Kimia Unsur Golongan II A

2012
06.14

TUGAS KIMIA UNSUR

Unsur Golongan II A

(Stronsium, Barium dan Radium)

 

 

 

 

Disusun oleh :

Hilman Nurmahdi 0910920045
Muhammad Arif Taufiq 0910920049
Ni’matun Nasiroh 0910920055

~Chemistry A~

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

PENDAHULUAN

 

Semua zat di alam ini tersusun atas unsur-unsur. Menurut teori yang saat ini diterima, hidrogen dan helium dihasilkan pertama sekali sesaat setelah Big Bang, kira-kira 15 juta tahun lalu. Selanjutnya, unsur-unsur dengan nomor atom lebih kecil dari 26 (sebelum besi dalam sstem periodik) dibentuk oleh fusi inti dalam bintang-bintang muda, unsur-unsur yang lebih berat dihasilkan oleh reaksi inti yang rumit yang menyertai pembentukan dan peluruhan bintang. Di alam semesta, kelimpahan hidrogen dan helium sangat besar, hidrogen (77 % massa) dan helium (21 % massa) dan semua unsur lain hanya sekitar 2%. (Saito,1996)

Sekarang sudah diketahui lebih dari seratus unsur yang ada di alam. Jutaan tahun yang lalu lebih dari enam puluh unsur yang ditemukan dan diketahui lalu dibuat hubungan sifat-sifat dari unsur-unsur tersebut pada saat yang bersamaan. Suatu metode yang nyata digunakan untuk mengklasifikasi unsur-unsur tersebut sebagai logam dan non logam, tetapi keakuratannya dianggap masih sangat kurang. Contohnya, untuk unsur logam natrium dan kalium mempunyai kemiripan sifat satu sama lain karena ditemukan dalam satu senyawaan yang sama yang mempunyai sifat kimia yang sama dan merupakan senyawa yang tidak berwarna. Untuk unsur non logam contohnya nitrogen dan klorin di alam bentuknya gas sedangkan fosfor yang letaknya satu golongan dengan nitrogen serta iodin yang letak satu golongan dengan klorin bentuknya padatan. (Chambers dan Holliday, 1975)

Unsur-unsur didapatkan dalam berbagai wujud dan dapat berupa atom, ion, serta senyawa. Suatu unsur dapat memiliki beberapa isotop dengan nomor atom yang sama. Bila unsur-unsur dikelompokkan atas dasar kemiripan sifat, baik sifat atom maupun senyawanya, dihasilkanlah sistem periodik. Kimia telah mencapai perkembangan yang sangat cepat dalam usaha memahami sifat semua unsur. Sistem periodik unsur telah memainkan peran yang sangat penting dalam penemuan zat baru, serta klasifikasi dan pengaturan hasil akumulasi pengetahuan kimia. Sistem periodik merupakan tabel terpenting dalam kimia dan memegang peran kunci dalam perkembangan sains material. Berdasarkan jenis penyusunan atomiknya senyawa anorganik diklasifikasikan atas senyawa molekular dan padatan.(Saito,1996)

Gambar sistem periodik unsur : (Saito,1996)

 

 

 

 

 

 

 

Kimia unsur merupakan unsur-unsur di alam yang mempunyai sifat-sifat kimia yang berada di sekitar makhluk hidup. Lingkungan alam khususnya bumi terdiri dari bagian litosfer, hidrosfer, dan atmosfer. Pada setiap lapisan tersebut terdapat unsur-unsur kimia baik berupa unsur bebas maupun unsur yang berikatan dengan unsur yang lain. Jumlah dan variasi unsur-unsur tersebut sangat banyak. Sehingga diperlukan suatu sistem yang dapat menjelaskan tentang unsur-unsur di bumi secara sederhana yang tersusun dalam sistem periodik unsur . Keperiodikan unsur-unsur tersebut sangat membantu untuk mengetahui kecenderungan sifat suatu unsur sehingga bisa mengetahui manfaat unsur tersebut dalam kehidupan sehari-hari. (Lee, 1991)

Unsur-unsur golongan II menunjukkan kesamaan sifat dengan unsur-unsur golongan I. Unsur-unsur dalam golongan II ini sangat reaktif, tetapi kereaktifannya masih lebih rendah dibandingkan unsur-unsur golongan I. Umumnya membentuk divalent dan senyawa ioniknya tidak berwarna. Bentuk oksida dan hidroksidanya kurang basa dibanding unsur golongan I. Semua unsur-unsur golongan II mempunyai dua elektron pada orbital s di kulit terluarnya seperti 2s2, 3s2, 4s2, 5s2, 6s2, dan 7s2 (Lee, 1991).

Sifat keperiodikan suatu unsur disusun dengan memperhatikan beberapa sifat fisika dan sifat kimia. Dengan adanya sifat periodik suatu unsur tersebut, sifat-sifat unsur serta pola keteraturannya dapat diprediksi berdasarkan letaknya dalam sistem periodik unsur. Unsur-unsur di dalam sistem periodik dapat dikelompokkan dalam blok-blok berdasarkan konfigurasi elektronnya. (Keenan dkk. 1996)

Sifat Fisika

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sifat Kimia

 

 

 

 

 

 

 

  1. Stronsium

 

Stronsium adalah logam putih-perak yang dapat di tempa dan liat. Stronsium melebur pada 771 0C. Permukaannya dioksidasi oleh udara pada suhu kamar dan menjadi oksidanya (SrO) dan nitridanya (Sr3N2) pada suhu tinggi. Kandungan stronsium di kerak bumi relatif tinggi. Ada empat isotop stronsium, Sr-88 (82,58%) adalah yang paling melimpah. Sr-90 adalah isotop radioaktif suatu produk yang dominan dalam peledakan bom atom. Stronsium di alam bersenyawa dengan sulfat dan karbonat membentuk senyawa selestit (SrSO4) dan senyawa strontianit (SrCO3). Oleh karena stronsium dan kalsium mempunyai sifat kimia yang serupa, ion Sr2+ dapat menggantikan ion Ca2+ dalam tubuh kita misalnya dalam tulang. Radiasi energi tinggi yang terjadi terus menerus dari stronsium dapat menyebabkan anemia, leukemia dan penyakit kronis lainnya. Stronsium dibuat hanya dalam skala kecil melalui reduksi halida dengan natrium. Stronsium digunakan sebagai sumber partikel dan sebagai perunut radioaktif, untuk membuat keramik kalsium posfat, dalam biomedik seperti penggantian tulang, perancah untuk teknik jaringan, dan prostes lapis seperti penggantian pinggul untuk meningkatkan kepaduan dengan tulang, sebagai bahan cat dan untuk membuat kembang api dengan nyala berwarna merah terang (Anonim, 2010).

Ekstraksi Stronsium dapat dilakukan dengan Metode Elektrolisis. Untuk mendapatkan Strontium (Sr), Kita bisa mendapatkannya dengan elektrolisis lelehan SrCl2. Lelehan SrCl2 bisa didapatkan dari senyawa selesit [SrSO4]. Karena Senyawa selesit merupakan sumber utama Strontium (Sr). Reaksi yang terjadi (Anonim, 2010) :

katoda : Sr2+ + 2e- Sr

anoda : 2Cl- Cl2 + 2e-

Aplikasi Stronsium dalam kehidupan dapat dijabarkan sebagai berikut (Anonim, 2010) :

1. Stronsium dalam senyawa Sr(NO3)2 memberikan warna merah apabila digunakan untuk bahan kembang api.

2. Stronsium sebagai senyawa karbonat biasa digunakan dalam pembuatan kaca televisi berwarna dan komputer.

3. Untuk pengoperasian mercusuar yang mengubah energi panas menjadi listrik dalam baterai nuklir RTG (Radiisotop Thermoelectric Generator).

2. Barium

Barium adalah unsur kimia dengan simbol Ba, dan nomor atom 56. Barium bersifat lunak dan termasuk unsur golongan alkali tanah. Barium murni tidak pernah ditemukan di alam karena dapat bereaksi dengan udara. Oksidanya dikenal sebagai baryta, tetapi dapat bereaksi dengan air dan karbon dioksida dan tidak ditemukan sebagai mineral. Mineralnya yang paling banyak ditemukan di alam adalah barium sulfat (BaSO4) yang sangat susah untuk dilarutkan, dan barium karbonat (BaCO3). Benitoite adalah sebuah permata langka yang mengandung barium. Logam barium digunakan dalam keperluan industri. Senyawa barium memberikan nyala api yang berwarna hijau dan sering digunakan untuk membuat kembang api. Barium sulfat digunakan karena beratnya, memiliki sifat tidak mudah larut, dan tidak dapat ditembus oleh sinar-X. Salah satu kegunaan barium sulfat adalah untuk pengeboran minyak. Senyawa barium yang dapat larut bersifat racun karena melepas ion-ion barium, dan digunakan sebagai racun tikus. Telah ditemukan fungsi barium yang baru: yaitu sebagai bahan esensial pada pembuatan superkonduktor YBCO (Syukri,S, 2000).

Kelimpahan barium di alam merupakan campuran dari tujuh isotopnya yang stabil. Ada dua puluh isotop barium yang diketahui, tapi kebanyakan bersifat sangat radioaktif dan memiliki waktu paruh yang sangat pendek. Contoh isotop barium antara lain adalah 133Ba yang memiliki waktu paruh 10,51 tahun dan 137Ba yang memiliki waktu paruh 2,55 menit. Barium memiliki beberapa fungsi dalam bidang industry (Syukri,S, 2000):

  1. Senyawa barium, khususnya barit (BaSO4), memiliki peran yang sangat penting dalam industri minyak bumi. Barit digunakan dalam pengeboran sumur minyak.

  2. Barium karbonat dapat digunakan untuk racun tikus dan juga dapat digunakan dalam pembuatan batu bata. Berbeda dengan sulfat, karbonat akan melarut di dalam perut, sehingga menjadi racun bagi tubuh. .

  3. Barium oksida digunakan untuk melapisi elektroda pada lampu fluoresensi, yang dapat melepaskan elektron.

  4. Barium karbonat digunakan dalam pembuatan kaca. Karena beratnya, barium dapat meningkatkan indeks bias dan kilau kaca.

  5. Barit digunakan secara ekstensif dalam pembuatan karet.

3. Radium

Radium (Ra) adalah salah satu unsur logam alkali tanah yang ditemukan oleh Pierre and Marie Curie tahun 1898 berasal dari kerak bumi, empat isotop di antaranya ada yang bersifat radioaktif, yaitu isotop 226Ra, 228Ra, 234Ra, dan 223Ra [1]. Yang dimaksud radium secara umum adalah radionuklida dengan nomor massa 226 dan nomor atom 88 yang dinyatakan 88Ra226 atau biasanya ditulis 226Ra. Radionuklida tersebut merupakan anak luruh thorium-230 (230Th) dari deret uranium-238 (238U). (Sutarman, 2003)

Sifat fisika yang dimiliki, antara lain berwarna keperakan, berat atom 226,5 dengan nomor atom 88, konfigurasi elektron 7s2, jari-jari ionik 1,40 angstrom(1 angstrom = 10-10 m), dan titik lebur 700 oC. Disamping itu, 226Ra bersifat radioaktif dengan waktu paroh 1622 tahun dan memancarkan radiasi alfa dengan energi 4,79 MeV. Anak luruh dari 226Ra adalah gas radon (222Rn). Keberadaann gas radon di lingkungan mencapai jumlah sangat besar, sekitar 58 % dari total radon alamiah. Gas radon tersebut dapat memberikan bahaya radiologik terhadap saluran pernafasan. Adapun 226Ra sendiri bersifat seperti unsur kalsium (Ca) yang mudah terakumulasi di dalam tulang. (Sutarman, 2003)

Radium ditemukan dalam bijih uranium, rasio perbandingan 226Ra/U adalah sebesar 1 mg per 3 kg dimana kandungan Radium yang terdapat didalamnya sebesar 10-6 ppm dari kandungan uranium. Radium diisolasi sebagai klorida oleh Pierre dan Marrie Currie pada tahun 1898 setelah memproses pitchblende yang merupakan bijih dari uranium yang dinamakan Mme Currie dalam pengibratannya untuk radioaktifitasnya. Unsur radium diisolasi secara elktrolitik melallui anamalgamnya pada tahun 1910 oleh Marrie Currie dan A. Debierne dan senyawanya menghasilkan nyala api berwarna merah tua (Greenwood dan Earnshaw, 1998).

Manfaat radium digunakan untuk membuat cat berbahaya (luminous paint) yang digunakan piringan jam, tombol pintu atau benda-benda lain agar tampak berbahaya (berpijar) dalam kegelapan. Penggunaan isotop radioaktif dalam kedokteran oleh Henri Danlos yang menggunakan radium untuk pengobatan penyakit tubercolusis pada kulit serta beberapa penyakit kanker. (Greenwood dan Earnshaw, 1998)

Radium diproduksi secara komersil sebagai bromida dan klorida. Sangat jarang unsur ini tersendiri tersedia dalam jumlah banyak. Logam murni unsur ini berwarna putih menyala ketika baru saja dipersiapkan, tetapi menjadi hitam jika diekspos ke udara. Kemungkinan besar karena formasi nitrida. Elemen ini terdekomposisi di dalam air dan lebih reaktif ketimbang barium. Unsur ini memancarkan sinar alpha, beta, dan gamma dan jika dicampur dengan berilium akan memproduksi netron. Satu gram 226Ra mengalami disintegrasi 3.7 x 1010 per detik. Unit disintegrasi unsur curie didefinisikan dari 1 gram 226Ra tersebut. Ada 25 isotop radium yang diketahui. Isotop 226Ra adalah isotop yang banyak ditemukan dan memiliki paruh waktu1600 tahun. Radium jika tertelan, terhirup ataupun terekspos pada tubuh menjadi sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kanker. Batas maksimum untuk 226Ra adalah 7400 becquerel (Mohsin,2006).

PERTANYAAN

  1. Mengapa berilium (Be), magnesium (Mg) dan kalsium (Ca) tidak dapat membentuk peroksida ketika dipanaskan dengan oksigen (O2), sedangkan stronsium (Sr) dan barium (Ba) dapat membentuk peroksida?

(sumber http://www.chemguide.co.uk/inorganic/group2/reacth2o.html)

Jawab:

Ion peroksida (O22 -) :

Gambar di atas menunjukkan dua buah atom oksigen yang masing-masing memiliki muatan -1 yang kemudian akan bergabung melalui ikatan kovalen yang relatif lemah membentuk O22 – (ion peroksida).

Ketika terdapat suatu ion bermuatan +2 yang berada pada posisi cukup dekat dari ion peroksida, maka elektron pada ion peroksida akan tertarik cukup kuat menuju ion positif sehingga akan terbentuk sebuah ion oksida sederhana ketika tangan kanan dari atom oksigen terputus (seperti yang digambar di bawah ini). Dapat dikatakan bahwa ion positif mempolarisasi ion negatif. Polarisasi akan terjadi secara efektif apabila ion positif berukuran kecil dan memiliki kerapatan muatan yang tinggi.

Dalam satu golongan IIA, logam alkali tanah dari bawah ke atas memiliki kerapatan muatan yang semakin besar dikarenakan ukuran ion positif yang semakin kecil. Hal ini menyebabkan ion positif tersebut memiliki efek distorsi yang besar terhadap ion negatif yang berada pada posisi yang dekat dengan ion positif tersebut. Dalam hal ini, ion peroksida yang berada pada posisi yang dekat dengan ion positif akan mengalami pemutusan ikatan dan terbentuk oksida dan oksigen. Hal inilah yang menyebabkan berilium (Be), magnesium (Mg), dan kalsium (Ca) tidak dapat membentuk senyawa dengan peroksida.

Sementara itu, dalam satu golongan IIA dari atas ke bawah ion positif memiliki ukuran yang semakin besar. Hal ini berarti muatan +2 tersebar dalam suatu volume yang lebih besar sehingga kerapatan muatannya lebih kecil. Akibatnya, ion positif tersebut hanya memiliki efek distorsi yang lemah terhadap ion negatif yang berada di dekatnya. Dengan kata lain, ion positif tersebut tidak akan memiliki efek yang cukup kuat terhadap pemutusan ikatan dalam ion peroksida. Akibatnya, stronsium (Sr) dan barium (Ba) dapat membentuk senyawa peroksida. Barium (Ba) akan membentuk barium peroksida (BaO2) pada pemanasan biasa dengan oksigen. Mixtures of barium oxide and barium peroxide will be produced. Reaksi yang terjadi ialah:

Ba (s) + O2(g) BaO2(s)

Stronsium (Sr) akan membentuk peroksida ketika dipanaskan dengan oksigen di bawah tekanan tinggi. Reaksi yang terjadi ialah:

Sr (s) + O2 (g) SrO2 (s)

Selain itu, faktor yang mempengaruhi kemampuan logam alkali tanah untuk membentuk senyawa peroksida ialah ukuran dari unsur tersebut, di mana unsur dengan jari-jari yang relatif kecil tidak akan mampu membentuk senyawa peroksida. Hal ini disebabkan ukurannya terlalu kecil untuk mengakomodasi ion peroksida.

  1. Bagaimana karakteristik warna nyala dari unsur-unsur Sr,Ba,dan Ra?

Secara umum, untuk identifikasi kualitatif digunakan metode spectra emisi dari unsur-unsur alkali tanah. Ketika beberapa garis tajam dari tiap unsur jatuh ke dalam daerah spectrum visible, maka akan didapatkan tes nyala atau warna. Kecuali Be dan Mg, logam-logam alkali tanah mempunyai energi ionisasi yang rendah, elektron valensi atom-atomnya dapat dengan mudah tereksitasi ke orbital yang lebih tinggi, namun dengan keadaan energi yang tidak stabil dengan adanya nyala Bunsen. Dan saat elektron yang tereksitasi ini kembali menuju keadaan dasar atau ground state, mereka mengemisikan radiasi visible yang memberikan warna nyala pada api.

 

Senyawa-senyawa strontium yang volatil, khususnya kloridanya, memberikan warna nyala merah-karmin (bright crimson color) pada nyala Bunsen (Vogel, 1979).

 

Dalam uji nyala, garam-garam dari barium memberikan warna hijau-kekuningan. Karena

kebanyakan garam barium, kecuali kloridanya, idak mudah menguap, kawat platina harus dibasahi asam klorida pekat sebelum dimasukkan ke dalam zat itu. Sulfat mul-mula direduksi menjadi sulfide dalam nyala reduksi, lalu dibasahi HCl pekat, kemudian dibakar lagi (Vogel, 1979).

  1. Bagaimana mekanisme sebaran Radium di lingkungan ?

Menurut Frissel, dkk (1990) mekanisme migrasi radium dari mineral (batu-batuan) tanpa disolusi dari mineral dapat dibedakan tiga tahap, yaitu :

1. Radium migrasi dari kisi-kisi kristal mineral yang terbentuk dalam posisi interstitial (kecuali 228Ra) menuju ke kapiler atau pori-pori kecil dalam mineral.

2. Kesetimbangan adsorpsi yang dibuat antara radium dalam kapiler mineral dan radium pada dinding radium teradsorpsi pada dinding tersebut.

3. Selama kontak mineral dengan air tanah, radium yang terkandung dalam kapiler, mengakibatkan air akan terdifusi ke luar dari kapiler tersebut (jika ada kesesuaian gradient kadar radium dalam air) dan akan didesorpsi dari dinding kapiler.

4. Bagaimana cara isolasi logam Barium ?

Barit (BaSO4) adalah sumber utama untuk memperoleh Barium (Ba). Setelah diproses menjadi BaCl2 barium bisa diperoleh dari elektrolisis lelehan BaCl2. Reaksi yang terjadi :

katode ; Ba2+ +2e- Ba

anoda ; 2Cl- Cl2 + 2e-

Metode Reduksi

Selain dengan elektrolisis, barium bisa kita peroleh dengan mereduksi BaO oleh Al. Reaksi yang terjadi :

6BaO + 2Al 3Ba + Ba3Al2O6.

5. Mengapa berilium tidak bereaksi dengan air maupun uap air, magnesium hanya bereaksi

sedikit sekali dengan air dingin namun bereaksi baik dengan air panas, serta kalsium;

stronsium; dan barium yang terletak dalam 1 golongan IIA dari atas ke bawah memiliki

kecenderungan bereaksi semakin baik dengan air dingin?

(sumber : http://www.chemguide.co.uk/inorganic/group2/reacth2o.html)

Jawab:

Dalam satu golongan IIA umumnya kereaktifan logam alkali tanah semakin meningkat dari atas ke bawah. Hal ini disebabkan jari-jari atomik yang semakin besar sehingga jarak antara elektron terluar dengan inti atom semakin jauh. Akibatnya ialah bahwa elektron terluar akan semakin mudah dilepaskan dan ion positif semakin mudah terbentuk. Dengan kata lain, kereaktifan semakin meningkat dari atas ke bawah. Selain itu, energi ionisasi dalam satu golongan IIA dari atas ke bawah cenderung semakin kecil yang berarti bahwa energi yang dibutuhkan untuk melepaskan elektron terluar semakin kecil. Akibatnya, ion positif semakin mudah terbentuk (kereaktifan meningkat).

Reaksi antara logam alkali tanah dengan air ialah sebagai berikut:

M (s) + 2H2O (l) M(OH)2 (aq atau s) + H2 (g)

Be tidak akan bereaksi baik dengan air maupun uap air dikarenakan jari-jari atomiknya yang berukuran kecil serta energi ionisasinya yang tinggi. Di samping itu, Be juga memiliki suatu lapisan oksida penahan yang kuat dengan tingkat kereaktifan yang rendah.

Di sisi lain, reaksi antara Mg dengan air dingin akan segera terhenti karena Mg(OH)2 yang terbentuk hampir tidak larut dalam air dan membentuk suatu penghalang pada Mg untuk mencegah terjadinya reaksi lebih lanjut. Oleh sebab itu, untuk membantu terjadinya reaksi maka dapat dilakukan dengan mereaksikan Mg dengan air panas. Dengan menggunakan air panas, berarti terdapat tambahan kalor yang dapat digunakan untuk meningkatkan kereaktifan Mg. Hal ini dikarenakan dengan adanya kalor akan meningkatkan terjadinya tumbukan efektif antara partikel-partikel dalam larutan sehingga Mg akan dapat bereaksi dengan baik dengan air panas.

Ketika Mg direaksikan dengan uap air, maka akan terbentuk magnesium oksida (MgO) dengan hidrogen (H2) dikarenakan tidak ada pelarut air dalam fase cair (liquid) di sekitar yang mampu menstabilkan ion-ion Mg2+ dan OH-. Logam hidroksida akan terdekomposisi secara termal menghasilkan oksida dan air sebagai berikut:

Mg(s) + H2O (g) MgO (s) + H2(g)

Untuk Ca; Sr; dan Ba akan bereaksi dengan air dingin dengan tingkat kereaktifan yang berbeda-beda, di mana dalam satu golongan IIA dari atas ke bawah kereaktifan akan semakin meningkat. Untuk reaksi antara kalsium dengan air, kalsium hidroksida (Ca(OH)2) yang terbentuk sebagian besar akan terdapat sebagai endapan putih. Untuk reaksi Sr dengan air, endapan yang dihasilkan akan semakin sedikit karena semakin banyak hidroksida yang terlarut dalam air. Endapan paling sedikit akan dihasilkan dari reaksi antara Ba dengan air. Berikut adalah daftar tetapan hasil kali kelarutan (Ksp) dari senyawa-senyawa alkali tanah:

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010, Unsur Stronsium Golongan II A, http://id.shvoong.com/exact-sciences/chemistry/2157059-unsur-stronsium-sr-gol-iia/#ixzz1qakfQlZh, diakses tanggal 30 Maret 2012

Chambers, C dan Holliday, A.K , 1975, Modern Inorganic Chemistry, Butterworth & Co Publishers : England

Cotton dan Wilkinson, 1989, Kimia Anorganik Dasar, terjemahan Sahati Suharto, Penerbit UI Press : Jakarta

Frissel, Koster,H.W., 1990, Radium in Soil, The Environmental Behaviour of Radium,

Vol.1, International Atomic Energy Agency (IAEA), Vienna 327.

Greenwood, N.N dan Earnshaw, A, 1998, Chemistry of The Elements 2nd Edition, Pergamon Press : England

Keenan dkk. 1996. Kimia untuk Universitas. Jakarta: Erlangga.

Lee, J.D, 1991, Concise Inorganic Chemistry 4th Edition, Chapman Hal Publishing : UK

Mohsin, Yulianto, 2006, Radium, http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/radium/ diakses tanggal 30 Maret 2012

Saito, Taro, 1996, Kimia Anorganik, diterjemahkan oleh Prof. Dr. Ismunandar, Iwanami Shoten Publisher : Japan

Syukri,S, 2000, Kimia Dasar Jilid 2, Penerbit ITB : Bandung

Sutarman, 2003, Distribusi Radium dari Dalam Kerak Bumi ke Lingkungan, Vol. 5 nomor 1, Buletin Alara : Jakarta

 

Your Reply

*