Bahan organik memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan tanah untuk mendukung tanaman, sehingga jika kadar bahan organik tanah menurun, kemampuan tanah dalam mendukung produktivitas tanaman juga menurun. Menurunnya kadar bahan organik merupakan salah satu bentuk kerusakan tanah yang umum terjadi. Kerusakan tanah merupakan masalah penting bagi negara berkembang karena intensitasnya yang cenderung meningkat sehingga tercipta tanah-tanah rusak yang jumlah maupun intensitasnya meningkat.

Sementara itu dampak negatif dari pertanian modern yang menggunakan bahan agrokimia secara berlebihan dan tidak selektif, khususnya untuk pemberantasan hama, penyakit dan gulma, menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan atau keamanan pangan dan ancaman akan terjadinya pencemaran lingkungan dan kerusakan  lahan yang berujung pada ketidaklestarian sistem pertanian  yang ada.

Dari problem yang sedemikian rupa itulah, jelas erat kaitannya dengan permasalahan bahan organik tanah. Dengan mengukur seberapa banyak kandungan bahan organik di dalam tanah, maka nantinya akan diketahui seberapa bagus suatu tanah tersebut dijadikan sebagai media tanam bagi tumbuhan ataupun tanaman budidaya.

Bahan organik adalah bagian dari tanah yang merupakan suatu sistem kompleks dan dinamis, yang bersumber dari sisa tanaman dan atau binatang yang terdapat di dalam tanah yang terus menerus mengalami perubahan bentuk, karena dipengaruhi oleh faktor biologi, fisika, dan kimia (Kononova, 1961).

Menurut Stevenson (1991), bahan organik tanah adalah semua jenis senyawa organik yang terdapat di dalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik terlarut di dalam air, dan bahan organik yang stabil atau humus.

Bahan organik berperan penting untuk menciptakan kesuburan tanah. Peranan bahan organik bagi tanah adalah dalam kaitannya dengan perubahan sifat-sifat tanah, yaitu sifat fisik, biologis, dan sifat kimia tanah. Bahan organik merupakan pembentuk granulasi dalam tanah dan sangat penting dalam pembentukan agregat tanah yang stabil. Bahan organik adalah bahan pemantap agregat tanah yang tiada taranya. Melalui penambahan bahan organik, tanah yang tadinya berat menjadi berstruktur remah yang relatif lebih ringan. Pergerakan air secara vertikal atau infiltrasi dapat diperbaiki dan tanah dapat menyerap air lebih cepat sehingga aliran permukaan dan erosi diperkecil. Demikian pula dengan aerasi tanah yang menjadi lebih baik karena ruang pori tanah (porositas) bertambah akibat terbentuknya agregat. (Anonymous1, 2010).



Kandungan bahan organik tanah hutan produksi (1) lebih tinggi daripada kandungan bahan organik lahan semusim (2)

Menurut Lal (1995), pengelolaan tanah yang berkelanjutan berarti suatu paya pemanfaatan tanah melalui pengendalian masukan dalam suatu proses untuk memperoleh produktivitas tinggi secara berkelanjutan, meningkatkan kualitas tanah, serta memperbaiki karakteristik lingkungan. Dengan demikian diharapkan kerusakan tanah dapat ditekan seminimal mungkin sampai batas yang dapat ditoleransi, sehingga sumberdaya tersebut dapat dipergunakan secara lestari dan dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang.

Jumlah bahan organik di dalam tanah dapat berkurang hingga 35% untuk tanah yang ditanami secara terus menerus dibandingkan dengan tanah yang belum ditanami atau belum dijamah. Untuk mempertahankan kandungan bahan organik tanah agar tidak menurun, diperlukan minimal 8 – 9 ton per ha bahan organik tiap tahunnya. (Suryani, 2007).

Pada tanah dengan drainase buruk, dimana air berlebih, oksidasi terhambat karena kondisi aerasi yang buruk. Hal ini menyebabkan kadar bahan organik dan N tinggi daripada tanah berdrainase baik. Disamping itu vegetasi penutup tanah dan adanya kapur dalam tanah juga mempengaruhi kadar bahan organik tanah. Vegetasi hutan akan berbeda dengan padang rumput dan tanah pertanian. Faktor-faktor ini saling berkaitan, sehingga sukar menilainya sendiri. (Hakim dkk, 1986).

Penambahan bahan organik secara kontinyu pada tanah merupakan cara pengelolaan yang murah dan mudah. Namun demikian, walaupun pemberian bahan organik pada lahan pertanian  telah banyak dilakukan, umumnya produksi tanaman masih kurang optimal, karena rendahnya unsur hara yang disediakan dalam waktu pendek, serta rendahnya tingkat sinkronisasi antara waktu pelepasan unsur hara dari bahan organik dengan kebutuhan tanaman akan unsur hara. Kualitas bahan organik sangat menentukan kecepatan proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. (Atmojo, 2003).

Daftar Pustaka

Anonymous1, 2010, Bahan Organik, [online], (http://lestarimandiri.org/id/pupuk-organik/92-pupuk-organik/156-bahan-organik.html, diakses tanggal 12 Mei 2010).

Atmojo, Suntoro Wongso. 2003. PERANAN BAHAN ORGANIK TERHADAP KESUBURAN TANAH DAN UPAYA PENGELOLAANNYA. Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Diucapkan di muka Sidang Senat Terbuka Universitas Sebelas Maret Surakarta pada Tanggal 4 Januari 2003.

Hakim, dkk. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Lampung: Universitas Lampung.

Kononova, M.M. 1961. Soil Organic Matter. Oxford: Pergamon Press.

Lal, R. 1995. Erosion Crop productivity relationships for soils of Africa. Soil Sci. Soc. Am. J. 5: 661-667.

Siradz, Syamsul A dkk. 2006. KARAKTERISTIK DAN GENESIS TANAH YANG BERKEMBANG PADA BEBERAPA TIPE BENTANG LAHAN KARST GUNUNG KIDUL. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 6 (1) (2006) p: 27-38.

Stevenson, F.J. 1994. Humus Chemistry: genesis, composition, reactions. 2nd ed. New York: Wiley.

Suriadi, Ahmad dan Nazam, Moh. 2005. PENILAIAN KUALITAS TANAH BERDASARKAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK (KASUS DI KABUPATEN BIMA). Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB.

Suryani, Ani, 2007, PENDAHULUAN, [online], (www.damandiri.or.id/file/anisuryaniipbbab2.pdf, diakses tanggal 12 Mei 2010).