Activity

  • Valda Ayu Ramadhany posted an update 1 week, 4 days ago

    Nama : Valda Ayu Ramadhany
    NIM : 195120207111015
    Prodi : Ilmu Komunikasi
    Kelas : Dasar Public Relations B-2, Kamis, 07.00-09.30
    1. Jelaskan mengapa PR mesti lebih fokus pada publisitas dadripada iklan
    : Praktisi public relation adalah orang yang mengetahui bagaimana kebiasaan dan kegemaran masyarakat secara luas. Mereka mampu mendapatkan informasi apa yang masyarakat butuhkan dan apa yang masyarakat keluhkan. Selain itu, seorang praktisi public relation merupakan orang yang bertugas untuk membentuk citra dari sebuah instansi atau lembaga terkait. Pencitraan tersebut dapat ditemukan dari bagaimana barang yang diproduksi, bagaimana cara perusahaan tersebut menggaet konsumennya, bagaimana kegiatan distribusi yang dilakukan, dan lain sebagainya. Iklan merupakan salah satu media sebuah perusahaan untuk mengembangkan sayap distribusinya. Perusahaan atau instansi tersebut mengharapkan dengan adanya iklan, mereka dapat meraih keuntungan berupa pasar maupun keuntungan finansial. Tentunya iklan tak serta merta dibuat begitu saja, akan tetapi banyak sekali bumbu yang digunakan untuk menarik konsumennya. Disinilah peran seorang praktisi public relation bekerja. Bukan dibagian periklanannya, namun dibagian publisitas sebuah iklan tersebut. Publisitas merupakan penempatan yang berupa foto, artikel, tulisan, maupun tayangan visual yang berisi berita baik untuk melakukan persuasi terhadap pembaca. Sebuah informasi yang akan dibagikan oleh public relation tentunya dengan dasar teknik penulisan yang sesuai dengan kaidah jurnalistik, sehingga seorang public relation tentunya mempunyai keahlian dibidang tersebut. Lantas seorang public relation dituntut untuk membuat sebuah informasi menarik namun tetap berada dalam kaidah kebahasaan jurnalistik dan sifatnya persuasif guna menarik konsumen. Informasi yang diberikan pun tidak hanya berupa iklan secara mentah, namun diberikan bumbu untuk men ‘cover’ iklan tersebut. Sehingga audiens secara tidak langsung ter-persuasi dengan informasi tersebut. Seorang public relation mestinya lebih terfokus pada publisitas sebuah iklan, karena perannya dalam publisitas merupakan vital. Ia mampu untuk menuliskan informasi didalam iklan tersebut untuk menarik pembaca, mem-persuasi pembaca, dan menata iklan tersebut sedemikian rupa agar dapat diterima oleh masyarakat secara luas. Tak hanya diterima, akan tetapi juga tertanam di pikiran masyarakat. Sehingga sebuah iklan mampu mempersuasi masyarakat, mempunyai pangsa pasar yang luas di masyarakat, dan sebuah produk menjadi andalan masyarakat berkat adanya iklan tersebut.
    2. Iklan yang bagaimana yang mestinya dibuat PR? Jelaskan disertai contoh.
    : Iklanan adalah salah satu kegiatan di dalam kerja PR, periklanan adalah proses pembelian tempat di dalam suatu internet, radio, surat kabar, ataupun majalah yang bertujuan untuk menyampaikan informasi suatu barang kepada massa atau target publik. Kegiatan periklanan contohnya adalah iklan pos dan sales promotion. Perbedaan antara iklan dan publisitas adalah kegiatan publisitas tidak memerlukan pembelian ruang dan waktu agar bisa masuk kedalam berita dan media entertain atau sosial. Para Public Relations atau Humas biasanya menggunakan iklan di saat mereka ingin mengontrol pesan yang dikirim, seperti dimana dan kapan suatu pesan tersebut disampaikan. Sebaliknya, kegiatan publisitas dan banyak teknik kegiatan Humas atau Public Relations lebih fokus untuk merayu konsumen daripada menginformasikan fungsi produk mereka, sehingga mereka menolak pesan yang disampaikan. Adapun beberapa tipe periklanan seperti, Institutional Advertising: adalah memperkenalkan suatu organisasi atau mengumumkan indentitas baru dari suatu perusahaan pada target publik. Tujuannya adalah untuk meningkatkan reputasi perusahaan atau menarik simpati masyarakat melalui perusahaan didalam kegiatan masyarakat. Contohnya aplikasi Ruang Guru sebagai aplikasi belajar yang berusaha merubah citra institusinya menjadi lebih baik melalui adanya fitur belajar online via LINE. Financial Advertising: adalah yang digunakan oleh perusahaan besar untuk menunjukkan perkembangan baru kondisi keuangan perusahaan tersebut pada masyarakat. Contohnya pihak penjual saham yang setiap saat mengumumkan pada rakyat, saat saham baru ditawarkan oleh perusahaan kepada investor. Tujuan dari financial advertising yaitu untuk menumbuhkan kondisi beli dan jual oleh pemegang saham. Political Advertising: adalah iklan yang digunakan untuk kegiatan politik, contohnya adalah pada kampanye Pak Jokowi lebih banyak dukungan dari PDI. Public Relations dan iklan adalah dua jenis komunikasi yang berbeda. Iklan adalah komunikasi yang tida bersifat personal dan Public Relations adalah komunikasi yang bersifat personal dan langsung. Dengan adanya perbedaan ini, keduanya saling melengkapi. Iklan sudah mencakup informasi yang luas berdasarkan media yang mempublikasikannya. Tetapi terkadang iklan dapat membuat persepsi yang berbeda antar individu. Maka disinilah peran Public Relations dibutuhkan, yaitu menyebarluaskan informasi yang tepat serta menjaga hubungan yang baik dan menjaga kepercayaan masyarakat.
    3. Prinsip utama PR adalah tell the truth. Jelaskan disertai contoh kaitan prinsip ini dengan prinsip lainnya bahwa PR based on fact
    :Arthur W. Page menyebutkan sejumlah prinsip yang dapat digunakan dalam praktek dan sebagai filosofis PR dalam menjaga hubungan lembaga dengan publiknya.
    Dengan menerapkan Tell the Truth. Yaitu membiarkan publik tahu apa yang terjadi dan sediakan gambar yang akurat dari karakter ideal dan praktek lembaga. Segala kejadian maupun peritiwa yang terjadi di dalam lembaga pemerintahan, merupakan obyek perhatian publik. Mengapa? Karena lembaga pemerintahan merupakan lembaga yang berkedudukan di ruang publik. Artinya, setiap kegiatan maupun pekerjaan yang dilakukan, dilakukan atas nama publik dan demi kepentingan publik. Oleh sebab itu, publik memiliki hak tersendiri untuk mendapatkan informasi sedalam-dalamnya terkait dengan lembaga. Kemudian public relations berkembang dalam konteks organisasi. Ivy Leedbetter mengenalkan prinsip pemberian informasi “tell the truth” untuk mengatasi krisis yang menimpa perusahaan kerata api di Pensylvania, Amerika Serikat di awal abad ke-20. Prinsip ini mengacu tulisan cutlip(1994), Lee ialah praktisi pertama yang diposisikan di level manajemen. Saat itu Lee fokus pada kebijakan manajemen.yaitu “good policy make good public relations” yang artinya aktivitas public relations merupakan aktivitas yang melibatkan pengekspresian ide atau kebijakan organisasi (Lamme 6; Russell, 2010). Pengekspresian ini mengandung arti bahwa kebijakan organisasi perlu didasari saran atau informasi dari praktisi piitslic relations terkait kepentingan publik, kemudian publik harus diberi tahu proses pengambilan kebljakan termasuk apa saja isu yang terkait kepentingan mereka, yang menjadi daar bagi Grunlg & Hunt (1984) memunculkan model public information. Gagasan Lee ini diaanggal sebagai awal public relations modern (Grunlg& Hunt, 1984),dan Lee sendiri disebut sebagai father of public relations.
    Prinsip Public relations is based on fact memiliki arti bahwa public relations harus berdasarkan atau sesuai dengan fakta, oleh karena itu seorang praktisi public relations harus menyampaikan informasi sesuai fakta dan keadaan sebenarnya atau secara jujur sesuai dengan prinsip “Tell the truth”. Seorang praktisi harus berkata jujur sesuai dengan fakta yang telah diperolehnya melalui riset-riset tertentu. Meski begitu bukan berarti seorang praktisi public relations harus memaparkan semua fakta yang ada secara keseluruhan. Sebaliknya seornag praktisi harus mampu menjaga hal-hal negatif agar tidak diketahui publik sekaligus menyelesaikan hal tersebut. Serta seorang praktisi public relations juga diwajibkan untuk dapat menyebarkan peristiwa atau hal-hal positif terkait organisasi atau brand pada publik. Jika hal-hal negatif terlanjur diketahui lublik, seorang praktisi tidak boleh menutupi hal tersebut, praktisi seharusnya menyampaikan informasi terkait hal tersebut.
    Dengan tersampaikannya informasi kepada publik, diharapkan publik menjadi tahu pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan lembaga, sehingga kemudian dapat sampai pada tahap mendukung kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh lembaga tersebut.
    4. PR harus mampu menuis berita. Jelaskan prinsip menulis berita berdasarkan prinsip objektivias secara lengkap disertai contoh
    : Public Relations harus mampu menulis berita. Ada dua prinsip objektivitas berita yaitu :
    1. Faktualitas, berarti berita harus berdasarkan fakta bukan karangan atau opini wartawan. Fakta dalam berita harus dapat dikonfirmasi ulang atau dicek dengan sumber berita. Tidak mencampuradukkan antara fakta dengan opini pribadi wartawan. Fakta adalah hasil pengamatan sebenarnya dari hasil wawancara si wartawan. Sedangkan opini adalah pendapat pribadi yang berisi nilai-nilai pribadi wartawan. Sementara faktual di sini adalah sifat relevansi dan informatif. Relevansi berarti bahwa media harus mempertimbangkan dampak berita bagi publik. Materi berita sangat penting dan dibutuhkan oleh pembaca karena berita dituntut didalamnya berisi informasi yang jelas dan lengkap terkait suatu peristiwa yang sedang diberitakan. Berita juga diharapkan tidak membuat pembaca bingung dan tidak mengetahui maksut yang disampaikan. Agar berita tersebut informative, berita harus komperhensif tetapi tetap fokus (tidak bertele-tele), ringkas (concise), jelas (clarity), mengandung 5W+1H, dan mudah dipahami.
    2. Imparsialitas, berita tidak boleh memihak pada golongan tertentu dan tidak boleh sepotong-potong dalam memberitakan suatu peristiwa. Ada dua ciri berita yang imparsial, yaitu (1) Berita mesti netral dan tidak sepotong-sepotong. Netral dimaksudkan untuk tidak memihak salah satu pihak dengan memberikan opini-opini pribadi wartawan ditulis berdasarkan konteks peristiwa secara keseluruhan dan tidak dipotong-potong oleh kecenderungan subjektif. Kenetralan ini dapat dilihat dari pilihan kata atau kalimat maupun pilihan sudut pandang (angle) pemberitaan.
    (2) Berita mesti seimbang dalam pemberitaannya (balance), yaitu dengan memberikan proporsi yang seimbang antara berbagai pihak yang diberitakan (cover both sides). Berita harus menceritakan apa sesungguhnya yang terjadi. Jika sumber berita X lebih banyak diberitakan daripada sumber berita Y maka berita itu tidak seimbang; Jika pihak A diberi porsi liputan lebih.
    5. Agar publisitas sukses perlu win the editior’s heart melalui media relations. Jelaskan strategi media relations
    : 1) Memahami Karakterstik Media
    Memahami karakterstik media merupakan menjadi dasar acuan bagaimana membangun komunikasi, bagaimana harus bertindak efektif untuk berbias pada terbangunnya hubungan yang baik. Banyak hal mengenai media yang harus diketahui Public relations. Hal tersebut dianalogikan dengan istilah “ketahuilah dengan siapa anda berbicara”;”ketahuilah untuk siapa anda menulis” sehingga kita bisa memiliki dasar pijakan untuk bertindak kedepannya.
    Kriyantono (2008) menjelaskan karakterstik media yang perlu kita pahami mencakup :
    a. Karasteristik jenis media
    Jenis media antara media cetak dan media elektronik memengaruhi pola pikir wartawan, penulisan, dan sebagainya. Penulisan media koran (media cetak) akan berbeda dengan media televisi atau radio (media elektronik). Penulisan informasi untuk media cetak akan sangat diburu waktu, karena mereka dikejar deadline, sehingga diperlukan informasi secepatnya.
    b. Kebijakan redaksional
    Kebijakan redaksional berarti kebiasaan dan aturan yang dilakukan redaksional. Banyak hal mengenai kebijakan redaksional yang perlu dimengerti public relations untuk bisa menyesuaikan dengan apa yang dicari media, sehingga komunikasi efektif dan hubungan yang baik terbangun. Hal tersebut menyangkut aturan penulisan berita dan deadline.
    c. Sitem Distribusi
    Hal ini berkaitan dengan wilayah edar media masa, dan juga mencakup segmentasi khalayak mulai dari gaya hidup, pekerjaan, tingkat ekonomi, jenis pendidikan, tiap media massa berbeda-beda, serta juga frekuensi penerbitan apakah harian, mingguan, bulanan.
    d. Karakteristik wartawan
    Karena setiap hari public relations bertemu wartawan, penting untuk mengerti dan memahami karena karakteristik masing-masing wartawan berbeda-beda. Wartawan memiliki ciri yang kritis dan ingin tahunya tinggi, karena mereka tidak akan puas dengan informasi yang ia dapat dari narasumber dan mencari informasi lain sehingga berita yang disampaikan dirasa cukup tingkat kredibilitasnya. Wartawan juga senang membuat berita yang komprehensif, yakni berita yang ditulis secara lengkap dan dari berbagai sudut pandang, karena wartawan memiliki keinginan memuaskan khalayak sehingga akan menciptakan kepuasan tersendiri di dalam dirinya. Selanjutnya, wartawan senang membuat berita eksklusif, yaitu lain dari pada yang lain. Public relations harus menghargai dan memahami usaha seperti itu untuk mendapat berita eksklusif. Wartawan juga bersifat nonprotokoler yang berarti mereka tidak terlalu bisa dengan hal yang formal dan mengikat, seperti aturan baju, jam bertemu dan lain sebagainya. Karena itu public relations harus siap setiap saat dalam melayani mereka, dan menyiapkan berita, dan jangan membuat mereka menunggu berita karena ada berita lain yang mereka kejar. Dan yang terakhir, wartawan secara emosional cenderung membela mereka yang “tertindas” dan akan mengekspose sebagai posisi orang-orang yang tertindas.
    2) Memahami Kebutuhan Media
    Memahami kebutuhan media berarti public relations menghargai profesi media. Public relations perlu menerapkan hal ini, karena jika mereka sudah memahami, mereka akan mengerti apa yang dibutuhkan media, mereka akan bekerja sesuai yang dibuthkan media, sehingga media dalam menerima setiap informasi dari public relations akan merasa diperhatikan dan terpenuhi, pada akhirnya akan terjalin relasi emosional yang menunjang tugas public relaions dalam membangun citra melalui media. Kiyantono (2008) menjelaskan ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memahami kebutuhan media, diantaranya :
    1. Selalu Menyampaikan informasi secara jujur
    Hal ini dimangsudkan sebegai salah satu cara meraih kredibilitas, yakni berbicara dengan jujur dan apa adanya.
    2. Penuhi janji anda
    Jika anda berjanji untuk memberikan informasi, penuhi janji anda sebelum ditagih. Jika anda bohong media tidak akan percaya lagi, dan memilih pihak lain sebagai sumber informasi
    3. Jangan sampai memberikan pernyataan “no comment”
    Jangan katakan ”no comment” karena apa gunanya public relations jika hanya memberikan jawaban seperti itu? Karena pada dasarnya public relations adalah pintu informasi.
    4. Mencerdaskan pers
    Ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas wartawan dengan hal seperti mengadakan pelatihan jurnalistik dan lain sebagainya.
    5. Melayani pekerjaan media
    Public relation bisa dianggap partner dalam mendapat sumber infromasi bagi media. Public relations perlu untuk inisiatif menghubungi media apakah sedang membutuhkan infromasi atau tidak, jangan hanya sekedar menunggu untuk dihubungi. Bisa juga dengan memberi informasi secara berkala kepada media. Informasi harus bernilai berita dan mampu bersaing dengan informasi lain yang masuk ke meja editor. Selain itu mereka juga perlu siap sedia 24 jam atas informasi yang diperlukan media jika sewaktu-waktu media memerlukan.
    6. Bersikap profesional dalam menghargai profesi masing-masing
    Public relations harus menyadari tugas, kewajiban, dan etika profesi public relations dan wartawan. Public relations harus menghormati wewenang media dalam pemuatan informasi, jangan merayu terlebih memberi “amplop” untuk dimuat, ini sama saja melecehkan profesi wartawan. Jika memang baik pasti akan dimuat. Jangan juga meminta media untuk memberitakan atau tidak memberitakan sesuatu, jika ada kejadian yang kurang sesuai yang berpotensi diberitakan media, tugas public relations lah yang mencegah atau menghandle apa yang terjadi, serta memberikan informasi yang benar mengenai apa yang terjadi. Jangan juga mengeluh bahkan mengecam pada media. Jangan mencampur adukan tugas marketing dengan jurnalis.
    7. Jalin komunikasi terus menerus
    Hal ini untuk menghindari tersumbatnya saluran komunikasi antara public relations dengan media. Public relations perlu sadar hubungan diantara keduanya merupakan prinsip simbiosis mutualisme yang berarti saling membutuhkan satu sama lain. Jangan hanya menghubungi media saat ada butuhnya saja. Komunikasi terus menerus terjalin jika komunikasi personal diantara keduanya akrab, dan menciptakan situasi agar media cukup mengenal dan dekat dengan perusahaan. Hubungan yang harmonis akan terjalin bila kedua memiliki keinginan untuk bekerja sama menunjang profesi masing-masing.
    Daftar Pustaka
    Kriyantono, Rachmat. 2016. Buku Public Relations Writing. Jakarta: Prenada
    Public Relations: The profession & the practice, 2010 Lattimore, dkk, Wadworth
    Public Relations, 2011, Cutlip, Center, & Broom, Prentice Hall (diterjemahkan oleh Prenada Jakarta).