Tugas Minggu ke 4 “Proses Pembentukan Wilayah Berdasarkan Tenaga Endogen”

0

Nama Kelompok

Ayi Priana                     125040201111092

Ratna Afriana Sari         125040201111107

Eva A. rahmawati          125040201111193

Libela Septa wahdini     125040201111167

Neni Isnawati                125040201111213

Nur Afriza                     125040201111158

Struktur Bumi  Sukabumi

Struktur umum Pulau Jawa merupakan hasil interaksi tumbukan lempeng Samudera Hindia dengan lempeng Benua Asia dengan arah tumbukan relatif berarah utara-selatan yang menghasilkan pola struktur lipatan berarah barat-timur dan pola patahan geser berarah baratdaya ± timur laut dan tenggara ± barat laut. Kondisi geologi daerah Sukabumi Selatan terbentuk dari serangkaian peristiwa geologi mulai zaman Oligosen sampai Kuarter yang menghasilkan berbagai jenis batuan sedimen dan vulkanik yang dikontrol oleh kegiatan tektonik yang kuat sehingga menghasilkan bentuk lahan mulai dari pedaratan, perbukitan vulkanik dan perbukitan lipatan serta patahan Cimandiri yang sampai sekarang termasuk kategori patahan aktif. Menurut Baumann, dkk. (1973), daerah Jawa Barat bagian Selatan dibagi atas beberapa satuan struktur yanitu tinggian dan rendahan. Daerah tinggian diantaranya adalah Honje, Bayah, Sukabumi, Ciletuh, Jampang dan Ciamandiri. Sedangkan daerah rendahan adalah Malingping, dan Cibadak-Pelabuhan Ratu. Selanjutnya dikatakan bahwa sejak Oligosen hingga Kuarter di daerah Jawa Barat bagian Selatan dapat dibagi menjadi empat fase tektonik yang diikuti oleh aktivitas vulkanik, yaitu.

1.    Fase tektonik Oligosen Akhir hingga Miosen Awal

Pada periode ini, batu pasir Oligosen telah mengalami pelipatan dengan arah timur laut ± barat daya dan beberapa struktur patahan dengan arah barat ± timur. Pada bagian tengah ini terjadi gerak-gerak vertical yang diikuti oleh aktivitas vulkanik.

2.      Fase Tektonik Miosen Tengah

Pada periode ini terjadi fase tektonik yang besar. Daerah Jawa Barat bagian selatan mengalami pengangkatan dan beberapa daerah mengalami perlipatan dan pensesaran secara intensif. Seperti perlipatan dan sesar-sesar longitudinal berarah timur-barat terjadi di daerah tinggian bayah, Hegarmanah.

3.      Fase Tektonik Pliosen Akhir-Pleistosen

Pada periode ini sebagian besar daerah Jawa Barat bagian selatan terangkat, beberapa sesar mendatar berarah timur-barat memotong struktur yang telah ada. Akibatnya, pola struktur daerah Jampang telah mengalami perubahan ke arah baratdaya pada masa itu.selanjutnya tidak diketahui secara pasti, apakah fase ini berlangsung terus hingga Kuarter.

4.      Fase Tektonik Kuarter

Pada periode ini terjadi aktivitas vulkanik yang kuat, membentuk struktur barat daya-timur laut. Sukendar Asikin (1987), menyimpulkan adanya tiga gejala yang menonjol di Jawa Barat, yaitu:

  1. sesar berarah timur laut-barat daya yang dijumpai di daerah Pelabuhan Ratu, yang berhimpit dengan Lembah Cimandiri.
  2. sesar berarah barat laut-tenggara membagi suatu jalur fisiografi, oleh van Bemmelen (1949) disebut  Zona Bogor. Sesar ini dapat diikuti dari Jakarta sampai ke Cilacap.
  3. sesar berarah timur-barat memotong Pegunungan Selatan diperkirakan sebagai sesar normal dengan bagian utara relatif naik terhadap bagian Selatan.

1)        Cibadak dan Sekitarnya

Daerah struktur cibadak dan sekitarnya di dominasi oleh lipatan-lipatan, sesar naik dan sesar geser . daerah struktur Gunung Walat ini adalah sesuai dengan arah Sumatera. Sesar dan lipatannya pada daerah aliran Cimandiri umumnya, berubah arah mengikuti arah Cimandiri, sedangkan disebelah selatannya (daerah struktur Jampang Kulon) merupakan suatu tinggian.

2)        Ujung Genteng

Ujung genteng merupakan pantai yang terletak di Samudera Hindia atau lebih dikenal sebagai Pantai Selatan Jawa. Tatanan tektonik di sepanjang pantai Selatan merupakan Zona Subduksi. Zona Subduksi adalah zona penunjaman lempeng Samudera ke dalam lempeng benua.

Daerah yang berada disepanjang jalur subduksi akan banyak diikuti oleh atkivitas magmatik dan gempa. Oleh karena itu, daerah sekitar Pantai Selatan Ujung Genteng banyak dijumpai gunung api baik yang aktif, maupun tidak. Disepanjang Pelabuhan Ratu dan Ujung Genteng terdapat pantai dengan Fluvial yang memiliki ketinggian  10 mdpl dan lebarnya sekitar 100 – 2500 m. sepanjang aliran Cimandiri, Ci Kaso dan sungai-sungai lainnya yang memiliki kemiringan sekitar 5 % terdapat bukit-bukit rendah yang terdapat endapan Gumuk pasir. Batuan yang menutupinya terdiri dari endapan pantai dan alluvial berumur Kuarter. Selain itu sekitar pantai Ujung Genteng curam dan banyak ditemukan lekukan yang menjorok ke arah daratan. Berdasarkan peta geologi regional untuk daerah Ujung Genteng, terlihat bahwa terdapat bongkahan batu gamping  berupa koral yang tersingkap di ujung pantainya. Bukti dari aktivitas magmatik akibat jalur subduksi dapat diamati dengan kehadiran batuan vulkanik yang tersingkap di daerah sekitarnya. Umur batuan Vulkanik ini umumnya berupa endapan Tersier. Kehadiran batuan Vulkanik akan menyebabkan topografi yang bergelombang. Air terjun yang dijumpai di daerah ini kemungkinan besar di kontrol oleh perbedaan litologi keras (vulkanik) dengan litologi lunak (sedimen).

3)        Pelabuhan Ratu

Untuk daerah Pelabuhan Ratu, Kondisi bentuk lahannya adalah pedataran pantai dan fluvial dengan ketinggian sekitar 0–10 meter diatas permukaan laut. Kondisi ini ada di sepanjang pesisir pantai daerah Pelabuhan Ratu dan juga pesisir pantai daerah Ujung Genteng dengan lebar sekitar 100- 2500 meter, sepanjang aliran sungai ci mandiri, ci kaso dan juga sungai- sungai lainnya yang bermuara ke laut dengan kemiringan lereng sekitar 5 %. Dibeberapa bagian lainnya terdapat bukit-bukit rendah yang terbentuk dari endapan gumuk pasir. Sedangkan batuan yang menutupi daerah ini terdiri dari endapan pantai dan  alluvial berumur kuarter. Penggunaan lahan ini pada umumnya digunakan untuk objek wisata, permukiman, dan juga pesawahan. Daerah Sukabumi Selatan, banyak memiliki potensisumberdaya alam . salah satunya adalah bahan galian C yaitu batu belah yang terdapat di daerah Sukabumi Selatan. Khususnya daerah Pelabuhan Ratu. Batu belah ini terdapat sebagai aliran lava penggaliannya terbatas pada  tempat-tempat yang mudah dijangkau di tepi jalan sekitar Pelabuhan Ratu-Cikadang dan juga Pelabuhan Ratu-Warungkiara. Proses-proses geologi yang masih berlangsung sampai ada saat ini dapat menimbulkan bencana alami yang dapat menghambat proses  pembangunan di daerah Sukabumi Selatan ini. Di Daerah Sukabumi Selatan ini, khususnya Pelabuhan ratu, proses geologi yang saat ini masih berlangsung antara lain adalah erosi, abrasi, dan gempa bumi. Erosi di Pelabuhan Ratu ini berjalan Intensif pada tanah yang terbuka atau rusak karena ada kegiatan manusia, contohnya di daerah perbukitan karena kegiatan perkebunan yang membuka lahan perkebunan. Untuk daerah pantai Sukabumi Selatan yang merupakan pantai yang memiliki gelombang laut Samudera Hindia yang cukup kuat dan pengikisan pantainya pun cukup kuat, daerah yang terkena abrasi ini adalah sekitar panati Ujung Genteng dan juga sekitar pantai Pelabuhan Ratu.

Sejarah Geologi Ciletuh Sukabumi

Kawasan Ciletuh, Kabupaten Sukabumi secara geologi merupakan daerah yang khas, unik dan langka, karena tersingkap batuan yang berumur paling tua (Pra-Tersier) di Jawa Barat. Batuannya dibedakan atas kelompok ofiolit (peridotit, gabro, basalt), metaformik (sekis, filit, gneiss, serpentinit), sedimen laut dalam (serpih, rijang), dan sedimen benua (batupasir graywacke, batugamping, breksi polimik). Gemorfologinya membentuk tapal kuda (amphitheatre) terbuka ke arah Samudra Hindia. Singkapan batuannya memperlihatkan kenampakan yang khas sebagai cerminan dari litologi dan geomorfologinya. Daerah Ciletuh merupakan fosil tektonik memperlihatkan pendampingan dua zona yang disusun oleh batuan berasal dari lempeng samudera dan lempeng benua dua penggalan kerak bumi yang sangat berbeda sifatnya yang terbentuk karena adanya subduksi (tumbukan) dari kedua lempeng tersebut. Karena keunikan dan kelangkaan geologinya kawasan Ciletuh dapat dijadikan sebagai “Labaoratorium Alam Geologi” Jawa Barat. Saat ini Kawasan Ciletuh merupakan Suaka Margasatwa Cikepuh-Citireum dan Cagar Alam Cibanteng di bawah pengawasan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat I.

Daerah Ciletuh pada saat ini terletak pada lingkungan tektonik busur vulkanik dari sistem tumbukan antara Lempeng Eurasia dengan Lempeng Hindia Australia.Lempeng Eurasia bersifat granitis (dinamakan juga sebagai lempeng benua) sedangkan Lempeng Hindia-Australia bersifat basaltis (dinamakan juga sebagai lempeng samudra).Posisi jalur tumbukan kedua lempeng berada di Samudra Hindia.

Dari waktu ke waktu, posisi jalur tumbukan dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi geologinya pada saat itu.  Pada Zaman Kapur, posisi jalur tumbukan berada di daerah Ciletuh sekarang. Akibat dari pertemuan kedua lempeng tersebut, daerah Ciletuh pada saat itu berada di lingkungan laut dalam.Morfologi dasar laut yang dibentuk oleh aktifitas tumbukan kedua lempeng tersebut menyerupai parit atau palung curam (trench) yang memanjang dengan arah barat-timur.

Di dalam palung (zona tumbukan) terakumulasi sedimen laut dalam (sediment pelagic) berupa lapisan lempung dan batugamping klastik. Disamping itu, di dalam zona tumbukan terjadi proses percampuran batuan yang mekanismenya  dapat terjadi secara tektonik dan sedimenter.

Batuan campur aduk (batuan bancuh) dinamakan pula sebagai melange, batuannya terdiri atas batuan beku, batuan metamorfik dan batuan sedimen. Apabila proses percampuran batuannya akibat tektonik dinamakan sebagai “melange tektonik” dan apabila prosesnya akibat sedimentasi maka dinamakan sebagai “melange sedimenter” atau olistostrom. Di dalam lembah Ciletuh, batuanmelange terdiri atas batuan basa dan ultra basa (Ofiolit), seperti peridotit, serpentinit, gabro dan basalt. Batuan melange Ciletuh selanjutnya ditutupi secara tidak selaras oleh batuan sedimen Formasi Ciletuh.Formasi Ciletuh terdiri atas metasedimen, breksi dan greywacke. Di dalam lembah Ciletuh, satuan batuan tersebut dapat dijumpai di daerah bermorfologi bergelombang  dan di beberapa daerah sekitar pantai.

Daerah Ciletuh yang semula berupa cekungan pada akhirnya penuh dengan isian sedimen (Formasi Ciletuh) dan pada saat yang bersamaan tektonik pengangkatan terus belangsung. Akibat proses geologi ini,  daerah Ciletuh untuk pertama kalinya berubah menjadi daratan.

Morfologi daratan Ciletuh pada saat itu terdiri atas perbukitan (tinggian) dan lembah (rendahan).Bentuk morfologi tersebut dikontrol oleh sesar-sesar normal yang diakibatkan oleh tektonik regangan.

Pada bagian rendahan mulai terakumulasi sediment sungai, terdiri atas lapisan pasir kuarsa dan konglomerat.Satuan batuan tersebut pada akhirnya dinamakan sebagai Formasi Bayah (Martodjojo, 1984).Selanjutnya tektonik regangan ini makin intensif sehingga sebaran sedimennya makin luas dan tebal serta dibeberapa tempat sudah mulai terbentuk sedimen di lingkungan transisi dan delta. Tektonik regangan yang terjadi pada saat itu, mengawali pembentukan cekungan (selanjutnya dinamakan sebagai Cekungan Bogor) dan pada tahap selanjutnya, daerah Ciletuh kembali tenggelam menjadi lautan.Secara tektonik daerah Ciletuh pada saat itu berada di lingkungan Cekungan Belakang Busur. Ciletuh kembali menjadi daratan pada kala Plio-Plistosen.Pada saat itu tektonik kompresi di Jawa berlangsung secara besar-besaran.Seluruh batuan di dalam Cekungan Bogor mengalami pengangkatan, perlipatan dan pensesaran yang menyebabkan sebagian besar Cekungan Bogor menjadi daratan.Secara tektonik daerah Ciletuh pada saat itu berada di lingkungan Busur Gunungapi (Vulcanic arc) dan kondisi tersebut bertahan hingga sekarang.

Mekanisme Tersingkapnya Batuan-Pra Tersier Ciletuh

Batuan Pra-Tersier Ciletuh yang tersingkap di dalam lembah Ciletuh, menempati elevasi mulai 0 hingga 50 m di atas permukaan laut.Pada batas lembah-lembahnya, batuan tua ini ditutupi oleh Formasi Jampang yang umurnya lebih muda (Miosen). Dilihat dari sejarah geologinya, batuan Pra-Tersier Ciletuh merupakan batuan tertua yang terletak di bagian paling bawah dari urutan stratigrafinya. Selanjutnya batuan tua ini ditutupi oleh batuan sedimen yang umurnya lebih muda dengan tebal mencapai  ribuan meter. Pada saat ini, batuan Pra-Tersier telah tersingkap ke permukaan dengan berbagai macam proses geologi. Proses tektonik merupakan mekanisme utama yang menggerakan batuan dari posisi bawah ke permukaan (pengangkatan). Proses pengangkatan dapat terjadi melalui mekanisme pembentukan struktur lipatan dan sesar naik. Jalur sesar naik daerah Ciletuh dan sekitarnya umumnya relatif lurus dan berarah barat-timur, sedangkan sebaran batuan tua yang berada di lembah Ciletuh dibatasi oleh batas-batas lembahnya yang melingkar.Dengan demikian harus ada mekanisme lainnya yang menyebabkan batuan tua tersebut tersingkap ke permukaan.

Morfologi lembah membusur dengan bentuk setengah lingkaran (bentuk tapal kuda) biasanya terjadi akibat  longsoran. Dengan mengacu kepada model tersebut maka di daerah Ciletuh pernah terjadi peristiwa longsor besar yang menyebabkan masa batuan Formasi Jampang bergerak ke arah laut (Bentuk lembah Ciletuh membusur dan terbuka ke arah laut). Selanjutnya akibat peristiwa longsoran besar ini, tersingkaplah batuan tua di  permukaan

 subduksi1

4

Tugas Analisis Landskap

0

Malang raya merupakan daratan yang dikelilingi oleh beberapa gunung (semeru, tengger/bromo, arjuna, anjasmara, dan kelud/butak) dan perbukitan selatan.

Diskusikan mengapa demikian?

Sejarah terbentuknya gunung api di Indonesia

Indonesia adalah daerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Daerah ini berbentuk seperti tapal kuda dan mencakup wilayah sepanjang 40.000 km. Daerah ini juga sering disebut sebagai sabuk gempa Pasifik. Sekitar 90% dari gempa bumi yang terjadi dan 81% dari gempa bumi terbesar terjadi di sepanjang Cincin Api ini. Daerah gempa berikutnya (5–6% dari seluruh gempa dan 17% dari gempa terbesar) adalah sabuk Alpide yang membentang dari Jawa ke Sumatra, Himalaya, Mediterania hingga ke Atlantika.

1

Cincin Api Pasifik ( Ring Of Fire ) adalah area dimana terdapat banyak sekali terjadi gempa dan letusan gunung berapi di dalam area Samudera Pasifik. Dari sebanyak 129 gunung api di Indonesia atau 13 persen dari seluruh gunung api di dunia, terbentang dari pulau Sumatera menyusuri pulau Jawa kemudian menyeberang ke Bali, Nusa Tenggara hingga bagian timur Maluku dan berbelok ke utara pulau Sulawesi. Atau melingkari Kepulauan Indonesia sehingga dikenal dengan sebutan lingkaran api ( The Ring of Fire ) Indonesia, atau jalur tektonik Indonesia, tegas Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi, Dr Surono. 

Banyaknya gunung api di Indonesia, karena negara kepulauan ini tercabik – cabik oleh keberadaan pusat hiruk – pikuk tiga lempeng tektonik ( tectonic plate ), yang saling bertabrakan, katanya. Masing – masing lempeng Eurasia, lempeng Indo – Australia dan lempeng Pasifik, tumbukan ketiga lempeng tersebut pada akhirnya membentuk rangkaian gunung api di Indonesia. Dijelaskan, kawasan ini menjadi arena benturan antara lempeng Indo – Australia yang bergerak ke utara terhadap lempeng Pasifik yang relatif bergerak ke arah barat. Sehingga kepulauan Indonesia dihimpit oleh dua pergerakan, terdiri ke utara dan ke barat dengan kecepatan berkisar 4 – 6 cm per tahun, maka lempeng yang berbenturan tersebut menunjang tepat di bawah kepulauan Indonesia dan memberi peluang kepada magma merayap naik, persis diatas Nusantara dan membentuk banyak pulau.

Di bagian utara terdapat lempeng yang ketiga, lempeng Eurasia yang menahan himpitan tersebut sehingga Nusantara berada dalam lingkaran pertarungan tiga lempeng besar dunia. Akibat benturan ketiga lempeng itu, menyebabkan retaknya beberapa bagian pada kerak bumi, selain menimbulkan panas yang memproduksi batuan cair ( magma ). Melalui retakan – retakan yang terbentuk, sekaligus sebagai bidang lemah, magma terdorong naik dan membentuk kerucut – kerucut gunung api. Sementara itu, zona subduksi yang terbentuk sangat luas dimulai dari sisi selatan barat pulau Sumatera hingga sisi selatan pulau Jawa, zona tersebut berlanjut hingga Nusa Tenggara yang memanjang dari barat ke timur. Kemudian di bagian timur Nusantara jalurnya memutar dimulai dari laut Banda di Maluku berputar ke utara memotong Sulawesi bagian utara, tegasnya. Surono menyatakan, team – nya siap dan mampu menangani target letusan lima gunung api di Indonesia setiap tahun.

Proses terbentuknya gunung api

2

Gunung api terbentuk pada pertemuan atau tumbukan antar lempeng yang mengalami pergerakan. Pada saat lempeng samudera menghujam ke bawah akan mengakibatkan lempeng benua terangkat ke atas. Dikarenakan kedua lempengan bersifat keras dan kaku, maka lempeng benua akan mengalami keretakan sehingga megma cari akan masuk ke dalam celah-celah retakan dan membentuk kantong-kantong magma. Sebagian dari magma tersebut ada yang berhasil mencapa permukaan bumi dan membentuk gunung api.  Magma didalam mantel bumi terus-menerus mengalami pergerakan dan tekanan-tekanan pada lapisan kerak bumi. Salah satu akibat dari pergerakan tersebut adalah timbulnya vulkanisme.

Vulkanisme merupakan proses pergerakan atau penerobodan magma sehingga berhasil mencapai lapisan kerak bumi. Mgma merupakan batuan cair yang bersuhu sangat tinggi dan banyak mengandung gas di dalam perut bumi.magma dapat berhasil mencapai kerak bumi melalui celah – celah retakan batuan dan patahan. Aktivitas pergerakan magma tersebut dapat menghasilkan bentukan berupa kerucut atau kubah yang dikenal dengan istilah gunung api.

Akibat adanya pergeseran antar lempeng yang terjadi di wilayah Indonesia tepatnya di daerah ring of fire, sehingga membentuk gunung api yang berada di Malang raya , jawa timur. Oleh karena itu, wilayah Malang Raya dikelilingi oleh gunung api akibat terbentuk dari pergerakan lempeng yang mengakibatkan magma ke permukaan dan membentuk gunung api.

3

 5

6

Tugas Analisis Landskap Minggu ke 2

0

Bencana Alam Longsor di desa Cibadak, Sukabumi Jawa Barat

Nama Kelompok Analisis landskap

Ayi Priana / 125040201111092

Ratna Afriana Sari/125040201111107

Eva A. rahmawati /125040201111193

Libela Septa wahdini/125040201111167

Neni Isnawati/ 125040201111213

Nur Afriza / 125040201111158

Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Provinsi Jawa Barat dengan jarak tempuh 96 km dari Ibukota Provinsi Jawa Barat (Bandung) dan 119 km dari Ibukota Negara (Jakarta). Secara geografis wilayah Kabupaten Sukabumi terletak diantara 6°57’- 7°25’ Lintang Selatan dan 106°49’ – 107°00’ Bujur Timur dan mempunyai luas daerah 4.161 km² atau 11,21% dari luas Jawa Barat atau 3,01% dari luas Pulau Jawa, dengan batas-batas wilayahnya :

peta_RBI_sukabumi-585x413• Sebelah Utara, berbatasan dengan Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat;

• Sebelah Selatan, berbatasan dengan Samudera Indonesia;

•Sebelah Barat, berbatasan dengan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten dan Samudera Indonesia;

• Sebelah Timur, berbatasan dengan Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

Selain itu secara administratif Kabupaten Sukabumi juga berbatasan secara langsung dengan wilayah Kota Sukabumi yang merupakan daerah kantong (enclave) dikelilingi beberapa wilayah kecamatan di Kabupaten Sukabumi. Kecamatan tersebut yaitu Kecamatan Sukabumi di sebelah Utara, Kecamatan Cisaat dan Kecamatan Gunungguruh di sebelah Barat, Kecamatan Nyalindung di sebelah Selatan, Kecamatan Sukaraja dan Kecamatan Kebonpedes di sebelah Timur.

Bentuk topografi wilayah Kabupaten Sukabumi pada umumnya meliputi permukaan yang bergelombang di daerah selatan dan bergunung di daerah bagian utara dan tengah. Dengan ketinggian berkisar antara 0 – 2.960 m. Dengan adanya daerah pantai dan gunung-gunung antara lain Gunung Salak dan Gunung Gede yang masing-masing mempunyai puncak ketinggian 2.211 m dan 2.958 m menyebabkan keadaan lereng sangat miring (lebih besar dari 35°) meliputi 29% dari luas Kabupaten Sukabumi.

Sementara kemiringan antara [13°- 35°] meliputi 37% dan kemiringan antara [2°- 13°] meliputi 21% dari luas kabupaten. Sisanya daerah datar meliputi 13% dari luas kabupaten. Keadaan topografi yang demikian menyebabkan wilayah Kabupaten Sukabumi menjadi rawan terhadap longsor, erosi tanah dan lain-lain. Bila diamati dari sumber air, ternyata sumber daya air cukup banyak, hal ini ditunjukkan dengan banyaknya aliran sungai seperti Sungai Cimandiri dan anak-anak sungainya, Cipelang, Citatih, Citarik, Cibodas dan Cidadap. Selain itu terdapat juga Sungai Ciletuh, Cikarang, Cikaso dan Cibuni yang merupakan batas dengan daerah Kabupaten Cianjur di sebelah Timur. Sumber-sumber air tersebut banyak digunakan masyarakat untuk mengairi lahan pertaniannya.

1

Dari aspek kemampuan tanah (kedalaman efektif dan tekstur), daerah Kabupaten Sukabumi sebagian besar bertekstur tanah sedang (tanah lempung). Kedalaman tanahnya dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) golongan besar yaitu kedalaman tanah sangat dalam (lebih dari 90 cm) dan kedalaman tanah kurang dalam (kurang dari 90 cm). Kedalaman tanah sangat dalam tersebar di bagian utara, sedangkan kedalaman tanah kurang dalam tersebar di bagian tengah dan selatan. Hal ini mengakibatkan wilayah bagian utara lebih subur dibanding wilayah bagian selatan. Kabupaten Sukabumi seperti juga daerah lainnya di Indonesia termasuk yang beriklim tropis. Udara yang cukup hangat tersaji hampir setiap tahunnya. Pada tahun 2011 curah hujan tertinggi yang tercatat di pusat pemantauan Goalpara terjadi pada bulan Februari dengan curah hujan 640 mm dan terjadi selama 25 hari. Sedangkan curah hujan terkecil terjadi di bulan Agustus sebesar 1 mm. Adapun potensi geologis Kabupaten Sukabumi yang sudah dimanfaatkan antara lain sumber panas bumi di daerah Gunung Salak dan Cisolok, bahan tambang dan bahan galian emas, perak, batu-bara, pasir kwarsa, marmer, pasir besi, bentonit, teras, batu gamping, tanah liat dan lain-lain. Jenis tanah di bagian utara wilayah Sukabumi pada umumnya terdiri dari tanah latosol, andosol dan regosol.

Di bagian tengah pada umumnya terdiri dari tanah latosol dan podsolik, sedangkan di bagian selatan sebagian besar terdiri dari tanah laterit, grumosol, podsolik dan alluvial. (Sumber : Kabupaten Sukabumi Dalam Angka 2012, © Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukabumi, 2012) Dari penjelasan sebelumnya karena wilayah Sukabumi bagian utara dan tengah termasuk wilayah pegunungan, maka sering terjadi bencana termasuk salah satunya adalah tanah longsor. Seperti dilansir oleh media online TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Hujan deras dan kondisi topografi perbukitan dengan lereng-lereng terjal menimbulkan banjir bandang dan longsor di Kecamatan Pabuaran dan Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada Kamis (26/6/2014) pukul 05.00 wib. Awalnya banjir bandang lalu diikuti longsor tebing ketinggian 30-40 meter yang kemudian menimpa rumah penduduk. Tiga orang warga Dusun Cibojong RT 26 dan RT 27, Desa Cibadak Kecamatan Pabuaran Kabupaten Sukabumi tertimbun longsor.

Hingga saat ini ketiga korban belum ditemukan. Selain itu 2 unit rumah rusak berat. Sedangkan banjir bandang dan longsor di Desa Sirnasari menyebabkan 7 rumah rusak berat, 7 rumah rusak sedang dan 1 jembatan rusak berat. Sekitar 500 jiwa di kedua desa tersebut saat ini masih mengungsi di rumah saudaranya dan di sekolahan. “Akses menuju lokasi bencana di kedua desa tersebut sulit dijangkau. Hanya kendaraan roda 4 dengan double gardan yang mampu mencapai lokasi. Jalan sempit dan licin. Perumahan dibangun pada daerah-daerah lereng perbukitan yang rawan tinggi dari longsor,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam pernyataannya kepada Tribunnews.com, Kamis(26/6/2014).

Capture1Tim SAR dari BPBD Kabupaten Sukabumi bersama TNI, Polri, Tagana, Sarda, PMI, Dinas Kesehatan dan masyarakat telah melakukan penanganan darurat. Evakuasi dihentikan pada malam ini dan akan dilanjutkan besok pagi. BPBD telah mendistribusikan makanan siap saji dan nasi bungkus. Posko Tanggap Darurat didirikan di rumah Kepala Desa Cibadak. Kebutuhan mendesak adalah tikar dan selimut pagi pengungsi karena udara dingin. Kepala BNPB, Syamsul Maarif kata Sutopo telah memerintahkan Tim Reaksi Cepat BNPB untuk memberikan pendampingan kepada BPBD Kab Sukabumi. Pendataan masih terus dilakukan. “Masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor diimbau untuk tetap waspada akan potensi longsor.

Sebab curah hujan berintensitas tinggi masih berpeluang terjadi di wilayah Jawa Barat sehingga dapat memicu longsor. BPBD diimbau untuk terus meningkatkan sosialisasinya,” ujar Sutopo. • Jenis gerakan tanah (longsor) : Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan merupakan longsoran bahan rombakan pada tebing yang digunakan penduduk sebagai pemukiman. Dampak gerakan tanah: a. 3 (tiga) orang hilang b. 7 (tujuh) rumah rusak berat c. 1 (satu) jembatan putus d. 1 (satu) pabrik penggiling padi rusak . Kondisi daerah bencana : Berdasarkan Peta Rupabumi Indonesia lembar 1208-441, Puncak tugu (Bakosurtanal, 1999), morfologi sekitar lokasi bencana merupakan lereng perbukitan dengan ketinggian dengan kemiringan agak terjal sampai terjal. Batuan penyusun berdasarkan Peta Geologi Lembar Jampang, Jawa (Sukamto, 1975) berupa batuan dari Formasi Jampang (Tmjv) yang terdiri dari lava andesit terkekarkan, breksi andesit hornblende, sisipan tuf hablur halus. Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Juni 2014 di Jawa Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk zona potensi gerakan tanah menengah artinya Daerah yang mempunyai potensi Menengah untuk terjadi Gerakan Tanah. Pada Zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan :

1. Curah hujan yang tinggi yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.

2. Kemiringan lereng yang terjal.

3. Batuan penyusun yang bersifat sarang, mudah meloloskan air, dan luruh jika terkena air.

Strategi dan upaya penanggulangan bencana tanah longsor

1. Hindarkan daerah rawan bencana untuk pembangunan pemukiman dan fasilitas utama lainnya

2. Mengurangi tingkat keterjalan lereng

3. permukaan maupun air tanah. (Fungsi drainase adalah untuk menjauhkan airn dari lereng, menghidari air meresap ke dalam lereng atau menguras air ke dalam lereng ke luar lereng. Jadi drainase harus dijaga agar jangan sampai tersumbat atau meresapkan air ke dalam tanah).

4. Pembuatan bangunan penahan, jangkar (anchor) dan pilling

5. Terasering dengan sistem drainase yang tepat.(drainase pada teras – teras dijaga jangan sampai menjadi jalan meresapkan air ke dalam tanah)

6. Penghijauan dengan tanaman yang sistem perakarannya dalam dan jarak tanam yang tepat (khusus untuk lereng curam, dengan kemiringan lebih dari 40 derajat atau sekitar 80% sebaiknya tanaman tidak terlalu rapat serta diseling-selingi dengan tanaman   yang lebih pendek dan ringan , di bagian dasar ditanam rumput).

7. Mendirikan bangunan dengan fondasi yang kuat

8. Melakukan pemadatan tanah disekitar perumah

9. Pengenalan daerah rawan longsor

10. Pembuatan tanggul penahan untuk runtuhan batuan (rock fall)

11. Penutupan rekahan di atas lereng untuk mencegah air masuk secara cepat kedalam tanah.

12. Pondasi tiang pancang sangat disarankan untuk menghindari bahaya liquefaction(infeksi cairan).

13. Utilitas yang ada didalam tanah harus bersifat fleksibel

Contoh Agroforestri Di Daerah Malang Raya

0

TUGAS TERSTRUKTUR

AGROFORESTRI

“2 Contoh Agroforestri Di Daerah Malang Raya”

 hitam_emas

Oleh :

Ayi Priana

125040201111092 / C

MINAT MANAJEMEN SUMBER DAYA LAHAN

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVRSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2015

  1. Agroforestri di daerah bendosari, Ngantang
  1. Agroforestri di daerah Ngantang

v  Komponennya

Agroforestri yang berada di daerah bendosari  memiliki komponen yang dapat dikatakan sebagai system agroforestri karena ada tanaman berkayu (eukaliptus) dan tanaman semusim yaitu rumput gajah, pisang, dll. Disana juga selain tanaman agroforestri ada juga lahan sawah yang digunakan petani untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

v  Manfaat

  1. 1.  Manfaat yang didapat petani dari segi lingkungan
  • Mengurangi laju aliran permukaan, pencucian zat hara tanah, dan erosi, karena adanya pohon-pohon yang menghalangi terjadinya proses-proses tersebut. Sehingga kandungan unsur hara dalam tanah akan tetap terjaga.
  • Agroforestri dengan tanaman menyerupai hutan akan dapat menghasilkan seresah yang lebih banyak. Seresah tersebut dapat berasal dari daun-daun pohon yang gugur dan ranting pohon. Seresah yang ada dipermukaan tanah selanjutnya akan terdekomposisi serta meningkatan kadar unsure hara tanah.
  • Perbaikan struktur tanah karena adanya penambahan bahan organik yang terus menerus dari serasah yang membusuk. Tanah akan lebih gembur sehingga tidak memerlukan pengolahan tanah yang berlebihan.
  1. 2.  Manfaat yang didapat petani dari segi Sosial dan Ekonomi

Sistem agroforestri pada suatu lahan akan memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi petani. Manfaat tersebut berupa :

  • Peningkatan dan penyediaan hasil berupa kayu pertukangan, kayu bakar, pangan, pakan ternak dan pupuk hijau.
  • Mengurangi timbulnya kegagalan panen secara total, yang sering terjadi pada sistem pertanian monokultur. Dengan sistem agroforestri petani akan memiliki jenis tanaman lebih dari satu sehingga jika satu jenis tanaman satu mengalami kegagalan panen atau harga yang anjlok, kerugian dapat ditutupi dari hasil panen tanaman jenis lainnya.
  • Memantapkan dan meningkatkan pendapatan petani karena adanya peningkatan dan jaminan kelestarian produksi. Selain itu karena pengolahan sistem agroforestri yang mudah maka petani dapat lebih memiliki waktu untuk bekerja selain pada lahan agroforestri.
  • Dengan produk yang memiliki ekonomis tinggi pada lahan agroforestri akan memperbaiki standar hidup petani karena ada pekerjaan yang tetap dan pendapatan yang lebih tinggi.
  • Modal yang diperlukan dalam pertanian agroforestri lebih sedikit dibandingkan pertanian monokultur.
  • Menyebarkan secara merata kebutuhan buruh/tenaga kerja sepanjang musim,

v  Ukuran plot

Agroforestri Tingkat Bentang Lahan

Agroforestri yang ada di lahan termasuk kedalam agroforestri bentang lahan karena memiliki lahan yang luas. Dari sepanjang jalan pujon hingga Ngantang lahan tersebut di gunakan untuk agroforestri dan pertanian tanaman semusim. Sehingga agroforestri disana sangat luas dan berskala landskap.

v  Kedala

Kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup, karena menanam tanaman tahunan (berkayu) sangat lama sehigga para petani lebih memilih tanaman semusim dan dari segi pendapatan lebih menjanjikan.

  1. Klasifikasikan menurut komponen penyusunnya

Agrisilvikultur (Agrisilvicultural systems)

Dari hasil pengamatan di lapang daerah pujon dapat dikatakan sebagai Agrisilviculture karena system agroforestri yang mengkombinasikan komponen kehutanan (tanaman berkayu) dengan komponen pertanian (tanaman non kayu). Disini contoh tanaman berkayu adalah tanaman eukaliptus dan  tanaman semusim rumput gajah.

  1. Klasifikasikan menurut teknis pengembangannya

Sistem agroforestri

Sistem agroforestri dapat didasarkan pada komposisi biologis serta pengaturannya, tingkat pengelolaan teknis atau ciri-ciri sosial-ekonominya. Penggunaan istilah sistem sebenarnya bersifat umum. Ditinjau dari komposisi biologis, contoh sistem agroforestri adalah agrisilvikultur, silvopastura, agrosilvopastura.

Agroforestri modern (modern atau introduced agroforestry)

Dilihat dari beberapa aspek pengamatan yang telah dilakukan bahwa Agroforestri dilahan tersebut menggunakan agroforestri modern umumnya hanya melihat pengkombinasian antara tanaman keras atau pohon komersial dengan tanaman sela terpilih. Berbeda dengan agroforestri tradisional/klasik, ratusan pohon bermanfaat di luar komponen utama atau juga satwa liar yang menjadi bagian terpadu dari system tradisional kemungkinan tidak terdapat lagi dalam agroforestri modern.

  1. Agroforestri di daerah Pujon
    1. Agroforestri di daerah Pujon

v  Komponennya

Agroforestri yang berada di daerah pujon  yang mengkombinasikan antara tanaman berkayu dengan tanaman semusim yaitu pohon eukalyptus dengan rumput gajah yang digunakan untuk makan ternak. Diamana tanaman rumput gajah ditanam di sela-sela tanaman eukaliptus. Selain pohon eukaliptus banyak pohon pisang yang ditanam di lahan tersebut.

v  Manfaat

Menurut Irwanto (2008), ada beberapa keunggulan agroforestri dibandingkan sistem penggunaan lahan lainnya, yaitu dalam hal:

1. Produktivitas (Productivity)

Dari hasil panen rumput gajah produksi meningkat dan kebanyakan digunakan hanya untuk pakan ternak.

2. Diversitas (Diversity)

Dari segi ekologi dapat menghindarkan kegagalan fatal pemanen sebagaimana dapat terjadi pada penanaman satu jenis (monokultur). Selain biaya yang digunakan dalam agroforestri tidak banyak maka kerugian dapat diminimalisir.

3. Kemandirian (Self-regulation)

Diversifikasi yang tinggi dalam agroforestri diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, dan petani kecil dan sekaligus melepaskannya dari ketergantungan terhadap produk produk luar. Kemandirian sistem untuk berfungsi akan lebih baik dalam arti tidak memerlukan banyak input dari luar antara lain pupuk dan pestisida, dengan diversitas yang lebih tinggi daripada sistem monokultur.

4. Stabilitas (Stability)

Praktek agroforestri yang memiliki diversitas dan produktivitas yang optimal mampu memberikan hasil yang seimbang sepanjang pengusahaan lahan, sehingga dapat menjamin stabilitas (dan kesinambungan) pendapatan petani.

v  Ukuran plot

Agroforestri Tingkat Bentang Lahan

Ukuran agroforestri pada lahan tersebut sangat luas, kurang lebih 1000ha untuk daerah pujon.

v  Kedala

Kendala yang ditemukan pada agroforestri banyak petani yang lebih memilih tanaman semusim daripada tanam pohon kayu.

  1. Klasifikasikan menurut komponen penyusunnya

Agrisilvikultur (Agrisilvicultural systems)

Dari hasil pengamatan di lapang daerah pujon dapat dikatakan sebagai Agrisilviculture karena system agroforestri yang mengkombinasikan komponen kehutanan (tanaman berkayu) dengan komponen pertanian (tanaman non kayu). Disini contoh tanaman berkayu adalah tanaman eukaliptus dan tanaman semusim  rumput gajah.

  1. Klasifikasikan menurut teknis pengembangannya

Sistem agroforestri

Sistem agroforestri dapat didasarkan pada komposisi biologis serta pengaturannya, tingkat pengelolaan teknis atau ciri-ciri sosial-ekonominya. Penggunaan istilah sistem sebenarnya bersifat umum. Ditinjau dari komposisi biologis, contoh sistem agroforestri adalah agrisilvikultur, silvopastura, agrosilvopastura.

Agroforestri modern (modern atau introduced agroforestry)

Dilihat dari beberapa aspek pengamatan yang telah dilakukan bahwa Agroforestri dilahan tersebut menggunakan agroforestri modern umumnya hanya melihat pengkombinasian antara tanaman keras atau pohon komersial dengan tanaman sela terpilih. Berbeda dengan agroforestri tradisional/klasik, ratusan pohon bermanfaat di luar komponen utama atau juga satwa liar yang menjadi bagian terpadu dari system tradisional kemungkinan tidak terdapat lagi dalam agroforestri modern.

Unsur-unsur Interpretasi Foto Udara (IFU)

0

 1.      Rona dan Warna

Rona (tone/color tone/grey tone) adalah tingkat kegelapan atau tingkat kecerahan obyek pada citra yang menggunakan sprektrum lebar 0,4 – 0,7 μm (hitam-putih) . Berkaitan dengan penginderaan jauh, spektrum demikian disebut spektrum lebar, jadi rona merupakan tingkatan dari hitam ke putih atau sebaliknya.

Warna merupakan wujud yang tampak oleh mata dengan menggunakan spektrum sempit, lebih sempit dari spektrum tampak. Sebagai contoh, obyek tampak biru, hijau, atau merah bila hanya memantulkan spektrum dengan panjang gelombang (0,4 – 0,5) μm, (0,5 – 0,6) μm, atau (0,6 – 0,7) μm. Sebaliknya, bila objek menyerap sinar biru maka ia akan memantulkan warna hijau dan merah. Sebagai akibatnya maka obyek akan tampak dengan warna kuning.

Berbeda dengan rona yang hanya menyajikan tingkat kegelapan, warna menunjukkan tingkat kegelapan yang lebih beraneka. Ada tingkat kegelapan di dalam warna biruhijaumerahkuningjingga, dan warna lainnya. Estes et al. (1983) mengutarakan bahwa mata manusia dapat membedakan 200 rona dan 20.000 warna. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa pembedaan obyek pada foto berwarna lebih mudah bila dibanding dengan pembedaan objek pada foto hitam putih. Contoh permukaan atap gudang yang terbuat dari seng akan terlihat lebih cerah.

Rona dan warna disebut unsur dasar. Tiap obyek tampak pertama pada citra berdasarkan rona atau warnanya. Setelah rona atau warna yang sama dikelompokkan dan diberi garis batas untuk memisahkannya dari rona atau warna yang berlainan, barulah tampak bentuk, tekstur, pola, ukuran dan bayangannya.

2.      Bentuk

Bentuk merupakan konfigurasi atau kerangka suatu objek, sehingga dapat mencirikan suatu penampakan yang ada pada citra dapat di identifikasi dan dapat dibedakan antar objek. Dari penampakan pada foto udara dapat di identifikasi bentuk massa bangunan, maupun bentuk dasar fisik alam lainnya seperti jalan, sungai, hutan dll. Contoh: 1) Gedung sekolah pada umumnya berbentuk huruf I, L, U atau empat persegi panjang. 2) Gunung api, biasanya berbentuk kerucut.

Ada dua istilah di dalam bahasa Inggris yang artinya bentuk, yaitu shape dan formShape ialah bentuk luar atau bentuk umum, sedangkan form merupakan susunan atau struktur yang bentuknya lebih rinci. Contohshape atau bentuk luar adalah bentuk bumi bulat. Sedangkan contoh form atau bentuk rinci adalah Ppada bumi yang bentuknya bulat terdapat berbagai bentuk relief atau bentuk lahan seperti gunung berapi, dataran pantai, tanggul alam, dsb.

3.      Ukuran

Ukuran ialah atribut obyek berupa jarak, luas, tinggi, lereng, dan volume. Karena ukuran obyek pada citra merupakan fungsi skala, maka di dalam memanfaatkan ukuran sebagai unsur interpretasi citra harus selalu diingat skalanya. Dengan kata lain ukuran merupakan perbandingan yang nyata dari objek-objek dalam citra maupun foto udara, yang menggambarkan kondisi lapangan. Contohnya perbedaan ukuran lapangan sepak bola dengan stadion. Contoh: Lapangan olah raga sepakbola dicirikan oleh bentuk (segi empat) dan ukuran yang tetap, yakni sekitar (80 m – 100 m).

4.      Tekstur

Tekstur adalah frekuensi perubahan rona pada citra (Lillesand dan Kiefer, 1979) atau pengulangan rona kelompok obyek yang terlalu kecil untuk dibedakan secara individual (Estes dan Simonett, 1975). Tekstur merupakan hasil gabungan dari bentuk, ukuran, pola, bayangan serta rona. Tekstur sering dinyatakan dengan kasar, halus, dan belang-belang. Misalnya tekstur sawah akan kelihatan halus berbeda dengan kebun ataupun hutan, hutan bertekstur kasar, belukar bertekstur sedang dan semak bertekstur halus.

 5.      Pola

Pola atau susunan keruangan merupakan ciri yang menandai bagi banyak obyek bentukan manusia dan bagi beberapa obyek alamiah. Pengulangan bentuk tertentu dalam hubungan merupakan karakteristik bagi objek alamiah maupun bagunan akan memberikan suatu pola dalam mengenali objek. Misalnya pola perumahan yang teratur menunjukkan obyek tersebut merupakan perumahan yang dibangun oleh developper.

6.      Bayangan

Bayangan bersifat menyembunyikan detail atau obyek yang berada di daerah gelap. Obyek atau gejala yang terletak di daerah bayangan pada umumnya tidak tampak sama sekali atau kadang-kadang tampak samar-samar. Meskipun demikian, bayangan sering merupakan kunci pengenalan yang penting bagi beberapa obyek yang justru lebih tampak dari bayangannya. Dengan bantuan unsur bayangan dapat menentukan arah mata angin serta pengenalan terhadap suatu obyek. Contoh: Pola aliran sungai menandai struktur geologis. Pola aliran trelis menandai struktur lipatan. Permukiman transmigrasi dikenali dengan pola yang teratur, yaitu ukuran rumah dan jaraknya seragam, dan selalu menghadap ke jalan. Kebun karet, kebun kelapa, kebun kopi mudah dibedakan dari hutan atau vegetasi lainnya dengan polanya yang teratur, yaitu dari pola serta jarak tanamnya.

7.      Situs

Situs atau lokasi suatu obyek dalam hubungannya dengan obyek lain dapat membantu dalam menginterpretasi foto udara ataupun citra ikonos. Situs ini berupa unit terkecil dalam suatu sistem wilayah morfologi yang dipengaruhi oleh beberapa faktor situs, seperti beda tinggi, kecuraman lereng, keterbukaan terhadap sinar, keterbukaan terhadap angin dan ketersediaan air di permukaan dan air tanah.

Situs ini sering dikaitkan antara obyek dengan melihat obyek lain. Misalnya situs pemukiman memanjang pada umumnya terletak disepanjang tepi jalan. ontoh: Lereng terjal tampak lebih jelas dengan adanya bayangan, begitu juga cerobong asap dan menara, tampak lebih jelas dengan adanya bayangan. Foto-foto yang sangat condong biasanya memperlihatkan bayangan objek yang tergambar dengan jelas, sedangkan pada foto tegak hal ini tidak terlalu mencolok, terutama jika pengambilan gambarnya dilakukan pada tengah hari

 8.      Asosiasi

Asosiasi dapat diartikan sebagai keterkaitan antara obyek yang satu dengan obyek lain. Adanya keterkaitan ini maka terlihatnya suatu obyek pada citra sering merupakan petunjuk bagi adanya obyek lain. Misalnya stasiun kereta api sering berasosiasi dengan jalan kereta apai yang bercabang.

 9.      Konvergensi Bukti

Konvergensi Bukti adalah bukti-bukti yang mengarah kepada kebenaran, artinya semakin banyak unsur interpretasi yang diguna kan dalam menginterpretasi suatu citra maka semakin besar kemung kinan kebenaran interpretasi yang dilakukan. Tahapan-tahapan kegiatan dalam interpretasi citra, yaitu deteksi, identifikasi, dan analisis.

  1. Deteksi adalah usaha penyadapan data secara global baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Di dalam deteksi ditentukan ada tidaknya suatu objek. Misalnya, objek berupa savana.
  2. Identifikasi adalah kegiatan untuk mengenali objek yang tergambar pada citra yang dapat dikenali berdasarkan ciri yang terekam oleh sensor dengan alat stereoskop.
  3. Analisis adalah kegiatan penelaahan dan penguraian data hasil identifikasi sehingga dapat dihasilkan dalam bentuk tabel, grafik, atau peta tematik.

Urutan kegiatan yang lebih rinci dalam interpretasi citra, yaitu sebagai berikut.

  • Menguraikan atau memisahkan objek yang rona atau warnanya berbeda.
  • Ditarik garis batas atau deliniasi bagi objek yang rona dan warnanya sama.
  • Setiap objek dikenali berdasarkan karakteristik spasial dan unsur temporalnya.
  • Objek yang sudah dikenali diklasifikasikan sesuai dengan tujuan interpretasinya.
  • Digambarkan ke dalam peta kerja atau peta sementara.
  • Untuk menjaga ketelitian dan kebenarannya dilakukan pengece kan medan (lapangan).
  • Interpretasi akhir adalah pengkajian atas pola atau susunan keruangan (objek).
  • Dipergunakan sesuai tujuannya

contoh interpretasi Foto Udara

Go to Top