Activity

  • Kuncoro Wahyudjati posted an update 1 month, 2 weeks ago

    Nama : Kuncoro Wahyudjati
    NIM : 195120201111022

    BAB 1
    FILSAFAT SEBAGAI HAKIKAT KEBIJAKSANAAN MANUSIA

    A. FILSAFAT, KEGIATAN BERPIKIR, DAN KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU
    Berpikir adalah hekikat manusia dan karena berpikirlah ia menjadi manusia. Berpikir adalah sebuah kegiatan mengorganisasi simbol untuk mewakili suatu objek dan peristiwa sehingga tidak perlu lagi melakukan kegiatan tertentu secara langsung. Berfilsafat saya artikan sebagai kegiatan berpikir sehingga filsafat merupakan landasan dari praktik setiap kegiatan menusia dalam hidupnya. Hasil dari kegiatan berfilsafat adalah pengetahuan. Salah satu jenis pengetahuan adalah ilmu sehingga pada akhirnya filsafat menjadi landasan atau fondasi pengembangan setiap ilmu.
    Dengan berpikir, kita mencoba mencari jawaban dari gejala-gejala alam dan menghasilkan hal baru sebagai wujud kreativitas berpikir. Berpikir adalah esensi perintah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, untuk “membaca” dan dijadikan ayat pertama yang diturunkan kepada manusia: “iqra’ bismirabbikalladzi khalaq” (Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan); Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah; Bacalah dan Tuhanmulah Yang Mahamulia; Yang mengajari (manusia) dengan pena (qalam); Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1-5) “membaca” disini bermakna memahami dan mempelajari semua ciptaan-Nya, yang hasilnya adalah ilmu pengetahuan.

    1. Muslim Wajib Menuntut Ilmu
    Islam mewajibkan umatnya mencari, mengembangkan, dan bahkan selalu meminta tambahan ilmu pengetahuan. “Katakanlah, ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu” (QS. Thaahaa [20]: 144). Di ayat-ayat pada alinea di atas, Allah mengajak kita untuk berpikir, memperhatikan, atau menggunakan akal kita. Selain itu, selalu mengingat Allah SWT dalam kegiatan mencari ilmu, dapat membuat hari kita menjadi tenang. Imam syafii dalam Mafatih Tadabbur as-Sunnah II, Vol. 1, h.30 mengatakan bahwa dunia dan akhirat hanya dapat diraih dengan ilmu. “Barangsiapa menginginkan dunia, maka wajib atasnya memperoleh ilmu, dan barangsiapa mengingkan akhirat maka wajib pula mengetahui llmunya.”
    Perkembangan ilmu pengetahuan telah lama termaktub dalam ayat Al-Qur’an, misalnya Qs. Yunus [10]: 101 yang memuat makna bahwa “segala tanda-tanda kebenaraan Allah SWT yang ada di alam bermanfaat bagi manusia.” QS. Yunus [10]: 110 ini, dan banyak lagi yang lainnya, mendorong umat manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan melalui kontemplasi, eksperimentasi, dan pengamatan.

    2. Etimologi Filsafat: Cinta Kebijaksanaan
    Dari asal kata (etimologi), filsafat berasal dari bahasa Yunani: philosophia. Kata philosophia dibangun dari dua kata, yaitu philos atau philia atau philein, berarti “cinta, suka” sophia/sophos = “kebijaksanaan, kearifan”. Filsafat berarti cinta kebijaksanaan, artinya, dalam memecahkan suatu masalah atau mencari jawaban terhadap suatu gejala. Bijaksana di sini mengandung makna bahwa segala keputusan mesti mempertmbangkan hakikat terdalam dari suatu gejala atau hal-hal yang tersirat atau yang laten, bukan semata-mata hal-hal yang tersurat (manifes) atau bukan semata-mata berdasarkan pengetahuan yang tampak di permukaan.
    Keputusan bijaksana, dengan demikian sebenarnya merupakan hasil sinergi antara berpikir benar dan berkeinginan benar. Berpikir benar dimaksudkan sebagai berpikir yang menghasilkan simpulan yang diperoleh dari data objektif dan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Sementara itu, berkeinginan benar adalah keinginan untuk melakukan perbuatan yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan tersebut. Keinginan benar adalah kehendak untuk melakukan hasil berpikir benar tersebut.

    3. Terminologi Filsafat
    Berbeda dengan ilmu yang bersifat lebih pasti, filsafat menimbulkan beragam pendapat. “tidak ada kesatuan pendapat atau bahkan bertentangan (Liang GIe, 2004). Setiap filsuf dan sesuatu aliran filsafati memberikan definisi yang berlainan sesuai dengan sesuatu segi yang memjadi pusat perhatiannya.
    Berikut beragam pengertian filsafat:
    • kegiatan filsafat adalah berpikir secara lebih mendalam dan cermat tentang suatu masalah dan mencoba memperoleh jawaban yang tepat untuk memecahkan masalah tersebut. (Susanto, 1986)
    • Filsafat adalah suatu cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu yang sedalam-dalamnya. (Suriah sumantri, 2001)
    • Filsafat merupakan perenungan, yaitu suatu jenis pemikiran yang meliputi kegiatan melakukan segala sesuatu, mengajukan pertanyaan, menghubungkan gagasan yang satu dengan yang lainnya, menanyakan “mengapa”, mencari jawaban yang lebih baik ketimbang jawaban pada pandangan pertama. (Kattsoff, 1992)
    Menurut definisi-definisi tersebut, filsafat dapat didefinisikan sebagai upaya memahami dan menjelaskan realitas atau fenomena dengan cara kritis menanyakan hakikat secara mendalam dari suatu realitas, dengan mendasarkan diri pada nilai-nilai ketuhanan.
    Tujuan akhir filsafat adalah membuat manusia semakin bijaksana dalam interaksi dengan sesamanya dan lingkungan alam. Filsafat adalah proses berpikir yang bernalar, yaitu proses berpikir secara kritis, mendalam, logis, menanyakan hubungan, dan menanyakan jawaban-jawaban. Jadi, tidak semua berpikir disebut berfilsafat.

    4. Perspektif dan Konteks Pemikiran Filsafat
    Setiap orang dapat menyampaikan hasil pemikiran yang berbeda-beda asal didasari dengan penawaran dan niat mengedepankan pertimbangan dan fitrah kemanusiaan. Filsafat berupaya “mendekati kebenaran mutlak”, bukan kebenaran mutlak itu sendiri (Susanto, 1986). Kebenaran mutlak atau kebijaksanaan mutlak, kata pythagoras, hanya milik Tuhan.
    Kebenaran manusia bisa berbeda-beda meskipun realitasnya sama. Kebenaran tergantung pada perspektif dan bersifat kontekstual. Perspektif adalah bagaimana cara seseorang memandang realitas yang terbangun dari pengalaman serta latar belakang individu perspektif berisi asumsi tentang dunia yang dimiliki seseorang yang merupakan kerangka konseptual dalam pemikirannya yang menentukan bagaimana dia memandang realitas.kontekstual berarti bahwa kebenaran tergantung pada situasi saat kebenaran itu diungkapkan. sebagai pencipta kebijaksanaan, kita harus berpikir kritis untuk menilai apakah perspektif yang kita gunakan dalam membangun kebenaran telah membawa kebenaran tersebut ke tataran kebijaksanaan atau mendekati kebenaran mutlak. Kita harus menghindari upaya pemaksaan kebenaran. Jika kita memaksakan benaran, maka kita sebenarnya belum melakukan tindakan berpikir dengan baik dan karenanya cinta bukanlah manusia.

    B. MENGAPA PERLU BERFILSAFAT
    Berfilsafat merupakan dorongan rasa ingin tahu dan rasa kagum kita terhadap alam semesta, realitas sosial, atau hal-hal gaib. berfilsafat sekaligus memunculkan rasa tidak puas dan senantiasa menanyakan jawaban jawaban tentang realitas tersebut. Manusia cenderung untuk melakukan jawaban-jawaban karena sesuai dengan kodrat kemanusiaannya sendiri yaitu berpikir dengan menggunakan simbol-simbol bermakna dan akal budaya agar terhindar dari ketidak pastian atau kekhawatiran tentang masa sekarang. filsafat berusaha memberikan jawaban jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita mengenai diri, eksistensi, tujuan hidup, keadaan diri kita sebagai bagian dari alam semesta.

    1. Berfilsafat untuk Memecahkan Permasalahan Hidup
    Setiap orang dapat menyampaikan hasil pemikiran yang berbeda-beda asal didasari dengan penawaran dan niat mengedepankan pertimbangan dan fitrah kemanusiaan. Filsafat berupaya “mendekati kebenaran mutlak”, bukan kebenaran mutlak itu sendiri (Susanto, 1986). Kebenaran mutlak atau kebijaksanaan mutlak, kata pythagoras, hanya milik Tuhan.
    Jadi, filsafat membantu manusia merenungi akibat perkembangan kehidupan dan selanjutnya dapat mengantisipasi tantangan-tantangan kehidupan yang dinamis. siapa juga membantu menjawab apakah ilmu pengetahuan berdampak positif atau negatif bagi manusia.
    2. Berfilsafat untuk landasan argumentasi
    Hasil kegiatan berpikir filsafat yang mengedepankan proses penalaran, data, dan analisis objektif serta menjunjung nilai kemanusiaan merupakan landasan berargumentasi yang kuat dalam mengambil keputusan.

    3. Berfilsafat untuk memberikan gambaran keseluruhan alam semesta
    Berfilsafat dapat memberikan gambaran tentang alam semesta sebagai keseluruhan. Kita dapat menanyakan apa yang mungkin ada di alam semesta dan juga hal yang tidak mungkin. interaksi dapat membantu mengurangi konflik sesama karena hidup adalah kebersamaan antar bagian dari keseluruhan di alam semesta ini.

    4. Berfilsafat karena manusia itu Homo Sapiens
    Kita berfilsafat karena sifat kita sendiri yang selalu berpikir (homo sapiens) mengenai keadaan hidup manusia dan dirinya serta hubungannya dengan keadaan sekelilingnya.

    5. Berfilsafat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan
    Melalui berfilsafat, kita akan sadar tentang hidup dan mendekatkan diri kepada Tuhan yang maha esa. Manusia adalah “spiritual animals”. Kita beserta permasalahan tidak dapat lepas dari interaksi antar unsur dalam alam semesta. pada akhirnya membuat kita mengetahui tentang tujuan hidup serta menyadari fungsi segala unsur dalam alam semesta.

    C. FILSAFAT DAN PERMASALAHAN BANGSA INDONESIA: RELASI ADAB, ILMU, DAN AKAL
    Insan akademis adalah keseluruhan tunggal antara unsur oleh pikir, olah hati, olah rasa, dan olahraga. Olah pikir adalah kemampuan mengasah otak sehingga seseorang menjadi pintar dan menguasai ilmu pengetahuan dengan baik. Olah hati adalah menjadi orang beriman dan bertakwa serta mengamalkannya dalam kehidupan bermasyarakatan. Olah rasa adalah kemampuan teposliro dan sambung rasa (berempati) pada sesama manusia, pada makhluk Tuhan lainnya, dan lingkungan sekitar. Olahraga juga perlu disampaikan karena badan yang sehat membuat jiwa/pikiran juga sehat.
    Karena tidak disertai pembangunan olah hati dan olah rasa yang baik, maka orang-orang pintar itu hanya mengandalkan kepintarannya, tidak mengandalkan hati nuraninya, dan sifat empati sosialnya kurang kepintarannya pun bersifat individualis untuk meraih kepentingan pribadi tanpa mempertimbangkan kepentingan sosial.

    D. SUMBER DAN CARA BERFILSAFAT
    Sumber pemikiran adalah ajaran agama, yang terwujud dalam beberapa cara berfilsafat. Agama merupakan sumber kebijaksanaan hidup manusia untuk selamanya melalui butir-butir hikmah didalamnya. Cara berfilsafat tergantung pada kebiasaan dan kemudahan dalam berpikir antara lain :
    1. Berdasarkan common sense (sesuatu kebenaran yang banyak di terima). Kita befilsafat dengan cara mengkritisi pengetahuan yang umum, yang biasa diterima oleh orang banyak dan dapat diterima akal sehat.
    2. Berdasarkan sintesis hasil bermacam-macam sains dan pengalaman kemanusiaan, sehingga menjadi pandangan yang konsisten tentang alam semsta beserta isinya.
    3. Berdasarkan hasil pemikiran para filsuf dan meletakannya sebagai pisau analisis untuk memecahkan masalah kehidupan yang berkembang dalam kehidupan konkret, sejauh pemikiran tersebut memang relevan dengan situasi dan kondisi yang kita hadapi.
    4. Mengaji kebenaran ilmu pengetahuan/sains. Ilmu pengetahuan belum menjamin manusia dpat menjawab permasalahan hidup.
    Seperti disampaikan sebelumnya, filsafat adalah proses berpikir. Tetapi, tidak semua proses berpikir adalah filsafat. Filsafat adalah berpikir secara lebih mendalam, menyeluruh, dan cermat untuk memecahkan masalah yang secara spesifik memiliki beberapa elemen berpikir.
    • Empiris dan rasional. Berfilsafat memadukan dua sumber pengetahuan, yaitu hal-hal yang pernah dialami (empiris) dan hal-hal yang ada dalam pikiran manusia (rasional), termasuk mengeksplorasi ilmu agama terhadap hal-hal di luar pancaindra.
    • Radikal, menyeluruh, dan mendasar. Artinya, berpikir menyeluruh sampai ke akar-akarnya hingga sampai pada hakikat atau substansi yang dipikirkan.
    • Kritis. Sifat radikal, menyeluruh, dan mendasar di atas mensyaratkan adanya sifat kritis, yaitu tidak begitu mudah menerima kenyataan atau penjelasan dari orang lain.
    • Konseptual. Pemikiran filsafat dapat dikonsepsikan sebagai sebuah penjelasan logis dan analisis.
    • Bebas-bertanggungjawab. Bebas dapat diartikan bahwa setiap orang bebas berpikir dan berfilsafat dengan mengacu pada prinsip ketuhanan.
    • Variatif. Segala hal dapat menjadi kajian dan segala kemungkinan dapat menjadi jawaban.

    1. Prinsip-prinsip Berpikir Filsafat
    • Pertama, meniadakan kecongkakan mahatahu sendiri. Menganggap dirinya saja yang paling tahu, orang lain dianggapnya tidak paham tentang suatu masalah.
    • Kedua, perlunya sikap mental berupa kesetiaan pada kebenaran.
    • Ketiga, memahami secara sungguh-sungguh persoalan filsafat serta memikirkan jawabannya.
    • Keempat, latihan intelektual itu dilakukan secara aktif dan terus-menerus dan diungkapkan baik tertulis maupun lisan.
    • Kelima, sikap keterbukaan diri. Artinya, orang yang mempelajari filsafat semestinya tidak dihinggapi prasangka tertentu atau pandangan sempit yang tertuju ke suatu arah saja atau sudah memihak pada pandangan tertentu.

    Daftar Pustaka
    Kriyantono, Rachmat. 2019. Pengantar Lengkap Ilmu Komunikasi: Filsafat dan Etika Ilmunya serta Perspektif Islam. Prenada Media Group, Jakarta.