Posts Tagged ‘Taman Kota’

ALUN-ALUN SEBAGAI TAMAN KOTA MALANG


2010
10.25
Alun-alun merupakan suatu lapangan terbuka yang luas dan berumput yang dikelilingi oleh jalan dan dapat digunakan kegiatan masyarakat yang beragam. Menurut Van Romondt (Haryoto, 1986:386), pada dasarnya alun-alun merupakan halaman depan rumah, akan tetapi dalam ukuran yang lebih besar. Penguasa bisa berarti raja, bupati, wedana dan camat bahkan kepala desa yang memiliki halaman paling luas di depan Istana atau pendopo tempat kediamannya yang dijadikan sebagai pusat kegiatan masyarakat sehari-hari dalam ikwal pemerintahan militer, perdagangan, kerajinan dan pendidikan. Lebih jauh Thomas Nix (1949:105-114) menjelaskan bahwa alun-alun merupakan lahan terbuka dan terbentuk dengan membuat jarak antara bangunan-bangunan gedung. Jadi dalam hal ini, bangunan gedung merupakan titik awal dan merupakan hal yang utama bagi terbentuknya alun-alun. Tetapi kalau adanya lahan terbuka yang dibiarkan tersisa dan berupa alun-alun, hal demikian bukan merupakan alun-alun yang sebenarnya. Jadi alun-alun bisa di desa, kecamatan, kota maupun pusat kabupaten.
Pada awalnya Alun-alun merupakan tempat berlatih perang (gladi yudha) bagi prajurit kerajaan, tempat penyelenggaraan sayembara dan penyampaian titah (sabda) raja kepada kawula (rakyat), pusat perdagangan rakyat, juga hiburan seperti “rampogan” acara yang menarik dan paling mendebarkan yaitu dilepaskannya seekor harimau yang dikelilingi oleh prajurit bersenjata.
Alun-alun merupakan cerminan identitas suatu kota, sehingga tidak segan-segan pemerintah daerah mengeluarkan dana yang cukup besar untuk mempercantik wajah alun-alun sedemikian rupa agar kelihatan indah dan mampu menarik pengunjung, sehingga tidak jarang pemerintah daerah menjadikan alun-alun sebagai icon kota atau daerah yang patut dibanggakan. Selain menjadi icon bagi suatu kota, alun-alun atau taman kota juga memiliki fungsi-fungsi lain.


STANDAR TAMAN KOTA

Berdasarkan Konferensi Bumi pada 1992 yang berlangsung di Rio de Jeneiro, Brasil, disepakati setiap negara wajib mengalokasikan luas ruang terbuka hijau (RTH) sebesar 30% di setiap kota besarnya.
Michael Laurie, dalam bukunya mengatakan ada beberapa standar dalam pembuatan taman kota. Yang pertama berdasarkan iklim negaranya. Jika iklim negara tersebut hangat maka dianjurkan untuk menyediakan lapangan yang lebih luas agar memungkinkan penanaman pepohonan yang lebih luas. Untuk lapangan bermain dianjurkan ditempatkan tidak jauh dari perumahan adapun luas yang dianjurkan adalah 1/8-1/4 acre. Jika taman bermain tersebut letaknya berdampingan dengan sekolah maka luasannya harus mencapai 60% dari luas seluruh lahan sekolah. Standar selanjutnya berhubungan dengan adanya fasilitas tambahan dalam suatu taman kota seperti kolam renang, lapangan tenis lapangan besar harus disediakan juga tempat kegiatan sosial. Idealnya setiap 1 acre taman kota dapat menampung 800 orang penduduk.
Seiring berjalannya waktu, luas ruang atau ruang terbuka hijau di perkotaan setiap tahun semakin berkurang. Hal tersebut disebabkan terjadinya alih fungsi menjadi bangunan untuk berbagai keperluan seperti perumahan, terminal, pertokoan, kantor, dan lain-lain. Kesulitan dalam penentuan taman kota disebabkan karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti letak geografis dan topografis, tingkat kesejahteraan dan budaya masyarakatnya. Namun, mengingat betapa pentingnya fungsi taman kota, maka tentunya harus selalu diupayakan.

Taman Kota Berdasarkan Rancangannya
Berdasarkan rancangannya taman kota terbagi atas :

a. Taman Alami (Natural)

Taman alami atau natural adalah suatu taman yang dibuat untuk memberikan kesan alami atau menyatu dengan alam. Taman alami sudah terbentuk sebelumnya, namun dalam penataannya disesuaikan dengan kondisi lahan kota, misalnya hutan kota, taman pengarah jalan, taman alami yang tumbuh dalam kota, dan sebagainya.

b. Taman Buatan (Artificial)

Taman buatan atau artificial merupakan sebuah taman yang elemen-elemennya lebih banyak didominasi dengan elemen buatan manusia. Taman artificial dirancang untuk menyeimbangkan kondisi kota dan taman kota, antara lain bermanfaat untuk mengendalikan suhu, panas sinar matahari, pengendali angin, memperbaiki kualitas udara, untuk sarana bermain, rekreasi, memberikan kesenangan, kegembiraan, kenyamanan, sebagai pembatas fisik, pengontrol pandangan, dan lain sebagainya.

Taman Kota Berdasarkan Aktifitasnya
Ada tiga macam taman kota berdasarkan aktifitasnya :

a. Taman untuk rekreasi aktif

Taman untuk rekreasi aktif adalah taman yang didalamnya dibangun suatu kegiatan pemakai taman, sehingga pemakai taman secara aktif menggunakan fasilitas didalamnya, sekaligus memperoleh kesenangan, kesegaran, dan kebugaran, misalnya taman olah raga, aerobic, fitness, camping ground, taman bermain anak, taman pramuka, taman jalur jalan, kebun binatang, danau, pemancingan, taman-taman kota dan sebagainya.

b. Taman untuk rekreasi pasif

Taman untuk rekreasi pasif adalah taman yanmg dibentuk agar dapat dinikmati keindahan dan kerindangannya, tanpa mengadakan aktivitas dan kegiatan apapun, misalnya waduk, hutan buatan, penghijauan tepi kali, jalur hijau, lapangan terbang, dan lainnya.

c. Taman untuk rekreasi aktif dan pasif

Taman untuk rekreasi aktif dan pasif merupakan taman yang bisa dinikmati keindahan sekaligus ada fungsi lain dan dapat digunakan untuk mengadakan aktivitas, misalnya taman lingkungan. Taman lingkungan atau community park adalah suatu taman yang dibuat dan merupakan bagian dari suatu pemukiman, selain rumah ibadah, pasar, sekolah, dan lain-lainnya.
Taman kota mempunyai fungsi yang banyak (multi fungsi ) baik berkaitan dengan fungsi hidroorologis, ekologi, kesehatan, estetika dan rekreasi.

1. Taman kota dapat berperan dalam membantu fungsi hidroorologi

Taman perkotaan yang merupakan lahan terbuka hijau, dapat berperan dalam membantu fungsi hidroorologi dalam hal penyerapan air dan mereduksi potensi banjir. Pepohonan melalui perakarannya yang dalam mampu meresapkan air ke dalam tanah, sehingga pasokan air dalam tanah (water saving) semakin meningkat dan jumlah aliran limpasan air juga berkurang yang akan mengurangi terjadinya banjir. Diperkirakan untuk setiap hektar ruang terbuka hijau, mampu menyimpan 900 m3 air tanah per tahun. Sehingga kekeringan sumur penduduk di musim kemarau dapat diatasi. Sekarang sedang digalakan pembuatan biopori di samping untuk dapat meningkatkan air hujan yang dapat tersimpan dalam tanah, juga akan memperbaiki kesuburan tanah. Pembuatan biopori sangat sederhana dengan mengebor tanah sedalam satu meter yang kemudian dimasuki dengan sampah, maka di samping akan meningkatkan air tersimpan juga akan meningkatkan jumlah cacing tanah dalam lubangan tadi yang akan ikut andil menyuburkan tanah.

2. Taman kota mempunyai fungsi kesehatan.

Taman yang penuh dengan pohon sebagai jantungnya paru-paru kota merupakan produsen oksigen yang belum tergantikan fungsinya. Peran pepohonan yang tidak dapat digantikan yang lain adalah berkaitan dengan penyediaan oksigen bagi kehidupan manusia. Setiap satu hektar ruang terbuka hijau diperkirakan mampu menghasilkan 0,6 ton oksigen guna dikonsumsi 1.500 penduduk perhari, membuat dapat bernafas dengan lega.

3. Taman kota mempunyai fungsi ekologis

Taman kota juga berperan sebagai penjaga kualitas lingkungan kota. Bahkan rindangnya taman dengan banyak buah dan biji-bijian merupakan habitat yang baik bagi burung-burung untuk tinggal, sehingga dapat mengundang burung-burung untuk berkembang. Kicauan burung dipagi dan sore akan terdengar lagi.

4. Taman kota sebagai filter berbagai gas pencemar dan debu, pengikat karbon, pengatur iklim mikro

Terkait dengan fungsi ekologis taman kota dapat berfungsi sebagai filter berbagai gas pencemar dan debu, pengikat karbon, pengatur iklim mikro. Pepohonan yang  rimbun, dan rindang, yang terus-menerus menyerap dan mengolah gas karbondioksida (CO2), sulfur oksida (SO2), ozon (O3), nitrogendioksida (NO2), karbon monoksida (CO), dan timbal (Pb) yang merupakan 80 persen pencemar udara kota, menjadi oksigen segar yang siap dihirup warga setiap saat. Kita sadari pentingnya tanaman dan hutan sebagai  paru-paru kota yang diharapkan dapat membantu menyaring dan menjerap polutan di udara, sehingga program penghijauan harus mulai digalakkan kembali. Tanaman mampu menyerap CO2 hasil pernapasan, yang nantinya dari hasil metabolisme oleh tanaman akan mengelurakan O2 yang kita gunakan untuk bernafas.  Setiap jam, satu hektar daun-daun hijau dapat menyerap delapan kilogram CO2 yang setara dengan CO2 dihembuskan oleh napas manusia sekitar 200 orang dalam waktu yang sama. Dengan tereduksinya polutan di udara maka masyarakat kota akan terhindar dari resiko yang berupa kemandulan, infeksi saluran pernapasan atas, stres, mual, muntah, pusing, kematian janin, keterbelakangan mental anak- anak, dan kanker kulit. Kota sehat, warga pun sehat.

5. Taman sebagai tempat berolah raga dan rekreasi

Taman dapat juga memiliki fungsi sebagai tempat berolah raga dan rekreasi yang mempunyai nilai sosial, ekonomi, dan edukatif. Tersedianya lahan yang teduh sejuk dan nyaman, mendorong warga kota dapat memanfaatkan sebagai sarana  berjalan kaki setiap pagi, olah raga dan bermain, dalam lingkungan kota yang benar-benar asri, sejuk, dan segar sehingga dapat menghilangkan rasa capek. Taman kota yang rindang mampu mengurangi suhu lima sampai delapan derajat Celsius, sehingga terasa sejuk. Hal tersebut membuat masyarakat banyak berdatangan. Dari ramai pengunjung tersebut mengundang banyak penjual jajanan untuk menyidiakan makanan, namun tentunya harus diatur dan ditertibkan.

6. Memiliki nilai estetika

Dengan terpeliharanya dan tertatanya taman kota dengan baik akan meningkatkan kebersihan dan keindahan lingkungan, sehingga akan memiliki nilai estetika. Taman kota yang indah, dapat juga digunakan warga setempat untuk memperoleh sarana rekreasi dan tempat anak-anak bermain dan belajar. Bahkan taman kota indah dapat mempunyai daya tarik dan nilai jual bagi pengunjung. Jika lingkungan kotanya sehat dengan taman kotanya tertata indah akan menambah daya tarik bagi wisatawan.

Manfaat ruang terbuka hijau (RTH) berdasarkan fungsinya dibagi atas :

1. Manfaat langsung (dalam pengertian cepat dan bersifat tangible)

Membentuk keindahan dan kenyamanan (teduh, segar, sejuk) dan mendapatkan bahan-bahan untuk dijual (kayu, daun, bunga, buah).

2. Manfaat tidak langsung (berjangka panjang dan bersifat intangible)

Pembersih udara yang sangat efektif, pemeliharaan akan kelangsungan persediaan air tanah, pelestarian fungsi lingkungan beserta segala isi flora dan fauna yang ada (konservasi hayati atau keanekaragaman hayati).

Segi fisik, RTH dapat dibedakan menjadi RTH alami berupa habitat liar alami, kawasan lindung dan taman-taman nasional serta RTH non alami atau binaan seperti taman, lapangan olahraga, pemakaman atau jalur-jaur hijau jalan. Dilihat dari fungsi RTH dapat berfungsi ekologis, sosial budaya, estetika, dan ekonomi.
Segi struktur ruang, RTH dapat mengikuti pola ekologis (mengelompok, memanjang, tersebar), maupun pola planologis yang mengikuti hirarki dan struktur ruang perkotaan.
Segi kepemilikan, RTH dibedakan ke dalam RTH publik dan RTH privat.

Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Luas Wilayah
Penyediaan RTH berdasarkan luas wilayah di perkotaan adalah sebagai berikut:
  • Ruang terbuka hijau di perkotaan terdiri dari RTH Publik dan RTH privat
  • Proporsi RTH pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30% yang terdiri dari 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% terdiri dari ruang terbuka hijau privat.
  • Apabila luas RTH baik publik maupun privat di kota yang bersangkutan telah memiliki total luas lebih besar dari peraturan atau perundangan yang berlaku, maka proporsi tersebut harus tetap dipertahankan keberadaannya. Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota, baik keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan mikroklimat, maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota.
Penyediaan RTH Berdasarkan Kebutuhan Fungsi Tertentu
Fungsi RTH pada kategori ini adalah untuk perlindungan atau pengamanan, sarana dan prasarana misalnya melindungi kelestarian sumber daya alam, pengaman pejalan kaki atau membatasi perkembangan penggunaan lahan agar fungsi utamanya tidak terganggu. RTH kategori ini meliputi: jalur hijau sempadan rel kereta api, jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi, RTH kawasan perlindungan setempat berupa RTH sempadan sungai, RTH sempadan pantai, dan RTH pengamanan sumber air baku/mata air.

Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Jumlah Penduduk
Untuk menentukan luas RTH berdasarkan jumlah penduduk, dilakukan dengan mengalikan antara jumlah penduduk yang dilayani dengan standar luas RTH per kapita sesuai peraturan yang berlaku.

Unit Lingkungan
Tipe Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Luas minimal/ unit (m2)
Luas minimal/ kapita (m2)
Lokasi
1.
250 jiwa
Taman RT
250
1,0
Di tengah lingkungan RT
2.
2500 jiwa
Taman RW
1.250
0,3
Di pusat kegiatan RW
3.
30.000 jiwa
Taman Kelurahan
9.000
0,3
Dikelompokan dengan sekolah atau pusat kelurahan
4.
120.000 jiwa
Taman Kecamatan
24.000
0,2
Dikelompokan dengan sekolah atau pusat kecamatan


Pemakaman
Disesuaikan
1,2
Tersebar
5.
480.000 jiwa
Taman kota
144.000
0,3
Di pusat wilayah atau kota


Hutan kota
Disesuaikan
4,0
Di dalam atau kawasan pinggiran


Untuk fungsi-fungsi tertentu
Disesuaikan
12,5
Disesuaikan dengan kebutuhan

Elemen-elemen taman kota

1. Material Landscape atau Vegetasi
Yang termasuk dalam elemen landscape antara lain :
  • Pohon
Tanaman kayu keras dan tumbuh tegak, berukuran besar dengan percabangan yang kokoh. Yang termasuk dalam jenis pohon ini adalah asam kranji, lamtorogung, akasia, dan lainnya.
  • Perdu
Jenis tanaman seperti pohon terapi berukuran kecil, batang cukup berkayu tetapi kurang tegak dan kurang kokoh. Yang termasuk dalam jenis perdu adalah bougenvillle, kol banda, kembang sepatu, dan lainnya.
  • Semak
Tanaman yang agak kecil dan rendah, tumbuhnya melebar atau merambat. Yang termasuk dalam jenis semak adalah teh-tehan, dan lainnya.
  • Tanaman penutup tanah
Tanaman yang lebih tinggi rumputnya, berdaun dan berbunga indah. Yang termasuk dalam jenis ini adalah krokot, nanas hias dan lainnya.
  • Rumput
Jenis tanaman pengalas, merupakan tanaman yang persisi berada diatas tanah. Yang termasuk dalam jenis ini adalah rumput jepang, rumput gajah, dan lainnya.

2. Material Pendukung atau Elemen Keras

Yang termasuk dalam material pendukung adalah :
  • Kolam
Kolam dibuat dalam rangka menunjang fungsi gedung atau merupakan bagian taman yang memiliki estetika sendiri. Kolam sering dipadukan dengan batuan tebing dengan permainan air yang menambah kesan dinamis. Kolam akan tampil hidup bila ada permainan air didalamnya. Taman dengan kolam akan mampu meningkatan kelembaban lingkungan sehingga dapat berfungsi sebagai penyejuk lingkungan.
  • Tebing Buatan
Tebing buatan atau artificial banyak diminati oleh penggemar taman. Tebing ini dibuat untuk memberikan kesan alami, menyatu dengan alam, tebing dibuat dengan maksud untuk menyembunyikan tembok pembatas dinding yang licin massif, agar tidak menyilaukan pada saat matahari bersinar sepanjang siang. Penambah air kolam terjun pada tebing buatan akan menambah suasana sejuk dan nyaman.
  • Batuan
Batuan tidak baik bila diletakkan di tengah taman, sebaiknya diletakkan agak menepi atau pada salah satu sudut taman. Sebagian batu yang terpendamdi dalam tanah akan memberi kesan alami dan terlihat menyatu dengan taman akan terlihat lebih indah bila ada penambahan koloni taman pada sela-sela batuan.
  • Gazebo
Gazebo adalah bangunan peneduh atau rumah kecil di taman yang berfungsi sebagai tempat beristirahat menikmati taman. Sedangkan, bangku taman adalah bangku panjang yang disatukan dengan tempat duduknya dan ditempatkan digazebo atau tempat-tempat teduh untuk beristirahat sambil menikmati taman. Bahan pembuatan gazebo atau bangku taman tidak perlu berkesan mewah, tetapi lebih ditekankan pada nilai keindahan, kenyamanan dalam suasana santai, akrab, dan tidak resmi. Gazebo atau bangku taman bisa terbuat dari kayu, bambu, besi atau bahan lain yang lebih kuat dan tahan terhadap kondisi taman. Atapnya dapat bermacam-macam, mulai dari genting, ijuk, alang-alang dan bahan lain yang berkesan tahan sederhana.
  • Jalan Setapak (Stepping Stone)
Jalan setapak atau steppig stone dibuat agar dalam pemeliharaan taman tidak merusak rumput dan tanaman, selain itu jalan setapak berfungsi sebagai unsur variasi elemen penunjang taman.
  • Perkerasan
Perkerasan pada taman dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai macam bahan, seperti tegel, paving, aspal, batu bata, dan bahan lainnya. Tujuan perkerasan adalah untuk para pejalan kaki (pedestrian) atau sebagai pembatas.
  • Lampu Taman
Lampu taman merupakan elemen utama sebuah taman dan dipergunakan untuk menunjang suasana di malam hari. Lampu berfungsi sebagai penerang taman dan sebagai nilai eksentrik pada taman.

Kriteria Vegetasi untuk Ruang Terbuka Hijau Taman dan Taman Kota

Kriteria pemilihan vegetasi untuk taman lingkungan dan taman kota adalah sebagai berikut:
  • Tidak beracun, tidak berduri, dahan tidak mudah patah, perakaran tidak mengganggu  pondasi
  • Tajuk cukup rindang dan kompak, tetapi tidak terlalu gelap
  • Ketinggian tanaman bervariasi, warna hijau dengan variasi warna lain seimbang
  • Perawakan dan bentuk tajuk cukup indah
  • Kecepatan tumbuh sedang
  • Berupa habitat tanaman lokal dan tanaman budidaya
  • Jenis tanaman tahunan atau musiman
  • Jarak tanam setengah rapat sehingga menghasilkan keteduhan yang optimal
  • Tahan terhadap hama penyakit tanaman
  • Mampu menjerap dan menyerap cemaran udara
  • Sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung.


ALUN-ALUN MALANG

Kota Malang adalah salah satu kota yang terletak di Propinsi Jawa Timur. Malang merupakan kota yang terletak  didataran tinggi dan dikelilingi dengan pegunungan membuat Kota Malang menjadi sejuk. Kota Malang memiliki dua buah alun-alun yang lokasi keduanya tidak begitu berjauhan. Pertama, alun-alun balaikota yang berlokasi di Jl. Tugu. Alun-alun ini lebih dikenal dengan sebutan “Alun-alun Bundar” yang merupakan salah satu bangunan tua peninggalan kolonial Belanda. Konon kehadirannya memang dikhususkan untuk para bangsawan Belanda. Kedua, alun-alun Kayu Tangan atau yang lebih dikenal dengan nama “Alun-alun Malang” yang berada di Jl. Merdeka. Alun-alun Malang adalah pusat keramaian di kota Malang. Dalam blog ini saya akan membahas lebih jauh tentang alun-alun Malang.

MENGULAS SEDIKIT TENTANG SEJARAH ALUN-ALUN KOTA MALANG

Alun-alun Kota Malang dan sekitarnya sudah ada mulai tahun 1882 dan dibangun untuk kepentingan Belanda. Dahulu merupakan representasi dari sistem tatakota macapat peninggalan para wali sembilan yaitu sebuah tanah lapang milik kota yang di kelilingi oleh penjara yang sekarang menjadi ramayana,  pasar atau area bisnis, tempat ibadah seperti Masjid Jamii dan Gereja dan di sebelah Timur Alun-alun terdapat Pendopo bekas Kadipaten yang saat ini menjadi Kantor Pemerintah Kabupaten Malang. Bangunan-bangunan kuno dalam gaya Kolonial maupun Tradisional yang banyak terdapat di kawasan Alun-alun, nampaknya terkait dengan nilai historis tersebut. Bangunan-bangunan kuno ini, menjadikan kawasan Alun-alun memiliki karakter khusus.

Pemukiman orang Eropa berada di barat daya alun-alun, seperti : Talun, Tongan, Sawahan dan sekitarnya, Kayutangan, Oro-oro Dowo, Tjelaket, Klojen-lor dan Rampal.
Pemukiman orang Cina berada di sebelah tenggara alun-alun.
Pemukiman orang Arab berada di sebelah barat alun-alun, di belakang masjid.
Pemukiman Pribumi berada di daerah kampung sebelah selatan alun-alun, seperti : kampung Kebalen, Tumenggungan, Djodipan, Talun, dan Klojen-Lor.

Bentuk Kota Malang sebelum tahun 1900 berbentuk kota radial dengan alun-alun sebagai pusatnya (centre), dan sungai Brantas dijadikan batas kota. Dilihat dari peta di bawah, sebelah timur kota pada waktu itu belum ada bangunan sama sekali. Pada kependudukan Belanda pada tahun 1821, bentuk kota Malang mulai berubah manjadi sistem jejala (grid).


Layak atau tidaknya ruang terbuka untuk melaksanakan kegiatan masyarakat (publik) dapat di lihat dari beberapa sisi, sehingga tanpa kehadiran salah satu aspek tersebut akan mengurangi makna dari ruang terbuka dan kemungkinan ruang terbuka tidak akan berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Linch (1989:39), membagi lima aspek pokok ruang terbuka dikatakan layak, yaitu:
  1. aspek hayati (vitality)
  2. aspek rasa (sense) : terlihat cara pemberian makna yang menyangkut sosial, budaya dan ekonomi
  3. aspek penyedian (fit) : menyangkut kemampuan ruang dalam mewadahi berbagai kegiatan
  4. aspek pencapaian (acces) : menyangkut kemudahan pergerakkan dari dan ke satu tempat
  5. aspek pengawasan (control) : berhubungan dengan hak dan kewajiban masyarakat dan ruang.

PESONA ALUN-ALUN MALANG


Alun-Alun Kota Malang merupakan taman yang indah dan dikelilingi oleh bangunan kuno. Di bagian timur alun-alun berkembang fasilitas perbelanjaan Ramayana Mall, Pertokoan ’Siswa’, Mitra Plasa, Gajah Mada Plasa, Madang Plasa dan Lippo Bank.  Di bagian utara alun-alun, berkembang Sarinah Plasa, Gramedia dan Mc Donald, selain bangunan fungsi lama seperti Kantor BI, Kantor Pajak dan Gereja Katedral.  Di bagian barat alun-alun, tidak berkembang dengan fungsi baru, tetapi masih berupa bangunan fungsi lama seperti Gereja, Masjid dan Bank Mandiri. Di bagian selatan juga tidak berubah dengan fungsi baru, hanya perkembangan fungsi-fungsi lama, seperti Hotel Pelangi, SD. Kauman, Kantor Pos dan Kantor Dispenda. Kawasan Alun-alun kota Malang sebagai pusat kota, akan berkembang dan tumbuh seiring dengan perkembangan waktu serta perubahan elemen-elemen kota dalam interelasinya. Perubahan karakter spasial Alun-alun, terjadi cukup signifikan setelah kawasan tersebut menjadi CBD (Central Bisnis Distrik). Area yang berdekatan dengan fasilitas-fasilitas komersial, memicu kegiatan komersial juga di Alun-alun. Sisi Utara dan sisi Timur dari Alun-alun, berubah fungsi menjadi area Parkir, sebagai penunjang kegiatan komersial di sekelilingnya, sehingga karakter kawasan cukup signifikan berubah. Sisi Selatan dan Barat dari Alun-alun, walau sudah bercampur dengan fungsi komersial, tetapi masih menjadi area sosial dan rekreasi. Hal demikian karena tidak terjadi perubahan fungsi bangunan-bangunan di kedua sisi tersebut, yang cukup berarti. Alun-alun kini tidak hanya sebagai pusat kota tapi telah menjadi tempat berkunjung warga, maupun wisatawan domestik. Akses teknologi informasi juga mulai merambah kota malang di beberapa titik, seperti halnya di alun-alun, kini dilengkapi dengan hotspot, yang memungkinkan akses informasi setiap saat. Peremajaan taman kota yang selalu dilakukan pemerintah kota malang kian menambah indahnya kota malang.

Penataan alun-alun bisa dikatakan mempunyai konsep yang hampir sama. Alun-alun kota Malang didisain dengan adanya kolam yang disertai dengan air mancur di tengahnya. Air mancur adalah bagian yang utama yang tidak bisa dihilangkan dari bagian alun-alun. Menurut Kepala Bidang Fisik dan Prasarana, Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Malang Bapak Dr. Ir. Drs. Jarot Edy Sulistyono, MS, bentuk air mancur alun-alun kota Malang adalah konteporer. Disebut konteporer karena gerakannya yang tidak simetris seperti sebelumnya. Kolam air mancur dikelilingi oleh tangga yang memberikan kesan seperti ruang teater terbuka. Selain itu, alun-alun Malang dilengkapi pula dengan elemen-elemen seperti lampu-lampu hias, tempat duduk atau gazebo, pohon-pohon rindang, tanaman bunga yang cantik, rumput hijau, jalan setapak, burung-burung merpati dan sebagainya yang dapat mendukung keindahan dan kenyamanan alun-alun Malang. Alun-alun kota Malang di desain dengan bentuk kotak persegi. Walaupun tidak sepenuhnya persegi, sehingga agak tampak seperti bentuk trapesium. Di beberapa sudut alun-alun kota Malang terdapat pohon beringin.


Di samping penataan taman, ada pula  fasilitas lainnya sebagai penunjang aktivitas pengunjung. fasilitas-fasilitas penunjang tersebut berupa tempat layanan informasi, kamar kecil, parkiran,  tempat sampah, dan telpon umum.


Seperti halnya yang dijelas di atas, alun-alun Malang sudah mampu memenuhi beberapa unsur elemen dan fungsi di dalamnya. Oleh karena itu, alun-alun mampu menunjang aktivitas masyarakat yang mengunjunginya. Seperti halnya aktivitas pada pagi, siang hingga malam hari.
Pada pagi hari, alun-alun Malang biasanya dijadikan tempat lari pagi yang biasanya dilakukan pada hari Minggu atau hari libur lainnya. Hal tersebut merupakan perwujudan dari fungsi alun-alun sebagai tempat berolah raga. Selain itu, setiap pagi pula terdapat petugas kebersihan yang membersihkan alun-alun dari sampah-sampah hari sebelumnya. Selain petugas kebersihan, ada juga petugas dari Dinas Pertamanan yang bertugas merapikan tanaman agar alun-alun selalu tampak menawan.

Pada siang hingga sore hari, aktivitas masyarakat mulai semakin ramai. Banyak masyarakat yang berdatangan untuk menikmati kerindangan pepohonan dengan menggelar tikar dan sambil bertidur-tiduran di taman. Ada pula masyarakat yang datang untuk duduk-duduk di bangku atau gazebo yang sudah sediakan sambil bercengkrama atau membaca koran. Pengunjung juga dapat memberi makan burung-burung merpati yang terbang bebas di bagian tengah alun-alun. Suasana semakin menarik dengan adanya atraksi topeng monyet yang menjadi hiburan masyarakat pengunjung. Alun-alun Malang memang menjadi salah satu tempat yang nyaman bagi masyarakat untuk berkumpul baik dengan keluarga maupun dengan teman. Pengunjung juga tidak perlu khawatir apabila tidak membawa bekal dari rumah karena di alun-alun ini juga tersedia pedagang-pedagang asongan yang menjajalkan makanan dan minuman bahkan mainan.

Pada malah hari, suasana alun-alun akan semakin ramai. Semakin banyak penjual asongan yang menjajalkan barang dagangannya baik makanan, minuman, mainan, pernak-pernik, jagung bakar hingga pakaian dalam. Wow, sungguh membuat saya sempat terkejut dan tertawa geli saat melihatnya. Namun, hal tersebut tidak mengurangi minat pengunjung yang datang. Warna-warni lampu taman dan kucura air mancur yang semakin membuat alun-alun ini semakin elok dan menarik. Tampak pula Masjid Jamii yang terlihat begitu megah di sebrang alun-alun. Pesona ini membuat suasana terasa romantis, sehingga jangan heran kalau melihat pasangan muda-mudi yang sedang asyik berpacaran (priiiikkkiiitttiiiwwww………). Selain itu, momen ini juga dijadikan  pengunjung untuk berkumpul-kumpul dan berfoto-foto dengan keluarga ataupun dengan teman. Kalau pengunjung ingin berfoto-foto tetapi tidak membawa kamera, di sini juga tersedia jasa layanan foto keliling loh, sehingga pengunjung tidak perlu khawatir kalau tidak bisa mengabadikan momen-momen tersebut.hehe

Alun-alun Malang merupakan taman kota yang cukup mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Apabila kita merasa sangat jenuh dan penat terhadap aktivitas sehari-hari dan ingin refreshing, tetapi tidak punya banyak waktu atau belum punya uang cukup untuk liburan ke luar kota, maka sebaiknya datang saja ke alun-alun Malang. Ajak pula keluarga atau teman-teman untuk menambah ramai suasana. Dengan fungsinya sebagai tempat berolah raga dan rekreasi serta dapat menghasilkan udara yang cukup segar akan dapat membantu membuat pikiran dan hati menjadi releks kembali. Akan tetapi, perlu diingat!!! Jangan membuang sampah sembarangan. Buanglah sampah pada tempat sampah yang telah disediakan. Jangan merusak atau mencoret-coret fasilitas yang sudah disediakan. Dengan demikian, kita telah membantu dalam hal menjaga kebersihan, kerapian, kenyamanan dan kelestarian lingkungan kita. Cintailah lingkungan kita mulai sekarang, nanti dan seterusnya!!!  (^_^)