Activity

  • Novita Ulfianti Diniah posted an update 1 week, 1 day ago

    Quartet Squad : Kita Juga Bisa !
    Hal itu terjadi lagi. Cengkraman lilitan air yang begitu dahsyat terasa membasahi seluruh ragaku. Jeritan permintaan tolong terngiang begitu keras dalam telinga dan pikiranku. Seolah-olah mereka semua menjadi bunga tidurku. Sampai akhirnya aku terbangun dari mimpi gila itu sembari menarik nafas yang tersengal-sengal. Sudah sejak beberapa tahun terakhir ini, aku mengalami gangguan tidur semacam itu. Berbagai upaya telah kutempuh demi mendapatkan jawaban atas apa yang aku alami. Mulai dari memeriksakan diri ke dokter dan pergi ke psikiater. Namun, rasanya jawaban yang diberikan tak mampu mengatasi masalah yang kupertanyakan. Sampai akhirnya aku berfikir bahwa memang ada sesuatu yang salah dengan diriku atau mentalku. Entahlah. Aku terus memendam masalah ini sendiri dan tidak kuceritakan pada siapapun. Kututup rahasia ini erat-erat dengan cara tetap menjadi diriku yang apa adanya. Menjadi aku, Aisyah. Mahasiswi kelas menengah di Universitas Indonesia.
    “Aisyah, aku mendapatkan kabar bahwa proposalmu ditolak oleh pak dekan.” Kata Firman, temanku di organisasi kampus. Serentak jiwaku langsung memberontak, “Apa? Kenapa bisa begitu? Tujuan dari programku ini kan sangat jelas, yaitu untuk memfasilitasi para mahasiswi muslimah yang ingin menyampaikan aspirasinya demi kemajuan kampus ini dan negara ini.” Begitu banyak pertanyaan yang menari-nari di kepalaku. Mengapa proposal kegiatanku ditolak. Dengan penuh rasa penasaran dibenakku, aku melangkah menuju ruang dekan sendirian. Namun ditengah-tengah perjalanan, tepatnya ketika aku sedang berada di lift, tiba-tiba tanganku terasa sangat dingin. Saat kulihat, kedua tanganku telah membeku. Sontak hal itu membuatku sangat terkejut bukan kepalang. Lalu, tiba-tiba tubuhku terasa terseret angin topan yang sangat kencang membuat kepala dan jiwaku terguncang. Dalam sekejap aku berada di sebuah ruangan gelap, sepertinya di bawah gua yang hanya diterangi oleh lentera samar-samar. Ada apa ini?
    Kulihat dari ujung kegelapan, tampak seorang pria usia matang berpawakan gagah yang mengenakan setelan jas formal mengarahkan lempengan besi tipis berdiameter kurang lebih satu meter ke arahku. Kemudian, seketika badanku terangkat dan terbang bersama lempengan itu. Tibalah aku di sebuah ruangan, yang menurutku itu adalah sebuah markas rahasia, dimana ada berbagai peralatan canggih futuristik yang sebelumnya belum pernah kulihat bahkan kubayangkan. “Welcome in your new world as the Quartet Squad ” sambut pria itu sembari memperkenalkan dirinya sebagai pemimpin Quartet Squad bernama David. Kebingungan, keheranan, dan banyak pertanyaan muncul dan menghiasi pikiranku, apa yang terjadi? apa ini bagian dari mimpi gilaku lagi? Mataku terbelalak dan terfokus pada lambang besar di ruangan itu yang membentuk huruf QS dan di bawahnya tergantung empat benda, semacam gelang, yang memicuku untuk berfikir bahwa gelang itu diperuntukkan bagi anggota QS yang memang berjumlah empat. Semua teka-teki itu terjawab saat aku memandang sekelilingku bahwa ternyata bukan hanya aku yang menjadi lawan bicara David, tetapi juga tiga orang lainnya, dua laki-laki dan seorang perempuan. Semuanya menjadi semakin jelas ketika David mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku dan tiga orang lain disampingku adalah Quartet Squad, agen rahasia dibawah perintah pemerintah ASEAN. Yang memiliki kemampuan super diatas rata-rata manusia normal yakni kemampuan mengendalikan elemen-elemen dasar alam. Api, Tanah, Udara, dan Air. Ketika kata yang terakhir terucap, tiba-tiba aku teringat dengan semua mimpi anehku dimana tubuhku terasa dililit air, suara-suara jeritan yang merasuki seluruh jiwaku, dan tanganku yang tiba-tiba membeku. Akulah pengemban amanah untuk mengendalikan air itu. Ya, itulah jawaban atas masalahku selama ini. Namun, kurasa itu bukanlah masalah seperti halnya masalah pada umunya, karena masalah yang satu ini kusebut sebagai sebuah anugerah. Kekuatan lebih dari Sang penguasa alam yang harus diperuntukkan bagi jalan kebenaran. Jalan untuk menumpas musuh-musuh negara ASEAN yakni Destroyer yang dipimpin Jadala.
    Sejarah penjajahan masa lalu ternyata belum usai. Negara-negara adidaya di benua kaya itu masih belum cukup puas menjajah orang-orang Asia, khususnya Asia Tenggara. Mereka masih saja berusaha untuk menguasai bumi yang makmur ini. Tentu bukan lewat gencatan senjata terbuka. Seiring kemodernan zaman, maka modern juga cara menjajahnya. Diam-diam, agen kejahatan rahasia bernama Destroyers menciptakan robot-robot pengahancur yang dirancang khusus menyerupai manusia. Sekali lagi, aku sendiri belum pernah melihat bahkan membayangkan bagaimana bentuk Destroyers itu. Dan tugas utama Quartet Squad adalah melindungi kedamaian bumi Asia Tenggara dari intervensi Destroyers. Masalah sebesar ini tidak boleh sampai keluar ke ranah publik apalagi sampai membuat takut semua penduduk di Asia Tenggara. Namanya saja agen rahasia, tentulah tugas Quartet Squad juga menyelesaikan masalah yang bersifat rahasia.
    Ya, sesuai dengan namanya, Quartet berarti empat. Empat kekuatan alam yang bersatu membentuk kekuatan yang sangat dahsyat. Air memang selalu membutuhkan elemen lain untuk memadamkan, disebut api. Untuk memadatkan, disebut tanah. Dan akan terurai dengan bantuan udara. Steve, adalah orang yang akan selalu aku padamkan, pengendali api yang terlihat selalu hangat. Dia datang dari negeri pancuran singa putih. Tanah yang mampu mengeruhkan atau memadatkan air dikuasai oleh laki-laki dari negeri jiran, Victor. Sedangkan teman air dikala hujan, si pengendali udara, Lea. Satu-satunya teman wanitaku di Quartet Squad. Kami semua sama, kami pemuda-pemudi biasa yang terkejut dengan kehebatan super yang ternyata kami miliki. Pada awalnya, dibenak kami terlintas satu pertanyaan yang sama, yaitu bagaimana cara menggunakan anugerah kekuatan ini untuk mengalahkan musuh seperti Destroyers? David lah jawabannya, dia pemimpin misi rahasia Quartet Squad ini sekaligus menjadi pembimbing dan pelatih kami.
    Kini hari-hariku selalu dihiasi dengan semangat baru, semangat untuk terus berlatih menyempurnakan kekuatanku. Ketika matahari telah berpamit untuk tidur, saat itulah yang paling membuatku bahagia. Aku melarikan diri dari rutinitas dunia nyata dan terbang melayang bebas untuk jatuh ke dalam lautan lepas, melatih kekuatan pengendalian airku. Inilah jati diriku yang sesungguhnya. Hijab dan air. Tidak ada halangan bagiku untuk terus berjuang melawan Destroyers. Percikan-percikan air yang melayang-layang diudara, ombak-ombak yang kuatur sedemikian rupa, gelayut-gelayut bekuan es yang meruncing-runcing menjadi hidupku mulai hari ini dan seterusnya. Senada dengan apa yang aku lakukan, semua anggota Quartet Squad juga penuh tekad dan perjuangan mengembangkan kekuatan yang telah dianugerahkan pencipta bumi.
    Lea seorang model cantik, Victor si ahli teknologi dan juga Steve yang cerdas terlihat begitu dekat dan akrab. “Apa mungkin karena mereka sama-sama penutur bahasa Inggris?”, gumamku dalam hati. Mereka bisa tertawa terbahak-bahak bersama ataupun sedih bersama. Tampaknya, hal itu sedikit sulit bagiku. Pintu pertemanan yang kuharapkan bisa terbuka luas ternyata terhalang oleh penutup kepala yang kukenakan. Dalam anggapanku, agaknya mereka merasa sedikit takut akan berita-berita mengenai terorisme yang santer terdengar beberapa tahun terakhir. Meski tidak kentara dengan jelas, namun aku bisa merasakan kerenggangan yang ada diantara kami. Ada perasaan terpinggirkan yang kurasakan. Mereka baik, sangat baik, namun tidak bisa sebaik teman baik. Di suatu sisi, sepertinya hal itu tidak terlalu berlaku bagi Steve, satu-satunya teman Quartet Squad yang bisa dekat denganku. Yang bisa lebih terbuka dan toleran ketimbang yang lain. Nyaman ketika bersamanya. Jantung dan hatiku bergusar beberapa kali saat Steve dan kebaikannya itu muncul. Dari matanya yang biru, terlihat begitu sejuk untuk ukuran seorang pengendali api.
    “Aisyah…don’t move !”, teriak Lea padaku saat kudapati pecahan-pecahan batu yang dikendalikan oleh Victor telah menghantam semua tubuhku. Agak sedikit sakit. Konsentrasiku sempat hilang, karena lamunanku tentang masalah itu. Steve berlari kencang menghampiriku dengan tenaga nuklir super panas. “Are you ok?”, tanyanya dengan hangat, namun sedikit terasa panas untuk ukuran seorang pengendali air. Belum selesai aku menjawab pertanyaan Steve, Victor datang dan memojokkanku. Wanita dengan hijab seharusnya tak pernah mendapatkan anugerah sebesar ini. Kau pengendali air yang buruk. Jangan-jangan kau akan menggunakan kekuatanmu ini untuk meledakkan gedung atau membuat bom bunuh diri terbungkus air?. Sudutan-sudutan itu terus datang bertubi-tubi. Sedangkan Lea, mencoba menenangkan Victor dan diriku. Latihan di minggu pagi itu terpaksa harus dihentikan karena insiden ini.
    Pergaulan kami sebagai Quartet Squad memang tidak sehat. Semua kecurigaanku benar. Ada perasaan ragu dan meremehkan dalam tim ini. Bahkan tak hanya mereka, seolah alam juga memberi tanda bahwa memang kekuatan pengendali air ini salah alamat. Seharusnya bukan untukku. Dari forum kajian muslimah yang diadakan setiap jumat siang di kampusku, menyatakan bahwa wanita calon penghuni surga yang bisa masuk kedalamnya lewat pintu mana saja adalah wanita yang solat lima waktu, berpuasa Ramadhan, dan taat kepada suaminya. Lantas, adakah pintu surga untuk wanita muslimah yang berjihad melawan kejahatan melalui jalan menjadi superhero? Dari buku-buku yang pernah kubaca ataupun film yang pernah kutonton, superhero adalah tokoh yang dikagumi semua orang karena bisa melindungi dunia dari kejahatan. Namun, mereka tidak pernah membahas sisi spiritual para heroes tersebut. Abah dan Umi juga seakan menambah bimbangnya diriku. Mereka mengatakan bahwa wanita tidak perlu terlalu memikirkan prestasi keduniawian yang begitu tinggi. Aku akan menikah dan mengurus rumah tangga setelah kuliahku selesai. Itulah kebahagiaan paling hakiki yang dimiliki seorang muslimah. Tapi tidak dengan hatiku. Nuraniku mengatakan kebahagiaanku bukan itu. Ada sesuatu yang lain yang ingin kuraih untuk menjadi kebahagiaanku. Yaitu keberhasilan menjadi Quartet Squad
    Disini, aku, Aisyah, berdiri sebagai pengendali air anggota Quartet Squad. Pantaskah aku mendapatkan gelar ini? Atau mungkin Victor benar, muslimah sepertiku memang tidak seharusnya mendapatkan amanah kekuatan seperti ini? Lalu mengapa Allah mengizinkanku menjadi seperti sekarang ini? Tak kusadari hari semakin gelap, aku tetap tertegun di pinggiran ayunan air pantai. Kekalutan ini semakin membuatku terpuruk hingga aku sama sekali tidak ingin berlatih pengendalian air lagi. Ya, semakin lama jati diriku semakin goyah. Keraguan ini terus kubiarkan menggerogoti jiwaku.
    Hingga pada suatu hari datang kabar bahwa Jadala telah memerintahkan para Destroyers untuk mulai menjajah ASEAN secara gerilya. Robot-robot keji pimpinan Jadala itu telah menggunakan kemampuan mimikri mereka dengan menyamar sebagai Sekretaris jenderal ASEAN, Le Luong Minh, dan atasan David yang menangani masalah perekonomian yaitu Mr. Banerji. Sungguh, sebuah taktik yang cerdas berkat penyalahgunaan teknologi. Siapa sangka, sistem politik dan perdagangan ASEAN menjadi lahan percaturan mereka selama satu tahun terakhir. Grafik angka-angka dolar dan kebijakan-kebijakan munafik memang sudah terendus oleh David dan Quartet Squad belakangan ini. Kekagetan memuncak tatkala ditemukan dua jasad pemangku singgasana kepemimpinan ASEAN sekarang di hutan belantara dekat pulau terindah, Phuket, dalam luka sayatan yang seperti membelah dua samudera beraliran laut darah nan beku.
    Berkat kecerdasan dan kejelian David, kami berhasil mengungkapkan fakta di balik tabir ini. Ya, Jadala terlalu bodoh menciptakan Destroyers yang meninggalkan jejak di TKP. Namun, entah apa yang tiba-tiba terbesit di dalam sukmaku ini. Melihat botol kecil bertuliskan “JDL Made In Europe” membuatku terguncang akan ketakutan karena perang yang sesungguhnya akan segera menjemputku di depan mata. Bulu kudukku sampai merongga hingga nafas ini terasa tetahan di ubun-ubunku. Di sisi lain, kulihat empat mata yang saling bertatapan dalam. Steve membukakan pundaknya untuk Lea dengan rasa takutnya. Pemandangan yang sangat mengganggu mata. Dari sisi arah jam 3, celetukan Victor semakin membuatku gugup. Tapi apa yang dikatakannya adalah benar. Kita belum siap angkat senjata melawan Jadala. Tim ini masih sangat kacau. Bagaimana jika Quartet Squad gagal? Bagaimana jika semua akan hancur ? akan mati? Satu hal yang membuatku berpikir sangat keras, pantaskah aku menjadi superhero dengan kibaran jilbabku dan bagaimana islam akan memandangku? Refleks kaki dan tanganku tak bisa kucegah untuk terbang dan segera mencari laut untuk menenangkan diri dari kejadian di hutan Phuket itu. Ketika kuterbangkan gumpalan-gumpalan es tiba-tiba terasa panas dan meleleh, sontak raga ini hilang kendali meluncur bebas dari ketinggian menuju landasan pacu gedung ASEAN. Apa yang terjadi? ketika kucoba bangkitkan gelora sapuan air-airku, tak berhasil. Ku coba kedua kali, ketiga kali, keempat kali, dan akhirnya emosiku pun memuncak dan mengumpat kekuatanku. “Baik, aku bisa tanpamu. Air bodoh. Persetan dengan Quartet Squad.” Kecongkakanku telah menghanguskan kekuatanku. Hilang. Tidak ada kata air lagi dalam hidupku. Hampa.
    Seminggu berselang, kondisiku masih sama. Hampa. Bahkan aku sudah meninggalkan keyakinanku akan apapun. Pun juga keyakinan yang kubuktikan dalam sebuah proposal program yang aku ajukan ke pak dekan, “Muslimah juga Bisa”. Gegar budaya akibat kekuatan ini benar-benar telah membuatku percaya bahwa kekuatanku bukanlah anugerah, melainkan musibah. Pikiran kosong, sukma hampa, perasaan kalut, dan kesombongan merajai nuraniku.
    Sampai pada di suatu pagi dengan lamunanku di kaca bening 4×4 m, “water is the most sensitive control, if your control is bad then this water will be sad and leave you” tiba-tiba terdengar kata-kata mutiara terucap dari bibir Steve yang tak kusadari telah berdiri disampingku. “I love you, and i won’t you leave us, Quartet Squad”. Memang, kata-kata adalah senjata. Senjata yang mampu membuatku kehilangan kata-kata kala itu. Steve telah merelakan waktunya seminggu ini demi untuk memperhatikanku dari kejauhan. Tangannya yang hangat memegang sisi atas lengan kananku. Tepukan semangat dan setruman kepercayaan itu kurasakan. Steve tidak sendirian, anggota Quartet Squad yang lain, tak lupa juga David, datang untuk meyakinku kembali dan meminta maafku atas anggapan salah mereka terhadapku selama ini. Terutama Victor, lelaki yang kukenal dengan kecerdasan mengutak-atik teknologi terkini disertai dengan kepribadian keras itu meneteskan air mata karena selama ini meremehkanku. Air, tanah, dan udara tidak akan pernah bisa hidup tanpa air. Kata-kata dari Victor itu yang membuatku yakin untuk menepis kemarahanku terhadap mereka. Dan Lea, ia memelukku. Sebenarnya dia adalah teman yang baik dan ramah. Tetapi karena kecemburuan tak beralasanku, aku membencinya tanpa alasan pula. Waktu itu adalah waktu yang akan kuingat selama hidupku. Benih rasa kekeluargaan Quartet Squad yang tersirat di semua mata yang hadir pagi itu.
    Ditengah-tengah pidato kami, suara sirine dari gelang kami, gelang Quartet Squad, memecah suasana khidmat waktu itu. Tanda bahaya. Gelang yang mampu mengikat kekuatan alam Quartet Squad sekaligus melindungi kami dapatkan saat “pesta” penobatan kami. Meski sebenarnya peristiwa itu tidak bisa dikategorikan dalam arti pesta. Sinyal bahwa Jadala dan para Destroyers telah melakukan serangan terbuka diterima oleh David. Lebih buruk dari itu, Jadala telah membius semua penduduk Asia Tenggara hingga mereka semua tak sadarkan diri. Namun tidak dengan kami, para pemilik gelang Quarted Squad. Virus Ractillopus, semacam racun bunuh diri yang diminum Romeo saat mengetahui kematian Julietnya. Begitu juga dengan virus ini, akan membunuh inangnya dalam jangka waktu dua hari setelah terjangkit. Lewat earphone canggih yang dimiliki Victor, Jadala berhasil mengakses sinyal rahasia dari alat Victor itu. Suara dari pria gagah gila itu membuatku tercengang karena ketakutan. Jadala akan membunuh semua orang di Asia Tenggara jika Quartet Squad tidak menyerahkan diri. Tujuannya adalah agar Jadala dan negara yang berada di balik topengnya bisa melenggang bebas menguasai bumi Asia ini. Yang membuatku terheran-heran adalah PBB, yang seolah tutup mata dan bungkam dengan masalah ini atau memang dengan polosnya tidak mengetahui permasalahan ini?
    Entahlah, itu tidak perlu dipikirkan. Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana caranya lolos dari bangunan di sekitar rumahku yang mulai hancur karena serangan Destroyers telah merajalela kemana-mana. Ketika kami terbang, kami saksikan bahwa Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, dan negara-negara lain telah luluh lantak. Hal itu yang membuat sukma kami semakin tersentil dan semangat membara untuk segera sampai ke markas ruang rapat rahasia. Setiap detail teknik penyerangan yang telah dijelaskan David, kami serap dengan baik-baik. Teknik gempur empat alam.
    Tanpa berbelit-belit lagi kami langsung siap dengan mantab menuju ladang perjuangan kami yang sesungguhnya. Perang melawan Destroyers. Steve dengan kobaran api setannya. Victor dengan bebatuan terjal yang siap ditancapkan ke jantung Jadala. Lea dengan angin topannya yang siap menghancurkan apapun yang terhirup olehnya. Dan aku, Aisyah, dengan jilbabku dan kesucian airku yang siap memadamkan kekejian Jadala. Ya, jati diriku benar-benar telah kembali. Berkat teman-teman dan ucapan “I love you” dari Steve yang belum selesai terucap, membuatku yakin bahwa aku bisa, bisa, bisa. Luncuran senjata-senjata kami berhasil melumpuhkan mesin-mesin peniru manusia yang penuh dengan oli dan lempengan besi karatan ini di sesi pertama. Karena serangan ini ternyata muncul dalam beberapa sesi dimana Destroyers ini semakin bertambah jumlahnya. Hal ini sangat membuat kami bingung. Hebat sekali, Jadala menciptakan ribuan robot-robot seperti ini. David pun juga dibuat kalap dengannya. Kejanggalan yang ada bahwa, kami tidak menemukan Jadala diantara pasukannya. Dimana ia? Otak jenius David memberitahukan bahwa sebenarnya ini adalah ilusi dunia cermin yang diciptakan Jadala. Destroyers yang menjadi kuda balap Jadala di pacuan perang ini hanyalah proyeksi bayangan dari Destroyers yang sebenarnya. Menurutku, sistem ini seperti mesin fotokopi. Steve dan David mempunyai ide yang cemerlang. Jika benar ini adalah ilusi dunia cermin Jadala, maka kita juga akan membuat dunia cermin sendiri. Steve memutuskan untuk membagi kami dalam dua kelompok. Victor, Lea dan David dengan kelihaian bermain pedangnya tetap berada di Selat Malaka ini untuk membinasakan Destroyers dan menjaga orang-orang. Aku dan Steve akan terbang ke markas Satan untuk menghentikan taktik biadab Jadala.
    Dan benar, Jadala yang ternyata lebih buruk rupa dan lebih besar dari yang kubayangkan telah mengatur taktik ini. Sepertinya sedang tidak terjadi apa-apa, duduk santai menikmati suasana lilin aroma terapi di markas Satan. Kemarahan kami berdua pun tak terbendung lagi. Sambaran petir, api, cahaya, air, dan es saling beradu kekuatan. Membentuk kurva-kurva tak beraturan dan saling berbenturan. Teriakan, kekuatan, semangat, kebencian bersatu padu dibenakku dan Steve untuk melawan Jadala.
    Saat ini akan selalu kukenang dalam hidupku. Terutama saat aku lengah dari Jadala yang lebih cepat dariku. Cahaya merah menyala dari tangannya melempar dan menghembuskan ragaku jatuh dari ketinggian 55000 meter di atas permukaan laut. Ya, aku jatuh ke lautan. Aku kalah. Gelangku pecah. Jadala telah menyayat tepat di dadaku. Sambil dibatas antara sadar dan tak sadar kulihat Steve menyusulku terjun bebas ke bawah. Yang terjadi setelahnya? Aku tidak tahu. Benar-benar tidak tahu dan tidak sadar.
    Setelah kesadaranku telah kembali dari liburannya, ku buka mataku dan Steve berada di sebelahku sembari menahan seduan tangisan kecil. “You should live and save me, save us”. Awalnya aku tidak begitu paham dengan kata-kata lelaki bertubuh tinggi itu. Lalu aku melihat gelang yang bertuliskan pengendali api itu telah berisikan darah dan melingkar di tanganku. Artinya bencana telah datang. Steve mengorbankan kekuatannya demi menyelamatkanku. Dia benar-benar telah melanggar aturan gelang itu hanya untuk menyelamatkanku dan kekuatanku. Tidak ada yang lebih menyayat hatiku daripada ini. Tidak ada yang mampu aku katakan ataupun aku ungkapkan untuk rasa cinta dan terimakasihku yang sangat mendalam padanya. Aku berharap dia selalu bahagia.
    Akhirnya, tak perlu menunggu lagi, tak perlu menunggu bulan dan matahari bisa bersatu, aku langsung berlari kencang menuju laut untuk menyelam sedalam-dalamnya mengumpulkan kekuatanku menjadi gumparan air untuk kuterbangkan bersamaku. Jadala, aku datang. Dengan serangan air dan nuklir secara bertubi-tubi dan tanpa ampun aku berusaha susah payah mengalahkan siluman gila itu. Demi agamaku, keluargaku, bumiku dan cintaku. Ya Allah, niatku tulus untuk melawan kejahatan ini. Seragan runcingan es terakhirku berhasil kutancapkan di jantung manusia keji itu. Seketika ada cahaya kilap yang super cepat melintasi awan dan semua Destroyers hancur. Ilusi dunia cermin telah hancur. Lebur dan hilang tepat 1 jam sebelum 48 jam pengaruh virus Ractillopus.
    Semua kehidupan kembali berjalan normal dan orang-orang kembali pada dunia nyata. Serangan terbuka hari itu tidak akan diingat oleh siapapun karena telah hancur bersama singgasana Jadala. Hanya kami, Quartet Squad dan David yang akan selalu mengingatnya. Yang perlu diingat oleh semua orang hanyalah kedamaian yang akan selalu tercipta dan terlindungi di bumi Asia Tenggara ini.
    Setelah selesai dengan semua kegilaan itu, bencana kedua bagi Steve datang. Aturan yang dia langgar dan hidup tanpa kekuatan membuatnya harus keluar dari Quarted Squad. Namun saat kulihat wajahnya, tak ada sedikitpun gelagat menyesal dari dirinya karena telah melakukan semua ini. Kami semua akan mengenangmu Steve, selalu. Terutama aku, Aisyah yang sebenarnya telah rela menyerahkan hidupku padanya. Hidup yang memang ternyata mengejutkan. Di luar markas Quartet Squad, tiab-tiba Steve menarik tangan kiri ku dan menekukkan kedua lututnya dihadapanku. Kedua tangannya menengadah ke arahku dengan posisi tangan kanan memegang sebuah kotak merah kecil berisikan lingakaran emas kecil berdiameter 1,5 cm. Sangat mengejutkanku. Bibir ini terasa terkunci rapat dan tidak bisa mengeluarkan kata-katanya. Terlebih saat dia menyatakan bahwa dia sedang belajar menjadi mu’alaf. Nikmat mana yang kudustakan? Kepalaku hanya mengangguk pertanda iya. Iya. Iya, Steve. Aku akan menjadi Quartet Squad yang sejati. Untuk melindungi dunia ini dan duniamu. Iya.
    Seakan langit tertawa bahagia bersamaku hari itu. Langkah yang akan kujalani adalah langkah yang akan penuh anugerah. Anugerah kebanggaan yang kuraih dengan penuh perjuangan. Hal ini akan selalu membuktikan pada dunia bahwa, muslimah juga bisa !

    Fin