Rifqy Faiza Rahman

Rifqy Faiza Rahman

This user hasn't shared any profile information

Home page: http://blog.ub.ac.id/members/anandarifqy/

Posts by Rifqy Faiza Rahman

Petani Muda

Tulisan ini hanyalah sebuah cermin refleksi, apa yang ada di dalam hatiku, aku ungkapkan. Tak jauh dari duniaku, dunia pertanian, ingin mengungkapkan selaras dengan motto blog ini, Agriculture is Our Future.

Seperti yang saudara-saudara ketahui, Indonesia adalah negara agraris, yang mana sebagian besar sumber nadi kehidupan berasal dari pertanian. Hampir seluruh apa yang kita makan adalah berasal dari komoditas pertanian. Dan tak sedikit orang-orang yang bergelut di bidang pertanian menjadi orang yang sukses. Tak salah apabila sesungguhnya pertanian menjadi bidang  pengetahuan yang sangat dicari sampai saat ini. Dan tak bisa dipungkiri walaupun bidang pertanian juga banyak yang meremehkan.

“Emang mau jadi petani klo lulus ntar?”… “Ngapain masuk fakultas pertanian?”… “Mau jadi apa kamu kuliah di fakultas pertanian?”…

Kalian pasti tahu dan pernah mendengar statement-statement seperti itu. Suara-suara sumbang yang kadangkala membuat kita sebagai mahasiswa pertanian sakit hati mendengarnya. Mungkin suara-suara sumbang seperti itu datang dari orang-orang terdekat kita, misalnya orang tua yang kita pernah bilang kalau kita ingin masuk fakultas pertanian. Mungkin juga guru-guru kita yang pernah bertanya kepada kita mau kuliah di mana, saat kita masih SMA dulu. Mungkin juga dari teman-teman kita yang kuliah di fakultas lain. Terkadang pula, ketika kita benar-benar agak emosi, membalas suara-suara itu dengan kata-kata misalnya “Kamu kalau makan pake apa, pake nasi kan, nasi dari mana, dari pertanian kan?”….

Namun sesungguhnya tidak perlu membalas seperti itu, tak akan efektif. Janganlah kita membalas kata-kata dengan kata-kata pula tanpa bukti dari kita. Bukti di sini adalah parameter keberhasilan kita di bidang pertanian. Kita harus menunjukkan bahwa apa yang kita omongkan akan selaras dengan hasilnya kelak. Kita harus membuktikan dengan ilmu pertanian yang telah kita peroleh.

Saat-saat awal kita masuk kuliah pertama di fakultas pertanian, beberapa di antara kita pasti berpikir bahwa pertanian itu mudah. Namun seiring waktu berjalan, pasti kita menyadari kalau sesungguhnya pertanian itu kompleks, tidak melulu sawah saja, namun juga berkaitan dengan ekosistem, sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya. Banyak yang harus kita pelajari dari bidang pertanian. Dari situ juga kita bisa membayangkan bahwa profesi sebagai petani itu sangat tidak mudah. Kita tentu pernah membayangkan apabila misalnya kita menabur benih jagung pada lahan beberapa meter saja sudah lelah, apalagi petani yang lahannya berhektar-hektar.

Well, kita akan semakin tahu bahwa kita yakin dengan pilihan kita akan pertanian. Kita harus bangga dengan apa yang kita sandang sekarang, yaitu sebagai mahasiswa fakultas pertanian di universitas yang terkemuka. Jadikan suara-suara sumbang tadi sebagai tantangan dan pelecut semangat bagi kita. Kita harus mampu membuktikan kalau apa yang mereka suarakan adalah salah besar. Kita harus meyakini berkecimpung di bidang pertanian adalah tugas yang mulia kelak. Untuk kalian semua mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, jadilah petani muda yang jaya!

Tani Joyo!

C-Organik dan Bahan Organik Tanah

Bahan organik memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan tanah untuk mendukung tanaman, sehingga jika kadar bahan organik tanah menurun, kemampuan tanah dalam mendukung produktivitas tanaman juga menurun. Menurunnya kadar bahan organik merupakan salah satu bentuk kerusakan tanah yang umum terjadi. Kerusakan tanah merupakan masalah penting bagi negara berkembang karena intensitasnya yang cenderung meningkat sehingga tercipta tanah-tanah rusak yang jumlah maupun intensitasnya meningkat.

Sementara itu dampak negatif dari pertanian modern yang menggunakan bahan agrokimia secara berlebihan dan tidak selektif, khususnya untuk pemberantasan hama, penyakit dan gulma, menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan atau keamanan pangan dan ancaman akan terjadinya pencemaran lingkungan dan kerusakan  lahan yang berujung pada ketidaklestarian sistem pertanian  yang ada.

Dari problem yang sedemikian rupa itulah, jelas erat kaitannya dengan permasalahan bahan organik tanah. Dengan mengukur seberapa banyak kandungan bahan organik di dalam tanah, maka nantinya akan diketahui seberapa bagus suatu tanah tersebut dijadikan sebagai media tanam bagi tumbuhan ataupun tanaman budidaya.

Bahan organik adalah bagian dari tanah yang merupakan suatu sistem kompleks dan dinamis, yang bersumber dari sisa tanaman dan atau binatang yang terdapat di dalam tanah yang terus menerus mengalami perubahan bentuk, karena dipengaruhi oleh faktor biologi, fisika, dan kimia (Kononova, 1961).

Menurut Stevenson (1991), bahan organik tanah adalah semua jenis senyawa organik yang terdapat di dalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik terlarut di dalam air, dan bahan organik yang stabil atau humus.

Bahan organik berperan penting untuk menciptakan kesuburan tanah. Peranan bahan organik bagi tanah adalah dalam kaitannya dengan perubahan sifat-sifat tanah, yaitu sifat fisik, biologis, dan sifat kimia tanah. Bahan organik merupakan pembentuk granulasi dalam tanah dan sangat penting dalam pembentukan agregat tanah yang stabil. Bahan organik adalah bahan pemantap agregat tanah yang tiada taranya. Melalui penambahan bahan organik, tanah yang tadinya berat menjadi berstruktur remah yang relatif lebih ringan. Pergerakan air secara vertikal atau infiltrasi dapat diperbaiki dan tanah dapat menyerap air lebih cepat sehingga aliran permukaan dan erosi diperkecil. Demikian pula dengan aerasi tanah yang menjadi lebih baik karena ruang pori tanah (porositas) bertambah akibat terbentuknya agregat. (Anonymous1, 2010).



Kandungan bahan organik tanah hutan produksi (1) lebih tinggi daripada kandungan bahan organik lahan semusim (2)

Menurut Lal (1995), pengelolaan tanah yang berkelanjutan berarti suatu paya pemanfaatan tanah melalui pengendalian masukan dalam suatu proses untuk memperoleh produktivitas tinggi secara berkelanjutan, meningkatkan kualitas tanah, serta memperbaiki karakteristik lingkungan. Dengan demikian diharapkan kerusakan tanah dapat ditekan seminimal mungkin sampai batas yang dapat ditoleransi, sehingga sumberdaya tersebut dapat dipergunakan secara lestari dan dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang.

Jumlah bahan organik di dalam tanah dapat berkurang hingga 35% untuk tanah yang ditanami secara terus menerus dibandingkan dengan tanah yang belum ditanami atau belum dijamah. Untuk mempertahankan kandungan bahan organik tanah agar tidak menurun, diperlukan minimal 8 – 9 ton per ha bahan organik tiap tahunnya. (Suryani, 2007).

Pada tanah dengan drainase buruk, dimana air berlebih, oksidasi terhambat karena kondisi aerasi yang buruk. Hal ini menyebabkan kadar bahan organik dan N tinggi daripada tanah berdrainase baik. Disamping itu vegetasi penutup tanah dan adanya kapur dalam tanah juga mempengaruhi kadar bahan organik tanah. Vegetasi hutan akan berbeda dengan padang rumput dan tanah pertanian. Faktor-faktor ini saling berkaitan, sehingga sukar menilainya sendiri. (Hakim dkk, 1986).

Penambahan bahan organik secara kontinyu pada tanah merupakan cara pengelolaan yang murah dan mudah. Namun demikian, walaupun pemberian bahan organik pada lahan pertanian  telah banyak dilakukan, umumnya produksi tanaman masih kurang optimal, karena rendahnya unsur hara yang disediakan dalam waktu pendek, serta rendahnya tingkat sinkronisasi antara waktu pelepasan unsur hara dari bahan organik dengan kebutuhan tanaman akan unsur hara. Kualitas bahan organik sangat menentukan kecepatan proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. (Atmojo, 2003).

Daftar Pustaka

Anonymous1, 2010, Bahan Organik, [online], (http://lestarimandiri.org/id/pupuk-organik/92-pupuk-organik/156-bahan-organik.html, diakses tanggal 12 Mei 2010).

Atmojo, Suntoro Wongso. 2003. PERANAN BAHAN ORGANIK TERHADAP KESUBURAN TANAH DAN UPAYA PENGELOLAANNYA. Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Diucapkan di muka Sidang Senat Terbuka Universitas Sebelas Maret Surakarta pada Tanggal 4 Januari 2003.

Hakim, dkk. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Lampung: Universitas Lampung.

Kononova, M.M. 1961. Soil Organic Matter. Oxford: Pergamon Press.

Lal, R. 1995. Erosion Crop productivity relationships for soils of Africa. Soil Sci. Soc. Am. J. 5: 661-667.

Siradz, Syamsul A dkk. 2006. KARAKTERISTIK DAN GENESIS TANAH YANG BERKEMBANG PADA BEBERAPA TIPE BENTANG LAHAN KARST GUNUNG KIDUL. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 6 (1) (2006) p: 27-38.

Stevenson, F.J. 1994. Humus Chemistry: genesis, composition, reactions. 2nd ed. New York: Wiley.

Suriadi, Ahmad dan Nazam, Moh. 2005. PENILAIAN KUALITAS TANAH BERDASARKAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK (KASUS DI KABUPATEN BIMA). Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB.

Suryani, Ani, 2007, PENDAHULUAN, [online], (www.damandiri.or.id/file/anisuryaniipbbab2.pdf, diakses tanggal 12 Mei 2010).

Rifqy Faiza Rahman's RSS Feed
Go to Top