Perusahaan Bowater, Manajemen Krisis

March 9th, 2015

ANALISIS ARTIKEL

“Bowater Incorporate – A Lesson in Crisis COMMUNICATION”

Oleh : Lissa Maggart

Dosen Pengampu : Rakhmat Kriyantono, Ph.D

Annisa Rahmaesra (125120201111058)

A.IK.6

Jurusan Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

Universitas Brawijaya

2015

 

Perusahaan Bowater, Manajemen Krisis 

Gambar 1. Kecelakaan Bowater South (Knoxnews.com)

Gambar 1. Kecelakaan Bowater South (Knoxnews.com)

Perusahaan Bowater South merupakan perusahaan memproduksi kertas di Amerika Serikat yang berdiri sejak abad ke 19. Pada 11 Desember 1990, terjadi sebuah kecelakaan antara mobil Cadillac dan truk milik Bowater South yang mengangkut bahan kimia berbahaya. Berdasarkan Knoxville, kecelakaan ini adalah yang terburuk yang pernah terjadi di Tennessee yang menyebabkan jalan raya tertutup kabut total. Api yang ditimbulkan dari kecelakaan tersebut menyebabkan lelehnya permukaan infrastruktur jalan, dan beberapa mobil hangus dan meleleh. Setidaknya 12 orang tewas, 42 orang luka-luka, dan 99 kendaraan terlibat dalam kecelakaan ini. Proses identifikasi dari kecelakaan ini memakan waktu lebih dari tiga hari. Departemen Perhubungan Tennessee kemudian memasang sistem detektor kabut, gerbang, dan tanda peringatan di sepanjang zona kabut pada tahun 1993 seharga US$ 4,4 Juta (Lakin, 2012).

Astrid Sheil, selaku manajer urusan publik dan pemerintah dari Bowater South mempelajari kejadian tersebut melalui reporter yang menghubunginya dan beberapa jam kemudian ia mendatangi pabrik Bowater South yang dekat dari lokasi kejadian tersebut yang sudah dipenuhi oleh para reporter. Pada saat itu, ia tidak menyadari bahwa krisis yang dialami perusahaannya merupakan krisis yang sangat besar. Tiga hari setelah kejadian tersebut, Wayne Davis dari Universitas Tennessee mengadakan konferensi pers dan menyatakan bahwa Bowater South adalah sumber utama dari kecelakaan yang terjadi, hal ini telah ia pelajari selama 10 tahun terakhir (Maggart, 1994).

Tindakan yang dilakukan Bowater South terhadap krisis yang dihadapi ini diawali dengan pernyataan oleh satu orang juru bicara kepada media pada sore hari setelah kejadian tersebut dalam konferensi berita. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi berlebihnya informasi yang disampaikan. Sheil dengan cepat menganalisa situasi yang terjadi, menanggapi pertanyaan reporter, dan menyagkal semua tuduhan. Setelah konferensi itu selesai, ia melanjutkan investigasi kejadian tersebut dan keesokan harinya ia mendapatkan 150 telfon dari beberapa media. Ia menjawab semua pertanyaan media secara tepat dan akurat, menjawab semua kebohongan yang ditujukan dengan fakta yang terjadi. Selain itu, untuk keperluan internal ia juga mengirimkan surat kepada karyawan untuk menginformasian dan meyakinkan karyawan dan menjaga ambassadorship. Pada hari ketiga setelah kejadian tersebut, Bowater South menghubungi konsultan public relations untuk menambah pengetahuan mereka akan situasi yang terjadi dan mengurangi ketidaknyamanan yang ditimbulkan di kantor pusat.

Melalui aksi dari Bowater South tersebut dapat terlihat bahwa mereka sudah melakukan beberapa aksi yang benar yaitu dengan menganilisa krisis yang dihadapi dengan bantuan professional dan juga membuka arus informasi yang akurat baik ke media massa juga internal perusahaan. Hal ini sangat diperlukan perusahaan yang mengalami krisis terutama yang melibatkan kecelekaan besar. Menurut Nova (2009), krisis yang terjadi karena kecelekaan mengarah pada emergensi skala penuh dan biasanya menjadi magnet bagi media, disebabkan oleh korban yang ditimbulkan dari kecelakaan tersebut.

Usaha seperti konferensi pers, menjawab pertanyaan reporter via telfon, dan memberi pengertian terhadap karyawan internal guna menambah kepercayaan dengan tepat melalui fakta-fakta yang ditemui merupakan usaha yang baik yang dilakukan seorang public relations. Praktisi PR dalam menangani krisis perusahaan harus bekerja secara cepat dan fleksibel hal ini disampaikan dalam Kriyantono (2014, h. 173) bahwa ketika organisasi ditimpa krisis, komunikasi dua arah yang bersifat terbuka, jujur, dan tidak ada upaya menutup-nutupi fakta adalah kunci yang dapat mendorong terbentuknya atribusi publik yang positif sehingga publik mendapatkan kecukupan informasi.

Namun, kesalahan terbesar yang dilakukan oleh Bowater South dimulai ketika para korban mulai menuntut perusahaan tersebut. Secara tiba-tiba semua data berkaitan dengan kejadian tersebut hilang dan Sheil dan para pengacara tidak memberikan informasi apapun terhadap publik, sehingga pada akhirnya menimbulkan ketidakpercayaan dan kecurigaan pada masyarakat. Selain itu, Bowater South malah memperburuk keadaan dengan masuk ke area di luar masalah. Crisis plan baru dilakukan oleh Bowater South segera setelah krisis tersebut terjadi. Maggart menjelaskan bahwa rencana terhadap penanggulangan krisis yang akan dihadapi harus dilakukan secara terus menerus.

Selain itu, kesalahan yang juga dilakukan adalah tidak menjelaskan masalah tersebut ke perusahaan saudara dan kantor pusat. Sehingga perusahaan lain tersebut tidak bisa menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan krisis tersebut. Kesalahan fatal lainnya yang dilakukan oleh perusahaan ini adalah tidak adanya pernyataan maaf terhadap keluarga korban dengan alasan lupa.

Usaha yang dilakukan oleh perusahaan ini pada awalnya sudah cukup baik, dengan membuka informasi secara dua arah tepat setelah kejadian itu terjadi. Sheil, menyampaian pernyataan yang tepat baik kepada media dan internal perusahaan. Namun, karena kurangnya perencanaan dalam penanganan krisis menjadikan perusahaan ini mengalami kegagalan dalam menanggulangi dampak krisis di masa selanjutnya yang mengakibatkan keraguan pada masyarakat. Selain itu, tidak terbukanya informasi kepada perusahaan saudara dan pusat juga merupakan salah satu ketidakterbukaan informasi yang dilakukan Bowater South. Parahnya, setelah kejadian yang menelan banyak koban jiwa dan kerusakan infrastruktur jalanan ini, pihak perusahaan ‘lupa’ menyampaikan permintaan maaf terhadap keluarga korban dan masyarakat. Hal ini dapat mengurangi rasa simpati masyarakat terhadap perusahaan kertas ini.

Isu yang terjadi yang dialami perusahaan ini adalah kerusakan, ketidaknyamanan, serta korban jiwa yang ditimbulkan akibat kecelakaan yang melibatkan kendaraan perusahaan Bowater South di Tennessee. Harapan masyarakat atas permintaan maaf dan tanggung jawab yang dilakukan perusahaan atas kerusakan yang ditimbulkan bahkan beberapa tahun setelah kejadian tidak dilaksanan dengan baik oleh perusahaan ini. Hal ini dikarenakan kurangnya pernecanaan penanggulangan krisis yang dilakukan perusahaan ini. Perusahaan ini hanya memberikan informasi dan pernyataan yang disesuaikan dengan fakta yang didapat dari analisa lapangan setelah kecelekaan itu terjadi, namun ketika perusahaan ini dituntut, perusahaan memilih diam dan menimbulkan kecurigaan pada masyarakat.

Berdasarkan tipe nya yang berasal dari sumber, perusahaan ini mengalami isu eksternal dimana isu tersebut terjadi di luar perusahaan. Berdasarkan implikasinya, perusahaan ini mengalami defensive isue yang mengakibatkan kerugian perusahaan. Berdasarkan luasnya, perusahaan ini mengalami universal isues dimana krisis yang dialami memiliki dampak kepada banyak orang, tidak hanya jumlah korban yang ditimbulkan namun kabut yang ditimbulkan dari kecelakaan tersebut. Berdasarkan jumlah korban dan akibat yang ditimbulkan, kecelakaan ini tergolong yang terbesar yang pernah terjadi di Tennessee sehingga menjadi bahan pembicaraan masyarakat luas bahkan bertahun-tahun setelah kecelakaan itu terjadi.

Menurut Gaunt & Ollenburger (1995) dalam buku Kriyantono (2012.h.159), tahapan krisis yang dialami perusahaan ini meliputi :

  1. Origin (potential stage), yaitu masyarakat mulai memberikan perhatian dan aksi terhadap isu yang terjadi. Ini adalah tahap yang menentukan dimana isu dapat diatasi atau tidak. Selanjutnya, public relations perusahaan harus tetap memonitori isu tersebut. Hal ini sudah dilakukan oleh Sheil, dimana ia mengikuti perkembangan krisis melalui televisi dan memberikan informasi dan pernyataan yang tepat bagi media melalui konferensi pers dan internal perusahaan melalui surat setelah kejadian tersebut terjadi.
  2. Mediation & Amplification (imminent stage/emerging), pada tahap ini isu mulai berkembang, perusahaan mulai mendapat tekanan dari beberapa pihak, dan adanya dukungan publik. Kabut asap yang ditimbulkan kecelekaan ini berdampak hingga beberapa tahun ke depan yang menimbulkan kerugian pemerintah, rusaknya infrastruktur, serta terganggunya masyarakat sekitar. Pernyataan yang disampaikan Dr. Davis bahwa Bowater South merupakan penyebab utama dari krisis ini juga semakin menyudutkan perusahaan ini.
  3. Organization (current stage & critical stage), pada tahap current stage opini masyarakat terbagi dua dan informasi yang beredar di media semakin banyak sehingga menjadi bahan pembicaraan publik. Semakin banyaknya pemberitaan media maka semakin banyak pula pembicaraan di masyarakat mengenai isu ini. Pada tahap critical stage dimana publik mulai terbagi menjadi mendukung atau menentang perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan yang disampaikan Dr. Davis bahwa perusahaan ini lah yang menjadi penyebab utama permasalahan ini. Melalui pernyataan ini, sebagian masyarakat mulai menentang perusahaan. Hal ini diperkuat oleh tidak adanya permintaan maaf yang disampaikan pihak perusahaan.
  4. Resolution (dormant stage), dimana pada dasarnya perusahaan ini sudah dapat menangani isu dengan baik, perhatian media berkurang, namun dapat diangkat kembali oleh media pada tahun-tahun berikutnya. Hal ini dapat dilihat dari masih dibahasnya kasus ini pada knoxville yang menyatakan bahwa kecelakaan yang berhubungan perusahaan ini merupakan kecelakaan terbesar yang pernah terjadi sepanjang sejarah di Tennessee, dan artikel berita ini ditulis pada tahun 2012.

 

Daftar Pustaka

Kriyantono, Rachmat. (2012). Public Relations & Crisis Management: Pendekatan Critical Public Relations,       Etnografi & Kualitatif. Jakarta: Kencana

Kriyantono, Rachmat. (2014). TeoriPublic Relations Perspektif Barat & Lokal. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Lakin, Matt. (2012, Oktober 28). Fog in 1990 sparks Tennessee’s deadliest car wreck. Knoxville News Sentinel. Diakses dari http://www.knoxnews.com/news/local-news/fog-sparks-states-deadliest-car-wreck

Maggart, Lisa. (1994). Bowater Incorporated –A lesson in Crisis Communications. Public Realtions Quarterly, 39 (3), 29-31.

Nova, Firsan. (2009). Crisis Public Relations. Jakarta: Grasindo.

 

 

 

 

Si Boedi Pahlawan Pekerti

January 6th, 2015

 

feature talia

 

Amanitas. Amanitas adalah salah satu kelompok mahasiswa yang mempunyai tugas dari mata kuliah Manajemen Citra untuk bekerja sama dengan non government oriented (NGO). Mereka akan memberikan rekomendasi kepada perusahaan untuk memperbaiki citra dan membuat citra yang di sarankan.

Mahasiswa yang super kreatif ini bekerja sama dengan museum Malang Tempoe Doeloe atau biasa disebut MTD. Bekerja sama dalam membuat acara yang akan diselenggarakan di setiap sekolah di Malang. MTD ini sendiri adalah salah satu museum yang berisikan sejarah tentang terbenuktnya Kota Malang dari jaman sebelum penjajahan Belanda. Rencananya, mahasiswa akan datang ke sekolah bersama orang yang bekerja di MTD sendiri untuk mengajarkan budi pekerti pada siswa siswi.

Acara tersebut selain berisikan pelajaran budi pekerti namun berisikan permainan dan pagelaran seni tradisional khas Malang dan pameran benda kuno dari museum MTD sendiri. Selain dari pihak MTDnya sendiri siswa siswi dari masing-masing sekolah tersebut menampilkan tarian dan musik tradisional dari Indonesia sendiri. ( TR)

Ditulis oleh:

Talia Dewi Tiara Rosoningtyas

Mahasiswa Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya

Email: taliarosoningtyas@gmail.com

Mahasiswa Kurang Beretika dalam Mengirim Pesan, Solusinya?

January 6th, 2015

SOP! ANDONG

Tahukah anda? Akibat buruk dari semakin canggihnya teknologi komunikasi adalah kurangnya kualitas kesopanan. Inilah yang melatarbelakangi kampanye sosial sekelompok mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya yang menamakan dirinya tim CCS (Cakep Cakep Sopan). Kegiatan kampanye bertajuk SOP! ANDONG mengusung tema etika dalam berkirim pesan kepada dosen. Diadakan pada hari Selasa, 16 Desember 2014 bertempat di Gedung FISIP Universitas Brawijaya Malang.

“Semakin sering mahasiswa berkirim pesan dengan dosen, mereka menganggap hubungan keduanya dalam posisi sejajar dan mereduksi nilai moral serta etika. Padahal, etika merupakan hal penting yang harus diperhatikan mengingat bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki peradaban masyarakat yang santun dan penuh etika” ungkap Maya Diah Nirwana, dosen sekaligus Pembantu Dekan I dikutip dari rilis yang ditulis Irna.

Kurangnya kesadaran mahasiswa akan etika berkirim pesan kepada dosen menjadi isu penting dalam kampanye sosial ini. Diungkapkan dalam rilisnya, faktor yang dianggap sebagai pelanggaran etika antara lain (1) sensitivitas waktu pengiriman pesan, (2) empati terhadap kondisi dosen, (3) kurangnya kesadaran terhadap batasan hubungan, (4) penggunaan panggilan,  dan (5) penggunaan diksi dan bahasa yang salah.

Kesalahan yang nampaknya sepele dan sering diabaikan oleh mahasiswa inilah yang ingin diperbaiki tim CCS dalam kampanye sosialnya. Mereka menjelaskan bagaimana format pesan serta pemilihan waktu saat berkirim pesan. Hal ini dilakukan sebagai wujud kepedulian sosial mereka dalam lingkungan kampus yang diharapkan dapat menyadarkan mahasiswa dan direalisasikan kedepannya.

[youtube]https://www.youtube.com/watch?v=9P76mBugL0I[/youtube]

Ditulis oleh:

Annisa Rahmaesra

Mahasiswa Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya

Email: annisaesra@gmail.com

Pendidikan Juga Hak bagi Kaum Difabel

January 5th, 2015

Pendidikan Juga Hak Bagi Kaum Difabel

feature nada

Pendidikan adalah salah satu modal hidup bagi setiap insan  di dunia, tak terkecuali bagi penyandang disabilitas. Keterbatasan fisik harusnya tak menjadi halangan bagi mereka untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya dan mendapat ilmu yang sebanyak-banyaknya. Namun usaha mereka mendapat pendidikan tak semudah orang normal umumnya. Banyak dari mereka yang justru disembunyikan oleh keluarganya. Rasa malu menjadi alasan utama, kaum disabilitas dianggap sebagai “aib” bagi keluarganya, lalu bagaimana bisa mereka mendapat pendidikan yang layak jika keberadaannya saja disembunyikan?

Kepedulian dan pengakuan terhadap adanya mereka sangatlah dibutuhkan. Memberikan fasilitas yang sesuai bagi mereka, dan menghilangkan diskriminasi di masyarakat. Mereka tak ingin dianggap berbeda. Mereka hanya ingin dianggap sama seperti manusia normal yang lain meskipun dengan keistimewaan yang mereka miliki. Hak-hak sebagai warga Negara juga selayaknya mereka dapatkan secara penuh.

“sebenarnya saya sama saja dengan orang normal yang lain, jadi tidak perlu diistimewakan” ungkap Shani, kaum difabel yang kini berhasil kuliah di Universitas Brawijaya Malang. Menurut Shani ia pernah mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan saat duduk di bangku sekolah, ia merasa dibeda-bedakan dengan siswa yang lain. Namun menurut gadis berusia 19 tahun ini hal tersebut tidak menjadi masalah, justru menjadi sebuh motivasi bagi dirinya.

UU No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat dan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menekankan hak setiap warga negara untuk memperolah pendidikan sesuai dengan jenjang, jalur, satuan, bakat, minat, dan kemampuannya tanpa diskriminasi. Adanya UU tersebut harusnya menjadi dasar agar tak ada lagi sekat sosial yang membedakan para difabel dengan masyarakat umum. UU No. 4 Tahun 1997 pasal 12 mewajibkan lembaga-lembaga pendidikan umum menerima para difabel sebagai siswa. Kewajiban seperti inilah yang disebut sebagai model inklusi. Model inklusi adalah peluang bagi terjadinya interaksi sosial antara para difabel dan masyarakat pada umumnya. Sayangnya, belum banyak difabel yang mengakses sekolah model inklusi akibat minimnya informasi mengenai sekolah inklusi, ketiadaan biaya, dan infrastruktur yang kurang mendukung.

Pada tahun 2013, Kota Malang ditetapkan oleh dinas pendidikan dan kebudayaan sebagai pertama, kota pendidikan inklusif dan ramah terhadap penyandang disabilitas. Kedua, di Kota Malang mempunyai kampus yang merupakan pelopor pendidikan inklusif di perguruan tinggi, yaitu Universitas Brawijaya, akan menjadi paradoks bila Kota Malang sendiri kurang ramah terhadap penyandang disabilitas. Ketiga, Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya. Di Kota ini pupulasi penyandang disabilitas cukup tinggi, dibanding dengan kota-kota yang lainnya.

Saat ini bukan lagi saat untuk mendiskriminasi mereka karena keistimewaan yang mereka miliki, bekerjasama selakyaknya dengan manusia normal lainnya, dan menjadikan keistimewaan yang mereka miliki sebagai nilai tambah, bukan suatu kekurangan yang harus dipersoalkan.

Ditulis oleh:

Shohrun Nada

Mahasiswa Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya

Email: shohrunn@yahoo.com

Kuliah Cuma teori? Time to action!

December 24th, 2014

Kuliah Cuma  teori? Time to action!

Oleh : Annisa Rahmaesra

Gerakan Pungut Sampah - FISIP - Ilmu Komunikasi - Universitas Brawijaya 2014

Gerakan Pungut Sampah

Ayo Naik Tangga! - FISIP - Ilmu Komunikasi - Universitas Brawijaya 2014

Ayo Naik Tangga!

Sop Andong! (Sopan dalam mengirim pesan kepada dosen) - FISIP - Ilmu Komunikasi - Universitas Brawijaya 2014

Sop Andong! (Sopan dalam mengirim pesan kepada dosen)

Ayo naik tangga! (implementasi kampanye naik tangga) - FISIP - Ilmu Komunikasi - Universitas Brawijaya 2014

 

Implementasi Kampanye Sosial Ayo Naik Tangga!

Malang – Tugas kuliah tidak melulu mengenai teori, melainkan praktik nyata agar ilmu tersebut dapat digunakan dengan lebih baik. Hal ini yang dilakukan oleh Mahasiswa Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Brawijaya. Selama 2 minggu terakhir, beberapa mahasiswa dengan mata kuliah social marketing dan Public Relations on Media melakukan beberapa kampanye sosial di sekitar kampus FISIP.  Gencarnya melakukan kegiatan kampanye sosial sebagai wujud akan kepedulian lingkungan dan implementasi ilmu yang didapatkan.

Dimulai dari lingkungan kampus, para mahasiswa ini melakukan kampanye sosial untuk menciptakan lingkungan kampus yang lebih kondusif untuk semua academica. Seperti Gerakan Pungut Sampah (GPS), dilakukan untuk memperhatikan kebersihan lingkungan dengan memungut sampah yang ada di sekitar lingkungan kampus, kemudian menukarnya dengan merchandise. Kegiatan ini diakui karena banyaknya sampah yang ditemukan di sekitar kampus, terutama ketika kelas usai ditemui banyak sampah kertas atau makanan yang tertinggal di dalam ruang kelas.

Gerakan Cepat Tanggap Jangan Merokok di Tempat Umum (Gencatan Jarum) juga melakukan kampanye sosial dengan mengusung tema kampus bebas rokokselama 4 jam. Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan kampus bebas asap rokok. Caranya, para mahasiswa ini menghampiri beberapa mahasiswa yang merokok kemudian menukar rokok dengan permen dan stiker. Hal ini dilakukan sebagai sikap kepedulian kepada perokok pasif.

Kegiatan lainnya yang dilakukan seperti naik lift secara teratur, kebiasan naik tangga untuk membakar kalori, mengirim pesan yang baik dan benar kepada dosen dan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan kemahasiswaan juga dilakukan beberapa mahasiswa. Walaupun hanya tugas kuliah, kegiatan ini diharapkan mampu mengubah kebiasaan buruk mahasiswa yang biasa dilakukan di sekitra kampus dan menciptakan lingkungan kampus yang kondusif (AR).

 

Ditulis oleh:

Annisa Rahmaesra

Mahasiswa Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya

Email: annisaesra@gmail.com

Alamat: Jalan Kertosari 2, Malang, 65145

[Tugas TIK] Implementasi Tekhnologi Informasi dalam Organisasi

March 28th, 2014

Tekhnologi informasi dewasa ini mengalami perubahan yang sangat pesat baik dalam fungsi dan model yang semakin beragam, yang berdampak pada semakin mudahnya akses pertukaran informasi dan komunikasi. Inovasi dalam tekhnologi ini secara sadar atau tidak, memaksa semua orang untuk mengikuti perubahan tersebut karena tuntutan lingkungan. Karena, maju atau tidaknya suatu organisasi juga diukur dali pemanfaatan tekhnologi informasi dalam organisasi tersebut.

Salah satu contoh inovasi tekhnologi dalam lingkungan organisasi misalnya penggunaan skype dalam meeting dimana anggota dapat berkomunikasi lewat video call secara conference tanpa harus bertemu langsung dan dilakukan di tempat yang jauh jaraknya. Namun, kekurangan inovasi tekhnologi jenis ini yaitu menuntut adanya koneksi internet yang cepat, dimana di Indonesia sendiri koneksi internet tiap tempat berbeda-beda, bahkan ada yang belum tersentuh internet sama sekali. Selain itu, contoh terdekat pemanfaatan tekhnologi informasi dalam organisasi misalnya penggunaan email atau bahkan website khusus untuk pertukaran data (wiggio.com) dalam kelas perkuliahan. Dimana, materi dari dosen bisa didistribusikan melalui situs tersebut ke semua anggota kelas tanpa harus repot mengopy ke flashdisk terlebih dahulu.

Pemanfaatan tekhnologi merupakan sarana penunjang organisasi dalam mencapai tujuannya dan berdampak pada aktivitas ekonomi organisasi tersebut, yaitu TI dapat membantu dalam pertukaran informasi yang akurat dan efisien, dimana para anggota atau antar-oganisasi tidak perlu lagi bertemu secara langsung sehingga hemat biaya dan pesan dapat disampaikan dan diterima dalam waktu sesinglat-singkatnya sehingga lebih efisien dalam penggunaan  waktu dan pengambilan keputusan juga akan lebih cepat. Bagi organisasi yang menggunakan tekhnologi tinggi dalam pekerjaannya, perkembangan TI juga menentukan maju atau tidaknya organisasi tersebut (contoh: otomotif).

Tekhnologi informasi mampu mengimbangi perubahan struktur dalam organisasi. Dimana bertemu secara langsung antar anggota tidak begitu penting lagi karena inovasi dalam TI memudahkan anggotanya untuk berinteraksi, kapanpun dan dimanapun. Namun, kemudahan tidak selamanya berefek baik. Efektivitas komunikasi justru bisa saja berkurang karena penggunaan TI ini, seperti jika menggunakan text messenger atau chatting, maka komunikan tidak dapat menangkap situasi emosi komunikator sepenuhnya, bahkan komunikator bisa saja menyampaikan pesan yang berbeda dengan apa yang dirasakan (seperti menggunakan emoticon tersenyum, padahal ketika mengetik pesan tersebut dia biasa saja). Keterbatasan TI juga mempengaruhi efektivitas pertukaran pesan dalam komunikasi.

Namun, berhasil atau tidaknya pemanfaatan TI dalam organisasi sebenarnya dilihat dari sukses atau tidaknya suatu organisasi dalam mencapai tujuannya dan TI merupakan alat bantu dalam pencapaian tujuan tersebut. Hal ini dikemukan oleh Romney (2006) bahwa pemanfaaatan teknologi informasi didalam organisasi bukan merupakan strategi dasar dari organisasi tersebut, implementasi teknologi informasi digunakan untuk membantu dalam pencapaian strategi organisasi.

Referensi : Rahmawati, Diana. Peran Teknologi Informasi dalam Hubungan Struktur Organisasi dengan Lingkungan (Suatu Kajian Teori). Diakses pada 27 Maret 2014 dalam http://staff.uny.ac.id/

Music Video (Dasar-dasar Broadasting)

February 25th, 2014

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=60UA01XsBSQ&feature=c4-overview&list=UUpTyGtEVPPzo9wabfj54OrA[/youtube]

simple edited using  Cyberlink Powerdirector

Assignment for Final Exam
FISIP – Ilmu Komunikasi
Universitas Brawijaya Malang 2014

Video Produced by Dinda Anggun, Jessica Dian, Annisa Rahmaesra, Andini Iswari, Talia Dewi Tiara Rosoningtyas, Naomi Amelia Pradipta Yudah

Song : We are the World
Artists : Justin Bieber, Nicole Scherzinger, Jennifer Hudson, Jennifer Nettles, Josh Groban, Tony Bennett, Mary J. Blige, Michael Jackson (stock footage), Janet Jackson, Barbra Streisand, Miley Cyrus, Enrique Iglesias, Jamie Foxx, Wyclef Jean, Adam Levine, Pink, BeBe Winans, Usher, Celine Dion, Orianthi (on guitar), Fergie, Nick Jonas, Toni Braxton, Mary Mary, Isaac Slade, Carlos Santana (on guitar), Lil Wayne, Akon, T-Pain, LL Cool J (rap), will.i.am (rap), Snoop Dogg (rap), Nipsey Hussle (rap), Busta Rhymes (rap), Swizz Beatz (rap), Kid Cudi (rap), Mann (rap), Kanye West (rap)
Label : Columbia
Writers : Michael Jackson and Lionel Richie
Producer : Quincy Jones and Michael Omartian
(information from Wikipedia)