Pendidikan Juga Hak bagi Kaum Difabel

Pendidikan Juga Hak Bagi Kaum Difabel

feature nada

Pendidikan adalah salah satu modal hidup bagi setiap insan  di dunia, tak terkecuali bagi penyandang disabilitas. Keterbatasan fisik harusnya tak menjadi halangan bagi mereka untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya dan mendapat ilmu yang sebanyak-banyaknya. Namun usaha mereka mendapat pendidikan tak semudah orang normal umumnya. Banyak dari mereka yang justru disembunyikan oleh keluarganya. Rasa malu menjadi alasan utama, kaum disabilitas dianggap sebagai “aib” bagi keluarganya, lalu bagaimana bisa mereka mendapat pendidikan yang layak jika keberadaannya saja disembunyikan?

Kepedulian dan pengakuan terhadap adanya mereka sangatlah dibutuhkan. Memberikan fasilitas yang sesuai bagi mereka, dan menghilangkan diskriminasi di masyarakat. Mereka tak ingin dianggap berbeda. Mereka hanya ingin dianggap sama seperti manusia normal yang lain meskipun dengan keistimewaan yang mereka miliki. Hak-hak sebagai warga Negara juga selayaknya mereka dapatkan secara penuh.

“sebenarnya saya sama saja dengan orang normal yang lain, jadi tidak perlu diistimewakan” ungkap Shani, kaum difabel yang kini berhasil kuliah di Universitas Brawijaya Malang. Menurut Shani ia pernah mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan saat duduk di bangku sekolah, ia merasa dibeda-bedakan dengan siswa yang lain. Namun menurut gadis berusia 19 tahun ini hal tersebut tidak menjadi masalah, justru menjadi sebuh motivasi bagi dirinya.

UU No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat dan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menekankan hak setiap warga negara untuk memperolah pendidikan sesuai dengan jenjang, jalur, satuan, bakat, minat, dan kemampuannya tanpa diskriminasi. Adanya UU tersebut harusnya menjadi dasar agar tak ada lagi sekat sosial yang membedakan para difabel dengan masyarakat umum. UU No. 4 Tahun 1997 pasal 12 mewajibkan lembaga-lembaga pendidikan umum menerima para difabel sebagai siswa. Kewajiban seperti inilah yang disebut sebagai model inklusi. Model inklusi adalah peluang bagi terjadinya interaksi sosial antara para difabel dan masyarakat pada umumnya. Sayangnya, belum banyak difabel yang mengakses sekolah model inklusi akibat minimnya informasi mengenai sekolah inklusi, ketiadaan biaya, dan infrastruktur yang kurang mendukung.

Pada tahun 2013, Kota Malang ditetapkan oleh dinas pendidikan dan kebudayaan sebagai pertama, kota pendidikan inklusif dan ramah terhadap penyandang disabilitas. Kedua, di Kota Malang mempunyai kampus yang merupakan pelopor pendidikan inklusif di perguruan tinggi, yaitu Universitas Brawijaya, akan menjadi paradoks bila Kota Malang sendiri kurang ramah terhadap penyandang disabilitas. Ketiga, Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya. Di Kota ini pupulasi penyandang disabilitas cukup tinggi, dibanding dengan kota-kota yang lainnya.

Saat ini bukan lagi saat untuk mendiskriminasi mereka karena keistimewaan yang mereka miliki, bekerjasama selakyaknya dengan manusia normal lainnya, dan menjadikan keistimewaan yang mereka miliki sebagai nilai tambah, bukan suatu kekurangan yang harus dipersoalkan.

Ditulis oleh:

Shohrun Nada

Mahasiswa Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya

Email: shohrunn@yahoo.com

Tags: , , ,

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*