LAPORAN HIBRIDISASI JAGUNG kakak tingkat



Filed under : Uncategorized

I. Pendahuluan

1.1  Latar Belakang

Hibridisasi (persilangan) adalah penyerbukan silang antara tetua yang berbeda susunan genetiknya. Pada tanaman menyerbuk sendiri hibridisasi merupakan langkah awal pada program pemuliaan setelah dilakukan pemilihan tetua. Umumnya program pemuliaan tanaman menyerbuk sendiri dimulai dengan menyilangkan dua tetua homozigot yang berbeda genotipenya. Pada tanaman menyerbuk silang, hibridisasi biasanya digunakan untuk menguji potensi tetua atau pengujian ketegaran hibrida dalam rangka pembentukan varietas hibrida. Selain itu, hibridisasi juga dimaksudkan untuk memperluas keragaman.

Tujuan utama melakukan persilangan adalah (1) Menggabungkan semua sifat baik ke dalam satu genotipe baru; (2) Memperluas keragaman genetik; (3). Memanfaatkan vigor hibrida; atau (4) Menguji potensi tetua (uji turunan). Dari keempat tujuan utama ini dapat disimpulkan bahwa hibridisasi memiliki peranan penting dalam pemuliaan tanaman, terutama dalam hal memperluas keragaman.

Tanaman jagung mempunyai komposisi genetik yang sangat dinamis karena cara penyerbukan bunganya menyilang. Fiksasi gen-gen unggul (favorable genes) pada genotipe yang homozigot justru akan berakibat depresi inbreeding yang menghasilkan tanaman kerdil dan daya hasilnya rendah. Tanaman yang vigor, tumbuh cepat, subur, dan hasilnya tinggi justru diperoleh dari tanaman yang komposisi genetiknya heterozigot.

Varietas hibrida merupakan generasi pertama hasil persilangan antara tetua berupa galur inbrida. Varietas hibrida dapat dibentuk pada tanaman menyerbuk sendiri maupun menyerbuk silang. Jagung merupakan tanaman pertama yang dibentuk menghasilkan varietas hibrida secara komersial.

Oleh karena pentingnya hal tersebut diatas,maka penting bagi kita untuk mengetahui mengenai hibridisasi  serta tahapan – tahapan hibridisasi dari tanaman jagung.

 

1.2  Tujuan

Untuk memahami Hibridisasi

Untuk mengetahui tahapan hibridisasi

Untuk mengetahui factor – factor yang mempengaruhi hibridisasi baik internal maupun eksternal

Untuk mengetahui tanda keberhasilan hibridisasi

Untuk mengetahui morfologi bunga dan masa anthesis, reseptif bunga jagung

 

 

 

 

  1. II. Tinjauan Pustaka

2.1  Pengertian Hibridisasi

  • Hibridisasi adalah suatu perkawinan silang antara berbagai jenis spesies pada setiap tanaman.                                                          (Prasetyo, M. 2010)
  • Hybridization is the process of interbreeding between individuals of different species (interspecific hybridization) or genetically divergent individuals from the same species (intraspecific hybridization).

“Hibridisasi adalah proses kawin antar individu dari spesies yang berbeda (persilangan interspesifik) atau individu genetik berbeda dari spesies yang sama (hibridisasi intraspesifik).”                                         (Ellstrand,  2011)

  • Hybridization (crossing) is a cross-pollination between the elders of different genetic composition.

“Hibridisasi (persilangan) adalah penyerbukan silang antara tetua yang berbeda susunan genetiknya.”                                               (Yunianti, R . 2007)

 

2.2  Tahapan Hibridisasi

  1. Menentukan bunga jantan / tetua
  2. Menyiapkan alat
  3. Mengidentifikasi bunga betina
  4. Menentukan waktu persilangan
  5. Mengisolasi
  6. Polinasi (pemindahan pollen ke kepala putik)
  7. Pembungkusan
  8. Pemberian label

2.3  Faktor – faktor yang Mempengaruhi Hibridisasi

2.3.1        Internal

Pemilihan Tetua

Ada lima kelompok sumber plasma nutfah yang dapat dijadikan tetua persilangan yaitu: (a) varietas komersial, (b) galur-galur elit pemuliaan, (c) galur-galur pemuliaan dengan satu atau beberapa sifat superior, (d) spesies introduksi tanaman dan (e) spesies liar. Peluang menghasilkan varietas unggul yang dituju akan menjadi besar bila tetua yang digunakan merupakan varietas-varietas komersial yang unggul yang sedang beredar, galur-galur murni tetua hibrida, dan tetua-tetua varietas sintetik.

Waktu Tanaman Berbunga

Dalam melakukan persilangan harus diperhatikan: (1) penyesuaian waktu berbunga. Waktu tanam tetua jantan dan betina harus diperhatikan supaya saat anthesis dan reseptif waktunya bersamaan, (2) waktu emaskulasi dan penyerbukan. Pada tetua betina waktu emaskulasi harus diperhatikan, seperti pada bunga kacang tanah, padi harus pagi hari, bila melalui waktu tersebut polen telah jatuh ke stigma. Juga waktu penyerbukan harus tepat ketika stigma reseptif. Jika antara waktu antesis bunga jantan dan waktu reseptif bunga betina tidak bersamaan, maka perlu dilakukan singkronisasi. Caranya dengan membedakan waktu penanaman antara kedua tetua, sehingga nantinya kedua tetua akan siap dalam waktu yang bersamaan. Untuk tujuan sinkronisasi ini diperlukan informasi tentang umur tanaman berbunga.

(Syukur, 2009)

2.3.2        Eksternal

Pengetahuan tentang Organ Reproduksi dan Tipe Penyerbukan

Untuk dapat melakukan penyerbukan silang secara buatan, hal yang paling mendasar dan yang paling penting diketahui adalah organ reproduksi dan tipe penyerbukan. Dengan mengetahui organ reproduksi, kita dapat menduga tipe penyerbukannya, apakah tanaman tersebut menyerbuk silang atau menyerbuk sendiri. Tanaman menyerbuk silang dicirikan oleh struktur bunga sebagai berikut :

a. secara morfologi, bunganya mempunyai struktur tertentu

b. waktu antesis dan reseptif berbeda

c. inkompatibilitas atau ketidaksesuaian alat kelamin

d. adanya bunga monoecious dan dioecious

Cuaca Saat Penyerbukan

Cuaca sangat besar peranannya dalam menentukan keberhasilan persilangan buatan. Kondisi panas dengan suhu tinggi dan kelembaban udara terlalu rendah menyebabkan bunga rontok. Demikian pula jika ada angin kencang dan hujan yang terlalu lebat.

Pelaksana

Pemulia yang melaksanakan hibridisasi harus dengan serius dan bersungguh-sungguh dalam melakukan hibridisasi, karena jika pemulia ceroboh maka hibridisasi akan gagal.                    (Syukur, 2009)

2.4  Tanda Keberhasilan Hibridisasi

  • Tongkol jagung membesar
  • Rambut tongkol berwarna kecoklatan dan rontok

 

 

 

 

 

 

2.5  Morfologi Bunga dan Masa Anthesis, Reseptif Bunga Jagung

Pada bunga jantan (malai) masa anthesisnya pada hari ke-65 setelah tanam, sedangkan pada bunga betina (tongkol) masa reseptifnya pada hari ke-71 setelah tanam. Masa anthesis malai ditandai dengan munculnya bulir-bulir yang berwarna merah keunguan yang mengandung antosianin pada tangkai malai, dan pada bulir terdapat serbuk sari (pollen) yang berwarna kuning. Masa reseptif tongkol ditandai dengan tumbuhnya bulu-bulu rambut pada ujung tongkol yang berwarna kuning bening kehijauan.

(Pusat Perlindungan Varietas Tanaman, 2006)

 

 

 

 

  1. III. Metodologi

3.1  Alat, Bahan, dan Fungsi

Alat :

Plastik                        : Untuk membungkus bunga jantan

Kertas minyak             : Untuk membungkus bunga betina

Gunting                       : Untuk memotong bunga jantan

Selotip                         : Untuk mengisolasi kertas minyak/ kertas sungkup

Cotton bud                   : Untuk mengambil dan menempelkan serbuk sari pada bunga betina/ tongkol

Karet/ tali                    : Untuk mengikat plastic pembungkus bunga jantan

Kamera                        : Untuk mendokumentasikan hasil pengamatan

Alat tulis                     : Untuk mencatat hasil pengamatan

3.2  Waktu dan Tempat Praktikum

Tanggal                       : 21 Mei 2011

Pukul                           : 11.00 WIB

Tempat praktikum       : Lahan BP Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

 

 

3.3  Alur Kerja

 

Menyiapkan alat

 

 

Setelah bunga jantan mengeluarkan anthesis, lalu disungkup dengan plastic

 

 

Bunga betina (Tongkol belum keluar dari pelepah daun)

 

 

Menyungkup dengan kertas minyak dan di isolasi

 

 

1 hari setelah disungkup, tunggu jam 11.00 WIB

Digoyang – goyang, diambil pollenya

 

 

Bunga jantan dipotong dengan menggunakan gunting

 

 

Di polinasi 3x

 

 

Mendokumentasikan

 

Hasil pengamatan

 

 

 

  1. IV. Hasil dan Pembahasan

4.1  Hasil

4.1.1        Pengamatan Keberhasilan Persilangan

Tetua Persilangan ∑ Persilangan Berhasil ∑ Total Persilangan
Tetua ♂ genotip J6 1 1
Tetua ♀ genotip J5

 

∑ persilangan yg berhasil

% Keberhasilan =                                                  X 100%

∑ total persilangan

1

=             X  100% = 100 %

1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.1.2        Pengamatan Bunga Setelah Persilangan ( hsp )

Tabel Pengamatan Pembungaan

Nama Tanaman : Jagung

Parameter Tetua betina Tetua jantan
Umur berbunga(hari setelah tanam) 71 hari 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

65 hari
Perkembangan bunga(dari kuncup hingga mekar)  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar morfologi bunga  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel Kontrol Persilangan

Komoditas                 : JagungTujuan Persilangan  : Menghasilkan jagung hibrida

Tetua Jantan             : Genotip J6

Tetua Betina              : Genotip J5

Tanggal Persilangan : 21 Mei 2011

Gambar prosedur persilangan Gambar hasil persilangan
a. 

 

 

 

1 hsp (hari setelah persilangan) 
b. 

 

 

2 hsp 
c. 

 

3 hsp( tidak melakukan dokumentasi )
d. 

 

 

4 hsp( tidak melakukan dokumentasi )
e. 

 

5 hsp( tidak melakukan dokumentasi )
 

 

 

4.2  Pembahasan

Dari hasil pengamatan, hibridisasi yang dilakukan tanggal 21 Mei 2011 menurut kelompok kami sudah berhasil, sebab bunga betina yang diamati menunjukkan tanda-tanda keberhasilan hibridisasi yaitu bulu-bulu benang tongkol berubah warna menjadi kecoklatan dan tongkol membesar. Keberhasilan suatu persilangan buatan dapat dilihat kira-kira satu minggu setelah dilakukan penyerbukan. Jika calon buah mulai membesar dan tidak rontok maka kemungkinan telah terjadi pembuahan. Sebaliknya, jika calon buah tidak membesar atau rontok maka kemungkinan telah terjadi kegagalan pembuahan.

(Syukur, 2009)

  1. V. Penutup

5.1  Kesimpulan

Pada praktikum melakukan persilangan terhadap tanaman jagung. Dari

hasil yang diperoleh dari pengamatan, diketahui kebehasilan dari tanaman jagung yang sudah di silangkan. Keberhasilan tersebut dapat dilihat pada tanda – tanda yang terdapat pada tonkol jagung, yakni bulu – bulu yang terdapat pada tongkol berubah warna dari warna kekuningan menjadi kecoklatan, serta tongkol menjadi lebih besar.

 

5.2  Saran

Data yang diperoleh dalam praktikum ini masih memiliki kekurangan dan kesalahan. Untuk pembaca disarankan agar mencari diliteratur  untuk menambah wawasan mengenai hibridisasi jagung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Ellstrand, Norman C.2007. Spontaneous Hybridization between Maize and Teosinte. Department of Botany and Plant Sciences, Center for Conservation Biology, and Biotechnology Impacts Center, University of California, Riverside, CA 92521-0124 (Ellstrand, Garner, Hegde, Guadagnuolo, and Blancas); the Horticulture and Crop Science Department, California Polytechnic State University, San Luis Obispo, CA 93407 (Garner); and the Laboratoire de Botanique Evolutive, Institut de Botanique, Universite´ de Neuchaˆ tel, rue Emile Argand 11, Neuchaˆ tel, Switzerland (Guadagnuolo).

 

Prasetyo, Muhlas. 2010. Laboratorium Teknologi Benih dan Pemuliaan Tanaman. Fakultas Pertanian Jurusan Budidaya Pertanian. Universitas Jember.

 

Pusat Perlindungan Varietas Tanaman. 2006. Panduan Pengujian Individual Kebaruan, Keunikan, Keseragaman dan Kestabilan Jagung. Departemen Pertanian Republik Indonesia.

 

Syukur, M., S. Sujiprihati, dan R. Yunianti. 2009. Teknik pemuliaan tanaman. Bagian Genetika dan Pemuliaan Tanaman. Departemen Agronomi dan Hotikultura IPB. Bogor. 284 hal.

 

Yunianti, R. 2007. Analisis Genetik Pewarisan Sifat Ketahanan Cabai (Capsicum annuum L.) terhadap Phytophthora capsici Leonian. Disertasi. Sekolah

 

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a reply


*