Activity

  • vanka fedia posted an update 1 week, 4 days ago

    Tugas Manajemen Pemasaran Jasa
    Vanka Fedia Syaifullah 175020900111015
    1. Perbedaan push and pull strategi penetapan harga (Pricing)
    Push Marketing
    Push Marketing adalah strategi promosi di mana bisnis berusaha untuk membawa produk mereka kepada pelanggan. Istilah push berasal dari gagasan bahwa pemasar berusaha untuk mendorong produk mereka pada konsumen. Taktik penjualan umum termasuk mencoba menjual barang dagangan secara langsung kepada pelanggan melalui ruang pamer perusahaan dan bernegosiasi dengan pengecer untuk menjual produk mereka untuk mereka, atau mengatur tampilan tempat penjualan. Seringkali, pengecer ini akan menerima insentif penjualan khusus sebagai imbalan atas peningkatan visibilitas ini.
    Bisnis sering menggunakan pemasaran push ketika meluncurkan produk baru, atau ketika mencoba menonjol di ceruk atau pasar yang ramai. Push marketing membawa produk ke konsumen, sedangkan pull marketing membawa konsumen ke produk.
    Contoh Push Marketing
    Salah satu contoh umum dari push marketing dapat dilihat di department store yang menjual garis wewangian. Merek pewangi wewangian tersebut sering kali menawarkan insentif penjualan kepada department store untuk mendorong produknya ke pelanggan. Taktik ini bisa sangat bermanfaat untuk merek baru yang tidak mapan atau untuk lini baru dalam merek tertentu yang membutuhkan promosi tambahan. Lagi pula, bagi banyak konsumen, diperkenalkan dengan aroma di toko adalah pengalaman pertama mereka dengan produk, dan mereka tidak akan tahu untuk memintanya jika mereka tidak tahu itu ada.
    Pull Marketing
    Pull Marketing mengambil pendekatan sebaliknya. Tujuan dari pull marketing adalah untuk membuat pelanggan datang, maka istilah Pull, di mana pemasar berusaha menarik pelanggan. Taktik penjualan umum yang digunakan untuk pull marketing termasuk promosi media massa, rujukan dari mulut ke mulut dan penjualan yang diiklankan. promosi. Dari perspektif bisnis, upaya pull marketing untuk menciptakan loyalitas merek dan membuat pelanggan kembali, sedangkan push marketing lebih mementingkan penjualan jangka pendek.
    Bisnis umumnya akan menggunakan pull marketing ketika pelanggan tahu apa yang dia cari atau masalah apa yang perlu dia selesaikan, tetapi perlu menarik ke arah solusi sebagai lawan dari solusi yang ditawarkan oleh pesaing.
    Contoh Pull Marketing
    Sering dapat mengenali kampanye pull Marketing dengan jumlah iklan yang digunakan. Pull Marketing membutuhkan banyak uang iklan untuk dihabiskan untuk membuat merek dan produk menjadi nama rumah tangga. Salah satu contoh termasuk pemasaran mainan anak-anak. Pada tahap pertama, perusahaan mengiklankan produk. Selanjutnya, anak-anak dan orang tua melihat iklan dan ingin membeli mainan. Dengan meningkatnya permintaan, pengecer mulai berebut berusaha untuk men-stock produk di toko mereka. Sementara itu, perusahaan telah berhasil menarik pelanggan kepada mereka.
    2. Strategi apa yang digabungkan? (dalam Joint Buz e.g Dear Me Beauty dan Nissin?
    Strategi yang digabungkan adalah Co-Branding. Co-branding merupakan strategi pemasaran yang menggunakan banyak nama merek sebagai barang atau jasa yang merupakan bagian dari aliansi strategis. Istilah ini dikenal juga sebagai kemitraan merek, co-branding (atau “cobranding”) mencakup beberapa jenis kolaborasi branding yang biasanya melibatkan merek setidaknya dua perusahaan.
    Setiap merek dalam aliansi strategis tersebut berkontribusi pada identitasnya sendiri untuk menciptakan merek yang melebur dengan dukungan logo unik, pengenal merek dan skema warna.
    Inti dari cobranding adalah untuk menggabungkan kekuatan pasar, kesadaran merek, asosiasi positif, dan kekuatan dua merek atau lebih untuk “memaksa” konsumen membayar premi yang lebih besar bagi mereka. Hal ini juga dapat membuat produk kurang rentan terhadap penyalinan oleh kompetisi label pribadi.
    Ini merupakan strategi yang berguna untuk banyak bisnis yang ingin meningkatkan basis pelanggan, profitabilitas, pangsa pasar, loyalitas pelanggan, citra merek, nilai yang dirasakan, dan penghematan biaya.
    Banyak jenis bisnis yang berbeda, seperti bisnis retail, restoran, produsen mobil, dan produsen elektronik, menggunakan co-branding untuk menciptakan sinergi berdasarkan kekuatan unik masing-masing merek. Sederhananya, ini adalah strategi untuk mendapatkan pangsa pasar, meningkatkan aliran pendapatan, dan memanfaatkan peningkatan kesadaran pelanggan.
    Strategi ini didorong oleh dua (atau lebih) pihak yang secara sadar memutuskan untuk berkolaborasi pada produk khusus. Ini juga bisa hasil dari merger atau akuisisi perusahaan sebagai cara untuk mentransfer merek yang terkait dengan produsen atau penyedia layanan terkenal ke perusahaan dan merek terkenal.
    Co-branding dapat dilihat lebih dari sekadar nama dan asosiasi merek. Terlebih juga, adanya saling berbagi teknologi dan keahlian, memanfaatkan keunggulan unik dari masing-masing rekan branding.

    Contoh Co-Branding
    Taco Bell Doritos Locos Tacos: Makanan khusus yang dikembangkan bersama oleh Yum! Brands, Inc. dan anak perusahaan PepsiCo, Frito-Lay, Inc.
    Kartu Citi AAdvantage: Kartu kredit Citi yang menghasilkan poin perjalanan menggunakan American Airlines dengan pembelian yang memenuhi syarat.
    Nike +: Kemitraan Nike Inc dan Apple Inc yang telah menghubungkan teknologi pelacakan aktivitas dalam peralatan atletik dengan aplikasi iPhone dan Apple Watch.
    Android KitKat 4.4: Google mengkaitkan nama salah satu versi Android-nya dengan nama produk KitKat yang diproduksi oleh Nestle.
    Chitato Indomie Goreng: Dua brand produk dari perusahaan berbeda, brand snack ringan Chitato dan Indomie Goreng.
    3. Jelaskan Mengenai Conceptual Framework of The Book The Caps Model of Service Quaility
    Parrasuraman et. al (Fitzsimmons,2012) mengemukakan Service Quality Gap Model yang menjadi proses pelayanan berlangsung untuk menciptakan kepuasan pelanggan.

    Service Quality Gap Model yang digambarkan diatas adalah urutan langkah- langkah yang harus diikuti dalam desain proses pelayanan yang baru. Kesenjangan- kesenjangan dalam proses ini akan dijelaskan sebagai berikut (Fitzsimmons, 2011) :
    1. Gap 1 (Customer Expectation – Management Perceptions)
    Kesenjangan pertama muncul dari kurangnya pemahaman pihak manajemen mengenai bagaimana pelanggan membentuk harapan mereka berdasarkan sumber –sumber yang tersedia, misalnya: iklan, pengalaman sebelumnya yang dialami terhadap perusahaan tersebut dan pesaingnya, kebutuhan personal, dan komunikasi dengan kerabat.
    Untuk meminimalkan kesenjangan, dalam tahap ini perusahaan harus melakukan penelitian pasar (market research) untuk memahami pelanggan secara utuh sesuai kebutuhan dan harapan mereka.
    2. Gap 2 (Management Perceptions – Service Standards)
    Kesenjangan ini ditimbulkan dari kurangnya komitmen pihak manajemen dalam memberikan kualitas pelayanan atau persepsi bahwa perusahaan tidak memungkinkan untuk memenuhi harapan pelanggan. Untuk mengatasi kesenjangan ini, penyusunan tujuan perusahaan (goal setting) dan membuat standar bagaimana pelayanan itu disampaikan (service delivery) dapat menutup kesenjangan ini. Kesenjangan ini terjadi karena penyampaian pelayanan yang terjadi tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan perusahaan (conformance gap).
    3. Gap 3 (Service Standards – Service Delivery)
    Kesenjangan dalam penyampaian pelayanan ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, beberapa diantaranya adalah kurangnya kerjasama tim, pemilihan atau seleksi karyawan yang buruk, pelatihan yang kurang memadai, dan desain pekerjaan yang tidak sesuai. Harapan pelanggan terhadap pelayanan yang akan diterimanya dibentuk oleh media iklan dan berbagai media komunikasi yang berasal dari perusahaan.
    4. Gap 4 (Service Delivery – Customer Perception)
    Perbedaan antara pelayanan yang disampaikan dan komunikasi eksternal berupa janji-janji yang berlebihan dan kurang tersedianya informasi bagi calon pelanggan akan menimbulkan kesenjangan ini. Perusahaan dinilai perlu untuk menyesuaikan informasi yang diberikan kepada calon pembeli dengan bukti pelayanan yang sesungguhnya diberikan (managing the evidence).
    5. Gap 5 (Customer Perception – Customer Expectation)
    Kesenjangan ini merupakan hal esensi akhir yang menentukan kepuasan pelanggan. Kepuasan pelanggan sangat bergantung pada minimalisasi kesenjangan pertama hingga kesenjangan keempat yang terkait dengan penyampaian pelayanan/jasa.