Activity

  • sulafahfathin.blog posted an update 3 months, 3 weeks ago

    Pengertian Barang dan Jasa

    Apa sih yang di maksud dengan barang? Barang merupakan suatu produk yang sifatnya terlihat atau memiliki fisik atau berwujud sehingga dapat di berikan pada si pembeli, dapat di pindah tangankan antara si penjual dengan pembeli. Sedangkan ciri-ciri dari barang sendiri ialah berwujud, bermanfaat dan bernilai. Sehingga untuk manfaat dari barang ini dapat dirasakan secara langsung saat di gunakan. Jika digunakan maka benda, manfaat serta nilainya dapat berkurang bahkan bisa habis. Barang dalam hal ini bisa di dapatkan baik secara bebas ataupun secara ekonomi, sehingga menjadikan barang tersebut kedalam kategori jenis barang ekonomi dan barang bebas. Dengan kata lain barang ekonomi merupakan suatu barang yang bisa di dapatkan dari hasil pengorbanan, berupa minuman maupun makanan bagi yang membutuhkan uang ketika akan membelinya. Sedangkan untuk barang bebas sendiri adalah barang yang bisa di dapatkan tanpa perlu pengorbanan di antaranya seperti udara dan cahaya matahari.
    sedangkan barang jika di lihat dari kegunaannya dapat di kategorikan sebagai barang konsumsi dan juga barang produksi. Yang dimaksud dengan barang konsumsi ialah suatu barang yang dapat langsung digunakan dan dikonsumsi si pembeli misalnya pakaian jadi. Barang produksi adalah barang yang sifatnya masih baru, dimana akan di gunakan pada saat setelah melewati berbagai proses produksi selanjutnya, misalnya kain untuk pakaian. Disisi lain, jasa dapat di artikan sebagai aktivitas atau pekerjaan jasa yang di tawarkan oleh suatu pihak tertentu ke pihak lainnya berdasarkan prinsip intangibel. Sifat lain dari jasa adalah tidak menjadikannya perpindahan atas kepemilikan apapun. Untuk hasil produksinya sendiri bisa tidak terikat baik itu berupa produk fisik ataupun bisa terikat dalam produk non fisik.

    Perbedaan Barang dan Jasa

    1. Tentunya barang dapat di sentuh, di pegang, raba karena ada wujudnya, hal ini sangat berbeda dengan jasa yang tidak memiliki fisik dan tentunya tidak bisa di pegang. Maka ketika sebuah pabrik pakaian menemukan cacat pada produknya, maka dengan mudah akan mengamati dari rusaknya baju tersebut dan akan menemukan langsung pemecahan masalahnya. Sedangkan pada jasa, saat seorang pelanggan mengkomplain ke salah satu karyawan salon, maka pihak manajemen salon tersebut tidak bisa langsung menemukan apa yang menjadi penyebab masalah dari pelanggan. Sehingga di perlukan pengamatan terlebih dahulu apa yang menjadi masalah ketika karyawan salon malayani pelanggan tersebut.
    2. Jasa lebih banyak memudahkan interaksi baik pada pihak penyedia jasa dengan pihak customer atau pelanggannya. Sangat berbeda dengan barang, misalnya saat akan membeli pakaian atau makanan maka kita tidak akan tahu siapa yang membuat makanan dan pakaian tersebut secara langsung.
    3. Secara tidak langsung, jasa lebih mengutamakan adanya keterlibatan antara pelanggan pada produksi jasa tersebut. Misalnya saja jasa potong rambut, maka menjadikan si pelanggan untuk terlibat langsung dalam proses pemotongan rambut tersebut. Berbeda halnya ketika akan membeli sebuah produk elektronik, maka kita hanya cukup membeli dari internet sehingga tidak perlu harus terlibat secara langsung pada proses produksi alat elektronik tersebut.

    Tipologi Barang dan Jasa

    Savas (2000) mengklasifikasi lebih rinci barang dan jasa karena berkaitan dengan hakikat dari barang dan jasa tersebut menentukan kondisi yang dibutuhkan dalam penyediaannya.

    a. Barang Publik ( public/ Collective goods) adalah barang yang apabila di konsumsi oleh individu tertentu tidak akan mengurangi konsumsi orang lain akan barang tersebut.
    Barang publik apabila dikonsumsi oleh individu tidak akan habis untuk individu lainnya, barang publik yang disediakan pemerintah merupakan barang milik pemerintah yang dibiayai melalui anggaran belanja negara.
    Ciri-ciri barang publik yaitu pada pengunaannya/pemanfaatannya tanpa saingan (non-rivalry in consumption), tanpa pengorbanan untuk mendapatkannya (non-excludable in consumption).
    1) Non-rivalry. Non-rivalry dalam penggunaan barang publik berarti bahwa penggunaan satu konsumen terhadap suatu barang tidak akan mengurangi kesempatan konsumen lain untuk juga mengkonsumsi barang tersebut. Setiap orang dapat mengambil manfaat dari barang tersebut tanpa mempengaruhi menfaat yang diperoleh orang lain. Sebagai contoh, dalam kondisi normal, apabila kita menikmati udara bersih dan sinar matahari, orang-orang di sekitar kita pun tetap dapat mengambil manfaat yang sama, atau apabila kita sedang mendengar adzan dari sebuah mesjid misalnya, tidak akan mengurangi kesempatan orang lain untuk ikut mendengarnya.
    2) Non-excludable. Sifat non-excludable barang publik ini berarti bahwa apabila suatu barang publik tersedia, tidak ada yang dapat menghalangi siapapun untuk memperoleh manfaat dari barang tersebut atau dengan kata lain, setiap orang memiliki akses ke barang tersebut. Dalam konteks pasar, maka baik mereka yang membayar maupun tidak membayar dapat menikmati barang tersebut. Sebagai contoh, masyarakat membayar pajak yang kemudian diantaranya digunakan untuk membiayai penyelenggaraan jasa kepolisian misalnya, akan tetapi yang kemudian dapat menggunakan jasa kepolisian tersebut tidak hanya terbatas pada yang membayar pajak saja. Mereka yang tidak membayar pun dapat mengambil menfaat atas jasa tersebut. Singkatnya, tidak ada yang dapat dikecualikan (excludable) dalam mengambil manfaat atas barang publik.
    Terdapat lima jenis barang publik yang dibagi menurut karakteristik barang dan jasa, yaitu:
    • Barang publik murni (disediakan pemerintah dan swasta yang harus melakukan dan mengatur distribusi barang tersebut): barang yang dari aspek penggunaanya non rivalry yaitu tidak ada persaingan dan non exclusive yaitu tidak ada pengorbanan untuk mendapatkannya. Misalnya : pertahanan, peradilan, dan perlindungan.
    • Barang semi publik (disediakan oleh pemerintah maupun swasta): barang yang dari aspek penggunaanya non rivalry tetapi biaya namun ketika konsumen mengkonsumsi secara berlebihan maka akan timbul kebosanan, misalnya : laut, padang gembala taman, klub olah raga.
    • Barang publik semi privat (disediakan oleh pemerintah maupun swasta): barang yang penggunaannya bersifat rivalry, tetapi pemanfataan tidak bersifat exlusive. Misalnya : rumah sakit, pemancar radio, rumah sakit swasta, sekolah swasta, dan siaran televisi khusus.
    • Barang privat (disediakan oleh swasta murni): bersifat rivalry yaitu adanya persaingan penggunaan (konsumsi) dan exlusive yaitu adanya pengorbanan untuk mendapatkannya. Misalnya : mobil, pakaian, kesehatan untuk orang miskin.
    • Barang merit (sebenarnya negara berkewajiban untuk memenuhinya): komoditi atau jasa yang menjadi kebutuhan individu atau masyarakat tanpa berkaitan dengan kemampuan untuk membayar ataupun kemauan untuk membayar. Misalnya : tempat tinggal untuk orang miskin, pendidikan dan kesehatan.

    b. Barang Privat

    (Private/ individual Goods) adalah barang-barang yang memiliki sifat berkebalikan dengan barang publik. Barang privat secara tipikal adalah barang yang diperoleh melalui mekanisme pasar, dimana titik temu antara produsen dan konsumen adalah mekanisme harga. Oleh karena itu, kepemilikan barang privat biasanya dapat teridentifikasi dengan baik. Sebagian besar barang yang kita konsumsi adalah barang privat, yaitu barang yang hanya dapat digunakan oleh satu konsumen pada satu waktu. Misalnya, ketika seseorang sedang memakan kue miliknya, orang lain tidak dapat melakukan hal serupa. Eksklusivitas kepemilikan menjadi faktor pembeda utama barang privat dengan barang publik.
    Sifat-sifat utama barang privat tentunya berkebalikan sama sekali dengan barang publik. Sifat-sifat barang privat tersebut adalah :
    1) Rivalrous consumption, dimana konsumsi oleh satu konsumen akan mengurangi atau menghilangkan kesempatan pihak lain untuk melakukan hal serupa. Terjadi rivalitas antar calon konsumen dalam mengkonsumsi barang ini.
    2) Excludable consumption, dimana konsumsi suatu barang dapat dibatasi hanya pada mereka yang memenuhi persyaratan tertentu (biasanya harga), dan mereka yang tidak membayar atau tidak memenuhi syarat dapat dikecualikan dari akses untuk mendapatkan barang tersebut (excludable). Contohnya, pakaian di toko hanya dapat dinikmati oleh mereka yang membeli atau membayar, sementara mereka yang tidak membayar tidak dapat menikmati pakaian tersebut.
    3) Scarcity/ depletability/ finite, yaitu kelangkaan atau keterbatasan dalam jumlah. Kelangkaan dan ketersediaan dalam jumlah yang diskrit atau terbatas inilah yang menimbulkan kedua sifat sebelumnya.

    c. Common Pool Goods
    adalah barang yang digunakan dan dimiliki umum. Common pool goods memiliki persoalan dalam penyediaannya. Dengan tiada keharusan membayar dan dengan tiadanya cara untuk mencegah konsumsinya, barang-barang ini akan dikonsumsi, bahkan dihabiskan sepuas-puasnya, sepanjang biaya pengumpulan, pemungutan, pemerasan, atau cara lainnya dalam memiliki barang-barang bebas tersebut tidak melampaui nilai barang tersebut bagi konsumen. Tidak ada produsen yang rasional akan menghasilkan barang tersebut, dan ia hanya ada melalui pemnfaatan manusia atau alam. Mekanisme pasar tidak dapat menyediakan barang ini. Satu-satunya jalan untuk menyediakan sumber daya alam ini adalah melalui tindakan kolektif. Penyelamatan hewan langka misalnya jelas membutuhkan tindakan kolektif daripada menyerahkannya pada pasar.

    d. Tolls Goods
    adalah barang yang digunakan bersama-sama dengan membayar biaya penggunaan. Toll goods dapat disediakan oleh pasar seperti halnya individual goods. Karena eksklusi dapat dilakukan, maka pengguna harus membayar barang dan jasa yang disediakan oleh supplier. Individu dan organisasi dapat membeli atau tidak toll goods tersebut, seperti tempat rekreasi dan perpustakaan. Meski demikian, toll goods membutuhkan tindakan kolektif terhadap masalah yang dapat ditimbulkan. Hal ini berkaitan dengan monopoli sumber daya alam, yang menghasilkan biaya per pengguna. Hasil yang paling ekonomis tentu bila ada penyedia tunggal saja, seperti televisi kabel, jaringan komunikasi, tenaga listrik, distribusi gas, penyediaan air. Tindakan kolektif seringkali diambil dengan menciptakan monopoli ini untuk selanjutnya meregulasinya sehingga pemilik tidak mengeksploitasi hak istimewa monopolinya. Sebagian kalangan justru menentang regulasi atas monopoli ini dengan alasan ada persaingan dari barang dan jasa lain serta ada persaingan dalam kompetisi penawaran. Kereta api misalnya berkompetisi dengan pesawat terbang, bis, truk, dan kapal. Namun, tindakan kolektif tetap dibutuhkan ketika para penyedia ini beroperasi di pasar.

    daftar pustaka
    http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/10/19/barang-dan-jasa-496887.html