Activity

  • Veninurcahyati posted an update 5 months ago

    BERFIKIR SERBA SISTEM dalam ADMINISTRASI PUBLIK

    By. Irwan Noor

    Bergesernya fokus ilmu administrasi publik, dari generasi pertama (efesiensi-efektif) menuju tataran knowledge-management (tahun 2000-an) tentunya membawa pula perubahan di dalam kegiatan analisis fenomena administrasi publik. Tulisan Peter Sange (1990) The Fifth Discipline: The Art and Practice of the Learning Organization (1. Personal mastery , 2. Mental models , 3. Building shared vision, 4. Team learning, 5. Systems thinking), membawa angin perubahan.

    Perdebatan analisis tidak lagi seputar berfikir linear. Fenomena sektor publik mulai dirambah berfikir sistem, terutama ketika mempraktekkan prinsip-prinsip pencapaian entrepreneurial governance. Tulisan tentang analisis sistemik, khususnya berkaitan dengan kajian fenomena mutakhir administrasi publik, yaitu inovasi, kemudian bermunculan. Beberapa tulisan, seperti: (1) Oughton, et.al (2002), The Regional Innovation Paradox: Innovation Policy and Industrial Policy, Doloreux (2004) Regional Innovation Systems in Canada: A Comparative study, (2) Ženko and Jure Marn, (2006), Systemic approach to innovations – standards vs software, (3) Stewart (2006), Strategy: the motivation for innovation, Hartmann, (2006); The role of organizational culture in motivating innovative behaviour in construction firms, (4) Treven and Matjaź Mule (2007), The systemic approach to the encouragement of innovativeness through employee diversity management, (5) P¨arnaa and Nick von Tunzelmannb (2007), Innovation in the public sector: Key features influencing the development and implementation of technologically innovative public sector services in the UK, Denmark, Finland and Estonia, (6) Oke (2007), Innovation types and innovation management practices in service companies, Chieh-Yu Lin (2007), Factors affecting innovation in logistics technologies for logistics service providers in China, (7) Dobni, 2008, Measuring innovation culture in organizations The development of a generalized innovation culture construct using exploratory factor analysis,

    (8) Kim and Gee Weon Chang (2009), ”An empirical analysis of innovativeness in government: findings and Implications”,. (9) Johannessen (2009), A systemic approach to innovation: the interactive innovation model, (10) Johannessen and Bjørn Olsen (2009), Systemic knowledge processes, innovation and sustainable competitive advantages, (11) Hunmin, tt, Approaches and Means of Innovation in Korean Local Government, The Innovation Journal: (12) Xie and Li-Hua (2009), What will make China an innovation-oriented country?

    Ada perbedaan antara berfikir sistematik dengan berfikir serba sistem. Perbedaan di antara konsep tersebut, yaitu:

    Berpikir sistematik, artinya memikirkan segala sesuatu berdasarkan kerangka metode tertentu, ada urutan dan proses pengambilan keputusan. Di sini diperlukan ketaatan dan kedisiplinan terhadap proses dan metoda yang hendak dipakai. Metoda berpikir yang berbeda akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda, namun semuanya dapat dipertanggungjawabkan karena sesuai dengan proses yang diakui luas.
    Berpikir serba-sistem[1] adalah menyadari bahwa segala sesuatu berinteraksi dengan perkara lain di sekelilingnya, meskipun secara formal-prosedural mungkin tidak terkait langsung atau secara spasial berada di luar lingkungan tertentu (Iman, 2007)
    Secara sederhana Bartlett (2001) menunjukkan perbedaan ketiga konsep tersebut dalam sebuah tabel berikut ini:

    Perbedaan dalam Berpikir

    Sumber: Bartlett, 2001, Systemic Thinking: A Simple Thinking Technique for Gaining Systemic Focus, The International Conference on Thinking”Breakthroughs 2001, p 2

    Pada bagian lain Bartlett mengungkapkan:

    The basic idea in systemic thinking is to list as many different elements as you can think of, then look for similarities between them. Conventional analytical thinking is different. The basic idea in analytical thinking techniques is to list a handful of elements, compare them, rank them and then select the best one, discarding the rest. This is all very well, unless the rest secure benefits that the selected option doesn’t. (Bartlett, 2001:5)

    Dalam perkembangannya ada banyak metode dalam pendekatan berpikir sistemik[2], seperti:

    General System Theory atau Open System Theory, dikembangkan oleh Karl Ludwig von Bertalanffy (September 19, 1901, Atzgersdorf near Vienna, Austria – June 12, 1972, Buffalo, New York, USA) dalam bukunya “General Systems Theory” (1968).
    Systems Dynamics[3], dikembangkan oleh Jay Wright Forrester (born July 14, 1918, Anselmo, Nebraska). Sistem dinamis melihat dunia sebagai suatu sistem menekankan pada pemahaman struktur dan proses dalam sistem. Sistem dinamis mengasumsikan bahwa analisis situasi dapat dilakukan dari sudut pandang eksternal objektif dan bahwa struktur dan proses-proses dinamis dari “real world” dapat dibuat kembali dalam kedua sistem diagram (kasual loop) dan model matematika.
    Soft Systems Model[4]. Model ini dikembangkan untuk menutupi keterbatasan Hard Systems Model. Dalam hard system approach masalah-masalah atau sasaran-sasaran yang ingin dicapai harus terdefinisi dan terstruktur dengan baik (well-defined and structured). Dengan demikian, maka sistem yang tengah dievaluasi haruslah dibuatkan modelnya dan dicari solusi optimalnya secara kuantitatif. Hal inilah yang menjadikan keterbatasan “hard approach” dalam aplikasinya. Tiga “systems thinking methodology” yang masuk dalam kategori “Soft Systems Model”, yaitu (Gunawan, 2009)[5]: (a) Strategic Assumption Surfacing and Testing (SAST)[6]. Model ini dikembangkan oleh Richard Mason, Ian Mitroff, and Jim Emshoff, tahun 1981. SAST adalah model yang dinyatakan dengan asumsi-asumsi yang mendasari suatu kebijakan atau rencana dengan menciptakan peta (map) untuk memudahkan penjelajahannya. (b) Interactive Planning (IP). “Interactive Planning[7]” dikembangkan oleh Russell Lincoln Ackoff (12 February 1919 – 29 October 2009). Tidak seperti jenis perencanaan lain (reaktif perencanaan, perencanaan tidak aktif, dan preactive perencanaan), Interactive Planning difokuskan dalam sistem pemikiran dan “didasarkan pada keyakinan bahwa masa depan sebuah organisasi sangat tergantung setidaknya sama banyak pada apa yang dilakukan antara sekarang dan kemudian (Wikipedia.) (c) Checkland’s Soft Systems Methodology (SSM). SSM dikembangkan oleh Peter Checkland dari universitas Lancaster, Inggris[8], tahun 1981 untuk masalah-masalah yang ‘poorly-defined’ dan ‘unstructured’, meskipun dapat juga dipakai untuk memecahkan persoalan yang terdefinisi dengan baik (well-defined).
    Viable System Model. Stafford Bear memberikan makna pada viable systems model (VSM)[9], sebagai jantung dalam menganalisis sistem suatu organisasi. Viable System Model (VSM) adalah suatu model dimana suatu organisasi yang ideal pada setiap sistem yang dapat bertahan digambarkan.
    Cybernetics[10]. Model ini didasari oleh teori informasi dan pemikiran theory of Mind[11] yang dikembangkan oleh Gregory Bateson. Beberapa elemen kunci model ini
    Adapun keunggulannya berfikir serba sistem adalah bagaimana menciptakan dan membawa perubahan sistemik ke arah yang diinginkan dengan hukum-hukum yang universal. Dengan kata lain, apa tindakan/kebijakan teruji absah yang mendorong perubahan sistemik untuk menuju ke keadaan yang lebih baik pada masa datang. Selain itu, penerapan sistem dinamis telah meluas untuk menganalisis masalah ekonomi, manajemen, organisasi, politik, budaya, kependudukan, lingkungan hidup, kewilayahan, biologi, kedokteran, dan sudah tentu dalam ilmu administrasi (Sunaryono, 2006)[12]. Untuk membantu analisis sistemik tersebut, banyak sofware yang berkembang, seperti sofware Dynamo, IThink/Stella,PowerSim, Vensim, AnyLogic, Berkely Madonna, Exposé, MyStrategy, TRUE.

    Dengan mempergunakan salah satu software, maka akan memudahkan pemakai untuk membangun model, dan untuk melakukan simulasi dan berbagai uji sensitivitas model, sehingga penggunaan metodologi system dynamics sebagai salah satu cara pemodelan, menjadi lebih efisien. Adapub Metodologi system dynamics pertama kali dikembangkan oleh Jay. W. Forrester.

    [1] Lihat tulisan Boardman, John and Brian Sauser, 2008, Systems Thinking: Coping with 21st Century Problems, Taylor & Francis Group 6000 Broken Sound Parkway NW

    [2] disunting dari Systemic Method ( website: http://www.systemicmethods.com/index.htm, download 1 Januari 2010

    [3] lihat kajian lebih luas pada Ogata, Katsuhiko, 2004, Systems Dynamics, Pearson Education, Inc

    [4] Perkembangan lebih lanjut dari model ini memunculkan paradigma baru yang dikenal dengan soft system dynamics methodology, lihat Caceres and Ulloa, 2007, An application of Soft Systems Dynamics Methodology (SSDM), Journal of the Operational Research Society (2007) 58, 701–713.

    [5] Disunting dari tulisan Gunawan, 21 Pebruari 2009, Kerangka Berfikir Sistemik, download, 12 Nop 2009,

    [6] Untuk kajian lebih lanjut lihat: Pochampally, Kishore K. , Satish Nukala, Surendra M. Gupta, 2009, Strategic planning models for reverse and closed-loop supply chains, Taylor & Francis Group, LLC

    [7] Untuk kajian lebih lanjut silahkan baca tulisan Ackoff, Russell L. “A brief guide to interactive planning and idealized design.” 31 May 2001. Linkoping University. 26 October 2008.

    [8] (a) Untuk tulisan Peter Checkland dapat dilihat pada tulisannya, “Soft System Methodology: A 30-Year Retrospective”, 1999, John Wiley & Sons, Ltd, Baffins Lane, Chichester, West Sussex PO19 1UD, England;

    (b) Wilson, Brian, 2001, Soft Systems Methodology: Conceptual Model Building and its Contribution, John Wiley & Sons, Inc., 605 Third Avenue, New Y ork, NY 10158-0012, USA

    [9] Untuk kajian lebih lanjut silahkan lihat: Trevor Hilder, June 1995, The Viable System Model, © Cavendish Software Ltd. 1995, portions © Stafford Beer, Cavendish Software Ltd.

    [10] Lihat Ashby, W Ross, 1957, An Introduction to Cybernetics, Chapman & Hall Ltd 37 Essex Street WC2, London

    [11] untuk pemikiran Gregory Bateson, lihat Charlton, Noel G., 2008, Understanding Gregory Bateson : mind, beauty, and the sacred earth, the State University of New York Press, Albany

    [12] Kajian lebih luas tentang hal ini liohat Dwi Sunaryono, 2006, Sistem Dinamis sebagai penggerak deterministic dan control

    Dikutip dari sumber irwanoor@lecture.ub.ac.id