Pola Pertumbuhan Tanaman

Pertumbuhan adalah suatu proses pertambahan ukuran, baik volume, bobot, dan jumlah sel yang bersifat irreversible (tidak dapat kembali ke asal). Pola pertumbuhan sendiri merupakan tahapan-tahapan dimana tanaman itu memasuki masa-masa vegetative dan generative. Pola pertumbuha ini sangat penting untuk dimengerti, karena dengan mengetahui pola pertumbuhan tanaman, maka pembudidaya tanaman akan mendapatkan suatu strategi yang tepat untuk melakukan pemeliharaan tanaman yang tepat dan efektif.
Dalam pola pertumbuhannya sendiri, tanaman mengalami dua fase pertumbuhan, yaitu fase vegetative dan fase generative.
· Fase vegetatif adalah fase berkembangnya bagian vegetative dari suatu tanaman. Bagian vegetative dari tanaman adalah akar, batang dan daun.
· Fase generative adalah fase berkembangnya bagian-bagian generative dari suatu tanaman. Bagian generative pada tanaman ini seperti bunga, buah, dan biji.
Fase vegetatif ini sendiri berlangsung selama periode tertentu. Setiap tanaman memiliki periode fase vegetatif yang berbeda-beda. Selama fase vegetatif ini berjalan pada periode tertentu, maka tanaman juga akan berangsur-angsur masuk dan berganti ke fase generatif. Dalam satu daur pertumbuhan tanaman, fase vegetatif dan fase generatif saling bergantian.
Pertumbuhan vegetatife sendiri sudah dimulai sejak tanaman di tanam dalam media yang sudah paten. Hal ini berarti, sejak masa pembenihan dan perkecambahan. Setelah masa penyiangan maka pertumbuhan vegetatif baru akan berjalan secara maksimal. Pertumbuhan ini yaitu mulai tumbuhnya akar sejati yang sudah kuat dan berkembang terus kedalam tanah.
Untuk batangnya sendiri juga akan terus bertambah besar dan tinggi. Jika pada tanaman yang berkambium, maka tanaman ini juga akan tumbuh melebar dan menjadi semakin keras. Pada daun sendiri akan terus bertambah sampai nanti memasuki fase generatifnya.
Setiap tanaman memiliki pola pertumbuhan vegetatif dan generatif yang berbeda-beda. Hal ini terbagi dalam tiga hal, yaitu :
1) Fase vegetatif berlangsung sampai waktu tertentu kemudian berangsur diganti fase generatif . Pada tanaman ini vase vegetatifnya terlihat jelas dan berbeda dari fase generatifnya. Fase vegetatif akan berjalan sesuai dengan waktunya. Jika sudah selesai maka akan berangsur-angsur masuk ke fase pertumbuhan generatifnya. Contoh dari tanaman yang mengalami hal ini adalah padi, jagung, kacang tanah, cauliflower, brokoli.
2) Fase vegetatif dominan atas fase generative. Pada tanaman yang mengalami hal ini, fase vegetatifnya berlangsung lebih lama dari pada fase generatifnya. Contoh tanaman yang mengalami Fase vegetatif dominan atas fase generative adalah kubis, brruselsprout, bawang merah.
3) Fase generatif berjalan (hampir) bersamaan dengan fase vegetative. Pada tanaman yang mengalami hal ini, fase generatifnya hamper berjalan bersamaan dengan fase vegetatifnya. Namun masih tetap fase vegetative yang terlebih dahulu. Contoh tanaman yang mengalami hal seperti ini adalah talas, cabai, tomat dan kentang.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman
Beberapa faktor lingkungan yang berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman ialah faktor tanah, suhu, dan cahaya.
Peranan tanah tergantung pada kondisi mineral organik, bahan organik tanah, organisme tanah, atmosfer tanah dan air tanah. Dalam hal ini tingkat kesuburan tanah (kimiawi, fisik, dan biologis) sangat menentukan pertumbuhan, perkembangan dan produksi tanaman.
Peranan suhu sebagai pengendali proses-proses fisik dan kimiawi yang selanjutnya akan mengendalikan reaksi biologi dalam tubuh tanaman. Misalnya suhu menentukan laju difusi dari gas dan zat cair dalam tanaman. Kecepatan reaksi kimia sangat dipengaruhi suhu, suhu makin tingg dalam batas tertentu reaksi makin cepat. Disamping itu suhu juga berpengaruh pada kestabilan sistem enzim.
Cahaya matahari sebagai sumber energi primer di muka bumi, sangat menentukan kehidupan dan produksi tanaman. Pengaruh cahaya tergantung mutu berdasarkan panjang gelombang (antara panjang gelombang 0,4 – 0,7 milimikron). Sebagai sumber energi pengaruh cahaya ditentukan oleh intensitas cahaya maupun lama penyinaran (panjang hari). Reaksi cahaya dari tanaman (fotosintesis, fototropisme, dan fotoperiodisitas) didasarkan atas reaksi fotokimia yang dilaksanakan oleh sistem pigmen spesifik.