ordo tanah secara umum



Filed under : Tugas kuliah

Tanah Mollisol

 

 

Tanah yang termasuk ordo Mollisol merupakan tanah dengan tebal epipedon lebih dari 18 cm yang berwarna hitam (gelap), kandungan bahan organik lebih dari 1%, kejenuhan basa lebih dari 50%. Agregasi tanah baik, sehingga tanah tidak keras bila kering. Kata Mollisol berasal dari kata Mollis yang berarti lunak. Padanan dengan sistem kalsifikasi lama adalah termasuk tanah Chernozem, Brunize4m, Rendzina, dll.

 

Ø  Pembentukan Tanah

Proses pembentukan tanah yang terpenting adalah melanisasi yaitu proses pembentukan tanah berwarna gelap karena penambahan bahan organic. Proses ini sebarnya merupakan kumpulan beberapa proses yaitu:

1. Prolifirasi akar-akar rumput, yaitu penyebaran akar-akar ke dalam profil tanah.
2. Pelapukan bahan organic di dalam tanah membentuk senyawa-senyawa yang stabil dan berwarna gelap (polisakharida dan liat).

3. Pencampuran bahan organic dan bahan mineral tanah keaena kegiatan organism seperti cacing, semut rodent dan lain-lain sehingga terbentuk kompleks mineral organic yang berwarna kelam, krotovinas atau gundukan-gundukan (mound).

4. Eluviasi dan iluviasi koloid organic dan beberapa koloid mineral melalui ringga-rongga tanah sehingga terdapat selaput bahan organic yang berwarne hitam di sekeliling struktur tanah.

5. Pembentukan senyawa lingo protein yang resisten sehingga warna tanah menjadi hitam meskipun telah lama diusahakan untuk pertanian.

Ø  Karakteristik/Sifat Tanah

Mollisol adalah tanah dengan epipedon mollik. Walaupun demikian tidak semua tanah yang mempunyai epipedon mollik diklasifikasikan sebagai Mollisol. Misalnya pada tanah Vertisol juga dapat ditemukan epipedon mollik tetapi mempunyai sifat yang plastis dengan mengembang mengkerut, sehingga sifat mollik menjadi kurang nyata. Epipedon mollik juga dapat ditemukan pada Inceptisol, tetapi gelas vulkanik dan horizon kambik yang masam lebih banyak pengaruhnya terhadap profil tanah dari pada epipedon mollik. Demikian pula tanah yang memiliki epipedon yang memenuhi syarat sebagai epipedon mollik tetapi terbentuk sebagai akibat pengapuran, tidak dapat diklasifikasikan sebagai Mollisol. Mollisol dapat mempunyai hodison albik, agrilik, kalsik dan nartik.
Mollisol banyak ditemukan di daerah Amerika bagian Utara Tengah, dan Eropa bagian Tenggara (rusia, Hongaria, Bulgaria, Rumania). Di Indonesia Mollisol ditemukan umumnya di daerah berbukit kapur. Tanah ini terbentuk di bawah vegetasi rumput baik tumput rendah,s edang atau tinggi. Penambahan bahan organic ketanah sekitar 100-500 kg/ha tanah. Penyebaran daerah padang rumput (prairi) banayak dipengaruhi iklim. Curah hujan sekarang antara 300-1000 mm/tahun.

Ø  Pengelolaan Tanah

Potensi

Tanah mollisols banyak diusahakan tanaman palawija, sayuran, tanaman semusim dan beberapa tanaman tahunan. Tanah ini dikatakan subur karena mengandung bahan organic, kejenuhan basa yang tinggi, tapi intensitas pengelolaannya masih rendah. Karena tanah ini terbentuk didaerah dengan curah hujan rendah dan iklim kering sehingga untuk tanaman semusim dilaksanakan pada musim hujan saja. Pada daerah dengan pengairan baik tanah ini dapat diusahakan sepanjang tahun.

Permasalahan

Di Indonesia, mollisols umumnya ditemukan didaerah bukit kapur (sub ordo Rendoll), sehingga karena tanah bersolum dangkal penggunaannya cukup terbatas. Tanah ini terbentuk didaerah semi arid dan sub humid dan sangat kaya dengan bahan organic. Karena sifat tanah organic, jika terlalu kering tidak dapat lagi menyerap air sehingga jika ada hujan bahan organic ini akan terbawa oleh air aliran permukaan sehingga terjadilah erosi permukaan. Tanah ini mudah mengalami kekeringan karena perkolasi yang cepat, tanah ini hampir tidak berguna bagi pertanian, karena jeluk perakarannya terbatas dan banyak batu-batuan.

Perbaikan

Banyak tanah mollisols yang bersolum dangkal, maka diperlukan tindakan konservasi dengan menanam tanaman yang mempunyai perakaran dangkal tetapi tumbuh permanen seperti padang rumput. Bila ingin dijadikan lahan tanaman pangan, dapat ditanami padi, palawija dan sayur-sayuran, dapat ditanam sepanjang tahun asalkan pengairannya dapat diatasi. Sangat baik ditanami secara mixcropping, karena dengan cara ini kontinyuitas penggunaan lahan yang miring dan mempunyai solum agak dalam dapat pula ditanami tanaman tahunan.

Posted 11th November by semangat geos

Labels: geopedologi AGROGEOLOGI

 

Menurut Kiemes (2005) Ketergantungan manusia terhadap tanah telah ditegaskan Allah swt,dalam firman-firmanNya baik dalam Taurat dan Injil maupun dalam Al-Quran yang diturunkan pada 1400 tahun yang lalu,yang berbunyi sebagai berikut: Allah berfirman : “Di bumi (tanah) itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu(pula) kamu akan dibangkitkan (QS Al-A’raaf: 25) dan disurat lain Allah berfirman: Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain (QS Thaha : 55).

weh,…weh,…dah tau betapa pentingnya Tanah kan, nah disini akan dibahas tentang klasifikasi tanah, dan mengapa tanah diklasifikasikan,….??? mau tau,…?

NEXT

KLASIFIKASI TANAH

 

Klasifikasi tanah meupakan usaha membeda-bedakan atau   mengelompokkan tanah   berdasar  kan sifat-sifatnya

•TUJUAN KLASIFIKASI TANAH

1.   menyusun pengetahuan tentang tanah scr sistematis.

2.  mengetahui hubungan masing2 individu tanah satu sama lain.

3.  memudahkan mengingat sifat2 tanah.

4.  mengelompokkan tanah utk tujuan2 yg lebih praktis dlm hal:

–memprediksi sifat2 tanah

–memprediksi produktivitas tanah

–menentukan areal2 utk penelitian, atau kemungkinan ekstrapolasi hasil penelitian di suatu tempat.

•DEFINISI

Kelas:  Kelompok individu dg sifat 2 tertentu yg sama.

Takson (Taksa): Suatu kelas pada tingkat taksonomik (pengelompokan) tertentu, atau kelas pd kategori tertentu.

Kategori:  Susunan taksa berdasar perbedaan sifat pada masing 2 tingkat klasifikasi, dan terdiri atas semua kelas. (Kategori merupakan kumpulan dari kelas).

Sifat-sifat Pembeda:  Sifat2 tanah yg digunakan sbg pembeda utk mengelompokkan individu 2 tanah.

Sifat Kategori Berganda:  Sistem kategori yg berhirarkis.

–Kategori tertinggi punya kelas2 yg > sedikit dan dibedakan atas dasar sifat 2 yg > umum dan > sedikit jumlahnya.

–Kategori rendah sep seri tanah t.a. > banyak kelas yg masing 2 dibedakan atas dasar sifat 2 yg  > specifik dan > jumlahnya.

•Sistem Klasifikasi Tanah di Indonesia

•Sebelum th 1988 ada 3 sistem :

-   Pusat Penelitian Tanah (PPT)

-  FAO/UNESCO dan

–Taksonomi Tanah.

•Sejak th 1988 hanya gunakan sistem    Taksonomi Tanah (Soil Taxonomy).

•KATEGORI DALAM TAKSONOMI TANAH

•Ordo (12 taksa) : Faktor pembeda (FP): proses2 pbtkan tnh (epipedon, endopedon, bahan dan sifat)

•Subordo: (63 taksa):  FP : yg mengendalikan proses pbtkn tnh sep: iklim tanah (sebag besar ordo), jenis garam (Aridisol), bh induk (Entisol), tk dekomposisi (Histosol), ada/tdk krioturbasi (Gelisol)

•Great group: (> 250 taksa). FP: kesamaan jenis, tingkat perkembangan dan susunan hor, KB, iklim tanah, ada/tidaknya lapisan2 penciri lain sep plintit, fragipan, duripan.

•Subgroup:  (>1400 taksa). Faktor pembeda: sifat2 inti dr great group (Typic); sifat2  tanah peralihan ke great group lain, subordo atau ordo (intergrade); sifat2 tanah peralihan ke bukan tanah (extragrade).

•Famili: (> 8000 taksa). FP : sifat2 tanah yg penting utk pertanian/keteknikan.  (sebaran besar butir, susunan mineral liat, regim suhu tanah pd kedalaman 50 cm).

•Seri: (di AS > 19.000). FP: morfologi tanah

Ciri Pembeda Setiap Kategori:

Kategori Ordo Tanah:
Ordo tanah dibedakan berdasarkan ada tidaknya horison penciri serta jenis (sifat) dari horison penciri tersebut.
Sebagai contoh: suatu tanah yang memiliki horison argilik dan berkejenuhan basa lebih besar dari 35% termasuk ordo Alfisol. Sedangkan tanah lain yang memiliki horison argilik tetapi berkejenuhan basa kurang dari 35% termasuk ordo Ultisol.
Contoh tata nama tanah kategori Ordo:
Ultisol.
(Keterangan: tanah memiliki horison argilik dan berkejenuhan basa kurang dari 35% serta telah mengalami perkembangan tanah tingkat akhir = Ultus). Nama ordo tanah Ultisol pada tata nama untuk kategori sub ordo akan digunakan singkatan dari nama ordo tersebut, yaitu: Ult merupakan singkatan dari ordo Ultisol).

Kategori Sub-ordo Tanah:
Sub-ordo tanah dibedakan berdasarkan perbedaan genetik tanah, misalnya: ada tidaknya sifat-sifat tanah yang berhubungan dengan pengaruh: (1) air, (2) regim kelembaban, (3) bahan iduk utama, dan (4) vegetasi. Sedangkan pembeda sub-ordo untuk tanah ordo histosol (tanah organik) adalah tingkat pelapukan dari bahan organik pembentuknya: fibris, hemis, dan safris.
Contoh tata nama tanah kategori Sub Ordo:
Udult.
(Keterangan: tanah berordo Ultisol yang memiliki regim kelembaban yang selalu lembab dan tidak pernah kering yang disebut: Udus, sehingga digunakan singkatan kata penciri kelembaban ini yaitu: Ud. Kata Ud ditambahkan pada nama Ordo tanahUltisol yang telah disingkat Ult, menjadi kata untuk tata nama kategori sub-ordo, yaitu: Udult).

Kategori Great Group Tanah:
Great Group tanah dibedakan berdasarkan perbedaan: (1) jenis, (2) tingkat perkembangan, (3) susunan horison, (4) kejenuhan basa, (5) regi suhu, dan (6) kelembaban, serta (7) ada tidaknya lapisan-lapisan penciri lain, seperti: plinthite, fragipan, dan duripan.
Contoh tata nama tanah kategori Great Group:
Fragiudult.
(Keterangan: tanah tersebut memiliki lapisan padas yang rapuh yang disebut Fragipan, sehingga ditambahkan singkatan kata dari Fragipan, yaitu: Fragi. Kata Fragi ditambahkan pada Sub Ordo: Udult, menjadi kata untuk tata nama kategori great group, yaitu: Fragiudult)

Kategori Sub Group Tanah:
Sub Group tanah dibedakan berdasarkan: (1) sifat inti dari great group dan diberi nama Typic, (2) sifat-sifat tanah peralihan ke: (a) great group lain, (b) sub ordo lain, dan (c) ordo lain, serta (d) ke bukan tanah.
Contoh tata nama tanah kategori Sub Group:
Aquic Fragiudult.
(keterangan: tanah tersebut memiliki sifat peralihan ke sub ordo Aquult karena kadang-kadang adanya pengaruh air, sehingga termasuk sub group Aquic).

Kategori Famili Tanah:
Famili tanah dibedakan berdasarkan sifat-sifat tanah yang penting untuk pertanian dan atau engineering, meliputi sifat tanah: (1) sebaran besar butir, (2) susunan mineral liat, (3) regim temperatur pada kedalaman 50 cm.
Contoh tata nama tanah pada kategori Famili:
Aquic Fragiudult, berliat halus, kaolinitik, isohipertermik.
(keterangan: Penciri Famili dari tanah ini adalah: (1) susunan besar butir adalah berliat halus, (2) susunan mineral liat adalah didominasi oleh mineral liat kaolinit, (3) regim temperatur adalah isohipertermik, yaitu suhu tanah lebih dari 22 derajat celsius dengan perbedaan suhu tanah musim panas dengan musim dingin kurang dari 5 derajat celsius).

Kategori Seri Tanah:
Seri tanah dibedakan berdasarkan: (1) jenis dan susunan horison, (2) warna, (3) tekstur, (4) struktur, (5) konsistensi, (6) reaksi tanah dari masing-masing horison, (7) sifat-sifat kimia tanah lainnya, dan (8) sifat-sifat mineral dari masing-masing horison. Penetapan pertama kali kategori Seri tanah dapat digunakan nama lokasi tersebut sebagai penciri seri.
Contoh tata nama tanah pada kategori Seri:
Aquic Fragiudult, berliat halus, kaolinitik, isohipertermik, Sitiung.
(Keterangan: Sitiung merupakan lokasi pertama kali ditemukan tanah pada kategori Seri tersebut).

Sistem klasifikasi tanah ini berbeda dengan sistem yang sudah ada sebelumnya. Sistem klasifikasi ini memiliki keistimewaan terutama dalam hal:
1. Penamaan atau Tata Nama atau cara penamaan.
2. Definisi-definisi horison penciri.
3. Beberapa sifat penciri lainnya.Sistem klasifikasi tanah terbaru ini memberikan Penamaan Tanah berdasarkan sifat utama dari tanah tersebut.

Menurut Hardjowigeno (1992) terdapat 10 ordo tanah dalam sistem Taksonomi Tanah USDA 1975 dengan disertai singkatan nama ordo tersebut, adalah sebagai berikiut:
1. Alfisol –> disingkat: Alf
2. Aridisol –> disingkat: Id
3. Entisol –> disingkat: Ent
4. Histosol –> disingkat: Ist
5. Inceptisol –> disingkat: Ept
6. Mollisol –> disingkat: Oll
7. Oxisol –> disingkat: Ox
8. Spodosol –> disingkat: Od
9. Ultisol –> disingkat: Ult
10. Vertisol –> disingkat: Ert

Selanjutnya, sistem klasifikasi tanah ini telah berkembang dari 10 ordo pata tahun 1975 menjadi 12 ordo tahun 2003 (Rayes, 2007). Kedua-belas ordo tersebut dibedakan berdasarkan:
(1) ada atau tidaknya horison penciri,
(2) jenis horison penciri, dan
(3) sifat-sifat tanah lain yang merupakan hasil dari proses pembentukan tanah, meliputi:
3.1 penciri khusus, dan
3.2 penciri lainnya.

Horizon Penciri terdiri dari dua bagian:
(a) horizon atas (permukaan) atau epipedon, dan
(b) horizon bawah atau endopedon.

Epipedon atau horison atas / permukaan penciri dibedakan dalam 8 kategori (Soil Survey Staff, 2003), yaitu:
(a) epipedon mollik,
(b) epipedon umbrik,
(c) epipedon okrik,
(d) epipedon histik,
(e) epipedon melanik,
(f) epipedon anthropik,
(g) epipedon folistik, dan
(h) epipedon plagen.

Endopedon atau horizon bawah penciri dibedakan menjadi 13 (Soil Survey Satff, 2003), yiatu:
(a) horizon argilik,
(b) horizon kambik,
(c) horizon kandik,
(d) horizon kalsik,
(e) horizon oksik,
(f) horison gipsik,
(g) horizon petrokalsik,
(h) horizon natrik,
(i) horizon plakik,
(j) horizon spodik,
(k) horizon sulfuric,
(l) horizon albik.

Beberapa Sifat Penciri Khusus, adalah:
(a) konkresi,
(b) padas (pan),
(c) fraipan, (duripan),
(d) Plintit,
(e) slickenside,
(f) selaput liat,
(g) kontak litik,
(h) kontak paralithik.

Beberapa Sifat Penciri Lain, adalah:
(a) rezim suhu tanah,
(b) rezim lengas tanah, dan
(c) sifat-sifat tanah Andik.

Rezim suhu tanah dibedakan dalam 3 kategori, yaitu:
(a) mesic: merupakan suhu tanah rata-rata tahunan 8oC s/d 15oC.
(b) thermic: merupakan suhu tanah rata-rata tahunan 15oC s/d 22oC.
(c) hyperthermic: merupakan suhu tanah rata-rata tahunan > 22oC.
Istilah iso (iso-mesic, iso-thermic, iso-hyperthermic) digunakan untuk menunjukkan perbedaan suhu tanah rata-rata musim panas dan musim dingin < 6oC).

Rezim lengas tanah dibedakan dalam 4 kategori, yaitu:
(a) aquic: tanah hampir selalu jenuh air, sehingga terjadi reduksi dan ditunjukkan oleh adanya karatan dengan chroma rendah (chroma < 2 dan value < 4). (b) perudic: curah hujan setiap bulan selalu melebihi evapotranspirasi. (c) udic: tanah tidak pernah kering selama 90 hari (kumulatif) setiap tahunnya. (d) ustic: tanah setiap tahunnya kering lebih dari 90 hari (kumulatif) tetapi kurang dari 180 hari. Pengertian 10 ordo tanah menurut Hardjowigeno (1992) adalah sebagai berikut:

Alfisol:
Tanah yang termasuk ordo Alfisol merupakan tanah-tanah yang terdapat penimbunan liat di horison bawah (terdapat horison argilik)dan mempunyai kejenuhan basa tinggi yaitu lebih dari 35% pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah. Liat yang tertimbun di horison bawah ini berasal dari horison di atasnya dan tercuci kebawah bersama dengan gerakan air. Padanan dengan sistem klasifikasi yang lama adalah termasuk tanah Mediteran Merah Kuning, Latosol, kadang-kadang juga Podzolik Merah Kuning.

Aridisol:
Tanah yang termasuk ordo Aridisol merupakan tanah-tanah yang mempunyai kelembapan tanah arid (sangat kering). Mempunyai epipedon ochrik, kadang-kadang dengan horison penciri lain. Padanan dengan klasifikasi lama adalah termasuk Desert Soil.

Entisol:
Tanah yang termasuk ordo Entisol merupakan tanah-tanah yang masih sangat muda yaitu baru tingkat permulaan dalam perkembangan. Tidak ada horison penciri lain kecuali epipedon ochrik, albik atau histik. Kata Ent berarti recent atau baru. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial atau Regosol.

Histosol:
Tanah yang termasuk ordo Histosol merupakan tanah-tanah dengan kandungan bahan organik lebih dari 20% (untuk tanah bertekstur pasir) atau lebih dari 30% (untuk tanah bertekstur liat). Lapisan yang mengandung bahan organik tinggi tersebut tebalnya lebih dari 40 cm. Kata Histos berarti jaringan tanaman. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Organik atau Organosol.

Inceptisol:
Tanah yang termasuk ordo Inceptisol merupakan tanah muda, tetapi lebih berkembang daripada Entisol. Kata Inceptisol berasal dari kata Inceptum yang berarti permulaan. Umumnya mempunyai horison kambik. Tanah ini belum berkembang lanjut, sehingga kebanyakan dari tanah ini cukup subur. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial, Andosol, Regosol, Gleihumus, dll.

Mollisol:
Tanah yang termasuk ordo Mollisol merupakan tanah dengan tebal epipedon lebih dari 18 cm yang berwarna hitam (gelap), kandungan bahan organik lebih dari 1%, kejenuhan basa lebih dari 50%. Agregasi tanah baik, sehingga tanah tidak keras bila kering. Kata Mollisol berasal dari kata Mollis yang berarti lunak. Padanan dengan sistem kalsifikasi lama adalah termasuk tanah Chernozem, Brunize4m, Rendzina, dll.

Oxisol:
Tanah yang termasuk ordo Oxisol merupakan tanah tua sehingga mineral mudah lapuk tinggal sedikit. Kandungan liat tinggi tetapi tidak aktif sehingga kapasitas tukar kation (KTK) rendah, yaitu kurang dari 16 me/100 g liat. Banyak mengandung oksida-oksida besi atau oksida Al. Berdasarkan pengamatan di lapang, tanah ini menunjukkan batas-batas horison yang tidak jelas. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Latosol (Latosol Merah & Latosol Merah Kuning), Lateritik, atau Podzolik Merah Kuning.

Spodosol:
Tanah yang termasuk ordo Spodosol merupakan tanah dengan horison bawah terjadi penimbunan Fe dan Al-oksida dan humus (horison spodik) sedang, dilapisan atas terdapat horison eluviasi (pencucian) yang berwarna pucat (albic). Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzol.

Ultisol:
Tanah yang termasuk ordo Ultisol merupakan tanah-tanah yang terjadi penimbunan liat di horison bawah, bersifat masam, kejenuhan basa pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah kurang dari 35%. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzolik Merah Kuning, Latosol, dan Hidromorf Kelabu.

Vertisol:
Tanah yang termasuk ordo Vertisol merupakan tanah dengan kandungan liat tinggi (lebih dari 30%) di seluruh horison, mempunyai sifat mengembang dan mengkerut. Kalau kering tanah mengkerut sehingga tanah pecah-pecah dan keras. Kalau basah mengembang dan lengket. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Grumusol atau Margalit.


GLOBAL SOIL REGIONS

Beberapa alat dan bahan referensi yg diperlukan utk mendeskripsi dan mengklasifikasikan tanah di lapangan:

 

Deskripsi profil tanah

Daftar Pustaka:

Hardjowigeno, S. 1992. Ilmu Tanah. Edisi ketiga. PT. Mediyatama Sarana Perkasa. Jakarta. 233 halaman.

Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akademika Pressindo. Jakarta. 274 Halaman.

Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar online. Jurusan Tanah. Fakultas Pertanian. Universitas Sriwijaya. Http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.

Rayes, M. L. 2007. Metode Inventarisasi Sumber Daya Lahan. Penerbit Andi Yogyakarta. Yogyakarta. 298 halaman.

 

alah satu sistem klasifikasi tanah yang telah dikembangkan Amerika Serikat dikenal dengan nama: Soil Taxonomy (USDA, 1975). Sistem klasifikasi ini menggunakan enam (6) kateori, yaitu:
1. Ordo
2. Subordo
3. Great group
4. Subgroup
5. Family
6. seri

Sistem klasifikasi tanah ini berbeda dengan sistem yang sudah ada sebelumnya. Sistem klasifikasi ini memiliki keistimewaan terutama dalam hal:
1. Penamaan atau Tata Nama atau cara penamaan.
2. Definisi-definisi horison penciri.
3. Beberapa sifat penciri lainnya.

Sistem klasifikasi tanah terbaru ini memberikan Penamaan Tanah berdasarkan sifat utama dari tanah tersebut. Menurut Hardjowigeno (1992)terdapat 10 ordo tanah dalam sistem Taksonomi Tanah USDA 1975, yaitu:
1. Alfisol
2. Aridisol
3. Entisol
4. Histosol
5. Inceptisol
6. Mollisol
7. Oxisol
8. Spodosol
9. Ultisol
10. Vertisol

Alfisol:
Tanah yang termasuk ordo Alfisol merupakan tanah-tanah yang terdapat penimbunan liat di horison bawah (terdapat horison argilik)dan mempunyai kejenuhan basa tinggi yaitu lebih dari 35% pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah. Liat yang tertimbun di horison bawah ini berasal dari horison di atasnya dan tercuci kebawah bersama dengan gerakan air. Padanan dengan sistem klasifikasi yang lama adalah termasuk tanah Mediteran Merah Kuning, Latosol, kadang-kadang juga Podzolik Merah Kuning.

Aridisol:
Tanah yang termasuk ordo Aridisol merupakan tanah-tanah yang mempunyai kelembapan tanah arid (sangat kering). Mempunyai epipedon ochrik, kadang-kadang dengan horison penciri lain. Padanan dengan klasifikasi lama adalah termasuk Desert Soil.

Entisol:
Tanah yang termasuk ordo Entisol merupakan tanah-tanah yang masih sangat muda yaitu baru tingkat permulaan dalam perkembangan. Tidak ada horison penciri lain kecuali epipedon ochrik, albik atau histik. Kata Ent berarti recent atau baru. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial atau Regosol.

Histosol:
Tanah yang termasuk ordo Histosol merupakan tanah-tanah dengan kandungan bahan organik lebih dari 20% (untuk tanah bertekstur pasir) atau lebih dari 30% (untuk tanah bertekstur liat). Lapisan yang mengandung bahan organik tinggi tersebut tebalnya lebih dari 40 cm. Kata Histos berarti jaringan tanaman. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Organik atau Organosol.

Inceptisol:
Tanah yang termasuk ordo Inceptisol merupakan tanah muda, tetapi lebih berkembang daripada Entisol. Kata Inceptisol berasal dari kata Inceptum yang berarti permulaan. Umumnya mempunyai horison kambik. Tanah ini belum berkembang lanjut, sehingga kebanyakan dari tanah ini cukup subur. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial, Andosol, Regosol, Gleihumus, dll.

Mollisol:
Tanah yang termasuk ordo Mollisol merupakan tanah dengan tebal epipedon lebih dari 18 cm yang berwarna hitam (gelap), kandungan bahan organik lebih dari 1%, kejenuhan basa lebih dari 50%. Agregasi tanah baik, sehingga tanah tidak keras bila kering. Kata Mollisol berasal dari kata Mollis yang berarti lunak. Padanan dengan sistem kalsifikasi lama adalah termasuk tanah Chernozem, Brunize4m, Rendzina, dll.

Oxisol:
Tanah yang termasuk ordo Oxisol merupakan tanah tua sehingga mineral mudah lapuk tinggal sedikit. Kandungan liat tinggi tetapi tidak aktif sehingga kapasitas tukar kation (KTK) rendah, yaitu kurang dari 16 me/100 g liat. Banyak mengandung oksida-oksida besi atau oksida Al. Berdasarkan pengamatan di lapang, tanah ini menunjukkan batas-batas horison yang tidak jelas. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Latosol (Latosol Merah & Latosol Merah Kuning), Lateritik, atau Podzolik Merah Kuning.

Spodosol:
Tanah yang termasuk ordo Spodosol merupakan tanah dengan horison bawah terjadi penimbunan Fe dan Al-oksida dan humus (horison spodik) sedang, dilapisan atas terdapat horison eluviasi (pencucian) yang berwarna pucat (albic). Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzol.

Ultisol:
Tanah yang termasuk ordo Ultisol merupakan tanah-tanah yang terjadi penimbunan liat di horison bawah, bersifat masam, kejenuhan basa pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah kurang dari 35%. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzolik Merah Kuning, Latosol, dan Hidromorf Kelabu.

Vertisol:
Tanah yang termasuk ordo Vertisol merupakan tanah dengan kandungan liat tinggi (lebih dari 30%) di seluruh horison, mempunyai sifat mengembang dan mengkerut. Kalau kering tanah mengkerut sehingga tanah pecah-pecah dan keras. Kalau basah mengembang dan lengket. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Grumusol atau Margalit.

Daftar Pustaka:
Hardjowigeno, S. 1992. Ilmu Tanah. Edisi ketiga. PT. Mediyatama Sarana Perkasa. Jakarta. 233 halaman.

Penghasilan Online: http://klikdynasis.net/?id=AB148

 

KONSEP UTAMA ORDO TANAH

Oleh : Herlina Tubaran

Ordo-ordo tanah beserta garis besar karakteristik dan penyebarannya adalah sebagai berikut:

1. Alfisol : yaitu tanah-tanah yang menyebar di daerah-daerah semiarid (beriklim kering sedang) sampai daerah tropis (lembap).Tanah ini terbentuk dari proses-proses pelapukan, serta telah mengalami pencucian mineral liat dan unsur-unsur lainnya dari bagian lapisan permukaan ke bagian subsoilnya (lapisan tanah bagian bawah), yang merupakan bagian yang menyuplai air dan unsur hara untuk tanaman. Tanah ini cukup produktif untuk pengembangan berbagai komoditas tanaman pertanian mulai tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan. Tingkat kesuburannya (secara kimiawi) tergolong baik. pH-nya rata-rata mendekati netral. Di seluruh dunia diperkirakan Alfisol penyebarannya meliputi 10% daratan.

2. Andisol : yaitu tanah yang pembentukannya melalui proses-proses pelapukan yang menghasilkan mineral-mineral dengan struktur kristal yang cukup rapih. Mineral-mineral ini mengakibatkan Andisol memiliki daya pegang terhadap unsur hara dan air yang tinggi. Tanah ini umumnya dijumpai di daerah-daerah yang dingin (pada ketinggian di atas 1000 m dpl) dengan tingkat curah hujan yang sedang sampai tinggi, terutama daerah-daerah yang ada hubungannya dengan material volkanik.

Andisol cenderung menjadi tanah yang cukup produktif, terutama setelah diberi masukan amelioran (seperti pupuk anorganik). Andisol seringkali dimanfaatkan orang untuk pengembangan pertanian tanaman pangan dan sayur-sayuran atau bunga-bungaan (seperti di daerah Lembang Kabupaten Bandung). Andisol diperkirakan meliputi sekitar 1% dari luas permukaan daratan dunia di luar daratan es.

3. Aridisol : adalah tanah-tanah yang berada di daerah-daerah dengan tingkat kekeringan yang ekstrem (sangat kering), bahkan sekalipun untuk petumbuhan vegetasi-vegetasi mesopit (seperti rumput). Sehubungan dengan lingkungannya yang kering, Aridisol termasuk sangat sulit dimanfaatkan sebagai lahan untuk bercocok tanam, terutama apabila sumber air untuk irigasi tidak tersedia (air tanah atau sungai).

Aridisol umumnya dijumpai di padang-padang pasir dunia, dan diperkirakan luasnya mencakup sekitar 12% dari daratan bumi (di luar daratan es).

4. Entisol : terjadi di daerah dengan bahan induk dari pengendapan material baru atau di daerah-daerah tempat laju erosi atau pengendapan lebih cepat dibandingkan dengan laju pembentukan tanah; seperti daerah bukit pasir, daerah dengan kemiringan lahan yang curam, dan daerah dataran banjir. Pertanian yang dikembangkan di tanah ini umumnya adalah padi sawah secara monokultur atau digilir dengan sayuran/palawija. Entisol diperkirakan terdapat sekitar 16% dari permukaan daratan bumi, di luar daratan es.

5. Gelisol : adalah tanah yang terbentuk dalam lingkungan permafrost (lingkungan yang sangat dingin). Dinamakan Gelisol, karena terbentuknya dari material Gelic (campuran bahan mineral dan organik tanah yang tersegregasi es pada lapisan yang aktif). Belum banyak penelitian yang dilakukan terhadap jenis tanah ini, dan sehubungan dengan kondisinya yang berada pada iklim yang ekstrim, diperkirakan tidak ada Gelisol yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanaman. Diperkirakan penyebarannya meliputi sekitar 9% daratan permukaan bumi.

6. Histosol (gambut) : merupakan tanah yang mengandung bahan organik tinggi dan tidak mengalami permafrost. Kebanyakan selalu dalam keadaan tergenang sepanjang tahun, atau telah didrainase oleh manusia. Histosol biasa disebut sebagai gambut. Terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan, sampah hutan, atau lumut yang cepat membusuk yang terdekomposisi dan terendapkan dalam air. Penggunaan Histosol paling ekstensif adalah sebagai lahan pertanian, terutama untuk tanaman sayur-sayuran seperti buncis, kacang panjang, bayam, dan lain-lain. Histosol menyusun sekitar 1% dari daratan dunia.

7. Inceptisol : adalah tanah-tanah yang menyebar mulai di lingkungan iklim semiarid (agak kering) sampai iklim lembap. Memiliki tingkat pelapukan dan perkembangan tanah yang tergolong sedang . Umumnya tanah ini bekembang dari formasi geologi tuff volkan, namun ada juga sebagian yang terbentuk dari batuan sedimen seperti batu pasir (sandstone), batu lanau (siltstone), atau batu liat (claystone).

Pemanfaatannya pun oleh manusia bervariasi sangat luas pula, mulai untuk bercocok tanam hortikultura tanaman pangan, sampai dikembangkan sebagai lahan-lahan perkebunan besar seperti sawit, kakao, kopi, dan lain sebagainya, bahkan pada daerah-daerah yang eksotis, dikembangkan pula untuk agrowisata. Inceptisol menyusun sekitar 17% dari tanah dunia di luar daratan es.

8. Mollisol : adalah tanah yang mempunyai horison (lapisan) permukaan berwarna gelap yang mengandung bahan organik yang tinggi. Tanah ini kaya akan kation-kation basa, oleh karena itu tanah ini juga tergolong sangat subur. Mollisol secara karakter terbentuk di bawah rumput dalam iklim yang sedang. Tanah ini tersebar luas di daerah-daerah stepa di Eropa, Asia, Amerika Utara, dan Amerika Selatan.

Walaupun dikatakan subur (dengan kondisi yang dijelaskan di atas), namun intensitas pengelolaan dan pemanfaatannya relatif masih rendah. Mollisol diperkirakan meliputi luasan sekitar 7% dari tanah dunia.

9. Oxisol :adalah tanah yang telah mengalami pelapukan tingkat lanjut di daerah-daerah subtropis dan tropis. Kandungan tanah ini didominasi oleh mineral-mineral dengan aktivitas rendah, seperti kwarsa, kaolin, dan besi oksida. Tanah ini memiliki kesuburan alami yang rendah. Reaksi jenis tanah ini adalah masam, kandungan Al yang tinggi, unsur hara rendah, sehingga diperlukan pengapuran dan pemupukan serta pengelolaan yang baik agar tanah dapat menjadi produktif dan tidak rusak. Oxisol meliputi sekitar 8% dari daratan dunia. Adapun di Indonesia, banyak dijumpai di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

10. Spodosol : merupakan tanah yang terbentuk dari proses-proses pelapukan yang di dalamnya terdapat lapisan iluviasi (penumpukan) bahan organik berkombinasi dengan aluminium (dengan atau tanpa besi). Tanah ini cenderung tidak subur (kurus unsur hara) dengn pH masam. Sebaiknya tanah Spodosol tidak dijadikan lahan pertanian, tetapi tetap dibiarkan sebagai hutan. Selain kesuburannya rendah, tanah ini juga peka terhadap erosi karena teksturnya berpasir sehingga cenderung gembur (remah). Spodosol menyusun sekitar 4% lahan-lahan di dunia.

11. Ultisol : adalah tanah-tanah yang terbentuk di daerah yang lembap. Mengingat beberapa kendala dari tanah Ultisol, baik ditinjau dari segi fisik, kimia, maupun biologinya, maka tanah ini sebaiknya tidak digunakan untuk pertanian tanaman pangan terlalu intensif, dalam arti jangan ditanami tanaman semusim sepanjang tahun, tetapi perlu diselingi dengan tanaman pupuk hijau, serta lebih ditingkatkan penggunaan dan penanaman berbagai jenis tanaman leguminosa.Ultisol diperkirakan meliputi sekitar 8% dari lahan-lahan di dunia.

12. Vertisol: adalah tanah yang memiliki sifat khusus, yakni mempunyai sifat vertik, karena mengandung banyak mineral liat yang mudah mengembang apabila basah atau lembap, tetapi kembali mengerut apabila kering. Akibatnya, tanah ini seringkali mengalami perubahan volume dengan berubahnya kelembapan. Oleh karena itu, tanah ini dicirikan mempunyai rekahan yang membuka dan menutup secara periodik. Sifat fisiknya yang konsisten keras, menjadikan tanah ini termasuk berat untuk diolah. Tanah ini diperkirakan meliputi 2% dari daratan di dunia.

Dari dua belas ordo tanah yang telah diuraikan di atas, dua ordo di antaranya yaitu Aridisol dan Gelisol tidak terdapat di bumi Indonesia, karena memang kedua jenis tanah ini berkembangnya di daerah-daerah dengan kondisi iklim ekstrem. Sedangka

 

 

 

 

 

Ultisols

  • Sifat /Ciri Utama

Tanah yang termasuk ordo Ultisol merupakan tanah-tanah yang terjadi penimbunan liat di horison bawah, bersifat masam, kejenuhan basa pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah kurang dari 35%. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzolik Merah Kuning, Latosol, dan Hidromorf Kelabu. Seperti dibawah ini :

Fisik:                                                                           Kimia:

  1. Kedalaman solum sedang ( 1-2 meter )          1. Ph < 5,5
  2. Warna merah atau kuning                               2.   BO rendah – sedang.
  3. Tekstur halus pada horizon Bt.                       3.   KB < 35 %
  4. Konsistensi teguh.                                           4.   KTK < 24 me /100 gr liat.
  5. Permeabilitas lambat sampai baik.                  5.   Nutrisi rendah.
  • Faktor  Kendala
  1. Mengalami proses pecucian sangat efektif.
  2. Kadar mineral lapuknya sangat rendah.
  3. Kejenuhan Al , Fe dan Mn tinggi .
  4. Kadar bahan organik rendah dan kadar N rendah .
  5. Kandungan fosfor dan kalium tanah rendah.
  6. Daya simpan air terbatas.
  7. Kedalaman efektif terbatas.
  • Cara Pengendalian
  1. Untuk meningkatkan produktivitas tanah dapat dilakukan melalui pemberian kapur, pemupukan , penambahan BO, dan penanaman tanaman adaptif.
  2. Penerapan teknik budidaya tanaman lorong ( tumpang sari ), terasiring, drainase dan pengolahan tanah yang seminim mungkin.
  3. Memperbanyak tanaman penutup tanah seperti rumput atau alang-alang.
  4. Melakukan rotasi tanaman untuk menjaga ketersediaan unsur hara.
  5. Tanah ini sebaiknya tidak digunakan untuk pertanian tanaman pangan terlalu intensif, dalam arti jangan ditanami tanaman semusim sepanjang tahun, tetapi perlu diselingi dengan tanaman pupuk hijau, serta lebih ditingkatkan penggunaan dan penanaman berbagai jenis tanaman leguminosa.
  • Lokasi/ Ha

Ultisol di Indonesia yang mempunyai sebaran luas, mencapai 45.794.000 ha atau sekitar 25% dari total luas daratan Indonesia (Subagyo et al. 2004).

  • Usaha Pertanian Yang Cocok
  1. Harus adanya penutup lahan agar tanah tidak terkena sinar matahari langsung seperti Pemberian mulsa, berupa sisa-sisa tanaman, untuk mempertahankan kelembaban tanah, mengurangi alian permukaan/erosi, dan menambah bahan organik.
  2. Tanah ini sebaiknya tidak digunakan untuk pertanian tanaman pangan terlalu intensif, dalam arti jangan ditanami tanaman semusim sepanjang tahun, tetapi perlu diselingi dengan tanaman pupuk hijau, serta lebih ditingkatkan penggunaan dan penanaman berbagai jenis tanaman leguminosa.
  3. Penanaman pohon-pohon produktif, yang menghasilkan buah, getah dan produk lainnya, yang dapat melindungi permukaan tanah dari terpaan air hujan dan aliran permukaan.
  4. Untuk tanaman pangan dilakukan pergiliran tanaman.

Entisols

  • Sifat /Ciri Utama

Tanah yang termasuk ordo Entisol merupakan tanah-tanah yang masih sangat muda yaitu baru tingkat permulaan dalam perkembangan. Tidak ada horison penciri lain kecuali epipedon ochrik, albik atau histik. Entisol terjadi di daerah dengan bahan induk dari pengendapan material baru atau di daerah-daerah tempat laju erosi atau pengendapan lebih cepat dibandingkan dengan laju pembentukan tanah. Kata Ent berarti recent atau baru. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial atau Regosol.

  • Faktor  Kendala

1.   Iklim yang sangat ekstrim basah atau kering, sehingga perombakan bahan induk terhambat.

2.   Bahan induk yang sangat resisten terhadap pelapukan, misalnya kuarsa.

3. Adanya faktor erosi yang selalu menggerus epipedon, sehingga tidak pernah terbentuk horison iluviasi.

  • Cara Pengendalian
  1. Memperbanyak tanaman penutup tanah seperti rumput atau alang-alang.
  2. Pembuatan terasering pada lereng-lereng agar tidak mudah tererosi.
  3. Pemberian mulsa (plastic atau organic)  dan bedengan untuk mengurangi penguapan dan memperbaiki drainase.
  4. Membiarkan apa adanya tanaman yang sudah alami disitu atau melakukan penanaman pohon-pohon untuk jadi hutan lindung, karena kurang baik untuk budidaya.
  5. Melakukan rotasi tanaman untuk menjaga ketersediaan unsur hara.
  6. Pada daerah berlereng memanfaatkan dengan system agroforestri.
  • Lokasi/ Ha

1.   Entisol merupakan tanah yang tersebar luas di permukaan bumi mulai dari kutub sampai dengan daerah ekuator.

2.   Luas areal entisol sekitar 10,6 % dari luas kepulauan Indonesia.

3.   Jenis tanah ini bnyak ditemukan di Irian Jaya (5.6 juta ha)Kalimantan  Tengah(1.54 juta ha),Sumatera Selatan(1.27 juta ha) dan NTT (0.91 juta ha).

  • Usaha Pertanian Yang Cocok

1.   Untuk entisol yang disawahkan memerlukan upaya pemantauan dari satu periode ke periode lainnya, dikhawatirkan timbulnya degradasi akibat budidaya

2.   Pertanian yang dikembangkan di tanah ini sebaiknya adalah padi sawah secara monokultur atau digilir dengan sayuran/palawija

3.   Entisol yang tergolong suborder Psamment di mana tekstur pasir sangat mendominasi, maka pemanfaatannya diarahkan kepada kawasan lindung mutlak.

4.   Pertanian yang dikembangkan di tanah ini sebaiknya adalah padi sawah secara monokultur atau digilir dengan sayuran/palawija

Histosols

  • Ø Sifat /Ciri Utama

1.   Tidak mempunyai horizon.

2.   Berwarna kroma mantap atau meningkat dengan bertambahnya kedalaman dan mempunyai warna kurang dari 3.

3.   ketebalan BO mencapai puluhan meter bisa sampai ratusan meter.

4.   Mempunyai epipedon histik.

5.   Tekstur beragam.

6.   Tidak berstruktur atau berblok pada lapisan atas.

7.   Bahan organik fibrik, hemik atau saprik.

8.   Tanah yang termasuk ordo Histosol merupakan tanah-tanah dengan kandungan bahan organik lebih dari 20% (untuk tanah bertekstur pasir) atau lebih dari 30% (untuk tanah bertekstur liat). Lapisan yang mengandung bahan organik tinggi tersebut tebalnya lebih dari 40 cm. Kata Histos berarti jaringan tanaman. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Organik atau Organosol.

  • Faktor  Kendala
  1. pH rendah.
  2. Jenuh air.
  3. Drainase jelek.
  4. Air tanah dangkal.
  5. Daya penyangga mekanis jelek.
  6. Miskin unsur hara.
  7. Mudah terbakar.
  • Cara Pengendalian
  1. Pengapuran.
  2. Pemupukan unsure makro dan mikro.
  3. Pembuatan saluran drainase.
  4. Dijadikan kawasan konservasi.
  5. Tidak menebang dan membabat vegetasi didaerah tersebut.
  • Lokasi/ Ha

Histosols tersebar hampir diseluruh dunia meskipun hanya meliputi 2% dari luas dunia.Sebagaian besar tersebar di Asia Selatan pada daerah tropika basah dan konsentrasi di sekitar flat sunda(Malaysia dan Kalimantan)lebih dari 20 juta ha .17 juta ha berada di Indonesia meliputi sumatera 9,7 juta ha dan Kalimantan 6,3 juta ha.

  • Usaha Pertanian Yang Cocok

Potensi pengembangan lahan gambut untuk pertanian adalah sebagai berikut :

  1. Padi sawah.
  2. Tanaman semusim dan tanaman tahunan dapat dibudidayakan pada lahan gambut tetapi yang paling berhasil atau menunjukkan harapan adalah tanaman sayuran seperti : buncis, kacang panjang, bayam. Tanaman buah-buahan (seperti nanas, pepaya dan rambutan). Dan tanaman perkebunan (terutama kelapa, kelapa sawit, kopi dan karet)

Inceptisols

  • Ø Sifat /Ciri Utama
  1. Tanah dengan horison bawah penciri kambik, telah terdapat proses pembentukan tanah alterasi.
  2. Kenaikan liat pada horison B dan perubahan warna (hue dan croma bertambah tinggi)
  3. Tekstur beragam dari kasar hingga halus (tergantung pada tingkat pelapukan bahan induknya)
  4. Cukup subur.
  5. Kedalaman efektif beragam dari dangkal hingga dalam.
  6. Merupakan tanah yang belum matang (immature) yang perkembangan profilnya lebih lemah dibanding dengan tanah matang dan masih banyak menyerupai sifat bahan induknya.
  • Faktor  Kendala
  1. Pelapukan belum intensif.
  2. Kisaran kadar KTK dan C-organik rendah.
  3. Kekurangan suplai unsur hara karena pelapukan batuan induk belum intensif.
  4. Terdapat horison sulfurik yang sangat masam pH sangat rendah (< 4) sehingga sulit untuk dibudiyakan.
  5. Beberapa kedalaman efektif dangkal dan terdapat kontak litic.
  6. Membentuk lapisan oksida (keras) yang sulit untuk ditembus oleh air.
  • Cara Pengendalian
  1. Memerlukan masukan yang tinggi baik masukan anorganik (pemupukan berimbang N, P dan K) maupun masukan organik (pengembalian sisa panen ke dalam tanah, pemberian pupuk kandang atau pupuk hijau).
  2. Memiliki tingkat kelerengan tinggi maka harus dengan pola tanaman tahunan atau agroforestry.
  • Lokasi/ Ha

Inceptisols ditemukan hampir diseluruh daratan Indonesia yaitu Irian Jaya(15.49 juta ha),Kalimantan Timur(6.12 juta ha),Kalimantan Tengah(4.21 juta ha), dan Maluku(4.0 juta ha).

  • Usaha Pertanian Yang Cocok

Pada umumnya inceptisols di Indonesia digunakan untuk pertanaman padi sawah dan sebaiknya untuk tanaman budidaya yang semusim apabila didaerah yang kemiringannya datar. untuk bercocok tanam hortikultura tanaman pangan, sampai dikembangkan sebagai lahan-lahan perkebunan besar seperti sawit, kakao, kopi, dan lain sebagainya, bahkan pada daerah-daerah yang eksotis, dikembangkan pula untuk agrowisata.

Alfisols

  • Ø Sifat /Ciri Utama
  1. Tanah ini dicirikan adanya selaput liat.
  2. Tanah dengan horison argilik, kandik, atau natrik.
  3. KB >35%.
  4. Kesuburan alami tinggi.
  5. Bentuk wilayah beragam  dari bergelombang hingga tertoreh tekstur berkisar antara sedang hingga halus,Drainasenya baik . bahan organic pada umunya sedang hingga rendah.Jeluk tanah dangkal hingga dalam. Mempunyai sifat kimia dan fisika relati baik.
  • Faktor  Kendala
  1. Pada beberapa tempat di jumpai kondisi lahan berlereng dan berbatu.
  2. Horison B argilik dapat mencegah distribusi akar yang baik pada horison B bertekstur berat.
  3. Rendahnya kandungan bahan organik, fosfor dan kalium.
  • Cara Pengendalian

Pengelolaan tanah sebaiknya dilakukan dengan alternatif sebagai berikut :

  1. Pembuatan terassering pada lahan yang berlereng.
  2. Adanya tanaman lorong.
  3. Penambahan unsur hara secara organik.
  4. Adanya irigasi yang baik.
  5. Pembuatan guludan searah dengan kountur.
  • Lokasi/ Ha

Penyebaran alfisol di Indonesia terdapat dipulau Jawa,Sumatera,Irian Jaya,Bali,Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur dengan luas areal 12.749.000 hektar. di Sulawesi lusa areal tanah Alfisol ini 2.930.000 hektar dan juga ditemukan di Irian Jaya 106.000 hektar.

  • Ø Usaha Pertanian Yang Cocok

Penggunaan Alfisol di Indonesia diusahakan menjadi pesawahan (padi) baik tadah hujan atau pun berpengairan,perkebunan(buah-buahan ),tegalan, hutan produsi(sengon) dan pedang rumput.

Vertisols

  • Ø Sifat /Ciri Utama
  1. Tanah yang termasuk ordo Vertisol merupakan tanah dengan kandungan liat tinggi (lebih dari 30%) di seluruh horison, mempunyai sifat mengembang dan mengkerut. Kalau kering tanah mengkerut sehingga tanah pecah-pecah dan keras. Kalau basah mengembang dan lengket. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Grumusol atau Margalit.
  2. Tanah Vertisol memiliki kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa yang tinggi. Reaksi tanah bervariasi dari asam lemah hingga alkaline lemah; nilai pH antara 6,0 sampai 8,0. pH tinggi (8,0-9,0) terjadi pada Vertisol dengan ESP yang tinggi.
  3. Vertisol menggambarkan penyebaran tanah-tanah dengan tekstur liat dan mempunyai warna gelap, pH yang relatif tinggi serta kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa yang juga relatif tinggi.
  • Faktor  Kendala
  1. Vertisol pada umumnya memiliki tekstur liat, kandungan liat berkisar antara 35% hingga 90% dari total tanah. Kandunga liat di seluruh lapiran tanah bukan merupakan pross translokai melainkan berasal dari bahan induk.
  2. Terjadi rekahan saat musim kemarau.
  3. Kejenuhan basa  tinggi, KTK yang tinggi, tekstur yang relative halus, permeabilitas yang rendah dan pH yang relative tinggi dan status hara yang tidak seimbang.
  4. Pada umumnya  Vertisol juga defisiensi P. Setelah N, unsure P merupakan pembatas hara terbesar pada Vertisol. Kekurangan unsure P jika kandungan P kurang dari 5 ppm.
  • Cara Pengendalian
  1. Adanya pemanfaatan irigasi yang baik.
  2. Pemupukan secukupnya hanya untuk unsur hara yang kurang kebanyakan unsur P sebagai pembatas.
  3. Melakukan pengolahan tanah agar membuat tanah tetap jenuh.
  4. Dalam mengatasi kembang mengkerutnya tanah vertisol yaitu dengan memperbanyak bahan organik seperi kompos dan pupuk kandang.
  • Lokasi/ Ha

Tanah-tanah ini banyak ditemukan kebanyakan di NTT(0.198 juta ha),Jawa Timur(0.96 juta ha),NTB(0.125 juta ha),Sulawesi Selatan(0.22 juta ha),dan Jawa Tengah(0.4 juta ha).

  • Ø Usaha Pertanian Yang Cocok
  1. Kapas,seringkali air melalui irigasi dan dapat tumbuh pada kisaran yang luas.
  2. Sorgum,pensetum dan sesame, dapat tumbuh pada curah hujan 200mm/tahun atau lebih besar.
  3. Padi dengan sistem irigasi yang sudah baik.
  4. Tanaman-tanaman lain yang terdapat adalah jagung,rumput makanan ternak,bunga matahari,risius,gula beet,tembakau.

Andisols

  • Ø Sifat /Ciri Utama
  1. Berkembang dari bahan induk abu vulkan, batu apung (pumice) dan sinder.
  2. Banyak mengandung mineral dalam tanah.
  3. Potensi fiksasi fosfat tinggi.
  4. Daya menahan air tinggi.
  5. Porositas tinggi dan permeabilitas cepat.
  6. Berat Isi tanah rendah.
  7. Ketebalan solum antara 100 sampai 225 cm.
  8. Warna hitam, kelabu sampai coklat tua.
  9. Tanah mineral dengan sifat andik.

10.  Tanah mineral yang tidak memiliki horison argilik, natrik, spodik dan oksik.

11.  Mempunyai satu atau lebih dari : epipedon histik, molik, umbrik,

  • Faktor  Kendala
  1. Peka terhadap erosi.
  2. Retensi P tinggi.
  3. Pencucian unsur hara tinggi.
  4. Andisol yang mempunyai kontak litik dan paralitik dangkal.
  • Cara Pengendalian
  1. Meningkatkan penutupan tanah (pemberian mulsa atau penambahan vegetasi di atasnya).
  2. Pembuatan teras pada daerah miring (8-10%).
  3. Penerapan pola tanam tumpangsari yang dapat menutup tanah sepanjang tahu.
  4. Penembahan pupuk fosfat dosis tinggi dan penambahan bahan organik.
  5. Meningkatkan penutupan tanah; penerapan drip irrigation untuk mengurangi laju pencucian unsur hara karena perkolasi.
  6. Membuat bedengan agar mengurangi pencucian unsur hara dan erosi.
  • Lokasi/ Ha

Total luasan sekitar 5.39 juta ha atau 2.9% dari lahan yang ada di Indonesia dengan penyebaran Sumatera Utara (1.06 juta ha),Jawa Timur(0.73 juta ha),Jawa Barat(0.50 juta ha),Jawa Tengah(0.45 juta ha),dan di Maluku(0.32 juta ha).

  • Ø Usaha Pertanian Yang Cocok
  1. Di Sumatera Andisols digunakan untuk budidaya tanaman industri(tembakau cerutu deli).
  2. Lembang (Jawa barat) merupakan sentral produksi hortikultura
  3. Jawa Timur pada umunya menjadi sentra untuk hortikultura dan tanaman tahunan.
  4. Di Temanggung(Jawa Tengah) dimanfaatkan untuk budidaya tanaman tembakau.

Dari semua pemanfaat tersebut dilakukan kajian yang intesif terhadap kemiringan   lahan agar tidak terjadi erosi yang tinggi.

Oxisols

  • Ø Sifat /Ciri Utama

Tanah yang termasuk ordo Oxisol merupakan tanah tua sehingga mineral mudah lapuk tinggal sedikit. Kandungan liat tinggi tetapi tidak aktif sehingga kapasitas tukar kation (KTK) rendah, yaitu kurang dari 16 me/100 g liat. Banyak mengandung oksida-oksida besi atau oksida Al. Berdasarkan pengamatan di lapang, tanah ini menunjukkan batas-batas horison yang tidak jelas. Tanah yang memiliki horizon oksik atau kandik dengan cadangan mineral yang sedikit. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Latosol (Latosol Merah & Latosol Merah Kuning), Lateritik, atau Podzolik Merah Kuning. Diuraikan dibawah ini :

Fisik:

  1. Tekstur oxisol sedang hingga halus, memiliki kandungan debu yang sangat rendah.
  2. Rasio antara debu terhadap lempung atau liat pada suatu sample tanah berada di bawah 0,15.
  3. Bulk density rendah, berkisar antar 1-1,3 gr/cm3.
  4. Kemampuan menahan airnya rendah jika di bandingkan dengan tanah yang lain.

Kimia:

  1. KB rendah, kandungan Fe, Al, dan Sioksida tinggi.
  2. KTK rendah <16 me/100 g
  3. Memilki reaksi tanah yang sangat masam
  • Faktor  Kendala
  1. Iklim : temperature dan curah hujan.
  2. Bahan induk :merupakan bahan induk tua yang sudah mengalami proses pelapukan lanjut.
  3. Relief / topografi.
  4. Cadangan mineral sedikit.
  5. KTK rendah.
  6. Tanah masam.
  7. Dapat keracunan Al, Fe dan Si.
  8. Kemampuan menahan air rendah (drainase cepat).
  • Cara Pengendalian
  1. Tidak menggangu tanaman alami pada tanah oxisols, didaerah yang berlereng.
  2. Membuat irigasi untuk suplai air.
  3. Pemupukan tanah agar suplai unsur hara yang di butuhkan tersedia.
  4. Memperbaiki sifat kimia dengan cara pengapuran dan penambahan BO.
  • Lokasi/ Ha

Tanah-tanah sudah tua total luas tanah ini sekitar 14.11 juta ha atau 7.5% dari total lahan Indonesia dam menyebar  di Sumatera Selatan (2.82 juta ha),Irian Jaya (2.41 juta ha),Kalimantan Tengah(2.06 juta ha),Kalimantan Barat (1.79 juta ha),Jambi(1.14 juta ha) dan Lampung(1.01 juta ha).

  • Ø Usaha Pertanian Yang Cocok
  1. Menjadikan hutan lindung untuk mengurangi dampak pemanasan global.
  2. Permukaan tanah harus dalam kondisi tertutup oleh tanaman penutup tanah karena apabila permukaan tanah terbuka menyebabkan erosi dan mengintensifkan pelapukan tanah. Dapat juga terjadi pengerasan tanah karena adanya Fe yang tinggi.
  3. Untuk tanaman pangan pengelolaan tidak hanya dilakukan pemupukan unsur anorganik atau pengapuran  tetapi juga diperlukan adanya masukan bahan organik yang cukup besar untuk mempertahankan kondisi tanah.

Spodosol

  • Ø Sifat /Ciri Utama
  1. Tanah yang termasuk ordo Spodosol merupakan tanah dengan horison bawah terjadi penimbunan Fe dan Al-oksida dan humus (horison spodik) sedang, dilapisan atas terdapat horison eluviasi (pencucian) yang berwarna pucat (albic). Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzol.
  2. Adanya lapisan pasir masam berwarna putih abu-abu  ( horizon albik ) di atas lapisan lempung berpasir yang berwarna gelap
  3. Terbentuknya tanah ini pada bahan induk pasir kuarsa dipercepat oleh adanya vegetasi yang menghasilkan seresah masam.
  • Faktor  Kendala
  1. Kesuburan alami rendah.
  2. Iklim : Boreal ( dingin ) iklim sub tropis dan tropis.
  3. Adanya penimbunan Fe dan Al dengan humus yang dapat meracuni tanaman, bahkan dapat memadas/mengeras apabila terkena sinar matahari.
  4. Topografi : datar sampai bergelombang.
  5. Tanah ini juga peka terhadap erosi karena teksturnya berpasir sehingga cenderung gembur (remah).
  • Cara Pengendalian
  1. Adanya penutup lahan.
  2. Pembuatan bedengan, guludan atau terasering sesuai dengan kelerengannya.
  3. Untuk meningkatkan produktivitas tanah dapat dilakukan melalui pemberian kapur, pemupukan , penambahan BO, dan penanaman tanaman adaptif.
  4. Sebaiknya tanah Spodosol tidak dijadikan lahan pertanian, tetapi tetap dibiarkan sebagai hutan. Kalau sudah terlanjur dibuka sebaiknya dilakukan reboisasi.
  • Lokasi/ Ha

Luas penyebaran tanah darat lebih kurang 200 juta ha.dengan luas dan penyebaran kemapuan wilayah seluas 162,335 juta ha.atau81% tersebar di Sumatera(47,270 juta ha),Kalimantan (53,966 juta ha),Sulawesi(18,904 juta ha)dan Irian Jaya(42,195 juta ha),Dari 162,335 juta ha.luas daratan tersebut 124,044 juta ha berwujud tanah kering dan 38,291 juta ha berwujud tanah basah.

  • Ø Usaha Pertanian Yang Cocok
  1. Sebagai daerah konservasi.
  2. Spodosol banyak digunakan sebagai hutan .Kecuali itu dapat juga digunakan sebagi daerah rumput ternak(pasture), atau rekreasi.

Mollisols

  • Ø Sifat /Ciri Utama

Tanah yang mempunyai horison (lapisan) permukaan berwarna gelap yang mengandung bahan organik yang tinggi. Tanah ini kaya akan kation-kation basa, oleh karena itu tanah ini juga tergolong sangat subur. Mollisol secara karakter terbentuk di bawah rumput dalam iklim yang sedang. Agregasi tanah baik, sehingga tanah tidak keras bila kering.

Sifat Fisik

  1. Memiliki warna gelap, kroma velue kurang dari 3,5 (lembab) dan kurang dari 5,5 (kering).
  2. Struktur gembur tidak keras, berbentuk prisma
  3. Tekstur halus sampai sedang.

Sifat Kimia

  1. pH sedang sampai alkali,
  2. memiliki kejenuhan basa lebih dari 60%.
  • Faktor  Kendala
  1. Intensitas pengelolaan dan pemanfaatannya relatif masih rendah.
  2. Biasanya adanya kontak litik yang ditemukan pada kedalam < 50 cm.
  • Cara Pengendalian
  1. Memanfaatka tanah dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kebutuhan dan berdasarkan ilmu pengetahuan yang jelas.
  2. Budidaya tanaman semusim yang akarnya tidak lebih dari 50cm.
  • Lokasi/ Ha

Irian jaya, NTT, Kalimantan timur, Sulawesi tangah, dan Jawa timur.

  • Ø Usaha Pertanian Yang Cocok

Cocok untuk usaha budidaya tanaman semusim yang memiliki akar pendek seperti jagung, kacang tanah, dan padi.

Aridisols

  • Sifat /Ciri Utama

Reaksi-eaksi fisik, kimia dan biologi berjalan lambat karena kurangnya air. Akibatnya aridisol merupakan tanah yang memiliki sifat hampir sama dengan bahan induknya. Aridisol memiliki KB tinggi karena rendahnya proses pencucian. Aridisol memiliki kandungan bahan organik yang rendah dan tidak adanya proses feritisasi. Serta tidak ditemukannya horizon eluviasi. Pada beberapa aridisol, di permukaan tanah sering ditemukan adanya gravel pavement. Ditemukanya caliche atau lapisan akumulasi karbonat, ini terjadi karena CaCO3 di endapkan oleh air perkolasi yang mulai habis. Selain itu juga ditemukan horizon salik dan  natrik

  • Faktor  Kendala
  1. Tanah-tanah yang berada di daerah-daerah dengan tingkat kekeringan yang ekstrem (sangat kering), bahkan sekalipun untuk petumbuhan vegetasi-vegetasi mesopit (seperti rumput).
  2. Selama musim kering biasanya terganggu oleh gundukan pasir serata erosi yang disebabkan arah angin yang cepat.
  3. Terjadinya pengerasan alga yang menyebabkan penurunan laju masuknya air (infiltrasi) bahkan dapat mencapai nol, hal ini dapat meningkatkan besarnya run off, banjir bandang, erosi parit yang parah saat musim penghujan yang berkepanjangan.
  4. Ketersediaan air sedikit bahkan tidak ada.
  • Cara Pengendalian
  1. Dilakukannya pengolahan tanah dengan penambahan bahan organik dalam tanah
  2. Penanaman sistem cover crop serta penambahan vegetasi di area yang dibutuhkan guna melindungi dari terjadinya run off yang besar.
  3. Penggunaan sistem irigasi seperti teras bangku atau gulutan.
  4. Penggunaan mulsa plastik.
  • Lokasi/ Ha

Di Indonesia tanah jenis ini hamper tidak ditemukan. Bahan induk tanah ini adalah batu kapur.Adapun di jumpai hanya sedikit tersebar di daerah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

  • Ø Usaha Pertanian Yang Cocok

karena lingkungannya yang kering, Aridisol termasuk sangat sulit dimanfaatkan sebagai lahan untuk bercocok tanam. Tetapi dapat dilakukan budidaya tanaman yang membutuhkan intensitas cahaya matahari yang tinggi dan membutuhkan air yang sedikit, misalnya tebu dan nanas.

 

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a reply


CAPTCHA Image
*