Hutan Kota Malabar, merupakan hutan yang berada di tengah kota tepatnya di kota Malang. Ada yang sudah tidak asing lagi kah dengan hutan ini?atau malah baru mengetahui kalau kota Malang memiliki hutan yang letaknya di tengah kota?. Kalau ada yang baru mengetahuinya berarti sama halnya dengan saya :D. eitsss…tapi sejak di awal mengetik huruf di blog ini saya sudah mengetahui tentang Hutan Malabar itu lho. Tentunya dengan survey langsung ke hutan yang tepat berada di JL.MALABAR. nih ada bukti otentiknya, ada foto saya bersama dengan tiang yang bertuliskan jl.malabar(hehe.narsis sedikit enggak apa-apa yah 😀 )

Di siang hari yang terik yaitu Pada hari rabu, tepatnya tanggal 20 oktober 2010 saya dengan tiga teman saya yang lainnya yaitu Anfendita Azmi R. , Arfi Kurniawati, dan Boggie Wardana S. mendatangi hutan Malabar dengan semangat(demi tugas Pengantar Arsitektur Lanskap 😀 ) padahal wajah kusam dan badan bau kecut pula karena dari pagi sudah dicekoki sama mata kuliah berbobot 6 sks. Pada saat tiba di hutan Malabar langit yang tadinya cerah bergeser menjadi mendung dan bressss…hujan datang dengan deras, sehingga kami berempat dengan sabar menunggu di bawah pohon tetapi hasilnya adalah hujan tak kunjung reda, akhirnya kami memutuskan untuk kembali di esok harinya. Akan tetapi, saya tidak pulang dengan tangan kosong. Saya mendapat gambaran langsung tentang hutan Malabar walaupun tidak sepenuhnya, karena saya tidak sampai masuk ke dalam area hutan kota ini, tetapi saya dapat melihat bahwa di sekitar hutan ini banyak rumah yang dimukimkan maupun sebagai tempat usaha. Tampak jelas dari luar area hutan bahwa hutan ini masih dijaga kealamiannya serta tertata dengan rapi. Pada saat saya berteduh dibawah pohon saya melihat sekitar dan mendapatkan suasana yang sepi tidak ada aktifitas. Entah karena hujan atau memang hutan Malabar di siang hari menjelang sore memang sepi dengan pengunjung.

Ini dia wajah hutan kota malabar saat hujan di sore hari

Pada hari kamis, 21 oktober 2010. Tepat pukul 08.00 wib, saya bergegas menuju hutan Malabar. Sesampainya di hutan kota malabar yang luasnya diperkirakan 16.718m2, aroma sejuk khas pagi hari terhirup oleh saya. Wah betapa sejuknya hutan ini. Saya saja sampai terpukau dibuatnya, karena masih belum menyangka di tengah kota yang padat akan polusi masih ada ternyata area sejuk seperti di hutan Malabar ini. Sebelum memasuki area hutan Malabar Aktifitas yang saya temukan yaitu ada orang yang menyapu area hutan Malabar di bagian trotoranya. Selain itu saya juga menemui banyak tukang sampah yang mengumpulkan sampahnya di dekat hutan Malabar, saya langsung bertanya – tanya mengapa sampah rumah tangga banyak yang di buang di sini padahal kan ini hutan kota yang seharusnya terjaga keasriannya.

Saya mulai memasuki kawasan hutan dan melihat masih banyak pohon – pohon tahunan yang tertanam dengan rapi. Masih tersisa bau hujan sisa kemaren yang membuat tanah dan rerumputan di hutan Malabar basah. Makin terasa saja kesan alami yang ditunjukkan oleh hutan ini. Awal memasuki hutan mata saya langsung tertuju pada satu pohon besar yang berada pada bangunan persegi enam yang saya tebak sebagai center dari hutan Malabar ini.

Sebagian besar wilayah dari hutan Malabar ini masih alami beralaskan tanah, ada sebagian yang di beri alas dengan paving tapi hanya sedikit, selebihnya dibiarkan dengan tanah dan rerumputan. Karena mengingat ekosistem yang ada di dalam hutan Malabar ini adalah tanaman tahuan.

Dalam menjaga hutan kota ini, pemerintah turut serta berpartisipasi lewat peringatan yang ditujukan kepada masyarakat yang mengunjungi kawasan hutan Malabar seperti yang tertera pada foto berikut ini:

Setelah melihat papan peringatan tersebut saya terus menyusuri kawasan hutan Malabar ini, dan saya menemukan banyak sekali nyamuk di hutan ini, setelah itu saya melihat ada kolam di tengah hutan dan saya langsung mendekati area tersebut dan mendapatkan pemandangan kolam yang ternyata merupakan sumber untuk mengairi taman-taman di kota Malang. Air yang didapat kolam tersebut adalah air yang berasal dari kota dan mengalir ke arah hutan Malabar dan diolah kembali menjadi air yang berguna untuk mengiri taman.

Setelah melihat kolam di hutan Malabar ini, saya merasa informasi yang saya dapatkan sudah cukup, dan memutuskan untuk pulang. Ketika saya berjalan menuju parkir motor, saya menemukan aktifitas yang masih ada di kawasan hutan ini, yaitu aktifitas pengolahan sampah. Hal ini menjawab pertanyaan saya di awal tadi yang heran dengan banyak sampah yang diletakkan di kawsan hutan sesejuk ini. Ternyata setelah ditelusuri langsung di dalam kawasan hutan Malabar ini terdapat tempat pengolahan sampah dan limbah rumah tangga untuk dijadikan pupuk organik.

Dengan demikian, makin bertambah saja kekaguman saya terhadap hutan yang berada di tengah – tengah kota malang ini. Hutan yang begitu sejuk dan banyak manfaatnya bagi masyarakat selain bisa sebagai tempat refreshing dan kepenatan dari ramainya kota, hutan ini juga sebagai pengolahan limbah menjadi pupuk organik. Namun yang masih disayangkan yaitu peran aktif pemerintah dan masyarakat yang masih belum terlihat intens menjaga keasrian hutan ini. Pemanfaatannya pun masih belum maksimal, hal ini terlihat dari belum adanya sarana bermain bagi anak – anak dan tempat rekreasi yang simpel bagi keluarga di akhir pekan.

Sebenarnya hutan Malabar ini bias di bilang sudah memenuhi standart taman kota yaitu sudah sangat nyaman sebagai tempat publik yang dapat dipergunakan bagi orang muda sampai tua untuk menikmati keindahan alam demi mencapai suatu kerelaksasian dari kepenatan di hari – hari efektif. Selain sarana bermain yang belum ada, masih ada hal yang mengganggu pemandangan di hutan Malabar ini yaitu adanya ruko – ruko kecil di sekeliling hutan yang belum tertata dengan rapi. Seperti pada gambar yang saya dokumentasikan di bawah ini, terdapat ruko – ruko yang buka pada malam hari dengan susana hutan kota malabar yang sepi.

Apabila ingin dibandingkan dengan standar taman kota secara lingkup dunia. berikut akan saya tampilkan data yang saya dapatkan dari browsing (Anonymous, 2010)

Dari data di atas didapatkan informasi bahwa taman kota berstandar dunia ialah yang memiliki lingkungan taman untuk 3.500 – 5.000 penduduk dalam radius ½ mil, dengan luas taman sekitar 10 hektar, berkurang menjadi 5 hektar jika terletak di sebelah situs sekolah dasar di mana penggunaan bersama diantisipasi, dan memiliki ciri khas fasilitas area piknik, banyak tot, pengadilan multi-tujuan, area rumput terbuka.

Oleh karena itu, apabila kita bandingkan maka hutan kota Malabar ini masih jauh dari standar taman kota lingkup dunia seperti data yang tercantum di atas. Akan tetapi menurut saya, hutan kota Malabar ini masih bisa dikembangkan lagi dari segi fungsional maupun nilai estetikanya. Dan saran saya terhadap pemerintah, masyarakat, serta stakeholder yang terkait lainnya adalah dimohon dengan sangat agar hutan kota yang asri ini lebih diperhatikan lagi, karena hutan malabar ini sangat berpotensi untuk menjaga keseimbangan ekologis alam, karena melihat fakta yang ada bahwa sebagian besar kota malang sudah dipenuhi oleh gedung – gedung bertingkat sehingga sangat kecil kemungkinan ditemukannya ruang hijau seperti di hutan kota Malabar ini.