Activity

  • Ade Irfan posted an update 1 week, 1 day ago

    Dynamic Governance menjadi “kunci jawaban” dibalik kesuksesan Singapura. Birokrasi institusi publik Singapura telah banyak melakukan upaya untuk menginstitusionalisasikan kebudayaan, kemampuan, dan perubahan yang disematkan ke dalam batang tubuh negaranya. Dynamic Governance mengubah konsep pemerintahan yang selama ini dikenal statis dan hanya berdasarkan keputusan individualistik pemerintahan seharusnya bersifat dinamis. Karena tantangan itu sendiri sesungguhnya bersifat dinamis, dipengaruhi oleh banyak keputusan yang terintegrasikan, melibatkan proses belajar/adaptasi yang berkelanjutan dan secara bertahap, serta membutuhkan implementasi yang tepat, karena kesuksesan sebuah negara dapat diukur melalui kualitas pemerintahannya. Dalam Dynamic Governance, Profesor Neo dan Chen menawarkan sebuah karya wawasan Kerangka kerja mereka berpikir ke depan, berpikir lagi, dan berpikir melintasi menerangi jalan pemerintah Singapura telah beroperasi. Salah satu kekuatan dari pekerjaan mereka adalah bahwa mereka tidak menyederhanakan permasalahan. Mereka melihat hubungan antara pemerintah dan kepemimpinan politik dan antara organisasi dan budaya, dan pada pembuatan kebijakan dan pelaksanaan kebijakan.

    Sejak tahun 2005, ide Dynamic Governance ini telah menarik perhatian kedua penulis. Mereka menganggap serius hal ini sebagai sesuatu yang perlu dipertimbangkan, dianalisa dan membuahkan hasil yakni sebuah kerangka berpikir yang mencakup semua isi buku ini. Neo dan Chen mendiskusikan dan mengkonseptualisasikan tiga kemampuan suatu pemerintahan.
    • Pertama, think ahead – kemampuan menganalisa kondisi di masa depan yang penuh dengan ketidakpastian dari lingkungan eksternal dengan melihat peluang-peluang baru dan potensi ancaman yang ada. Kemampuan ini membuat sebuah institusi dapat memprediksikan perkembangan di masa depan. Hal ini akan berdampak pada pencapaian tujuan dari institusi pemerintah untuk mengatur negaranya.

    • Kedua, think again – kemampuan mengevaluasi dan mengidentifikasi perubahan kebijakan yang telah ditetapkan agar memperoleh hasil dan kualitas yang lebih baik. Sehingga intitusi dapat mengemukakan permasalahan dan isu yang dihadapi, dan melihat bagaimana cara untuk meningkatkan performa institusi tersebut. Hal ini membutuhkan efesiensi dan efektifitas kebijakan yang telah dibuat dan juga ketepatan dalam penjapaian tujuan dan penetapan strategi.

    • Ketiga, think across – kemampuan melintasi batas-batas tradisional untuk “berpikir diluar batas”, juga untuk “belajar dari orang lain” apabila terdapat ide-ide bagus yang dapat diadopsi dan diadaptasi sebagai inovasi baru dalam pembuatan kebijakan. Itu seperti meng-copy aturan dan kegiatan/ praktek yang telah berhasil diterapkan di suatu tempat. Hal ini mengizinkan transfer pengetahuan antar negara dengan mengadopsi program dari suatu negara dan disematkan kedalam institusi lokal dan lingkungan kebijakan. Selain itu, kita harus mengerti bagaimana menerapkannya, bagaimana itu bekerja dengan baik atau mengapa itu tidak bekerja dengan baik dan bagaimana kita menerapkannya dengan sudut pandang yang berbeda dari ide dasarnya.

    Dan dynamic governance terdapat dua pengaruh utama (able people and agile processes)
    untuk mengembangkan 3 (tiga) kemampuan Dynamic Governance ditunjukkan Faktor eksternal oleh Future Uncertainties dan External Practices

    Penulis mengatakan bahwa adaptasi kebijakan bukanlah semata-mata reaksi pasif terhadap tekanan dari eksternal tetapi merupakan sebuah pendekatan proaktif terhadap inovasi, kontekstualisasi, dan eksekusi. Inovasi kebijakan berarti ide baru dan segar yang diinjeksi ke dalam suatu kebijakan sehingga dapat dicapai hasil yang berbeda dan lebih baik. Ide-ide ini dikonversi menjadi suatu kebijakan sehingga masyarakat akan menghargai dan mendukung kebijakan tersebut. Akan tetapi, hal ini tidak hanya tentang ide dan desain kontekstual tetapi juga eksekusi kebijakan yang membuat Dynamic Governance menjadi nyata.

    Menurut Direktur Program Magister Administrasi Publik UGM Agus Pramusinto, ada tiga fase utama sebuah pemerintahan dinamis, yakni perbaikan internal pemerintah, peningkatan layanan publik, dan pemerintahan yang memperhatikan kebutuhan adaptif masyarakatnya (greater democracy). Dikatakan, pemerintahan adaptif adalah pemerintahan yang mau mengerti kebutuhan rakyatnya secara progresif. Pemerintahan ini mampu melihat berbagai masalah dengan berbagai sudut pandang sehingga dapat menemukan penanganan yang lebih efektif dan mengena bagi rakyat.

    Pemerintahan yang dinamis adalah pemerintah yang bertindak progresif dan adaptif guna mewujudkan hasil yang efektif bagi daerah dan masyarakat yang dipimpinnya. “Yang pasti, pemerintah daerah harus bersikap aktif dalam membangun wilayahnya, bukan menunggu hasil laporan lapangan dan kemudian baru menentukan kebijakan,” ujarnya.
    Guru Besar Nanyang Technology University Singapura, Neo Boon Siong menambahkan, kebutuhan masyarakat saat ini adalah pemerintahan yang cepat, responsif, dan efisien. Jika ketiga kebutuhan tersebut dapat dipenuhi, maka pemerintah terkait dapat disebut telah berhasil menerapkan good governance dengan baik. “Kalau tidak mampu mengubah, maka hal tersebut bukanlah good governance,” ujar penulis buku Dynamic Governance.

    Setiap pemerintahan membutuhkan pemimpin. Lalu dari mana pemimpin yang mampu menerapkan good governance dapat dipilih? Menurut mantan Menpan Sarwono Kusumaatmadja, ada tiga kunci sukses dalam menentukan pemimpin. Kunci sukses tersebut adalah kualitas pemimpin yang mampu berpikir ke depan dan antisipatif (think ahead), pemimpin yang mampu mengkaji ulang hasil pemikiran (think again), dan pemimpin yang mampu berpikir secara lateral, horizontal serta lintas disiplin (think across).

    DAFTAR REFERENSI

    Gafar T.Fahrul, diunggah pada Januari 2016, DYNAMIC GOVERNANCE – Embedding Culture, Capabilities and Change in Singapore REVIEW

    HUMAS MENPANRB, diunggah pada 19 Maret 2015, Ciri Pemerintahan Dinamis: Cepat, Responsif, dan Efisien (https://www.menpan.go.id/site/berita-terkini/ciri-pemerintahan- dinamis-cepat-responsif-dan-efisien) , diakses pada 10 mei 2019