mengare ini juga terjadi karena sebab lain yaitu perubahan kenaikan tinggi permukaan air laut akibat fenomena  pemanasan global (global warming).
Jadi karena iklim dunia yang bertambah panas, maka sebagian es di kutub mencair, yang mengakibatkan naiknya permukaan air laut.
Di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini kenaikan air laut rata-rata adalah 5-10 mm (milimeter) per tahun. Sebagai gambaran, di Lampung 4,15 mm/tahun, di Jakarta kenaikannya 4,38 mm/tahun, di Semarang 9,27 mm/tahun, di Surabaya 5,47 mm/tahun (data dari Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, 2009). (Bach)

gajahan pengala (Numenius phaeopus)

bukan gajah sungguhan

volunteer alam lestari, mangrove mengare

gajahan pengala (Numenius phaeopus)

Salah satu burung lucu yang bisa kita jumpai di sekitar Mengare adalah burung GAJAHAN PENGALA (Numenius phaeopus) yang termasuk dalam suku Trinil-trinilan (Scolopacidae).
Suku ini jumlah jenisnya banyak dan tersebar luas. Umumnya ditemukan di pantai atau di daerah basah terbuka, sering dekat laut. Beberapa jenis menyebar sampai ke pedalaman di tempat-tempat tinggi.
Semua anggota suku ini mempunyai kaki panjang, sayap meruncing panjang, dan paruh ramping memanjang. Pada beberapa jenis, paruh sangat panjang. Paruh tersebut digunakan untuk mengais dalam ke lumpur, mencari cacing dan udang-udangan yang tersembunyi. Kebanyakan jenis merupakan pengembara, hanya Berkik-hutan merah yang merupakan penetap berbiak. Burung perancah pengembara ini dapat melewati Kawasan Sunda dalam perjalanan ke dan dari tempat makan ke selatan dan timur pada musim dingin. Pada sebagian musim, dapat menjadi pengunjung musim dingin yang tetap, mampir di sepanjang pesisir kawasan ini. Kadang-kadang terlihat dalam kelompok besar.
Burung perancah sering sulit diidentifikasi karena banyak yang mirip, dan biasanya terlihat dari jarak yang jauh.Kebanyakan jenis mempunyai suara yang khas sewaktu terbang. Untuk Gajahan Pengala suara khasnya berupa siulan meringkik keras “ti-ti-ti-ti-ti-ti”.

volunteer alam lestari, mangrove mengare

gajahan pengala (Numenius phaeopus)

Gajahan Pengala berukuran besar (43 cm), berwarna coklat bercoret dengan alis pucat. Garis mahkota hitam, kaki panjang, dan paruh melengkung ke bawah. Tunggir kecoklatan pada ras yang lebih umum variegatus, tetapi beberapa individu mempunyai tunggir putih dan sayap bawah mendekati ras phaeopus. Iris coklat, paruh hitam, kaki coklat kehitaman.
Penyebaran globalnya, berbiak di Eropa utara dan Asia. Pada musim dingin bermigrasi ke selatan sampai ke Asia tenggara, Australia, dan Selandia Baru.  Penyebaran lokal dan status: Di Sunda Besar tersebar luas sebagai pengunjung biasa. Beberapa burung yang tidak berbiak  dapat ditemukan pada musim panas.
Kebiasaan: Menyukai gosong lumpur, muara pasang surut, daerah berumput dekat pantai, paya, dan pantai berbatu. Biasanya hidup dalam kelompok kecil sampai besar, dan sering berbaur dengan burung perancah lain. (Bach)

=====================================

Info Mangrove Mengare merupakan selebaran informasi  lingkungan hidup yang diterbitkan
oleh Volunteer Alam Lestari bekerjasama dengan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Jawa Kementerian Lingkungan Hidup RI, sebagai media informasi dan komunikasi bagi masyarakat Mengare
dalam program Mangrove Mengare Management

Buletin Mangrove Mengare edisi tiga

Posted: 25th March 2011 by Bachtiar Djanan M in Konservasi Mangrove Mengare

Mangrove Mengare, volunteer alam lestari

MANGROVE MENGARE yang kaya



volunteer alam lestari, mangrove mengareDi Indonesia terdapat perbedaan dalam hal keragaman jenis mangrove antara satu pulau dengan pulau lainnya.  Dari 202 jenis mangrove yang telah diketahui, 166 jenis terdapat di Jawa, 157 jenis di Sumatera, 150 jenis di Kalimantan, 142 jenis di Papua, 135 jenis di Sulawesi, 133 jenis di Maluku dan 120 jenis di Kepulauan Sunda Kecil.
Dari beragam jenis yang ada tersebut, di Mengare, khususnya  wilayah desa Tajung Widoro saja sampai saat ini telah ditemukan ada 13 jenis mangrove. Ini merupakan kekayaan alam yang perlu disyukuri. Mangrove menjadi tempat hidup bagi berbagai makhluk hidup lain. Paling tidak ada 33 jenis burung yang saat ini telah terdata menghuni rerimbunan mangrove di desa Tajung Widoro Mengare. Jadi, mari bersama-sama kita jaga alam Mengare kita, kita jaga mangrove kita, dan kita jaga kelestarian aneka satwa-satwa liar kita, demi selamatnya bumi ini, dan demi kepentingan anak cucu kita. (Bach)

Rhizophora mucronata

volunteer alam lestari, mangrove mengare

rhizopora mucronata

Tanaman Rhizophora mucronata termasuk yang paling banyak tumbuh di Mengare. Orang Mengare menyebutnya sebagai tanaman tinjang, walaupun sebenarnya di daerah lain tinjang bukanlah Rhizophora mucronata, melainkan Rhizophora apiculata, bedanya untuk R.mucronata memiliki hipokotil (buah/biji) yang lebih panjang (sekitar 36-70 cm dan diameter 2-3 cm), sedangkan R.apiculata memiliki hipokotil yang lebih pendek (sekitar 18-38 cm dan diameter 1-2 cm).
R.mucronata mempuyai nama-nama daerah antara lain: Bangka itam, dongoh korap, bakau hitam, bakau korap, bakau merah, jankar, lenggayong, belukap, lolaro.
Pohon ini bisa tumbuh tinggi mencapai 27 m, namun jarang melebihi 30 m. Batangnya bisa berdiameter hingga 70 cm dengan kulit kayu berwarna gelap hingga hitam dan terdapat celah horizontal.  Akar tunjang dan akar udara yang tumbuh dari percabangan bagian bawah.
Tumbuhan ini memiliki daun berkulit. Gagang daun berwarna hijau, panjang 2,5-5,5 cm. Pinak daun terletak pada pangkal gagang daun berukuran 5,5-8,5 cm.  Bentuk:  elips melebar hingga bulat memanjang, dengan ujung meruncing. Berukuran:  11-23 x 5-13 cm.
Bunganya gagang kepala bunga seperti cagak, bersifat biseksual, masing-masing menempel pada gagang individu yang panjangnya 2,5-5 cm.  Terletak di ketiak daun.  Dengan formasi: Kelompok (4-8 bunga per kelompok).    Daun mahkota 4, berwarna putih,  dan ada rambut 9 mm.  Kelopak bunga 4, berwarna kuning pucat, panjangnya 13-19 mm, dengan benang sari 8 dan tak bertangkai.
Buah berbentuk lonjong/ panjang hingga berbentuk telur berukuran 5-7 cm, berwarna hijau-kecoklatan, seringkali kasar di bagian pangkal, berbiji tunggal. Hipokotil silindris,kasar dan berbintil. Leher kotilodon kuning ketika matang.  Ukuran hipokotil (buah/biji) panjangnya 36-70 cm dengan diameter 2-3 cm.

Tumbuh pada tanah berlumpur, halus, dalam dan tergenang pada saat pasang normal. Lebih toleran terhadap substrat yang lebih keras dan pasir. Pada umumnya tumbuh dalam kelompok,dekat atau pada pematang sungai pasang surut dan di muara sungai, jarang sekali tumbuh pada daerah yang jauh dari air pasang surut. Pertumbuhan optimal terjadi pada areal yang tergenang dalam, serta pada tanah yang kaya akan humus.

volunteer alam lestari, mangrove mengare

tinjang, Rhizophora mucronata

Merupakan salah satu jenis tumbuhan mangrove yang paling penting dan paling tersebar luas. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Anakan seringkali dimakan oleh kepiting, sehingga menghambat pertumbuhan mereka. Anakan yang telah dikeringkan dibawah naungan untuk beberapa hari akan lebih tahan terhadap gangguan kepiting. Hal tersebut mungkin dikarenakan adanya akumulasi tanin dalam jaringan yang kemudian melindungi mereka.

Penyebaran tanaman ini di Afrika Timur, Madagaskar, Mauritania, Asia tenggara, seluruh Malaysia dan Indonesia, Melanesia dan Mikronesia. Dibawa dan ditanam di Hawaii.
R.mucronata memiliki manfaat antara lain kayu bisa digunakan sebagai bahan bakar dan arang.   Tanin dari kulit kayu digunakan untuk pewarnaan, dan kadang-kadang digunakan sebagai obat dalam kasus hematuria (perdarahan pada air seni). Sering ditanam di sepanjang tambak untuk melindungi pematang  (Bach)

cangak abu (Ardea cinerea),

sang pemburu dengan satu kaki


volunteer alam lestari, mangrove mengare

cangak abu (Ardea cinerea)

Burung Cangak Abu (Ardea cinerea) termasuk salah satu burung indah yang ada di Mengare, walaupun jumlahnya tidak banyak. Burung ini masuk kategori burung cangak, suku Ardeidae.

Suku Ardeidae termasuk suku besar, tersebar luas di dunia, terdiri dari burung berkaki panjang. Leher panjang, paruh panjang-lurus yang digunakan untuk mencotok ikan, vertebrata kecil, atau invertebrata. Pada masa berbiak, beberapa jenis memamerkan bulu-bulu halus panjang yang bisa ditegakkan. Sarang biasanya terbuat dari tumpukan ranting di atas pohon.

Di barat orang menyebut burung ini dengan Grey Heron,  sedangkan dalam bahasa Melayu disebut Pucung Seriap.

Cangak abu berukuran besar (92 cm), berwarna putih, abu-abu, dan hitam.  Cangak abu dewasa bercirikan garis mata, jambul, bulu terbang, bahu, dan dua buah garis pada dada hitam; kepala, leher, dada, dan punggung putih, dengan beberapa coretan ke bawah, bagian yang lain abu-abu. Kepala burung muda lebih abu-abu dan tidak ada warna

volunteer alam lestari, mangrove mengare

cangak abu (Ardea cinerea)

hitam.  Iris kuning, paruh kuning kehijauan, kaki kehitaman. Cangak abu memiliki suara  “Krook” yang parau dan suara seperti angsa.

Penyebaran global Cangak abu adalah dari  Afrika, Erasia, sampai Filipina dan Sunda. Di seputar pulau Jawa terdapat kurang lebih 22 jenis burung cangak. Untuk penyebaran lokalnya pada habitat lahan basah di seluruh Sunda Besar. Umumnya tersebar di dekat laut, tetapi kadang-kadang ditemukan juga di danau-danau di pedalaman sampai pada ketinggian   900 m. Di Kalimantan penyebarannya tak banyak, diduga hanya sebagai pengunjung.

Kebiasaan burung cangak abu adalah pemburu yang hidup menyendiri di air dangkal, mencari ikan dengan cara menyusurkan kepala dan paruh. Berdiri dengan satu kaki menunggu ikan lewat.  Kepakan sayap berat.  Beristirahat di atas pohon. (Bach)

=====================================

Info Mangrove Mengare merupakan selebaran informasi  lingkungan hidup yang diterbitkan
oleh Volunteer Alam Lestari bekerjasama dengan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Jawa Kementerian Lingkungan Hidup RI, sebagai media informasi dan komunikasi bagi masyarakat Mengare
dalam program Mangrove Mengare Management

Buletin Mangrove Mengare edisi dua

Posted: 25th March 2011 by Bachtiar Djanan M in Konservasi Mangrove Mengare

Info Mangrove Mengare, Volunteer Alam Lestari

KEKAYAAN MANGROVE INDONESIA


mangrove mengare , volunteer alam lestariAsal kata “mangrove” tidak diketahui secara jelas dan terdapat berbagai pendapat mengenai asal-usul katanya.  Macnae (1968) menyebutkan kata mangrove merupakan perpaduan antara bahasa Portugis  “mangue”  dan bahasa Inggris  “grove”.  Sementara itu, menurut Mastaller (1997) kata mangrove berasal dari bahasa Melayu kuno “mangi-mangi” yang digunakan untuk menerangkan marga  Avicennia  dan masih digunakan sampai saat ini di Indonesia bagian timur.

Di Indonesia tercatat setidaknya terdapat 202 jenis mangrove mengare, volunteer alam lestaritumbuhan mangrove, meliputi 89 jenis pohon, 5 jenis palma, 19 jenis pemanjat, 44 jenis herba tanah, 44 jenis epifit dan 1 jenis paku. Dari 202 jenis tersebut, 43 jenis (diantaranya 33 jenis pohon dan beberapa jenis perdu) ditemukan sebagai mangrove sejati (true mangrove), sementara jenis lain ditemukan disekitar mangrove dan dikenal sebagai jenis mangrove ikutan (asociate asociate).   Di seluruh dunia, Saenger, dkk (1983) mencatat sebanyak 60 jenis tumbuhan mangrove sejati.  Dengan demikian terlihat bahwa Indonesia memiliki keragaman jenis yang tinggi. (Bach)

Avicennia marina,

sang penetral logam berat


mangrove mengare avicennia marina, volunteer alam lestari

avicennia marina

Salah satu jenis mangrove yang banyak dijumpai di Mengare adalah jenis  Avicennia Marina. Di beberapa daerah Avicennia marina memiliki beberapa nama lokal, antara lain: Api-api putih, api-api abang, sia-sia putih, sie-sie, pejapi, nyapi, hajusia, pai.

Avicennia marina  berbentuk belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar, dengan ketinggian pohon bisa mencapai 30 meter. Mangrove ini memiliki sistem perakaran horizontal yang rumit dan berbentuk pensil (atau berbentuk asparagus), akar nafas tegak. Kulit kayu halus dengan burik-burik hijau-abu dan terkelupas dalam bagian-bagian kecil. Ranting muda dan tangkai daun berwarna kuning, tidak berbulu.

Untuk daunnya, bagian atas permukaan daun ditutupi bintik-bintik kelenjar berbentuk cekung. Bagian bawah daun putih- abu-abu muda.   Berbentuk elips, bulat memanjang, bulat telur terbalik, dengan ujung meruncing hingga membundar berukuran: 9 x 4,5 cm.

Bunga Avicennia marina berbentuk eperti trisula dengan bunga bergerombol muncul di ujung tandan, berbau menyengat, dengan kendungan nektar banyak, terletak di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. Avicennia marnina memiliki formasi: bulir (2-12 bunga per tandan), dengan 4 daun mahkota berwarna kuning pucat-jingga tua, berukuran 5-8 mm.   Terdapat 5 kelopak bunga, dan 4 benang sari. Tumbuhan ini memiliki buah agak membulat, berwarna hijau agak keabu-abuan.  Permukaan buah berambut halus (seperti ada tepungnya) dan ujung buah agak tajam seperti paruh, berukuran sekitar 1,5×2,5 cm.

Avicennia marina merupakan tumbuhan pionir pada lahan pantai yang terlindung, memiliki kemampuan menempati dan tumbuh pada berbagai habitat pasang-surut, bahkan di tempat asin sekalipun. Jenis ini merupakan salah satu jenis tumbuhan yang paling umum ditemukan di habitat pasang-surut. Akarnya sering membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan tanah timbul. Jenis ini dapat juga bergerombol membentuk suatu kelompok pada habitat tertentu. Berbuah sepanjang tahun. Buah membuka pada saat telah matang, melalui lapisan dorsal. Buah dapat juga terbuka karena dimakan semut atau setelah terjadi penyerapan air.

Penyebaran Avicennia marina   di Afrika, Asia, Amerika Selatan, Australia, Polynesia dan Selandia Baru. Dan ditemukan di seluruh Indonesia.

volunteer alam lestari, mangrove mengare

Avicennia marina

Daun Avecennia marina bisa digunakan untuk mengatasi kulit yang terbakar. Sedangkan resin yang keluar dari kulit kayu digunakan sebagai alat kontrasepsi. Buahnya dapat dimakan. Kayunya menghasilkan bahan kertas berkualitas tinggi. Daunnya biasa digunakan sebagai makanan ternak.

Di daerah-daerah tercemar, Avicennia marina memiliki kemampuan akumulasi logam berat yang tinggi. Penelitian Daru Setyo Rini, SSi. menemukan  jenis magrove ini memiliki sistem penanggulangan racun, di antaranya dengan melemahkan efek racun melalui pengenceran (dilusi), yaitu dengan menyimpan banyak air untuk mengencerkan konsentrasi logam berat dalam jaringan tubuhnya, sehingga mengurangi kadar racun logam tersebut. Selain itu juga ekskresi, yaitu dengan menyimpan materi racun logam berat di dalam jaringan yang sudah tua, seperti daun yang sudah tua dan kulit batang yang mudah mengelupas, sehingga dapat mengurangi konsentrasi logam berat pada tubuhnya.

Pencemaran akibat logam berat yang dibawa oleh limbah industri bisa mengakibatkan antara lain: penyakit ginjal, paru-paru, tulang, hati, kelenjar reproduksi, kerusakan indra penciuman, kanker, cacat janin,  menurunkan kecerdasan dan kerusakan jaringan tubuh (karena logam berat Kadmium), sedangkan logam berat tembaga mengakibatkan kerusakan otak,  penurunan fungsi ginjal, pengendapan tembaga pada kornea mata. Mekanisme masuknya ketubuh manusia dari limbah industri dibawa air ke laut, di laut dimakan plankton, dan plankton dimakan ikan atau kerang, lalu ikan atau kerang dimakan manusia.

Dari hal ini tampaklah bahwa mangrove mempunyai fungsi sangat penting bagi manusia, maka itu mari kita bersama-sama melestarikannya. (Bach)

Ibis cucuk besi,

si pendiam yang cantik


ibis cucuk besi mangrove mengare, volunteer alam lestari

ibis cucuk besi (Threskiornis melanocephalus)

IBIS CUCUK BESI (Threskiornis melanocephalus) termasuk kategori suku threskiornithidae (Ibis). Burung dalam suku ini jumlah jenisnya sedikit, tersebar terutama di seluruh daerah tropis. Mirip dan mempunyai hubungan yang dekat dengan bangau, tetapi ukuran badan sedikit lebih kecil dan paruh lebih sesuai untuk menusuk makanan dalam air atau lumpur daripada untuk mencotok mangsa. Mendeteksi mangsa lebih banyak dengan menggunakan sentuhan daripada dengan penglihatan. Kaki sebagian berselaput. Hampir semua jenis terbang dengan kepakan sayap perlahan diselingi dengan melayang pendek.

Di sekitar Jawa terdapat lima jenis, dua di antaranya hidup dan berkembang biak di Mengare, yaitu Ibis Cucuk Besi (Threskiornis melanocephalus) dan Ibis Roko-roko (Plegadis falcinellus). Ibis cucuk besi berukuran besar (80 cm), mudah dikenali, berwarna putih. Kepala hitam, paruh panjang dan melengkung ke bawah. Ekor lebat karena bulu terbang tersier yang memanjang abu-abu. Iris coklat merah, paruh dan kaki hitam. Burung ini tidak banyak bersuara, biasanya diam, kecuali dengungan aneh pada masa berbiak.

volunteer alam lestari, mangrove mengare

IBIS CUCUK BESI (Threskiornis melanocephalus)

Penyebaran global di sekitar India, Cina selatan, Cina timur, Jepang, Asia tenggara, dan Sunda Besar (Jawa dan sekitarnya). Penyebaran lokal dan status: Jarang, pengunjung tidak berbiak ke Sumatera dan Kalimantan bagian utara. Beberapa koloni biak ditemukan di Jawa pada awal abad ini. Sekarang koloni utama terbatas di P. Dua (Jawa barat) dan di delta Brantas (Jawa timur).

Kebiasaan burung ini sering mengunjungi rawa payau berumput, pinggiran danau atau waduk, dan padang rumput tergenang. Biasanya hidup dalam kelompok kecil, aktif bergerak untuk mencari makan atau terbang dalam formasi. Sebagian bersifat nokturnal, sering beristirahat di atas pohon pada siang hari. Bersarang dalam koloni, bersama dengan bangau dan burung air lain. (Bach)

===============================

Info Mangrove Mengare merupakan selebaran informasi  lingkungan hidup yang diterbitkan
oleh Volunteer Alam Lestari bekerjasama dengan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup
Regional Jawa Kementerian Lingkungan Hidup RI,   sebagai media informasi dan komunikasi
bagi masyarakat Mengare dalam program Mangrove Mengare Management