Activity

  • Stanislas Kostka Bima A. N posted an update 1 week, 6 days ago

    Lempeng Tektonik (Tectonic Plates)
    “materi analisis landskap”
    Oleh: Stanislas Kostka Bima Adi Nugroho
    17504020711234
    kelas E
    Teori aktifitas tektonik pada awalnya dikemukakan oleh Alfred Lothar Wegener pada tahun 1912. Teori tersebut dikenal dengan Continental Drift atau pergeseran benua ini mengemukakan bahwa seekitar 200 tahun yang lalu,daratan yang sangat luas dinamakan Pangaea mulai terpisah (Hanief, et al. 2012). Daratan tersebut pecah menjadi dua daratan yang sangat luas, yaitu Laurasia di belahan bumi utara dan Gondwanaland di bagian selatan bumi. Hingga pada akhirnya daratan tersebut kembali terpecah-pecah menjadi lebih kecil hingga dan hal tersebut dikarenakan adanya pergerakan lempeng bumi secara tektonik, hal tersebut merupakan perkembangan teori saat ini yang dikenal dengan “tectonic plates” dimana lempeng-lempeng bumi bergerak dan menyebabkan perubahan muka bumi hingga pada akhirnya terbentuklah daratan-daratan seperti saat ini.
    Konsep Tektonik Lempeng menjelaskan bahwa kulit bumi terdiri atas beberapa bagian lempeng yang tegar, yang bergerak satu terhadap lainnya, di atas massa liat astenosfir yang kecepatannya rata-rata 10 cm/tahun atau 100 KM/10 juta tahun (Morgan, 1968; Hamilton, 1970, dalam Alzwar, et al., 1987). Dalam konsep tektonik lempeng tersebut, lempeng-lempeng bergerak dari punggungan tengah samudera (mid oceanic ridge), dimana dibentuknya kerak baru, menuju garis busur vulkanik lainnya dan menuju rantai pegunungan aktif. Kulit bumi dibagi menjadi tujuh lempeng litosfir yang sangat besar.
    1. Gerak Epirogenetik
    Gerak epirogenetik merupakan pergerakan naik turunnya kulit bumi dengan tenaga yang lambat dan meliputi daerah yang luas. Gerak epirogenetik dibagi lagi menjadi gerakan epirogenesa positif dan gerakan epirogenesa negatif. Gerakan epirogenesa positif mengarah ke bawah, sehingga menyebabkan daratan turun yang menyebabkan permukaan air laut seolah-olah naik. Sedangkan gerakan epirogenesa negatif membuat daratan naik karena gerakan tersebut mengarah ke atas. Hal tersebut menyebabkan permukaan laut seolah-olah turun.
    2. Gerak orogenetik
    Gerak orogenetik terjadi relative lebih cepat dan memiliki daerah lingkup yang sempit. Bentuk gerakan orogenetik antara lain lipatan, patahan, atau retakan. Patahan yang lebih rendah disebut Graben, sedangkan patahan yang lebih tinggi disebut Horst. Kedua jenis patahan tersebut terjadi akibat gaya renggangan pada lempeng. Selain menghasilkan patahan, gerak orogenetik juga menghasilkan lipatan. Lipatan yang lebih rendah disebut Sinklinal, sedangkan yang lebih tinggi disebut Antiklinal.

    Pergerakan lempeng juga membentuk bagian yang disebut batas lempeng. Batas lempeng tersebut dibagi menjadi 3 (Zakaria. 2007), yaitu batas lempeng divergen, batas Lempeng Konvergen, dan batas Lempeng Sesar.
    1. Batas Lempeng Divergen
    Batas lempeng divergen terbentuk karena pergerakan lempeng kulit bumi yang saling berlawanan. Hal tersebut menyebabkan magma naik ke permukaan dan mendesak permukaan bumi, sehingga menyebabkan terbentuknya lapisan permukaan bumi yang baru.
    2. Batas Lempeng Konvergen
    Batas lempeng konvergen terjadi karena pergerakan lempeng kulit bumi yang saling bertumbukan. Sehingga salah satu lempeng akan tertekuk dan masuk ke bagian bawah lempeng lainnya. Gerakan ini dapat menimbulkan getaran yang kuat.
    3. Batas Lempeng Sesar
    Batas lempeng sesar adalah batas lempeng yang menyebabkan terjadinya gerakan lempeng kulit bumi yang sejajar. Hal ini terjadi apabila lempeng bumi bergesek dalam posisi yang sama datar, sejajar, dan selalu bergerak.

    Alzwar, M., Samodra, H., & Tarigan, J.J., 1987, Pengantar Ilmu Gunungapi, Penerbit Nova, 226 hal.
    Zakaria, Zufialdi. 2005. APLIKASI TEKTONIK LEMPENG DALAM SUMBER DAYA MINERAL, ENERGI DAN KEWILAYAHAN. Bulletin of Scientific Contribution. 5 (2): 123-131.
    Hanief, Sarah Leila., Irwan Meilano, Dudy Darmawan Wijaya. 2012. Analisis Data Time Series GPS Kontinu di Daerah Sumatera; Studi Kasus: Data Continous SuGAr (Sumatran GPS Array) Tahun 2004-2007. Indonesian Journal of Geospatial. 2 (1): 13-32.